KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 112 dari 166
emoticon-Mewek mitha aku padamu.... yang sabar yahh...
black ngakak baca komen komennya hahahah yang sabar teman2.. mgkn lagi ada urusan TSnya
genta siapa gan
Quote:


Koplak lo...
emoticon-Wakaka
closed.
Quote:


yg saya heran kenapa makluk astral kayak penguasa selatan, utara atau makhluk daerah timur yg hidupnya dah ribuan tahun dengan kesakitannya pikiran nya masih dangkal.. he he emoticon-Leh Uga
Quote:


Ente kurang lama di SFTH gan, itu ts trit yg udah ada buku novelnya, bahkan filmnya juga udah ada gan

Quote:


itu cuma cucoklogi ane aja gan, buat intermezo trit ini aja lama update nya hehehe

tapi tetap harus yg sabar ya semua emoticon-2 Jempol
Diubah oleh ardhiansyah.yk
emoticon-Ngacir2
Quote:


oke juga cocokloginya ganemoticon-Big Grin
kentangnya juga cuucok
Quote:


hehehe buat selingan gan
Duh landing disini ternyata blm update.
Take off lagiiiiiiiiii

Ditunggu yuss updatenya
menunggu dan berharap


Quote:


cocokologi yg manstap gan emoticon-Ngakak
g usah d seriusin amat #jgnlupatertawa emoticon-Ngakak
Quote:


yoi sis, mending banyakin post biar nambah rate nya, biar mas yus "oh iki to aku wes dienteni cah2" hahaha
emoticon-Traveller malingtas dulu
Barangkali updet
Wah dah jamuran...panen dolo dah !!!
profile-picture
ghaaanol memberi reputasi
emoticon-Hammerhammeremoticon-Hammer2 kentang
DMI 3 – DEAD END


“ARYAAAAAA !!!!!!!”.

Tangisan Yowan terdengar keras bagaikan raungan panjang yang melengking. Suaranya menyeruak disela-sela teriakan lolongan perang Pasukan Selatan dan Pasukan Utara. Meratap panjang diantara suara pedang dan senjata-senjata yang beradu. Mengalahkan dentuman ledakan-ledakan besar yang menghantam tanah perbukitan disekelilingku.

Aku melihat Yowan memeluk tubuh Arya yang sudah terbujur kaku tak bergerak. Kepala Arya lunglai ke bawah. Tidak merespon Yowan yang berusaha menggoyang-goyang tubuhnya dan memeluk serta menciuminya berulang kali.

“Naaakk... Bangun Naakk.... banguuunn”. Usaha Yowan untuk membangunkan Arya sepertinya tidak akan pernah berhasil, setelah sesosok Rangda Rakhsasa dengan postur badan setinggi 3 meter berhasil menghantam tubuh Arya dengan gada emas nya yang juga berukuran raksasa. Membuat Arya sebelumnya sempat mengerang muntah darah sampai akhirnya diam tak bergerak lagi.

Pada akhirnya memang Aku berhasil memenggal kepala makhluk yang menyerang Arya dengan pedang Naga Wisesa yang ada di tanganku. Tetapi apa yang kulakukan itu terlambat. Apa yang kulakukan memang tidak mampu menyelamatkan Arya. Aku hanya tertegun lunglai. Terasa perih menyesali semua yang terjadi.

Angin kencang yang sedari tadi melatari pertempuran, membawa serta debu dan bau anyir darah, Angin hitam itu menerpa diriku yang hanya bisa lemas membisu, menebarkan pandangan ke sekeliling. Kami sudah kalah. Tubuh Eyang Jagat, Eyang Tara, Kyai Wali, dan Nyai Melati bergelimpangan tak bergerak di tengah-tengah pasukan mereka yang juga bertebaran rebah di tanah. Mereka telah gugur. Eyang Pentungpinanggul masih berperang dengan gagah berani. Menyerang musuh tanpa kenal ampun, meskipun dua tombak bersarang menembus tubuhnya. Pasukan musuh mengelilinginya bagai semut, tanpa memberikan jarak sedikitpun. Sampai akhirnya pasukan musuh menutupi tubuhnya bagaikan ribuan semut yang menutupi tubuh mangsanya. Yang tersisa akhirnya hanyalah suara erangan nya yang membahana, seakan tak rela menyambut kekalahan dan kematian nya.

