CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 119 dari 166
Maaf bagi para penggemar DMI, update belum bisa dilakukan karena satu dan lain hal.

Namun bagi penggemar yang ada di seputaran kota Yogyakarta dan sekitarnya ada kesempatan untuk bertemu dengan Saya penulis Diary Mata Indigo. Rencananya Saya akan ada di Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 30 Juni 2018 dalam rangka acara bincang-bincang dan ngobrol santai tentang ARWAH PENASARAN, yang akan diadakan di :

Lokasi : Kedai Djinemji, Pringwulung, Sleman, Yogyakarta

Pukul : 19:00

Tanggal : 30 Juni 2018, Sabtu

Acara : ngobrol santai bareng- bareng tentang arwah penasaran dan bagaimana mengatasinya

Bagi yang minat silahkan datang. Acara Gratis

Acara juga akan disiarkan LIVE di Instagram @diarymataindigo09

Sampai ketemu di Jogja

Salam Mistis

mas yus mau nanya, nasib yg dulu nyuri laptop sampean sekarang gimana ??
mksh mas update nya. Bru bisa monitor lg nih stlah lbur panjang. hehe
Wah baru banget otw jkt gan yus
mas yuuss.. kapan update?? kina penasaran emoticon-Wow
Up ajah, yuk dateng ke acara ngobrol santainya
blm update ya 😢
Quote:


Aseeeekk...siap bwt merapat nie. Hehe
Quote:


Anjir ane di Bali lagi ga bisa dateng langsung emoticon-Turut Berduka
Akhirnya... Ane maraton 3 hari baca part 1-3
DMI 3 – BERTEMPUR KEMBALI

- BUTO SEGORO
Mereka pasukan berbentuk raksasa-raksasa tinggi besar dengan mata bulat lebar dan bertubuh kekar. Warna tubuh mereka bernuansa warna biru gelap atau biru hijau. Rambut mereka gimbal panjang dan terurai sampai melebihi bahu. Mereka menggunakan penutup bawah seperti kain panjang dengan motif kotak-kotak hitam putih, seperti papan catur. Mereka membawa senjata seperti kapak atau golok besar. Pimpinan pasukan Buto Segoro adalah Panglima Buto Peksi, yang memiliki ciri khas senjata seperti roda emas bergerigi atau Cakra. Dirinya berpakaian seperti raja atau bangsawan dan walaupun berpenampilan seperti raksasa namun wajah Panglima Buto ini jauh dari kesan menyeramkan. Bahkan terkesan ganteng dan gagah

- BLORONG
Pasukan ini cukup familiar di benak manusia. Mereka identik dengan makhluk pesugihan. Ya, mereka adalah pasukan bersosok seperti manusia setengah ular. Kadang ada yang bertangan empat, dan berambut ular seperti medusa. Bisa dibilang setengah tubuh ke atas mereka semua adalah wanita. Beberapa dari mereka bersenjatan pedang dan perisai, namun ada juga sebagian dari mereka yang bersenjatakan busur dan panah. Gerakan blorong sangat lincah dan gesit. Tidak jarang mereka memanfatkan bentuk tubuh mereka yang panjang setengah ular untuk melilit mangsanya sebelum kemudian dihabisi dan dibunuh. Pasukan ini dipimpin oleh sesosok Putri cantik yang kecantikan dan paras nya hampir menyerupai Nyi Penguasa Selatan, namun bertubuh setengah ular. Bernama Nyi Blorong

- LAMPOR
Ini adalah salah satu kelompok pasukan selatan yang bentuknya dapat berubah-berubah, sesuai kondisi. Lampor dalam satu kondisi dapat berupa sosok prajurit perang bertelanjang dada dengan membawa tameng dan tombak, namun jika diperhatikan berwajah seperti tengkorak atau Jerangkong. Pada suatu kondisi Lampor dapat berubah seperti sosok berjubah panjang hitam yang terbang melayang-layang. Senjatanya berupa sambaran tangan nya yang dilengkapi kuku-kuku tajam yang panjang.

