KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 90 dari 166
Ini update tiap kapan aja? Atau update nya secara random? emoticon-Mewek
terlama yg skrg kayanya yah 😆😆😆😆😆

mdh2an nanti double date...eh, double update maksudnya.
Bang yus ayo apdet
masih mendua ....

Lanjut
Quote:

emang pengen gan ngeliat demit dengan mata telanjang? emoticon-Ngakak
Quote:


Ahahaha ogah gan , kalo pgn punya kemampuan yang bisa.memprediksi nomor togel secara akurat
Diubah oleh milanalfath
Agan Yus, bukunya sudah ada di Gramedia belum ya?
Pengen beli
Quote:


kalau kayak gitu indonesia bakal jadi negara maju gan hahaahaha
Ini mas Yus nya lg kimpoi sama Yowan? emoticon-Bingung
Jangan kasi kentang kelamaan dong, dh busuk nih.. Lanjut cerita mas Yus! emoticon-Shakehand2
menunggu update an
Quote:


Betul sekali gan, mangkanya seharusnya indonesia itu harus melestarikan yang namanya togel
mas yus, kentangnya belum dipanen?
Mas yus dikon update malah pediren
WKWKWKWKWKWKW BANYAK2IN SABAR GAN 😂😂
DMI 3 - PERTEMPURAN 1

Aku : Bagaimana teman-teman yang lain Mas Habibi? Slamet? Anas? Mas Eko?

Pikiranku langsung tertuju pada orang-orang yang ada di sana. Jebolnya pertahanan itu pasti membawa dampak pada mereka yang setiap hari berada dan berkerja di sana.

Habibi : Aku dan Anas sudah dipindahkan ke Gudang Jember. Slamet dipindahkan ke Gudang Lombok di Mataram NTB....

Aku sedikit lega mengetahuinya. Tapi tunggu, masih kurang 1 orang

Aku : Mas Eko bagaimana?

Habibi : Mas Eko kurang beruntung. Berita terakhir dia tertimpa kemalangan gara-gara pas menghitung tembakau yang sudah di pax pakai tangga di gudang 4, tangga nya tiba-tiba jatuh ke samping. Kaki Mas Eko patah. Beberapa hari setelahnya 5 orang pekerja meninggal karena kecelakaan kerja di Gudang 4. Tertimpa tumpukan pax tembakau yang tiba-tiba jatuh entah kenapa. Sampai saat ini gudang Bojonegoro ditutup untuk operasi, karena ada penyelidikan kepolisian dan Dinas Tenaga Kerja setempat terkait Keselamatan Kerja.

Sial !! Akhirnya yang kukhawatirkan terjadi juga. Ada korban darah berjatuhan. Belum lagi nasib para buruh yang akhirnya harus kehilangan pekerjaan karena Gudang itu ditutup. Mereka pasti kehilangan mata pencaharian

Habibi : Sekali lagi hati-hati di sana Mas Yus.... Semoga senantiasa dalam lindungan Allah.....

Mengetahui itu semua lewat Habibi, membuat pikiranku kalut. Aku hanya terdiam. Bahkan chat terakhir dari Habibi pun tidak ku balas. Itu lah sifat jelek ku, ketika pikiranku kalut dan tidak tahu harus melakukan apa atau ada hal yang tidak kumengerti, Aku pasti langsung membeku dan terdiam lama. Parahnya lagi, ekspresi wajahku tidak mampu menyembunyikan kebingungan itu.

“Yus.. kok diem? Ada masalah?”. Yowan sepertinya masih hapal kebiasaan jelek ku itu. Dia pasti langsung bisa mengerti kalau Aku sedang ada masalah. Tidak ada guna nya menyimpan atau menyembunyikan masalah ini dari Yowan. Mau tidak mau Aku menceritakan semua nya pada Yowan. Lagi pula Yowan pasti tidak akan menyangsikan apa yang Aku ceritakan ini. Karena toh dia juga paham tentang dunia supranatural.

“Arya... apa benar yang Ayah katakan?”. Yowan bertanya pada Arya selesai Aku menceritakan semua nya. Lirikan nya bertemu pandang dengan tatapan polos Arya yang menatap ke arahnya.

“Iya Bu, waktu itu Ayah nyawanya terancam gara-gara hampir dikalahkan. Untung waktu itu Arya cepat bantu....” . Ekspresi Yowan tampak terkejut mendengarnya. Aku bisa merasakan emosinya tiba-tiba memuncak. Ada kesan tidak terima di wajahnya. Ekspresi Yowan tampak marah. Aku bisa merasakan hawa disekelilingku tiba-tiba berubah karena kemarahan Yowan. Terpaksa Aku cepat-cepat menenangkan nya.