Nyi Penguasa Selatan dan Eyang Kanjeng Agung Merapi tampak terkepung di sudut mati. Sudah tidak mampu melawan. Pasukan musuh yang tersisa masih cukup banyak. Sedangkan Pasukan Utara dan Pasukan Selatan hampir habis tak bersisa. Angin pertempuran yang membawa serta debu dan anyir darah kembali turun lebih rendah, menjadi kabut hitam yang membuat sekeliling medan pertempuran menjadi semakin gelap dan kelabu. Aku berdiri di tengah-tengah ladang pembantaian, menyaksikan nya dengan tubuh terluka gemetar. Melihat semua nya dengan mental lelah yang kalah. Tidak ada lagi yang bisa Aku lakukan. Disela-sela napasku, Aku melihat Yowan yang masih menangisi Arya. Ingin rasanya Aku memeluknya dan menenangkan nya, berbagi beban pilu karena kekalahan ini. Strategi yang kurencanakan tidak berhasil. Semua gagal total. Ini semua karena kesalahanku.

Sosok seperti langit hitam turun dari atas bagaikan palu Dewa Kematian yang terangkat dan siap turun menghantam tubuh ku dan Yowan. Mataku yang perih karena debu medan pertempuran menatap nyalang sosok Badhe yang berbentuk seperti usungan jenazah raksasa bertingkat 20 di hadapanku. Sosok itu terbang melayang bagaikan piring terbang raksasa tepat di atas ku. Pada sisi-sisinya tampak banyak makhluk seperti kobaran-kobaran api bergelantungan dan siap menyemburkan api ke arahku. Wajah mereka tampak menyeramkan, liar dan bengis. Aku menatapnya dengan geram. Sosok ini lah penyebab utama kekalahan pasukan ku dan Yowan, sosok ini lah yang menyebabkan perhatianku teralih sehingga gagal melindungi Arya. Sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan, bahkan Yowan. Dirinya sudah kalah semenjak Arya ternyata harus gugur lebih dulu. Kekalahan ini hanya menyisakan tubuhku yang berdiri tegak dengan tatapan garang menatap Badhe dan seluruh pasukan musuh yang ada di belakangnya.

Sesaat kemudian Badhe Maha Raksasa di hadapanku menembakkan sebuah jilatan api raksasa ke arahku. Semua mendadak berlangsung dalam gerakan lambat. Jilatan api raksasa itu tanpa ragu langsung mengarah ke tubuhku. Jelas tidak ada celah untuk menghindar. Aku hanya sempat melihat Yowan di sebelahku. Matanya yang berair dan tubuhnya yang masih dalam posisi memeluk Arya, melihatku dengan tatapan sedih. Tangan kanan nya terulur ke arah ku seakan hendak menggapaiku.

“Yus ku....”. Aku sempat mendengar suaranya merintih lirih. Membuat tubuhku secepat kilat menghambur ke arahnya dan langsung memeluk melindunginya dari jilatan api raksasa yang menyerbu ganas. Tentu saja pelukan ku tidak bisa melindungi nya dari terjangan api raksasa itu. Tubuh kami langsung hilang tersapu api tanpa menyisakan satu debu pun.

Aku terbangun dengan peluh berlelehan di seputar leher dan dadaku. Padahal AC kamar sudah terpasang cukup dingin. Mimpi itu. Bukan hanya sekali. Sudah dua kali ini menghantui ku dengan gambaran yang sama. Sial !!! Apa kami harus kalah? Apa tidak mungkin ada kesempatan menang? Degup jantungku serasa tak beraturan. Rasanya seperti habis dikejar anjing gila.

