CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Tampilkan isi Thread
Halaman 34 dari 117
Quote:


Sabar kalo masih santai, kalo udah nyenggol ya kudu ditindak wkwkwk
profile-picture
laynard22 memberi reputasi
Quote:


Wah boleh lah bagi link cerita nya xD
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Yg judulnya "Akhir Penantianku"
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Diubah oleh yudhiestirafws

Masih Laku Ternyata

Selama Emi penelitian di lapang gue memutuskan untuk nggak mengganggunya. Biarin aja dia konsentrasi dulu untuk skripsinya. Penelitian butuh fokus dan konsentrasi biar dapat sampelnya juga yang oke, jadi mengurangi kemungkinan untuk mendapatkan data yang jelek di lapangan. Karena jika kondisinya jelek dan nggak pas waktunya, itu bisa jadi hasil pengambilan sampelnya pun nggak maksimal.

Gue melanjutkan hidup gue seperti biasa. Gue membeli beberapa game yang baru rilis untuk konsol gue. Gue lagi malas di kostan, jadi gue membawa pulang konsol gue kerumah. Dirumah pun gue benar-benar nggak kemana-mana selain main game atau menonton DVD. Gue memainkan beberapa game yang mengasyikkan pada waktu itu. Salah satunya adalah game Sleeping dog, yang mana bercerita tentang seorang polisi yang undercover demi bisa masuk kedalam tubuh organisasi mafia hongkong yang punya afiliasi ke mafia cina.

Jalinan cerita dan juga gameplay yang menawan saat itu membuat gue sangat ketagihan. Ditambah lagi dengan masukan-masukan unsur perpolitikan yang busuk disana, good cop dan bad cop, seolah menggambarkan negeri ini didalam lingkup yang lebih kecil. Lo mau sukses jadi orang berkuasa, lo harus punya bekingan kuat dibelakang lo, entah pejabat merangkap mafia, atau emang dari awal mafia tapi punya perpanjangan tangan atau koneksi ke pemerintahan. Haha. Gila ini jenius banget yang punya ide cerita awalnya.

Ini yang menyebabkan gue betah sekali dirumah ketika pulang dari kantor. Gue juga mengabaikan banyak call serta chat dari beberapa orang, termasuk dari Dee. Dee entah kenapa jadi seperti ingin intens lagi dengan gue. tapi gue hanya membalas sesekali aja.

Sementara Dewi dan Nindy masih terus aja mencari gue. yang udah berhenti itu adalah Uun. Dia udah benar-benar berhenti. Baik itu chat maupun sosmed. Sementara Dewi dan Nindy seperti terus aja mengejar gue, dan sepertinya mereka saingan, mengingat mereka ini adalah teman satu kelas.

Mereka seperti nggak ingin menyerah dalam perburuannya merebut hati gue. Tapi mereka nggak tau kalau Emi adalah tujuan gue. Cuma dia yang berhasil memenuhi hampir seluruh kriteria yang gue buat. Jadi buat apa lagi ada orang lain kan? Dia juga nggak pernah membuat gue bosan dengan obrolan kami yang terus menerus. Karena ya itu, ada aja bahasannya. Seperti nggak pernah habis.

Pada saat itu juga gue ada undangan datang ke latihan paskibra di sekolah. Jadi gue sempatkan datang ketika gue sedang ada kerja dilapang, gue nggak balik kekantor, tapi pulang langsung aja kerumah, nggak lupa mampir dulu ke sekolah yang nggak jauh jaraknya dari rumah gue.
Ketika gue datang, latihan menyisakan waktu sekitar 30 menit. Tapi disana ternyata banyak alumni yang datang. Salah satu alumni yang ada disana adalah Ara. Gue bingung kenapa Ara tumben banget nggak ngabarin gue mau datang kesekolah. Dia menjadi alumni yang relatif baru nongol lagi. Jadi wajar banyak yang nggak kenal sama dia. Hanya beberapa alumni lain yang lebih muda dari dia yang kenal.

“Kok nggak ngabarin kamu?” tanya gue.

“Hehe. ini juga dadakan Ja. Kamu sama siapa kesini?” tanya balik Ara.

“Aku sih sendiri aja Ra. Kamu?”

“Sama suami aku. Tapi dia lagi ada urusan. Jadinya nanti dia balik lagi jemput aku kesini.”

“Lah ini kan udah mau selesai latihannya. Ntar kalau ternyata dia telat jemput kamu gimana?”

“Ya mampir aja dulu kerumah kamu Ja. hehehe.”

“Oh iya juga sih. Hehehe.”

