alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Kuis ini Cuma Buat Fans Game of Thrones Sejati. Hadiahnya Mangstab Gan!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
4.64 stars - based on 156 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 22 dari 153
update mas yus
Update dalam 1, 2, 3...............
Diubah oleh jeniussetyo09
DMI 3 – Misteri Gudang Tembakau 4




Tetesan air infus beriringan dengan detak jarum jam di dinding bangsal. Beberapa jam yang lalu Anas baru dipindahkan dari bangsal UGD ke bangsal utama. Bangsal yang ditempati Anas ini seharusnya bisa ditempati 3 orang, namun hari itu kebetulan hanya Anas yang menempati bangsal itu. Dua tempat tidur lagi di sisi kiri dan kanan nya kosong. Pintu bangsal berada di ujung lorong, dan merupakan satu-satu nya akses masuk ke ruangan ini.

Mas Eko minta pamit karena sudah ditunggu istri dan anak nya di rumah. Kasihan juga kalau istri dan anaknya tidak ada yang menemani. Praktis hanya tinggal Aku, Habibi dan Slamet. Anas kondisi nya saat ini sudah lumayan stabil. Dirinya tertidur pulas di atas ranjang. Slamet tampak terkantuk-kantuk di kursi. Sebentar lagi dia pasti akan bablas ketiduran. Sementara Habibi tampak masih terus berdzikir. Sedangkan Aku, tak lepas mengawasi sekeliling ku. Sebisa mungkin berusaha tidak lengah sedikitpun.

Anas sudah sebisa mungkin diproteksi. Habibi menaruh sebotol air yang sudah dibaca doa-doa di bawah tempat tidur Anas. Sedangkan Aku menaburkan garam kasar melingkar di sekeliling tempat tidur Anas, sebagai barikade. Walaupun Aku masih sangsi, apakah cara ini masih efektif? Tapi setidaknya lebih baik dicoba daripada tidak melakukan apa-apa.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 23:00. Sudah hampir tengah malam. Mataku masih awas mengawasi sekeliling. Berusaha mulai menahan kantuk yang perlahan mulai menyerang. Suara dzikir Habibi makin terdengar pelan. Mungkin dia juga mulai mengantuk. Tampak beberapa kali menghela napas supaya mulutnya tidak menguap. Keadaan bangsal dibalut suasana temaram gelap yang angker. Lampu penerangan ruangan bersinar redup, tanda bohlam paralon nya sudah tua dan sudah harus diganti. Bau karbol dari lantai bangsal masih terasa samar terhirup di penciuman. Bercampur dengan bau alkohol dan obat-obatan yang menghasilkan bau rumah sakit yang khas.

TEK.... TEK.... TEK

Jendela bangsal yang berada di seberang tempat Aku duduk tiba-tiba berbunyi. Seakan diketuk dari luar. Habibi yang semula terkantuk-kantuk jadi terperanjat. Dzikirnya mendadak terhenti dan mengalihkan pandangan nya ke arahku. Aku hanya bisa membalas tatapan Habibi dengan helaan napas panjang. Tubuh dan perasaanku sudah lelah. Apalagi berurusan dengan makhluk astral seperti ini.

TEK... TEK... KLETEK... KLETEK

Suara ketukan itu berubah makin keras. Malah makin lama terdengar seperti lemparan kerikil dari luar jendela. Padahal Aku dan Habibi yakin tidak akan ada siapapun yang kami temui di luar sana. Dibalik bangsal itu hanya ada lahan kosong tak terurus yang ditumbuhi semak belukar lebat. Aku lalu memberikan kode pada Habibi agar meneruskan Dzikirnya, dan suara Dzikir Habibi pun kembali terdengar. Suara ketukan dan lemparan kerikil di luar jendela akhirnya terhenti. Suasana kembali sunyi. Namun tensi ketegangan malah makin terasa tinggi. Sesuatu yang sedari tadi kami khawatirkan tampaknya telah dimulai.

