alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 153 dari 164
emoticon-Ngakak
Quote:


Mas yus nya kmanaaa yaaa
mas yus punya rekomendasi buku sejarah kerajaan dan negara Indonesia ga?
DMI 3 - PAGELARAN WAYANG DI MERAPI 1

Rumit. Sangat rumit. Semakin bertambah usia urusan bukan nya malah semakin ringan. Malah jadinya semakin bertambah berat, dan kompleks. Aku terpekur sedari tadi. Duduk di hadapan meja belajarku. Meja belajar ini sudah dari beberapa tahun yang lalu berubah menjadi meja kerja. Semata-mata karena Aku sekarang bukan anak kuliahan atau anak sekolahan lagi. Kadang beberapa kali Aku juga suka membawa pekerjaan kantorku ke rumah, dan mengerjakan nya dengan laptopku di meja ini. Meja ini menjadi saksi segala suka duka perjuangan. Termasuk saat ini. Ketika Aku memikirkan harus memutuskan bagaimana.

Kursor laptop bekedip-kedip di hadapanku. Jam sudah menunjukkan jam 12:11 Pm. Sudah lewat tengah malam. Suasana rumah sudah sepi. Tidak ada satupun suara terdengar. Semua telah lelap di perpaduan nya masing-masing. Hanya ada suara angin malam yang lembut menemani di luar.

Lembaran putih Microsoft Word belum terisi satu huruf pun. Aku kembali memikirkan niatku untuk menulis surat pada Yowan. Bagaimanapun Aku harus memilih salah satu. Tidak mungkin memilih keduanya sekaligus. Walaupun saat ini ada Arya.

Aku coba memikirkan semuanya masak-masak. Ibu dan Ayah sudah begitu kesengsem dengan Mitha. Kalau Aku membawa Yowan ke hadapan mereka, belum tentu mereka mau menerima nya. Mulai dari jaman dulu sampai dengan saat ini, Aku sama sekali belum pernah menyebut nama nya di hadapan Ayah dan Ibu. Terlebih pasti akan berat juga menjelaskan tentang kemampuan supranatural Yowan. Latar belakang keluarga Yowan juga bukan tipe yang mudah diterima oleh orang awam. Menerimaku dulu yang punya kemampuan tidak biasa saja mereka sulit. Apalagi kalau tahu pasanganku dan keluarganya juga punya kemampuan yang sama.

Ayah Ibu juga beberapa kali untuk mencoba mengingatkan ku. Supaya lebih menunjukkan sikap serius ke Mitha. Tidak enak dengan keluarga nya Mitha kalau terlalu lama menggantungkan harapan. Mitha pun juga sudah menjelaskan rencana nya pada Ayah dan Ibu.

Aku dan dia akan pergi ke Solo untuk sowan ke Orang tua dan Eyangnya. Besok adalah hari nya. Tiket online sudah masuk dari 4 jam yang lalu via email. Soal kantor pun aman karena esok bertepatan dengan weekend. Sayangnya Aku malah belum packing sama sekali. Pikiranku bimbang dan berat.

Aku bukan orang yang pintar membuat keputusan atau pilihan. Jika disuruh memilih atau memutuskan, biasanya yang kulakukan adalah tidak membuat keputusan, atau malah memilih semua yang bisa kupilih. Tapi jelas kali ini tidak mungkin. Tidak mungkin memilih keduanya, bahkan tidak mungkin tidak memilih. Yang ada bisa tambah runyam.

Tadinya Aku berencana membuat dua surat sekaligus, satu buat Yowan satu buat Mitha. Entah nanti akan kuberikan pada keduanya atau kuberikan ke salah satu. Tapi bahkan untuk memikirkan kata-kata nya saja saat ini Aku tidak sanggup. Sedari tadi hanya dalam kebimbangan untuk memutuskan

Esoklah penentuan nya. Sekali AKu berangkat ke Solo bersama Mitha dan bertemu dengan keluarganya, maka Aku tidak akan bisa kembali pada Yowan. Begitu pula sebaliknya, sekali besok Aku membatalkan kepergianku ke Solo, selesai sudah dengan Mitha. Dirinya sudah merencanakan hal ini sejak lama. Sesabar-sabarnya dia, Aku tidak yakin dia akan memaafkanku jika membatalkan kepergian besok. Lalu apa yang harus kulakukan?