Suara Azan subuh terdengar menggema di kejauhan. Masih terlalu pagi sebetulnya untuk bangun. Namun rasanya malah tidak ingin untuk kembali tidur. Bayangan-bayangan gambaran kekalahan perang itu masih saja tak mau hilang dari pikiranku. Terbayang Aku pada sebuah kejadian lama. Waktu itu Aku bermimpi tentang peperangan Pasukan Utara dan Pasukan Selatan, dan Yowan menjadi musuhku. Bahkan saling membunuh. Ternyata pada akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan. Pasukan Utara dan Pasukan Selatan benar-benar berperang. Aku dan Yowan menjadi musuh. Apakah itu berarti mimpi tentang kekalahan itu juga akan menjadi kenyataan?

Aku mencoba menenangkan pikiranku dengan sembahyang dan bermeditasi. Sampai saat ini Aku belum menemukan strategi yang tepat untuk berperang. Teringat kata-kata Eyang Karta dan Eyang Jagat sebelum ini. Bahwa mereka akan sebisa mungkin menahan laju pasukan musuh dengan melakukan serangan-serangan kecil. Setidaknya untuk mengulur waktu dan menunda kedatangan Pasukan musuh. Itu pun juga dengan dibantu sebagian kecil Pasukan Selatan.

“Kami tidak bisa lama-lama menahan mereka Kisanak, waktu nya paling lama 3 hari”. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang hingga saat ini. Membuatku pusing tujuh keliling. Sekarang sudah hari Kedua. Besok tinggal hari terakhir, sebelum akhirnya harus benar-benar maju untuk berperang..

Mengenai taktik dan strategi Aku benar-benar meminta waktu. Sayangnya waktu itu sendiri tidak banyak. Para Astral Pesugihan dan Astral gelap itu akan kembali bergerak. Mereka sudah melewati garis perbatasan, dan hanya ada waktu 3 hari untuk mencegah mereka agar tidak mengobrak-abrik kota dan menyerbu baik Kraton Merapi dan Kraton Laut Selatan. Lewat waktu 3 hari, maka tidak akan ada waktu lagi untuk menyiapkan pertahanan.

Aku sudah sangat mengenal pasukan Merapi dan para pemimpinnya. 9 Tetua masing-masing mewakili kekuatan yang spesifik. Pasukan yang dipimpin oleh masing-masing Tetua juga berbeda satu dengan yang lain :

  • Eyang Karta memimpin pasukan berbentuk Kera Besar berbulu putih, Harimau raksasa, serta beberapa sosok manusia berkepala hewan, maupun sosok manusia bertubuh separuh hewan. Mereka disebut BALA SATWA.

  • Eyang Wali, dan Kyai Angin, memimpin pasukan seperti burung-burung raksasa dan makhluk seperti manusia berkepala burung dan bersayap, dan sosok manusia-manusia bersayap. Mereka disebut BALA AWANG-AWANG.

  • Eyang Anta memimpin pasukan seperti, monster kalajengking beracun, beberapa manusia berkepala ular naga, dan monster golem raksasa. Mereka disebut BALA SANGGA BUWONO.

  • Eyang Pentungpinanggul memimpin pasukan sosok-sosok tentara berpakaian silat dengan ikat kepala warna hitam. Mereka disebut BREGADA JAYA SENGKALA, pasukan tempur yang tangguh untuk melakukan serangan kejut.

  • Nyai Melati memimpin pasukan-pasukan tentara wanita cantik dengan senjata busur emas dan anak panah perak yang disebut Jemparing Redi. Mereka berpakaian warna hijau pupus seperti daun pisang. Mereka terkenal dengan sebutan pasukan BREGADA JAYA KEPUTREN, pasukan tempur khusus pertarungan jarak jauh.

  • Eyang Tara memimpin pasukan berbentuk orang-orang cebol namun bertubuh kekar, yang disebut dengan BREGADA WATU GENI. Wajah-wajah mereka tampak galak dan bengis. Mereka adalah pasukan pembawa meriam. Semacam pasukan khusus altileri berat. Saat meriam-meriam itu ditembakkan, orang biasa hanya akan melihat seperti batu-batu besar yang terlontar atau melompat dari sekitar kawah Merapi. Padahal sebenarnya itu adalah meriam yang ditembakkan oleh pasukan Bregada Watu Geni

  • Eyang Jagad memimpin pasukan sosok-sosok tentara berpakaian silat seperti yang dimiliki oleh Eyang Pentungpinanggul. Hanya saja yang membedakan sosok ini identik dengan ikat kepala warna Putih. Mereka disebut BREGADA ARGA BINANGUN. Mereka adalah pasukan spesialis pertarungan jarak dekat alias head to head.