Ternyata disana juga ada Nurul. Ara dan Nurul nggak pernah ketemu langsung sebelum-sebelumnya, karena semenjak lulus dari SMA, Ara udah hampir nggak pernah nongol lagi ke ekskul paskib disekolah.

“Ul, sini kali. Haha.” Kata gue.

Dia cuma senyum dan lalu menghampiri kami berdua.

“Lo kenal nggak siapa ini?” tanya gue.

“Nggak kang. Senior juga ya teh? Maaf saya nggak kenal. Kenalin saya Nurul teh.”

“Iya saya emang nggak pernah nongol kesini lagi semenjak lulus. Saya Ara. Hehe. salam kenal ya.”

“Tinggi kalian nggak beda jauh ya. wajar jadinya di susunan pasukan kalau baris pasti ada dibelakang. Hahaha.”

“Yee, emang nasibnya cuma segini tingginya, mau gimana lagi kang?” kata Nurul.

“Tau nih, kenapa jadi tinggi badan dibawa-bawa.” Sambar Ara.

“Abis ini makan dulu diwarung bakso sana, mau nggak?” kata gue.

“Nanti kalau suami aku datang gimana?” Ara bertanya.

“Ya suruh ikutan aja sekalian kan.” Kata gue.

“Lo mau kemana Ul abis ini? Gabung aja yuk. Udah lama gue nggak ngobrol sama lo Ul.” Lanjut gue bertanya ke Nurul.

“Belum ada rencana, paling gue balik kerumah kang.”

“Eh lo udah lulus kan Ul?”

“Hehe. udah kang. Baru aja wisuda dua minggu lalu.”

“Wah selamat ya. hehe. sekarang gawe dimana lo?”
“Gue gawe di bank kang.”

“Nggak jauh-jauh ye. Hehehe.”

“Iya gitu lah. Hehe.”

Kemudian kami bertiga kembali ke pinggir lapangan dan mengamati junior kami yang sedang berada dilapangan untuk berlatih. Saat itu sudah mulai diajarkan gerakan dinamis. Yang mana artinya itu bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Tidak berada disatu tempat biasa. Langkah tegap maju jalan dan langkah biasa adalah jadwal porsi latihan hari itu.

Sementara gue mengamati, Ara dan Nurul asyik mengobrol. Gue pun menghampiri beberapa senior dan alumni lainnya yang gue kenal. Ada obrolan-obrolan ringan diantara kami. Dan semuanya mengarah kepada kemunduran prestasi dan pola latihan yang membosankan. Itu yang gue udah simpulkan pada pelantikan paskibra beberapa waktu yang lalu.

Anak-anak ini terutama senior yang masih berada disekolah kok nggak bisa membaca situasi. Padahal mereka tiap saat ada disana sebagai pelatih. Yang merumuskan latihan-latihan perminggunya juga mereka. Tapi mereka nggak melihat apa yang terjadi dengan junior mereka. Semakin kesini memang seperti yang gue bilang, anak-anaknya semakin berani mengambil keputusan. Tapi sayangnya beberapa keputusan tidak strategis dan tidak ada rundingan dengan angkatan atas.

Pada dasarnya rundingan ini bukan untuk mengintervensi keputusan senior yang ada disekolah, tapi lebih kepada mengarahkan supaya keputusan yang diambil bisa memenangkan kepentingan orang banyak, baik itu dari sisi senior maupun junior.

Memang nggak mudah untuk mengelola suatu organisasi dengan banyak anggota didalamnya. Gue merasakan dulu ketika gue harus berada di posisi gue sebagai pengurus organsasi paskibra, tapi disaat yang sama status gue sebagai pengurus inti OSIS juga membutuhkan pemikiran-pemikiran gue.

Gue tidak memungkiri bahwa dengan adanya pengalaman organisasi yang mana juga gue lakukan di SMP (OSIS dan Paskibra), menjadikan gue sebagai orang yang lebih bijak dalam pengambilan keputusan. Pun selain itu gue selalu mendapatkan kepercayaan ketika memimpin sebuah acara, proyek dan lain sebagainya. Percaya dengan gue, berorganisasi itu sangat penting. Tapi tidak dengan di masa kuliah. Terlalu banyak intervensi dari luar yang mempengaruhi pengambilan keputusan di organisasi kampus.

Kembali ke pemandangan yang ada dipinggir lapangan. Dua orang yang pernah singgah dihati gue, walaupun hanya sementara waktu, lagi asyik mengobrol. Ternyata Nurul masih sendiri, sementara Ara seperti yang udah diketahui, udah menikah dan terlihat berbahagia dengan suaminya.