- PASUKAN RORO
Pasukan ini adalah pasukan petarung jarak dekat yang berwujud seperti wanita-wanita cantik yang gagah perkasa. Aku pernah melihat sosok Pasukan Roro ini mendampingi Yowan ketika harus menghadapi pertarungan. Kemampuan bertempur mereka sangat tinggi, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata. Gerakan mereka juga sangat cepat dan sulit diantisipasi. Aku punya ide tersendiri nantinya dengan Pasukan Roro ini. Mereka sebetulnya adalah Pasukan Khusus pelindung Ratu dan Kerajaan Pantai Selatan

- BREGODO RORO BARUNO
Berbentuk seperti manusia bertubuh cenderung ramping, dan permukaan kulitnya licin seperti permukaan tubuh ikan atau belut. Berwarna abu-abu kehijauan. Belakang punggung mereka ada semacam permukaan tubuh keras bergerigi atau sirip. Mereka bisa menghasilkan serangan berupa semburan bisa keras yang mampu membuat tubuh lawan nya meleleh atau lebur

- BREGADA JALU SEGARA
Mereka adalah pasukan pantai selatan yang berbentuk humanoid. Artinya mereka berbentuk seperti manusia yang berjalan di atas dua kaki dan memiliki dua tangan namun berkepala atau dada ke atas berbentuk seperti hewan-hewan laut seperti Ubur-ubur, Ikan hiu, Kepiting, atau hewan-hewan laut lain nya

Itu adalah daftar nama-nama Pasukan Selatan yang Yowan berikan kepada ku. Setidaknya sekarang Aku memiliki gambaran tentang Pasukan Selatan miliknya. Aku lalu menyampaikan kepada Yowan tentang strategi yang akan Aku ambil.

Pertama Aku membutuhkan pertahanan yang kuat untuk menahan laju Pasukan musuh. Aku akan menempatkan pasukan Buto Segara di garis paling depan sebagai benteng pertahanan garis depan. Aku harus menahan laju pasukan musuh merengsek jauh ke dalam sebisa mungkin. Kemampuan Buto Segara ini, akan Aku sandingkan dengan kemampuan bertahan yang dimiliki oleh Pasukan Eyang Anta yang berwujud Golem atau raksasa batu, kalajengking raksasa, dan makhluk-makhluk berkepala ular atau kadal. Sambil menahan Pasukan musuh Aku harus menghabisi mereka dalam waktu bersamaan.

Selain harus memikirkan cara bagaimana supaya korban tidak berjatuhan terlalu banyak, Aku juga harus mengantisipasi kemunculan Badhe raksasa yang terbang melayang dan menyemburkan api. Sedangkan pasukan udara jumlahnya sangat terbatas. Hanya pasukan milik Eyang Wali dan Kyai Angin yang memiliki kemampuan itu. Selain mungkin ada Lampor yang juga bisa menyerang sambil terbang dalam bentuk jubah hitam, namun Aku sendiri tidak yakin apakah Pasukan Lampor ini mampu mengatasi kekuatan Badhe.

Untuk itu Aku membutuhkan banyak pasukan penembak jarak jauh atau penembak. Aku lalu meminta pada Yowan agar semua pasukan Blorongnya hanya dilengkapi dengan busur dan panah, tanpa ada yang sama sekali dilengkapi dengan perisai tameng dan pedang. Pasukan Blorong yang lincah itu nantinya akan Aku sandingkan dengan Pasukan Bregada Jaya Keputren milik Nyai Melati yang bersenjatakan busur dan anak panah perak. Pasukan ini selain untuk menyerang Bade, nantinya juga akan membantu untuk menghabisi pasukan serbu milik pasukan musuh yang ditahan oleh Bregada Sangga Buana dan Pasukan Buto Segara.

