alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 8 dari 164
Blum apdet lagi ya mas yus? emoticon-Bingung
Kecapekan wawancara kemarin ya? emoticon-Wakaka
Quote:


justru itu bukan legenda, dan masih ada sampe sekarang, dan mereka mengikuti peradaban zaman sekarang gan,
coba deh baca gan…
https://m.kaskus.co.id/thread/599d8bbf32e2e6a5178b4599/dimana-bumi-dipijak-disitu-ghaib-dijunjung
wah udah ada season barunya ini cerita
Nimbrung achhh semoga bisa jadi inspirasi
Diubah oleh extrimsatan
Yah... Nunggu taun depan deh biar update-annya udah banyak emoticon-Bingung
Pada 27 Oktober 2017 jam 19:00 malam , De Britto Business Community (DBBC channel) didukung oleh De Britto Mistis Club mengadakan Live Talkshow pada facebook dengan mengundang mas Nanung Prasetyo (JB 01) . Mas Nanung merupakan penulis Novel "DIMENSI KETIGA" yang memiliki lebih dari satu juta viewer pembaca thread Kaskusnya. Pantes waktu live tercatat hampir 10.000 reached , rameeee yang nonton dan komentar 😅

Pembicaraan berkisar proses kreatif penulisan , cara promo dan kisah2 yang masih bikin "kepo" dalam novel. Banyak info, tips , tawa namun tetap mistis selama talkshow berlangsung.

Buat yang mau liat full talkshow bisa masuk ke :

- fanpage facebook DBBC channel facebook.com/dbbcchannel


- liat rekaman Yotube di
profile-picture
profile-picture
EjhaKuncir dan draconian.devil memberi reputasi
msh fresh ya thread nya... posternya bikin kak get aja
Quote:


Beda lagi gan. kalo ceritanya bang indra mah emng suku pedalaman, tpi kalo wentira atau apa tuh satu lagi... itu katanya kota jin, yg peradabannya modern
anak kolese JB kah gan?
Quote:


ternyata ini wujud asli bang yus, heheee… keren ya hrd nyambi bikin novel, ane baru nonton 30 menit… mw lanjut nntn lg ah, "kepo"
Maraton dari seasin 1 smpe 2. Btw bgmana kelanjutAn hubungan mas yus dan mitha??
mas yus emoticon-Matabelo


Lanjuut kan
Gelar tiker dulu ah
Dan ane terdampar lg di thread mas yus dgn username berbeda emoticon-No Hope



Bulan depan balik lg kemari emoticon-Traveller
Tahun baru balik maning di mari....
Ijin bikin tenda gan
emoticon-Wow season 3 keluar juga akhirnya emoticon-2 Jempol

wah dibojonegoro

dikota ane,
kapan kapan mampir lah gan ketempat ane,
DMI 3 – MISTERI GUDANG TEMBAKAU PART 1




Anas masih seperti orang kebingungan. Tidak ada yang bisa menjawab kenapa dirinya bisa berpindah dari kamar ke bawah rerimbunan pohon bambu itu. Anehnya, dengan cuek nya dia malah ngeloyor. Masuk kembali ke dalam kamarnya. Seperti tidak terlalu merisaukan apa yang barusan terjadi. Langkahnya gontai dan terkesan bermalas-malasan. Meninggalkan Aku, Habibi dan Slamet yang masih kebingungan.

Jam masih menunjukkan pukul 6:45. Aku, Habibi dan Slamet memutuskan tidak kembali tidur. Kejadian barusan membuat Slamet jadi sedikit takut. Sementara Habibi berusaha memberikan pikiran-pikiran positif yang masuk akal. Berusaha mencari logika penjelasan peristiwa itu. Mulai dari kemungkinan Anas berjalan sambil tidur, sampai kemungkinan Anas memang punya kepribadian ganda. Aku sendiri memiliki kesan Anas memang orang nya rada-rada aneh.

