alexa-tracking

Criminal Puzzle

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afa21c3dcd770936e8b457b/criminal-puzzle
Murder On The Hotel
Selamat Datang

Criminal Puzzle
Crime-Mystery-Thriller


Pembukaan

Quote:


Prolog

Quote:


Mulustrasi Tokoh

Quote:


Index

Quote:
Part 1


Jam 8.30, hujan deras mengguyur isi kota, aku yang kebetulan saat itu berkunjung ke New York akhirnya memutuskan untuk menetap di sebuah Hotel bintang 5 yang bernama C'ave Clep Hotel.
Hotel dengan perpaduan arsitektur modern dengan gaya arsitektur khas Eropa ini terbilang sangat mewah. Aku pun bergegas ke resepsionis untuk memesan kamar.

"Selamat malam bu, ingin menginap untuk berapa hari?"
"Selamat malam juga pak, Mmm... 1 hari saja pak"
"Baik, silahkan dipilih fasilitas kamarnya, ada yang luxury dan juga standar"
"Standar"


Aku pun segera melakukan pembayaran di meja resepsionis tersebut. Selesai pembayaran, aku diantarkan oleh seorang pelayan hotel untuk menuju ke kamar yang telah di pesan.

Kamarku ternyata terletak di lantai 7, pertengahan. Di lantai 7, suasana bisa dibilang lumayan ramai dan gak sepi. Kamar no 163, itulah kamarku, uang tip kuberikan kepada pelayan dan kulanjutkan memasuki kamar. Lumayan bagus untuk kamar ukuran standar, ada TV Plasma, sofa empuk, AC dan ranjangnya dekat jendela yang viewnya langsung mengarah ke area kolam renang. Aku pun berbaring sambil menonton tv sejenak, tepat pada jam 10.30 kuputuskan mematikan lampu dan tidur.

Terbangun pada jam 02.00 karena kebelet buang air kecil, kuputuskan langsung pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan melanjutkan tidurku lagi. Tapi, ketika aku ingin melanjutkan tidurku, tidak sengaja ku melihat ke arah jendela, disitu nampak seorang perempuan berbaju putih dan rambut pirang panjang, sedang berlari ketakutan dengan kaki yang setengah pincang.

Saya berusaha memandanginya dengan rasa setengah penasaran dan takut. Kemudian datanglah seorang pria dengan memakai topeng mengejar wanita tersebut.
"Tolonggg!!!!!!" Teriak wanita itu tapi tidak ada satupun yang menyahutnya, sang pria itupun berhasil mengejar wanita itu dan mendapatkannya, ia kemudian mencekiknya sang wanita sampai tewas seketika, aku yang melihatnya syok seketika.

Pria dengan topeng tersebut lalu melihat sekitar hotel dan tanpa kuduga melihat ke arah ku yang dari tadi memerhatikannya, ia kemudian membuat sebuah gestur dengan tangannya seolah-olah dia sedang menghitung lantai kamar saya.

Aku masih tidak percaya apa yang terjadi barusan, ia kemudian bergegas masuk ke dalam hotel, firasatku sudah tidak enak, aku punya firasat buruk bahwa bentar lagi dia akan membunuhku karna gestur tubuhnya yang seolah-olah dia sedang menghitung lantai kamar saya. Dengan sigap, ku langsung meraih handphoneku menelepon 911.

"Halo, ada yang bisa saya bantu?"
"Ada pembunuhan!ada pembunuhan!!!dan dia bentar lagi ingin membunuh ku!!"
"Hey, hey, tarik nafas dalam-dalam bu, dimanakah tempatnya?"
"Hotel C'ave Clep, sumpah, aku berani bersumpah, pembunuh itu akan datang kepadaku jika polisi tidak bergegas!!!"
Teriakku karena panik.