TRRRRR....TRRR..... TRRRR

Serentak Aku dan Habibi menengadahkan kepala. Seperti ada yang makhluk yang sedang merayap di atap. Dengan suara seperti itu memunculkan bayangan bahwa makhluk itu berkaki banyak. Hilir mudik di atas atap bangsal tempat Anas berada. Suara itu jelas bukan suara tikus atau kucing yang suka bermain di atap atau langit-langit bangunan. Mereka tidak mungkin menimbulkan suara seperti makhluk merayap seperti itu. Tatapan Habibi seketika berubah tegang. Berulang kali menelan ludah. Dzikirnya beberapa kali mulai keseleo. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat tanpa sebab.

“Lastri..... Lastri...”. Anas tiba-tiba bersuara. Mengigau dengan suara pelan. Slamet yang terkantuk jadi terbangun mendengar suara Anas. Melihat Aku dan Habibi yang memperhatikan langit-langit, Slamet pun jadi turut melihat ke arah langit-langit. Hanya saja dia malah jadi kebingungan, karena tidak dapat melihat apa pun di atas sana

“LASTRI !!!... LASTRI!!.... “, Anas mulai menjerit-jerit dalam posisi tidur. Tubuhnya mulai bergerak meronta. Habibi dan Slamet langsung berusaha menenangkan nya

“Nas... Nas sadar Nas... bangun Nas.....nyebut Nas.....”. Slamet berusaha memegangi tubuh Anas, sementara Habibi berusaha menenangkan Anas dengan membaca doa sambil memegang kedua tangan nya.

HIHIHI... !!

Aku yang sejenak kemudian hendak membantu dikagetkan dengan sebentuk suara dari atas bumbungan. Reflek menengadahkan kepala ku lagi ke arah sumber suara itu. Aku lihat kepala Lastri menyembul menembus langit-langit bangsal, seperti kepala yang menggantung terbalik di atas sana. Mulutnya menyeringai dengan tatapan melotot mengerikan. Seolah mengejek ke arahku. Tiba-tiba Lastri mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Menyembur seperti menembak kan sesuatu dari mulutnya. Dengan reflek cepat Aku menghindar dan menyondongkan tubuhku ke samping. Sekilas Aku melihat benda yang berasal dari mulut Lastri itu. Bentuknya seperti Laba-laba hitam kecil.

Tapi rupa nya Aku salah mengira. Laba-laba hitam kecil itu ternyata bukan ditujukan buatku. Tembakan itu malah tepat mengenai bawah mulut Anas. Laba-laba kecil itu kemudian dengan cepat merayap dan masuk ke dalam mulut Anas yang terbuka. Saat laba-laba kecil itu masuk ke dalam tubuh Anas, Anas tiba-tiba langsung membuka mata nya dan mendelik. Saat mendelik mata nya terbalik penuh. Hanya menyisakan bagian putih nya saja. Anas tiba-tiba langsung berontak sejadi-jadinya. Kekuatan nya mendadak menjadi luar biasa. Anas dengan keras mendorong tubuh Habibi sampai terpelanting dan terjengkang jauh. Tanpa jeda kemudian mencengkeram leher Slamet dan mengangkat tubuh Slamet dengan satu tangan kanan nya tinggi-tinggi. Slamet jelas panik dan meronta-ronta memegangi leher nya. Selain kesakitan karena lehernya dicengkeram begitu rupa oleh Anas, dirinya juga menjadi sulit bernapas.

Dengan satu gerakan Anas melemparkan Slamet ke arah depan. Membuang tubuh Slamet, sampai terguling menghantam dipan yang ada di sebelah tempat tidurnya. Slamet langsung pingsan tak sadarkan diri setelah itu. Sejenak kemudian Anas dengan cepat mengambil botol air doa yang tadi diletak kan Habibi di bawah tempat tidurnya, lalu melemparkan nya ke arahku. Untung Aku masih sempat menghindar. Anehnya Anas kemudian berusaha merusak dan menghapus lingkaran garam yang Aku taburkan di sekelliling tempat tidur nya dengan kaki nya. Seolah itu tahu kalau garam itu adalah sebuah barikade makhluk halus yang telah Aku siapkan. Terlambat Aku mencegahnya. Lingkaran garam itu telah dirusaknya.

