alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS punya fitur baru: MENTION! Berkomunitas jadi makin seru! Cekidot!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
4.64 stars - based on 156 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 35 dari 154
Numpang lewat gan
Hahahaaaa.....berasa banget kentang goyengnya....


Guriiiihhh.
DMI 3 – MISTERI GUDANG TEMBAKAU 6



“Saya hanya ingin memastikan tidak ada yang mengancam keselamatan kami di sini Pak”. Mau tidak mau Aku harus angkat bicara. Dengan menjawab, Aku terbebas dari tekanan akibat kata-kata nya. Tatapan Pak Nursamsu melunak. Aku lihat dia sedikit menghela napas. Tak lama kemudian dia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah ku.

“Mas Yus mungkin sudah melihat semua nya, tetapi Mas yus belum tahu semua nya......”. Kata-kata Pak Nursamsu membuatku mengeryitkan kening. Kata-kata nya sedari tadi bersayap. Sampai dengan saat ini Aku belum tahu dia ini sebenarnya teman atau musuh. Dia berjalan ke arahku sampai akhirnya posisinya berada sebelahku

“Ayo ikut Saya Mas.....” . Pak Nursamsu lalu mengajak ku pergi, dan Aku pun mengikuti nya. Langkah kaki kami berjalan menuju ke arah depan. Menuju sebuah warung kopi yang terletak di seberang jalan depan gerbang Mess.

“Hei... Pak Nur, lama kok nggak kelihatan? Mau kopi seperti biasa? Pahit tanpa gula?”. Penjaga warung kopi itu ternyata mengenal Pak Nursamsu sangat akrab. Mata nya berbinar saat melihat Pak Nursamsu, tak lupa dengan takzim menjabat dan mencium tangan Pak Nursamsu.

“Gelarin tiker di samping dong Mas, Saya sama Mas Yus ini mau ngobrol sambil lesehan saja.....”. Pemilik warung itu lalu dengan tergopoh-gopoh mempersiapkan tikar dan menggelar nya di samping warung. Aku dan Pak Nursamsu lalu duduk berdua di pinggir jalan. Ditemani sesekali kendaraan yang lewat. Warung di sebelah kami duduk hari itu hanya ada 2 orang pelanggan yang juga sedang mengobrol dan ngopi.

“Gudang ini milik keluarga Saya turun temurun. Keluaga kami dulu petani tembakau. Ayah Saya dulu anggota perangkat desa di sini. Gudang-gudang kami disewa perusahaan ini dari kami. Terakhir jabatan perangkat desa itu sempat jatuh ke Saya, sebelum akhirnya Saya pensiun beberapa tahun yang lalu. Saya akhirnya direkrut oleh perusahaan ini sebagai Kepala Gudang, supaya perusahaan bisa menekan ongkos sewa gudang ini tiap tahun nya”. Pak Nursamsu lalu mulai menyalakan rokok. Asap mengepul memenuhi ruang udara diantara Aku dan Pak Nursamsu. Penjaga warung juga lalu datang mengantarkan dua gelas kopi dan sepiring gorengan.

“Saya tahu keluarga Saya turun-temurun mengadakan perjanjian dengan sosok siluman dari alas Purwo, demi kekayaan dan memenangkan persaingan pemilihan perangkat desa tiap tahun nya. Dan itu harus mengorbankan nyawa keluarga Saya seperti Ibu dan Kakak-kakak Saya. Akhirnya Ayah Saya menceritakan hal itu pada Saya. Hal yang dirahasiakan nya sejak lama. Sesuatu yang sudah merenggut nyawa orang-orang dalam keluarga Saya, dengan kematian yang tidak wajar. Termasuk Ibu Saya.....”. Pak Nursamsu meneruskan ceritanya. Sambil sesekali menyeruput kopi pahit hitam pesanan nya. Tatapan nya dingin lurus ke depan. Aku tampaknya sudah mengerti kemana ini semua akan mengarah.

