CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerita Horor Mistis | Jagad Mistis Nusantara
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec22e93b8408826de76e458/kumpulan-cerita-horor-mistis--jagad-mistis-nusantara

Kumpulan Cerita Horor Mistis | Jagad Mistis Nusantara

Kumpulan Cerita Horor Mistis | Jagad Mistis Nusantara

Quote:


Quote:


Index / daftar isi cerita ada di paling bawah ya gan.

Spoiler for Chapter Pertama:


PENGHUNI APARTEMEN

Namaku Hanif, aku tinggal seorang diri di sebuah apartemen di segitiga emas Jakarta, atau orang bilang jantung kota Jakarta. Aku sendiri seorang pekerja kantoran yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi yang memang bermarkas di ibukota.

Sudah beberapa bulan ini aku hidup sendiri semenjak perceraianku dengan istriku, karena kami belum mempunyai anak, jadi aku bisa langsung terlepas dari ikatan hubungan ini. Kami jadi tak pernah bertemu lagi dan bahkan tak saling kenal lagi. Sementara di apartemen, aku dibantu seorang asisten rumah tangga. Namanya Bu Umi, dia asli warga sekitaran apartemenku. Karena apartemen bertingkatku ini berbatasan langsung dengan pemukiman padat penduduk khas Jakarta.

Bu Umi ini tak menetap di apartemenku, dia punya jam kerja sendiri yang sudah aku atur. Ketika aku hendak berangkat bekerja dia datang dan membereskan rumah sampai sore. Sedangkan aku pulang dari kantor sekitar selesai maghrib atau bisa lebih malam lagi, dan sesampainya di apartemen, semuanya sudah beres dan bersih berkat kerja Bu Umi. Jadi aku bisa langsung bersantai dan istirahat. Oh iya, aku juga memberikan Bu Umi kunci cadangan, kalau nanti dia butuh. Lagipula aku percaya dengannya.

💀💀💀

Pada suatu hari aku hampir saja terlambat berangkat ke kantor. Tapi karena Bu Umi datang dan mengetuk pintu, aku jadi terbangun dan segera bersiap pergi kerja. Sedangkan Bu Umi melakukan yang biasanya ia lakukan setiap pagi, setiap pagi hari aku menyempatkan diri untuk sarapan di penjual bubur depan apartemen. Tapi karena pagi ini aku terlambat, aku benar-benar tak ada waktu untuk itu. Bisa sampai kantor tepat waktu pun sudah syukur.

Singkat cerita, aku sampai di kantor dengan mobil sederhanaku. Bekerja seperti biasa, bertemu banyak teman dan lainnya yang biasanya dilakukan pegawai pada umumnya. Waktu berjalan begitu cepat ketika aku di kantor, tak terasa setelah hampir seharian bekerja dan dua kali istirahat, tibalah aku diujung hari. Sekitar pukul enam sore aku keluar kantor menuju mobilku, dan mulai mengemudi pulang.

Sebenarnya pulang di waktu maghrib seperti ini adalah hal yang aku benci, karena jalanan selalu macet di jam-jam ini. Padahal kalau tidak macet, perjalanannya tak akan memakan waktu lebih dari lima belas menit. Karena macet, perjalananku yang sebenarnya dekat ini pun memakan waku empat puluh menit.

Aku sampai dan memarkirkan mobilku di basement, kemudian berjalan ke lift untuk naik ke lantai sembilan dimana aku tinggal. Aku sendiri di dalam lift dan sampai di lorong pun aku sendiri. Lorong begitu sepi dan hening, hanya ada aku dan suara langkahku. Ditambah suara kunci yang berputar di lubang pintu. Aku segera masuk dan langsung mengambil segelas air di dapur kemudian meminumnya.

Namun ada yang janggal saat maghrib itu, aku lihat Bu Umi belum pulang dan sedang menyetrika di salah satu kamar kosong di apartemenku. Karena pintunya dibuka, aku jadi bisa melihatnya. Aku pun mendekat dan bermaksud menyapanya. Waktu itu Bu Umi posisinya membelakangiku, kepalanya menunduk sambil fokus menyetrika bajuku.

“Kan bisa besok pagi Bu, Ibu pulang aja.” Kataku pada Bu Umi.

“Enggak mas, sekarang aja deh. Lagi males pulang cepet.” Jawab Bu Umi.

Aku berpikir mungkin Bu Umi sedang ada masalah dengan anak-anaknya di rumah, jadi aku membiarkannya dan tak menaruh curiga apapun. “Yaudah Bu, saya bikinin teh ya.” Ucapku dengan maksud baik.

Aku segera berjalan menuju dapur untuk membuat segelas teh manis, cangkir sudah ada dan teh pun tersedia. Jadi tinggal aku buatkan saja untuk dia. Kasihan dia bekerja seharian, mungkin sekali-kali aku juga harus melakukan sesuatu yang baik untuknya.

Disaat aku sedang membuat teh, ada sesuatu yang membuatku tersentak. Membuat jantungku berdegup kencang. Aku kaget bukan main, ketika mendapat sebuah pesan singkat dari Bu Umi di ponselku. Dalam pesan chat tersebut, Bu Umi berkata.