Selain itu, Aku meminta pada Eyang Tara agar Bregada Watu Geni untuk menambah senjata-senjata pelontar dan altileri mereka. Senjata Bregada Watu Geni juga harus mampu menjangkau dan menembak Bade. Tidak ada pilihan. Karena Aku sangat kekurangan Pasukan udara. Mau tidak mau, Aku harus bisa memanfaatkan dan menambah kekuatan pasukan penembak. Sisa pasukan yang ada akan berlaku sebagai pasukan support yang akan membantu menyelesaikan pertarungan dengan kemampuan tempur jarak dekat mereka.

Namanya juga peperangan. Strategi sematang dan sebagus apa pun juga bukan jaminan untuk memenangkan perang. Apalagi untuk peperangan kali ini. Entah kenapa Aku sendiripun tidak yakin strategi yang Aku pikirkan ini akan membawa kemenangan dengan mudah. Apalagi memikirkan soal sosok Bade raksasa yang menyemburkan api itu. Kehadiran nya dan kemunculan nya akan sangat dengan mudah membalikkan keadaan.

Malam itu aku menulis di secarik kertas yang kemudian Aku letakkan di atas meja belajar yang terletak di sebelah dipanku. Intinya Aku berpesan di surat itu. Jika sampai lewat tengah hari pada keesokan harinya Aku tidak juga terbangun dari tidur, Aku meminta pada Ayah dan Ibu untuk segera membawaku ke rumah sakit. Tidak lupa Aku menuliskan sedikit kata-kata permohonan maaf pada Ayah dan Ibu jika selama ini Aku ada salah atau atas hal-hal buruk yang pernah Aku lakukan pada mereka. Rasanya seperti membuat surat wasiat kematian. Berat sekali rasanya. Bahkan Aku membuatnya sambil hampir menangis.

Ayah.... Ibu.... Maafkan kalau Yus ada salah. Yus sayang Ayah dan sayang Ibu


Setelah menuliskan surat itu. Aku bersiap melakukan Ngrogo Sukmo. Jika hadir dalam bentuk tubuh halus, maka Aku akan bisa turut membantu Pasukan Selatan dan Pasukan Utara berperang. Karena yang kuhadapi adalah makhluk astral. Hal ini akan lebih menghemat energi daripada Aku hadir di sana dalam wujud raga kasar, dan harus bertarung dengan tangan atau senjata yang dilapisi energi bioplasmik.

Tubuh halusku melesat meninggalkan kamarku begitu Aku berhasil melakukan Ngrogo Sukmo. Di tengah perjalananku tubuh halusku bertemu dengan Arya dan tubuh halus Yowan yang juga melakukan Ngrogo Sukmo. Saat sama-sama melesat itu tangan Yowan tiba-tiba memegang dan kemudian menggenggam tanganku. Dirinya tahu dari wajahku kalau pikiranku kalut. Sejenak sentuhan tangan nya membuatku memandang wajahnya. Dirinya mencoba tersenyum ke arahku. Wajahnya nyengir dan memamerkan gigi gingsulnya, yang membuat wajahnya semakin terlihat manis. Dia berusaha menenangkanku. Padahal Aku tahu pikiran nya pun juga tak menentu

“Seandainya Aku harus kalah dan mati sama kamu hari ini. Aku rela. Aku ikhlas. Selama Aku bisa sama-sama terus sama kamu”. Entah kenapa tiba-tiba Yowan berkata seperti itu. Aku cuma bisa membalasnya dengan senyum kecut.

“Aku nggak akan biarkan kita semua mati di sana. Aku janji. Aku bakal berjuang terus sampai kita menang. Bukan begitu Arya?”. Aku malah merespon jawaban Yowan dan menutupnya dengan sebuah pertanyaan untuk Arya.

“Iya Ayah, kita harus menang. Kita pasti menang”. Arya menjawabnya dengan kata-kata lugas yang tegas. Membuatku dan Yowan yang tadinya sempat cemas, menjadi kembali agak bersemangat.