“Suatu malam Ayah memanggil Saya. Dia menyerahkan sebuah daftar nama. Dia bilang dia sudah membuat sebuah perjanjian dengan siluman laba-laba itu, dengan mengorbankan lebih dari 70 orang sebagai pengganti nyawa Saya, Istri dan anak-anak Saya. Saya tinggal menyerahkan daftar itu kepada aparat pada waktu itu, dengan syarat bahwa eksekusi itu harus dilakukan di depan Gudang Tembakau Kami. Saya tahu, itu semua dilakukan Ayah Saya demi melindungi Saya dan keturunan nya setelah Saya. Setelah itu, siluman laba-laba itu akan mampu mencari makanan nya sendiri”. Aku tidak terlalu terkejut mendengarnya. Benang merah itu sudah ada di kepala ku sebelumnya. Gudang Nomor 4 itu adalah tempat pengorbanan bagi jiwa-jiwa yang dipersembahan kepada siluman laba-laba Darsuni. Melibatkan situasi dan kondisi sosial politik yang terjadi pada waktu itu. Orang-orang tidak bersalah itu dituduh oleh Ayah Pak Nursamsu sebagai anggota Partai Terlarang, dan akhirnya dieksekusi oleh aparat pemerintah yang saat itu sangat anti dengan apapun yang berhubungan dengan Partai Terlarang

“Tetapi Siluman Laba-laba itu sudah tidak ada lagi Pak.......”. Aku lalu menceritakan kejadian saat malam di rumah sakit itu. Pak Nursamsu mendengarkan nya. Ekspresinya tidak berubah, tetap dingin dan minim ekspresi. Padahal seharusnya dia senang, karena terbebas dari bayang-bayang siluman Laba-laba Darsuni.

“Mas Yus pikir Darsuni hanya siluman laba-laba satu-satu nya dari Alas Purwo?”. Pertanyaan Pak Nursamsu membuatku terhenyak. Segumpal kerisauan dan kecemasan mulai muncul merayapi pikiran ku. Pertanyaan dari Pak Nursamsu tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh ku.

“Darsuni bukan satu-satunya siluman laba-laba dari Alas Purwo. Dia hanya satu dari sekian banyak siluman laba-laba. Anggota salah satu pasukan, dari puluhan pasukan siluman laba-laba yang ada di kerajaan siluman mereka”. Pak Nursamsu menatap tajam ke arahku. Tatapan nya seolah memberi kesan kalau akan ada kejadian yang lebih buruk setelah ini.

“Dan mereka akan segera menyerang dan menyerbu kemari membalaskan kematian Darsuni......”. Aku terhenyak mendengarnya. Kekhawatiran dan kecemasanku seketika berubah jadi badai ketakutan besar. Tubuhku sampai gemetaran. Satu siluman laba-laba saja sudah membuatku hampir tewas, bagaimana kalau ini satu pasukan atau satu kerajaan yang datang?

“Bapak tahu dari mana kalau mereka akan menyerang?”. Aku bertanya dengan tatapan tidak percaya. Aku pikir masalahnya sudah selesai. Ternyata belum. Sebuah masalah yang lebih besar akan segera datang.

“Memang nya Mas Yus pikir perjanjian pesugihan yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu bisa dihapus hanya dengan kematian Darsuni? Perjanjian itu sudah jadi kutukan turun-temurun bagi keluarga kami, apa Mas Yus pikir Saya atau kami sekeluarga selaku anak turun tidak berusaha untuk menghilangkan nya selama ini? Mas Yus tahu, sudah berapa banyak korban yang berjatuhan? Dan sudah berapa banyak orang pintar dan dukun yang jadi korban dari usaha kami melakukan ikhtiar supaya tidak jadi korban berikutnya?”. Emosi Pak Nursamsu agak meninggi. Tetapi sekejap kemudian Aku lihat mata nya yang tadi nya garang mendadak lesu. Beberapa kali menghela napas, seolah menahan beban berat.

“Anak-anak Saya terlahir cacat. 1 Orang terlahir dengan cacat bawaan tidak mampu bangun dan hanya tergolek di tempat tidur. 1 Orang terlahir dengan kelainan mental. Terakhir istri Saya hamil namun saat kandungan nya mencapai bulan ke 8, tiba-tiba kandungan nya lenyap. Dan perutnya mengempis. Tanpa ada tanda-tanda pernah melahirkan. Malam sebelumnya Istri Saya bermimpi didatangi dan dikerubungi beberapa ekor laba-laba raksasa. Mereka langsung memuntahkan jaring-jaringnya. Ada yang mengikat tangan istri Saya, ada yang mengikat kaki nya sehingga meregang, dan ada yang langsung memuntahkan jaring yang kemudian masuk ke dalam liang kewanitaan nya. Laba-laba itu dengan paksa menarik janin yang ada di rahim nya, dan setelah dikeluarkan mereka langsung melahapnya beramai-ramai. Mas Yus jangan pikir bahwa apa yang Mas Yus lihat di Gudang No 4 itu sudah sepenuhnya menyelamatkan kami sekeluarga. Semenjak kejadian yang menimpa istri Saya itu. Saya sadar bahwa Darsuni bukan satu-satu nya siluman laba-laba yang ada dari Alas Purwo”. Wajah ku menjadi semakin tegang setelah mendengar kata-kata Pak Nursamsu itu. Aku pun merasa cerita akan mimpi istri Pak Nursamsu juga sebagai petunjuk akan sesuatu, dan hal itu bukan lah sebuah cerita kosong yang bisa begitu saja Aku abaikan. Lagipula Aku tahu, siluman atau astral pesugihan memang makhluk yang keji dan tak kenal belas kasihan.

