alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS punya fitur baru: MENTION! Berkomunitas jadi makin seru! Cekidot!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
4.64 stars - based on 156 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 115 dari 153
Quote:


Sipilis dong
DMI 3 - Not Alone


“Mas nya muridnya Pak Sam juga?”. Sebentuk suara dari arah belakang mengagetkan ku. Sesosok laki-laki dengan postur tidak jauh berbeda dari ku tampak berdiri di belakangku dengan senyum ramah. Rambutnya keriting pendek rapi, dengan kulit cerah. Hidungnya mancung, dan sebentuk kumis tipis malu-malu menguntai di atas bibirnya. Satu hal yang membuatku kaget, dirinya bisa melihat keberadaanku yang berwujud sukma ini. Saat memperhatikan lebih jauh, Aku melihat ada kesan tubuhnya transparan. Orang yang dihadapanku saat ini sedang melakukan hal yang sama sepertiku.

“Sampeyan bisa Ngrogo Sukmo juga?”. Aku bertanya setengah tidak percaya. Baru kali ini Aku bertemu dengan orang yang bisa sama-sama melakukan Ngrogo Sukmo. Pemuda yang ada dihadapanku hanya tertawa kecil menanggapinya.

“Ilmu itu bukan hanya Sampeyan yang bisa Mas. Banyak yang bisa, Kakek Saya juga bisa....”. Jawab Pemuda itu sambil terkekeh. Jawaban Pemuda itu menunjukkan karakter nya yang khas. Karakter yang mengingatkan ku pada SMA ku dulu, yang hanya bisa kutemui pada teman-teman sekolahku dulu. Jawaban itu sama sekali tidak membuatku tersinggung, malah merasa sangat akrab dan familiar.

“Iya Mas, Saya muridnya Pak Sam juga. Saya angkatan 01”, akhirnya Aku menjawab pertanyaannya itu. Pemuda itu lalu mengulurkan tangan nya ke arah ku, dan kami pun berkenalan.

“Panggil saja Prabhu....”. Aku pun menjabat tangan nya erat. Baru kali ini Aku berkenalan dan menjabat tangan seseorang dalam kondisi melakukan proyeksi astral atau ngrogo sukmo. Rasanya tidak jauh berbeda dengan berjabat tangan dalam kondisi biasa. Hanya saja terasa sentuhan tangan nya lebih dingin dan lebih ringan.

“Mas nya ndak masuk ke dalam?”. Prabhu menawarkan kepada ku untuk masuk ke dalam. Aku kembali teringat pada kekhawatiranku barusan. Aku khawatir kalau ternyata Pak Sam telah tutup usia. Namun suara gelak tawa dari dalam Ndalem Saminotaman membuatku menarik napas lega. Pak Sam tampak sedang berbicara dengan penuh semangat di hadapan banyak orang yang semuanya adalah laki-laki. Tampak mereka dengan antusias mendengarkan wejangan dan ajaran yang diberikan oleh Pak Sam. Sambil sesekali mereka saling ledek dan bercanda ramai. Tidak ada suasana duka yang menjadi sangkaanku, yang ada hanya suasana ceria yang penuh canda tawa. Pantas saja di luar banyak sekali motor.

Pak Sam walaupun sudah tua dan renta, tampak masih bersemangat mengajar dan memberikan wejangan. Masih dengan gaya nya yang slengekan dan gemar bercanda. Tidak kalah pedas balas meledek murid-muridnya yang berusaha menggoda dan meledeknya. Sejenak Aku larut dengan pemandangan itu dan sejenak melupakan masalah yang ada di kepalaku. Tanpa sadar Aku tersenyum menyaksikan itu semua.

“Setiap sebulan atau dua bulan sekali biasanya bekas-bekas murid Pak Sam, alumni sekolah dulu berkumpul di rumah Pak Sam untuk ngangsu kawruh (red- menimba ilmu) seperti ini Mas. Mereka yang tertarik pada kebudayaan, mistis dan kebatinan atau sekedar ingin temu kangen dengan Pak Sam biasanya akan datang dan berkumpul di sini”. Prabhu yang ada disebelahku menjelaskan pemandangan yang Aku lihat. Aku memang tahu kalau bekas-bekas murid Pak Sam memang kerap mendatangi rumah Pak Sam. Tetapi kalau berkumpul dan mengadakan pertemuan rutin seperti ini Aku baru tahu.

