alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 148 dari 165
Quote:


coba nanti tak cek videonya yak. ty infonya Gan. emoticon-Big Grin


setelah dicek videonya, ga ada pembahasn soal pertanyaan gw. emoticon-Bingung (S)
Diubah oleh AirezZ
lannjuuuttttttt emoticon-Toast
Udah ga berlanjut nih cerita nya
Quote:


udah tamat gan
Quote:



Masa' gan?!
Padahal nungguin lama banget momen'y mas yus dan mitha nikah.
Trus penyelesaian'y sama yowan.
Klw kaya gini berasa digantungin.
emoticon-Ngakak
Quote:



Dianggap fiksi semua aja drpd bingung.
emoticon-Jempol


Bantuin jawab,,
Dihalaman depan dijelaskan bisa order via DM di IG.
emoticon-2 Jempol
Quote:


setidaknya gw udah tau foto si mitha gan yg skrg jadi bini bang yus.
yg bikin penarasaran kan si yowan. battle mode nya ituloh bikin penasaran hhh
Quote:


Tw dimana gan?!
Sayang banget di IG g' ada.
Foto mas yus sendiri aja belum tw.
emoticon-Mewek


Kemarin dijogja sich,,
Klw disolo bisa ikutan.
emoticon-Jempol
Quote:


dari fb nya gan hehehe
Quote:


PM donx!!
emoticon-Jempol
profile-picture
r4lphael memberi reputasi
Quote:


emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)
Quote:


emoticon-Mewek
Quote:


di page one kan ada interviewnya Mas Yus jeng. Coba di tengok deh. emoticon-Big Grin
Quote:


Apa iya gan?
Yg page ke 3 nie?!
Coz klw 1&2 dach lama g' buka.
emoticon-Big Grin

Dach baca beberapa kali apa kurang ngeh q yah?!
emoticon-Big Grin
atas gw blank kek nya hahaha
buku ada , kaskus nya tak ada .
SIDE STORY DMI : HILANG 1

Bu Mila berulangkali melihat foto kedua buah hatinya yang terbingkai dalam bingkai foto kayu kusam warna coklat. Foto itu diambil pada waktu mereka berwisata ke candi Prambanan. Hatinya remuk memandangi foto itu. Menyesal dan berulangkali menyebut nama mereka. Bunga dan Listu. Bunga anak perempuan nya itu baru saja berusia genap 7 tahun, sementara Listu Kakak laki-lakinya hanya berumur selisih dua tahun lebih tua. Kali ini hati Bu Mila benar-benar terbingkai oleh rasa pedih dan duka. Akar-akar penyesalan menggelayuti hatinya. Sedari tadi dirinya penuh dengan harap-harap cemas menunggu Mas Armi suaminya dan Dedy Adik laki-lakinya. Mereka bersama dengan para penduduk kampung sedang sibuk mencari Bunga dan Listu.

Sekarang sudah genap hari kedua, semenjak kedua buah hatinya itu hilang. Kemarin di hari pertama Bunga yang pertama kali hilang. Anak perempuan itu tiba-tiba saja tidak kunjung pulang ke rumah. Tadinya Mila mengira anaknya itu lupa pulang karena keasyikan bermain dengan teman nya di tanah lapang dekat sekolahan, yang berada tidak jauh dari rumahnya. Namun ternyata sampai malam tidak kembali, dan dicari kemana-mana tidak ketemu. Padahal teman-teman nya yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing.

Mila menangis penuh penyesalan. Seandainya dirinya lebih perduli pada Bunga dan tidak terlalu membiarkan nya kemarin. Seandainya dirinya kemarin tidak terlalu sibuk menjadi panitia dan mengurusi pengajian di lingkungan nya. Seandainya dirinya lebih menjaga dan menemani putrinya itu kemana pun pergi bermain. Tapi penyesalan selalu datang terlambat.

Kemarin Listu dan Armi ayahnya bersama dengan orang-orang kampung mencoba mencari Bunga. Berdasarkan keterangan dari orang-orang yang terakhir melihat bunga, ceritanya terdengar agak ganjil. Terakhir Bunga katanya bermain petak umpet bersama teman-teman nya. Beberapa teman melihat bunga bersembunyi di balik semak dekat pohon besar di pinggir lapangan. Namun setelah itu Bunga tidak pernah keluar dari tempat persembunyian nya. Teman-teman yang tadinya berusaha mencarinya mengira Bunga sengaja pulang duluan ke rumahnya. Padahal Bunga setelah itu tidak pernah kembali ke rumahnya.

Mila hanya berharap putrinya itu tidak diculik orang dan kemudian dibawa ke ibu kota lalu dijadikan pengemis. Atau dibunuh dan organ dalam nya dijual. Membayangkan itu semua membuat Mila tidak mampu lagi menahan tangisnya. Apalagi sekarang Listu ikut menghilang. Anak laki-laki nya itu kemarin ikut mencari Bunga bersama dengan ayahnya dan orang-orang kampung. Menghilangnya Listu juga tak kalah aneh. Orang terakhir yang melihat Listu mengatakan ,tiba-tiba Listu berlari kencang ke arah semak belukar di pinggir lapangan sambil berteriak-teriak kalau dia melihat Bunga adiknya. Namun setelah itu anehnya Listu tidak pernah kembali dan ikut-ikutan menghilang. Orang-orang yang mencoba mengikutinya tidak dapat menemukan nya dibalik semak itu. Entah apa yang terjadi sehingga kedua anak itu tiba-tiba bisa menghilang begitu saja.

Santer kemudian dugaan kedua anak itu diculik hantu Wewe. Hantu Wewe, hantu yang suka menculik anak-anak di waktu hari menjelang malam. Hantu yang berwujud sosok wanita berwajah menyeramkan dengan buah dada menggelantung memanjang. Itu kenapa kemudian orang-orang kampung mencari anak yang hilang itu dengan menabuh dan membunyikan bunyi-bunyian seperti kentongan atau alat-alat dapur seperti panci dan wajan. Dan hari ini adalah hari kedua. Sebenarnya Armi suaminya juga sudah melapor ke polisi pagi tadi. Hanya saja ternyata polisi baru mau bergerak kalau sudah lewat 2 X 24 jam. Jadinya terpaksa suaminya ditemani dengan orang-orang kampung melakukan pencarian secara swadaya.

Jam dinding tua di ruang tamu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam lebih sedikit. Mila masih menunggu dengan harap-harap cemas. Duduk di atas kursi meja makan dengan gelisah. Nasi dan lauk yang ada di atas meja itu tidak membuat dirinya tertarik. Padahal dirinya belum makan malam dari tadi. Pikiran nya hanya memikirkan kemana anak-anaknya itu dan berharap semoga mereka bisa ditemukan.

Suasana rumah nya sekarang begitu sepi. Hanya ada dirinya seorang. Tidak lagi terdengar celoteh ceria kedua buah hatinya. Yang kadang tertawa atau bertengkar berebutan sesuatu. Suasana rumah saat ini begitu sunyi. Bahkan dalam suasana sesepi ini Mila sama sekali tidak tertarik untuk menyalakan televisi. Dirinya hanya terpekur dan terisak sendiri.

“Mama.....”.

Sesaat seperti mimpi, Mila tiba-tiba mendengar suara Bunga memanggilnya. Mila yakin itu suara Bunga, tapi dari mana suara itu berasal? Mila sampai celingukan sendiri memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa. Suara itu tadi begitu dekat. Seakan Bunga tidak jauh berada di sampingnya. Namun dimana dia? Mila sampai berjalan ke arah kamar Bunga, berharap dirinya tidak salah dengan dan menemukan Bunga di kamarnya. Namun ternyata kamar itu kosong. Mila pun kecewa.

Mila sejenak memejamkan matanya. Dirinya tadi yakin tidak salah dengar. Tapi mungkin pikiran nya lelah. Mila mencoba melemaskan tubuhnya sejenak. Berulangkali beristiqhfar. Dirinya kemudian mengambil gelas teh yang ada di depan nya lalu meneguk isinya. Beberapa teguk air teh mampu sedikit menyegarkan pikiran nya. Dirinya kembali sadar kalau sendirian. Mas Armi juga belum kembali. Suasana di dalam rumahnya terasa remang-remang. Dirinya sadar kalau belum menyalakan beberapa lampu dari tadi sore.

“Mama.... Kakak sama Adik di sini.......”. Sebentuk suara kembali terdengar. Kali ini suara Listu. Mila sampai berdiri dari tempatnya duduk. Sampai dua kali. Dirinya tidak salah dengar. Suara yang kedua ini membuat perasaan nya kembali tidak menentu. Antara bingung, senang dan takut. Apalagi tiba-tiba sebentuk hawa dingin tiba-tiba menerpa.Membuatnya merinding dan bergidik. Irama jantungnya perlahan naik. Tegang, berdebar-debar. Ingin rasanya merespon suara yang didengarnya itu, namun dirinya terlalu takut

Tidak ada siapa-siapa, hanya diri nya seorang diri di rumah sekarang. Seolah dinding rumahnya yang ada di sebelahnya sedang berbicara. Mila sampai menebarkan pandangan nya ke sekeliling. Ke arah lorong menuju dapur yang gelap. Tidak ada siapa pun di sana. Tidak mungkin dari sana.

Tiba-tiba Mila dikagetkan dengan suara pintu pagar depan yang terbuka. Terdengar suara suaminya Mas Armi dan Dedi adiknya. Sepertinya mereka baru saja pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam kurang. Mila lalu tergopoh-gopoh ber jalan ke arah pintu depan dan membuka kan pintu. Berharap ada kabar baik dari mereka berdua.

“Ayah bagaimana? Ada pentunjuk ke mana Listu dan Bunga?”. Mila tidak tahan menanyakan hal itu setelah Armi dan Dedi kembali. Pertanyaan Mila hanya dijawab oleh Armi dan Dedi dengan gelengan. Membuat harapan Mila kembali pupus seketika. Dirinya kembali terduduk lemas.

“Sepertinya kita harus minta bantuan paranormal Mas”, ujar Dedi kemudian. Armi yang tampak sudah lelah baik secara fisik maupun pikiran tampak tidak terlalu antusias. Dirinya sudah buntu memikirkan segala kemungkinan dan jalan keluar.

