CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5fd17a9f90becf5b565cdf90/sekamar-kos-dengan-quotdiaquot-2--pengalaman-tempat-kerja

Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 13
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 29 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 29 balasan
Quote:

Monggo tp awas jangan sampe ngompol ya

Quote:

Wkwkw untuk lamaran nanti ada di part part selanjutnya

Quote:

Apa bener itu sinta

Quote:

Gelar syukuran bree

Quote:

Monggo bree
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan actandprove memberi reputasi
Ada yang rewel minta di panggil pake jailangkung, misi bentar ya agan agan
Monggi @adorazoelev
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 24 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 24 balasan
Akhirnya ada seasosn 2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
2.c.b.x dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Akhirnya keluar juga.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
ningal jejak dulu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Belajar Ilmu Baru

aku yang tadinya mau menuju ruangan ku, teralihkan dan malah berjalan mendekat sosok itu untuk mencari tahu siapa dia, dan setelah aku dekati dalam jarak beberapa meter ternyata dia adalah sosok yang pernah di ceritakan oleh bu Dwi, sosok wanita penari Lengger yang sering mengganggu di area sekolah, yang sebenarnya bukan asli penghuni sekolah ini, dia sebenarnya berasal dari luar sekolah, tepatnya di sebelah utara sekolah ini yang masih menjadi sebuah perkebunan milik warga, walaupun dia dari luar lingkungan sekolah tapi dia adalah makhluk yang mendominasi tempat ini.


Bu Dwi pernah cerita kalo dia sering mengganggu dengan cara membuat objek benda bergerak, merasuki siswa, dan lain lain. Namun bu Dwi pernah berkata juga kalo dia ini sebenarnya sudah tidak bisa masuk karena disekeliling sekolah ini sudah di pagari oleh kyai dengan empat batang bambu item supaya hantu pengganggu di luar tidak bisa masuk.

Kalian pasti bertanya juga kenapa sebelum di pagari penghuni yang ada di dalam sekolah tidak dikeluarkan sekalian, bu Dwi bilang dulu pernah mau di usir semua tapi kyai yang melakukan itu berkata kalo penghuni disini sudah lebih dulu menempati dan tidak begitu mengaggu jadi di biarkan saja di sini.

Aku mulai berfikir kenapa bisa dia masuk kesini kan kata bu Dwi sudah ada pagar penghalangnya, atau rusak pagarnya ya?

Kulihat sosok wanita penari Lengger ini mulai berjalan mendekat ke arah siswi yang sedang latihan tari disana dan di iringi beberapa alunan gamelan yang dimainkan oleh siswa laki – laki, bu Retno yang sedang mengajar seni itu sedang melihat gerakan dari siswi nya dan mengoreksi setiap gerakan, sesekali juga bu Retno mengoreksi hasil gendingan yang di hasilkan oleh tabuhan siswa laki – laki.

Saat musik gamelan sedang berada di puncaknya ibarat lagu sedang di bagian reff nya, dan para siswi menari mengikuti alunan lagu tersebut, tiba tiba sosok penari Lengger itu mendekati seorang sisiwi dan terlihat seperti terhisap masuk ke salah satu siswi disana, setelah sosok penari Lengger itu masuk ke tubuh siswi tersebut, tiba – tiba siswi tersebut melakukan gerakan tari yang berbeda dengan siswi yang lain. Saat itu para siswi sedang menarikan tari Jaipong, dan salah satu siswi ini menari gerakan Lengger dengan sangat semangat, dengan mata yang melotot.

Sepontan bu Retno yang melihat gerakan siswi tersebut yang berbeda dengan yang lain langsung menegur siswi tersebut, tapi siswi yang kerasukan itu terus menari dengan semangatnya tanpa memperdulikan bu Retno yang sedang mengoreksi gerakannya.

Bu Retno menyuruh para siswa untuk memberhentikan siswi yang sedang kerasukan itu, namun tenaga yang dikeluarkan siswi itu sangat kuat, hingga siswa berjumlah lima orang berhasil di singkirkan saat mencoba memegangi siswi yang kerasukan itu, bu Retno yang melihatku disana kemudian memanggilku dan memintaku untuk membantu menenangkan siswi tersebut.

Akupun langsung berlari kearah mereka dan segera membanti siswa yang kesulitan menenangkan siswi kesurupan ini, aku langsung meminta dipanggilkan bu Dwi dan sekalian ambilkan air putih, aku di bantu oleh lima orang siswa, dua siswa memegangi tangan, dua siswa memegang kaki dan satu siswa memegangi badan siswi yang kerasukan ini.