“Kalau Mas lihat, tidak semua nya murid-murid yang hadir di sana hadir secara fisik lho...”. Aku sempat sedikit terperangah mendengarnya. Namun ketika memperhatikan lebih teliti lagi ke dalam, Aku melihat beberapa orang tampak memiliki tubuh yang lebih transparan dan seperti bayangan hologram. Mereka hadir dalam wujud proyeksi astral.

“Bagaimana mungkin?”. Aku masih tidak percaya dengan apa yang Aku lihat. Apa yang Aku lihat benar-benar membuat pikiranku terbuka. Ada sesuatu yang tidak pernah Aku sangka dan pikirikan sebelumnya.

“Pak Sam sudah mengajar di SMA kita selama belasan bahkan puluhan tahun. Selama kurun waktu itu, berbagai macam murid yang ditemuinya. Termasuk beberapa orang yang punya kondisi yang tidak biasa”. Pikiranku seketika terbuka mendengar kata-kata Prabhu. Benar juga kata Prabhu. Tidak mungkin dalam kurun waktu selama itu, Pak Sam tidak bertemu dengan murid-murid yang punya masalah yang sama seperti diriku dulu. Pasti sudah begitu banyak orang-orang sepertiku yang telah dibantu nya . Aku hanya salah satu dari sekian banyak muridnya yang diasuhnya, dan dari sekian banyak muridnya itu pasti ada juga yang mengalami kondisi yang sama denganku.

“Ayo masuk Mas. Kita gabung ke dalam.....”. Prabhu mencoba mengajak ku sekali lagi.

“Saya malu Mas....”. Aku spontan mengakui kegelisahanku di hadapan Prabhu. Kepalaku tertunduk ketika teringat seluruh perjalananku bersama Pak Sam.

“Lho? Malu kenapa Mas?”. Prabhu malah heran melihatku yang tiba-tiba jadi melow begitu rupa.

“Saya malu Mas. Karena setiap ada masalah, Saya pasti selalu datang kepada Pak Sam. Padahal beliau sudah tua. Padahal seharusnya Saya bisa menyelesaikan masalah Saya sendiri. Saya tidak pantas jadi murid beliau”. Kata-kata itu spontan terucap. Sesuatu yang selama ini Aku pendam sendiri. Aku hanya menatap kosong ke bawah. Tak mampu mengangkat wajahku.

“Kenapa harus malu Mas? Mas nya nggak sendiri kok. Banyak murid-murdi Pak Sam yang datang dan selalu meminta bantuan beliau. Dan beliau juga tidak pernah menolak. Selama karakter dan sikap kita tidak berubah. Beliau tidak akan marah. Selama kita ingat bagaimana karakter kita dibentuk, dia akan tetap menerima kita”. Aku tertegun mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu seperti embun sejuk yang menyentuh sudut-sudut hati. Menyadarkanku dari sikap dan pikiran yang terlalu berlebihan.

Aku seharusnya tahu Pak Sam tidak pernah menolak ku saat ada kesulitan. Dirinya tidak akan pernah menolak siapa pun yang datang, selama yang datang hadir dengan sikap jujur, memiliki integritas dan bertanggung-jawab. Suatu sikap dan karakter yang selalu ditanamkan oleh SMA tempat Aku bersekolah dulu, sehingga murid-muridnya selalu memiliki pegangan dalam menjalani kehidupan ini. Pak Sam hanya akan marah kalau murid-muridnya kehilangan karakter jujur, menghindar dari tanggung jawab, dan kehilangan integritas.

