CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 166 dari 170
Wahh..
Keren banget penjelasan'y.
emoticon-Bangga Pake Batik
Mas yus... Masih bisa pre order ga... Yang partai 2
Lihat 1 balasan
Balasan post arcaraya
Bantu jawab ya, coba jenengan langsung DM ke IG mas yus di diarymataindigo09.

profile-picture
mojosongo97 memberi reputasi
Balasan post jeniussetyo09
demi keselamatan arya dan kebahagiaan yowan
saya menyarankan

POLIGAMI
demi keselamatan arya dan kebahagiaan yowan
saya menyarankan

POLIGAMI
Sampe segitunya ya
Ki Juru ini yang bertugas menjaga Geger Boyo bukan mas ?
profile-picture
bauplunk memberi reputasi
Diubah oleh ufoterbang
lanjut gan...ndang update wiss..matur nuwon 🙏🙏
profile-picture
supershinchan memberi reputasi
Balasan post jeniussetyo09
penjabaran nya bikin mumet 😅
Lanjut mas gan
masih menanti kelanjutan nya kisanak 😁
sampek lali dalan ceritoe emoticon-Ngakak
lanjutkeun mas yus
hastabrata. 8 sifat kepemimpinan yang diwariskan oleh ajaran jawa kuno
DMI 3 – Usaha Terakhir

Tidak terasa sudah pukul 20:40. Tiga gelas kopi kosong di hadapanku berjejer di meja. Aku masih getol membaca berbagai macam literatur, maupun artikel-artikel yang ada di website. Mulai dari situs-situs bonafid sampai blog-blog nggak jelas. Tulisan-tulisan di facebook, bahkan jurnal-jurnal sejarah yang diterbitkan oleh beberapa lembaga studi.

“Yus mau tambah kopi lagi?”. Yowan yang duduk di hadapanku menawarkan. Dirinya coba sedikit melakukan peregangan dihadapan laptop kecilnya. Café di bilangan Pasar Baru yang kami tempati mulai sedikit ramai dengan beberapa tamu rombongan yang datang. Kebanyakan anak muda. Hari ini hari Sabtu alias malam minggu. Malam yang pas untuk hang out dan bersosialita.

“Boleh Yow, tapi jangan kopi. Eneg lidahku. Minta Es Teh Leci saja…..”. Yowan lalu beranjak mendekati salah seorang pramusaji dan memesan tambahan minuman lagi. Tadi pagi sampai siang Aku dan dia habis nongkrong seharian di Perpustakaan Negara. Seharian Aku dan dia berusaha mencari informasi tentang Ki Juru dari literatur-literatur dan buku-buku yang bisa kami temui. Kebanyakan berupa referensi sejarah, budaya dan babat tanah jawa. Intinya Aku dan Yowan berusaha mencari informasi dimana tempat Ki Juru berada. Setidaknya dimana tempat terakhir yang ditempati oleh beliau. Dari situ Aku dan Yowan berharap bisa mengetahui keberadaan Kristal Hastabrata.

Hanya saja sampai dengan saat ini belum ada satu pun informasi yang bisa dijadikan pegangan. Cerita-cerita yang berkembang kebanyakan berasal hanya dari cerita tutur. Kelemahan dari cerita tutur adalah ceritanya kemudian berkembang menjadi banyak versi, sehingga tidak jelas versi mana yang kemudian bisa dipercaya. Cerita itu kemudian hanya berkembang menjadi cerita rakyat atau folklore, dan dianggap hanya sebatas mitos atau dongeng. Tidak ada rentang waktu yang jelas serta time line yang bisa dijadikan patokan. Apalagi jika dihubungkan atau dicocok kan dengan cerita yang pernah disampaikan oleh Eyang Merapi kemarin, tidak ada cerita yang benar-benar cocok 100 persen berhubungan.

Pramusaji Café membawakan segelas Es Teh Leci pesananku dan secangkir Cappucino lagi buat Yowan. Dirinya memang terkenal kuat ngopi sejak dulu Aku. Ke Café manapun Aku dan dia pergi, Yowan pasti akan memesan Kopi Cappucino. Dengan extra cream dan less sugar. Itu minuman kesukaan nya sejak dulu. Katanya biar tetap sexy dan tidak terlalu ndut.