Aku teringat ketika jaman dulu belum mengenal cinta. Yang aku inginkan hanya merasakan cinta dan bagaimana mengenalnya. Setelah cinta itu ada, namun ternyata kadang tidak semuanya mulus dan indah. Kadang cinta itu justru terhubung dengan sendi-sendi rasa yang lain, seperti : marah, sedih, kecewa, dan dendam. Berkelidan satu dengan yang lain. Menghadirkan cerita dalam kehidupan. Ada kehilangan, ada yang kembali. Ada yang datang, namun ada yang harus pergi.

Jika tidak siap kecewa dan sakit hati mending jangan jatuh cinta. Aku sangat paham itu.Tetapi untuk kemudian harus siap membuat kecewa dan menyakiti hati, Aku tidak siap. Seperti yang sedang kuhadapi saat ini. Menyakiti hati salah satu dan membuat mereka harus berlinang air mata, Aku sama sekali tidak siap. Apalagi pengalaman dengan Yowan dulu, sampai harus habis-habisan. Belum lagi soal Arya juga turut menambah beban pikiranku.

Memilih antara Mitha atau Yowan ini seperti memilih untuk hidup dalam realita, atau hidup di alam maya. Jika menuruti ego akan kesaktian, kekuasaan, atau kemampuan, mungkin Yowan yang akan aku pilih. Tetapi jika ingin hidup di alam nyata, tenang dan menjalani hidup sebagai orang normal kebanyakan tanpa embel-embel supranatural, maka pilihan nya ada Mitha. Semua ada plus minus nya. Saat coba menyelami sisi terdalam pikiran dan benak ku, sebenarnya Aku lebih ingin jadi orang normal.

Kalaupun harus berurusan dengan supranatural maka sebaiknya itu jadi sampingan saja. Bukan jadi hal yang utama dalam kehidupanku. Biarlah itu jadi satu sisi yang selalu ada dalam batas bening jiwaku. Cuma sekarang masalahnya bagaimana menyampaikan nya pada Yowan. Aku belum siap memulai perang lagi. Aku bukan nya tidak mencintainya, tetapi cinta bagiku butuh aktualisasi dan wujud nyata. Bukan bayang-bayang semu sebatas perasaan mengharu biru yang membuat semuanya indah tanpa wujud nyata.

Mitha entah kenapa bagiku lebih mampu dalam urusan mengaktualisasikan itu. Tanpa banyak kata dia setia. Tanpa banyak bicara dia banyak berbuat demi perasaan itu. Menerimaku apa ada nya tanpa banyak protes. Membuatku merasa tenang dan diterima, tanpa takut tidak menjadi diriku sendiri sekaligus membuatku tampak normal. Kadang Aku merasa dirinya juga yang menjadi pengingat bahwa diriku masih ada di alam nyata ini, lepas sejenak dari bayang-bayang alam sebelah.

Sedangkan Yowan, pada satu titik entah kenapa Aku ragu dia mampu seperti itu. Aku malah ragu ketika bersamanya justru suatu saat hidupku terjebak pada sebuah pusaran supranatural yang dalam dan tidak bisa keluar lagi. Apakah Aku akan bahagia pada akhirnya? Perihal Arya sendiri aku pun kadang ragu. Apakah dia itu nyata? Apakah dia itu? Semua nya pun serba tidak jelas dan tidak terjawab. Apakah dia itu astral atau bukan? Atau kah jangan-jangan dia itu sebenarnya tidak nyata? Hanya sebuah perwujudan yang dikendalikan seseorang atau entitas tertentu yang punya maksud terhadapku dan Yowan. Kadang pikiran-pikiran sempat muncul. Silih berganti dalam dugaan dan prasangka.