“Mas Anif, maaf mas. Saya pulang siang yah, mohon maaf mas. Hari ini saya gak bisa lama-lama.” Begitu ucapnya dalam pesan, jadi Bu Umi sudah pulang sejak siang hari tadi. Lalu siapa yang sedang menyetrika di kamar kosong itu? Astaga, aku segera menghubungi Bu Umi. Langsung aku berjalan ke balkon dan menelponnya saat itu juga. Untungnya, responnya cepat. Bu Umi langsung menjawab teleponnya.

“Bu? Kenapa Bu?” Tanyaku dengan nada ketakutan.

“Mas maaf, saya pulang lebih awal tadi. Nanti deh, besok saya ceritain. Ada yang gak beres di apartemen mas.” Ucapnya dengan nada yang sama takutnya denganku.

Aku pun langsung menutup telepon itu karena tak ada yang perlu aku ketahui lagi, semua sudah jelas. Orang yang sedang menyetrika itu bukan Bu Umi. Aku pun menyimpan ponsel di saku dan berjalan masuk. Dengan memberanikan diri, aku berjalan menuju kamar kosong itu, aku ingin memastikan siapa yang ada disana. Firasatku tidak enak, sangat buruk.

Saat sampai di depan pintu kamar, sosok itu masih disana. Persis menyerupai Bu Umi dari belakang, aku juga lupa belum melihat wajahnya. Dari depan pintu aku perhatikan sosok itu, sosok yang masih saja menyetrika baju yang sama.

“Maaf, kamu siapa? Bu Umi sudah pulang, kok bisa disini? Saya bisa panggil security lho.” Ucapku dengan maksud mengancam.

Yang membuatku bergidik adalah, ketika sosok itu tertawa cekikikan sebelum menjawab.

“Lho? Memang kamu belum sadar juga?” Tanya sosok itu sambil terus menyetrika. “Hayo, aku ini siapa?” Tanya sosok itu lagi.

Aku ketakutan setengah mati, badanku bergetar hebat. Ingin rasanya aku lari, tapi entah kenapa mataku rasanya ingin melihat sosok itu. Kemudian sosok itu menoleh, kemudian berdiri menghadapku. Memperlihatkan wajahnya yang rata, tanpa mata, hidung dan mulut. Benar-benar rata.

Aku pun segera lari sambil berteriak saking takutnya, aku tinggalkan apartemen. Langsung aku lari ke lift untuk turun ke lantai bawah. Selama di lift tak henti-hentinya aku ishtighfar. Astaga, sosok apa yang baru saja ku lihat. Makhluk halus? Kenapa ada di apartemenku?

💀💀💀

Gara-gara kejadian itu, aku tak tidur di apartemen malam itu. Aku terpaksa tidur di rumah orang tua di Bekasi yang lumayan jauh jaraknya. Keesokan harinya aku berangkat kerja seperti biasa, Bu Umi kusuruh untuk tidak datang ke apartemenku karena aku sedang tak disana.

Setelah pulang kerja, aku berkunjung ke rumah Bu Umi. Aku ceritakan apa yang aku alami kemarin, dan ternyata Bu Umi pun mengalami hal yang sama, itulah alasan kenapa Bu Umi pulang lebih cepat. Bu Umi bilang kalau makhluk itu menyerupai aku, namun setelah menoleh, wajahnya rata. Setelah aku dan keluargaku menggelar pengajian kecil di apartemen, barulah aku berani lagi menempati apartemen itu.


Quote:


Quote:


DAFTAR ISI

2. Cerita ke-2 - Ketika Maghrib Tiba
3. Cerita ke-3 - Order Dari Kubur (Ojol Story)
4. Cerita ke-4 - Malam Terindah
5. Cerita ke-5 - Setan Dunia Maya
6. Cerita ke-6 - Lukisan Tua

Quote:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sanzuchiha11 dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh harrywjyy
Halaman 1 dari 2
emoticon-Sundul
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi
serem gan ceritanya.. bagus penulisanya lg... lanjutkan trus ya bre...emoticon-Cendol Gan
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi
Lihat 1 balasan
kumpulan berarti banyak nih stories nya
profile-picture
profile-picture
midahhay dan harrywjyy memberi reputasi
Lihat 1 balasan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Jejaak
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi
Titip jejak
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi
Lihat 1 balasan
emoticon-Sundul
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi
Diubah oleh shinwjy
ceita lainnya gan
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Cerita Ke-2 - Ketika Maghrib Tiba

Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


KETIKA MAGHRIB TIBA

Sore itu dengan santainya aku duduk di teras rumah sambil membaca komik jepang kesukaanku, biasanya kalau sudah bersantai begini aku selalu lupa waktu. Untuk itulah aku memilih waktu sore untuk jadi jam santaiku, karena di waktu ini aku tidak akan lupa waktu. Adzan maghrib akan berkumandang dan aku pun sudah pasti segera masuk seperti orang pada umunya.

Aku sendiri biasa dipanggil Nata, atau kependekkan dari Natasha. Sambil ditemani musik yang berasal dari earphone-ku, aku membuka tiap-tiap lembar dari komik yang aku baca ini. Sekitar satu jam setengah aku duduk, bapakku kemudian datang dan menyuruhku masuk pada pukul 18:00. Saat itu sudah banyak orang yang berangkat ke masjid, bacaan-bacaan sholawat juga sudah terdengar. Tinggal menunggu waktu maghrib tiba saja.