Kulihat paras siswi ini dengan wajahnya yang masih melotot mencoba melepaskan diri dari pegangan teman temannya, aku mencoba mengeluarkan sosok yang masuk kedalam tubuh siswi ini dengan membaca sholawat Nabi sebanyak tujuh kali, sedikit berefek pada sosok ini, tubuhnya kini mulai kekurangan tenaganya, tubuh siswi ini mulai turun namun masih terus meronta untuk melepaskan diri.

Lalu aku mencoba bacakan kalimat yang diajarkan oleh bapaku untuk mengatasi orang yang kerasukan, aku membacakan kalimat “Salamu qaulan min rabbir rahim” secara terus menerus. Hingga terlihat tangan siswi ini yang tadinya sedang memperagakan gerakan tari berubah ke posisi mengepal, dan saat posisi ini aku terus membacakan kalimat yang di ajarkan bapak yaitu dengan kalimat “ya qawiyu ya matiin” sambil memaksa jarinya untuk lurus kembali ditambah dengan kalimat “Audzubillahiminassyaithaanirojim” dan meniupkan ke jari jarinya, terus berulang kali aku lakukan dan terus memaksanya untuk lurus lalu setelah berhasil meluruskan jarinya aku tiup jarinya dengan kalimat tadi.

Tak berapa lama kemudian bu Dwi dan siswa yang ku mintai tolong membawakan air putih datang.

“loh loh ada apa ini mas ryan” tanya bu Dwi padaku

“ini bu dia kerasukan” balasku menjawab pertanyaan bu Dwi

“mas sini mas air putihnya deketin sama saya” aku meminta siswa yang membawa airputih untuk mendekat padaku

“eh kamu tolong cariin botol sama ambilin bolpoin sama kertas sekalian” bu Dwi meminta salah satu siswa mencarikan barang yang diminta

Setelah air putih datang aku kemudian membacakan beberapa surat pendek seperti Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Annas. Kubacakan airputih tersebut dengan surat surat tadi, aku berniat untuk menghempaskan air tersebut ke arah siswi yang kerasukan ini karna aku lihat tubuhnya mulai melemah dan bisa menarik sosok penari tadi keluar, tapi saat aku mau menghempaskan air tersebut, bu Dwi melarangku.

“sebentar mas Ryan, tunggu botol sama alat tulisku dulu” bu Dwi melarangku

“aduh kemana sih anak tadi kok lama banget, eh kamu cepet susul anak tadi dan cepet balik kesini” perintah bu Dwi pada anak yang lain

“gini ya mas ryan nanti kalo sudah siap, mas Ryan hempas tepat di muka anak ini biar nanti saya tarik makhluknya ke dalam botol yang aku minta tadi” bu Dwi memberikan instruksi padaku.

“baik bu, siap tapi kalo bisa anaknya disuruh cepet takutnya dia balik lagi kekuatannya” desaku pada bu Dwi

Tak berapa lama dua siswa tadi sampai kembali dengan membawa barang yang di minta bu Dwi, dengan sigap bu Dwi kemudian menuliskan Rajah dan memberikan minyak wangi pada rajah tersebut lalu kemudian memasukan rajah tersebut ke dalam botol, tak disangka ternyata bu Dwi sudah siap dengan hal seperti ini.

“ayo mas Ryan kita mulai” bu Dwi memberi instruksi lagi padaku.

“baik siap bu” aku pun menghempaskan air tadi yang sudah aku bacakan surat pendek pada wajah siswi tersebut.

Reflek dari siswi kesurupan ini kemudian langsung berteriak dan berkata

“aaarrhhgggg PANASSS, PAANNAASSS” gerang siswi tersebut.

Dengan sigap bu Dwi melakukan gerakan silat dan terlihat seolah bu Dwi sedang menarik sesuatu, aku pun perlahan melihat sosok yang merasuki siswi ini sedikit demi sedikit keluar dari tubuh siswi tersebut, dan langsung diarahkan oleh bu Dwi masuk ke dalam botol yang sudah diberi Rajah tadi.

Setelah berhasil mengeluarkan sosok tadi, tubuh siswi ini langsung lemas dan pingsan, bu Retno menyuruh para siswa membawanya ke UKS untuk mendapat perawatan. Setelah itu bu Dwi mulai bertanya tanya kenapa bisa sosok itu masuk padahal sudah di pagari di bagian luar sekolah ini, bu Dwi meminta ku untuk menyuruh pak Leman mengecek pagar gaib yang dulu pernah di buat diluar sekolah, pak Leman ini juga Staff di sekolah ini.

