CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Selamat Datang di Thread Gue 
(私のスレッドへようこそ)




TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI DUA TRIT GUE SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT SELANJUTNYA INI, GUE DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK GUE DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DISINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR

Spoiler for Season 1 dan Season 2:


Last Season, on Muara Sebuah Pencarian - Season 2 :
Quote:



Kisah gue di Season 3 kali ini merupakan lanjutan tentang pencarian muara cinta gue, disertai dengan aneka ragam konflik yang cukup kompleks dan cukup menguras tenaga, hati dan pikiran. 

Gue mencari muara cinta gue dengan bekal pengalaman pahit yang harus gue terima dimasa lalu, bersama dengan checklist yang sudah gue buat untuk memudahkan gue menyeleksi siapa yang paling pantas mendampingi gue. Tentunya dengan diimbangi aktualisasi dalam diri gue sendiri serta kejahatan-kejahatan yang gue buat dalam prosesnya.

Gaya menulis masih tetap akan sama kurang lebihnya seperti season 2, tetapi agak lebih bebas dan ceplas ceplos karena memang karakter Ija di season ini akan lebih seru, karena dia menjadi apa adanya sesuai dengan keinginan hatinya. 

Judul sedikit diubah dari dua Trit sebelumnya, mengingat algoritma Kaskus yang membacanya sebagai Trit Plagiat. hehehe.


So, tunggu update-update terbaru dari Trit ini, semoga Gansis bisa selalu terhibur dengan Trit lanjutan yang sudah ketebak jalan ceritanya ini. 


Spoiler for INDEX SEASON 3:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 3:


Spoiler for Peraturan:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
radetra dan 57 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Proses Awal

Bisnis gue yang berhubungan dengan penyediaan kapal terus berlangsung walaupun bisnisnya begitu-begitu aja. hal ini dikarenakan rekan-rekan gue pada nggak mau mengubah sistemnya menjadi digital dan kekinian. Pemasarannya juga masih konvensional, padahal sudah dari jauh-jauh hari gue bilang kalau harus mengembangkan website sebagai alat yang mempermudah.

Pengenalan produk-produk yang ditawarkan oleh para pemilik kapal melalui website yang dikembangkan juga akan lebih lancar informasinya sampai ke calon penyewa. Tapi rekan-rekan ini masih aja mau memakai cara door to door konvensional ala marketing jaman dulu. Hal ini lebih kepada tenaga ahli IT yang nggak kita miliki di tim.

Gue udah mencoba meyakinkan mereka bahwa merekrut tenaga ahli IT akan sangat membantu. Apalagi yang punya ilmu spesifik seperti yang sudah gue pelajari secara otodidak. Gue bukan mempelajari IT secara teknis, tapi apa saja infrastruktur yang diperlukan untuk mengembangkan sebuah platform. Dan bertahun-tahun kemudian ide yang dulu dianggap oleh teman-teman gue ini mengada-ada, dilakukan sama banyak start up yang tipe bekerjanya sama dengan usaha gue, mempertemukan antar calon penjual dan pembeli. Marketplace sederhana, tapi semua menggunakan jasa digital.

Lebih simpel, lebih hemat pengeluaran operasional dan lebih cepat untuk deal transaksi yang memungkinkan perputaran uang semakin cepat. PT GG tempat Emi bekerja pun melakukan hal yang kurang lebih sama. Didunia bisnis digital nggak ada yang namanya nyolong ide. Tapi adalah bagaimana kita menjadi pionir dalam menentukan mau bagaimana perusahaan ini berkembang.

Awareness ini sudah gue gaungkan dari setahun sejak usaha kapal ini berdiri. Tapi sampai saat gue mendengar PT. GG yang ternyata melakukan hal yang dulu sempat gue idekan, usaha gue ini masih stuck jalan ditempat dan nggak ada kemajuan berarti. Memang belum ada yang bergerak dibidang marketplace jual-beli-sewa kapal saat itu, tapi bukan berarti dimasa depan lahan usaha ini akan jadi santapan para pengusaha muda lainnya.

Gue banyak mendengar cerita tentang start up dan bagaimana cara kerja mereka ya dari pengalaman kerja Emi di PT. GG ini. Sebuah lingkungan kerja impian gue. fleksibel, nggak kaku, berpikiran terbuka dan mau menerima perubahan, serta semangat muda yang selalu menggebu dan membuat satu tim menjadi selalu bersemangat dalam bekerja.