Seharusnya Aku mengatakan langsung semuanya pada Yowan. Menghubungi nya sekarang atau bagaimana. Hanya saja sudah tidak ada waktu lagi. Tinggal besok waktunya. Lagi pula Aku tidak tahu apakah diriku punya keberanian mengatakannya. Bagaimana reaksinya? Setelah semua yang kami lewati bersama-sama. Kubu Utara dan Selatan telah akur kemarin. Sayang jika seandainya tiba-tiba harus berperang kembali. Tetapi bagaimana kalau seandainya mereka memang ditakdirkan untuk tidak akan pernah bisa akur? Apakah memang sudah digariskan alam seperti itu? Hanya tinggal menunggu waktu dan alasan yang tepat sampai kemudian mereka harus berperang kembali.

Kepalaku menunduk di atas meja. Tubuhku melengkung sampai kepalaku menyentuh permukaan meja. Kedua tangan ku menjulur pasrah ke bawah. Kemudian berulangkali membentur-benturkan kepalaku ke atas meja. Ingin rasanya menghilang saja. Mengecil sampai kemudian berubah menjadi molekul. Terus mengecil lagi sampai menembus dimensi proton, quark dan kuantum. Sampai akhirnya menghilang dan tidak berbekas.

Tubuhku melemas dan mengendur. Otak ku penat. Sesaat rasanya seperti melayang, tetapi kemudian rasanya seperti masuk ke sebuah mimpi. Aku tidak tahu apakah ini entah mimpi atau bukan. Atau barangkali astral projection. Atau mungkin mimpi dalam mimpi. Semua gelap, sampai kemudian terdengar seperti suara langkah derap kaki kuda. Ditingkahi bunyi gemerincing yang khas Kereta Kencana.

Perlahan Aku membuka mata ku. Sesuatu membuatku bangkit dari duduk dan berjalan melangkah ke arah jendela kamar. Saat hendak membuka nya tiba-tiba saja tubuh ku justru menembus keluar jendela dan dalam sekejap langsung berada di luar rumah.

Suara gemerincing itu semakin jelas terdengar dari halaman rumah. Sebentuk kereta kencana yang megah dan indah tampak sedang parkir di depan pagar. Kereta itu ditarik 4 ekor kuda berwarna biru cerah, seperti warna lautan. Kereta kencana itu berwarna emas, dengan roda depan yang lebih kecil daripada roda belakang. Kabinnya berupa kabin tertutup, yang di dalamnya sanggup menampung 4 orang.

Pada bagian belakangnya tampak ornament seperti sepasang sayap burung yang mengembang gagah berwarna emas. Selain itu di bagian depan nya tampak ornamen seperti kepala burung garuda yang sangat indah dan megah.

Pada bagian samping dan sisi-sisi kereta juga dipenuhi dengan ukiran-ukiran yang berbentuk seperti bulatan-bulatan roda cakra atau ornamen motif Kalacaraka. Kabin kereta itu sendiri tampak seperti memakai mahkota di atas atapnya. Dengan hiasan bulatan seperti kubah kecil di bagian paling atas serta dikelilingi dengan batu-batuan mulia seperti jamrud, intan dan permata.

Pada setiap sudut atas kabin juga dihiasi lampu-lampu bergaya klasik jawa, yang modelnya pernah Aku lihat seperti lampu penerangan di Malioboro. Pintu kereta itu terbuka dan di dalam nya Nyi Penguasa Selatan tampak tersenyum dan duduk di dalamnya.

“Apa yang ditunggu Kisanak? Ayo cepat naik…. Aku tidak mau keduluan Nyai Melati dan Eyang Wali sampai di Merapi”. Perkataan Nyi Penguasa Selatan seperti menyentak ku. Membuatku yang tadinya bengong kemudian menurut dan masuk ke dalam kereta kencana itu.

Begitu masuk ke dalam kereta itu penampilanku seketika berubah. Pakaian kaos dan celana pendek yang Aku kenakan berubah menjadi pakaian beskap jawa berwarna putih bersih dan bercahaya. Sebentuk sarung motif Kawung juga menutupi bagian bawahku.