“Selama ini Saya selalui dihantui mimpi buruk setiap malam Mas. Saya selalu bermimpi melihat Ayah Saya, Saudara-saudara Saya, Ibu Saya, semua nya menjadi budak / hamba yang tersiksa di kerajaan laba-laba itu. Saya melihat mereka ada yang hanya menjadi dudukan kursi, ada yang hanya jadi penghias ruangan, ada yang harus membersihkan kotoran para laba-laba itu. Tampak sangat menderita sekali. Dan Saya sadar, pada akhirnya Saya akan menjadi seperti itu nanti nya”. Mata Pak Nursamsu menerawang kosong menatap jalan. Ada sedikit sembab di sudut mata nya yang hampir jatuh. Raut wajahnya seakan sudah lelah menangis dan menyerah mencari jalan keluar.

Aku pun jadi bingung harus berbuat apa. Bagaimana mungkin Aku bisa menghadapi nya sendiri. Baru kali ini Aku berurusan dengan pesugihan yang ganas. Pak Nursamsu Aku lihat lalu beranjak dan membayar makanan dan minuman kepada Si empunya warung kopi, tidak lupa dirinya memberikan tip yang jumlahnya lumayan. Aku tahu sebenarnya Pak Nursamsu bukan orang jahat. Dirinya pun terjebak dalam sebuah situasi yang dirinya pun tidak menginginkan nya.

“Saya memberitahu ini bukan karena apa-apa. tetapi Saya memberi tahu ini supaya Mas Yus bersiap jika terjadi apa-apa. Saya sudah sering menyaksikan bagaimana orang-orang baru datang dan kemudian mengalami kemalangan ketika berurusan dengan Gudang ini. Tidak ada yang berhasil melawan “mereka”. Kalaupun Mas Yus menang, dan Saya harus menerima suatu konsekuensi setelah itu, Saya ikhlas menerima nya. Asal istri dan anak-anak Saya tidak menjadi korban”. Tatapan ku tak lepas menatap Pak Nursamsu. Aku melihat dirinya sebagai orang yang paling mengerti tentang model pesugihan ini. Selama pesugihan ini ada, pemilik pesugihan itu akan terus ada sampai kemudian setelah mati jiwa nya diambil sebagai hamba oleh Astral Pesugihan itu. Pesugihan ini hanya akan mengambil nyawa atau jiwa dari anggota keluarga dekat seperti istri, anak, atau kerabat dekat lain nya. Dan sampai saat ini belum ada yang mampu melepaskan Pak Nursamsu dari makhluk pesugihan itu. Bahkan mereka menjadi korban ketika berurusan dan berusaha melepaskan pesugihan itu dari Pak Nursamsu.

Pak Nursamsu lalu pamit meninggalkanku di warung itu. Aku pun lalu berjalan dengan langkah gontai ke arah Mess. Mencuci kaki lalu kembali masuk ke kamar tidur. Sayang nya, malam itu Aku malah sulit sekali tidur. Mata ku tak dapat terpejam. Otak ku berpikir keras bagaimana caranya mengatasi serbuan balas dendam dari siluman laba-laba Alas Purwo. Hal itu terbawa sampai pagi. Al-hasil, badanku lesu semua. Habibi yang menyadari hal itu di meja makan saat sarapan. Mungkin dirinya juga khawatir kejadian Anas terulang padaku.

“Halo Bos.... Kok lesu? Sakit? Atau butuh refresing?”. Habibi ku menyapaku renyah. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi nya. Aku lalu menceritakan hal-hal yang kudengar dari Pak Nursamsu pada Habibi. Habibi bahkan sampai berkeringat dingin mendengarnya. Menunjukkan kalau dia juga paham kekhawatiran itu.