“Aku tidak punya kenalan seperti itu. Aku juga tidak tahu harus menghubungi siapa Ded. Lagi pula kalau pun Bunga dan Listu diculik Wewe. Seharusnya dengan kita berkeliling desa dengan menabuh kenthongan atau perkakas dapur dan menimbulkan bunyi-bunyian itu bisa mengembalikan Listu dan Bunga. Setidak nya itu kata orang-orang tua dulu. Tapi ini sampai sekarang tidak juga ketemu. Malah Listu ikut-ikutan hilang. Aku jadinya malah berpikir jangan-jangan cerita diculik Wewe itu cuma isapan jempol”. Setelah mencuci kaki dan berganti pakaian Armi menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Sudah 2 hari ini dia kurang tidur.

“Tidak ada salahnya dicoba Mas. Kalaupun tidak diculik Wewe, mungkin paranormal itu setidaknya bisa memberikan petunjuk kemana Listu dan bunga”, ujar Dedi sambil membuka toples kue kering yang ada di ruang meja tamu, lalu memasukkan satu dua kue kering ke dalam mulutnya.

“Kamu punya kenalan Ded?”. Armi lalu mengeluarkan bungkus rokok berserta koreknya dari saku celana. Kemudian mulai menyalakan sebatang rokok. Asap mengepul dan berhembus dari mulutnya. Sedikit mengurangi tekanan kekhawatiran yang sedari tadi menggelayuti pikiran nya. Tidak berapa lama kemudian Mila datang membawakan 2 cangkir teh hangat untuk Armi dan Dedi

“Aku ada kenalan paranormal Mas. Aku kenal waktu dulu Aku ikut kerja proyek pembangunan apartemen di Jakarta. Itu paranormal yang sering dipakai sama perusahaan kontraktor tempat Aku kerja dulu di Jakarta. Dia dulu sering diminta buat proteksi-proteksi atau bikin supaya bangunan-bangunan yang dah jadi cepet laku. Pokoknya buat urusan-urusan Supranatural dia sering diminta bantuan konsultasi. Namanya Pak Prakoso, asalnya dari Pekalongan”.

“Lalu kalau model paranormal itu bagaimana? Bayarnya nanti setelah selesai atau harus bayar di muka dulu”. Tanya Mas Armi kemudian. Mila yang juga ingin tahu lalu mengambil tempat duduk di samping Mas Armi

“Aku juga kurang ngerti Mas. Mungkin setelah selesai ya. Tapi biasa mungkin harus ada tanda jadi dulu”. Dedi menjelaskan sambil kemudian menyeruput cangkit teh manis di hadapan nya

“Berapa biasanya bayaran nya Ded?”. Tanya Mila kepada Dedi

“Setahuku tidak ada patokan nya sih Mbak untuk urusan seperti ini. Mungkin tergantung negosiasi nya. Tapi Aku juga mikirnya kemungkinan kalau Pak Prakoso ini bisa jadi agak mahal. Soalnya dia klien nya kebanyakan pengusaha sama perusahaan-perusahaan begitu”. Mila dan Armi hanya berpandangan mendengar jawaban Dedi. Satu sisi mereka juga tidak ingin terlalu percaya dengan model-model seperti paranormal begitu. Apalagi jaman sekarang, paranormal itu identik dengan penipu dan kebohongan. Tapi rasanya Armi dan Mila juga tidak tahu lagi harus bagaimana

“Dicoba saja Ded. Coba dihubungi. Kalau bisa tolong digugah rasa kemanusiaannya. Bilang kalau kita ini bukan keluarga mampu. Jadi tolong jangan dipatok harga terlalu tinggi”. Mas Armi bicara dengan nada memelas. Dirinya tidak ada pilihan lain. Segala kemungkinan dan pilihan harus dicoba.

“Iya Ded, tolong. Mas mu Armi ini cuma pegawai biasa. Gaji nya sebenarnya pas-pas an. Mbak mu juga cuma Ibu Rumah Tangga biasa. Kita ini bukan keluarga mampu”.

“Oke Mbak, Aku coba hubungi sama tanya-tanya. Mudah-mudahan mau bantu”. Dedi lalu mengambil ponselnya. Mencoba menghubungi orang yang dimaksud. Sesaat kemudian Dedi lalu terlibat percakapan dengan orang yang dimaksud lewat telepon. Sementara Armi dan Mila menunggu dengan sabar di ruang tamu. Mila sempat menceritakan pada Armi tentang kejadian yang dialami nya barusan, kalau dirinya mendengar suara Bunga dan Listu pada saat sendirian tadi. Namun Mas Armi tampak malah kurang antusias mendengarnya. Mungkin dia terlalu lelah.

Sekitar 15 menit kemudian, Dedi muncul kembali ke ruang tamu. Wajahnya tampak tidak terlalu ceria.

“Bagaimana Ded?”. Tanya Mila dan Armi hampir berbarengan. Dedi lalu menceritakan. Kabar baiknya Pak Prakoso mau membantu. Hanya saja tetap dengan imbalan. Dedi lalu menyebutkan sejumlah angka yang membuat Mila dan Armi langsung lemas mendengarnya. Angka yang cukup besar bagi mereka. Bahkan tabungan mereka pun tidak cukup untuk memenuhinya. Dedi menjelaskan bahwa dirinya sudah sebisa mungkin mencoba melakukan pendekatan dan bernegosiasi dengan Pak Prakoso. Hanya saja memang harga yang ditetapkan tidak bisa ditawar. Tanda jadi itu harus dibayar 70% dari harga yang ditetapkan. Dedi menyampaikan seandainya harga itu disetujui Pak Prakoso akan menyuruh putrinya untuk datang dan menyelesaikan masalah.

“Jadi seandainya pun dibayar, yang datang nanti putri nya?”. Tanya Mas Armi dengan nada sedikit kesal. Tadinya dia berpikir kalau Pak Prakoso sendiri yang akan datang seandainya dia setuju. Tapi malah jelas-jelas bukan Pak Prakoso yang akan datang nanti.

“Iya, soalnya tadi Pak Prakoso bilang jadwalnya sudah terlanjur padat minggu ini. Padahal tadi dia bilang hal ini harus cepat diatasi. Sebab kalau tidak, Listu dan Bunga bisa jadi tidak akan kembali untuk selama nya. Anaknya Pak Prakoso itu juga punya kemampuan paranormal yang mumpuni. Beberapa kali juga pernah diajak ke proyek di Jakarta buat bantuin Pak Prakoso. Saya pernah lihat juga orangnya. Sekarang putrinya itu kuliah di Kampus Atma. Di Jogja sini”. Mas Armi masih sulit percaya dengan kata-kata Dedi. Ayah dan anak punya kemampuan paranormal. Bagaimana bisa percaya?

“Lalu tadi Pak Prakoso tadi bilang apa Ded?”. Tanya Mila kemudian.

“Ya dia tadi cuma bilang bakal suruh putrinya untuk standby. Begitu nanti uang tanda jadinya ditransfer putrinya akan langsung kemari”. Armi merasa tidak bisa memutuskan malam ini. Dirinya ingin beristirahat sejenak. Kepalanya pusing memikirkan ini semua. Sementara Mila istrinya malah kembali terisak. Membuat pikiran dan perasaan Armi semakin kacau.

Pagi nya Army bangun lalu bergegas pergi ke kantor dan berangkat kerja. Seperti yang sudah direncanakan hari itu. Dirinya terpaksa pamit ijin setengah hari pada bos nya untuk membuat laporan ke kantor polisi. Untung nya bos nya mengijinkan. Saat setelah jam makan siang Armi langsung meluncur ke kantor polisi Polsek Maguwo. Sekali lagi kesekian kali nya ia melaporkan hilangnya Listu dan Bunga.

Polisi berjanji akan segera memproses dengan menanyai saksi-saksi yang terakhir melihat Listu dan Bunga. Sebenarnya Armi sempat bertanya kapan kira-kira hal itu akan dilakukan. Polisi hanya menjawab akan dilakukan secepatnya tanpa memberikan kepastian waktu. Membuat Armi hanya bisa pasrah tanpa berharap banyak.

Armi pun lalu memutuskan untuk segera pulang. Sore ini dirinya akan kembali memimpin rombongan orang-orang kampungnya untuk kembali mencari Listu dan bunga. Siang itu cuaca cerah. Tapi memang sewajarnya di jam-jam segini matahari tepat di atas kepala. Bagi orang yang berada di jalan atau berkendara memang terasa begitu panas. Hilir mudik kendaraan di jalanan juga begitu padat. Karena haus, Armi saat perjalanan pulang sempat mampir membeli es dawet Banjanegara yang mangkal di pinggir jalan. Tidak lupa dirinya juga membelikan satu bungkus untuk Mila.

Sesampainya di rumah dirinya sempat heran melihat ada motor jupiter warna hitam terparkir di depan rumahnya. Yang jelas itu bukan milik Dedi atau pun tetangga di sekitarnya. Saat masuk ke rumah, dirinya melihat Mila dan Dedi sedang bercakap-cakap dengan sepasang muda-mudi. Penampilan mereka layaknya anak kuliahan.

Yang laki-laki berperawakan sedang dengan tinggi badan yang sama dengan nya. Tidak terlalu kurus tidak terlalu gemuk. Rambutnya lurus belah samping. Wajahnya bersih tanpa jerawat dengan kulit sawo matang. Matanya yang tidak terlalu lebar menyiratkan kesan kalem dan ramah. Dirinya mengenakan celana panjang jeans warna hitam dan kaos lengan pendek warna hitam. Sedangkan wanitanya berwajah manis dengan tubuh sintal padat berisi. Rambutnya panjang dan halus bak model iklan shampo. Matanya yang lebar menyiratkan kesan misterius. Sekilas wajah gadis itu mirip Titi Kamal.

“Eh Mas Armi, baru pulang. Kenalin Mas, ini Yowan anak nya Pak Prakoso yang Saya ceritakan dan Ini Yus teman nya”. Belum sempat Armi berbicara, Dedi sudah keburu memperkenalkan kedua orang itu pada Armi. Kedua orang itu lalu bangkit menyalami Armi. Armi sendiri tidak menyangka kalau orang yang kemarin diceritakan Dedi hari itu muncul datang ke rumahnya.

“Tadi Papa Saya sempat menghubungi Saya dan mengabari katanya ada yang minta tolong untuk menemukan anak nya yang hilang. Lalu saya diberikan kontak Mas Dedi dan alamatnya”. Perempuan yang bernama Yowan itu buka suara.

“Terima kasih Mbak Yowan kalau memang bersedia membantu. Cuma kami tidak bisa memberikan imbalan seperti yang disyaratkan. Kami hanya orang kecil. Bukan orang mampu. Kalau uang sebanyak itu kami tidak punya”. Mila bersuara memelas. Nadanya mulai terisak. Membuat siapa pun yang melihatnya pasti iba.