Ditambah lagi fasilitas kekinian yang enak dipandang mata dan digunakan seperti adanya bean bag untuk ruang relaksasi, ada game-game arcade, fussball, dan meja pingpong yang dijadikan meja kerja. Sesuatu yang kala itu masih antimainstream tapi kemudian menjadi sangat mainstream saat ini.

Kantornya yang saat itu masih sangat sederhana, berupa rumah tipe 36 dibilangan Tebet, Jakarta Selatan, sudah didesain sedemikian rupa sehingga membuat para karyawannya yang jumlahnya masih 5 atau 6 orang itu sangat nyaman. Lantainya pun dilapis vinyl bercorak parquette biar menambah nilai estetika. Saat itu salah satu co-founder-nya belum pulang dari luar negeri karena masih menyelesaikan kuliah pascasarjananya disana.

Emi mendapatkan posisi menjadi customer support yang mana harus berhubungan dengan orang setiap harinya. Gue yang tau persis kemampuan dia yang bukan disitu sempat pesimis apakah dia mampu untuk menjalankan pekerjaan ini. Tapi ya setidaknya dia mau mencoba dulu. Untuk diketahui, kantor Emi ini semua timnya lebih muda dari gue saat itu. Jadi sangat berasa lah kekiniannya dan juga pola pikir mereka yang sangat berbeda dengan orang-orang seumuran gue yang masih susah untuk diajak lebih maju dan kekinian.

Iri? Ya gue sangat iri dengan tempat Emi bekerja. Andai gue ada di kantor seperti ini, gue sangat yakin gue bisa mengeluarkan kemampuan terbaik gue dalam bekerja dan akan selalu bersemangat dalam menjalani pekerjaan. Tapi ya memang kemampuan gue sudah sangat spesifik dan kebanyakan kantor-kantor yang menerima profesi seperti gue kantornya ya ala-ala Gen Y, kaku dan nggak fleksibel, banyak aturan, dan masih menerapkan waktu yang saklek.

--
Satu bulan berlalu, Emi mendapatkan evaluasi dari atasannya mengenai kinerjanya selama satu bulan. Pekerjaan yang kejar target itu membuat Emi cukup terbebani dan menjadi sedikit frustasi. Tapi uniknya, ketika dua atasannya sangat fasih berbahasa inggris, ternyata stafnya hanya Emi yang bisa berbahasa inggris, sedangkan yang lainnya nggak bisa. Hal yang lucu menurut gue. hehehe.

Emi sempat mendengar pembicaraan dua orang co founder-nya via skype, yang pada intinya adalah kecakapan seseorang dalam bekerja dibidang ini dilihat dari bagaimana mereka mendapatkan banyak customer, yang artinya menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Ini adalah menurut Irawan, salah satu co founder. Sedangkan menurut Bara, yang sedang berkuliah diluar negeri, nggak semua staf itu harus menghasilkan uang. Butuh juga yang mengatur administrasi kantor, mengurus keuangan, dan lain sebagainya.

Bisnis adalah pemikiran holistik (menyeluruh) dan nggak melulu soal keuntungan. Ya keuntungan memang jadi yang utama dalam bisnis manapun. Tapi sinergi antar divisi yang saling mendukung dan menguatkanlah yang menentukan kelancaran keuntungan tersebut bagi perusahaan.

Jika yang bekerja hanya bagian operasional yang menghasilkan uang secara langsung, tapi nggak ada yang mengatur alur keluar masuk uangnya, akan jadi masalah besar. Apalagi dengan bertambah besarnya usaha, kondisi internal kantor pun harus diperhatikan.

Dimulai dari lingkungan bekerja sampai dengan kondisi psikologis para staf. Integritas akan tumbuh ketika ada reward yang sepadan. Setidaknya itu yang gue terapkan dalam menjalankan usaha, dan yang selalu gue usulkan di kantor gue yang lain. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia secara profesional dikantor menurut gue akan membawa kepada optimalisasi kerja para anggota tim. Tentunya loyalitas akan menjadi konsekuensinya.

Hal itu lah yang juga ditekankan oleh Bara kepada Irawan. Kantor dibangun dari tim yang berbeda-beda tapi harus bersinergi. Karena pekerjaan ini dilakukan secara tim, bukan individual. Memang ada individu yang nantinya menonjol, dan itu seharusnya diganjar dengan sebuah reward yang layak.

Penerapan reward and punishment tetap ada, tapi tidak serta merta menyamaratakan seluruh kemampuan staf. Inilah yang dibutuhkan dari seorang pimpinan. Penentuan kebijakan yang tidak hanya melihat dari satu sisi masalah adalah kunci keberhasilan seorang pimpinan.