Gue melihat mereka berdua jadi senyum senyum sendiri. Dua orang ini pernah suka sama gue. untungnya sekarang mereka udah selesai dengan perasaan mereka ke gue, dan udah sama-sama move on. Nurul pada awalnya agak menjauh dan bahkan nggak mau ketemu sama gue. pada beberapa kesempatan alumni diundang datang seperti ini, dia nggak mau dekat-dekat dengan gue ketika kami bertemu. Untung aja semuanya sekarang udah normal kembali.

Sebelum berakhirnya sesi latihan, ternyata suami Ara sudah datang dan dia pamit duluan. Sementara Nurul yang awalnya gue ajakin untuk makan bakso memilih untuk pulang duluan. Sepertinya dia nggak mau diusik lagi kehidupannya. Dia mungkin takut kalau banyak berinteraksi lagi dengan gue, perasaan yang dulu pernah ada bisa balik lagi.

--

Tiga hari kemudian, gue menyadari kalau Emi sudah pulang dan harusnya dia ada dikampus, dilaboratorium. Gue pun memutuskan untuk keluar dari kantor lebih cepat, dan itu tandanya pekerjaan gue akan dilanjutkan dirumah. Gue kayaknya akan pulang aja kerumah orang tua gue malam ini. Jadilah gue langsung menuju ke kampus. Perjalanan menuju kampus yang butuh waktu berjam-jam pun gue jabanin. Gue naik motor kesananya.

Sesampainya disana, gue langsung mengarahkan langkah gue ke laboratorium tempat Benu kerja. Emi ternyata ada disana bersama beberapa temannya. Disana gue juga lihat ada Debby si anak kegatelan itu.

“Halo.” Gue berusaha menyapa semua orang yang ada disana.

Dari semua yang ada disitu yang menyapa balik hanya Debby. Sementara yang lain hanya melihat arah datangnya suara, yaitu dari pintu masuk.

“Kak, lo kekampus?” kata Debby.

Yak, anak ini seperti kaget luar biasa dengan kedatangan gue yang mendadak. Gesturnya seperti anak yang salah tingkah. Gue akhirnya bisa memperhatikan dia dari atas sampai bawah secara langsung. Ternyata anak ini semok abis. Badannya terjaga dengan baik, nggak terlalu gemuk, tapi nggak kurus. Pas banget buat ukurannya dia yang tinggi badannya kurang lebih sekitar 164 cm. maju depan mundur belakang. Sayang banget anak ini kelakuannya nggak banget.

Harusnya kalau seandainya aja dia jadi anak baik-baik, pasti banyak yang suka sama dia. Tapi nyatanya dia seperti sadar punya muka oke, bodi oke, dan kemudian malah memikat cowok dengan segala macam cara. Salah satu yang kena perangkapnya ya dua sahabat Irfanda dan Herman. Entah gimana hubungan mereka sekarang karena kelakuan si Debby ini.

Mungkin kalau kelakuan gue masih kayak jaman-jaman kuliah, bisa aja ini anak gue jadiin cem-ceman. Kayak Anin dimasa lalunya. Tapi ya sekedar buat pemuas aja. anak yang model Debby gini nggak pantas untuk mendapatkan curahan perasaan dan rasa sayang gue. Anaknya terlalu gampangan, agresif dan gue tau ini anak suka banget direbutin.

Direbutin dalam artian, ketika dia mendekati beberapa cowok dalm satu waktu, dia akan membuat cowok-cowok ini menganggap dia sebagai putri cantik dari kayangan yang harus selalu dilindungi dan diberikan curahan perasaan yang maksimal. Dengan begitu nantinya nggak boleh ada cowok lain yang memberikan hal itu kepadanya. Akibatnya, cowok-cowok ini akan bentrok karena merasa dapat harapan dari Debby. Sungguh kebangs*tan hakiki dari seorang Debby yang pada dasarnya memiliki fisik yang bagus buat ukuran cewek di jurusan gue yang terkenal kecupuannya.

“Iya, lagi mau ada urusan yang mesti diselesein.” Kata gue tanpa menoleh kearahnya.

Gue langsung duduk diseberang Emi duduk. Meja lab yang besar memisahkan jarak kami, tapi suara gue yang cukup kencang harusnya bisa didengar oleh Emi.

“Halo, Emi.” Kata gue sambil senyum.

“Halo, bang.” kata dia, tanpa melihat ke gue.

“Oy bang. sori gue tidur nih. Emi abis nyuruh gue minum obat. Lagi kurang sehat gue gara-gara nemenin Emi penelitian. Nyusahin dia. Hahaha.” Teguh tiba-tiba menyela.