“Kami hanya ingin membantu Bu Mila. Soal imbal jasa itu biar nanti urusan belakangan.. Yang penti sekarang kami hanya ingin membantu menemukan Bunga dan Listu. Karena sepertinya persoalan ini tidak bisa menunggu. Karena nyawa Listu dan Bunga sepertinya terancam”. Lelaki yang bernama Yus kemudian menimpali. Satu sisi kata-kata laki-laki itu membuat baik Armi, Mila dan Dedi merasa lega. Tidak disangka-sangka orang yang diharapkan membantu ternyata bersedia membantu tanpa syarat. Tetapi di satu sisi baik Armi dan Mila menjadi khawatir dengan keselematan Listu dan Bunga. Selain itu baik Mila, Armi dan Dedi tidak tahu, bagaimana kedua orang muda belia itu akan membantu menemukan Listu dan Bunga.

“Berapa lama pencarian sudah dilakukan Mas Armi?”. Gadis yang bernama Yowan itu bertanya kepada Mas Armi. Armi pun menjelaskan bahwa 2 hari berturut-turut pencarian sudah dilakukan. Pencarian dilakukan dengan berkeliling desa sambil menabuh dan memukul perkakas dapur dan kentongan untuk menimbulkan bunyi-bunyian.

“Kalau dari cerita nya barusan sepertinya ini ulah Wewe. Cuma sepertinya ini bukan Wewe biasa...”. Laki-laki yang bernama Yus tersebut mencoba menyimpulkan.

“Ya, Wewe biasa nya akan mengembalikan anak-anak yang diculiknya kalau orang-orang banyak meminta nya untuk mengembalikan dengan menabuh bunyi-bunyian dan berkeliling desa”. Perempuan yang bernama Yowan pun kemudian turut menimpali.

“Dalam kepercayaan lama, Wewe itu awalnya sebenarnya makhluk astral yang baik. Walaupun bentuknya seperti nenek tua berambut kacau menyeramkan dengan buah dada yang menggantung. Tetapi sebenarnya tujuan nya membawa anak-anak yang dibiarkan keluyuran oleh orang tua nya sampai dengan lewat waktu maghrib itu, untuk menjaga anak-anak itu supaya tidak diganggu dan dicelakai makhluk astral lain. Oleh Wewe itu anak-anak itu akan dipelihara dan diberi makan layaknya anak sendiri, sampai kemudian diminta untuk dikembalikan dengan memukul tabuh-tabuhan atau bunyi-bunyian. Namun seiring berjalan nya waktu, karena kesan nya seperti mengambil tanpa izin, anggapan masyarakat terhadap makhuk astral Wewe menjadi negatif. Dan identik sebagai makhluk astral penculik anak-anak”. Army , Mila dan Dedi mendengarkan penjelasan Yus dengan seksama. Hal berkeliling desa dan memukul tabuh-tabuhan itu sudah dilakukan, namun sampai sekarang Listu dan Bunga belum dikembalikan.

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
SIDE STORY : HILANG 2

“Kami curiga yang menculik Listu dan Bunga bukan sekedar Wewe biasa”. Lagi-lagi gadis yang bernama Yowan menambahkan.

“Lalu bagaimana cara menemukan Listu dan Bunga Mbak Yowan?”. Tanya Mila kemudian.

“Saya akan coba melacak energi Listu dan Bunga Mbak Mila. Boleh saya pinjam foto atau barang kesayangan Listu atau Bunga?”. Tanya Yus kepada Mila. Mila lalu bergegas mengambil foto Listu dan Bunga, lalu memberikan nya kepada Yus. Yus kemudian tampak berkonsentrasi penuh sambil sesekali memejamkan matanya.

“Apakah pasca hilangnya Listu dan Bunga, Mbak Mila pernah merasakan atau mendengar suara Listu atau Bunga memanggil-manggil?”. Tanya Yus kepada Mila. Mila dengan sedih lalu menceritakan, kalau semalam dirinya mendengar suara Listu dan Bunga memanggil-manggil namanya, namun dirinya tidak mampu melihat suara yang memanggil-manggilnya itu.

“Sepertinya sudah bisa dipastikan ini bukan ulah Wewe biasa Yow. Ini ulah Putri Wewe”. Laki-laki yang bernama Yus itu lalu berbicara kepada Yowan di sebelahnya. Yowan lalu menjelaskan bahwa Putri Wewe tidak seperti Wewe yang biasanya. Tujuan nya adalah murni memangsa dan mencelakai anak-anak yang diculiknya.

“Wewe biasa, umumnya akan membawa anak-anak yang diculiknya ke sarangnya di atas pohon-pohon besar atau dikerumunan pohon bambu. Tetapi Putri Wewe biasanya akan membuat selubung Dimensi untuk menutupi anak-anak yang diculiknya itu, sehingga tidak bisa terlihat oleh manusia. Anak-anak itu akan bebas untuk pergi kemana-mana, tetapi tidak bisa terlihat oleh mata manusia normal”. Gadis yang bernama Yowan itu menjelaskan. Armi, Mila dan Dedi dengan susah payah mencerna penjelasan itu. Sama sekali bukan penjelasan yang mudah diterima orang awam.

“Yus kamu kan bisa lacak energi. Coba lacak keberadaan Putri Wewenya. Siapa tahu bisa ketahuan juga musuh seperti apa yang akan kita hadapi ini”. Laki-laki yang bernama Yus itu sekali lagi berkonsentrasi. Sepertinya cukup keras dirinya berusaha. Beberapa butir keringat mulai muncul membasahi keningnya.

“Tidak ada waktu Yow. Listu dan Bunga harus cepat ditemukan. Makhluk ini murni jahat. Dirinya berasal dari jiwa dukun wanita yang ingin hidup abadi. Waktu hidup terbiasa melakukan ritual pengorbanan anak-anak kecil”. Yus lalu menceritakan bahwa jaman dulu di wilayah tersebut ada sorang dukun wanita yang cukup sakti. Dirinya menginginkan hidup abadi dan bebas dari kehidupan setelah kematian. Dia ingin menjadi penguasa yang mengendalikan alam nya sendiri. Oleh karena itu dirinya melakukan ritual, dengan mengorbankan sejumlah anak-anak kecil. Darah anak-anak kecil itu kemudian ditampung, lalu digunakan untuk merendam sebidang kain selama 7 hari 7 malam. Kain itu kemudian ditanam dan dipendam di dalam tanah. Sebuah dimensi baru tak kasat mata kemudian tercipta, diantara alam manusia dan alam kematian. Dukun wanita itu pun berubah menjadi penguasa Dimensi yang dibuatnya tersendiri, menjadi makhluk yang kemudian dikenal dengan sebutan Putri Wewe.

“Berarti kita harus masuk ke Dimensi Putri Wewe itu dan menyelamatkan Listu dan Bunga? Lalu bagaimana caranya Yus?”. Yowan malah bertanya kemudian. Sementara Armi, Mila dan Dedi malah tegang mendengar penjelasan barusan. Jujur saja, siapa pun tidak akan percaya mendengat penjelasan supranatural seperti itu. Tetapi entah bagaimana kok sepertinya baik Armi, Mila dan Dedi seperti dipaksa untuk percaya saat ini.

“Kain itu. Kain yang dibuat dengan ritual rendaman darah anak-anak itu harus ditemukan Yow. Dimensi Putri Wewe tercipta karena kain itu. Namanya Jarit Sri Gadung Kencono. Atau dalam bahasa orang awam disebut dengan Popok Wewe”. Armi, Mila, dan Dedi jadi ikut berdebar-debar mendengar penjelasan Yus.

“Apakah Mas Yus tahu dimana kain itu dikubur?”. Tanya Dedi dengan nada tidak sabar.

“Harus dicari. Walaupun mungkin tidak mudah untuk ditemukan, tapi Saya akan coba cari. Mudah-mudahan ketemu”. Jawab laki-laki bernama Yus itu sambil tersenyum.

“Tolonglah anak-anak kami Mbak. Paling tidak tolonglah bawa mereka kembali”. Mila yang cemas akan nasib anak-anaknya mulai terisak. Menyadari anak-anaknya dalam kondisi bahaya membuat hatinya remuk.

“Putri Wewe ini cenderung suka mempermainkan korban nya. Dirinya akan membiarkan anak-anak itu melalang-buana di dimensinya. Ketakutan dan putus asa. Baginya darah anak-anak yang katakutan itu sangat nikmat. Selain itu dirinya akan berpura-pura baik menawarkan makanan kepada anak-anak yang diculiknya. Makanan itu akan tampak terlihat enak dan nikmat, padahal makanan itu sebenarnya adalah kotoran, tanah dan lumpur. Kalau anak-anak itu sampai memakan makanan itu maka kesadaran mereka akan dikendalikan oleh Putri Wewe itu. Diajak keluarpun mereka tidak mau. Kalau diselamatkan pun bisa jadi mereka malah seperti orang linglung bahkan gila”. Tangis Mila pecah mendengar penjelasan Yus. Armi lalu berusaha menenangkan Mila yang menangis sesenggukan.

“Mbak, Apakah Mbak Mila selalu mengajarkan pada Listu & Bunga untuk berdoa sebelum makan?”. Tanya Yus kemudian. Mila lalu mengangguk dan menjelaskan bahwa dirinya selalu mengajarkan dan pentingnya doa sebelum makan kepada Listu dan Bunga.

“Memangnya kenapa Mas Yus? Apakah hal itu penting?”. Tanya Armi yang berada di sebelah Mila.

“Sangat penting Mbak. Mudah-mudahan hal itu akan memberikan kita tambahan waktu untuk menyelamatkan Listu dan Bunga”. Yus menjawab cepat.

Setelah mendengar jawaban Yus, tanpa membuang waktu Yus, Armi, Dedi dan Yowan lalu bergegas beranjak dari rumah keluarga Armi. Sementara Mila seperti biasa menunggu di rumah. Seperti yang dikatakan Yus. Prosesnya memang tidak mudah. Beberapa kali Yus salah menebak. Beberapa kali tanah digali namun tidak ditemukan apa pun di dalamnya. Namun baik Yus, Armi dan Dedi tidak menyerah.

Yowan pun juga ikut membantu menemukan dengan kemampuan nya. Walaupun dirinya juga tidak ahli dalam melakukan nya. Baru kemudian lewat Maghrib kain itu baru ditemukan. Matahari sudah terbenam dan suasana sudah gelap. Kain itu walaupun mungkin sudah berusia sangat lama, tetapi tampak masih sangat kuat. Malahan seperti terkesan kain yang masih sangat baru.