Aku dan Yowan lalu kembali sibuk memelototi laptop dan browsing ke sana-sini. Notes kecil yang ada di sebelah Yowan penuh coretan-coretan dan catatan-catatan yang dibuatnya. Segala informasi sekecil apapun berusaha ditangkapnya. Semangat Yowan begitu terasa dari tadi pagi. Aku bisa merasakan naluri wanitanya sebagai seorang Ibu yang ingin menyelamatkan anaknya. Sudah sehari berlalu semenjak kejadian kemarin. Aku cuma berharap Arya bisa bertahan sebentar. Aku juga sudah meminta para Eyang agar Pembayun diijinkan untuk berjaga di samping Arya, karena pada dasarnya makhluk dari Pantai Selatan seperti Pembayun tidak diijinkan untuk berada di Kraton Merapi.

Yowan sebenarnya juga sudah menitipkan sesuatu kepada Pembayun, berupa sebentuk pil Kristal bening olahan Kraton Pantai Selatan. Yowan kemarin menceritakan, kalau Kraton Pantai Selatan sebenarnya sudah pernah berusaha membuat duplikasi Kristal Hastabrata. Hanya saja tidak berhasil. Kraton Pantai Selatan hanya bisa menghasilkan sebentuk pil Kristal yang dinamakan Pil Kristal Mangkujiwo. Efeknya hanya sebatas untuk memperkuat energi dan hawa astral dari penggunanya, namun hanya sementara. Selain itu khasiat dan kemampuan nya juga sangat terbatas. Pil Kristal itu kemudian diberikan kepada Arya lewat Pembayun, agar Arya bisa bertahan dan mempertahankan sosoknya.

Sayangnya seperti yang disampaikan Eyang Merapi. Bukan pil Mangkujiwo atau energi para tetua yang dibutuhkan oleh Arya, melainkan perasaan cinta antara Aku dan Yowan. Semenjak Aku memutuskan untuk memilih Mitha, entah kenapa kemudian hal itu ber efek pada Arya. Padahal sebetulnya perasaanku sendiri pada Yowan tidak pernah berubah. Hanya saja, karena terpaksa memilih Aku harus memilih salah satu antara Yowan dan Mitha.

Waktu bergulir tanpa terasa. Pegawai Café memberikan bill tagihan pesanan, tanda Café sebentar lagi harus tutup. Aku dan Yowan mau tidak mau harus berberes. Wajah Yowan Aku lihat begitu kuyu dan lesu. Hari ini bisa dibilang tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada informasi apapun yang bisa didapatkan mengenai keberadaan Ki Juru. Aku lalu menggandeng Yowan keluar dari Café itu menuju parkiran motor. Besok mungkin usaha ini akan kami lanjutkan.

“Yus, Aku laper…”. Belum sampai di motor Yowan tiba-tiba menghentikan langkah dan berkata kepadaku. Tepat sesaat kemudian perutnya tiba-tiba berbunyi. Efek kebanyakan ngopi tapi lupa makan.

“Cuma laper kan? Bukan hamil lagi kan?”. Aku sengaja sedikit bercanda biar tidak suntuk. Untungnya Yowan sudah sangat mengenalku, yang kadang kalau bercanda suka nggak kenal waktu dan tempat. Dirinya hanya mencubit perutku pelan. Sangking pelan nya sampai hampir tidak terasa. Tidak seperti biasanya yang sampai membuatku menggelinjang.

Untungnya didekat tempat parkiran situ ada tukang nasi goreng. Aku lalu memesan 2 porsi. Aku dan Yowan lalu duduk di pinggir jalan. Kami berdua hanya terdiam memandang jalan. Membiarkan pikiran sejenak melalang-buana dalam privasi masing-masing.

“Yus, kalau nanti seandainya Arya selamat, biar nanti dia sama Aku ya…”, tiba-tiba Yowan berkata kepadaku.

“Yow, itu bakal berat buat kamu. Kamu kan wanita. Apalagi apa nanti kata orang. Kamu punya anak tapi kamu belum punya suami. Biar Aku yang urus dia”. Aku melihat wajah Yowan makin sedih, tetapi bagiku akan kasihan Yowan kalau sampai seandainya dirinya masih harus dibebani dengan Arya.