  • Sementara Eyang Gusti Kanjeng Agung Merapi adalah Jenderal atau pimpinan tertinggi yang membawahi seluruh pasukan yang ada di Keraton Merapi


Sekarang tinggal masalah mengenal pasukan Selatan. Hanya saja saat Aku bertanya ke Yowan ternyata Yowan sendiri tidak terlalu mengenal nama-nama nya. Bentuk-bentuknya dia tahu. Hanya saja nama-nama nya dia tidak terlalu mengerti.

“Lhaa... terus bagaimana kamu atur pasukan mu Yow?”, kemarin Aku sempat bertanya padanya.

“Yaaaa..... nggak pakai diatur-atur Yus. Langsung main hajar aja.... Hihihihihi....”.. Aku hanya menepok jidat saat mendengarnya. Pantas saja waktu perang dulu Pasukan Selatan yang dipimpin nya hanya seperti main hantam kromo.

Ini jelas semakin membebaniku. Bagaimana Aku bisa mengatur pasukan kalau Aku tidak tahu namanya. Aku semakin pusing jadi nya. Sebenarnya sudah terbayang dalam benak ku, kunci kekuatan musuh ada pada sosok bentuk usungan jenazah bertingkat raksasa yang bernama Badhe. Jika Badhe bisa dikalahkan, maka akan ada kesempatan untuk memenangkan perang.

Hanya saja sepertinya tidak mudah melumpuhkan sosok itu. Selain bentuknya besar, dan menyemburkan api yang berbahaya dari sisi-sisi nya, sosok itu juga melayang di udara. Mencapainya dan menyerangnya saja sudah jadi persoalan tersendiri. Sementara pasukan yang bisa mencapainya jumlahnya terbatas. Hanya Pasukan Bala Awang-awang milik Eyang Wali dan Kyai angin mencapinya. Sedangkan pasukan yang lain hanya bisa pasrah menerima terjangan api dari Badhe itu di bawah nya.

Pikiranku buntu memikirkan nya. Berulangkali menggaruk-garuk kepala dan gusar sendiri. Tanpa sadar waktu berlalu dan menunjukkan pukul 6:00 dini hari. Aku harus bersiap-siap berangkat ke kantor. Pagi ini juga ada meeting frontline. Selain itu juga ada beberapa pekerjaan yang harus di follow up. Pekerjaanku di kantor juga dari hari ke hari makin rumit dan merepotkan. Punya dua kehidupan seperti ini memang bukan hal mudah.

Ibu Aku lihat juga sudah bangun duluan, dan sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Seandainya bisa, ingin rasanya berbagi dengan Ibu dan menceritakan semua beban ini pada nya. Sayangnya, Aku sendiri pun tidak tega melakukan nya. Bisa jadi dia malah kepikiran, atau malah cemas dengan kejiwaanku. Tidak mungkin menceritakan ini semua pada nya. Mau tidak mau Aku pun harus mengurungkan diri.

“Yus, ayo sarapan dulu. Nanti kesiangan lho....”. Ibu yang melihatku hendak mandi malah menyuruhku untuk sarapan dulu. Mau tidak mau Aku pun menurut.

“Kamu sarapan duluan ya... Itu tukang sayur keliling kebetulan lewat, Ibu mau beli sayur dulu”. Aku pun hanya bisa mengangguk karena mulutku sibuk mengunyah nasi goreng. Beberapa saat kemudian ponselku berbunyi karena ada sebuah pesan masuk. Ternyata dari Mitha.

Mitha : Pagi Mas, jangan lupa sarapan ya.... Mitha doa kan supaya hari ini kerjaan Mas Yus lancar semuanya. Kalau nanti sore bisa pulang bareng, kabarin Mitha ya. Sayang selalu.....