“Sangat pantas penampilanmu Kisanak….”. Kata-Kata Nyi Penguasa Selatan membuatku tersenyum simpul. Sorot matanya yang biasanya tajam tampak begitu lembut hari ini

“Kami mengadakan penjemputan silang. Senopati Selatan dijemput oleh Nyai Melati dan Eyang Wali. Sedangkan Senopati Utara dijemput oleh Pasukan Selatan. Ini sebagai tanda bahwa kami setidaknya berusaha untuk akur”, ujar Nyi Penguasa Selatan kemudian. Namun kata-katanya belum menjawab perihal ada apa keperluan Aku dijemput dan dibawa ke Merapi

“Saya dibawa ke Merapi untuk apa Nyi?”,tanyaku kemudian. Aku melihat Nyi Penguasa Selatan hanya tersenyum simpul penuh arti

“Nanti dirimu juga akan tahu”. Jawaban yang diberikan Nyi Penguasa Selatan sebenarnya masih belum menjawab pertanyaanku. Tapi entah kenapa Aku kemudian enggan bertanya lebih lanjut. Aku kemudian hanya melemparkan pandangan ku keluar lewat jendela.

Kereta yang Aku naiki terbang melewati awan. Lampu-lampu kota bagaikan titik-titik kecil di bawah ku. Jalanan bagaikan garis yang mengular di bawahku. Namun pemandangan itu tetap membuatku bertanya-tanya akan ada apa di Merapi sana

Kereta kencana yang Aku tumpangi mulai mengurangi ketinggian, sampai kemudian pada akhirnya mendarat di halaman Kraton Merapi. Kraton Merapi pada dasar nya mirip dengan Kraton Yogya. Ada alun-alun besar di depan nya. Lengkap dengan 2 beringin yang tumbuh di tengah alun-alun itu. Bagian depan nya tampak lebih megah dan besar.

Bagian Pendhoponya tampak seperti serambi raksasa yang menjulang tinggi dan besar. Tampak di Pendhopo itu suasana begitu ramai, bagaikan pasar malam.

Berbagai makhluk astral khas dari pasukan utara seperti bala awang-awang yang seperti manusia bersayap atau manusia burung, bala satwa yang berbentuk seperti hewan-hewan besar, ramai lalu-lalang dan bergerombol memenuhi pendopo dan alun-alun. Tidak ketinggalan para Bregada Argo Binangun dan Jaya Keputren yang tampak seperti manusia pada umumnya juga terlihat ceria dan ramai bercakap-cakap. Beberapa Bregada Watu Geni juga tampak hilir mudik membawa makanan dan membawa perkakas.

Beberapa pasukan Selatan juga tampak hadir. Beberapa Buto Segoro tampak hadir menikmati makanan dan minuman yang dibawa Bregodo Watu Geni. Tawa mereka paling keras. Beberapa pasukan Roro Baruno dan Jalu Segoro juga membaur bersama para Bala Satwa dan Bala Awang-awang. Mereka saling bercakap-cakap tanpa ada batasan satu sama lain. Pasukan Roro juga terlihat bercampur membaur dengan Bregodo Jaya Keputren, derai tawa dan cekikikan wanita yang khas memenuhi udara. Aku yakin, suasana akrab dan membaur ini tidak mungkin akan terulang lagi mungkin sampai beberapa dekade ke depan.



“Hai Yus”, suara lembut nan akrab itu membuatku langsung membalikkan badan. Seraut wajah dengan kecantikan yang menyilaukan tampil begitu anggun di hadapanku.

Wajahnya yang manis tampak begitu segar dan cerah bagaikan buah apel ranum yang basah terkena embun pagi. Hari itu dirinya menggunakan kain kebaya berwarna hijau yang cerah. Tubuhnya yang molek dengan lekuk yang mempesona membuat gairahku sebagai laki-laki sempat berdesir. Apalagi kebaya yang dikenakan nya adalah kebaya dengan model bagian dada yang rendah. Sehingga membuat belahan dada nya menyembul padat dan kencang. Cukup besar untuk ukuran seorang wanita dengan tinggi 160 cm dan berat kurang lebih 50 kilogram.

Rambutnya tampak disanggul rapi, khas model wanita jawa. Beberapa perhiasan seperti kalung dan anting emas dikenakan nya sebagai aksesoris, membuat dirinya semakin berkilau. Bibirnya merona. Tampilan nya tampak berada pada level kecantikan yang berbeda dari biasanya. Membuat pangling tapi sekaligus membuat orang tetapi ingat siapa dirinya.