Aku pun masuk dan mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat di rumah. Karena aku sholat sendiri, terkadang sholatku itu lebih cepat dengan yang di masjid. Jadi ketika di masjid masih sholat, aku sudah selesai. Setelah selesai bapak memintaku untuk membeli permen di warung. Karena adikku yang masih berusia sekitar empat tahun itu tidak mau makan kalau tidak di kasih permen dulu. Namanya Raffi.

“Rese banget si Raffi! Jadi gue kan yang disuruh beli.” Ucapku yang menggerutu karena kesal, karena aku mau lanjut baca buku komik, aku pun meminta uang pada bapak untuk beli permen itu sekarang juga.

“Masih maghrib.” Kata bapak menjawabku.

“Gak apa-apa pak, sekarang aja.” Karena aku memaksa, bapak pun memberi uang dan membiarkanku pergi untuk membeli permen ke warung.

Akhirnya di suasana maghrib itu, aku berangkat ke warung. Saat itu langit saja masih warna keungu-unguan dan suara doa-doa masih terdengar dari masjid. Keadaan sekitar juga sudah sepi, hanya aku yang berjalan sendirian. Jarak dari rumah ke warung sebenarnya dekat, cuma yang jadi masalah itu aku harus melewati jalan yang berputar untuk sampai kesana.

Kumpulan Cerita Horor Mistis | Jagad Mistis Nusantara

Source : langitbirukebebasan.blogspot.com

Jadi aku yang memang sudah biasa lewat sana pun berjalan dengan santainya. Selama perjalanan ke warung, aku harus lewat sebuah tempat yang bisa dibilang lumayan seram. Tempat itu adalah sebuah pohon rambutan besar yang dari aku kecil sudah ada. Malah lebih tua dariku mungkin, pokoknya sudah lama sekali. Setiap kali lewat situ, aku tidak pernah mau menoleh. Saking takutnya. Singkat cerita, saat aku lewat tempat itu aku tidak menoleh kemana-mana. Pandanganku lurus ke jalan menuju warung.

Beberapa saat kemudian aku pun sampai di warung, aku membeli permen yang biasa dimakan Raffi. Harganya tidak mahal, dengan seribu rupiah kira-kira aku bawa tujuh biji. Karena mumpung sudah ada disana, aku sekalian saja membeli beberapa makanan yang aku suka. Sampai akhirnya aku selesai, dan segera berjalan pulang. Masih dengan suasana maghrib yang kental.

Sambil jalan, aku juga memakan satu permen punya Raffi. Dan karena memang sudah jalannya, kali ini aku melewati pohon rambutan itu lagi. Dengan cara seperti biasa aku berjalan tanpa melihat kearah pohon. Tapi entah kenapa ... kali ini berbeda. Aku dengar dengan jelas sekali, ada suara dari atas pohon rambutan. Suara itu mirip suara orang yang sedang bersiul.

Aku tidak berpikir apa-apa, aku pikir mana ada setan bisa bersiul. Paling juga si Roni. Ucapku dalam hati, Roni sendiri adalah tetanggaku, anak kecil sekitar tujuh tahun yang memang suka bersiul kalau sedang bosan. Jadi aku pun menatap keatas berharap itu Roni yang akan segera aku bawa pulang.

Tapi setelah lihat keatas, ternyata bukan Roni. Ada sosok laki-laki bugil, tanpa pakaian sedang duduk di batang pohon. Seluruh kulitnya hitam legam, cuma mata dan gigi runcingnya yang putih. Dan rambutnya panjang, gimbal tak terurus. Mirip orang gila, tapi ini jauh lebih menyeramkan. Aku pun terpaku menatap sosok itu. Kemudian ia mengeluarkan lidahnya yang panjang seperti ular. Di titik ini barulah aku sadar sosok itu bukan manusia.

Bodohnya aku, bukannya lari ke rumah. Aku lari kearah warung, jadi aku tidak berani melewati sosok itu dan memilih untuk putar balik ke warung. Aku lari sekencang-kencangnya dan sampailah di warung tadi. Tidak ada yang tanya aku kenapa, karena saat itu masih sepi juga. Jadi aku duduk di teras warung itu dengan keringat yang mengucur deras, aku mau nangis tapi malu. Ketakutan setengah mati.

Aku sudah sering lewat situ, memang seram tempatnya. Tapi setiap kali lewat pohon itu, tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan saat aku pulang tengah malam pun aku tidak pernah lihat yang seperti itu. Baru kali ini aku ketakutan lewat pohon itu.

Namun beruntungnya aku, aku baru ingat kalau warung itu juga dekat dengan masjid. Jadi tak lama para jama’ah sholat maghrib pun bubar. Aku menunggu mereka, barangkali ada yang searah denganku. Karena saat itu aku tidak berani jalan sendirian. Akhirnya ada tiga orang tetanggaku yang baru pulang dari masjid. Aku pun lega, jalanan akan terasa ramai dengan mereka.

“Dari warung Nat?” Tanya salah satu tetanggaku yang seorang bapak-bapak paruh baya.

“Iya ... si Raffi minta permen maghrib-maghrib.” Jawabku dengan suara yang gemetar.

Kami pun lanjut berjalan, setelah beberapa langkah, pohon rambutan itu mulai kelihatan. Dari kejauhan aku tidak melihat sosok itu. Aman! Pikirku dalam hati. Aku terus melangkah dibelakang para bapak-bapak ini. Sampai akhirnya kami persis berada di dekat pohon itu. Sumpah, aku tidak mau menengok kemanapun. Malah kali ini aku jalan menunduk, enggan rasanya melihat sekitar.