Aku pun menghela napas panjang menerima pesan itu. Sampai dengan saat ini, Mitha tidak tahu kalau Yowan telah kembali dan berhubungan lagi dengan ku. Aku sendiri juga bingung bagaimana harus mengatakan nya. Apalagi ada Arya yang membuat segala sesuatunya jadi tambah rumit.

Akupun segera membalas pesan Mitha itu. Bagaimanapun Aku tidak boleh mengabaikan pesan nya itu. Namun belum sempat membalas nya, sebuah pesan menyusul masuk kemudian ke ponselku. Sebuah pesan dari Yowan :

Yowan : Morning Yus kuh.... Tetep semangat menjalani hari ya... Aku tahu, waktu pertempuran makin dekat. Semua memang nggak pernah mudah buat kita. Tapi Aku percaya kita bisa lewati ini, seperti yang sudah-sudah. Kalau bisa kita ketemu lagi buat bahas strategi nanti. Sudah hari kedua. Besok sudah hari terakhir sebelum perang. Oya, dapat salam dari Arya. Semangat Yus ku... Luv u...

Aku pun jadi bingung dibuatnya. Mana yang harus kubalas dulu. Kenapa rasanya jadi punya dua bini begini sih. Duh, nggak bener ini. Tapi kalau misal nya pun mau pilih salah satu, harus memilih yang mana? Kok jadi kayak begini sih? Atau memang mending ambil dua-dua nya saja? PIngin rasanya jedot-jedotin kepala ini ke tembok sangking bingungnya

Tapi berhubung kemarin Aku sudah menghabiskan waktu bersama Yowan, jadinya sore itu Aku putuskan untuk pergi bersama Mitha. Kalau tidak gantian, nanti lama-lama Mitha bisa curiga. Aku Cuma berharap Arya tidak sewaktu-waktu nongol dan memergokiku sedang bersama Mitha. Seandainya pun terjadi biarin deh. Sekalian saja nanti dibuka semua nya.

Sehabis kerja Aku dan Mitha sengaja mampir ke daerah Tebet untuk mencari tempat makan. Mitha bilang kangen makan Mi Godhog Jawa. Kebetulan di sana ada warung bakmi jawa yang enak. Aku melihat sepertinya Mitha juga kangen ingin pulang ke Jogja.

“Mas Yus sudah siap ketemu Ibu sama Eyang Kanjeng kan?”. Mitha bertanya sambil tanganya mengangsurkan dua tiket kereta api ke hadapan ku. Aku tidak bisa mengelak lagi. Mitha sudah memesan kan tiket. Artinya mau tidak mau, dirinya sudah memilihkan hari untuk Aku pulang bersama nya ke Jogja untuk meminta restu. Akupun mengangguk, walaupun dengan sedikit terpaksa. Waktunya hari Jumat, dan sekarang hari Selasa. Berarti tepat keesokan harinya setelah perang. Aku hanya berharap besok Jumat itu diriku masih ada di dunia ini.

Selesai makan, berhubung Mitha sudah menentukan hari dan tanggal untuk pulang ke Jogja, maka Aku pun juga harus membeli benda yang sudah wajib Aku bawa ketika bertemu orang tua nya. Malam itu Aku mengajak nya ke Mall untuk membeli sepasang cincin di toko perhiasan. Untungnya Mitha bukab orang yang ribet. Dia langsung setuju dengan cincin yang Aku pilih. Cincin itu akan Aku tunjukkan pada Ibu nya dan Eyang Kanjeng, sebagai bukti bahwa hubungan ku serius dengan Mitha.

Situasinya menjadi semakin rumit. Hubungan ku dengan Mitha, kembalinya Yowan, keberadaan Arya, peperangan yang sudah di depan mata, membuatku benar-benar ingin menyerah. Aku tidak sanggup. Ingin rasanya melepaskan ini semua. Kenapa sih tidak bisa jadi manusia biasa saja? Kenapa Aku tidak bisa memilih pekerjaan dan karirku saja? Bagaimana jika membiarkan Penguasa Utara dan Penguasa Selatan berperang menyelesaikan urusan nya sendiri? Kenapa juga Aku harus perduli? Menjadi Senopati dan pemegang kepercayaan Astral tinggi memang tidak mudah. Pasti ada cara melepaskan ini semua nya.