“Sebetulnya mereka itu kan Makhluk Astral Mas Yus, tidak mungkin mereka bisa mempengaruhi makhluk fisik seperti kita, kecuali memang mereka sudah menikmati tumpahan darah. Setelah menikmati tumpahan darah, baru mereka akan mendapatkan wujud fisik sehingga mampu menyerang manusia seperti kita.......”. Aku paham yang Habibi maksud. Walaupun yang akan menyerang adalah sama-sama jenis Siluman laba-laba, tetapi Siluman ini berbeda dengan Darsuni yang telah menerima persembahan darah. Siluman yang belum mendapatkan tumpahan darah tidak akan mampu mempengaruhi hidup manusia secara fisik. Terutama yang kuat pikiran dan iman nya.

“Saat menyerbu kemari, mereka pasti akan lebih dulu mendatangi Gudang No 4. Melahap sisa-sisa energi darah yang tersimpan di sana, baru kemudian mereka siap bertarung dan berperang.....”. Aku coba memberikan prediksi. Sebenarnya Aku sudah tahu pokok permasalahan nya. Permasalahan nya adalah Gudang No 4 yang menjadi semacam tempat penyimpanan residual energi dan gudang darah para siluman laba-laba itu.

“Mas Yus, sebenarnya Saya bisa coba bantu bentengi Gudang ini dengan energi pelindung. Waktu Saya belajar silat, Guru Saya pernah mengajari Saya. Tapi Saya belum pernah mencoba nya. Lebih baik menurut Saya dicoba daripada tidak sama sekali. Saya akan coba buat barikade di sekeliling tempat ini sehingga makhluk Astral dari luar tidak bisa masuk dan menembus Gudang No 4”. Aku pun setuju dengan saran Habibi. Lebih baik berusaha melakukan sesuatu daripada hanya pasrah. Aku dan Habibi berencana untuk bersama-sama membuat medan energi pelindung nanti sore sehabis jam kerja. Hanya ini yang bisa kami lakukan, tidak lebih.

Saat pelindung telah terpasang, mulai saat itu pula Aku mencoba berusaha tidak membuka Mata Ketiga ku. Hal itu lebih melegakan dan membantu ku untuk tetap menjalani hari seperti biasa. Pikiran ku jadi tidak terlalu fokus memikirkan serbuan para siluman laba-laba itu. Meskipun hampir setiap malam, Aku mendengar seperti banyak sekali suara seperti hewan merayap di langit-langit Mess. Memberikan teror dan kegalauan luar biasa di tiap malam. Saat keluar dari wilayah Mess pun, Aku tahu Aku merasa diikuti. Merasa seperti ada yang ingin melakukan sesuatu terhadapku. Namun selama Aku tidak terlalu memikirkan nya dan mencoba mengabaikan nya, maka tidak ada hal buruk yang terjadi. Aku pun mencoba larut pada urusan yang ada di dunia normal, seperti pekerjaan, dan keseharian bersama teman-teman Mess ku. Dan Oya... setelah malam terakhir berbicara dengan Pak Nursamsu di warung itu, Aku tidak pernah melihatnya lagi datang ke Mess. Mungkin dia sedang sibuk di Surabaya atau ada urusan di Kantor Pusat.

Dalam hati kecil Aku menyadari, kalau hal ini masih dapat beresiko membahayakan orang-orang penghuni Mess lain nya selain diriku. Aku bisa merasakan medan pelindung yang Aku dan Habibi buat, seperti digempur habis-habisan oleh sebuah energi tak kasat mata. Aku dan Habibi jadinya setiap beberapa hari sekali musti berusaha untuk memperkuat medan pelindung itu. Namun sampai kapan? Makhluk-makhluk itu pun juga seperti tidak ada lelahnya berusaha menjebol dan meneror dari luar. Kami seperti kumpulan makhluk yang diteror oleh para predator yang menyerang dari luar. Hanya dapat berusaha sebisa mungkin bertahan / menyelamatkan diri