Yowan kemudian merobek kain keramat itu menjadi 2. Satu kemudian dia berikan kepada Yus. Yus dan Yowan lalu membelitkan kain itu di pinggang mereka. Memakainya kemudian seperti memakai sarung. Sekejap kemudian Yus dan Yowan menghilang dari pandangan Armi dan Dedi.

Sementara di dimensi lain, Listu dan Bunga meringkuk bersembunyi di semak-semak. Suasana begitu gelap dan temaram. Siang sudah berganti menjadi malam. Mereka kelelahan dan kebingungan. Sedari tadi mereka sibuk berlari kesana-kemari. Tak tentu arah. Orang-orang yang mereka kenal yang mereka datangi seperti tidak bisa melihat mereka. Sekeras apapun mereka berteriak. Sekencang apa pun mereka bersuara. Tidak ada yang mendengar dan menanggapi mereka.

Mereka juga tidak bisa menyentuh maupun memegang benda-benda apa pun atau siapa pun disekeliling mereka. Seakan mereka sudah berwujud makhluk tak kasat mata. Bahkan saat pulang dan bertemu dengan Mila Ibu mereka, Ibu mereka itu juga tidak bisa melihat mereka. Padahal mereka sudah berusaha berteriak dan bersuara sekeras mungkin.

“Mas.... Bunga lapar.....”. Ratapan Bunga terdengar memelas. Listu yang berada di sebelahnya hanya bisa memegang kepala adiknya itu dan meminta nya bersabar.

“Mas juga lapar Dik.... kalau sudah agak terang nanti Mas Listu carikan makanan buat Dik Bunga”. Ujar Listu berusaha menenangkan adiknya itu.

“Kenapa kita tidak kembali ke nenek yang tadi saja Mas? Tadi kan dia nawarin kita makanan?”. Pertanyaan Bunga membuat Listu kebingungan untuk menjawabnya. Tadi memang ada seorang nenek tua yang menawarkan makanan pada mereka. Nenek itu tampak baik dan ramah. Listu dan Bunga pun belum pernah mengenal dan tidak mengetahui siapa nenek itu.

Makanan yang dibawa nenek itu juga tampak enak sekali. Karena terbiasa membaca doa sebelum makan, Listu pun berdoa sebelum menyantap makanan itu. Namun saat selesai berdoa, makanan itu berubah menjadi kotoran, tanah lumpur. Bahkan lauknya berubah menjadi bangkai tikus dan kodok yang telah membusuk. Sontak saja Listu membuang piring makanan itu dan menarik adiknya Bunga untuk berlari menjauhi nenek itu. Listu merasa ada yang tidak beres dengan nenek itu.

“Nenek itu jahat Dik. Makanan yang ditawarkan nenek itu tadi ke kita sebenarnya beracun. Mas Listu tadi tahu karena mencium baunya yang aneh”. Listu berusaha menjelaskan sebisanya dan sesederhana mungkin bagi Bunga. Bunga yang masih kecil tidak akan paham bila dijelaskan yang sebenarnya.

“Cuuuu..... Cucu...... Kalian dimana??”. Suara itu membuat Listu tercekat. Itu suara yang serak dan parau khas nenek-nenek. Listu spontan memeluk Bunga yang ada disebelahnya dan membekap mulutnya. Berusaha agar dirinya dan Bunga tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tubuhnya mendadak gemetar ketakutan dan merinding.

Entah kenapa Listu merasa nenek itu sangat berbahaya. Listu bisa merasakan kalau nenek itu sebenarnya mengancam nyawa dirinya dan adiknya. Listu kemudian mencoba menoleh dan mengintip dari sela-sela semak tempat dirinya dan Bunga bersembunyi. Tampak nenek2 bongkok, dengan rambut terurai putih panjang berjalan mondar-mandir sambil memanggil-manggil.

Napas Listu seketika terasa berat. Rasa takut yang hebat menyergap tanpa ampun. Dirinya berharap, nenek itu tidak menemukan tempat persembunyian dirinya dan Bunga. Sekali lagi Listu mencoba menoleh dan mengintip lewat sela-sela semak, nenek-nenek itu tidak tampak lagi olehnya. Suara nya yang memanggil-manggil pun tidak lagi terdengar. Listu menghembuskan napas lega. Tanganya yang membekap mulut Bunga pun dilonggarkan nya. Untuk sementara dirinya merasa aman. Sepertinya nenek-nenek itu tidak menemukan tempat persembunyian mereka.

“Ooooohhhh.... disini rupanya kaliaaaannnnn......”. Suara nenek-nenek itu kembali terdengar . Kali ini tepat dari arah belakangnya. Listu dan Bunga Spontan menoleh. Sesosok bentuk membuat mereka terpaksa agak menengadah. Nenek-nenek yang tadi tampak berdiri dibelakang mereka, dengan postur badan yang membesar.

Selain itu wajah nenek itu sudah sama sekali berubah menjadi menyeramkan. Matanya melotot dan bulatan mata nya hanya berupa garis seperti mata kucing. Kulitnya yang keriput kasar berubah menjadi abu-abu. Hidungnya mencuat tajam ke depan seperti hidung nenek sihir. Mulutnya menyeringai lebar dan memperlihatkan gigi-giginya yang tajam runcing. Lidahnya juga menjulur panjang dan meliuk-liuk seperti ular. Rambutnya yang putih panjang tampak berkibar-kibar ke segala arah. Buah dadanya menggantung terjuntai.

“AAAAAAAHHHH !!!!!”. Listu dan Bunga hanya bisa menjerit tertahan ketakutan.

Tangan nenek tua itu terangkat ke atas. Kuku-kuku nya yang hitam panjang seperti tampak siap mencengkram dan mencabik-cabik Listu dan Bunga. Namun sebelum tangan itu kembali terayun. Sebentuk sinar bulat biru tampak melayang dan menghantam wajah Nenek menyeramkan itu. Membuat nenek menyeramkan sampai terhuyung-huyung ke belakang dan mengerang kesakitan. Separuh muka nenek-nenek itu kini tampak gosong dan sedikit berasap

“Kaliang nggak apa-apa Dik?”. Seorang Kakak wanita berwajah cantik tiba-tiba muncul mendekati Listu dan Bunga. Di sebelahnya juga ada seorang Kakak laki-laki dengan tatapan siaga tampak mengawasi gerak-gerik makhluk menyeramkan yang masih mengerang-ngerang kesakitan itu.

Listu dan Bunga spontan memeluk Kakak wanita berwajah cantik itu. Akhirnya ada juga yang datang menyelamatkan mereka. Ada harapan bagi mereka untuk keluar dari tempat ini

“Kakaaak.... kakaaakk.... tolong kami.....”. Listu dan Bunga menangis tersedu-sedu di pelukan Yowan. Yowan dengan naluri keibuan dan kewanitaan nya memeluk dan menenangkan kedua Kakak – Beradik yang malang itu.

“Sudaah... sudah... Cup...cup yaa... Kalian aman sekarang”.

“Kakaakkk... Kakak siapa?”. Bunga dengan polosnya bertanya pada Yowan.

“Panggil saja Kak Yowan.... yang ini Kakak Yus”. Yowan dengan senyum manis cantiknya menjawab pertanyaan gadis kecil itu.

“Yow kayaknya urusan nya belum selesai nih....”. Kakak yang bernama Yus itu tiba-tiba mengingatkan. Ketika terlihat kemudian makhluk menyeramkan itu kembali pulih. Wajahnya tampak makin menyeramkan karena menyeringai marah.

“KIkikikikikikik.....”. Makhluk itu tiba mengikik keras. Dari nadanya seperti mengejek bahwa serangan barusan tidak berarti apa-apa. Dan malah seakan merasa senang bahwa korban nya akan bertambah. Tiba-tiba tubuh makhluk itu kemudian semakin membesar dan meninggi. Kali ini besarnya nya sudah setinggi pohon kelapa.

“Ini urusan nya nggak bakal selesai kalau itu makhluk belum dihabisi Yus. Kita nggak akan bisa keluar dari sini kalau makhluk itu nggak dimusnahkan”. Yowan tidak salah. Makhluk itu adalah penguasa dimensi yang dibuatnya sendiri. Makhluk itu dan dimensi ini saling berhubungan. Kalau makhluk itu musnah, maka selubung dimensi nya pun juga akan sirna.

“Sepertinya begitu”. Jawab Yus pendek.

“Adik-adik kecil. Mundur sedikit sebentar yaaa.... Kakak mau lawan nenek peot jelek itu. Biar kita bisa keluar dari sini”. Listu dan Bunga mengangguk lalu menurut. Mereka berlari mundur ke belakang sejenak dan sedikit menjauh.

Yowan seperti biasa lalu mengambil ikat rambut dari sakunya. Lalu mengikat rambutnya yang panjang menyerupai ekor kuda. Tidak ingin rambut panjang indah kebanggaan nya itu menghalangi gerakan nya

“Aku sebetulnya masih penasaran Yow. Kenapa sih kalau Wewe itu identik sama buah dada yang segede gaban begitu?”. Entah kenapa dalam kondisi siap bertarung begitu Yus malah mengajukan pertanyaan random seperti itu. Membuat Yowan tersenyum geli mendengarnya. Dirinya malah tidak tahan untuk menanggapi

“Wewe itu dasarnya makhluk pengasuh dan pemelihara. Buah dada yang besar itu karena memang dia biasanya memelihara dan menyusui anak-anak makhluk astral lain. Tapi kalau makhluk astral yang satu ini beda. Itu isinya darah Yus. Darah korban dan tumbal-tumbalnya”.Yus hanya manggut-manggut mendengar pertanyaan Yowan. Tampangnya seperti sok mengerti.

“Lalu kalau ukuran segede itu biasanya ukuran berapa Yow?”. Pertanyaan kali ini membuat Yowan tidak tahan untuk tertawa sejenak.

“Itu sih nggak ada ukuran nya Yus. Lagian kenapa sih kepo banget? Suka ya kamu sama yang gede-gede?”. Yowan malah menimpali sehingga pembicaraan semakin random dan membuat Yus jadi ikut tersenyum.

“Nggak kok Yow, Aku sih suka yang 34C aja”. Jawaban Yus membuat Yowan tersipu. Walaupun Yowan tidak pernah memberitahukan ukuran nya pada Yus, entah dari mana Yus tahu. Memang susah kalau punya pacar Indigo.