Aku merunut segala keputusan yang dulu pernah Aku ambil. Tidak ada manfaatnya kemampuan ini. Tidak ada guna nya menjadi seperti ini. Malah hanya membuat segala urusan hidupku menjadi semakin rumit. Lebih baik Aku lepaskan saja semua nya. Menjadi orang biasa tidak ada salahnya. Buat apa mengurusi urusan alam astral yang tidak jelas itu. Apakah hal ini masih bisa diubah? Seharusnya tidak ada yang tidak mungkin. Aku hanya perlu tahu caranya, dan mengenai cara itu harus Aku tanyakan pada orang yang berpengalaman. Siapa lagi yang orang berpengalaman yang Aku kenal selain Pak Sam.

Tidak ada waktu lagi. Aku harus coba menemui Pak Sam. Seandainya dia pun tidak setuju, maka Aku harus memikirkan cara itu sendiri. Dulu Aku berpikir masalahnya hanya soal menutup mata ketiga ku ini, tetapi ternyata sekarang bukan hanya itu. Ada sesuatu yang harus dicabut dan dilepaskan dari diriku. Karena sadar tidak ada waktu lagi, maka Aku harus menemui Pak Sam dalam wujud proyeksi astral. Tidak mungkin sekedar pulang ke Jogja sehari hanya untuk menemuinya. Apalagi waktunya tinggal besok. Besok adalah hari kesempatan terakhir sebelum dimulainya peperangan.

Seperti biasa saat sudah sampai di rumah Aku langsung masuk ke kamarku. Seperti biasa Ibu tidak menaruh curiga saat Aku sudah mengurung diri di kamar, walaupun waktu masih menunjukkan pukul 21:30. Setelah mencuci muka dan bersih-bersih alakadarnya, Aku lalu memulai proses proyeksi Astral. Seperti biasa, hal itu menjadi hal yang mudah. Sukmaku dengan cepat lepas dari raga dan melesat menuju rumah Pak Sam di Jogja.

Ndalem Saminotaman atau Rumah Pak Sam terletak di daerah Kalasan Jogja. Sudah berulangkali Aku datang ke tempat nya itu, dan selalu datang ketika Aku ada masalah. Seharusnya tidak boleh begini, tetapi entah kenapa itu semua seakan menjadi kebiasaan. Walaupun Pak Sam tidak pernah menolak kedatangan ku, tetapi Aku secara pribadi selalu merasa tidak enak kalau terus menerus begini. Tetapi saat ini Aku tidak punya pilihan. Aku sudah lelah, Aku sudah muak. Aku ingin lepaskan semuanya.

Aku berjalan mendekati gerbang pelataran rumah Pak Sam. Aku tahu, walaupun dalam bentuk sukma dia bisa melihatku. Bahkan merasakan keberadaan ku. Aku sempat ragu melangkah, tapi tekad dan keinginanku merasa lebih ingin diutamakan. Sampai akhirnya langkahku terhenti ketika melihat di pelataran rumah Pak Sam, ramai sekali motor. Di dalam rumah Pak Sam juga ramai sekali orang. Sepertinya sedang ada acara pertemuan atau semacamnya. Biasanya jarang di rumah Pak Sam ada acara. Atau jangan-jangan....... Tenggorokan ku tercekat menyadari pikiranku sendiri. Dada ku berdebar keras. Terbayang pertemuanku dengan Pak Sam sebelumnya. Dirinya sudah tampak renta dan tua. Bahkan sampai di depan rumahnya tertulis “Tutup, Gula darah tinggi....”. Hampir rasanya menangis. Jangan-jangan Pak Sam..... Tidak, semoga dugaanku salah.......




profile-picture
profile-picture
profile-picture
6elek dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
Alhamdulillah update juga
Halaman 112 dari 166


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di