Aku lalu memilih sebuah tema untuk sebuah program yang akan coba Aku presentasikan pada akhir masa orientasi. Sebuah program yang berkaitan tentang Kondisi Keselematan Kerja atau K3, dan salah satu poin nya adalah uji kelayakan bangunan dan tempat kerja. Gudang No 4 menjadi topik pembahasanku. Bagaimana struktur bangunan dan kondisi bangunan yang sudah tidak layak akan membahayakan pekerja / karyawan. Hukum dan ketentuan yang berlaku di Indonesia mengatur bahwa apabila terjadi kecelakaan kerja yang disebabkan oleh terjadinya pelanggaran K3, maka perusahaan harus membayar dan menanggung ganti rugi yang jumlahnya cukup besar. Aku pikir tidak ada perusahaan yang bersedia untuk menanggung ganti rugi akibat kecelakaan seperti itu. Aku pun memberikan kesimpulan bahwa Gudang No 4 tidak layak dan harus dirubuhkan. Atau bahasa versi ku, dibangun ulang. Lengkap dengan analisa biaya dan keuntungan jangka panjang yang akan diperoleh kemudian

Secara metafisis, sebuah tempat terutama bangunan yang terlalu angker memang harus dirubuhkan dan diratakan rata dengan tanah, sebelum kemudian dibangun kembali menjadi sebuah bangunan yang baru. Hal ini karena energi astral yang ada sudah terlanjur melekat dan menyatu dengan bangunan itu. Atau dengan kata lain, untuk bangunan yang sangat angker bisa dikatakan bangunan itu lah makhluk astralnya. Oleh karena itu, tujuan ku jelas. Bagaimanapun bangunan Gudang No 4 itu harus dirubuhkan, supaya para siluman laba-laba itu tidak bisa mendapatkan residual astral darah yang menempel di tempat itu.

Setelah laporan itu lengkap dan rapi, Aku lalu menyerahkan file laporan dan program hasil observasiku pada Habibi. Habibi tampak kaget dan terkejut menerima nya.

“Lho Mas Yus? Kok diserahkan ke Saya?”. Aku sudah bisa menebak ekspresi Habibi itu. Aku hanya bisa melemparkan senyum pada nya, lalu mengajaknya duduk santai supaya Aku bisa menjelaskan semua nya.

“Ini nanti yang presentasikan Mas Habibi. Lalu berikan ke manajemen. Mereka mau mendengarkan atau tidak, biar nanti mereka yang putuskan. Saya sadar ini resiko atas apa yang sudah kita lalui sebelumnya, dan Saya tidak mau membahayakan nyawa maupun keselamatan teman-teman yang ada di sini. Jadi Saya putuskan buat pergi....”. Habibi terhenyak mendengar perkataanku. Matanya mengeryit menatap ke arahku seakan tidak percaya.

“Mas Yus mau kemana?”. Habibi masih mengulang pertanyaan yang sebetulnya esensi nya sama. Tapi Aku maklum karena dia memang masih belum yakin dengan keputusanku.

“Saya akan mengajukan resign Mas. Saya akan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Biar lebih baik para siluman laba-laba itu mengincar dan mengejar Saya saja, dan sambil Saya juga akan coba mencari bantuan Mas.......”. Aku memang sudah memutuskan, dan keputusanku telah bulat. Aku tidak ingin berisko mengorbankan keselamatan Habibi, Slamet atau Anas.

“Mas coba dipikir-pikir dulu Mas. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Pasti akan ada jalan keluarnya kok. Tidak perlu resign atau mundur lah. Lagi pula Mas Yus kan juga pasti belum ada pegangan....”. Habibi masih berusaha menahanku. Aku hargai niat baik tulusnya. Tetapi situasi yang berlangsung sekarang sangat kupahami. Makhluk-makhluk itu tidak akan berhenti sebelum tujuan nya tercapai. Aku lalu menjelaskan semua nya kepada Habibi. Tentang resiko, karakteristik makhluk pesugihan itu, dan kaitan nya dengan keputusanku. Sampai akhirnya Habibi paham dan dengan berat hati tidak menahanku lagi.

“Besok Saya akan pergi ke Surabaya untuk menyerahkan surat pengunduran diri Saya. Saya masuk baik-baik, keluarpun harus baik-baik....”. Habibi menghela napas berat, kemudian hanya bisa mengangguk. Tangan nya kemudian menerima flashdisk berisi file presentasiku. Dirinya berjanji akan mempresentasikan ide ku itu ke manajemen perusahaan. Sore nya Aku menghadap Mas Eko, dan menjelaskan keputusanku. Namun khusus untuk Mas Eko, Aku tidak menjelaskan alasan yang sebenarnya. Aku hanya mengatakan bahwa Aku mendapatkan tawaran kerja di tempat lain di Ibu kota. Mas Eko tidak banyak berkomentar. Hanya menyarankan ku untuk menyampaikan hal pengunduran diri itu langsung ke kantor pusat. Well, itu memang sesuai rencana ku.