Aku malah agak bingung menentukan sikap. Kalau Aku langsung menggunakan Mata Ketiga ku untuk mengeksplorasi semua nya, maka semua mungkin bisa terungkap. Dengan konsekuensi semua nya hanya menjadi beban ku. Kalau Aku menjelaskan hasil penglihatan Mata Ketiga ku, belum tentu semua orang bisa menerima nya. Lagi pula ini baru hari pertama Aku menginjak kan kaki di tempat ini. Orang-orang di sini semua nya juga baru saling mengenal. Bahkan latar belakang kami masing-masing pun kami juga saling belum tahu.

Yang Kedua, belum tentu juga Aku bisa menyelesaikan masalah yang ada di sini. Saat ini keadaanku tidak memungkinkan untuk melakukan nya. Semenjak peperangan di lereng Merapi itu, seluruh akses ke 9 Tetua maupun Penguasa Selatan seolah terkunci. Aku tidak lagi memiliki khodam naga atau apa pun sekarang. Seandainya Aku harus menghadapi sesuatu, tidak ada yang bisa kulakukan selain mengandalkan diriku sendiri.

Aku jadi nya hanya diam saja. Menyimpan rasa penasaranku. Berusaha menahan diri untuk tidak menggunakan kemampuan Mata Ketiga ku. Aku tidak ingin terlalu menarik perhatian. Meskipun beberapa spekulasi berseliweran di benak dan kepalaku. Yang jelas ini bukan kejadian yang bisa dianggap biasa.

Karena penat dengan pikiran ku sendiri, akhirnya Aku lebih memilih untuk mandi dan bersiap-siap. Kalau dipikirkan terus , semua ini tidak akan ada habisnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit. Tepat pukul 8:00 adalah jam masuk kantor.

Setelah mandi Aku lihat sarapan sudah disiapkan di atas meja makan. Rupa nya tiap pagi dan siang ada ibu-ibu yang menyiapkan makan untuk para penghuni Mess. Artinya Aku dan para penghuni Mess yang lain tidak perlu repot-repot mencari makan tiap pagi dan siang. Tapi sepertinya itu hanya untuk hari kerja dari Senin sampai Jumat saja. Hari Libur atau hari Sabtu dan Minggu mereka tidak datang.

Selain masak mereka juga bersih-bersih. Sambil makan sarapan, Aku pun menyapa dan berkenalan dengan mereka. Yang tua namanya Bu Sri, yang muda namanya Mbak Yani. Habibi dan Slamet lalu bersusulan datang ke meja makan. Saat Aku, Slamet dan Habibi sudah selesai makan dan hendak meninggalkan meja makan, Anas baru datang dan duduk di meja makan. Otomatis tidak ada waktu banyak untuk mengobrol dan bertanya pada nya. Aku hanya melihat sekilas wajah nya. Tampangnya sama sekali masih lesu dan kurang bersemangat. Padahal orang seharusnya kalau sudah mandi pasti setidaknya akan terlihat lebih segar.

Aku tidak ingin terlalu merisaukan nya. Mungkin saja Anas seperti itu karena belum sarapan. Karena takut terlambat di hari pertama, Aku, Habibi, dan Slamet tidak terlalu menghiraukan Anas. Beberapa buruh pabrik juga berdatangan masuk ke area pergudangan. Rata-rata menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki. Banyak juga jumlahnya, laki dan perempuan, tua dan muda.

Seperti yang sudah dijadwalkan, hari itu kami diarahkan masuk ke Gudang 2. Gudang yang letaknya bersebelahan dengan Gudang 1 yang berhadapan dengan Mess. Gudang 1 adalah tempat penerimaan keranjang-keranjang daun tembakau yang didatangkan dari daerah sekitar Bojonegoro. Di situ tembakau diterima dan ditimbang, lalu disusun untuk dipilah-pilah berdasarkan kualitasnya. Istilah keren nya disortasi. Gudang 2 adalah tempat penerimaan hasil Sortasi dan tempat tembakau dipacking untuk kemudian dikirim ke tempat pengolahan rokok di Purwosari Malang.