“Gue setuju kata Bara. Nggak bisa memaksakan seluruh karyawan buat HARUS MENGHASILKAN UANG. Ada beberapa posisi atau jabatan yang kerjaannya ngurus kantor, bukan dikejar target. Target mereka bukan uang, tapi deadline laporan dan sebagainya.”

“Tapi Kak Irawan kayaknya nggak peduli itu, Zy.”

“Soalnya Irawan itu dari lulus S2 langsung bikin perusahaan sendiri, dia sebelumnya nggak pernah ngerasain kerja jadi staf rendahan dan mulai dari nol dulu. Oke dia pernah jadi mahasiswa dari kampung antah berantah dan terus berusaha sampai di posisinya sekarang, tapi dia harus pernah ngerasain sebentar aja jadi karyawan yang bekerja dari bawah atau dari nol. Itu yang ngebedain cara berpikir Irawan dan Bara. Bara itu yang pada dasarnya udah jadi anak orang kaya, tapi dia pernah magang kan? Dia pernah kerja diposisi bawah hingga akhirnya jadi Owner di perusahaannya sendiri. Pasti dia punya sudut pandang berbeda dari Irawan dan berpikir lebih maju kedepan, dan tentunya menyeluruh dari segala macam sudut pandang.”

“Iya, Zy. Gue nggak bisa ngapa-ngapain selain nunjukin kinerja terbaik gue aja. Semoga kali ini gue bisa cocok di perusahaan ini deh dan nggak dipecat lagi. Susah nyari kerja lain yang sesuai jurusan kita.”

“Eh iya, kenapa sih Irawan kayaknya seakan underestimate banget jurusan kita?”

“Entah dia kenapa kayak ngerasa jurusan kita itu kayak jurusan yang nggak dibutuhin di dunia pekerjaan. Belum lagi kampus kita. Kayaknya Kak Irawan punya pandangan yang beda dengan kampus kita, Zy. Mungkin karena kampus kita bukan kampus high class kayak kampus dia kali ya?”

High class? Beneran high class atau anak-anak kampusnya aja yang pada hedon? Hahaha. Gue tau persis gimana kelakuan anak kampusnya Irawan kali. Masuk negeri tapi bisa pake duit rada banyakan kan t*i banget itu namanya, walaupun dikampus kita pun bisa juga kayak gitu sekarang.”

“Kok bisa tau?”

“Adik kelas gue di Paskib banyak yang masuk ke kampusnya Irawan dan gaya mereka langsung berubah high class gitu. Handphone berubah jadi apel kegigit, nenteng iPad kemana-mana, bawa mobil sendiri, makan di café buat ngerjain tugas, dan banyak lagi yang lainnya yang menunjukkan identitas anak gaul mereka. Kampus Irawan itu bener-bener ngubah banget adik-adik kelas gue itu. Padahal di Paskib dulu mereka nggak begitu.”

“Lo masih ngurusin Paskib dan kontak sama adik kelas lo itu, Zy? Lo kayaknya hafal banget deh sama adik kelas lo itu.”

“Udah, jangan sok cemburu. Gue cuman kontak sama mereka di grup Facebook Paskib gue kok.”

Begitulah dinamika kampus yang seharusnya menerima orang-orang terbaik berdasarkan prestasi akademis, tapi berubah seiring dengan jargon kemandirian kampus yang pada akhirnya menerima lebih banyak mahasiswa yang berprestasi, prestasi dompet bapaknya tapi.

--

“Besok Minggu ada event nih. Temen gue main di sana. Namanya Arko. Dia dulu drumer band gue. Kemarin dia nelpon gue katanya mau ngebahas urusan forming band. Gue sekalian mau ngenalin cewek gue yang sekarang ke dia.” ujar gue.

“Oh siapa emang cewek lo yang sekarang?” tanya Emi.

“Lo lah tytyd! Siapa lagi, Njir?” jawab gue sewot.

“Kirain gue mau dianggep sahabat atau calon manajer gitu.”

“Sebelum gue memutuskan buat ngedeketin lo, gue udah cerita dari lama ke Arko ini pas nikahan dia. Arko ini orang yang paling tau gimana perasaan gue ke lo. Lagian gue bangga kali kalo bisa ngenalin cewek gue yang ternyata bisa juga jadi sahabat dan manajer band gue di waktu bersamaan. Coba siapa lagi yang bisa begitu kalau bukan gue doang orang yang beruntung begitu?”

“Sombong bener si bangs*t!”