“Haha santai Guh. Dia emang suka nyusahin.” Kata gue sambil melirik Emi.

“Hmm. Kak Ija nggak kerja? Kok udah di Kampus hari gini?” kata Debby tiba-tiba memotong.

“Gue yang punya kantor. Hahaha. Becanda. Kemaren gue udah ngelembur, maklum gue kan Supervisor di kantor gue yang sekarang. Jadi gue mesti ngecek kerjaan tim gue. Hari ini gue sengaja ambil off, capek banget kemarin.” Terang gue.

Gue tau Emi lagi curi-curi pandang ke gue. Gue panas-panasin aja sekalian dia. Toh gue juga tau kalau ada celah sedikit ini si Debby juga mau ngejar dan dapetin gue. tapi sayangnya, Debby kali ini cuma gue manfaatin buat bikin panas Emi aja. haha. Gue melirik licik ke dia sambil senyum-senyum tipis.

Tiba-tiba dari sisi samping kanan gue datang satu cewek berkerudung, tapi lebih padat merayap bodinya. Profil mukanya cukup manis dengan mata sayunya. Entah kenapa kok gue nggak tertarik sama dia ini. Mungkin karena dia cukup berani untuk mendekati gue duluan.

“Kenapa ga jadi Manajer sekalian, bang? Oh iya, gue Anggun bang. Temen sekelas Debby.” Kata cewek bernama Anggun ini.

“Halo.” Gue menyodorkan tangan gue ke dia. “Nggak ada Manajer di kantor gue. Cuman ada Supervisor dan di atas gue langsung owner. Gue udah jabatan paling tinggi di kantor saat ini.” Kata gue.

“Bangga banget ya pasti. Gaji dua digit pasti ya kak?” Debby tiba-tiba menyahut.

“Gaji pokok belum sih. Tapi kalo ditambah sama fee, uang jalan kalo survey, uang review gue sebagai supervisor, hmm, kalo ditotal bisa lah jadi dua digit per bulannya.” Kata gue santai.

“Gedenya, enak ya yang jadi istrinya…” tiba-tiba Anggun menyahut dan menyolek-nyolek tangan gue.

Touchy sekali. Cewek begini mah sehabis ini gue ajak makan malam ditempat all you can eat juga setelahnya gue ajak ke hotel terus gue pake udah dijamin mau. Nggak deh, terlalu mudah. Jadi nggak ada tantangan. Hmm, tapi dipikir-pikir manis juga ini anak, kali kalau gagal sama Emi, bisa nih sama si Anggun ini. Toh gampang ini nggak perlu banyak perjuangan. Haha.

“Istri? Buset. Gue masih jomblo keleus. Hahaha. Gue mau menjemput calon istri gue dari Kampus ini.”

Gue langsung melirik tajam Emi. Debby dan Anggun yang tadinya cengar cengir didepan gue jadi terdiam. Tapi sejurus kemudian mereka senyum-senyum lagi.

“JANGAN LIRIK-LIRIK CALON ISTRI AKU LHO BANG! DON’T TOUCH MY WIFE!” ada cewek teriak dibelakang Emi.

Cewek ini tinggi banget, kurus, suaranya kencang, plus logatnya agak sedikit medok, tapi dipaksakan berbahasa inggris. Haha. Lucu banget ini cewek gimmicknya. Dia sepertinya sangat akrab dengan Emi. Tapi Emi nggak pernah cerita soal cewek ini. Dia dan Emi terlibat perdebatan.

Emi seperti risih dekat-dekat dengan dia. Itu karena dia bilang Emi adalah calon istrinya sambil menciumi pipi Emi dan terus memeluknya. Itu jijik amat sih bagi gue. Cuma lucu juga ngeliatnya. Gue jadi malah ketawa-ketawa liat tingkah laku cewek ini.

“Bang, boleh kali Bang minta nomor handphone-nya? Kali aja ada yang bisa disharing gitu tentang kerjaan.” Anggun tiba-tiba bertanya ke gue.

“Wahahaha. Nomor handphone gue minta sama Debby aja yak. Dia udah punya kok.” kata gue.

“Bagi dong Deb. Kalo yang begini jangan disimpen sendiri.” Kata Anggun.

“Apa sih lo, Nggun? Maen deketin alumni mulu.” Kata Debby sewot.

“Demi masa depan, Deb. Masa depan!” kata Anggun lagi.

Gue cuma bisa ketawa-ketawa aja ngeliat kejadian konyol mereka berdua yang kayaknya pingin banget deket sama gue. padahal gue kesini nyariin Emi. Tujuan gue cuma Emi seorang.