Dan setelah di cek oleh pak Leman ternyata ada satu bambu item yang hilang, setelah tahu penyebabnya pihak sekolah kembali memanggil kiyai untuk memagari lagi, dan memberikan botol berisi makhluk tadi ke pak kiyai untuk di proses lebih lanjut.

Sepulang bekerja aku masih kepikiran tentang suara yang aku dengan di lab tadi, “Dasar sama sekali tidak ada perubahan kamu......” kalimat itu membuatku bertanya tanya apakah benar aku salah dengar atau mungkin Shinta memang masih ada di sekitarku, walau sudah hampir satu tahun tidak berkomunikasi dengan dia.

Nenek Lasmi yang sedang berjaga di depan teras melihatku pulang dengan ekspresi bingung kemudian bertanya padaku.

“ada apa Den, kok ekspresinya seperti orang kebingungan gitu” tanya nenek Lasmi padaku.

“nek apakah Shinta masih ada disekitarku, atau Aruna mungkin” tanyaku penasaran

Ya selama hampir satu tahun ini aku tidak berkomunikasi dengan Shinta dan Aruna, kalo Shinta jelas karena hubunganku tapi Aruna aku tak tau kemana dan kenapa dia juga pergi.

“oh Den Ryan masih mikirin Den Ayu Shinta, sudah lah Den sekarang Fokus dulu saja sama hidup Den Ryan, Kalo sudah waktunya pasti Den Ayu Shinta juga bakal muncul lagi” ucap nenek Lasmi mencoba menenangkanku.

“iya deh nek aku usahakan” jawabku lesu.

Sembari masuk aku mencoba mencari jalan untuk bisa lagi berkomunikasi dengan Shinta lagi, aku berfikir setidaknya walau tidak bisa melihat wujud Shinta aku pingin mendengar suranya lagi, nada kekanakan dan manjanya itu sepontan teringat di kepalaku lagi karena suara yang aku dengar di Lab tadi.

Jam masih menunjukan pukul tiga sore, sambil rebahan di kamar, aku terus memikirkan cara untuk mencari Shinta, sempat seketika aku terfikir

“andai aku bisa pergi ke alam Shinta pasti bakal mudah untuk aku melihatnya” pikirku dalam hati.

Pergi ke alam Shinta, kata ini terus terulang di pikiranku, setelah beberapa menit aku baru paham apa yang aku katakan barusan, aku langsung berencana pergi ke rumah Mbah Margono.

Setelah sholat Ashar aku pergi kerumah Mbah Margono untuk minta di ajarkan sesuatu, aku berjalan menuju ke rumah Mbah Margon, dari kejauhan aku sudah bisa melihat Mbah Margono sedang membersihkan rumput yang sudah memanjang di depan pagar rumahnya.

“sore Mbah, tumben bersih bersih sore” sapaku pada Mbah Margono

“weh yan, udah pulang kerja emang kamu” tanya Mbah Margono padaku.

“sudah mbah, eh Mbah, Ryan mau sambat dong, bersih bersihnya udahan dulu keburu ujan” pintaku pada Mbah Margono

“yaudah ayo, kenapa, Cah Cilik kok udah pingin sambat, berat banget apa kerjaanmu” tanya mbah Margono

“yo udah ayo tho, ndang masuk rumah mbah” paksaku pada nya

Akhirnya kami pun masuk ke rumah Mbah Margono, beberapa peliharaan Mbah Margono sudah akrab sekarang denganku, dari Om Wowo, sosok anak kecil di tangga dan tak lupa Ningrum juga ada disana dengan penampilan yang sangat anggun.

“selamat datang Ryan, tumben main kerumah” sapa Ningrum ramah padaku

“hehe iya ini, ada perlu dengan Mbah Margono” jawabku sopan pada nya.

Setelah menyapaku Ningrum pun berlalu pergi kedalam, namun sebelum berlalu pergi aku nampak ekspresi Ningrum ingin berkata sesuatu padaku namun dia tahan dan tidak memberitahuku. Setelah Ningrum pergi kedalam Mbah Margon mempersilahkan aku untuk duduk sambil mempersilahkan minuman untuku dan beberapa jajanan.