“Dulu Pak Sam juga membantu Saya Mas. Semenjak kecil Saya bisa melihat makhluk-makhluk yang tak kasat mata. Bahkan semenjak kecil Saya selalu melihat sosok dengan pakaian seperti Prajurit jaman dulu dan membawa tombak, yang selalu mengikuti Saya dari Saya lahir. Apalagi di rumah banyak pusaka-pusaka seperti keris dan tosan aji. Saya bisa lihat semua isinya. Ada Macan, Ada Resi Tua, Ada makhluk seperti raksasa, bahkan ada yang isinya seperti burung Garuda besar. Untungnya Saya ketemu Pak Sam. Beliau mengajarkan banyak hal pada Saya. Sampai akhirnya Saya mengerti semuanya. Bahwa yang nama nya hantu atau makhluk halus itu hanya remah-remah. Dan hanya sebuah lingkup kecil dari dunia astral. Bahwa apa yang bisa Saya lihat dan Saya ketahui lingkupnya sangat luas, bahkan tak terbatas. Bahkan sampai bagaimana dunia astral bisa terhubung dengan alam manusia......”. Aku mendengarkan cerita Prabhu sambil merenung. Rasanya seperti bernostalgia ke jaman dulu. Ke masa dimana awal-awal Aku mengenal Pak Sam dan banyak dibimbing olehnya.

“Dirinya selalu mengingatkan Saya, bahwa Saya bahwa Saya punya tugas. Tugas yang mau tidak mau Saya harus terima dan jalani. Sebuah peran yang sudah digariskan sebagai orang yang punya kemampuan yang tidak biasa. Tinggal kita nya sendiri mau menjalani peran itu atau tidak Mas”. Cerita Prabhu membuka lembaran-lembaran ingatan ku akan Pak Sam. Justru ketika Aku berada dalam titik kritis, alam justru mengingatkanku dengan mengembalikan pikiranku pada masa-masa awal perjuanganku dulu.

“Dan Pak Sam tidak pernah tanggung-tanggung dalam mendidik muridnya. Kita tidak pernah dididik menjadi orang tanggung. Bahkan dalam dunia mistis dan supranatural sekalipun......”. Kata-kata Prabhu kembali menohok pikiranku. Isi kepalaku seperti terbuka. Ada bagian yang terjawab. Pak Sam selalu hadir dalam setiap pencapaian mistis dan perjalanan supranaturalku. Bahkan ketika diriku terhubung dengan Penguasa Utara dan menjadi Senopati, Pak Sam ada hadir dan terus mendampingiku. Itu adalah sebuah pencapaian di bidang mistis dan Supranatural yang bisa Aku raih sampai saat ini. Apa yang terjadi pada ku sekarang bisa dibilang sebenarnya adalah sebuah pencapaian. Dan seperti halnya semakin tinggi pencapaian itu, semakin besar pula tanggung jawabnya. Sebuah hal lumrah yang tidak dapat dihindari.

“Tetapi Pak Sam dulu sudah pernah menolak untuk menyelesaikan masalah Saya ini Mas....”. Aku lalu menyampaikan pada Prabhu bahwa maksud kedatanganku, adalah ingin bertanya bagaimana cara menghilangkan kemampuan ku ini. Karena Aku sudah tidak sanggup lagi untuk hidup dan menjalani kehidupan seperti ini. Satu sisi ini memang pencapaian, tetapi tantangan yang harus dilalui membuatku ingin melepaskan semuanya. Berat rasanya menanggung semua ini.

“Kenapa tidak coba tanyakan sekali lagi pada Pak Sam Mas? Setidaknya biar Mas nya lega. Kadang memang ada kalanya kita seperti ingin menyerah. Saya pun sering datang ke Pak Sam. Dulu Saya pernah hampir celaka karena berurusan dengan mustika keluarga yang berisi Buaya Putih. Untung Pak Sam mau membantu dan menolong. Walaupun waktu itu dirinya sampai harus sampai masuk rumah sakit karena patah tulang kaki. Tetapi dia tidak pernah mengeluh. Bahkan sampai sekarang. Walaupun Saya tetap datang dan kadang membawa masalah, Pak Sam tetap terbuka membantu dan menolong seperti biasa”. Prabhu terbuka menceritakan pengalaman nya bersama Pak Sam. Pengalaman yang mirip dengan pengalamanku dulu. Aku memetik sesuatu dari pengalaman Prabhu dengan Pak Sam, bahwa Pak Sam tidak pernah mengeluh seberat apapun tantangan yang dihadapi nya. Terutama apabila menyangkut murid-muridnya. Pak Sam juga tidak pernah menyerah.