Langkahnya yang semampai berjalan perlahan mendekat. Sampai kemudian hanya berjarak seperempat uluran tanganku. Matanya menatapku dengan tatapan khas nya yang membius. Membuatku hanya diam, kehabisan kata. Tanpa kata merayu hatiku dengan lembut dan meluluhkan setiap naluri yang bersarang di dadaku. Apalagi dengan wajah sedekat ini di wajahku. Entah ini mimpi atau nyata. Kenapa begitu sulit dilupakan.

“Yow, kamu cantik banget”. Hanya kata-kata itu yang terlepas dari mulutku kemudian. Membuat mata yang menatapku itu tampak tersipu malu. Sempat sedikit menunduk sambil lalu kemudian membalas tatapan mataku dan kemudian berkata, “Kamu juga ganteng Yus”.

Waktu seakan kemudian berhenti. Sekelilingku seperti memudar. Hanya ada Aku dan dia. Saling mengagumi tanpa kata. Seakan tak percaya bisa kembali bertatap seperti ini. Setiap pertemuan entah kenapa seperti pertemuan pertama yang membuatku terpesona akan dirinya. Dalam sipunya menghilangkan semua kebimbangan ku yang sempat muncul. Tersihir oleh sebuah dekap rayu tanpa wujud. Menyerahkan seluruh rasa dan indraku pada kecantikan dan pesona nya.

“Ayah……”. Sebuah panggilan kecil membuatku dan Yowan mengalihkan pandangan. Kami tidak menyadari kehadiran Arya yang ternyata sedari tadi memperhatikan tidak jauh dari tempatku dan Yowan berdiri.

Tatapan nya yang polos dan lucu tidak tahan untuk membuatku segera merengkuh dan menggendongnya kemudian. Arya menggunakan pakaian beskap yang sama dengan ku. Hanya saja ukuran nya lebih kecil. Yowan tidak tahan kemudian untuk mencium pipi Arya yang menggemaskan.

“Ayah….. pakaian Ayah kurang lengkap. Harusnya pakai ini…..”. Arya lalu mengangsurkan Keris Naga Wisesa kepada ku. Aku baru tersadar. Ada yang kurang memang.

Semestinya memang harus ada keris yang terselip di bagian belakang pinggang ketika mengenakan beskap. Aku lalu menurunkan Arya dari gendonganku. Lalu menerima keris yang diberikan Arya kepadaku dan menyelipkan nya di bagian belakang pinggangku.

“Terima kasih Ya…..”. TIdak tahan Aku kemudian mencubit pipi anak itu yang lucu. Aku baru teringat sekarang. Sampai saat ini Aku belum tahu, ada acara apa sebenarnya.

“Ini sebenarnya ada acara apa Yow?”.Yowan dari ekspresinya pun seperti tidak paham kenapa. Seperti kebingungan sendiri

“Aku juga nggak tahu Yus, tadi pas mau tidur tahu-tahu dijemput Nyai Melati sama Eyang Wali. Katanya sudah ditunggu. Pas masuk ke sini tahu-tahu sudah dandan kayak begini”. Aku coba memutar pandangan ke sekeliling. Di bagian ujung pendhopo tampak seperti ada kelir putih yang membentang. Di sebelah kanan nya di bagian yang agak menjorok tampak para Niyaga (Pemain Gamelan) sedang mempersiapkan diri.

“Sepertinya bakal ada acara pertunjukan Wayang Kulit Yow”. Aku mencoba menyimpulkan setelah melihat semua itu

“Kalau ada acara Wayang Kulit, berarti seharusnya ada acara penting atau event besar Yus. Tapi acara apa ya kira-kira?”.Yowan juga tampak begitu penasaran

“Apa mungkin acara nikahan?”. Aku mencoba menebak-nebak

“Nikahan siapa?”. Tanya Yowan kemudian.

“Siapa lagi?”. Aku coba berusaha menyembunyikan senyum ku sambil berusaha memasang wajah tetap cool di hadapan nya. Tak disangka bukan nya tersipu Yowa malah mencubit pinggangku gemas. Membuatku kelabakan mengaduh-aduh. Tampak kemudian dari arah berlawanan 9 Tetua datang menemuiku dan Yowan. Aku pun sigap langsung memberikan salam pada mereka,

“Salam para Eyang semua”.