“walah Mbah pake repot repot, kaya nyambut tamu agung aja” candaku pada Mbah Margono

“wes tho gak papa, sama anak laki laki ku yo tak suguhke kesenangannya kan, wes gimana ada apa kok tumben sore kesini, biasanya nunggu Mbah yang kerumahmu” tanya Mbah Margono

“jadi gini Mbah, langsung aja ya, aku tu kesepian selama ini ditinggal.....” belum selesai aku bicara Mbah Margono sudah menimpali

“Shinta maksudmu, sudah nggak papa nanti kalo sudah waktunya dia akan muncul lagi kok” kata Mbah Margono sama persis dengan yang di katakan Nenek Lasmi

“tapi Mbah sepi banget nggak ada Shinta, di tambah Aruna juga nggak pernah nongol” sambatku pada Mbah Margono

“lah terus maumu gimana, mbah suruh bantu apa” Mbah Margono bertanya padaku sambil menyruput kopi

“aku pingin di ajari ilmu Ngrogo Sukmo Mbah, kan aku nggak bisa sendiri dulu Rogo Sukmo nya kan di bantu Shinta, jadi pikir ku kalo dia nggak mau menemuiku aku aja yang mampir alam dia mbah, ya walau Cuma lihat dia aja” pinta ku pada Mbah Margon

“Huss ngarang aja kamu ini, ilmu itu nggak Cuma buat mainan apalagi Cuma mau iseng liat Shinta, ilmu ini nggak bakal bekerja kalo kamu nggak ada niat khusus yang baik buat nglakuin hal baik juga” dengan sedikit kaget Mbah Margono menjawab pertanyaanku.

Aku pun hanya diam saja dengan jawaban Mbah Margono, dengan ekspresi kecewaku aku pun langsung pamit untuk pulang, aku sedikit melirik ke arah Mbah Margono dan terlihat ekspresi Mbah Margono seperti kasihan kepadaku.

Akupun pulang kerumah, sesampainya di depan rumah aku berpapasan dengan bapak yang sedang asik bermain dengan tanaman hiasnya. Bapak yang melihatku pulang dengan ekspresi sedih pun kemudian bertanya padaku.

“kenapa yan kok mukanya sedih gitu” tanya Bapak padaku

“nggak papa pak, paling kalo Ryan cerita ujung ujungnya sama kaya Nenek Lasmi dan Mbah Margono” jawabku pasrah

“memang kamu pingin apa, sini cerita sama bapak” bapak membujuku untuk bercerita

“pak Ryan tu kesepian setelah Shinta pergi Ryan pingin liat dia, ya walau Cuma sebentar, nah karena Shinta nggak mau nunjukin diri, Ryan niat pingin belajar ilmu Rogo Sukmo pak” aku menjelaskan pada Bapak

“oalah itu tho, ya sebenernya sih..... , eh udah sana masuk dulu aja, nanti abis Isya ngobrol sama bapak di depan rumah” jawab bapak ku enteng

Aku hanya bisa menurut dan masuk kerumah saja kemudian menghabiskan waktu untuk menonton televisi dan membalas chat di WA.

Tak terasa malam hari pun telah tiba, jam sudah menunjukan pukul delapan malam, sesuai janji bapak, bapak menyuruhku untuk ke teras rumah selesai sholat Isya, dan setelah aku selesai mengerjakan Sholat Isya, aku pun pergi ke teras rumah, ternyata di luar sudah menungguku ..........


profile-picture
profile-picture
profile-picture
dwex80 dan 45 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Tebakanku salah.. ternyata jin lain. Bkn shintaemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Wuah...nyambung dimari tritnya...👍👍

Edisi.komen dulu..baca belakangan...emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Akhirnya, kluar jg klanjutany...emoticon-Selamat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Parkir sik om,tak Nunggu ben akeh part e,lagi di sikaaatt....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Akhirnya ada part 2..
Semangat om ian
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Dauh nongol mas riyan...wes sehat tahemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
emoticon-Ultah dah muncul lanjutanya nih....
Ikut ndeprok di pojokan ah..... emoticon-linux2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Akhirnya yg ditunggu tunggu datang juga... Mantap!!!!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 3 lainnya memberi reputasi
Bang ryan comebackemoticon-Betty emoticon-Wow
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Akhirnya setelah 7 purnama menunggu....😀😀
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:

Jgn sebar hoax. Itu salah satu tindakan kurang terpuji.
emoticon-Mad
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi

Penunggu Jahil

Tak terasa malam hari pun telah tiba, jam sudah menunjukan pukul delapan malam, sesuai janji bapak, bapak menyuruhku untuk ke teras rumah selesai sholat Isya, dan setelah aku selesai mengerjakan Sholat Isya, aku pun pergi ke teras rumah, ternyata di luar sudah menungguku Bapak ku dan Mbah Margono.