Tapi tidak tahu kenapa, ingin rasanya aku menoleh ke samping arah pohon rambutan. Aku sudah baca-baca doa dan lain-lain untuk mengalihgkan perasaan itu. Tapi tetap saja, rasanya ingin sekali menoleh kearah samping. Sampai akhirnya aku tidak tahan, aku pun menoleh ke samping.

Apa yang aku lihat? Aku lihat sosok hitam bugil itu lagi, kali ini dia sudah di bawah. Dan yang membuat aku merinding adalah, posisinya. Sosok itu tidak berdiri dengan kaki, ia berdiri dengan tangan. Jadi posisinya terbalik. Matanya melotot kearahku sambil terus memamerkan lidah panjangnya yang menjulur.

Karena tidak bisa menahan takutku lagi, aku teriak kecil dan langsung menerobos tiga orang yang ada di depanku. Aku lari secepat mungkin kerumah sambil menangis. Terus berlari, bahkan sampai sandalku putus. Tapi aku tak peduli, yang penting cepat sampai di rumah. Aku sampai di rumah dengan keadaan menangis ketakutan, bapakku langsung keluar dan menanyaiku. Tapi aku tidak bisa menjawab serta terus menangis.

Aku pun dibawa masuk ke rumah, tapi tetap saja aku terus menangis. Aku yang sudah ketakutan setengah mati masuk kamar sekitar selesai isya dan langsung tidur sampai keesokan paginya. Dan di pagi hari itu, aku jatuh sakit selama dua hari. Dan setelah sembuh, aku baru bisa cerita ke bapak mengenai kejadian waktu itu. Karena kejadian itu juga, aku pun trauma. Aku tidak pernah lagi keluar di waktu maghrib, dulu waktu kecil bapak juga sering menakut-nakutiku kalau setiap maghrib, setan dan jin berkeliaran. Dan kini aku mempercayai omongan itu.

Quote:


Spoiler for Pesan Penulis:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masbandoel dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh harrywjyy
Lihat 1 balasan
Malam update lagi ganemoticon-Sundul

Cerita Ke-3 - Order Dari Kubur

Quote:


Spoiler for Deskripsi:


Quote:


ORDER DARI KUBUR


Ah, malam yang terasa sejuk, syukurlah tak terlalu dingin malam ini. Walau genangan-genangan air terlihat masih ada di jalan raya. Di balik balutan jaket sekaligus seragamku, aku melajukan sepeda motor melintasi jalan raya yang sepi. Terlihat dipinggir jalan orang-orang berjaket hijau sama sepertiku sedang asik ngobrol sambil menunggu datang nya orderan. Suasana malam kota ini memang menjadi agak berbeda setelah munculnya profesi ojek online ini, kini banyak pengendara berjaket hijau yang mondar-mandir di sekitar kota yang telah terlelap ini.

“Mas, sesuai aplikasi ya. Jangan terlalu banyak sambal.” Kata seorang customer yang berujar melalui chat di layar smartphone-ku. Segera aku menjawabnya “Ok!”

Aku sampai disebuah rumah makan malam, beruntung aku datang saat suasananya masih sepi. Sehingga tak akan terlalu lama. Aku memesan Mie Ayam sesuai dengan yang tertera dalam aplikasi. Setelah itu aku biarkan saja sang pemilik rumah makan menyiapkan pesanannya. Aku duduk di salah satu kursi kosong, ya memang kosong semua sih. Sambil menunggu, aku membuka beberapa aplikasi sosial media dan mengupdate informasi disana. Sesekali angin bertiup begitu dingin, tapi aku masih terlindungi oleh jaket dan sarung tanganku.

“Silahkan pak.” Kata seorang pelayan saat mengantarkan pesananku yang sudah siap. Aku lekas membayar sesuai harga kepada pelayan itu. “Makasih bang!” Kataku kemudian kembali ke motor, memakai helm kemudian melaju pergi.

“Sesuai lokasi ya mbak.” Kataku kepada customer melalui chat. Aku melajukan motor dengan sesegera mungkin, menembus dinginnya malam ini. Melewati jalan raya sebelum akhirnya sampai di jalan kampung yang tak terlalu besar, tapi cukup untuk mobil dua arah. Aku terus saja mengendarai motor mengikuti petunjuk di aplikasi, memasuki gang-gang sempit dan pemukiman warga yang lumayan padat. Hingga petunjuk-petunjuk itu membawaku ke sebuah rumah. Aku berhenti dan berjalan ke arah pintu rumah setelah alamatnya sudah ku pastikan benar.

“Assalamualaikum!” Ucapku sambil mengetuk pintu perlahan. Rumah itu terlihat gelap, tampaknya beberapa dari mereka sudah terlelap. Tak lama kemudian seseorang menyalakan lampu dan menjawab ucapan salamku. Pintu dibuka dan terlihat seorang pria tua berusia sekitar 60 tahun menatapku dengan wajah aneh. Aku pun merasa bingung juga dengan tatapan itu.

“Pasti Mie Ayam?” Tanya bapak itu.

“Iya Pak, Atas nama-“

“Irma Setyaningrum!” Kata bapak itu yang mendahuluiku berbicara.

“Iya benar pak.” Ucapku yang agak canggung.