“Yow tenang Yow... sabar dulu. Jangan habis-habisin tenaga mu cuma gara-gara emosi kayak begini....”. Ucapanku membuat Yowan sedikit mengendurkan emosinya. Roro Pembayun Aku lihat juga sedikit lega melihat Yowan jadi tenang kembali. Sepertinya dia juga mengerti apa yang akan terjadi kalau Yowan emosi.

“Pembayun, pergi beritahu Ibu Ratu tentang masalah ini. Sampaikan permohonan pada Ibu Ratu untuk mengerahkan pasukan sewaktu-waktu”. Tanpa banyak menunggu Yowan memberikan instruksi pada Roro Pembayun. Dirinya pun sepertinya cukup memahami kalau keadaan ini tidak bisa dianggap santai.

“Siap Ndoro.....”. Roro Pembayun lalu pergi menghilang dari hadapanku dan Yowan. Membawa perintah Yowan ke Pantai Selatan. Aku sedikit menghela napas. Yowan masih memiliki kemampuan untuk terhubung ke Penguasa Selatan, sedangkan Aku tidak. Teringat diriku pada 9 Tetua Penguasa Utara. Seandainya saja Aku masih bisa kembali terhubung dengan mereka. Mendadak Aku teringat sesuatu.

“Arya, boleh pinjam kerismu sebentar?”. Arya malah tampak heran mendengar permintaanku. Begitu juga dengan Yowan. Arya lalu mengeluarkan keris itu dari pinggangnya. Keris itu berbentuk pipih seperti lidah ular, dengan 9 lekukan. Keris itu memang keris Naga Wisesa.

“Tapi ini keris astral Ayah. Ayah tidak akan bisa memegangnya”. Benar saja. Ketika Aku menjulurkan tangan ku untuk menyentuh keris itu, tangan ku malah seperti menembus udara kosong. Tentu saja Aku jadi tidak bisa mengambil keris itu dari tangan Arya.

Aku tidak menyerah. Aku lalu mengeluarkan benda itu dari tas ku. Sebentuk kalung dengan bandul batu kristal hitam berkerut yang tampak tidak menarik. Benda itu dulunya adalah kalung Topaz ungu pemberian Eyang Uyut sebelum meninggal. Semenjak pertempuran habis-habisan dengan Yowan dulu, kalung itu berubah bentuk menjadi sebuah batu hitam keriput yang tidak menarik.

Benda itu lalu Aku kalungkan di leherku. Saat itu juga keris yang dipegang Arya tampak berpendar lebih terang dari biasanya. Cahanya bahwa sampai menimbulkan semburat pelangi yang berkilau-kilau disekelilingnya. Keris itu seakan kembali mendapatkan nyawanya. Tanganku terulur meraih keris itu dan sekejap kemudian genggaman tanganku mampu meraih gagang keris itu. Ternyata kalung itu adalah penghubung agar tubuh fisik ku mampu menyentuh keris astral itu.

Entah dari mana ide itu timbul. Ujung keris yang lancip itu lalu Aku sentuhkan pada bandul kalung yang Aku pakai, dan seketika batu hitam keriput itu kembali menjelma menjadi kalung Topaz Ungu. Yowan dan Arya sampai takjub melihatnya. Kalung itu telah kembali, yang artinya Mustika Penguasa Utara telah kembali kepada pemiliknya.

“Kisanak... kemana saja?”. Suara itu akhirnya terdengar lagi. Suara berat orang tua dewasa yang dulu sangat Aku kenal. Menggema di dalam pikiranku yang sudah lama mengharapkan untuk mendengarnya kembali. Suara Eyang Karta.

“Eyang? Eyang dimana?”. Aku menjawab suara itu dengan bahasa pikiran. Air mata ku hampir meleleh. Sayangnya Aku gengsi menangis di depan Yowan.

“Kami selalu di sini Kisanak. Kami tidak pernah kemana-kemana. Kami selalu menunggu untuk bisa kembali terhubung pada Kisanak”. Rasanya ingin sekali bersorak keras mendengarnya. Akhirnya Aku bisa terhubung kembali dengan 9 Tetua Penguasa Utara. Setidaknya ada harapan untuk menyelesaikan krisis serbuan para siluman laba-laba Alas Purwo itu.