Aku sedikit kebingungan dengan kehadiran Mbah Margono, tumben banget Mbah Margon kesini malam – malam biasanya Bapak yang main ke sana, melihat mukaku yang kebingungan Mbah Margono terlihat tersenyum padaku.

“kenapa yan, kok mukanya bingung gitu” tanya Mbah Margono pada ku.

“ya jelas bingung lah mbah, tumben banget Mbah Margono main kesini, biasanya kan bapak yang main ke rumah Mbah Margono” jawabku pada Mbah Margono.

“ya nggak papa tho sekali sekali lah, hehe” dengan terkekeh Mbah Margono menjawab

“hehe, itu bapak yang nyuruh mbah kesini yan, sini sini duduk dulu” bapak menyuruhku duduk berkumpul

Yah karena kursi di teras hanya ada dua buah kursi, alhasil aku duduk di lantai teras sambil mendengar sebenarnya mau apa sih, kok tumben banget aku di ajak ngobrol di teras sama duo pendekar ini, batinku dalam hati.

“jadi gini yan tadi bapak sudah ke Mbah Margono dan bapak tau kamu mau minta diajarin apa, sebenarnya ilmu yang kamu mau itu bisa di pelajari tapi kamu harus telaten” jelas bapak ku

“lah tadi kata Mbah Margono gak bisa kalo nggak ada niat khusus yang baik” tanyaku pada bapak.

“hahaha ya mbah memang jawab gitu soalnya mbah ragu kamu bisa nglakuin nggak, orang kamu kan biasanya bentar bentar udah ngambek kalo nggak jadi hehe, nah ini bapak mu minta mbah kesini buat ngajarin, katanya kalo bapakmu sendiri yang ngajarin, bapaku yang gak sabar ngajarin kamu hehe” jelas Mbah Margono pada ku.

“wah jadi beneram mau di ajarin nih mbah” jawabku kegirangan

“ya asal kamu giat dan nggak mutungan [ngambek] kalo kamu belum bisa menggunakan ilmu yang kamu pelajari” ucap Mbah Margono

“iya mbah, Ryan janji nggak akan ngambek, ryan bakal belajar sesuai arahan bapak sama mbah” jawabku senang

“oh untuk kali ini kamu belajarnya cukup Cuma sama mbah Margono aja yan, bapak udah males ngurusin yang kaya gitu, uwis marem [udah puas] udah biar mbah margono aja” bapak menjawab sambil berlalu masuk.

Setelah bapak masuk kedalam rumah, mbah Margono pun menyuruhku untuk duduk dekat dengan nya, mbah Margono memberi tahu ku dulu untuk konsekuensi – konsekuensi saat sudah bisa melakukan ilmu tersebut, aku harus melewati beberapa proses yang akan di beri tahu oleh mbah Margon, dan pada intinya aku harus bisa menguasai diriku sendiri dulu, mbah Margono menyuruhku untuk berlatih tidur dalam keadaan gelap dan sebisa mungkin dengan keadaan atau suasana yang tenang. Mbah Margono sudah tahu betul seperti apa aku saat tidur, kondisi kamarku bagaimana saat tidur, aku memang tidak bisa tidur dengan lampu dimatikan dan dengan keadaan sepi. Dan saat proses menenangkan diri itu diriku diminta jangan sampai melupakan Tuhan [Allah], dan ada beberapa arahan dari mbah Margono, Mbah Margono juga bilang kalo waktu menenangkan diri saat tidur dan mengalami hal aneh esok paginya langsung di suruh ke rumah Mbah Margono.

Setelah ngobrol dengan Mbah Margono dan pembicaraan sudah selesai, Mbah Margono pun akhirnya pamit untuk pulang karena malam sudah mulai larut, akupun kemudian bergegas untuk tidur karna besok adalah hari sabtu dan aku harus bekerja lagi, jadi ku pikir untuk mencoba mempraktekan yang di ajarkan Mbah Margono besok malam saja.

Pagi hari pukul delapan pagi, aku sudah berada di SMP tempat kerjaku, seperti biasanya aku mengerjakan tugas administrasi dan mengurus beberapa surat yang masuk dan harus segera di disposisi, aku di temani oleh teman kerjaku namanya Mbak Ana, dia seniorku dini, dan di ruangan ini hanya ada aku dan Mbak Ana saja, Mbak ana ini sering curhat tentang suaminya padaku, aku yang belum menikah pun hanya memberi masukan sebisaku pada nya saat dia curhat padaku.