Makhluk itu tiba-tiba bergerak maju dan menyerang. Mungkin risih mendengar obrolan nggak jelas tapi mesra dari Yus dan Yowan. Yus dan Yowan terpaksa bersiaga. Pertarungan tak dapat di hindari. Makhluk itu begitu agresif dan ganas. Membuat Yowan dan Yus jadi harus lebih banyak menghindar dan mengelak. Lagipula ukuran makhluk itu yang besar harus membuat Yus dan Yowan ekstra hati-hati.

Yus dan Yowan mencoba melakukan serangan. Yus dengan serangan lemparan bola bersinarnya. Sedangkan Yowan melebarkan telapak dan merapatkan jari-jari tangan nya lalu membentuk sebilah pedang cahaya berwarna merah dengan tenaga dalam nya. Namun kali ini serangan mereka berdua serasa tumpul. Tampak tidak berpengaruh ketika mengenai tubuh makhluk itu. Bahkan tebasan pedang cahaya Yowan tidak mampu melukai tubuh makhluk itu satu gorespun. Selain itu mereka berdua jadi merasa cepat lelah. Bahkan Yowan sempat terkena sambaran tangan makhluk ganas itu.

Tubuh Yowan sempat terlempar melayang ke belakang. Untung Yus cepat menangkap dan menyambut tubuh Yowan sebelum tubuh Yowan menyentuh tanah. Usaha itu lumayan mengurangi dampak rasa sakit yang diterima Yowan. Yus dan Yowan lalu mencoba kembali bangkit. Mencoba kembali mengatur napas. Tubuh mereka sudah bercampur peluh dan debu tanah.

“Kaaakkk.... Kakaaakk.... Kakak tidak apa-apa??”. Terdengar suara Listu berteriak dari belakang. Mencoba memastikan sepasang muda-mudi pendekar itu baik-baik saja. Yus sempat menoleh ke belakang dan mengangkat jempolnya ke arah Listu. Mencoba menyampaikan pesan kalau keadaan nya dan Yowan masih aman.

“Yus, tenaga kita berkurang drastis. Dimensi ini sepertinya membuat tenaga kita hanya bisa keluar separuhnya. Dasar makhluk kurang aja.....”. Yowan mulai mengutuki makhluk itu. Sementara makhluk itu sepertinya tahu kalau dirinya di atas angin. Tawa nya yang mengikik tidak pernah berhenti dari tadi.

“Aku ada ide Yow. Kita satuin energi kita. Aku bakal transfer semua energi ku ke kamu. Ilmu mu lebih tinggi dari Aku. Tubuhmu pasti mampu menampung semua energiku. Tapi masalahnya ini hanya buat satu serangan saja”. Dimensi tempat mereka berada memang dikendalikan oleh makhluk Putri Wewe itu. Tentu saja sebenarnya ini lebih menguntungan makhluk itu dan menyulitkan Yowan serta Yus.

“Walaupun begitu harus dicoba Yus. Sebelum tenaga kita benar-benar habis.....”. Yus lalu mulai berkonsentrasi. Mengambil posisi di belakang Yowan lalu menyalurkan seluruh energi nya ke ujung jari telunjuk tangan kanan nya. Dengan satu gerakan lalu menyentakkan ujung jarinya itu ke ruas ke 9 tulang belakang Yowan. Tenaga Yus dengan cepat lalu tersalur semua ke tubuh Yowan. Tubuh Yowan dengan cepat mengolah energi. Tubuhnya jadi terasa lebih bertenaga dan kuat.

Tenaga itu lalu ditambahkan ke telapak tangan nya yang mengeluarkan sinar serupa bilah pedang berwarna merah. Pedang itu jadi tampak lebih bercahaya dan membara. Pendaran cahaya warna merah kekuningan juga seketika menyelimuti tubuh Yowan.

“Yow, sisa-sisa tenaga yang Aku punya bakal Aku pakai buat melontarkan kamu ke arah makhluk itu. Langsung incar lehernya”. Yus setengah berbisik di telinga Yowan menyampaikan aba-aba. Yowan dengan posisi energi yang meluap bersiap mengambil posisi.

“Oke Say... siap...”, ujar Yowan sambil langsung memasang kuda-kuda

“Hati-hati Say.....”. Yus lalu memulai hitungan. 1.... 2..... 3

DHAAR !!!

Satu sentakan di punggung Yowan membuat tubuh Yowan melesat bagai roket ke arah makhluk itu. Makhluk itu sama sekali tidak menduga. Apalagi dengan kecepatan seperti itu sangat sulit diantisipasi. Makhluk itu tidak sempat menghindar apalagi mengelak.

CHRAASSSS !!!!

Yowan berhasil memenggal kepala makhluk itu. Kepala makhluk itu jatuh berdebam dan menggelinding di tanah. Disusul kemudian dengan tubuhnya yang tinggi besar langsung jatuh rebah ke tanah tidak bergerak. Dan tamatlah riwayatnya. Listu dan Bunga spontan bersorak di balik semak, kemudian menghambur dengan teriakan gembira ke arah Yus. Mereka lalu berterima kasih kepada Yus dan Yowan.

“Ayo... Kakak berdua antar pulang ke rumah orang tua kalian”. Yus dan Yowan lalu melepas kain putih yang mereka kenakan di bawah pinggang mereka. Seketika kemudian selubung dimensi terbuka. Mereka pun kembali ke Dimensi manusia. Di tempat yang sama Armi dan Dedi sudah menunggu. Listu dan Bunga lalu berlarian ke arah Armi ayah mereka. Armi pun dengan gembira menyambut kembalinya kedua buah hatinya itu. Bersyukur kepada Tuhan karena kedua anaknya telah kembali dengan selamat.

THE END
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
SIDE STORY : GERBANG DIMENSI IMOGIRI 1

“Yus, dicari Mas Prabhu”, ujar Tito padaku dalam suatu kesempatan. Waktu itu Aku dan dia sehabis mengisi acara mini gathering yang baru saja kuadakan di Kedai Dji Nem ji Pringwulung. Aku jadi teringat pada sosok Mas Prabhu. Aku memang pernah berjanji padanya untuk mampir ke rumahnya. Tapi itu sudah lama sekali. Beberapa kali Aku berinteraksi dengan Mas Prabhu hanya lewat pesan Whatsapp. Di jaman sekarang ini untuk berkabar-kabari memang tidak harus bertemu langsung. Ada banyak media untuk bisa tetap terhubung, seperti sosial media, platform chat message, atau SMS.

Aku, Tito, Mas Prabhu dan beberapa teman lain nya memang tergabung dalam sebuah grup whatsapp (WA). Grup WA almamater sekolah SMA dulu. Aku, Tito dan Mas Prabhu memang satu sekolah di SMA dulu. Waktu SMA kita memang tidak terlalu dekat. Hanya kenal nama. Baru setelah lulus dan lewat beberapa kali pertemuan dalam wujud sukma atau astral projection, akhirnya baru mengenalnya lebih dekat. Apalagi ditambah tergabung dalam grup WA alumni SMA, yang kadang menjadi tempat bercanda dan ngobrol seru. Membuat jarak yang saling berjauhan menjadi tidak berarti.

Aku sekarang memang tinggal di Jakarta. Berkerja dan mencari penghidupan di sana. Sementara Tito baru saja kembali dari Batam dan sekarang berada di Jogja. Dirinya saat ini lebih memilih untuk serius jadi Vlogger, sambil tetap menjalani misi nya sebagai Life Consultant. Aku dan Tito memang terlibat dalam beberapa projek yang memang kami rencanakan sejak jauh-jauh hari. Mulai dari membuat konten youtube sampai membuat dan mengisi acara-acara bertema kan horor atau indigo. Tito memang orang yang bernasib sama dengan ku. Seorang survivor NDE atau Near Death Experience. Dirinya pun pernah mengalami mati suri, dan pengalaman itu membuatnya memiliki kemampuan berinteraksi dengan alam sebelah.

Aku dan Tito malah dulu pertama bertemu di sebuah acara pertemuan alumni SMA di Cikarang Jakarta. Namanya malah dikenal lebih dulu sebagai praktisi supranatural dikalangan teman-teman alumni SMA. Sedangkan Aku lebih dikenal sebagai penulis Novel. Dari situ Aku mulai mengenal Tito dan mengetahui kalau dirinya punya pengalaman dan kemampuan yang mirip dengan ku. Akhirnya dari beberapa kali obrolan lewat Whatsapp dan pertemuan langsung, Aku dan Tito mulai merencanakan beberapa projek untuk digarap bersama. Dalam projek itu profit bukan tujuan, tetapi lebih untuk mengedukasi dan memberikan pemahaman kepada orang-orang dan masyarakat umum tentang persepsi indigo dan dunia supranatural.

“Bagaimana kabar Mas Prabhu sekarang?”, tanyaku pada Tito. Tito lalu mengatakan padaku kalau posisi Mas Prabhu saat ini masih berada di Jogja. Dirinya saat ini sibuk menjadi seorang enviromentalist dan pemerhati lingkungan. Khususnya bagi wilayah Jogja. Mas Prabhu ternyata juga sudah berkeluarga dan punya anak.

“Dia pengen ketemu kamu lho Yus. Mau diajak ke Imogiri”. Apa yang dikatakan Tito membuatku terkejut. Imogiri, makam raja-raja Jogja. Itu tidak akan jadi soal kalau yang seandainya mengajak bukan Mas Prabhu. Tetapi ini yang mengajak adalah Mas Prabhu. Seseorang yang punya hubungan langsung dengan Trah Kraton Jogja. Tentu ajakan itu bukan tanpa maksud. Aku jadi menebak-nebak. Kemungkinan Mas Prabhu merasakan seperti hal nya yang Aku rasakan. Banyak pertanyaan dan kegelisahan.

Mas Prabhu selaku keturunan Trah Kraton langsung juga bukan orang sembarangan. Dirinya juga punya kemampuan terhubung dengan alam supranatural. Bahkan semenjak lahir. Tidak heran kalau dirinya juga seorang pengendali Pasukan Astral Suryo Metaraman. Pasukan astral milik leluhur-leluhurnya dulu. Terhubung dengan para mendiang Raja-raja Jogja terdahulu yang merupakan Kakek nya dan Buyutnya juga bukan hal yang sulit bagi nya. Namun semua itu tetap membutuhkan afirmasi. Afirmasi dari orang-orang yang juga bisa terhubung dengan alam atau dimensi sebelah.