Napas Anas mendengus ke arahku. Aku tahu, Aku adalah korban berikutnya. Untungnya sesaat kemudian Habibi terbangun dan selanjutnya dengan cepat memegangi dan mengunci lengan Anas dari belakang. Habibi lalu mulai membaca ayat kursi dengan susah payah. Yang ternyata malah membuat Anas semakin mengamuk. Mau tidak mau Aku harus cepat membantunya.

Energi bioplasmik dengan cepat Aku fokuskan melapisi lengan, supaya Aku bisa menarik energi jahat yang merasuki tubuh Anas. Baru saja hendak memulainya tiba-tiba pintu bangsal terbuka seperti tersentak dari luar. Membuatku dan Habibi sekejap terkejut dan panik. Entah Habibi melihatnya atau tidak, tapi yang jelas Aku melihat tubuh Lastri melayang masuk dari luar pintu ke dalam bangsal. Tubuhnya menggunakan kebaya berwarna merah dengan bawahan jarik berwarna corak kuning tua. Rambut nya dibiarkan terurai panjang ke bawah. Raut wajahnya pucat. Matanya terus mendelik lebar dengan senyum mistis yang mendirikan bulu roma. Dan bagi ku itu bukan sebuah senyuman, tetapi sebuah seringai hewan buas yang menakutkan.

“Mas Anas.... Ayo Mas ikut Lastri.... Lastri sudah kangen, ingin cepat sama-sama Mas Anas......”. Lastri mulai mengeluarkan rayuan nya. Membuat Anas semakin menggila dan liar. Suara rayuan nya terdengar bagaikan gaung mistis yang menggema dari dinding bangsal.

“LASTRI !!!... LASTRI !!! Aku mau ikut Lastri !!!.... Jangan tinggalkan Aku Lastri !!!..... LASTRI !!!...”. Habibi sampai benar-benar kewalahan memegangi Anas. Kekuatan Anas mendadak berubah menjadi luar biasa. Sempat Aku bingung untuk memutuskan. Apakah membantu Habibi menenangkan Anas, atau kah menghadapi Lastri?

Tanpa banyak panjang Aku membatalkan fokus energi bioplasmik melapisi lengan, langsung mengubah haluan memulai pernapasan dalam. Membentuk pusaran energi sebesar bola kasti berwarna biru putih di telapak tangan. Tidak lupa dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Cepat kemudian pusaran energi itu Aku lemparkan ke arah Lastri dan telak mengenai kepala nya. Tubuhnya sempat terhuyung-huyung. Hampir saja jatuh ke belakang. Bola energi ku barusan membuat sebelah kepalanya hancur, dan hanya menyisakan sebelah kepala nya lagi. Penampakan nya sekarang jadi lebih menakutkan dari sebelumnya

AAUUUUAAAAAAHHHHH !!!!

Lastri meraung panjang. Entah kesakitan atau marah karena seranganku. Sempat dengan satu mata dari belahan kepala yang tersisa melihatku dengan tatapan marah.

“BOCAH KURANG AJAR !!!....”. Lastri memaki ku. Tapi makian nya justru membuatku makin siaga. Kembali fokus pada pernapasan dalam dan membentuk bola pusaran energi bola astral di telapak tangan ku. Kali ini Aku siap dengan dua bola astral, masing-masing satu dari kedua telapak tangan ku. Ini harus cepat diselesaikan. Jika Lastri bisa diselesaikan, akan lebih mudah menangani Anas kemudian.