Bapak itu mempersilahkanku duduk di beranda rumah yang sudah tersedia kursi, aku duduk sambil menunggu bapak itu kembali. Sedangkan pesanannya sudah beliau bawa masuk ke dalam. Halaman rumah ini cukup luas, ada juga tenda yang terpasang dan beberapa bangku plastik yang tertumpuk rapi, nampaknya rumah ini baru saja menggelar semacam acara atau hajatan. Dari dalam rumah aku mendengar suara bapak itu yang sedang berbicara, tapi aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian, bapak itu kembali keluar. Dan memberikan uang pecahan seratus ribu kepada ku.

“Kembalinya ambil aja nak.” Kata Bapak itu.

“Kok gitu pak?” Tanyaku.

“Sebagai tanda terima kasih, karena kamu masih mau mengantar pesanan anak saya di malam yang sudah larut ini. Salut saya dengan anak muda seperti kamu. Maaf ya, anak saya satu-satunya itu suka iseng.” Kata Bapak itu.

Ucapannya memang memujiku, tapi ekspresinya aneh. Wajahnya begitu datar dan tak ada senyum. Setelah beberapa kali ku tolak, bapak itu terus memaksa. Dengan alasan mengantuk dan ingin segera beristirahat, bapak itu menyuruhku segera pergi dan membawa uang itu. Akhirnya kau tahu sendiri, aku pergi membawa uang itu. Lumayan, rezeki di tengah malam yang tak disangka.

Aku kembali ke motorku, dan setelah pamit dengan bapak. Aku segera mengendarai motor meninggalkan rumah itu. Setelah beberapa meter dari rumah itu, dan hendak memasuki gang. Aku berhenti dan melihat sebuah bendera kuning, dengan nama Irma Setyaningrum. Baru saja meninggal hari ini. Nama itu jelas adalah nama yang ada di aplikasiku, posisi rumahnya juga cuma beberapa meter dari bendera kuning ini. Aku bingung, dan menoleh ke arah rumah tadi. Terlihat bapak itu masih berdiri di depan rumahnya dan menatapku dari kejauhan. Dan terlihat bapak itu menggerakkan tangannya berisyarat supaya aku segera pergi. Mulutnya juga seperti mengatakan sesuatu namun aku tak bisa mendengarnya karena kejauhan. Hanya satu yang aku pahami, bapak itu hendak menyuruhku agar segera pergi dari sini secepatnya! Aku pun merinding ketakutan. Bapak itu memakai sandal dan hendak berjalan menghampiriku, tapi orang tua itu jalannya terlalu lambat.

Tiba-tiba layar smartphone ku bergerak sendiri. Sebuah video-call masuk dari nomor Irma Setyaningrum. Aku tak mau mengangkat video-call itu, akan tetapi smartphone ku menerima video-call itu dengan sendirinya. Seperti dikendalikan seseorang.

Dan di layar smartphone itu, terlihat wajah Irma Setyaningrum. Dengan wajah pucat, lubang hidung ditutup kapas serta berbalut kain kafan menatapku dan berkata. “Aku kasih bintang lima ya mas.”

Quote:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masbandoel dan 6 lainnya memberi reputasi
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
Lanjut gan. jangan kentang ye
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
numpang pasang tenda dah
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi

Malam Terindah

Quote:


Spoiler for Cerita ke-4:


MALAM TERINDAH

“Hai sayang!” Ucap Risa saat membuka pintu dan melihat suaminya pulang.

Wajar saja, selama ini Risa di tinggal oleh Bayu suaminya yang bekerja sebagai supir truk antar provinsi.
Pasangan muda ini sering berpisah sehingga menimbulkan rasa rindu yang tak tertahankan. Setiap suaminya pergi mengantar barang ke luar kota, Risa selalu sendirian di rumah kecilnya. Sesekali juga ia pulang ke rumah orang tuanya agar tidak kesepian. Namun kini, di malam ini Bayu baru saja pulang dari pekerjaannya. Senyum manis istrinya menyambut ia saat masuk ke dalam rumah.

“Sepi banget rumah ini.” Kata Bayu.

“Kan biasanya juga cuma kita berdua, kita belum punya anak lho sayang.” Jawab Risa.

“Oh iya ya, pantas saja sepi.” Balas Bayu yang kemudian merangkul istrinya dan masuk ke dalam rumah.

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Suara jangkrik terdengar dari perkebunan singkong di samping rumah mereka. Sinar bulan pun tampak redup tertutup oleh awan yang lumayan pekat saat itu, namun kencangnya hembusan angin membuat hujan tak turun juga.

Bayu duduk beristirahat di teras rumah setelah kelelahan melewati perjalanan panjangnya. Tubuhnya terasa pegal-pegal dan lemas. Kebetulan ia juga belum makan saat itu. Akan tetapi ia menolak makan saat Risa menawarkannya, dengan alasan lelah dan ingin segera tidur. Akhirnya ia hanya minum secangkir kopi sambil menghabiskan sebatang rokok. Risa duduk menemani suaminya itu sambil bercerita kegiatan yang dilakukannya selama Bayu pergi. Begitu juga Bayu yang mendapat pengalaman baru selama perjalanan pulang-pergi keluar kota.