Nggak lama setelahnya Emi mengagetkan semua orang karena terdengar suara petir diluar. Katanya jemurannya dikostan belum diangkat. Gue mengajak Emi balik duluan.

“Gue pamit ya semuanya.” Kata gue.

“Eh iya, Bang. Betewe, nama lo siapa? Gue udah kenalin diri gue tapi gue belom tau nama lo.” tanya Anggun.

“Iya, Bang. Siapa lo?” cewek aneh yang suka sama Emi menimpali.

“Gue Firzy atau biasa lo pada gosipin sebagai Bang Ija. Senior yang diomongin sama lo semua beberapa hari terakhir ini.” Kata gue menutup obrolan.

Gue langsung menyusul Emi yang udah keluar dari lab duluan. Gue menggandeng tangan dia.

“Masih mau kabur dari gue?” tanya gue.

“Apaan kabur?” Emi balik nanya.

“Bukannya minta maaf malah kabur lo.”

“Gue salah apa sampe harus minta maaf?”

“Lo nggak liat tadi? Gue digodain sama mereka? Lo nggak takut gue diambil sama mereka? Dalam sehari udah berapa cewek bisa kecantol sama gue padahal gue nggak ngapa-ngapain lho.”

“Cantolin aja, Zy. Gue masih anggep kita temen kok. Abis lo nggak mau jadi BFF gue. Duluan Zy. Gue mau angkut jemuran gue.” Emi mempercepat langkahnya.

“Gue angkut lo sekalian kekostan lo biar lo bisa angkut jemuran ya.” Gue menahan langkahnya dengan menarik tangannya.

“Bodo amat lah. Gue kali ini sangat butuh angkutan. Gue bisa keabisan sempak!” lanjut Emi.

Kami sampai diparkiran motor dan langsung bergegas untuk jalan. Tetapi gue dan Emi dikagetkan oleh sebuah suara yang berasal dari sebelah kiri belakang gue.

“Bang Ija? Kok sama Kak Emi?” tanya suara itu.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
lenduy dan 25 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
Lihat 5 balasan
“Bang Ija? Kok sama Kak Emi?” tanya suara itu.

Akhirnya 🍻 Nindy pun Terkaget2 🤣
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan ajisatriaaaaa memberi reputasi
Diubah oleh yudhiestirafws
Balasan post yanagi92055
timeline nya agak lambat dari trit si emi.
Jadi baca trit ija ini berasa de javu emoticon-Leh Uga
Btw skrng bro ija & sis emi apa udah nikah? emoticon-Peace
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Quote:


Nah makasih gan udah bantu jawab hehe
Quote:


Diedit dulu gan, daripada kena bata banyak wkwkwk
profile-picture
telahmemblok memberi reputasi
Quote:


Ya emang pengalamanya kan sama, jadi ya ceritanya bakal sama, soalnya ini kan real story, bukan fiksi hehe..

Pertanyaannya sama kayak di film avengers endgame, 'nanti ironman mati ga?' Ternyata banyak sopiler di media massa yang jawab 'iya tony stark mati diakhir, plus black widow juga' dan sukses membuat para penikmat film lainnya yang belum sempat nonton (termasuk ane juga) jadi marah besar. Menikmati ceritanya jadi ga asik karena udah bocor jalan ceritanya hehehe.

Belajar dari kasus tersebut, takutnya, nanti reader2 yang lain malah ga seneng kalo ane jawab dari sekarang..hehehe..

Nah makanya ane ga akan jawab karena perjalanan cerita masih panjang gan. Ditebak2 aja oke? Hehe..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
Quote:


👌👌👌
Quote:


Wkwkwk untung baru satu 🤣 Lupa ane...
Quote:


Biar penasaran 😁👍
Quote:


Edit gan, jangan di quote semua gitu, kasian yg lain dikira dobel update
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Siap graak...
Quote:


Kalo bisa jgn quote semua bang
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
debby dan anggun calin korban berikutnya
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Lebih murah bang dah diambil kemenag sekarang bukan mui emoticon-Ngakak

Quote:


profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Yak awal mula peperangan sudah dimulai emoticon-Matabelo
Betewe itu jadi penasaran mainin game yng bang ija ceritain tapi apa daya konsol pun tak ada emoticon-No Hope
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Balasan post yanagi92055
Waduhhh sapa ya,,kok ane lupa?musti baca ulang trit sebelah nih biar GK penasaran emoticon-Ngakak
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
tanya bang ija, ini keliatannya ga termasuk spoiler sih ya
kira-kira ceritanya bakal sampe berapa season yak?
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Halaman 34 dari 117


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di