CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Selamat Datang di Thread Gue 
(私のスレッドへようこそ)




TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI DUA TRIT GUE SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT SELANJUTNYA INI, GUE DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK GUE DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DISINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR

Spoiler for Season 1 dan Season 2:


Last Season, on Muara Sebuah Pencarian - Season 2 :
Quote:



Kisah gue di Season 3 kali ini merupakan lanjutan tentang pencarian muara cinta gue, disertai dengan aneka ragam konflik yang cukup kompleks dan cukup menguras tenaga, hati dan pikiran. 

Gue mencari muara cinta gue dengan bekal pengalaman pahit yang harus gue terima dimasa lalu, bersama dengan checklist yang sudah gue buat untuk memudahkan gue menyeleksi siapa yang paling pantas mendampingi gue. Tentunya dengan diimbangi aktualisasi dalam diri gue sendiri serta kejahatan-kejahatan yang gue buat dalam prosesnya.

Gaya menulis masih tetap akan sama kurang lebihnya seperti season 2, tetapi agak lebih bebas dan ceplas ceplos karena memang karakter Ija di season ini akan lebih seru, karena dia menjadi apa adanya sesuai dengan keinginan hatinya. 

Judul sedikit diubah dari dua Trit sebelumnya, mengingat algoritma Kaskus yang membacanya sebagai Trit Plagiat. hehehe.


So, tunggu update-update terbaru dari Trit ini, semoga Gansis bisa selalu terhibur dengan Trit lanjutan yang sudah ketebak jalan ceritanya ini. 


Spoiler for INDEX SEASON 3:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 3:


Spoiler for Peraturan:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
radetra dan 57 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Mereda

Mood gue dan Emi sudah kembali normal dengan ditandai kembalinya kebiasaan kami kalau saling ngatain, atau ngatain orang lain. Intinya segala sesuatu jadi lebih mudah dibuat sebagai bahan tertawaan kami berdua. Apapun yang kami bicarakan ujung-ujungnya pasti akan tertawa. Apalagi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan hal ‘pemersatu bangsa’.

Suatu siang di hari jumat, gue habis ada kunjungan lapang yang kebetulan lokasinya searah dengan kampus gue. itu artinya gue bisa langsung jemput Emi dikampus. Jarak lokasi pekerjaan gue dengan kampus nggak begitu jauh, hanya sekitar 6-7 kilometer.

Arah lokasi pekerjaan gue ini mengingatkan akan hubungan gue dengan Sofi, dan tentunya Kak Lia. Sudah lama sejak hubungan gue berakhir dengan Sofi, gue nggak pernah kearah sana lagi. Dengan Kak Lia, gue selalu bertemu di Ibukota nggak pernah kerumah keluarganya.

Gue mengerjakan pekerjaan di daerah itu dengan sangat cepat karena gue sudah menguasai medan. Gue cukup hafal keadaan lingkungan disekitar daerah situ, demografi serta keadaan sosialnya. Itu sangat memudahkan gue dalam penyelesaian pekerjaan gue dilapang.
Sepulang dari sana, ketika perjalanan gue hampir mendekati gerbang kampus, gue melihat sosok yang sangat familiar.

“Harmi….Mi….” teriak gue memanggil.

Dia pun sempat bingung dan mencari sumber suara. Ketika dia melihat sosok gue, dia nggak tau awalnya. Tapi ketika gue membuka helm gue, barulah dia sadar kalau itu adalah gue. Dia terlihat sangat senang melihat gue.

Gue agak kaget karena perubahan Harmi. Dia terlihat begitu berisi dan dari mukanya sepertinya dia jadi jauh lebih tua dari gue umurnya. Gue juga bertanya-tanya kok dia ada disekitar kampus. Mungkin ada acara barangkali.

“Mii…apa kabar lo, ya ampuuun.” Sapa gue dengan senyum.

“Kaaak. Gilaaaa nggak nyangka gue ketemu sama lo disini. Hahaha.” Kata Harmi, dengan senyum juga.

“Mau dipeluk apa kagak ini? Hahaha.”

“Haha, mau dong….sini….”

Gue memeluk dia, tentunya agak minggir dulu sebelumnya. Kampus gue kan cukup konservatif. Nanti kalau ada adegan yang sekiranya bisa membuat kaum tersebut marah, bisa repot. Hahaha. Apalagi Harmi juga kan kerudungan.

“Puas nggak Mi gue peluk? Hahaha.”