Sekitar pukul 22:00, Bayu meminta masuk rumah dan segera tidur. Risa segera menyiapkan kasur untuk tempat mereka tidur. Merapikan sprei dan mengatur posisi bantal. Ranjang mereka yang tak terlalu besar membuat Risa mampu melakukannya dengan cepat. Tak lama kemudian Bayu datang memasuki kamar sambil tersenyum ke arah istrinya, dia juga sempat menyimpan barang-barang bawaannya di salah satu sudut kamar. Risa pun membalasnya dengan senyumnya yang terlihat malu-malu.

“Gak sholat dulu mas?” Tanya Risa yang kemudian membelakangi Bayu.

“Gak usah, besok aja.” Kata Bayu yang kemudian menghampiri Risa dan kemudian memeluknya dari belakang.

Pasangan muda yang telah lama tak berjumpa itu pun melewati malam yang indah ini bersama. Dengan cinta yang masih menggebu-gebu, suasana ranjang begitu terasa romantis dan syahdu. Di tengah gelapnya malam mereka saling berbagi kasih dan sayangnya. Dan hingga pagi menjelang, hawa yang penuh cinta ini akan terus bertahan di antara mereka berdua.

✳️ ✳️ ✳️

“Ting! Ting!” Ringtone handphone Risa terdengar berbunyi dari ruang tamu. Setelah melihat suaminya yang terlelap, ia segera memakai baju sehari-hari dan berjalan menuju ruang tamu. Sebelum mengambil handphone, Risa terlebih dahulu menyalakan lampu dan membuka gorden jendela. Dengan mata yang masih mengantuk, Risa tak sempat melihat siapa yang menelpon pagi itu. Ia langsung mengangkatnya tanpa tahu siapa yang menelpon.

“Halo?” Ucap Risa.

“Risa, ini aku sayang. Sayang, aku belum bisa pulang ya. Aku mendadak harus mampir ke Jepara. Tapi cuma sebentar kok, besok juga aku sudah pulang.” Kata seseorang di telepon yang suaranya menyerupai Bayu.
Risa kemudian melihat ke layar handphone untuk memastikan siapa yang menelpon. Dan memang benar, yang menelpon itu adalah Bayu. Lantas siapa yang tidur bersama Risa semalam? Risa bingung sekaligus takut, jantungnya berdegup cepat.

“Mas, itu yang di kamar siapa dong?” Tanya Risa dengan nada pelan dan wajah pucat.

“Halo? Kenapa sayang?” Tanya Bayu dari telepon.

Risa pun lemas dan menjatuhkan teleponnya. “Halo! Halo!” Ucap Bayu dari telepon. Dengan wajah pucat dan pasrah Risa menelan ludah. Kemudian berbalik dan memberanikan diri berjalan ke arah kamarnya.

Belum sampai di kamar, langkah Risa terhenti saat sesuatu meghalangi jalannya menuju kamar. Sesuatu itu adalah sosok makhluk berbadan tinggi dan kekar. Badannya ditumbuhi bulu yang lebat, dari balik bulunya terlihat warna kulitnya yang hitam legam. Makhluk itu menatap Risa dengan matanya yang merah manyala sambil memamerkan gigi-giginya yang besar dan runcing. Risa teriak histeris melihat sosok itu. Belum sempat ia melarikan diri, tubuhnya yang sudah lemas itu lebih dulu pingsan di tempat.

Quote:


Quote:


emoticon-Cendol Ganemoticon-Sundulemoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masbandoel dan 6 lainnya memberi reputasi
lanjuttttt
emoticon-Sundul

Setan Dunia Maya

Quote:


Quote:


emoticon-Jempol

SETAN DUNIA MAYA

Senja itu aku menatap langit dengan penuh kerinduan. Kerinduan akan keluarga yang telah aku tinggalkan. Aku terlibat pertengkaran dengan orang tua yang membesarkan ku sejak kecil, membuat ku pergi dan hidup seorang diri di kamar kost yang sederhana ini.

Kamar kost yang baru beberapa hari aku tempati ini. Semua kebahagiaan dan hal indah yang aku miliki sejak dulu hilang begitu saja. Bodohnya aku meninggalkan mereka, meninggalkan kebahagiaan yang sejak dulu aku rasakan. Dan menjalani hidup dengan penuh kesendirian.

Hari ini akhir pekan, aku tak beraktivitas, seharian aku menghabiskan waktu bersama handphone ku, melihat sosial media dan lainnya. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh orang yang kesepian. Semua aku lewati begitu cepat, sampai akhirnya sekarang sudah waktunya malam datang. Kamar kost ku berada di lantai dua membuat senja terlihat jelas dari sini, senja yang sangat indah, aku menatapnya, dan semoga keluarga ku menatap nya juga. Menatap senja yang sama.

Pukul 23:00

Lagi-lagi waktu berlalu begitu cepat, aku tetap bermain main dengan gadget ku, melihat sosial media. Di tengah kesunyian dan heningnya kamar kost ku. Sesekali aku berkomentar di beberapa postingan. Aku berkomentar laksana seseorang yang benar dan bijak, padahal dalam kehidupan yang sebenarnya aku hanyalah seorang pecundang yang membenci diri sendiri, seseorang yang gagal karena keegoisannya sendiri, dan dengan bodohnya aku menasehati mereka.

Saat aku sedang asik dengan kegiatan ku, tiba-tiba dering gadget ku berbunyi dan memecah keheningan malam di kost ku ini. Ada sebuah pesan masuk, pesan itu dari seseorang yang tidak aku kenal. Ia begitu ramah dan baik. Dia seorang perempuan sama seperti aku, Walau awalnya aku terganggu, perlahan orang ini bisa memahami semua obrolan ku. Aku merasa cocok berbicara dengan orang ini.