“Eyang, Saya ingin sekali bertemu dengan para Eyang kembali. Bagaimana cara nya Eyang? Apakah Eyang bisa mengirimkan atau memerintahkan Naga Runting untuk membuatkan portal?”. Aku berharap ada cara agar diriku bisa bertemu lagi dengan para Eyang.

“Duh...duh..duh Kisanak, buat apa para Naga Kisanak? Kalau Kisanak sudah memiliki seorang Ksatria Naga di samping Kisanak”. Pandangan ku langsung tertuju pada Arya yang duduk di sebelahku. Apa mungkin Arya yang dimaksud oleh Eyang Karta sebagai Ksatria Naga?

“Salam kami untuk Ksatria Naga itu Kisanak. Kami menunggu kalian di sini”. Setelah itu suara Eyang Karta tak lagi terdengar. Aku memandang ke arah Arya dengan ragu. Apa iya Arya bisa membuatkan portal?

“Kamu kok ngelihatin dia kayak begitu sih Yus. Ada yang salah sama Arya?”. Yowan malah bertanya duluan. Melihatku memandang Arya begitu rupa membuat Yowan jadi ikut gelisah. Apalagi setelah melihat sendiri keris dan kalung mustika Topaz ungu milik ku kembali aktif.

“Yow, kamu pernah lihat Arya bikin portal?”. Aku malah balik bertanya pada Yowan. Padahal Aku pun yakin kemungkinan besar Yowan tidak mengetahuinya

“Belum Yus... Coba sebentar Aku tanya, Eh.. Arya bisa bikin portal?”. Yowan lalu bertanya sendiri pada Arya.

“Yang besar atau yang kecil Bunda?”. Jawaban Arya malah membuatku dan Yowan sama-sama terkejut. Aku jadi berpikir, jangan-jangan Arya sudah pernah bertemu dengan 9 Tetua.

“Tunggu dulu... Arya tahu kalau portal itu untuk berpindah kemana?”, kata ku kemudian.

“Tahu Ayah.... Portal itu untuk pergi ke tempat 9 Eyang di Merapi. Eyang-eyang yang mengajari Arya silat. Ayah mau Arya bikin portal sekarang?”.

“JANGAN !!”. Aku dan Yowan terpekik berbarengan. Mencegah Arya melanjutkan aksinya. Beberapa pasang mata melihat ke arah Ku dan Yowan. Pekikan kami terlalu keras. Mengundang perhatian beberapa pasang mata. Arya sendiri hanya tersenyum-senyum nyengir melihatku dan Yowan panik begitu rupa.

Oke, setidaknya satu persatu masalah terpecahkan. Akses ke 9 Tetua Penguasa Utara kembali terbuka. Yowan juga sudah memerintahkan pasukan Selatan untuk membantu. Tetapi apakah Pasukan Selatan bersedia membantu Pasukan Utara. Ah.. Itu biar urusan nanti. Sekarang yang penting bertemu dengan 9 Tetua dulu.

“Kita pulang dulu ke rumah masing-masing Yow. Nanti setelah jam 11 malam, Arya ke tempat Ayah. Buatkan portal supaya Ayah bisa bertemu dengan 9 Tetua”.

“Aku ikut......”. Yowan menatapku serius dengan 2 mata indahnya. Aku tahu dia pasti tidak mau ditinggalkan. Tentu saja Aku tidak mungkin melarangnya, namun Aku hanya khawatir apakah Yowan tahan berada di Markas 9 Tetua Merapi? Sedangkan baru menginjak lereng Gunung Merapi saja kekuatan nya sudah berkurang. Selain itu bagaimana nanti reaksi 9 Tetua kalau Aku membawa Yowan. Seseorang yang pernah membuat pasukan Merapi porak poranda dengan ajian Kalanetra nya. Tetapi mudah-mudahan dengan kehadiran Arya, hal itu tidak akan terjadi.

“Ya sudah, nanti Arya buatkan portal dulu untuk Ibu. Baru setelah itu ke tempat Ayah.....”. Arya sendiri akhirnya yang memutuskan sebelum Aku sempat menjawab, dan Aku pun mengangguk sebagai tanda setuju. Aku dan Yowan lalu pulang ke rumah masing-masing. Yowan membawa Arya pulang ke rumahnya, sedangkan Aku pulang kembali ke rumah dengan naik kereta.

Malam itu Aku menunggu waktu jam 11 malam dengan berdebar-debar. Selain gugup karena sudah lama tidak bertemu dengan 9 Tetua, Aku juga nanti akan hadir bersama Yowan. Entah bagaimana nanti reaksi 9 Tetua saat bertemu Yowan.