Aku tidak langsung menjawab waktu itu. Malah Aku mengalihkan pembicaraan tentang situasi terkini tentang Jogja. Kota yang mungkin cukup lama kutinggalkan.Banyak perubahan di sana- sini. Kemajuan jaman mengubah wajahnya. Budaya ramah dan sikap lembut kadang dirasa hanya slogan. Masyarakat terbagi-bagi dan terkotak-kotak, tanpa ada yang bisa mengayomi dan menyatukan. Sampai akhirnya Aku dan Tito malah banyak membahas tentang beberapa fenomena yang kami rasakan seperti sebuah pertanda dan sasmita. Seperti fenomena air pasang dan ombak besar di Pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Fenomena angin badai dan hujan besar yang sampai menumbangkan beringin Kraton, dan lain-lain.

Mungkin inilah yang disebut dengan kegelisahan, yang entah kenapa Tito dan Aku pun merasakan. Kami yang tadinya tidak terlalu perduli, seolah seperti diminta untuk ikut perduli. Kesimpulan nya, baik Aku, Tito dan Mas Prabhu seolah terhubung secara tidak langsung. Seperti ada yang mengarahkan batin ini, untuk mencari jawaban dan menenangkan kegelisahan ini. Mungkin di Imogiri, jawaban atas semua hal ini bisa didapatkan. Jawaban dari para mendiang Raja-raja Jogja, dan hal itu hanya bisa dilakukan dengan memohon pada Yang Maha Kuasa. Memohon pada Nya agar berkenan membuka gerbang dimensi, dan mengizinkan para Ngarso Dalem Gusti Kanjeng Sinuhun datang dari alam keluhuran.

“Bagaimana Yus? Mau nggak?”. Tito seolah mengingatkan ku sekali lagi karena Aku belum memberikan jawaban.

“Mungkin ada baiknya ketemu Mas Prabhu dulu. Kita ngobrol-ngobrol dulu soal ini”. Tito pun setuju dengan jawaban ku. Waktu itu tidak ada rencana spesifik kapan Aku akan datang lagi ke Jogja. Waktu pun dengan cepat berlalu dan lewat seperti biasa. Lewat kurang lebih 5 atau 6 bulan. Sampai kemudian dalam satu kesempatan saat libur panjang Aku baru kembali lagi ke Jogja. Saat itulah baru Aku bersama Tito datang dan sowan ke tempat Mas Prabhu.

Obrolan panjang lebar dan senda gurau terasa hanya sebentar di awal. Pembicaraan selanjutnya lebih banyak mengobrol dan membahas tentang banyak hal menyangkut tentang kota Jogja. Tentang kondisi air tanah dan air bersih yang memprihatinkan. Tentang bencana alam.Tentang sumur-sumur yang kering. Tentang perubahan peruntukan lahan yang drastis, sampai kemudian membahas tentang kondisi masyarakat yang terbagi-terbagi dan kehilangan figur pemimpin yang mengayomi.

“Mangkanya Saya perlu bawa rombongan Indigo ke Imogiri. Temani Saya bicara dengan Kakek Buyut dan Simbah-simbah Saya. Kita coba masuk Gerbang Dimensi. Kita dengarkan sendiri apa kira-kira jawaban-jawaban mereka soal kondisi-kondisi yang tadi kita bahas ”. Aku dan Tito hanya berpandangan. Aku sendiri tidak pernah menyangka, dalam perjalanan ku sampai saat ini, akan mendapatkan kesempatan untuk berziarah dan melawat makam Raja-raja Jogja Imogiri
.
Mas Prabhu pun menjelaskan bahwa lokasi Makam Raja Imogiri yang dituju bukan sekedar tempat yang biasa dibuka untuk umum, tetapi tempat cungkup Makam Raja yang berada di puncak paling atas. Cungkup utama yang biasanya orang biasa hanya boleh berhenti sampai gerbangnya.

“Kita nanti ke sana kira-kira jam 12 malam. Gerbang Dimensi biasanya terbuka pada saat malam hari di jam segitu”. Kembali Mas Prabhu menjelaskan.

“Lalu kapan kira-kira waktu nya Den Mas?”, tanya Tito kemudian.

“Monggo, silahkan ditentukan. Saya sih bisa kapan saja. Ini berhubung yang paling sulit jadwalnya Mas Yus, monggo Mas Yus saja yang menentukan kapan bisa nya?”, ujar Mas Prabhu sambil tersenyum.

“Gimana Yus? Kamu mau nggak? Bisa nggak?”. Tanya Tito kepadaku. Sedari tadi Aku meman belum memberikan jawaban maupun persetujuan.

“Oke kalau begitu. Untuk waktunya Aku baru bisa di tanggal 24 bulan depan....”. Aku sebetulnya tidak memikirkan spesifik kenapa tanggal dan hari itu. Tiba-tiba saja terlontar olehku.

“Tanggal 24 bulan depan itu hari apa ya?”. Tanya Tito kepadaku, sementara Mas Prabhu segera bangkit dan mengamati tanggalan yang berada tidak jauh dari ruang tamu nya.

“Hari Kamis, malam Jumat Kliwon. Kok bisa pas ya?”. Jawaban Mas Prabhu membuat Aku dan Tito tergelak-gelak. Sementara Mas Prabhu tidak ketinggalan ikut tertawa bersama-sama.

Alasanku meminta waktu sebulan juga bukan tanpa alasan. Hal itu untuk persiapan. Mempersiapkan fisik dan juga mental. Berpuasa untuk memantapkan jiwa. Selain itu Aku juga meminta restu pada kedua orang tua ku, walaupun mereka juga tidak begitu paham kenapa untuk hal seperti itu perlu restu segala. Tetapi bagi ku untuk momentum sesakral ini, restu mereka sangat penting.

Aku sebelumnya hanya pernah sekali ke Imogiri. Itu pun pada saat acara darmawisata sekolah dulu. Komplek Pemakaman Imogiri sendiri bertingkat-tingkat, dan untuk mencapai sampai di tingkat paling atas, pengunjung harus melewati jalan yang mendaki dan melalui ratusan anak tangga. Aku membayangkan bahwa untuk sampai ke atas pasti butuh stamina. Apalagi tempat yang dituju kali ini adalah cungkup makam Raja-raja paling atas. Akupun jadi rajin berolah-raga untuk melatih stamina.

Sampai akhirnya hari yang ditentukan pun datang. Tanggal 23 malam, sehabis pulang dari Kantor Aku langsung menuju stasiun Pasar Senen untuk naik kereta malam menuju Jogja. Selama di kereta Aku banyak merenung. Dari awal dulu perjalanan memiliki kemampuan seperti ini, tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan ada panggilan untuk datang ke Imogiri.

Aku sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan Aku lihat di sana. Bagaimana suasana dan tempatnya. Terlebih lagi Aku merasa Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya orang biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun kenapa malah seperti orang yang terpilih untuk datang dan menghadap ke sana.

Tanpa sadar Aku tertidur di kereta. Dalam tidur itu Aku bermimpi, seperti berada di masa lalu. Mungkin di masa sekitar 500 tahun yang lalu. Tampak seorang raja didampingi 2 orang kepercayaan nya dan seorang abdi dalem datang berziarah ke Makam leluhurnya. Saat terbangun dari mimpi itu ternyata kereta sudah hampir merapat di Stasiun Lempuyangan Jogja. Jam menunjukkan pukul 6:38.

Begitu turun dari kereta Aku langsung menghubungi Tito. Ternyata Tito sudah sampai juga di stasiun Lempuyangan. Dirinya memang sudah janji untuk menjemput. Entah apa yang menyebabkan, Aku dan Tito kesulitan menemukan posisi masing-masing. Padahal sudah dibantu Whatsapp.

“Kok susah banget nyariin kamu To?”, kataku sambil bersungut-sungut begitu bertemu dengan nya.

“Lah..... kamu nggak lihat kalau sudah seramai ini?”. Tito dengan cueknya menjawab. Jawaban Tito membuatku tersadar. Secepatnya kemudian mengaktifkan Mata Ketiga ku untuk melihat situasi nya. Ternyata memang seperti yang dikatakan Tito. Secara tak kasat mata Jogja terlihat penuh.

Para Astral penguasa wilayah berbondong-bondong bersama dengan pasukan nya datang merapat Ke Jogja. Mulai dari daerah barat seperti wilayah Krakatau, Gunung Salak, Cirebon, dan Cilacap, sampai daerah Timur seperti Lawu, Mahameru, Ketonggo dan Gunung Agung. Tidak ketinggalan dari arah pantai Utara Dewi Lanjar bersama dengan rombongan juga sudah mulai merapat di perbatasan kota Jogja-Solo.

“Kenapa bisa seramai ini?”. Aku bertanya dengan nada takjub. Sementara Tito tidak menjawab, hanya tersenyum penuh arti.

“Tadi malam, hari Rabu. Hujan besar lho. Angin nya kencang lagi....”. Jawaban Tito yang tidak nyambung itu membuatku paham. Hujan dan angin kencang itu memang pertanda untuk mempersiapkan astral-astral itu datang. Ibarat jalan sebelum dilewati sebelumnya dibersihkan atau dicuci dulu. Agar layak dilewati

“Kemungkinan besar mereka semua nanti malam ini juga akan ke Imogiri, para Ngarso Dalem Sinuhun yang mengundang mereka”, kata Tito kemudian. Tak lepas Aku memandang para Astral yang datang berduyun-duyun itu. Mereka semua memang berjalan mengarah ke Imogiri. Banyak sekali. Dalam pandangan orang biasa mungkin orang-orang yang terlihat jumlahnya biasa saja, namun dalam pandanganku kota ini jadi terasa begitu padat dan ramai. Hawa kota yang kurasakan juga jadi terasa lebih panas. Layaknya sebuah tempat yang penuh sesak.

Aku menginap di rumah Eyang yang bertempat di Jalan Kaliurang di belakang Gedung MM UGM. Eyang sangat senang melihatku datang. Sudah lama memang Aku tidak datang menengoknya. Tito kemudian mohon pamit begitu selesai mengantarku. Kami lalu menetapkan untuk berangkat menuju rumah Den Mas Prabhu jam 20:00 dari tempatku. Aku tahu dia juga butuh persiapan buat nanti malam. Setelah itu Aku membersihkan diri dan beristirahat.

Agak siangan sekitar jam 14:30 Aku lalu coba melakukan kontak batin dengan para 9 Tetua Merapi di Utara. Salamku dibalas dengan cukup meriah oleh para 9 Tetua. Sudah cukup lama memang Aku tidak melakukan kontak dengan mereka semua.