“Tapi Aku ibu nya Yus. Aku cuma punya kamu sama dia. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain itu….”. Yowan mulai terisak, mendadak emosional. Aku hanya bisa reflek merangkulnya untuk menenangkan. Aku tidak ingin dia terlihat menangis di depan umum begini.

“Yow, kamu punya masa depan. Masa depan itu masih panjang. Biar Aku yang tanggung-jawab atas ini semua. Ini semua karena apa yang sudah aku lakuin. Aku janji bakal sayangin dan nggak akan biarkan dia kekurangan apa-apa. Jadi single mother itu berat Yow”. Sejenak kemudian Yowan hanya terdiam. Berusaha keras agar air matanya tidak jatuh. Nasi goreng pesananku dan Yowan akhirnya selesai dibuat. Aku dan Yowan memakan nya dengan lahap. Sesekali mengobrol tentang Arya dan rencana ke depan nya. Walaupun sebenarnya baik Aku dan Yowan sekali lagi hanya berandai-andai. Kami berdua pun tidak tahu nanti ke depan nya akan seperti apa. Bisa jadi semua rencana-rencana itu malah tidak akan berjalan sesuai dengan harapan.

Aku lalu mengantar Yowan sampai tempatnya di Bekasi. Hanya sampai depan komplek karena jalan masuk sudah di portal.
“Kabari kalau sudah sampai rumah ya Yus. Hati-hati….”. Aku pun mengangguk kemudian memacu motorku kembali ke rumah. Sampai di rumah dan setelah mengabari Yowan, Aku belum juga patah semangat. Selesai mandi dan berganti pakaian Aku kembali membuka laptop dan melanjutkan browsing lagi.

Seluruh kata kunci aku coba. Berharap ada petunjuk yang bisa Aku dapatkan. Walaupun berada di dalam kamar dengan suasana lampu temaram dari meja belajar, Aku sama sekali tidak mengantuk. Aku tetap duduk didepan meja belajarku dengan posisi tegak dan sama sekali tidak mengendurkan posisi tubuhku. Suara jangkrik dan suasana sunyi malam menemaniku. Tidak ada suara lain yang terdengar selain suara yang timbul dari gerak tubuhku dan napasku sendiri.

Tiba-tiba sebersit hawa dingin menyergap dari arah belakang. Mengisyaratkan ada sosok yang datang, dan saat ini ada di belakangku. Selain itu kedatangan nya seperti iringan suara angin lembut berhembus yang menggoyangkan pepohonan

“Kisanak….” . Belum sempat Aku menoleh, sebentuk suara lembut namun berat dan dalam terdengar dari arah belakangku. Aku sudah mengenal suara itu sejak lama. Dirinya salah satu dari 9 Tetua Merapi. Dia adalah Eyang Karta

“Selamat Malam Eyang…”. Aku beranjak dari tempat duduk ku dan memberi salam. Aku tidak menyangka malam ini Eyang Karta datang menemuiku di rumahku. Tidak biasanya dia datang sampai menemuiku.

“Maaf mengganggu malam-malam begini Kisanak”.

“Tidak apa-apa , ada apa Eyang??”. Aku menjawab sambil tersenyum. Tadinya Aku ingin mempersilahkan dia duduk. Cuma Aku bingung dimana Aku harus mempersilahkan dia duduk.

“Malam ini Eyang habis menengok Arya di kamarnya. Eyang melihat Arya menangis di hadapan Pembayun. Arya meminta penderitaan nya diakhiri. Jujur Eyang jadi tidak tega melihatnya….”. Aku hanya bisa terdiam mendengar cerita dari Eyang Karta. Hanya saja Aku jadi sedikit bertanya-tanya kenapa Eyang Karta bisa sampai punya rasa kasihan pada Arya, sedangkan para Eyang yang lain sepertinya tidak terlalu menunjukkan satu rasa yang berlebihan seperti itu.