Aku : Mitha maaf ya... Aku ngantuk banget. Malam ini Aku mau istiarahat dulu ya. Besok pagi Aku telepon kamu... Good Night Dear.....

Aku terpaksa kembali berbohong pada Mitha. Malam itu Aku terpaksa memberikan isyarat kalau Aku tidak ingin diganggu. Padahal biasanya Aku dan Mitha teleponan sampai malam layaknya biasanya orang pacaran.

Mitha : Oya Mas... Nggak apa-apa.... Kasihan Mas Yus kecapekan.... Nanti ketemu di mimpi saja ya Mas.... Hehehehe..... Luv U

Jawaban Mitha malah membuat perasaanku diliputi rasa bersalah. Rasanya ini bukan hal yang adil buatnya. Tetapi Aku terpaksa melakukan nya karena ada sebuah dunia yang tidak dimengerti Mitha, dan Aku terlibat di dalamnya.

Menjelang jam 11 Malam Aku mematikan lampu dan mengunci pintu kamar ku. Mengesankan pada Ayah maupun Ibu kalau Aku sudah tidur dan tidak mungkin diganggu. Padahal Aku masih duduk di pinggir tempat tidur menunggu Arya. Ditemani detak jam dinding dan suara motor yang sesekali lewat di depan rumah. Suasanan terasa begitu sunyi. Sampai suara angin yang menggerakkan dedaunan dan tanaman yang ada di luar rumah bisa kudengar di luar sana. Penjaga malam memukul tiang listrik sebanyak 11 kali. Tanda kalau waktu sudah menunjukkan jam 11 malam.

Arya muncul menembus pintu kamar ku. Pikirku, sopan juga dia. Walaupun tahu dia bisa tinggal menembus dan lewat mana saja, dia tetap muncul di kamar ku lewat pintu.

“Ayo Ayah... kita berangkat”. Arya lalu mengangkat tangan nya ke samping. Sebentuk portal seukuran badan ku membentuk lalu muncul di sebelahnya. Portal itu muncul dari bulatan-bulatan vortex warna ungu kekuningan yang kemudian bergabung membentuk sebuah bulatan portal dimensi berwarna ungu terang yang cerah. Mengingatkanku pada portal yang dulu sering dibuat oleh Naga Runting. Dugaanku semakin kuat kalau Arya jangan-jangan adalah jelmaan dari para Naga.

Aku beranjak dari dari pinggir tempat tidur. Berjalan masuk ke dalam portal diikuti oleh Arya. Keluar dari portal, ternyata Aku berdiri di sebuah pekarangan rumah yang tampak asri dan indah. Sebuah rumah Joglo Limasan yang cukup besar berdiri tegak dihadapan ku. Di depan rumah itu ada sebuah lampu petromak yang diletak kan di dekat sebuah air mancur yang tampak nya sengaja dibuat untuk menambah keindangan pekarangan rumah itu. Di dekat air mancur itu Yowan tampak berdiri menunggu ku. Aku mengenal tempat ini sebagai tempat dimana dulu Aku, Pak Sam, Penguasa Utara, dan Penguasa Selatan duduk satu meja pasca peperangan di lereng Merapi. Di pekarangan itu juga tampak terparkir sebuah kereta kencana berwarna emas yang sangat indah, dengan lapisan kombinasi warna emas dan hijau nya. Tidak perlu ditanya lagi siapa pemilik Kereta Kencana itu. Aku lalu berjalan mendekati Yowan lalu menggandeng tangan nya. Arya berjalan di belakang Yowan, dan kami berjalan beriringan masuk ke dalam Pendhopo rumah itu.

“Ini dimana Yus?”. Aku tidak segera menjawab pertanyaan Yowan itu. Pikirku nanti dia akan tahu sendiri. Rumah itu penuh dengan ornamen artistik khas Jawa. Mulai dari ukiran, hiasan sampai perkakas yang ada di dalam nya menunjukkan rumah sekelas kediaman seorang Adipati. Corak ornamen nya mirip dengan film-film rumah kuno di Sinetron Brama Kumbara atau Saur Sepuh. Sampai di pelataran Pendhopo seorang laki-laki tua menggunakan pakaian beskap warna putih dan blangkon warna emas datang menyambut. Dari wajahnya, Aku mengenali laki-laki itu sebagai Mbah Sur.