Aku mengajaknya berkenalan, namun ia tak menyebutkan nama nya. Menurutnya tak penting mengetahui nama, yang terpenting kita bisa akrab terlebih dahulu. Aku mencoba menuruti dan mengikuti cara berbincang nya. Ini sangat membantu ku disaat aku kesepian, dan sejenak aku melupakan rasa rindu pada keluarga ku.

Terkadang kita kehabisan bahan pembicaraan di chat, terkadang pula ia lama dalam menjawab chat ku. Sesekali aku melakukan selfie sembari menunggu nya membalas chat ku. Saat kita kehilangan pembicaraan, kita selalu menemukan topik pembicaraan baru. Dan ini membuat ku merasa nyaman dan tak pernah bosan. Sudah lama aku tak mendapatkan momen momen mendapatkan seorang teman, teman yang benar benar bisa mengerti aku dan mau mendengarkan keluh kesah ku.

Aku merasa mendapatkan keluarga baru, yang membuatku berfikir ia bisa menggantikan keluarga yang aku tinggalkan. Karena di tengah keputusasaan ku ini, aku mendapat support baru dari seseorang. Yang memang aku butuhkan.

Tak terasa aku sudah mengobrol dengannya selama 2 jam, dan jam menunjukkan pukul 01:00. Aku belum juga tidur, karena masih banyak yang ingin aku ceritakan kepada teman baru ku di sosial media ini. Namun pada akhirnya aku sadar bahwa aku punya kegiatan esok hari, aku sudah terlambat tidur dan tidak bisa terjaga lebih lama lagi, agar tidak mengantuk keesokan harinya.

Namun sebelum kami menyudahi obrolan, ia meminta ku untuk mengirimkan foto ku karena ingin melihat wajah ku. Aku mengirimkannya foto selfie yang baru aku ambil beberapa saat. Aku segera berbaring dan mencoba terlelap, namun suara gadget ku terus berbunyi, dan dia membalas chat ku lagi.

Aku pun terfikir untuk meminta nya mengirimkan foto karena aku juga penasaran bagaimana wajah orang yang sejak tadi mengobrol dengan ku. Namun ia berkata tidak mempunyai foto, karena menurutnya kamera nya berkualitas jelek. Tak lama berselang, ia membalas lagi. Kali ini pesannya sedikit aneh.

"Boleh aku datang ke rumah mu, dan meminjam kamera untuk foto." Ujarnya melalui chat.

Aku berkata untuk menemui ku esok hari karena sudah malam, aku ingin menemuinya esok hari karena aku memang penasaran bagaimana sosoknya, sekaligus ingin berkenalan dan berbincang dengannya secara langsung.

Namun, ia kembali menjawab dengan aneh, kalau ia sedang dalam perjalanan ke kamar kost ku, ia sedang di jalan. Bagaimana ia tahu alamat kost ku? Aku bingung dan mengganggap ini guyonan, dan ia membalas chat ku lagi.

"Kalau bisa sekarang, kenapa harus besok?" Begitu balasan yang aku dapat.

Aku pun berkata kepada nya, kalau aku akan segera tidur dan tidak bisa membalas guyonannya lagi. Tapi ia membalas ku lagi, ia bilang akan segera mengirim foto nya, karena ia menemukan foto dirinya yang baru ia temukan di galeri lama nya. Aku pun sesaat membatalkan niat ku untuk tidur, demi menunggu foto kirimannya.

Setelah aku menahan rasa ngantuk ku beberapa menit, terdengar dering dari gadget ku, dan ternyata ia sudah membalasnya. Ia mengirimkan ku foto dan aku membuka nya untuk melihat wajah orang yang sejak tadi mengobrol dengan ku. Dan benar saja, aku melihat nya. Ia sangat cantik dengan rambut lurus nya yang hitam, kulitnya halus dan putih. Membuatku tak sabar untuk menemuinya keesokan hari nya. Aku pun berniat membalas chat dengan pujian, belum sempat aku memuji nya, ia sudah mengirim pesan terlebih dahulu. Aku pun membacanya.

"Aku sudah ada di ruangan mu." Ucapnya dalam tulisan chat.

"Bohong, bercanda terus. Aku mau tidur." Balas ku kepadanya.

Sembari menunggu nya membalas chat, aku melihat foto nya untuk beberapa saat. Dan aku mulai menyadari sebuah keanehan, keanehan yang tak pernah terpikirkan oleh ku, membuat seluruh tubuh ku merinding melihatnya. Di foto itu jelas ia sedang berfoto, tak ada yang aneh dengan foto nya.

Yang aneh adalah background atau latar tempat ia berfoto. Ia berfoto di tempat yang persis sama seperti kamar kost yang aku tempati saat ini. Aku pun ketakutan karena jelas ini bukan lah sesuatu yang normal dan wajar terjadi. Ini benar benar tak masuk akal. Aku tidak berani berkomentar, aku tak berani membalas chat nya lagi. Sampai akhirnya ia mengirimkan ku pesan.

"Aku sudah sampai. Aku akan mengetuk kalau kau ketiduran." Ucap nya dalam chat.