“Ah nggak puas, kurang lama. Hahaha.”

“Nggak bisa lama-lama Mi. Lo kan udah mau nikah. Gue juga kan udah punya cewek Mi. hehehe.”

“Hehee iya sih. Abisnya selalu seru sih kalau ketemu sama lo kak. Apalagi ini dihari kerja, dan dikampus lagi. Kita udah nggak ada dikampus dari lama, ketemunya dikampus-kampus lagi.”

“Itu dia, nggak nyangka gue juga Mi. Eh lo kenapa jadi mau nikah sama laki lo yang ini sih? Lo belum cerita sama sekali kenapa hubungan lo yang udah segitu lamanya sama Tahir malah jadi udahan. Ayo cerita dong.”

“Lo mau kemana nih kak? Ke gedung fakultas deh pasti? Kan cewek lo ada disana bukan?”

“Iya bener. Lo mau kemana?”

“Gue nunggu laki gue kak. Tapi nggak apa-apa deh gue ikutan ke jurusan ya. nanti cerita sambil jalan aja ya.”

“Yaudah ayo.” Gue mengajak Harmi naik ke motor gue.

Sepanjang perjalanan yang singkat menuju ke gedung fakultas gue, Harmi bercerita kalau dia diputusin mendadak tanpa sebab yang jelas oleh Tahir. Tapi lama kelamaan dia akhirnya tau kalau Tahir itu udah nggak sayang lagi sama Harmi karena jelang putusnya itu, Tahir beberapa kali jalan dengan seorang cewek yang Harmi sendiri sampai sekarang nggak tau siapa.

Gue menduga alasan putusnya Harmi ini adalah kebiasaan dia yang selalu mendominasi. Nggak heran kalau dia cukup lama sendiri sampai akhirnya sempat mampir dikehidupan gue. Sebelum bertemu gue Harmi beberapa tahun sendiri sejak putus dari mantannya waktu SMA. Kami bertemu ketika masih kuliah dulu.

Gue juga menanyakan ada urusan apa lakinya, ternyata sedang ada proyek dilokasi yang dekat dengan lokasi kerja gue tadi. calonnya Harmi ini lebih tua dari gue tiga tahun. Yang artinya, beda empat tahun dari Harmi. Nggak masalah juga, belum terlalu jauh kok. lagian masih satu jaman. Beda dengan gue dan Emi. Sudah ada beberapa perubahan dari mulai cara bergaul, penyikapan terhadap sebuah masalah, cara pengambilan keputusan sampai ke gaya chat.

Kami sudah sampai dikampus. Harmi cukup kaget dengan banyaknya perubahan dijurusan. Dari mulai penataan mading yang berubah dan lebih rapi, warna jurusan yang sudah berubah (jurusan di fakultas gue memiliki warna khas masing-masing tadinya), dan perubahan-perubahan lain yang belum pernah diliat Harmi sebelumnya.

“Gila, udah lama juga gue nggak kesini. Abis lulus gue nggak pernah sama sekali ke kampus Kak. Hahaha.” Dia membuka percakapan.

“Iya, lo kaget kan? Sama gue juga kaget banget waktu pertama kesini lagi.” Kata gue.

“Terus sekarang masih ada nggak ya kayak semacam ospek-ospek gitu? Dan gimana keadaan himpunan sekarang ya?”

Gue sempat terdiam sejenak ketika Harmi menanyakan hal ini. Akhirnya gue menceritakan keadaan yang sekarang sampai kepada urusan fitnah yang baru aja selesai gue hadapi. Gue juga sekalian bercerita awal bertemu sampai akhirnya menjalani hubungan dengan Emi.

“Seriusan kak begitu? gilaaa. Parah banget ya anak-anak sekarang. Kayak nggak ada tata kramanya sampe seberani itu. Nggak nyangka gue.”

“Itulah Mi gue juga bingung. Buat mastiin, lo nanti gue kenalin deh sama Emi, cewek gue. Dia aja yang teman seangkatan, sekelas, itu sampai dihalangin buat ikutan nimbrung coba. Parah banget kan?”

“Iya. Tapi gue lebih concern ke urusan fitnahnya sih Kak. Udah fitnah, yang difitnah itu kakak kelas sendiri. Apa nggak mikir mereka kalau kita nanti suatu saat ada reuni tetep akan terus ketemu? Apa nanti nggak ngerasa canggung mereka kalau ngeliat lo?”