Gudang 2 sedikit lebih besar dari Gudang 1. Di dalamnya ada beberapa 3 alat press, namun yang aktif hanya 2. Pada bagian pojok kanan atas gudang, di lantai 2 ada sebuah ruangan besar yang disekat dan dibagi menjadi 3 ruangan. Ruangan Manajer Operasional, ruang meeting kecil dan satu lagi ruang kantor tempat staf keuangan dan administrasi. Saat memasuki pintu Gudang, kami disambut oleh Mas Eko. Beliau koordinator operasional di situ.

“Gimana semalem? Enak tidurnya? Nggak ada kejadian aneh-aneh kan?”. Tanya Mas Eko setelah berkenalan dengan Kami semua. Slamet hanya tersenyum getir. Tampaknya tanpa diceritakan, Mas Eko sebenarnya sudah tahu peristiwa subuh tadi. Pasti informasi itu sudah menyebar dari satpam gudang.

Mas Eko lalu mengajak kami ke ruang meeting di lantai 2. Ternyata Mas Eko sendiri yang hari itu memberikan orientasi atau induksi karyawan baru. Mulai dari penjelasan mengenai profil perusahaan, struktur organisasi, dan beberapa hal tentang kekaryawanan seperti jam masuk dan tata-tertib. Selanjutnya untuk 3 sampai 4 bulan ke depan, kami akan belajar tentang proses bisnis dan budi daya tembakau. Selama belajar itu, Kami harus membuat laporan dan hasil observasi. Selanjutnya membuat program untuk kemudian dipresentasikan pada akhir masa orientasi.

Saat sudah 15 menit penjelasan berlangsung Anas baru datang. Tampak agak gugup dan sedikit kikuk. Terlambat di hari pertama masuk kerja bukan lah hal yang baik. Mas Eko juga tampak tidak terlalu senang karena Anas terlambat.

Mas Eko melanjutkan penjelasan nya, bahwa program atau projek yang kami konsep atau rancang harus berhubungan dengan bagian dari posisi pekerjaan kami masing-masing. Habibi di bagian manajemen pengadaan atau Purchasing, Slamet di bagian Riset Development, Anas di bagian Quality Control, sedangkan Aku di bagian Personalia.

Tanpa terasa waktu istirahat makan siang akhirnya tiba. Saat Aku, Habibi dan Slamet makan di meja makan, Anas malah membawa piringnya ke kamar. Sepertinya Anas lebih nyaman melakukan segala sesuatu nya di dalam kamarnya. Tapi ya sudahlah mungkin itu memang kebiasaan nya dia. Aku, Habibi dan Slamet malah sibuk mengobrol untuk memikirkan projek apa yang kira-kira bisa kita buat. Sambil sesekali bercanda dan melontarkan guyonan satu sama lain.

Saat kami masih sibuk dengan candaan dan obrolan di meja makan, Anas keluar dari kamar. Tampaknya dia sudah selesai makan duluan. Dirinya berjalan melewatiku, Slamet dan Habibi. Berjalan menuju tempat cucian di dapur yang bersebelahan dengan ruang makan, dan meletak kan piring kotornya di situ. Saat Anas melewatiku, tiba-tiba Aku mencium bau kembang setaman yang sangat menyengat.

Aku sampai tercekat dan kaget. Sempat menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dari mana asal kemungkinan bau itu muncul. Ternyata bukan hanya Aku yang mencium nya, tetapi Slamet dan Habibi pun juga turut mencium bau kembang yang menyengat itu. Saat Anas berjalan dan melewati kami bertiga kembali dari arah dapur, bau itu tercium lagi. Slamet sampai berpikir jangan-jangan itu memang bau parfum nya Anas. Tetapi Aku sendiri punya pendapat berbeda. Ada yang aneh dengan Anas, dan itu bukanlah hal yang wajar. Seperti ada sesuatu yang mengikuti nya.

Selesai makan siang kami bertiga kembali ke ruang meeting di lantai atas gudang 2. Ternyata Anas sudah ada duluan di sana. Tertidur dengan posisi kepala dan tubuh menggelosor di atas meja. Tampak pulas dan nyenyak. Mas Eko yang tidak lama kemudian masuk, menyuruh Habibi membangunkan Anas. Tampak dirinya semakin tidak suka melihat Anas.