Entah ada apa dengan ku hari ini, tiba tiba kepikiran untuk memutar musik Sholawatan, padahal biasanya aku memutar musik koplo dari Via Vallen, Nella Kharisma, kadang juga Didi Kempot, dan sekarang entah karena apa aku memutar Sholawatan dan sesekali memutar alunan orang membaca Al-Qur’an.

“wih yan tumben banget muter musik Sholawatan, habis tobat atau gimana nih” canda Mbah Ana padaku

“wah gak tahu ini mbak tiba tiba pingin muter Sholawatan aja” jawabku pada mbak Ana

“yo asal nggak ngganggu penunggu sini aja sih yan hehe” goda mbak Ana

“alah paling ya nggak berani mbak ganggu disini” jawab ku enteng

Saat aku memutar Sholawat aku sama sekali tak memperdulikan tetang penunggu ruangan ini jika marah, padahal ruangan ini termasuk yang memiliki penunggu yang kadang usil dan gangguin menurut bu Dwi.

Setelah mempersiapkan surat – surat yang masuk aku pun bergegas menuju tempat kepala sekolah untuk meminta tandatangan beliau, setiap surat yang masuk harus di disposisi oleh kepala sekola baru kemudian diserahkan pada yang bersangkutan, cukup banyak surat yang aku bawa ke tempat kepala sekolah saat itu, hingga aku harus menunggu cukup lama hingga kepala sekolah selesai menandatangani, di tambah lagi beliau sedang ngobrol dengan salah satu guru di ruangannya.

Setelah selesai dengan urusan tanda tangan kepala sekolah, surat tersebut kemudian aku berikan pada yang bersangkutan, aku berkeliling dari ruang guru hingga ke beberapa lab yang saat itu sedang di gunakan, dan sialnya aku harus ke leb komputer untuk memberikan surat ke pak Budi, seperti biasa aku harus melewati Lab Biologi terlebih dahulu, dan kebetulan juga lab itu dalam keadaan kosong alias tidak di gunakan, aku berjalan lurus tanpa melihat ke arah lab, tapi saat aku melewati lab Biologi aku merasa patung peraga di dalam seperti bergerak menengok keluar, aku mencoba bersikap biasa saja, dan terus berjalan menuju lab Komputer setelah selesai aku pun kembali ke ruangan ku dan saat lewat Lab Biologi para patung peraga sudah pindah posisi menghadap ke arah luar, jadi bisa terlihat jelas wajah dari patung peraga itu, aku terus berjalan dan mencoba untuk santai, saat aku tepat berjalan di depan patung itu dan yang jelas tersekat tembok dan kaca, terlihat sangat jelas mata patung peraga itu mengikuti gerakan ku dari matanya melihat kekiri dan perlahan kekanan, sedikit merinding tapi aku berusaha untuk mencoba tenang dan biasa saja.

Saat hampir sampai di tempat kerjaku, aku melihat ada sebuah penampakan di luar ruang kerjaku, aku melihat sesosok wanita dengan pakaian kebaya namun posisi wanita ini adalah merangkak di dinding seperti layaknya Spiderman, sosok wanita itu melihat kearahku sambil menyeringai dan kemudian pergi keatas genting dan menghilang di sambungan antar gedung di atas.

“mas Ryan,” bu Dwi mengagetkanku dengan menepuk pundakku

“WAASSSS...... eh bu Dwi, ah bu Dwi ini ngagetin aku aja bu, kirain siapa” hampir saja kalimat kotor muncul dari mulutku.

“hahaha kamu ini Yan, gini, barusan lihat kan makhluk yang naik itu, biasanya kalo dia udah muncul, akan ada keisengan dari dia” terang bu Dwi padaku

“ah yang bener bu, terus jahilnya di aman bu” tanyaku penasaran

“ya jelas di ruangan mu lah, itu kan makhluk yang nemenin kamu tiap hari hehehe” goda bu Dwi dan berlalu pergi

Mendengar keterangan bu Dwi membuatku sedikit cemas, aku malas untuk mengurusi gangguan yang ada, ya walau sebenarnya sedikit takut si, tapi sesuai komitmenku aku harus berani dengan siapapun yang menggangguku, lagian aku sudah di beri alat untuk membantu perlindunganku oleh mbah Margono.