“Itulah Mi. Lo tau lah gue kayak gimana. Gue paling anti sama senioritas. Makanya angkatan lo aja nggak gue sarankan untuk manggil gue dengan embel-embel kak atau bang, lo aja yang ngotot mau manggil gue pake kak segala. Jadi sebenernya gue juga nggak mau bawa-bawa angkatan kalau urusan fitnah ini. Gue lebih melihat ketidakhormatan mereka kepada orang yang lebih tua sih.”

“Iya gue sangat tau lo kak. Luar dalam. Haha.”

“Mi, udah deh. Hahaha.”

“Ya makanya, gue heran banget. dengan kronologi yang lo ceritain, kok mereka jadi nggak logis? Dulu gue ada diantara hubungan lo dengan Kak Keket loh. Bahkan dengan Ara juga. Tapi nggak ada itu sampai menghalalkan segala cara dan setelah kalah malah bikin cerita yang nggak-nggak.”

“Atau mungkin karena mereka ngarep ketemu rocky kali ya Mi? hahahaha. Nggak dapet terus ngambek.”

“Yeeee. Itu mah lo aja yang mau. Hahaha. Ngaco lo. susah sih emang kalau cewek dikecewain.”

“Kalau mereka orang yang gue sayang, kayak lo, Ara, atau Keket, atau Sofi, itu lain cerita Mi. lah ini gue aja chat sama mereka itu cuma chat biasa, nggak kayak kita dulu. Haha. Masa sampe begitu banget ya?”

“Pribadi orang siapa yang tau Kak. Nggak ada yang bisa nebak juga kan. Dulu mungkin lo gampang aja deket sama cewek dan bisa lo apain aja, nah sekarang anggep aja tetep bisa deket, cuma sekarang seperti disuruh bayar buat nebus kesalahan lo dimasa lalu kak.”

“Hmmm. Bisa juga sih. Biar nanti gue sama Emi makin langgeng ya, karena semuanya udah ditebus. Hahaha. Btw, gue belum cerita loh tentang keseluruhan masa lalu gue Mi. tapi gue akan tetap cerita sih, walaupun itu sangat beresiko.”

“Ya baiknya lo cerita aja apa adanya kak. Gue pun udah jujur kok sama laki gue. Bahkan hubungan unik kita dulu juga gue ceritain kok, dan emang awalnya bermasalah, tapi ternyata laki gue juga gitu, sama kelakuannya, jadi ya saling nerima. Bisa, dan akhirnya happy ending kok. hehehe.”

“Sombong bener lo Mi. hahahha. Iya makanya, semoga aja Emi bisa dan mau nerima masa lalu gue ya Mi.”

“Amiiin….”

Nggak lama, HP Harmi berbunyi dan itu dari lakinya. Ternyata lakinya udah sampai didepan gedung fakultas. Itu berarti rencana gue mengenalkan Harmi dengan Emi batal. Tapi ya nanti mungkin lain waktu bisa ketemu dan berkenalan. Mungkin juga bisa ngobrol banyak ya kan.

Harmi berpamitan dengan gue, dan seperti kebiasaan dia yang selalu semangat dalam mengejar apapun, dia memeluk gue lagi di koridor jurusan! Gokil emang ini anak. Hahaha. Gue sih santai aja. Tapi gue agak takut. Takutnya nanti muncul asumsi lain lagi kalau ada teman-teman Emi yang kebetulan melihat adegan ini. Ya berharap aja mudah-mudahan nggak ada.

Bangku panjang yang ada dikoridor jurusan yang dekat dengan tangga besar gedung pun memanggil gue untuk duduk kembali. Gue pun duduk disana sambil membaca buku yang gue bawa. Gue membaca buku tentang 24 protokol zionis. Buku seperti ini agaknya agak sensitif dan perlu referensi lain untuk dibaca. Isu ini begitu seksi dikalangan pecinta teori konspirasi soalnya. Jadi kebenarannya pun masih diragukan. Gue hanya berpikir kala itu, minimal tau dulu. Perkara analisis lebih lanjut bisa gue rumuskan dikemudian hari.

Saat sedang membaca itu pulalah ada fenomena yang agak unik disini. Ada dua orang cewek, entah angkatan Emi atau bukan, itu sedang membicarakan topik yang kemarin baru aja selesai. Sebelum duduk pun mereka sempat menyapa gue dan gue hanya membalas dengan senyum.