Agak susah membangunkan Anas. Butuh 3 sampai 4 kali goyangan sampai dirinya akhirnya terbangun dan sadar kembali. Wajahnya tampak makin kuyu dan lesu. Seperti orang yang kurang bertenaga. Sampai Mas Eko menyuruh Anas mencuci muka nya dulu di kamar mandi. Tapi Anas menolak dan mengatakan diri nya tidak apa-apa. Mas Eko akhirnya melanjutkan acara induksi pada hari itu. Aku, Slamet, Habibi dan Anas akhirnya dibawa berkeliling Gudang hari itu dan melihat-lihat proses produksi yang terjadi. Sesekali Mas Eko memberi penjelasan akan proses produksi yang terjadi kepada kami.

Aku sebenarnya malah memperhatikan gerak-gerik Anas. Semakin diperhatikan malah semakin memperlihatkan kalau ada sesuatu yang janggal. Jalan nya gontai dan seperti diseret. Tubuhnya seperti tubuh yang kehilangan separuh tenaga nya. Respon nya juga agak kurang tanggap ketika ditanya atau diajak bicara. Tatapan nya setengah kosong dan sering kehilangan fokus. Kadang menatap kosong ke sembarang arah. Selalu tertinggal mengikuti gerak ku, Slamet, Habibi dan Mas Eko.

“Kamu sehat Nas?”, Aku sempat bertanya,karena agak kasihan melihatnya. Jangan-jangan Anas memang sedang sakit atau tidak enak badan.

“Ngga... ga pa-pa kok. Sehat.. sehat...”. Anas pun berjalan dan berlalu melewati. Sekilas agak seperti terburu-buru menghindari ku. Sempat terbersit langsung dalam pikiran ku, jangan-jangan memang Aku perlu untuk membuka mata ketiga ku ini.

“Anas agak aneh ya? Agak kurang sehat kayaknya....”. Tiba-tiba Habibi sudah berdiri dan berbicara disebelahku. Tampaknya dirinya juga turut merasakan kalau ada yang aneh dari Anas.

“Sepertinya.... Mungkin masih penyesuaian juga di sini. Atau mungkin orangnya memang kayak begitu?”. Aku mencoba mencari sisi logis perilaku Anas.

“Kayaknya nggak sih Mas. Aku sedikit tahu Anas. Anaknya beda sama yang Aku pernah kenal. Kita dulu ngelamar dan tes bareng buat lowongan di perusahaan ini. Dia nya yang sapa Aku duluan malah waktu itu. Anaknya cerewet dan banyak omong kok. Nggak kayak sekarang....”. Habibi mencoba menceritakan apa yang dia tahu tentang Anas. Apa yang diterangkan oleh Habibi makin menguatkan kecurigaanku.

Tanpa terasa hari menjelang sore. Buruh-buruh berombongan pulang meninggalkan gudang. Saat siang gudang tembakau ini memang terlihat asri dan ramai. Namun saat malam tiba, suasana gudang entah kenapa terasa begitu mencekam. Bentuk bangunan nya yang tua, dan penerangan yang kurang membuat suasana gudang benar-benar suram. Apalagi Gudang 1, sekelilingnya terdiri dari jendela-jendela kaca tembus pandang. Jadi dari luar bisa memandangi ke dalam gudang yang gelap dan sunyi. Ruangan yang kosong tanpa aktifitas malah mengesankan bahwa ada sesuatu yang sedang menunggu dibalik kegelapan sana. Aku sendiri malas memandang ke arah dalam gudang lewat jendela itu lama-lama.