“Aaachkk...”. Aku lengah, sebentuk untaian seperti jalinan tali benang warna putih tiba-tiba muncul dari arah atas. Dengan cepat menjerat leherku kuat. Aku berusaha menarik tali jalinan benang itu dan melonggarkan nya dari leherku, tapi tali itu malah terasa makin kuat mengikatkan simpulnya di leherku. Seperti mencengkeram dan tidak akan sedikitpun membiarkan ku lepas. Ternyata dari arah atas sesosok makhluk menyerupai laba-laba raksasa berwarna hitam menyelinap masuk. Tubuh laba-laba itu berwarna hitam dan berbulu, dengan 4 kaki di masing-masing samping kiri dan kanan tubuhnya yang juga ber bulu hitam. Tali jalinan benang putih atau jaring laba-laba yang menjerat leherku berasal mulut makhluk itu. Tampak olehku kepala makhluk itu seperti kepala wanita tua serupa Mak Lampir. Dengan tatapan buas terus menarik tali jaring laba-laba yang menjerat leherku.

Otomatis tubuhku mulai terangkat perlahan dari tempatku berpijak. Kaki ku meronta-ronta di atas tanah. Tanganku berusaha melepaskan jeratan jaring laba-laba dengan segala cara, tapi sepertinya sia-sia. Aku mulai kehabisan napas. Semakin kencang gerakan ku, semakin habis napasku. Semakin panik pula Aku meronta, yang malah membuat tenaga dan napasku makin habis. Aku berusaha mengambil udara dan menghirup udara sebanyak-banyak nya. Tetapi udara itu tidak bisa memasuki jalur napas karena tenggorokan ku tercekik. Aku berusaha berpikir bagaimana membebaskan diri dari jeratan tali jaring laba-laba ini, tetapi rasanya tidak ada waktu. Nyawaku sudah di ujung ubun-ubun. Sementara Aku lihat Habibi malah terlibat perkelahian dengan Anas. Anas yang berontak malah berusaha menyibukkan Habibi dan menyerangnya dengan ganas

Diafragma tubuhku mulai tertarik ke atas. Tanda tubuhku berusaha keras mencari suplai udara. Aku merasakan sakit yang hebat disekujur tubuhku. Kepala ku serasa mau pecah. Tanda otak ku sudah sangat kekurangan oksigen. Lidahku sampai tertarik keluar dengan sendirinya. Aku tidak bisa lagi mengontrol diriku. Diriku bergerak sendiri. Berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Tidak mau lagi mematuhi pikiranku. Baru kali ini Aku merasakan penderitaan yang begitu hebat. Mungkin seperti ini lah yang dirasakan Lastri ketika dia menggantung diri di Mess. Begitu menderita dan sakit.

“Sekarang Kau rasakan apa yang Aku rasakan dulu Bocah......”. Lastri menyumpahiku dari bawah. Wajahnya yang tersisa separuh itu tampak puas. Senyumnya menertawai diriku yang masih berusaha. Sepertinya sebentar lagi, dia tidak hanya akan mengambil Anas tetapi juga mengajak ku ke alam sana.

Sampai pada satu titik tubuhku seperti menyerah. Kesadaranku perlahan hilang. Tubuhku pelan-pelan mengendur melemas. Tidak ada tenaga lagi. Perlahan gerakanku melambat dan hanya menyisakan gerakan-gerakan kecil seperti mengejang. Mata ku terbuka lebar, dan Aku masih bisa melihat sekelilingku. Lastri tertawa keras di bawah sana. Habibi hanya bisa pasrah dipukuli oleh Anas.

Kesadaranku perlahan hilang. Aku tidak mampu lagi bahkan mengangkat leherku yang tertunduk menyamping ke bawah. Tubuhku sesaat kemudian seperti dialiri listrik. Aliran listrik itu seperti mengalir keluar dari ujung kaki, merambat dari tubuhku ke arah luar. Mungkin ini lah proses keluar nya nyawa dari tubuh. Rasanya lambat dan halus. Tidak seperti yang ditakutkan orang, berat dan menyiksa.