“Mbah Kakuuunggg”. Yowan langsung menghambur memeluk laki-laki itu. Laki-laki itu memang Kakeknya Yowan. Dulu Aku pernah sekali bertemu dengan nya pasca peperangan Utara versus Selatan. Tidak disangka akhirnya hari ini Aku dan Mbah Sur bisa bertemu lagi. Laki-laki tua itu memandang ramah ke arah ku. Guratan-guratan wajahnya nampak renta namun keras. Menunjukkan betapa dalam pribadi sekaligus ilmu yang dimilikinya.

“Apa kabar mu Nak Yus?”. Mbah Sur menyambut dan menyalamiku dengan lembut. Bergantian kedua pipi nya ditempelkan ke arah pipi ku sebagai tanda salam.

“Baik Eyang”. Aku pun menyambut dan mencium tangan Mbah Sur sebagai tanda hormat. Sekilas kemudian Aku lihat Mbah Sur memandang ke arah Arya. Tatapan nya malah kelihatan gusar memandang Arya. Sejenak kemudian Mbah Sur menghela napas panjang. Dirinya sengaja melipat tangan nya ke belakang. Padahal Aku lihat Arya sudah siap seandainya diminta untuk mencium tangan Mbah Sur dan memberi salam

“Ayo masuk... semua sudah menunggu”. Mbah Sur memberi perintah. Kami pun masuk semakin dalam ke ruang tengah Pendhopo. Di tengah Pendhopo rumah itu ada sebuah meja besar yang melingkar. Meja itu terbuat dari batu granit yang halus berwarna abu-abu. Kursi-kursinya berukiran khas Jepara dengan campuran sepuhan emas.

Telah duduk di meja itu Para Tetua Penguasa Utara dan Nyi Penguasa Selatan. Eyang Karta, Kyai Angin, Eyang Pentungpinanggul, Nyai Melati , Eyang Tara, Eyang Gusti Kanjeng Agung Merapi, termasuk Nyi Penguasa Selatan. Wajah mereka tampak gusar dan cemas. Tadinya Aku merasa senang bisa bertemu mereka lagi, tetapi melihat wajah-wajah mereka yang sepertinya sedang dirundung masalah Aku langsung menahan diri untuk berekspresi berlebihan.

“Salam Eyang-eyang semua”. Aku memberi salam dan menunduk hormat. Aku melihat ekspresi mereka malah terlihat dingin. Hanya Eyang Karta yang tampak ramah tersenyum pada ku.

“Duduklah Kisanak.... lama tidak berjumpa. Rupanya kita semua masih berjodoh di sini”. Eyang Karta seperti biasa yang tampak paling ramah dan paling terbuka terhadapku, sedangkan yang lain tampak jaim seperti biasa. Aku dan Yowan lalu duduk di sebuah kursi yang tampaknya telah disediakan buatku. Yowan duduk sambil memangku Arya, sedangkan Mbah Sur duduk di sebelahku Tunggu dulu, sepertinya ada satu yang kurang.

“Eyang Jagad, Eyang Anta, Eyang Wali kemana? Kenapa tidak ada?”. Spontan Aku bertanya karena Aku tidak melihat Eyang Jagad duduk di situ. Kemana dia?

“Tenanglah Kisanak, setelah ini kita semua akan melihat situasinya seperti apa?”. Eyang Pentungpinanggul memberikan isyarat padaku agar tidak terlalu banyak bereaksi. Seperti nya ini bukan kabar bagus.

“Baiklah Tara.... tunjuk kan situasi garis perbatasan saat ini”. Eyang Gusti Kanjeng Agung Merapi memberi perintah pada Eyang Tara. Eyang Tara lalu membuat gerakan mengusap permukaan meja granit abu-abu yang ada dihadapanku. Sesaat kemudian permukaan meja itu berubah menjadi sebuah layar monitor. Dihadapanku kemudian terpampang sebuah adegan pertempuran yang dahsyat. Pasukan Bregada Argabinangun yang berbentuk sosok pasukan berpakaian silat dengan ikat kepala warna putih tampak mati-matian bertarung menahan serbuan ribuan monster laba-laba yang menyerang.