Aku jadi malu sendiri untuk menemui Pak Sam. Apalagi sampai meminta nya kali ini untuk memberitahu bagaimana cara mencabut seluruh kemampuan yang kumiliki ini. Kalau Pak Sam saja tidak pernah menyerah, kenapa justru Aku harus menyerah? Kalau Pak Sam bisa kenapa Aku tidak? Aku jadi tahu harus melakukan apa.

“Sampaikan saja salam saya pada beliau Mas. Beliau sudah terlalu banyak membantu Saya. Sampaikan padanya Saya mohon restunya untuk menyelesaikan masalah ini. Saya tidak ingin merepotkan beliau”. Akhirnya Aku memutuskan untuk menghadapinya. Apa pun yang terjadi. Berhasil atau tidak Aku cuma bisa pasrah dan berusaha. Prabhu tampaknya paham dengan keputusanku. Tahu kalau Aku tidak bisa dipaksa

“Baik Mas, akan Saya sampaikan pada beliau. Jangan pernah lupa Mas, kalau Mas sebenarnya tidak pernah sendiri....”. Kata-kata Prabhu membuatku tersenyum. Sedikit memompa kembali semangat yang sempat drop.

“Kapan-kapan kalau nanti ke Jogja, silahkan mampir ke rumah Saya Mas....”. Sebelum berpisah Prabhu sempat berpesan kepada ku.

“Memang rumah Mas Prabhu dimana?”, tanyaku kemudian.

“Sebelahnya persis Sasana Hinggil Dwi Abad Mas....”, Prabhu memberiku ancer-ancer petunjuk rumahnya. Sejenak kemudian Aku merenung dan terdiam. Setahuku tidak ada rumah di sebelah Sasana Hinggil Dwi Abad. Sebetulnya ingin Aku memastikan lagi, namun Prabhu Aku lihat sudah terlanjur berjalan masuk ke dalam pelataran Ndalem Saminotaman.

Aku sempat agak lama memperhatikan ke dalam. Suasana bersemangat, suasana yang ceria, suasana yang akrab. Penuh gelak tawa. Sesuatu yang lama tidak Aku rasakan. Kesibukan dan kehidupan ku di Ibu kota menyita semua nya. Rindu rasanya merasakan suasana dan atmosfer yang hangat seperti itu. Kembali ke suasana masa-masa sekolah dulu. Aku sadar mungkin Aku hanya lelah. Aku hanya penat. Aku hanya perlu melonggarkan segala sesuatunya sejenak, dan kembali merefleksikan segalanya dari awal proses dulu sampai dengan saat ini. Untuk kemudian naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Aku mendengar dari dalam terdengar semua yang hadir menyanyikan lagu Mars sekolahku dulu. Terdengar lantang membahana tanpa keraguan, dengan sikap mengepalkan tangan di dada. Bagai lagu Pasukan Perang yang dinyanyikan sebelum bertarung ke medan laga. Tanpa sadar Aku larut turut menyanyikan lagu itu.

Bagi Tuhan dan Bangsakuu...

Keesokan hari nya, setelah pulang kantor di Sore hari, Aku kembali bertemu Yowan. Kali ini Yowan yang sengaja mendatangiku. Aku memilih sebuah Cafe di daerah Tjikini yang terkenan dengan minuman kopinya di seberang Mall Menteng Heuis. Bangunan Cafe itu merupakan bangunan lama. Perkiraanku sudah ada semenjak jaman Belanda. Daerah Tjikini dan Menteng pada masa kolonial dulu memang sebenarnya adalah daerah khusus pemukiman orang-orang Hindia Belanda di Batavia. Sebuah Residensi yang ketat dan eksklusif khusus orang-orang Belanda, atau Priyayi terpilih yang punya hubungan dengan pejabat-pejabat pemerintahan Belanda. Mereka tinggal di sana.