Aku pun kembali ke ruang kerjaku, dan masih berharap semoga apa yang di katakan oleh bu Dwi sama sekali tidak terjadi, aku melanjutkan pekerjaanku membantu mbak Ana mengurusi administrasi sekolahan, cukup banyak beberapa kerjaan yang harus di selesaikan hari ini, belum lagi memasukan nilai raport siswa ke buku administrasi Dinas Pendidikan, pekerjaan yang biasanya santai, hari ini aku rasa sedikit lebih sibuk dari biasanya walau masih bisa ditangani.

Sambil mengerjakan pekerjaan ku aku terus was – was sambil melihat sekitar ruangan barang kali ada gangguan dari wanita berkebayak itu secara tiba tiba jadi aku bisa siap, aku memainkan cincin pemberian bapak ku dengan batu berwarna hitam di jariku, sesekali juga aku ikut bersholawat mengikuti sholawat yang sedang aku putar.

Setelah sekian lama menunggu hingga jam menunjukan pukul dua kurang seperempat siang namun tidak ada gangguan sama sekali, “paling gak berani tu sosok usil karena aku bawa ini cincin” pikirku dalam hati, karena sudah jam dua siang aku sudah boleh pulang makanya aku sudah berberes di meja kerjaku, kerjaan ya sekiranya akan di selesaikan besok sudah aku siapkan di atas meja dan besok tinggal bertarung lagi dengan pekerjaanku ini.

Dan setelah selesai berberes aku pun mengambil jaket untuk ku pakai dan langsung pulang, ku kenakan jaket dan aku ambil tasku kemudian aku bawa menuju tempat parkir mengambil motorku dan segera pulang, dalam perjalanan menuju tempat parkir aku merogoh kantung jaket ku untuk mengambil kunci motorku, aku raba raba namun tak kudapati kunci motor di dalam saku jaketku, kucari di kantung celana juga tidak aku temukan dan sampai aku membuka tasku pun tidak aku temukan, aku buru buru untuk balik ke ruang kerjaku, mungkin jatuh di sana pikirku, soalnya jelas jelas pagi aku masukan di saku jaket ku.

Aku pun kembali ke ruang kerja dan aku cari di atas meja, dalam laci, dekat komputer, namun sama sekali tak kutemukan kunci motorku, aneh sekali pikirku dimanapun tidak ada, dan aku yakin tadi sudah ku masukan ke saku jaket dan aku tutup saku jaket ini masa iya bisa ilang sendiri. Aku sangat kebingungan saat itu karna tidak bisa pulang, dan tak ada uang untuk naik angkot, maklum pekerja honorer jadi masih serba terbatas.

Tak lama saat aku sedang mencari kunci di ruang kerja, pak Leman tiba tiba datang, mungkin mau mengunci ruangan ini, tapi mendapatiku tengah kebingungan mencari sesuatu jadi dia masuk menghampiriku.

“kenapa mas Ryan kok kayaknya bingung gitu” tanya pak Leman penasaran

“ini lho pak, aku kehilangan kunci motorku tapi tadi pagi aku yakin sudah masukin ke jaket ku ini” sambil mencari aku menjawab pertanyaan pak Leman

“wah kok aneh mas, apa jatuh di luar mungkin mas” tanya pak Leman lagi padaku

“kayaknya nggak pak, soalnya udah aku urut lagi tadi nggak ada” jawabku pada pak Leman

“wah kayaknya mas Ryan di kerjain disini, mungkin tadi mas Ryan bikin marah penghuni disini” jawab Pak Leman

“atau mungkin karena aku muterin Sholawat tadi ya pak waktu kerja” tanyaku pada Pak Leman

“yah mungkin saja, kalo gitu ya udah biarin aja dulu nanti bakal di balikin kok, mending sekarang mas Ryan pulang aja keburu kesorean kan” pak Leman memberi saran

Aku pun nurut dengan saran pak Leman, aku menelfon teman ku untuk menjemputku di sekolahan, untung saja ada yang bisa menolongku kembali kerumah, ternyata apa yang di katakan bu Dwi benar dan gangguan yang di lakukan bukan secara langsung tapi diam diam, kecolongan batinku.

Malam harinya aku menelfon Via, ini kebiasanku setiap malam minggu selalu telfon untuk menghilangkan rasa kangen dengan Via, yah walau setiap empat minggu sekali aku ke kos untuk membersihkan kos ku, ya aku masih punya sewa kos di Yogyakarta. Jadi seumpama aku ke Jogja aku masih punya tempat untuk di tinggali, tapi sewa kos ku selesai tahun depan tepatnya awal tahun 2017. Lamaran beberapa bulan lalu sengaja aku tolak, Anggi memang cantik tapi selama ini yang ada untukku adalah Via aku tak bisa menggantikan posisinya, namun aku dan Anggi sepakat untuk terus menjaga persaudaraan, dan kadang bapak dari Anggi sesekali menelfonku hanya sekdar menanyakan kabarnya, sempat juga beberapa kali beliau menawari pekerjaan untuku namun aku tolak, bukan karna apa aku hanya mau bekerja di kota ku sendiri menemani kedua orang tuaku setelah kakaku Bono bekerja dan berkeluarga di Jogja.