Tubuh halusku, tubuh halus Yowan dan Arya akhirnya sampai di tempat yang dituju. Sebuah padang luas di lereng gunung Sindoro Sumbing. Di sana seluruh Pasukan Selatan dan Pasukan Utara sudah berkumpul. Begitu juga dengan para 9 Tetua dan Nyi Penguasa Selatan. Seluruh Pasukan sudah tersedia dalam posisi siaga. Siap menunggu perintah. Jumlah mereka mungkin ribuan dengan berbagai macam bentuk. Terhampar memenuhi padang datar di lereng gunung itu.

Gusti Kanjeng Agung Merapi lalu mengacungkan jari telunjuknya ke udara, dan sebuah kubah raksasa langsung menaungi padang datar luas tempat medan pertempuran itu akan berlangsung. Baru kali ini Aku lihat Eyang Gusti Kanjeng Agung Merapi mengeluarkan ajian itu. Tidak lupa dia kemudian memberikan suwuk atau menghembusi kepalaku dan Yowan bergantian.

“Ini adalah ajian JALUNDARA. Ajian ini akan memperlambat waktu di alam astral bagi Kisanak dan Yowan. 3 jam di sini setara dengan 1 jam di alam manusia sekarang. Ajian ini juga akan mengurangi beban yang timbul setelah Kisanak kembali ke tubuh kasar”. Aku hanya mengangguk-angguk mendengarnya. Aku juga tidak tahu berapa lama pertarungan ini akan berlangsung. Tapi satu hal yang kutahu pasti, tidak akan mudah memenangkan perang ini. Aku lalu menghela napas panjang dengan nada berat. Pandanganku tertuju pada arah berlawanan di batas cakrawala timur, tempat kemungkinan pasukan musuh akan pertama kali muncul. Aku lihat Yowan juga berdebar-debar. Bahkan Aku bisa mendengarkan suara degup jantungnya di sebelahku.

"Persiapkan pasukan. Ambil posisi.......”. Aku mulai memberi instruksi. Eyang Tara maju dan memerintahkan pasukan nya untuk mengambil posisi di bagian paling depan. Yowan lalu menyentuh kalung Jamrud Hijau yang ada di lehernya lalu menarik tongkat komando yang menjadi pusaka andalan nya. Pasukan Buto Segara segera bergerak begitu Yowan memberi perintah dan mengangkat tongkat komandonya. Buto Segara dan Bregada Sangga Buwono, mereka adalah ujung tombak pertahanan Garis depan.

Mendadak garis batas cakrawala yang ada diseberangku aura nya berubah menjadi kelabu. Lama-kelamaan semakin pekat dan menghitam. Udara dari bawah di seberang sana seakan terangkat ke atas. Seperti kepulan debu yang merangkak naik ke udara. Derap pasukan musuh mulai terdengar dari kejauhan. Maju dengan beringas dan siap untuk menghabisi tanpa ampun. Menggilas apa pun yang mereka lewati. Pada barisan depan tampak sosok-sosok makhluk seperti orang pedalaman yang menunggang serigala dan macan kumbang raksasa. Ada juga yang terbang menunggang elang. Tubuh-tubuh mereka tampak hitam legam tegap khas orang-orang daerah timur. Ratusan bahkan ribuan Rangda dengan berbagai bentuk juga seperti belomba-lomba, bergerak cepat dengan menandak-nandak. Serbuan mereka bagaikan gulungan deru ombak yang melepaskan kemarahan nya di daratan. Saat melihat pasukan musuh saat ini, tanpa kehadiran Badhe Aku masih optimis bisa memenangkan perang.

Saat pasukan musuh kira-kira sudah 50 depa, terjadi hal yang tidak terduga. Beberapa sosok dengan jumlah banyak bermunculan bergabung dengan pasukan musuh. Ada yang bentuk yang sosoknya seperti makhluk tinggi besar berbulu hitam dan berwajah mengerikan seperti kera besar. Biasa disebut dengan nama Genderuwo. Bentuk-bentuk mereka mengingatkanku pada gerombolan Genderuwo yang pernah Aku temui ketika acara Makrab waktu kuliah lalu.