Saat diantara hidup dan mati itu, tiba-tiba Aku merasakan jaring laba-laba yang menjerat leherku terputus. Seperti ada yang memotong nya dari atas. Tubuhku meluncur ke bawah. Aliran listrik yang keluar itu seakan kembali berbalik mengisi tubuhku dengan cepat. Membuat kesadaranku sedikit pulih. Tubuhku tergeletak menatap langit-langit bangsal. Sekilas Aku melihat samar-samar seperti sesosok tubuh kecil dengan gagah berani bertarung dan berkelahi dengan makhluk laba-laba raksasa itu di langit-langit bangsal. Menariknya dari atap bangsal dan membanting nya ke bawah.

Sosok bayangan kecil itu, tubuhnya nya memancarkan cahaya terang keemasan. Perawakan nya seperti anak laki-laki berumur sekitar 6 tahun. Gerakan nya cepat dan gesit. Secepat kilat dengan brutal menarik dan mematahkan kaki-kaki laba-laba raksasa itu. Walaupun bertubuh kecil ternyata kekuatan nya luar biasa. Laba-laba raksasa itu hanya bisa mendesis-desis panik kesakitan. Berusaha melarikan diri tanpa daya. Sampai akhirnya sosok kecil itu memiting lalu memuntir kepala laba-laba raksasa sampai terpisah dari tubuhnya. Kepala Laba-laba raksasa yang berwujud seperti kepala nenek-nenek tua berambut panjang itu lalu dilemparkan nya ke tanah, kemudian diinjaknya sampai hancur berkeping-keping.

Aku lihat sosok Lastri juga lama-lama berubah, cahaya putih melingkupi tubuhnya. Sebuah jaring laba-laba putih yang mengikat di lehernya berbentuk kalung juga perlahan menghilang. Lastri Aku lihat lalu keluar dan melarikan diri dari tempat itu. Sosok bayangan kecil itu Aku lihat malah ikut mengejar Lastri keluar, seolah tidak ingin membiarkan nya lepas pergi begitu saja.

Tubuhku terasa lemas. Kesadaranku perlahan hilang. Aku hanya sempat melihat Anas juga tergeletak tak sadarkan diri, sementara Habibi berusaha menekan bel perawat dan memanggil suster untuk segera datang ke bangsal itu. Pandanganku setelah itu gelap. Aku bisa merasakan tubuhku diangkat ke atas dipan. Aku juga bisa mendengar suara-suara panik disekelilingku, tetapi Aku sama sekali tidak bisa membuka mata. Badanku pun perlahan melemas, lalu akhirnya tertidur. Rasanya lelah sekali. Selain terlalu banyak mengeluarkan tenaga, Aku juga kurang tidur.

Dalam mimpi Aku bermimpi bertemu Lastri. Dalam linangan air mata dan memelas dirinya memohon pada ku agar dimaafkan.

“Maafkan Saya Mas... Saya mohon ampun... Saya tidak akan mengganggu lagi....”. Lastri bersimpuh dan memeluk kaki ku. Sungguh-sungguh mohon ampun. Air mata nya jatuh membasahi kaki ku.

“Saya salah Mas, terbawa emosi dendam. Seharusnya waktu hidup Saya juga tidak terlalu gampang terbawa perasaan dan menyerahkan tubuh Saya pada laki-laki. Ini juga karena Darsuni, siluman laba-laba itu. Dia memanfaatkan jiwa Saya untuk mencari tumbal bagi nya. Sekarang Saya sudah bebas dari dia Mas, Saya janji Saya akan pergi dari Mess itu dan tidak akan mengganggu lagi”. Aku menghela napas lega. Tidak menyangka akan ada akhir seperti ini. Ya sudah lah, mungkin memang sudah diatur harus seperti ini.

“Pergilah Mbak.... Mbak sudah bebas sekarang. Nanti Saya kirim doa buat Mbak....”. Tangis Lastri makin kencang. Pelukan nya makin erat di kaki ku. Tangan ku lalu membantu nya berdiri dan menegak kan tubuhnya. Isaknya menandakan penyesalan sekaligus juga perasaan lega karena dirinya telah dimaafkan.