Sementara daerah Gambir, Taman Banteng, Jalan Proklamasi, sampai dengan Jalan Gajah Mada, Mangga Besar sampai kota tua, pada jaman dulu adalah wilayah perkantoran yang padat. Sama hal nya seperti Jalan Sudirman sekarang.

Sedangkan pusat perniagaan ada di daerah seputar Senen dan Pasar Baru, sampai kantor Pos Pusat Lapangan Banteng. Daerah perniagaan lebih banyak didominasi oleh golongan pribumi dan golongan yang dipersamakan dengan Pribumi seperti golongan tionghoa, arab, atau india. Golongan pribumi rendah yang tinggal di sana lebih banyak menjadi buruh, kuli angkut dan tenaga kasar, sedangkan golongan tionghoa, arab dan india mendominasi perniagaan.

Hal ini berdampak pada astral dan residual energi yang ada didaerah-daerah tersebut. Tidak heran kalau, di cafe di daerah Tjikini itu, daerah seputaran Menteng dan Gedung Joeang, banyak terlihat makhluk astral berwujud Noni-noni, dan orang Belanda. Tidak jarang beberapa tampak berpenampilan seperti prajurit dan tentara Belanda. Sedangkan di daerah Istiqlal, Pasar Baru, Gunung Sahari dan Senen lebih banyak didominasi oleh astral-astral dengan penampilan wajah mirip orang tionghoa, pakistan atau arab.

Di Cafe tempat Aku dan Yowan bertemu sendiri ada terlihat pemandangan beberapa Noni Belanda. Namun para Noni itu tampak seperti bersembunyi di balik pintu atau mengintip di balik jendela karena melihat Arya. Ada rona merah di pipi mereka seakan tersipu. Mungkin gemas melihat penampilan Arya yang unyu imut, dan ingin mencubit pipinya. Namun mereka sungkan melihat Yowan yang melotot memandang galak ke arah mereka. Mata Yowan seolah mengingatkan mereka supaya jangan coba-coba mendekat ke arah Arya.

“Kamu mau pindah? Sepertinya kurang nyaman ya di sini?”. Aku menawarkan pada Yowan. Yowan Aku lihat hanya menghela napas panjang berulang kali.

“Aku juga baru kali ini ke sini Yus. Baru tahu kalau disini ternyata banyak Noni-noni Belanda.....”. Mata Yowan memutar memperhatikan sekeliling. Ada sedikit perbedaan antara kemampuanku dan Yowan. Mata Ketiga Yowan tidak seperti milik ku yang bisa Aku kendalikan dan buka tutup semauku. Mata Ketiga nya terbuka secara permanen. Wajar kalau dirinya bisa melihat semua yang ada di Cafe itu.

“Terus bagaimana? Mau pindah?”. Aku kembali menawarkan. Aku lihat Yowan malah tersenyum lebar.

“Nggak usah Yus, lagian Aku Cuma penasaran. Dari tadi Cuma kelihatan Noni-noni Belanda doang. Kira-kira Om-om Belanda ganteng nya pada kemana ya?”. Gantian Aku melotot tidak rela ke arahnya. Sedangkan Yowan malah dengan seenaknya menjulurkan lidah ke arahku. Ingin rasa nya Aku menjitak kepala nya saat itu. Sedangkan Arya hanya menatap polos ke arah ku dan Yowan seperti biasa. Kurang bisa menangkap apa yang dibicarakan.

Pelayan cafe datang membawa kopi yang kami pesan. Bau kopi harum semerbak dihadapanku dan Yowan. Yowan memesan kopi racikan campuran blend Arabica dan Robusta, sedangkan Aku memesan campuran blend Toraja dan Robusta. Untuk Arya Aku memesan campuran blend kopi Gayo dan Arabica. Arya tampak senang sekali dengan kopi. Berulang kali menghirup aroma kopi dan menghisap saripatinya. Tampak sangat menikmati sekali. Anehnya kopi yang dihirupnya tampak turun beberapa senti ke bawah. Seolah kopi itu benar-benar sedang diminum oleh Arya. Padahal Arya tidak pernah meminum kopi itu secara langsung.