Setelah maghrib, setelah mandi dan rapi, Aku, Habibi dan Slamet berniat untuk melihat-lihat kota Bojonegoro. Kebetulan ada mobil Espas yang tidak terpakai dan masih bisa digunakan. Habibi mengusulkan agar mengajak Anas ikut serta. Aku lalu berinisatif mendatangi Anas di kamar nya. Kamar Anas terletak disebelah kamar tempatku, Slamet dan Habibi tidur. Aku lalu berjalan dari ruang TV menuju lorong tempat pintu-pintu kamar Mess. Di ujung lorong ada ruangan tempat arsip dan ruang ganti satpam. Ada beberapa meja dan kursi di situ. Aku bisa melihat ke dalam ruangan itu dari arah lorong. Ruangan itu benar-benar gelap tanpa penerangan sedikitpun.

Aku mencoba mengetuk pintu kamar Anas. Dua kali Aku mengetuk, tapi Anas tidak juga membuka pintu. Sayup-sayup Aku mendengar suara Anas sedang mengobrol dengan seseorang sambil sesekali tertawa. Apa mungkin dirinya sedang bicara lewat telepon. Tapi kenapa suara lawan bicara nya begitu jelas sekali di balik pintu. Seakan Anas sedang berbicara dengan lawan bicara nya di ruangan yang sama. Suara lawan bicara Anas yang kudengar seperti suara seorang wanita. Aku lalu mengetuk pintu kamar Anas agak keras. Sampai akhirnya Anas sedikit membuka kan pintu. Seolah tidak ingin Aku melihat lebih jauh ke dalam. Hanya sebelah badan nya yang tampak dari balik pintu.

“Hei Nas, mau ikut kita keluar tidak? Jalan-jalan lihat kota?”. Aku coba menawarkan padanya.

Anas hanya menggeleng dengan tatapan setengah kosong. Lalu kembali menutup pintu pintu kamarnya. Oke, Aku anggap itu artinya dia tidak mau. Walau pun sebenarnya ada hal yang mengganjal di benak ku. Dari luar Aku kembali mendengar Anas mengobrol akrab dengan seseorang. Mungkin dia memang sedang sibuk teleponan dengan seseorang.

Saat hendak berjalan pergi, mata ku seperti tertarik melihat ke ujung lorong. Tempat ruangan gelap yang sepertinya memang tidak memiliki penerangan. Seperti ada yang memperhatikanku dari kegelapan. Aku coba menajamkan penglihatan. Hanya ada kegelapan di ujung lorong sana. Tapi perasaanku mengatakan ada sesuatu di situ. Sedang memperhatikan ku. Menatapku dengan tatapan tajam yang membuatku tidak enak.

“Ssssssrrraaaahhhh......”. Aku yakin, Aku mendengar suara itu dari arah kegelapan ruang di ujung lorong itu. Suara itu sengaja dibuat untuk mengagetkan ku. Tetapi yang berusaha membuatku kaget ini Aku yakin bukan orang atau manusia. Ada makhluk lain di sana.

“Sssiiiaaapaaaahhhh....Kamuuuuuhhh???”. Suara itu jelas terdengar di telingaku. Berasal dari ruang gelap yang kupandangi itu. Suaranya seperti desahan berat, yang membuatku sedikit kaget dan kaki ku mendadak jadi terasa berat. Lamat-lamat Aku melihat seperti ada yang merayap keluar dari kegelapan. Rambutnya panjang. Tubuhnya mengenakan gaun seperti daster putih yang sobek-sobek di sana-sini. Merayap di langit-langit ruangan menyerupai bayangan hitam laba-laba raksasa. Tampak bayangan itu kemudian diam di tempat. Tidak bergeming menatapku dari ujung gelap ruangan. Baru kali ini Aku bisa melihat mereka tanpa membuka Mata Ketiga ku. Walaupun hanya berupa bayangan hitam.

Aku jelas tidak menanggapi pertanyaan makhluk itu. Lebih baik untuk tampak berpura-pura tidak melihatnya. Aku lalu berjalan pergi dengan langkah cepat meninggalkan lorong itu. Menemui Habibi dan Slamet yang sudah menunggu ku sedari tadi. Aku coba mengendalikan perasaanku dan berusaha tampak biasa-biasa saja di depan Slamet dan Habibi. Aku pun tidak menceritakan kejadian yang barusan kualami itu. Meskipun kejadian itu seakan mengingatkan ku, untuk lebih hati-hati dan tetap waspada.