“Saya dulu manusia sepertimu Kisanak. Jadi Saya bisa merasakan bagaimana perasaan Kisanak dan Yowan. Bahkan bagaimana perasaan Arya sekarang…..”. Aku jadi mengerti siapa sebenarnya Eyang Karta, dirinya adalah sosok manusia yang sudah mencapai tingkat kemampuan supranatural yang tinggi, sehingga moksa.

“Para Tetua yang lain adalah para Dhanyang setingkat Hapsari dan Hapsara yang memang dikodratkan untuk menjaga wilayah Merapi, sedangkan Saya sedikit berbeda”. Eyang Karta lalu menceritakan asal muasalnya, dan bagaimana dirinya bisa menjadi sala satu

“Dulu Saya hanyalah seorang petani biasa. Sekaligus seorang ketua desa. Saya mempelajari ilmu yang disebut dengan Ilmu Banjut. Salah satu Ilmu Spiritual kejawen langka yang mampu membuat orang yang mengamalkan nya bisa moksa”. Eyang Karta menceritakan Ilmu ini bahkan bisa dikatakan sudah punah, karena lakunya dan dan tata-caranya yang memang sangat berat dan ekstrim. Dirinya mengatakan kepadaku bahwa setelah moksa, dirinya diangkat oleh Sang Sumber yaitu Hyang Khalik Sangkan Paran sebagai salah satu penjaga teritorial tlatah Kraton Merapi.

“Saya kasihan pada Arya, dan Saya bermaksud ingin membantu Kisanak dan Yowan untuk menemukan Ki Juru….”. Aku sampai terhenyak mendengarnya. Tak disangka Tuhan mendengarkan doaku dan Yowan, dan memberikan pertolongannya lewat Eyang Karta. Mataku sampai berkaca-kaca mendengarkan tutur dari Eyang Karta barusan. Hanya saja ada sedikit kekhawatiranku akan hal ini.

“Tapi kalau seandainya Eyang Karta membantu kami, Eyang akan dimusuhi oleh para Eyang lainnya. Bukankah memberikan informasi tentang keberadaan Ki Juru itu dilarang oleh pihak Merapi??…..”. Aku coba mengungkapkan kekhawatiranku pada Eyang Karta. Namun Eyang Karta hanya tersenyum sambil dengan lembut menatapku

“Kita sebagai makhluk Tuhan atau setidaknya sebagai makhluk yang percaya pada Yang Maha Mengatur hidup punya kelebihan Kisanak. Kelebihan itu disebut ikhlas. Percaya bahwa segala sesuatunya sudah ada yang mengatur. Berserah kepada yang empunya kehidupan, bahwa dia yang punya kuasa atas kita. Untuk itu tidak perlu lagi ada kekhawatiran akan apa pun. Untuk urusan itu biarlah nanti bos besar yang memutuskan. Jika memang yang Saya lakukan ini salah, biarlah Saya tidak menjadi salah satu Tetua di Merapi. Biarlah Saya menjadi jiwa yang kembali kepada Sang Sumber, atau menjadi Jiwa yang melalang-buana di alam. Yang penting Saya percaya, apapun yang saya perbuat, apapun yang Saya lakukan, Saya tetap Kepunyaan yang Maha Punya Sang Pemilik Kehidupan”. Tanpa terasa air mataku meleleh mendengarnya. Seandainya Eyang Karta adalah sosok yang berwujud fisik, pasti Aku sudah memeluknya erat-erat.

“Lalu bagaimana kami bisa menemukan Ki Juru Eyang??”, tanyaku kembali kepada Eyang Karta

“3 Hari lagi kita bertemu di tempat dulu pertama kali kita bertemu. Eyang akan bawa Arya dan Pembayun. Kisanak pasti ingat sebuah tempat di Merapi dimana batas dimensi dua alam kadang menghilang sehingga 2 alam bercampur menjadi 1”. Aku terdiam membeku. Berpikir keras. Mengingat-ingat. Menelusuri setiap sudut ingatan. Aku yakin ingatan itu ada di dalam kepalaku.

Melihat Aku hanya terdiam dan terpaku, Eyang Karta lalu hanya tersenyum kemudian pamit kepadaku.