“Itu gerombolan Genderuwo Deva Angkara. Mereka pasti ingin membalas dendam kematian Deva Kalanagri”. Eyang Karta yang ada disebelahku mendadak bersuara, dan jujur saja perkataannya itu membuat darahku mendadak terkesiap

Selain itu beberapa sosok yang bentuknya menyerupai pasukan blorong Yowan Aku lihat juga menggabungkan diri. Menambah jumlah pasukan musuh yang siap menyerbu. Lawan yang akan dihadapi semakin banyak.

“Terkutuk... itu gerombolan pasukan Nyi Blorong Dadapmongso, adik dari pasukan Nyi Blorong Kertapati. Dasar Pemberontak !!!!!”. Nyi Penguasa Selatan yang berada disamping Yowan serta-merta mengumpat keras. Ternyata selain pasukan-pasukan pemberontak atau separatis dari Kraton Merapi dan Kraton Pantai Selatan yang bergabung, masih banyak lagi astral-astral darah dan pesugihan yang bergabung. Contohnya sosok-sosok yang berwujud seperti raksasa berbadan hijau dan berwajah mengerikan, yang banyak dikenal dengan sebutan Buto Ijo. Tidak ketinggalan para Siluman Alas Purwo yang juga hadir dalam jumlah besar turut serta menyerbu dengan beringas. Berita tentang keberadaan Arya sepertinya telah menyebar. Mereka semua terlihat semakin bernafsu untuk menyerbu dan menyerang.

Wajah Yowan Aku lihat semakin pucat pasi. Walaupun Pasukan Utara dan Pasukan Selatan bersatu, dengan banyaknya Pasukan yang bergabung dengan Pasukan musuh, maka keadaan sekarang menjadi berimbang. Padahal sosok Badhe yang menjadi momok dan ditakuti itu belum muncul.

“FORMASI !!!!”. Aku tidak boleh lengah. Aku harus fokus dan tidak boleh terbawa oleh kekhawatiran. Pasukan-pasukan ini menunggu aba-aba ku. Pasukan Sangga Buwono dan Pasukan Buto Segoro langsung memasang posisi tubuh bertahan. Bersiap menerima hantaman dan guncangan pertama kali ketika musuh sampai pada jarak titik nol. Sedangkan Pasukan Jaya Keputren, Pasukan Blorong dan Pasukan Bregada Watu Geni mengarahkan busur dan anak panah nya ke atas dengan sudut 60 derajat. Cukup untuk membuat anak panah dan peluru mereka melayang dan menyeberang sampai akhirnya jatuh karena sudut lengkung dan mengenai pasukan musuh yang ditahan oleh Bregodo Sangga Buwono dan Buto Segoro di bagian depan.

BLEDAR !!!!

Impact hantaman pasukan musuh dan pasukan aliansi Utara dan Selatan di garis depan menimbulkan suara seperti ledakan yang keras. Untungnya Pasukan Sangga Buwono dan Pasukan Buto Segoro yang ada di bagian depan segera dapat menghentikan laju pasukan musuh sampai percepatan nol.

“SEKARANG !!!”. Seketika setelah aba-aba yang Aku keluarkan. Bregodo Jaya Keputren, Pasukan Blorong, dan Pasukan Altileri Bregodo Watu Geni segera melepaskan anak panah dan tembakan mereka. Seketika angkasa penuh anak panah dan peluru altileri yang membentuk sudut lengkung, sampai akhirnya jatuh karena gravitasi dan mengenai pasukan musuh. Jutaan anak panah turun bagai hujan, ditambah dengan peluru altileri yang meledak begitu menyentuh tanah.. Suaranya menggelegar. Seketika membuat musuh yang ada di bawah porak dan tercerai berai.

BUM !!!!

“BIDIK !!!!........ TEMBAK !!!!!”. Aba-aba kembali kuberikan, dan serangan dari pasukan aliansi utara dan selatan kembali berulang. Membuat pasukan musuh yang tadinya beringas menjadi panik dan kocar-kacir. Tampak kemudian pasukan musuh sedikit-demi sedikit bergerak mundur. Namun justru inilah yang Aku tunggu-tunggu.