Keceriaan berkeliling kota Bojonegoro membuatku sedikit lupa pada kejadian barusan. Apalagi Slamet dan Habibi orangnya rupa nya cukup asyik juga. Slamet yang paling hobi membanyol dan menebarkan keceriaan. Orangnya cukup gokil juga ternyata. Sementara Habibi memang lebih kalem dan dewasa. Namun kalau sudah melihat cewek atau dedek gemes tatapan nya bisa kemana-mana. Setelah puas berkeliling kota, kami pun lalu pulang.

Sampai di Mess, kami bertiga langsung masuk kamar. Tidak ada satu pun yang tertarik melihat TV di ruang tamu. Aku, Habibi, dan Slamet malah sibuk dengan diri masing-masing di dalam kamar. Habibi bersiap untuk melakukan sholat tahajud. Slamet membaca buku sambil membuat beberapa catatan di buku tulis nya. Seperti nya berkaitan dengan persiapa projek yang akan digarapnya. Sementara Aku malah menyalakan laptop dan sibuk browsing mencari topik dan ide untuk projek. Sayup-sayup Aku masih mendengar suara Anas mengobrol di kamar sebelah. Gila, kuat juga dia mengobrol. Sepertinya kok tidak capek-capek dan tidak ada habisnya. Suara wanita yang menjadi lawan bicara nya juga terdengar jelas dari kamar sebelah.

Aku juga melihat Slamet dan Habibi mendengar Anas berbicara dan mengobrol dengan seseorang. Namun sepertinya mereka berusaha cuek dan tidak ingin mengganggu urusan Anas. Tapi Aku juga melihat sekilas Slamet beberapa kali mengusap tengkuknya. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya merinding. Beberapa saat setelah itu tiba-tiba kami bertiga mendengar suara ketukan di pintu. Ketukan nya lirih dan aneh. Jeda ketukan pertama dan kedua agak panjang. Tok................Tok...................

Aku, Slamet dan Habibi hanya berpandangan. Siapa yang mengetuk? Atau mungkin Anas? Aku berinisiatif membuka pintu. Meskipun agak ragu. Saat pintu Aku buka ternyata tidak ada seorangpun dibalik pintu. Saat melongok keluar lorong juga tidak ada seorangpun. Sekali lagi malah penglihatanku seolah ditarik ke arah ruang gelap di ujung lorong. Sekali lagi, Aku menangkap ada sesuatu di sana. Aku pun buru-buru menutup pintu. Mencoba tersenyum ke arah Slamet dan Habibi yang tampak sedikit pucat dan ketakutan.

“Hehehehe... Nggak ada siapa-siapa....”. Kata-kata ku malah membuat Slamet buru-buru menyudahi kegiatan nya, lalu buru-buru menarik selimut menutupi wajahnya dan tidur. Sementara Habibi juga buru-buru naik ke atas tempat tidur dan memalingkan tubuhnya menghadap tembok. Sedangkan Aku sendiri malah merasa penasaran. Namun karena merasa rasa penasaran itu sepertinya tidak ada gunanya, Aku pun akhirnya memutuskan untuk tidur.

Tapi tampaknya Aku memang perlu meningkatkan kewaspadaanku. Aku tidak ingin ada gangguan atau ada mimpi buruk yang mengganggu tidurku. Aku lalu melapisi tanganku dengan energi bioplasmik, lalu meletakkan tangan kanan di dadaku dan tangan kiri di perutku. Aku juga tidur tanpa bantal. Energi pelindung lalu membungkus seluruh tubuhku dan memberikan perlindungan yang cukup. Tidak lupa Aku meminta perlindungan pada Tuhan Yang Maha Esa. Berdoa semoga tidak ada kejadian apa-apa lagi, dan besok pun tidak ada kejadian yang aneh-aneh lagi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
serem juga klo mata ketiga aktip, tp ga punya khodan pendamping emoticon-Takut (S)

terima kasih updatenya mas yus, semoga cepet update lagi amin emoticon-Big Grin
Halaman 8 dari 164


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di