“Sampai jumpa 3 hari lagi Kisanak”. Eyang Karta lalu perlahan menghilang dari hadapanku. Sementara Aku masih sibuk menelusuri ingatanku satu-persatu. Sampai kemudian semua terbawa ke jaman Aku lulus sekolah dan bernazar ingin mendaki Merapi. Aku naik ke Merapi bersama 2 orang teman. Mendaki lewat jalur Boyolali, kemudian melewati beberapa pos sampai akhirnya sampai ke puncak. Setelah itu ketika hendak turun gunung, yang Aku ingat malah kemudian Aku tidak sadarkan diri karena kelelahan. Saat tidak sadarkan diri itu Aku bermimpi bertemu dengan Eyang Karta.

Jalur pendakian begitu panjang dan dari sekian banyaknya titik serta lokasi itu, dimana kemudian tempat yang dimaksud Eyang Karta untuk bertemu. Aku masih bingung. Sampai kemudian Aku teringat akan suatu kejadian di suatu tempat setelah Pos Watu Gajah. Segala sesuatunya langsung masuk akal seketika.

Cepat kemudian Aku meraih ponsel lalu menelepon Yowan. Berharap dia masih belum tidur. Agak lama Aku menunggu sampai akhirnya Yowan mengangkat telepon nya. Ternyata memang dia belum tidur.

“Yow, besok siapkan peralatan untuk mendaki. Kamu punya tas carrier nggak? Kalau belum punya secepatnya beli besok”. Aku lalu menjelaskan barang-barang apa saja yang harus dibawa dan disiapkan. Secara rinci Aku menyebutkan semuanya, karena memang Aku lebih pengalaman kalau soal naik gunung. Yowan Aku minta untuk mencatat semuanya agar tidak lupa.

“Memangnya kita mau kemana Yus?”. Pertanyaan Yowan akhirnya menyadarkan ku bahwa Aku belum menjelaskan apa maksud dari seluruh persiapan yang Aku arahkan tadi.

“Kita akan mendaki Merapi Yow”. Yowan agak terkejut mendengar kata-kataku. Aku kemudian menceritakan kepadanya bahwa Eyang Karta barusan mendatangiku dan menyampaikan maksud dan keinginan nya untuk membantu Arya. Termasuk kenapa kemudian Eyang Karta akhirnya berusaha membantu

“Kenapa tidak kita proyeksi astral saja ke sana seperti biasanya??”. Aku sudah menduga akan ada pertanyaan itu dari Yowan.

“Arya akan menjadi manusia Yow. Kalau dia menjadi manusia sedangkan kita dalam bentuk astral, malah nanti kita tidak akan bisa membantunya jika terjadi apa-apa…”. Yowan akhirnya mengerti maksudku. Aku pun lalu menjelaskan kepadanya mengenai tempat dan lokasi yang akan dituju. Seperti apa,dan bagaimana kondisinya. Tidak lupa juga menyampaikan segala kemungkinan dan apa yang bisa saja terjadi kemudian. Termasuk juga dengan apa yang harus dilakukan jika hal-hal itu sampai terjadi.

Yowan akhirnya paham. Secercah harapan yang timbul membuatnya kemudian menjadi kembali begitu bersemangat. Aku sarankan dia agar beristirahat dulu sehingga besok bisa kembali bugar dan melakukan persiapan. Karena hal yang dilakukan selanjutnya ini adalah hal yang akan sangat menguras fisik maupun mental.

Tidak berlama-lama kemudian Aku memesan tiket ke Jogja. Perjalanan dari Jogja kemudian akan ditempuh dengan perjalanan darat sampai dengan ke Boyolali. Dari situ kemudian nanti Aku dan Yowan akan mendaki ke atas Merapi. Terbayang kemudian kondisi Arya yang sedang tergolek menangis di tempat tidur di temani Pembayun. Membuat naluriku sejenak dikuasai perasaan sentimentil.

“Arya, bertahanlah Nak….” , kataku kemudian dalam hati.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mojosongo97 dan 31 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
mantap masemoticon-Jempol
update pas tanggal cantik 19-12-19 pukul 19 wib😀
profile-picture
thetruckz memberi reputasi
Balasan post jeniussetyo09
mantap mas yus
cakep
suwun mas
Halaman 166 dari 170


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di