“Dia suka kopi ya?”. Aku sempat bertanya kepada Yowan. Penasaran meiihat Arya yang tampak sangat doyan terhadap kopi

“Aku juga kurang tahu kalau soal itu Yus, mungkin karena dia memang sebenarnya Makhluk Astral. Makhluk Astral memang rata-rata doyan kopi. Mungkin karena kopi itu punya aroma dan saripati yang kuat”. Aku cuma manggut-manggut mendengar jawaban Yowan. Bisa jadi apa yang dikatakan Yowan ada benarnya. Sejenak kemudian Aku lalu teringat akan tujuan ku kemari bersama Yowan. Waktu tinggal sehari lagi. Besok sudah waktunya Aku dan Yowan berperang memimpin Pasukan Utara dan Pasukan Selatan. Tidak ada waktu lagi untuk membahas strategi selain hari ini.

“Kamu bawa yang Aku minta kemarin?”. Aku lalu bertanya kepada Yowan. Yowan lalu membuka tas tenteng Sophie Martin nya dan mengeluarkan secarik kertas. Tanganku lalu mengambil kertas itu dari tangan Yowan. Kertas itu berisi catatan Yowan, berupa daftar atau list nama-nama pasukan nya. Lengkap dengan bentuk gambaran dan kemampuan-kemampuan nya. Catatan Yowan Aku lihat cukup detail, dan setidaknya cukup buatku untuk merangkai strategi yang akan Aku gunakan untuk menuntaskan perang ini. Sejenak Aku mengamati dan memperhatikan isi dari kertas yang diberikan Yowan itu. Aku memang memaksanya agar mengenal nama dan paham tentang nama-nama Pasukan yang ada di Pasukan. Sepertinya Aku bisa segera mendapatkan gambaran langkah-langkah yang Akan segera Aku ambil.

“Oke begini strateginya.....”. Suasana pun kemudian berubah menjadi serius. Tidak bisa mundur lagi. Menang kalah itu urusan belakangan. Yang penting berusaha dulu sampai titik darah penghabisan.

Diubah oleh jeniussetyo09
yess update.
assiikkk makin seru aja nih
Mantaf gan Yus. Gk sabar nunggu endingnya.

Semoga happy ending yah.
makasih updatenya bang dud ijin nyimak sambil nyimeng :v
Diary Mata Indigo mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Selamat merayakan Lebaran. Minal Aidzin Wa'faidzin, Mohon maaf lahir batin. Jika ada salah-salah kata mohon dimaafkan. Selamat merayakan Hari Kemenangan dan Keberkahan. Semoga rahmat Allah menyertai kita semua.. Amin...
thaks om updatenya

mohon maaf lahir dan batin
Dikasih THR....updatean kekekeke
mantaaavvv jiwaaa...
Minal Aidzin wal Faidzin
mohon maaf lahir batin Mbah Yus dan semua reader DMI

pengen beli novelnya...
di Toga Mas / gramed yk ada kan Mbah ?
Quote:


Ada kayaknya... banyak yang dah dapet di sana... coba aja
Quote:


gass...bremmmm....

eh jam segini udh tutup tokonya
emoticon-Hammer2
mantap dab yus, mulai banter meneh ki update e
Quote:


Itu efek Kue Nastar sama Kue Putih Salju bro... Heheheh....
Diubah oleh jeniussetyo09
Quote:


mantap gan yus, selamat lebaran, mohon maaf lahir batin emoticon-Shakehand2
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Baru beberapa minggu lalu order via Bukalapak, walau ga ada ttd dr ms yus. Suwun ms, bukannya mantep buat temen gabut.
lnjut bang
jdi penasaran sama wujud asli nya yowan ,,, setuju bgt klo ending nya sama yowan heheemoticon-Malu (S)
Quote:


Aamiin ya alloh ya robbal alamin.. Mas yus, sebagai thr mbok bagi update mas yus
Halaman 115 dari 153


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di