“Sudah Mbak jangan menangis lagi ya.... Hilangkan seluruh dendam dan kesedihan yang membebani Mbak. Jika memang Mbak masih harus berada di sini, yang penting Mbak jangan mengganggu. Sebisa mungkin tidak berurusan lagi dengan manusia”. Tangan kananku memegang pundaknya. Spontan mengucapkan doa bagi nya. Ya Tuhan Allahku, berikanlah rahmat dan maaf Mu bagi nya. Supaya dia beroleh ketenangan dan tidak mengganggu manusia lagi. Semoga seluruh makhluk berbahagia. Kau lah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Penuh belas kasih dan penuh ampunan.

Seketika tubuh Mbak Lastri bersinar terang dilingkupi cahaya keputihan. Wajahnya yang pucat juga jadi lebih cerah.

“Terima kasih Mas.... terima kasih.....”. Aku hanya mengangguk. Lastri lalu pamit dan berjalan berbalik arah dari arahku. Dalam mimpi ku itu Aku melihatnya berjalan ke arah sinar putih dan menghilang di kejauhan. Ada rasa kedamaian yang merayapi hatiku menyaksikan nya. Suasana begitu hangat dan menyentuh.

Saat tersadar dan terbangun dari tidur, Aku mendapati diriku sudah berada di bangsal yang berbeda dengan Anas. Aku merasakan tubuhku sudah membaik. Kesadaranku juga sudah sepenuhnya pulih. Ternyata hari sudah siang, dan matahari sudah bersinar terik. Lama juga ternyata Aku tertidur. Aku lalu berjalan ke bangsal tempat Anas di rawat. Di sana ternyata sudah ada Anas, Slamet dan Habibi. Baru kali itu Aku lihat Anas mengobrol dengan Slamet dan Habibi. Berarti keadaan Anas memang sudah kembali normal.

Diubah oleh jeniussetyo09
akhirnya update
keren mas yus, lanjutkan lagi ceritanya..
update jugaemoticon-excited
Lanjoetkan mas yus
Waaa... Mantab mas yus...
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 12
awesome
akhirnya...
Horeee... Mas yus strike back ,. Seru bgt part trkhir,. Jd penasaran anak kecilnya sapa ya? Apa naganya bereinkarnasi jd anak kecil??? emoticon-Ngakak
Quote:


Sabar gan Yus,
Ada aja reader yg begitu.
Mungkin dia reader baru.

Kalo fans gan Yus pasti tau dari thread yg pertama jadwal update gan Yus itu ga pasti.
Karena sibuk di RL.

Yg sabar ya gan Yus,
Banyak reader yg setia & selalu nunggu karya gan Yus
Diubah oleh sayabaik46
Quote:


Pliss mas yus jangan pindah dari kaskus dong.. kita2 yg pembaca setia dari jaman jebot sabar nungguin update nya kok..

selalu mantauuu.. lanjut breee
Quote:


masak demi kepuasan seorang mengesampingkan kepuasan orang banyak mas yus. kita yang masih setia menunggu threat e sampeyan mas yus. ga pernah mengeluh karena jadwal updet uda sampeyan planning mas yus.
btw ki mas yus udan beberapa jam energi ne pripun mas yus ada pengaruh dr dunia sebelah?


Quote:


Ada, ada naga dari selatan dan dari timur menari-nari di atas sana
Quote:


maaf kan lah saya, maksud ane setidaknya meninggalkan kabar walaupun tak update. emoticon-Nyepi
Diubah oleh Rezkiller
Quote:


iyaaa mas yus semoga cpt selesai nari nya. siap mas yus . ga ada negatif dr utara kan mas?


Quote:


sabar mas, yg bgtuan biasa d forum mari, biasa ny reader br mas
kita para reader langganan udah hafal kapan ts apdet, g pernah nagih2
Halaman 22 dari 153


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di