“Hai Kisanak... Apa kabar? Lama tidak bicara. Salam sejahtera selalu....”. Suara Para Eyang Merapi itu terdengar bersahutan olehku. Membuat hati ku merasa tenang sekaligus senang.

“Nanti malam Saya mau ke Imogiri Eyang. Menghadap para Swargi Gusti Kanjeng Sinuhun. Mohon restu nya....”. Dengan penuh hormat Aku memohon restu pada mereka.

“Lihatlah ke arah utara Kisanak... Ke arah Merapi”. Ujar-ujar nan lembut dari Eyang Karta. membuatku sesaat membuka mata, lalu berjalan menuju arah jendela kamarku yang memang pas menghadap ke arah Utara. Tampak olehku Gunung Merapi dan wilayah utara diselimuti mendung hitam pekat. Ritme angin berhembus mulai agak kencang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
SIDE STORY : GERBANG DIMENSI IMOGIRI 2

“Jalan buat kami sedang dipersiapkan. Sampai bertemu di Imogiri Kisanak”. Setelah kata-kata itu selesai terdengar, Aku mendengar bunyi guntur dan guruh mulai bersahutan. Mengalun ramai di angkasa. Tepat pukul 15:30, hujan deras menderu mengguyur tanpa ampun disertai angin kencang. Jika tidak tahu tujuan nya mungkin Aku akan cemas bagaimana jika sampai malam hujan belum reda. Bisa batal semua rencana. Tapi karena Aku tahu untuk apa hujan itu turun, Aku jadi tetap santai dan sama sekali tidak khawatir. Percaya bahwa tepat nanti malam hujan akan reda dan berhenti, sehingga kami bisa ke Imogiri.

Tepat pukul 18:00 hujan berhenti. Aku pun lalu bersiap-siap mandi sore dan menunggu Tito datang menjemput. Pukul 19:30 Tito datang bersama Anto. Anto juga teman sekolah satu SMA dulu. Namun dia hanya orang biasa. Dia bukan orang yang memiliki kemampuan Mata Ketiga atau Indra Keenam. Dia juga diajak oleh Mas Prabhu sebagai pelengkap atau penggenap untuk menghadap ke Imogiri. Hari itu juga pengalaman pertama nya ke Imogiri. Anto sendiri sebetulnya adalah ilustrastor Novel ke 2 ku. Jadi Aku dan dia memang sebelumnya sudah saling mengenal.

Pukul 20:00 lewat Aku, Anto dan Tito berangkat menuju tempat Mas Prabhu. Dalam perjalanan Aku melihat Astral Merapi sudah dalam perjalanan berduyun-duyun menuju arah Imogiri. Sampai di tempat Mas Prabhu, sempat kami kemudian santai sejenak dan mengobrol ringan. Sampai menjelang jam 22:00 setelah semua persiapan dan ubo rampe lengkap, kami berempat berangkat ke Imogiri naik mobil Mas Prabhu.

Selama perjalanan, tidak ada rasa khawatir. Tidak ada rasa gelisah atau takut. Yang ada hanya rasa senang dan lepas. Ditingkahi lagu Rewrite The Stars dari Anne Marie & James Arthur dari audio mobil milik Mas Prabhu. Hujan deras nan syahdu pun mengiringi perjalanan kami.

“Kita lewat jalan pintas saja ya.....”, kata Mas Prabhu saat mobil sudah mendekati lokasi pemakaman Imogiri. Mas Prabhu lalu mengambil jalan berbelok yang agak mendaki. Mobil mulai melaju dengan perseneling khusus tanjakan, karena jalan yang dilalui adalah jalan dengan jalur naik yang agak curam.

“Maksudnya jalan pintas bagaimana Gus Prab?”, tanya Anto yang duduk disebelahku.

“Ini jalan langsung ke cungkup atas. Jadi tidak harus naik tangga dari bawah. Ini jalur khusus keluarga Kraton”. Jawab Mas Prabhu cepat. Dari caranya menyetir Aku bisa tahu kalau dirinya sudah sangat terbiasa dengan jalan daerah ini.

“Masalahnya sudah malam. Kalau mau lewat bawah bisa-bisa baru besok pagi baru sampai atas”. Kata Mas Prabhu lagi. Aku cuma melongo mendengar kata-kata nya. Padahal kemarin-kemarin Aku sudah sibuk olahraga buat persiapan fisik, karena mengira bakal harus naik tangga sampai ke Cungkup Atas. Ternyata malah lewat jalan pintas, naik mobil lagi. Tito yang melihatku melongo hanya tertawa tergelak-gelak.

Pemandangan alam astral dari Mata Ketiga ku sangat menarik kali ini. Beberapa kali Aku melihat makhluk astral berukuran raksasa yang sangat besar, yang bahkan terlihat olehku hanya telapak kaki nya saja. Bahkan telapak kaki itu saja besarnya seukuran rumah 2 tingkat. Mereka seperti berjaga-jaga di sepanjang perjalanan jalan pintas itu. Selain itu beberapa makhluk astral seperti harimu namun berkepala manusia, laki-laki dan perempuan juga tampak. Mereka menggunakan mahkota. Beberapa makhluk bertubuh besar, berbadan manusia namun berkepala kerbau juga tampak olehku. Mereka berdiri sambil membawa gada dan tombak. Beberapa raksasa sepertu Gupala berbadan besar juga terlihat bersiaga.

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL


Selain itu yang menarik adalah banyaknya astral yang berduyun-duyun berbondong-bondong menuju Imogiri dari berbagai penjuru. Jumlahnya sangat banyak. Sepanjang perjalanan penuh sesak oleh mereka. Dalam pandangan mataku, mobil yang kami tumpangi seperti menembus kerumunan keramaian. Bila dilgambarkan seperti suasana orang mau nonton konser. Saat mobil yang kami tumpangi lewat, para astral itu tampak mempersilahkan sambil tersenyum dan membuka jalan.

Akhirnya kami sampai di area parkir kompleks pemakaman cungkup atas. Sampai di sana Aku masih cemas karena hujan masih turun lumayan deras. Bahkan saat Aku membuka pintu mobil. Aku masih bisa mendengar suara nya. Anehnya saat Aku, Anto, Tito dan Mas Prabhu turun dari mobil dan berjalan menuju pesanggrahan untuk berganti pakaian, tidak ada satu tetespun air yang mengenai tubuh kami.

Kami bisa melihat air turun, mendengar suara hujan yang deras, namun tubuh kami tidak basah oleh hujan. Seperti ada yang memayungi dan tidak membiarkan kami basah oleh hujan. Aku, Anto dan Tito sampai terheran-heran. Sementara Mas Prabhu hanya tersenyum dan tetap tenang seperti biasa.

Sampai di Pesanggrahan kami berganti pakaian. Pakaian yang dikenakan tidak boleh sembarangan. Harus mengenakan Beskap dan Jarik lengkap. Untung semua kelengkapan pakaian itu sudah disiapkan. Pesanggrahan itu terletak tepat di bawah Gerbang Utama Cungkup Atas. Kami tinggal menunggu gerbang besar itu dibuka dan masuk ke dalam, untuk menuju cungkup makam raja-raja.

Suasana malam begitu syahdu. Diiringi rintik hujan dan dan hembusan angin yang lembut. Tidak ada rasa takut dan angker yang dirasakan. Yang ada hanya rasa tenang nan tentram. Rasanya begitu teduh. Teduh yang lembut. Perasaan seolah benar-benar diayomi dan dijaga.

Dalam pandangan Mata Ketiga malah terlihat sebaliknya. Suasana begitu ramai. Seperti adanya hajatan atau pesta. Para tamu undangan ramai berdatangan. Semua tumplek dari segala arah. Berduyun-duyun dari segala penjuru. Begitu menakjubkan.

Tampak olehku bahwa para astral atau undangan pun seperti sudah di sortir dan diseleksi. Tempat yang kami berada sekarang adalah bagi para undangan khusus VVIP, sementara di ring kedua untuk para astral VIP dan ring terluar adalah untuk astral receh seperti trio populer : Pocong, Kuntilanak dan Genderuwo. Artinya tempat kami berada seperti daerah yang sudah steril dari mereka yang memang tidak layak untuk ada di situ. Hanya astral-astral tingkat tinggi dan pilihan yang berhak untuk berada di situ. Tidak heran kalau suasana nya beda. Begitu syahdu dan lembut.

“Bagaimana? Menghadap sekarang?”. Tanya Mas Prabhu pada kami setelah semuanya siap. Entah kenapa semua mata malah terarah kepada ku. Aku yang dipandangi begitu rupa malah jadi salting dan kikuk. Sejenak kemudian Aku mencoba diam. Menyerahkan jawaban nya pada indra keenamku. Sesaat kemudian terdengar suara seperti alunan Gendhing Jawa dari arah atas. Suara nya mengalun begitu indah dan menenangkan. Itu suara Gendhing Ageng. Aku yakin itulah pertanda nya.

“Sendhiko Den Mas, Sekarang”, ujarku kemudian. Kami pun beranjak dari tempat kami duduk. Mas Prabhu memimpin di depan. Diikuti olehku Tito dan Anto di bagian paling belakang. Kami berjalan beriringan. Di tengah suara deras rintik hujan yang tidak sedikitpun membasahi badan kami. Dalam pandangan Mata Ketiga kedatangan kami disambut dengan tarian Bedoyo dari 4 penari putri cantik yang tak kasat mata.

Gerbang besar di hadapan kami akhirnya terbuka. Gerbang megah cungkup atas makam raja-raja Imogiri. Saat memasuki gerbang itu, kami seperti merasakan sudah memasuki sebuah dimensi yang berbeda. Semua yang terlihat dari pandangan Mata Ketigaku saat masuk ke dalam adalah penuh dengan nuansa putih. Putih yang bersih. Seolah itu adalah sebuah dimensi keluhuran yang suci. Tidak ada warna yang lain selain warna putih. Hanya rasa syukur yang pertama kali terpanjat begitu melihat pemandangan ini.

Aura keagungan Raja-raja yang bersinar begitu terasa saat mendekat ke arah cungkup para Raja. Cungkup besar itu berjajar tertata rapi. Ukuran nya bahkan seukuran tubuh orang dewasa saat berdiri.

Para Sinuhun tampak duduk di tempatnya masing-masing dengan pakaian Raja lengkap dibalut nuansa putih yang bersih. Aku sempat melihat sesosok wanita cantik dengan tampilan khas seperti seorang Ibu dalam busana Jawa, yang belakangan Aku ketahui namanya sebagai Kanjeng Nyai Batang.