Aku pun mendengar suara langkah kaki yang berhenti tepat di depan pintu, perlahan aku turun dari kasur ku. Berjalan ke pintu dengan kaki ku yang gemetar, aku berjalan perlahan tanpa membuat suara. Sangat terasa perasaan takut yang hampir menguasai ku. Saat sampai di depan pintu, aku membungkuk dan mengintip dari lubang kunci pintu.

Dan benar, disana aku melihat seorang gadis menggunakan gaun putih, namun aku tak melihat wajah nya. Yang aku lihat hanya sebatas baju nya saja karena pandangan ku terbatas dari lubang kunci tersebut. Aku semakin ketakutan. Aku bergegas ke ranjang ku, berbaring dan menutupi seluruh tubuh ku dengan selimut.

Tiba tiba terdengar suara ketukan yang sangat berisik dan mengganggu, namun aneh nya suara ketukan itu tidak berasal dari pintu. Melainkan dari dalam lemari kayu kosong yang tidak terpakai. Aku sangat ketakutan dan menangis, aku benar benar takut dan bingung harus berbuat apa. Aku melihat gadget ku dan dia mengirimi aku pesan.

"Aku di dalam lemari kayu. Tolong buka!" Ucapnya.

Aku semakin ketakutan membaca pesan teks tersebut, sesekali aku putus asa dan pasrah. Namun di tengah keputusasaan ku ini, suara seorang gadis terdengar dari luar. Suara gadis yang sejak tadi berdiri di depan pintu ku.

"Buka! Buka pintu nya! Aku akan menyelamatkan mu!" Teriak nya dari luar pintu.

Aku telah berfikir buruk tentang seseorang di luar sana, ternyata gadis tersebut tidak berniat jahat, namun setelah gadis itu teriak. Suara ketukan dari dalam lemari semakin keras, dan mulai terdengar seperti suara orang yang berusaha mendobrak.

"Buka pintu nya! Kumohon atau kau tak akan selamat!" Teriak gadis itu dari luar sana.

Namun gadget ku kembali berdering, dan dia mengirimkan pesan lagi. Dia yang berada di lemari kayu misterius di kamar ku ini.

"Jangan Buka! Kumohon Jangan Buka pintunya! Jangan buka pintu!" Ucap nya dalam chat.

Aku berniat membuka pintu dan kabur bersama gadis di luar sana, namun tubuh ku bergetar hebat, keringat dingin mengucur deras, aku sangat ketakutan. Aku melihat lemari kayu tersebut berjalan dengan sendiri nya ke arah ku. Sementara gadis di luar sana berusaha mendobrak pintu kost ku. Aku mundur perlahan karena ketakutan, namun lemari itu terus saja bergerak dengan sendirinya kearah ku.

Aku kehabisan akal saat aku sampai di ujung ruangan. Aku menangis ketakutan dan meminta tolong. Aku pun kehilangan akal ku, lemari itu terus bergerak mendekat, aku akan melakukan apapun agar bisa lari dari tempat ini. Aku pun membuka jendela, dan memberanikan diri untuk lompat dari lantai dua.

Tak ada waktu lagi, lemari itu sudah di depan ku, entah apa yang akan terjadi kalau aku terlalu lama berfikir. Maka aku pun langsung nekat melompat dari kamar kost ku yang ada di lantai dua. Sesaat sebelum aku jatuh, gadis itu berhasil mendobrak pintu dan masuk ke kamar ku. Namun aneh nya ia membawa sebuah pisau dapur yang tajam. Aku pun menghiraukannya.

Tubuhku terjun bebas ke bawah, tak terlalu tinggi namun aku serasa terbanting dengan keras ke tanah. Kepala dan kaki ku sakit. Para orang orang di sekitar lari ke arah ku dan menyelamatkan ku, aku melihat orang orang yang datang mengerumuni ku, pandangan ku kabur, dan aku melihat di jendela kamar kost ku.

Gadis itu, gadis itu berhasil masuk ke kamar kost ku, ia menatap ku dari jendela kamar dengan wajah yang marah sambil menggenggam pisau dapur. Lagi lagi aku menghiraukannya dan aku pun pingsan saat di tolong warga sekitar.

Keesokkan paginya aku di rawat di UGD, kaki ku terkilir dan kepala ku luka. Aku juga mendapat kabar yang sangat membuatku shock dan trauma. Sangat mengerikan mendengar kabar ini. Gadis itu, gadis yang berusaha masuk ke kamar ku telah di tangkap pihak kepolisian. Karena kasus pembunuhan, ia membunuh seorang wanita yang juga tinggal di kamar kost yang ku tempati. Beberapa Minggu sebelum aku menempati kamar kost ini, polisi menemukan mayat wanita yang di bunuh gadis itu di dalam lemari kayu di kamar kost ku.

Namun, sang gadis pembunuh itu baru tertangkap di malam setelah aku melompat dari lantai dua, di malam itu juga dia berniat membunuhku karena takut rahasia nya terbongkar, karena ternyata kamar kost itu menyimpan bukti pembunuhan yang ia lakukan. Aku sangat shock dan terpukul.

Aku pun menghubungi keluarga ku untuk meminta maaf, karena aku mulai sadar tak ada yang bisa menggantikan posisi mereka. Dan disaat saat seperti ini, hanya mereka lah yang aku butuhkan. Bukan orang lain.

Quote:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sanzuchiha11 dan 3 lainnya memberi reputasi
up up
baru baca yang pertama aja dah merinding bre.. keren, lanjut baca yang lain
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di