Mereka tampak terdesak dan kewalahan. Sementara pasukan Eyang Anta yang berbentuk manusia berkepala ular naga, dan monster golem raksasa juga tidak mampu menahan terjangan para pasukan siluman Alas Purwo itu. Tapi tunggu... Aku mengamati kalau pasukan yang menyerbu tidak hanya berbentuk siluman laba-laba saja, tetapi Aku juga melihat ada sosok-sosok pasukan dengan bentuk lain juga menyerbu. Ada yang berbentuk seperti orang-orang suku pedalaman yang menunggang macan kumbang hitam raksasa. Jumlah mereka ratusan, bahkan mungkin ribuan. Tubuh-tubuh mereka tampak hitam legam tegap khas orang-orang daerah timur. Dari arah atas sosok dengan pakaian suku pedalaman juga menyerbu dengan menunggang burung-burung elang raksasa. Jumlah mereka juga sangat banyak memenuhi udara. Mereka berboncengan menunggang burung-burung itu. Satu memegang kendali sedangkan satu lagi memegang busur panah, dan menembakkan anak-anak panah berapi dari atas.

“Itu Poti....”. Eyang Melati yang merupakan satu-satu nya wanita di antara 9 Tetua berkata lirih. Poti adalah sebangsa roh-roh jahat atau astral jahat yang tinggal di hutan-hutan pedalaman bagian timur. Biasanya mereka adalah sisa-sisa tinggalan (residual) energi dari para dukun jahat penganut ilmu hitam yang tinggal di daerah timur. Aku tidak habis pikir, mengapa mereka turut membantu siluman-siluman alas purwo itu?

Selain itu ada beberapa raksasa dengan bulu panjang berumbai-rumbai warna putih hitam dengan mata lebar dan gigi panjang mencuat atas bawah, lengkap dengan kuku-kuku yang juga sangat panjang, datang menyerbu dengan jumlah tak kalah banyak. Gerakan mereka datang bak menari menandak-nandak dan mencerai-beraikan pasukan-pasukan milik Eyang Anta.

“Itu Rangda Yus.......”. Yowan di sebelahku berguman lirih. Aku sendiri cukup tahu apa yang Aku lihat. Ada Rangda Nyinga, Rangda Nyeleme, dan Rangda Rakshasa, dengan bentuknya masing-masing yang khas. Tidak usah kusebutkan makhluk itu berasal dari mana. Aku masih sendiri masih terngaga melihat adegan pertempuran yang terpampang di hadapanku. Ingin rasanya Aku cepat-cepat terjun ke sana dan membantu mereka. Eyang Anta dan Eyang Jagad Aku lihat tidak menyerah dan tetap bertarung dengan gagah berani, sesekali menyemangati pasukan nya agar tidak kalah melawan. Aku yakin, seandainya tanpa campur tangan sosok-sosok lain yang Aku lihat itu, pasukan Eyang Anta dan Eyang Jagad tidak akan kerepotan seperti itu.

Saat keadaan kritis seperti itu, kembali dari atas muncul sebentuk sosok... bukan itu bukan sosok. Bentuknya mirip sebuah benda seperti bangunan raksasa. Aku mengenalinya seperti usungan jenazah bertingkat ke atas seperti menara. Jumlahnya ada 20 tingkatan. Sisi-sisinya terdapat ukiran-ukiran dan corak—corak yang khas dari sebuah pulau yang tak juga terkenal dengan keindahan nya, tetapi juga dengan daya tarik magisnya. Benda itu muncul seperti menyingkap awan gemawan hitam. Hadir bagaikan kutukan yang jatuh dari langit

“Itu...... Itu Badhe......”. Nyi Penguasa Selatan tampak juga terkejut dengan kemunculan benda raksasa itu. Seperti hal nya semua yang ada di situ pun mengira bahwa benda raksasa itu hanya akan membawa hal yang buruk bagi Pasukan Merapi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
6elek dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
Kepada para para pemirsa dan penggewar DMI 3.... Mohon maaf jika update agak lama...... karena sebenarnya lebih untuk menunggu Buku Novel Dimensi Ketiga Part 2 terbit. Kenapa hal ini penting? Supaya cerita yang ada di DMI 3 ini lebih enak untuk diikuti, karena ke depan nya akan banyak hal-hal yang pastinya ganjil dan tiba-tiba muncul. Misalnya : Kehadiran Mbah Sur yang sebenarnya adalah Kakeknya Yowan......

Novel Dimensi Ketiga Part 2 akan dibuka Pre Order nya sebentar lagi....... Mohon bersabar ya......
profile-picture
profile-picture
6elek dan EjhaKuncir memberi reputasi
Diubah oleh jeniussetyo09
mantapp gan yuss udah update,, kabarin ya gan yus kalau novel part 2nya open preorder
mantapp
Halaman 90 dari 166


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di