“Ye dikata sombong gue. hahaha.”

Gue menceritakan bagaimana gue, Drian dan Arko bisa ngeband bareng yang pada awalnya adalah band insidental waktu SMA. Kemudian dari ngeband sekelas bersama Drian, karena ada perbedaan pendapat yang berujung sempat ribut, akhirnya drumer mesti digantikan. Akhirnya setelah setahunan barulah kami bertemu dengan Arko yang nggak disangka bisa main drum, dan jago.

Pada awalnya gue dan Drian nggak menyangka Arko bisa bermain drum dengan baik. Kenapa? Karena dia merupakan salah satu murid paling berprestasi secara akademik diangkatan gue. Mindset gue adalah, pintar sama dengan cupu. Belajar melulu aja kerjaannya. Ternyata, Arko yang nggak pernah tergeser peringkatnya dari urutan 1 atau 2 sepanjang SMA, nggak secupu itu. Walaupun memang gaya berpakaiannya ya ala-ala anak nerd yang doyan belajar.

Kenyataannya, dia sangat mahir memainkan drum yang berawal dari side project kecil-kecilan bassist pertama band gue yang mau punya band beraliran punk. Sementara band gue lebih ke heavy rock cenderung ke metal dari awal. Waktu itu gue dan Drian sengaja ikutan datang ke latihan band ini. Disitulah pertama kali gue dan Drian melihat kemampuan Arko yang mumpuni ini.

Dari situlah, kami membujuk Arko untuk gabung setelahnya. Tapi pada awalnya Arko hanya menyanggupi sebagai additional. Puncaknya adalah, ketika kami sukses manggung beberapa kali di event internal sekolah plus beberapa event umum seperti kompetisi band, Arko memutuskan untuk menjadi member tetap. Tepat setelah pengumuman kelulusan kami ketika SMA.

Perbedaan kampus kami berempat nggak menyulitkan kami untuk tetap eksis ngeband. Ditambah dengan adanya Ara disana sebagai manajer, semakin memudahkan kami untuk terus bermusik. Kami pada akhirnya melengkapi formasi dengan masuknya Ito yang mana ternyata satu kampus dengan Drian tapi mereka nggak saling kenal. Bahkan satu SMA juga.

Ara yang punya andil untuk membawa Ito masuk ke band ini. Dia juga yang membuat band ini memiliki reputasi yang sangat harum dikomunitas jepangan dimasa lalu. Tapi entah gue selalu yakin, kehebatan Ara ini bisa disaingi oleh Emi. Bahkan dengan kecerdasan diatas rata-rata yang dimiliki Emi, yang sebelumnya nggak dipunyai Ara, gue yakin Emi bisa berbuat banyak dengan band yang saat ini akan dibentuk kembali.

Ito diajak pertama kali di event jepangan yang diadakan oleh kampus Arko. kali pertama kampus cupu Arko mengadakan acara jepangan. Masih lebih mendingan sih daripada kampus gue. Hahaha. Ito saat itu benar-benar nggak tau apa-apa soal jepangan. Setelah akhirnya berhasil dibujuk, Ito melengkapi formasi dan jalanlah band ini sampai ke titik terakhir panggungan kami, yang kebetulan disana ada Emi nonton, tapi kami belum saling mengenal.

Lucunya, di masa depan, beberapa tahun kemudian, orang yang dulu jadi penonton band gue, malah ada diantara kami sebagai manajer baru. Tidak dalam posisi menggantikan Ara, tapi memang band ini formatnya juga baru dan lebih fresh dengan konsep yang lebih kekinian.

Emi nggak hanya mengurusi hal nonteknis, tapi teknisnya pun dia ngurusin. Dari mulai pemilihan lagu, pemilihan kostum, gimmick dan lain sebagainya. Dia pun mengurusi masalah deal dengan panitia penyelenggara. Setidaknya itu yang ada dibenak gue saat itu, sebelum ada persetujuan dengan Arko.

Gue, Drian, dan Arko sudah selayaknya saudara, bukan hanya sekedar sahabat. Band ini sudah seperti keluarga kedua gue. Dengan ide Arko untuk bareng lagi sebagai sebuah band, gue merasa sangat bersemangat.

Saat ini juga ada Emi yang mau gue ajukan sebagai manajer kami. Mudah-mudahan aja Arko setuju. Tinggal membujuk si Drian ini. Dia lagi sibuk banget sama bandnya yang sekarang yang katanya lagi bikin lagu untuk mini album mereka.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayuus dan 13 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di