Aku menceritakan kejadian tadi kepada Via, bahwa aku kehilangan kunci motorku saat sedang di tempat kerja,

“dek, mas tadi kehilangan kunci di tempat kerja aneh nya padahal mas yakin tadi sudah mas masukin ke kantung jaket tapi siang nya ilang padahal nggak mas pake tuh jaket dari pagi dan posisi masih sama” aku memberi tau Via

“lah kok bisa mas, apa ada yang usil di sana, temen mungkin” tanya Via padaku.

“kalo temen nggak mungkin sih lagian jaket keadaannya masih sama kayak pagi hari pas mas tinggal kerja” jelasku pada Via

“ah ada ada aja mas, kamu lupa paling naruh kuncinya dimana” kata Via padaku

“ih serius mas masih inget di jaket ku kok, eh adek kan bisa nyari lewat jauh coba di cariin dek” pintaku pada Via, Via ini bisa mendeteksi barang yang hilang dengan ilmunya ternyata, dan baru ku ketahui beberapa bulan lalu

“iya coba bentar, ...............[menunggu via bicara] coba besok mas cari di tempat kaya kotak kayu ada besi nya, terus letaknya kalo dari ruangan mas kira kira sepuluh meter lah” terang Via padaku, ya walau tidak di jelaskan sampai detal malah seperti teka teki tapi biasanya tebakan Via selalu benar.

Aku pun melanjutkan obrolan dengan Via di telefon, kami ngobrol dan menanyakan tentang keadaan dan kerjaan kami masing masing, Via katanya sudah mulai mengerjakan skripsi dan ingin cepat cepat selesai biar bisa pulang kerumah, dan ingin mencari kerjaan di Wonosobo saja, aku pun mendukung, dan aku juga berjanji bakal ke Jogja terus setiap empat minggu sekali untuk ketemu dan menemani sidang skripsinya besok kalo sudah selesai.

Obrolan demi obrolan berlalu jam pun sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, aku kemudian menyuruhnya untuk tidur supaya tidak kelelahan, karna minggu dia masih tetap bekerja lembur, katanya target di pabrik belum mencukupi makanya semua karyawan diwajibkan untuk lembur dan berangkat di hari minggu nya, Via menuruti perintahku untuk segera istirahat dan tidur. Dan obrolan malam hari ini pun kita selesaikan dengan ucapan selamat tidur dan salam.

Seusai telefon aku belum merasakan kantuk, aku teringat apa yang di katakan mbah Margono untuk mencoba mengendalikan diri dan mereleks kan tubuh, aku pun mencoba untuk melatih tubuh ini untuk merasakan tenang, aku mematikan lampu kamarku, aku matikan juga telefonku supaya nanti tidak ada gangguan saat aku sedang mencoba menenangkan diri ini dan membuatnya releks.

Setelah aku mematikan lampu kamar dan HP ku, kemudian aku berbaring di atas tempat tidurku, lampu dari ruang tengah masih menerobos masuk kedalam melalui cela cela lubang fentilasi, bapak masih di ruang tengah bermain Laptop dan mengedit gambar seperti biasanya, adanya sedikit cahaya yang menerobos masuk membuatku sedikit nyaman walau rasanya aneh, di dalam kamar dalam keadaan gelap seperti ini.

Aku baringkan badan di atas kasur dan aku mencoba menutup mata dan berusaha membuat diri ini setenang mungkin, awalnya beberapa pikiran tentang hal hal aneh berputar putar di kepalaku dari bayangan makhluk yang mau menggangguku, sesuatu yang muncul dari kolong tempat tidurku dan lain lain tapi itu hanya ada di dalam fikiran ku saja yang menunjukan diriku masih belum bisa dikuasai oleh ku dan fikiranku masih belum releks seperti yang di minta mbah Margono, dan setelah beberapa menit menunggu aku merasakan ada hembusan angin dan setelah beberapa menit itu kemudian aku merasa ......
profile-picture
profile-picture
profile-picture
minerva.chilli dan 36 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Halaman 3 dari 13


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di