Upacara dipimpin langsung oleh Mas Prabhu yang duduk di bagian paling depan. Sementara Aku mendampingi di belakangnya. Tito dan Anto berada di bagian sebelah kiri belakangku. Berjajar di belakang kami Nyi Penguasa Selatan, Para Eyang Merapi, Para astral Medang dan Pengging, Dewi Lanjar, Para Panglima dan Tumenggung dari Pasukan Astral Suryo Metaraman, Eyang Lawu, dan lain-lain yang tidak bisa Aku sebutkan satu persatu sangking banyaknya.

Terlihat dalam pandangan Mata Ketiga ku dupa yang dinyalakan oleh Mas Prabhu sebagai tanda kinasih itu berubah menjadi tumpeng dan sesembahan lengkap. Tumpeng itu kemudian diterima oleh Kanjeng Nyai Batang dan diletak kan di sebelah kanan depan.

Mas Prabhu kemudian maju mendekati Gusti Kanjeng Sinuhun HB IX. Hubungan mereka tampak akrab layaknya Kakek dan cucu. Aku bisa merasakan pribadi Sinuhun HB IX yang terasa begitu terbuka.Terbuka bagi siapa saja. Tidak memandang siapa kamu siapa saya. Menerima siapa saja yang datang dengan tangan terbuka. Seorang tokoh yang merakyat dan mudah akrab dengan siapa pun. Pemimpin yang begitu mengayomi, yang membuat siapapun akan menaruh rasa hormat dan segan karena nya. Dirinya menerima kami dengan tangan terbuka

Selain itu tampak juga para Ngarso Dalem Sinuhun-sinuhun lain dengan wibawa dan pancaran aura pribadi seorang raja, juga menerima dan menyambut kami. Ada rasa senang yang kami rasakan bahwa diri kami diterima di tempat ini. Hawa lembut yang seketika menyelimuti kalbu menjadi tanda bahwa tidak ada yang perlu kami khawatirkan tentang kehadiran kami di sini.

Sebuah dialog yang panjang pun berlangsung. Tentang apa yang kami gelisahkan. Tentang apa yang kami khawatirkan. Semua kami utarakan. Atas seizin Tuhan Allah Yang Maha Kuasa para Sinuhun berkenan menjawab. Kami banyak mendengarkan dari para Sinuhun-sinuhun tentang apa yang akan terjadi ke depan nya. Tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Tentang bagaimana seharusnya semua didasarkan pada aturan-aturan yang ada.

Bahwa aturan-aturan yang telah dibuat bukan saja sebagai pertanggung-jawaban terhadap rakyat, tetapi juga dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena aturan yang dibuat adalah sebuah keniscayaan dari sebuah hubungan kosmis antara manusia dengan alam / bumi pertiwi, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan manusia (Hablum Minallah, Hablum Minan-nas).

Aturan tidak seharusnya disimpangi atau dilanggar. Apalagi apabila aturan itu sudah merasuk menjadi adat yang mengisi sendi-sendi budaya dan semangat kekeluargaan di dalam masyarakat.

Aku sendiri memaknai bahwa ziarah yang dilakukan ini memang dalam merangka sebuah pencarian jawaban. Jawaban atas kegelisahan. Atau kalau dalam bahasa orang-orang tempo dulu mencari wangsit. Atau kalau dalam tataran yang lebih tinggi adalah menunggu Wahyu. Wangsit atau Wahyu menurutku tidak mungkin atau kecil kemungkinan didapatkan di tempat yang hingar-bingar, ramai, di tempat yang enak, di atas kasur yang empuk, atau ruangan ber AC.

Wahyu atau Wangsit akan datang bagi orang yang dengan hati yang bersih tulus ikhlas, mencari nya di tempat yang sepi sunyi, jauh dari keramaian dan hingar-bingar, tempat yang jauh dari rasa enak dan jauh fasilitas. Tempat yang mampu membuatnya bertiratkat dan dekat dengan Tuhan.

Ini semua kami lakukan karena kami peduli. Perduli dengan kota ini. Perduli dengan masyarakatnya. Tidak rela bila rasa tata-titi-tentrem karta raharja itu menghilang. Berganti dengan hiruk pikuk keriuhan dan perpecahan. Kehilangan sifat ramah-tamah lemah lembut yang telah begitu membudaya, dan menjadi dasar sikap serta adab yang harus dijaga.

Sempat Aku lihat Mas Prabhu menitikkan air mata. Dirinya menangis sambil memeluk kaki Kakek dan para Eyang nya itu. Menumpahkan segala kesedihan yang ada di hati nya. Mungkin itu terkait dengan kondisi keluarga besarnya yang sedang dilanda perpecahan. Baik Aku, Tito, dan Anto hanya bisa melihatnya dengan hati trenyuh. Aku sempat menyimak Para Sinuhun memberikan wedaran bagi Mas Prabhu, yang intinya memberikan semangat dan penghiburan bagi cucu nya itu. Semakin malam suasana semakin haru dan syahdu. Tanpa terasa waktu 2 jam berlalu.

Sampai akhirnya Mas Prabhu mengucapkan uluk salam pamit, kemudian beringsut mundur dan berjalan jongkok ke belakang. Aku pun mengikutinya dan mengucapkan uluk salam pamit undur. Diikuti oleh Tito dan Anto. Sempat Aku melihat di deretan agak belakang, tampak seorang Sinuhun duduk di Singgahsana namun seperti tertutup kelambu tirai putih.

Aku hanya melihat siluetnya yang duduk dengan posisi tegap gagah. Sempat Aku merasakan hawa menekan yang begitu khas dan tegas dari nya. Tadiny Aku mengira itu adalah Gusti Kanjeng Ndalem Panembahan Senopati, tetapi ternyata Mas Prabhu menjelaskan bahwa itu adalah Gusti Kanjeng Sultan Agung.

Mas Prabhu, Aku, Tito dan Anto berjalan beriringan ke arah keluar gerbang. Diiringi tatapan dan senyum para Sinuhun dan para Astral tingkat tinggi yang ada di situ. Mereka sepertinya tidak langsung pergi dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Sepertinya mereka masih tinggal dan berkumpul di situ untuk membahas sesuatu. Seperti rapat umum terbatas atau tertutup. Gerbang Besar Imogiri dibelakang kami pun akhirnya tertutup, membiarkan apa pun yang terjadi di dalamnya kemudian tetap menjadi misteri.

Saat kembali ke pesanggrahan dan berganti pakaian Aku baru menyadari bahwa beskap yang Aku kenakan bagian dalamnya telah basah oleh keringat. Tanpa sadar ternyata saat di dalam tadi Aku berkeringat banyak sekali. Entah kenapa. Tito pun ternyata mengalami hal yang sama. Baju Beskapnya basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Rasanya seperti habis mengeluarkan energi yang begitu banyak.

Tubuh jadi terasa lelah. Selain itu rasanya juga lapar sekali. Tetapi ada seperti rasa lega, plong dan lepas. Perasaan itu terus mengiringi kami bahkan setelah berganti pakaian dan kembali ke mobil. Suara deru dan rintik hujan mengiringi langkah kami kembali ke mobil. Dan sekali lagi, tanpa satu tetespun air membasahi tubuh. Semua itu adalah bukti kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sebelum kembali ke rumah Mas Prabhu, kami sepakat lebih dulu mampir ke warung bakmi jawa pinggir jalan. Cuaca yang dingin ditambah udara malam yang sedikit menggigit, membuat siapa pun pasti bersemangat untuk menikmati hidangan malam itu. Ditambah lagi Aku dan Tito yang entah kenapa dalam kondisi seperti orang habis macul. Sambil menikmati bakmi kami saling mengafirmasi apa yang kami lihat, kami rasakan dan kami dengar dari wedaran kata-kata para Sinuhun di Imogiri tadi.

Setidaknya ada beberapa hal sama yang telah kami tangkap. Hal-hal itu adalah sebagai berikut :

- Bahwa Tahta akan hadir bagi orang yang bisa mengayomi dan menyatukan semua pihak. Bukan yang malah mengotak-ngotak dan memecah-belah. Tahta hadir dalam pribadi yang mampu mengayomi dan menyatukan semua pihak, termasuk mengayomi dan membimbing mereka yang salah dan keliru dalam berbuat serta bertindak. Karena semua itu adalah untuk rakyat dan akan kembali kepada rakyat. Tahta itu adalah untuk rakyat

- Semua yang tertulis menjadi aturan adalah pedoman, dan sewajibnya dipertanggung-jawabkan tidak hanya kepada sesama atau rakyat, tetapi juga kepada alam dan Tuhan Yang Maha Esa. Apa yang tertulis sebagai keutamaan dalam aturan tersebut adalah bentuk hubungan kosmis antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhan nya

- Segala sesuatu tidak ada yang kebetulan. Semua sudah digariskan. Setiap janji harus ditepati, walaupun janji itu berusia 500 Tahun sekalipun. Semua pengetahuan yang didapatkan ini adalah untuk berdamai dan mengupayakan kerukunan, bukan untuk berperang dan menimbulkan perpecahan. Mengupayakan alam untuk terus berputar. Cokromanggilingan dan Herucokro.

Selain ketiga hal itu, hal-hal lain yang ditangkap oleh ku, Tito dan Mas Prabhu mulai berbeda-beda satu sama lain. Tapi yang jelas hal itu bukanlah hal yang terlalu penting. Kami cenderung menyimpan hal-hal itu bagi diri kami sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana segala kegelisahan dan kekhawatiran yang ada bisa terjawab dengan kelegaan.

Bagaimana ada rasa tenang yang menyelimuti ketika ada jawaban yang kami terima dan dengar. Walaupun pengalaman ini tidak dapat dibuktikan secara nalar dan logika, namun orang yang justru mempertanyakan dan mencoba untuk melogikan segala sesuatu yang sebenarnya bukanlah ranah logika dan pengetahuan malah akan terlihat bodoh. Hanya akan tampak suwung dan kosong.

Keesokan harinya Aku kembali ke Jakarta. Berpamitan kepada Tito dan Mas Prabhu. Tidak lupa meminta ijin pada Mas Prabhu untuk menuliskan pengalaman ketika berkunjung ke Imogiri itu sehingga bisa dibagikan dan dibaca untuk semua orang. Mas Prabhu pun mengijinkan. Sepanjang perjalanan dari Yogya menuju Jakarta, pengalaman ini Aku tulis. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

THE END
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
Halaman 148 dari 165


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di