“Salam Kisanak. Maaf undangan nya begitu mendadak. Tapi kami ingin sedikit mengadakan Selamatan untuk hubungan kubu Selatan dan Utara sekaligus mungkin untuk merayakan kemenangan perang kemarin”. Penjelasan Eyang Karta akhirnya membuatku paham kenapa Aku dan Yowan diundang datang ke Merapi hari ini.

“Mari Kisanak, sebentar lagi pertunjukan wayang nya dimulai”. Para 9 Tetua lalu mengajak berjalan ke dalam Pendhopo Kraton. Aku, Yowan, dan Arya mengikuti mereka. Tempat duduk sudah disediakan bagi kami di barisan ketiga. Sementara para astral lain yang yang tadinya terpencar, tampak kemudian menggerombol dan ikut duduk di belakang. Sepertinya mereka ingin turut menyaksikan pertunjukan wayang kulit itu. Jumlah mereka sampai meluber ke luar arah Pendhopo sangking banyaknya

Barisan pertama ada Para 9 Tetua dan Nyi Penguasa Selatan, kecuali Eyang Karta. Sedangkan barisan kedua Aku melihat ada Pak Sam dan Mbah Sur. Tampak duduk berdampingan sambil sesekali berbicara pelan dan tertawa kecil. Tampak akrab sekali. Eyang Karta malah memilih duduk di sebelah kananku. Sementara Arya dan Yowan di sebelah kiriku.

Ketika Gendhing pembuka dimainkan tampak Dhalang mulai mengambil tempat di depan kelir dan mulai bersiap-siap. Aku mengenal Dhalang yang ada di depan itu. Dia bukan astral. Dia masih hidup. Dia manusia sepertiku dan Yowan. Seorang Dhalang yang cukup terkenal dengan gaya sabetan nya yang khas bagaikan kilat. Entah bagaimana cerita nya Kraton Merapi menanggapnya untuk memainkan pagelaran wayang di acara mereka.

“Kira-kira apa lakon dari acara wayang ini Eyang?”. Tanyaku pada Eyang Karta di sebelahku.

“JAGAD GUMELAR”, jawabnya singkat.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
Lihat 1 balasan
Jagad Gumelar ......
terima kasih om yus ditengah kesibukkannya menyempatkan untuk update 🙏
Dalang nya Ki Manteb Sudarsono

Tetangga😬
Ga nyangka pernah di tanggap di keraton merapi.
Beliau dulu juga pernah ditanggap di alas purwo seh..
Salut!!🙏🏻🙏🏻🙏🏻
waiki, pilihan semakin sulit masyus emoticon-Ngakak
Pak manteb sudarsono
suwun updatenya maaasss
Asiik.. update lagi 😁🙏

Cie makin galau nih mas emoticon-Ngakak (S)
Ki Manteb Sudarsono
Dalang favorit bokap ini, kalau nanggep di jakarta selalu dicariin. emoticon-Big Grin

#masyusgalautingkatdewa

Akhir nya update,terima kasih mas yus..semoga mas yus bisa segera mendapat kemudahan dlm urusan nya
menunggu cerita selanjutnya
Mas yus galau euy...
Ane ikutan galau juga nih nungguin kapan kira2 mau update lagi Hahahahaa 😁
Btw makasih udah update mas yus.. smoga sehat selalu😇
mas yus punya chanel yotube gk, kaya jurnal risa
ki manteb sudarsono 😍👍
Makasih mas yus udah update,
Part yg nie menjelaskan isi hati yg terpendam.
Memang sulit memilih diantara 2 pilihan.
Apalagi kedua'y kita inginkan.
emoticon-Wowcantikemoticon-Wowcantik




Quote:


Quote:



Buat agan2 sekalian..
Mas yus udah update.
Monggo dibaca..
emoticon-Monggoemoticon-Monggoemoticon-Monggo
Lihat 1 balasan
Quote:


Kayanya gan,
Cek aja dividio pejwan.
emoticon-Monggoemoticon-Monggo
Diubah oleh indahmami
Kayanya gan,
Cek aja dividio pejwan.

Pejwan apa gant?😂
profile-picture
gendroyono memberi reputasi
Halaman 153 dari 164


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di