Keesokan nya adalah hari terakhirku di Mess. Habibi mengantarkanku ke terminal. Wajahnya masih menunjukan rasa berat hati. Aku paham. Walaupun singkat, pertemanan ku dengan Habibi memang lumayan cukup akrab. Apalagi setelah banyak hal yang sama-sama kita lewati. Pasti tidak mudah rasanya.

“Saya titip gudang Bojonegoro ini Mas Habibi. Tolong jangan sampai pelindungnya jebol dan biarkan mereka masuk”. Aku menyampaikan permintaanku pada Habibi sebelum pergi. Mungkin untuk yang kesekian kali nya sebelum Aku berangkat.

“Iya Mas Yus. Beres Mas. Saya mungkin juga bakal minta bantuan guru Saya. Kebetulan pas besok libur. Saya mau pergi sowan ke pesantren nya di Madiun besok. Guru Saya pasti mau bantu buat bentengin atau pagerin gudang Bojonegoro itu. Mas Yus nggak usah khawatir”. Aku lega mendengarnya. Guru Habibi pasti juga bukan orang sembarangan. Aku percayakan urusan benteng-membentengi dan melindungi gudang itu pada Habibi.

“Mas Yus, tetap kontakan ya.... Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, Mas Yus tinggal ngomong ke Saya. Hati-hati di jalan Mas.....”. Habibi lalu menjabat tangan ku erat. Aku pun lalu membalas dengan menepuk pundaknya.

“Ya Mas Habibi, sama-sama. Kalau Mas Habibi butuh bantuan atau mengalami hal-hal yang aneh atau merasa dalam bahaya, tinggal kontak Saya”. Kami pun lalu tertawa berbarengan. Sadar kalau seandainya berjodoh suatu saat akan bertemu lagi sebagai teman maupun sahabat. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan setiap perpisahan pasti akan ada pertemuan kembali.

Saat di dalam Bis, Aku hanya mencoba merenung. Pasti ada maksud dari segala dan setiap kejadian ini. Semuanya tinggal bagaimana kita merespon, menyikapi dan mengatasi setiap kondisi dengan segala kemampuan yang kita miliki. Jika segala sesuatunya menurut kita telah melampaui batas kemampuan kita, maka ada waktunya mundur ke belakang untuk berdoa dan memikirkan ikhtiar selanjutnya. Atau mungkin meminta bantuan orang yang bisa membantu.
Diubah oleh jeniussetyo09
makasih mas yus udah update
gan yus, judule haruse kan tembakau 6?
Mantab updatenya mas yus.. makin tambah penasaran.
Akhirnya mas di lanjut pagi..

"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan (jika berjodoh) setiap perpisahan pasti akan ada pertemuan kembali." Ane kok jadi baper inget ucapan mantan ya mas emoticon-Cape d...
mantab update nya,makin panjang ne cerita mas yus abis resign
Ini cerita plg bagus yg ane pernah baca di kaskus mnrt ane.
akhirnya mas yus update juga.
duh kok mndur sharusnya ditumpas smpe hbs dong,, ksian klo orngny yg kna ntar emoticon-Frown
Bakal seru nih..emoticon-Takut

emoticon-Om Telolet Om!
Well.. setelah lama menunggu.. akhirnya menetas sudah update nya
mas yus dan habibi emoticon-Betty
alas purwo emoticon-Takut (S)
bakalan seru perangnya, ga kalah seru sama DMI II perangnya emoticon-Takut (S)
mantab mas yus, matur sembah suwun.. monggo di lanjut emoticon-Cendol (S)
Lanjutkan mas yus ku
Setelah beberapa penantian, mas yus akhirnya update juga. Terimakasih mas yus emoticon-Cendol Gan
mantap mas yus lanjutkan
Asik... terima kasih updatenya..

Semakin menegangkan...

Bisa saya bayangkan ketika bentengnya digempur habis-habisan..
hayo loh yg udah suudzon sama pak Nur,,,dia korban dr keluarganya kekekekeke.
piss.
Halaman 35 dari 154


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di