“FASE 2 !!!...... SEKARANG !!!”. Kali ini aba-aba Aku tujukan pada pasukan Bregada Awang-awang milik Eyang Wali dan Kyai Angin yang sudah siap menunggu dibalik mega awan di atas. Mereka langsung turun membuat gerakan manuver di udara dan mengambil posisi di atas Pasukan musuh yang berada di paling belakang. Serangan petir dan kilat mereka menyerang dengan ganas dan membuat Pasukan musuh yang berusaha mundur malah menjadi sasaran pembantaian. Bregada Awang-awang juga dengan cepat melumpuhkan pasukan musuh yang berada di udara, yang berwujud seperti orang-orang pedalaman yang menunggang rajawali atau Burung Besar dan membawa panah.

“FASE 3!!!!.... SEKARANG !!!!”. Begitu aba-aba itu turun. Pasukan Sangga Buwono dan Buto Segoro segera merenggangkan jarak satu sama lain. Memberikan ruang yang cukup untuk pasukan Lampor, Bregodo Argo Binangun, Bala Satwa, dan Bregodo Jalu Segoro, untuk merengsek maju dan menghabisi pasukan musuh yang ada di garis depan. Musuh seketika semakin kalang kabut. Tidak diberikan kesempatan untuk memberikan perlawanan.

Yowan yang mengamati apa yang terjadi hanya tertegun. Dirinya menyadari betapa formasi, gerak pasukan, dan strategi adalah hal yang penting. Bagaimana 2 kubu dengan jumlah yang kurang lebih sama, ternyata 1 kubu bisa lebih unggul dan di atas angin hanya karena strategi yang efektif.

Hanya saja hal itu tidak berlangsung lama. Di saat pasukan aliansi utara dan selatan berada di atas angin, langit seperti terbuka. Sosok yang ditakutkan itu akhirnya muncul. Turun dari awan-gemawan hitam yang ada di atas. Bentuknya seperti bangunan usungan jenasah khas Bali bertingkat 7. Muncul bagaikan kutukan dari langit yang menebarkan teror. 9 Tetua, Nyi Penguasa Selatan, Aku, Yowan dan Arya memandang sosok itu dengan kepala tengadah dan tatapan geram.

Tapi untuk saat ini Aku lebih siap menghadapinya. Aku sudah menyiapkan strategi untuk melumpuhkan sosok yang satu ini. Ini yang Aku tunggu-tunggu. Strategi pemusnahan Badhe, dimulai
profile-picture
profile-picture
profile-picture
6elek dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
Bagi penggemar yang ada di seputaran kota Yogyakarta dan sekitarnya ada kesempatan untuk bertemu dengan Saya penulis Diary Mata Indigo. Rencananya Saya akan ada di Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 30 Juni 2018 dalam rangka acara bincang-bincang dan ngobrol santai tentang ARWAH PENASARAN, yang akan diadakan di :

Lokasi : Kedai Djinemji, Pringwulung, Sleman, Yogyakarta

Pukul : 19:00

Tanggal : 30 Juni 2018, Sabtu

Acara : ngobrol santai bareng- bareng tentang arwah penasaran dan bagaimana mengatasinya

Bagi yang minat silahkan datang. Acara Gratis

Acara juga akan disiarkan LIVE di Instagram @diarymataindigo09

Sampai ketemu di Jogja

Salam Mistis
profile-picture
itkgid memberi reputasi
mantap updatenya gan. Terima kasih
habis lihat IG langsung menuju tkp
makasih update nya mas
nyimak di live..
Update 👍👍
ijin bangun tenda gan seru ceritanya emoticon-Jempol
mantap updateeemoticon-2 Jempol

boleh tuh nanti malem pantengin liveemoticon-Cool
mas yus psti terinspirasi dr film2 perang dilihat dr strateginya

Pasukan dpan utk nahan laju srangan smbl pasukan blkng nembak anak panah + artileri emoticon-thumbsup emoticon-Malu
Mantap updatenya. semoga sehat selalu sekeluarga agan Yus.
Halaman 119 dari 166


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di