“Lo tau kemarin ini yang namanya Bang Ija itu sempat datang kekampus terus ngomel-ngomel sama panitia loh. Gila nggak sih? Orang udah salah malah nyalahin orang lain. Mentang-mentang senior jadi bisa suka-sukanya aja dia neken adik kelas.” Kata cewek 1.

“Oh emang iya ya? kalau itu bener, wah parah juga ya kita punya senior kayak gitu. Gue penasaran banget emang diapain sih teman kita itu kok sampe urusan pribadi dibawa-bawa ke urusan acara jurusan. Hampir aja gagal lagi.” Kata cewek 2.

“Nggak tau lah itu senior maunya apaan. Soalnya gue denger-denger emang dulu waktu jaman kuliah terkenal ceweknya banyak itu. Mana cakep-cakep lagi katanya. Kakak kelas kita juga kok.”

“Iya ya? jadi penasaran juga ya mau tau mana orangnya yang namanya Bang Ija ini. Terus pingin tau juga itu mantan-mantannya secakep apa. Tapi kok sekarang malah milih Kak Emi daripada teman-teman kita. Padahal kan cakepan teman-teman kita loh.”

“Cakepan kita kali daripada mereka berdua. Hahaha.”

“Haha. Iya juga sih. Naah, itu si Irma udah dateng. Yuk cabut.”

Kemudian kedua cewek itu berdiri dan beranjak pergi. Mereka juga dengan sopan menyapa gue lagi untuk sekedar bilang “mari bang, duluan”, padahal nggak kenal gue sama sekali. disini emosi gue pun campur aduk nggak karuan. Tapi gue memilih diam aja. Cerita ini tersebar cukup masif dijurusan gue.

Dari mulai urusan gue dan Nindy-Dewi (tadi disebut teman kita, dan menyebut Kak Emi, berarti ini cewek berdua kemungkinan adik kelas Emi dan teman sekelas Nindy-Dewi), sampai ke urusan fitnah soal penyelenggaraan PKAT. Memang janji mereka ke gue untuk buat video klarifikasi belum juga ada, jadi menurut gue wajar ketika ada cewek-cewek dungu yang otaknya ketinggal dikostan ini ngomongin perkara yang sebenernya mereka nggak tau.

Paling gilanya sih, ngomogin gue disamping orangnya langsung dan mereka nggak tau kalau yang mereka omongin itu ada disebelah mereka. Hebat banget ini, nggak tau orangnya yang mana, nggak cari tau dulu sana sini, tapi bisa kemakan gosip nggak jelas, melebar lagi kemana-mana sampai mau tau urusan masa lalu gue dengan mantan-mantan gue dan ujungnya berasumsi nggak jelas. Generasi ini bener-bener sampah banget otaknya.

--

Hari-hari berikutnya pun hampir sama seperti itu. Omongan aneh masih beredar disekitar jurusan gue. Emi pun jadi sasaran. Gue mau membela cuma gimana, gue nggak selalu bisa ada dikampus terus karena gue harus bekerja. Sampai pada satu hari gue meminta Emi untuk mengambil jaket gue yang ada di Uun.

Gue baru bisa ke kampus lagi. Itu juga gue malas untuk turun dari motor dan harus bertemu dengan Uun. Nggak penting sama sekali. Uun mengembalikan jaket gue melalui Emi dan katanya ingin menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya ke gue. ya gue sih bodo amat juga. Tapi kalau ditarik kebelakang berdasarkan cerita Emi, Uun lah penyebab semuanya jadi begini awalnya.

Kalau tidak ada kejadian Emi dipukul dari belakang oleh Uun dan diledek jalan dengan alumni lalu kemudian beredar cerita yang disebar Uun tentang gue jalan sama Emi di JJM dulu, mungkin kejadiannya nggak akan sampai kayak begini. Gue anteng, Emi pun anteng.

Kejadian fitnah soal cewek dan kemudian soal ospek ini membuat gue sempat bingung apa yang salah dengan generasi ini. Apa karena mereka modelnya lebih berani bertindak dulu tanpa mempertimbangkan segala sesuatunya? Atau bagaimana? Yang jelas tindakan mereka sangat merugikan gue dan Emi.

Pada sisi lain, gue juga merasakan manfaat yang sangat besar dari rentetan kejadian ini. Hubungan gue dan Emi semakin erat, dan chemistry diantara kami pun semakin kuat. Gue dan Emi percaya kalau segala kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Ya salah satu contohnya dari kejadian-kejadian yang kami alami beberapa bulan belakangan.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
lenduy dan 16 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di