"Ok bu, tenanglah oke, kami akan mengirimkan polisi ke sana, kira-kira dalam waktu 7 menit, tarik nafas dalam-dalam bu, tenanglah, saya ingin mendengar cerita anda tentang pembunuhan tersebut"
"7 menit?pembunuh itu bakal datang ke kamarku dalam waktu 3 menit!!!"
"Oke bu, sebaiknya anda tenang ok, bagaimana jika sambil menunggu kedatangan polisi, anda bisa cerita tentang kejadiannya?agar kami bisa langsung memproses?"
"Bagaimana aku bisa menceritakannya?aku panik!!!kalo anda pernah berada di posisi ku!anda tidak tahu apa yang harus anda lakukan sekarang!!"
"Hey, tenanglah bu, tenanglah, kamu masih akan hidup bu, berapa umurmu bu?siapa namamu?apa kamu sudah berkeluarga?"
"Namaku Anna, umurku 28 dan aku belum berkeluarga!!!"


Tiba-tiba suara orang berjalan terdengar, aku pun menutup mulutku dengan setengah tanganku, mataku bergelimang airmata, "halo bu?tolong dengarkan aku baik-baik, anda harus tenang, itulah satu-satunya cara agar anda bisa selamat dari ini, semakin anda panik semakin anda...tett...tettt" kumatikan telepon itu dari ponselku, dan aku berusaha menahan tangis dan tidak bersuara, suara orang berjalan makin lama makin terdengar jelas.

"Duk duk duk duk" terdengar suara ketukan pintu.
"Duk duk duk duk" lagi lagi terdengar suara itu, tapi tidak lama kemudian suara itu hilang. Terdengar lah suara gaduh mobil polisi, syukurlah, aku masih selamat. Aku pun memberanikan diri membuka kamar pintuku.

"Halo bu" sapa salah satu personel polisi
"Namaku Ben, aku seorang detektif yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini, aku ingin penjelasanmu mengenai kejadian ini"

Aku pun menjelaskan seluruh kejadian secara rinci kepada detektif yang bernama Ben itu. Tapi aku masih gak habis pikir, hotel bintang 5 dengan pengawasan 24 jam dan tadi suasana ramai, mendadak sepi. Berbeda 360 derajat dengan suasana hotel sejak aku masuk ke kamar. Kemudian Ben memanggil para pelayan hotel, resepsionis, security, bahkan pemilik hotelnya sekalipun.
"Well, hotel bintang 5, memiliki reputasi bagus, tapi mengapa bisa terjadi pembunuhan secara terang-terangan DI AREA KOLAM RENANG YANG NOTABENE AREA TERBUKA!!!" Bentak Ben kepada mereka
"Mmm maafkan aku, watakku memang begini, sir. Oke, baiklah jelaskan mengapa ini bisa terjadi?" Kata Ben.

"Saya sebagai resepsionis sedang berjaga di area resepsionis dan saya sama sekali tidak mendengar suara jeritan sama sekali" kata sang resepsionis.
"Well alasanmu masuk akal sir, hotel ini memang luas, wajar saja tidak mendengar jeritan"
sahut Ben.
"Kami berdua sebagai security sedang ronda malam di tempat yang berbeda, saya sedang ronda di depan, sedangkan teman saya, Tony sedang ronda di area lobby."
"Baiklah, sekarang kalian semua bakal diinterogasi oleh rekan saya, karena saya ingin mengurusi hal lain" kata Ben.
Kemudian mereka semua diinterogasi, termasuk para pelayan dan pemilik hotel yang sebelumnya belum diinterogasi.

Ben yang saat itu sedang mengurusi jenazah berkata kepada saya, "Anna, namamu Anna betul?"

"Ya" jawab saya
"Oke, Anna, menurut kamu, apakah pelaku membunuh korbannya secara dingin atau tidak?"
"Maksudmu, sir?"
"Jangan panggil aku sir, Anna, panggil saja aku Ben. Jadi gini, apakah dia panik saat membunuh korbannya atau tidak?"
"Menurut aku tidak, karena setelah dia membunuh korbannya, pelaku dengan santainya menghitung lantai kamar aku dan dia dengan santainya berjalan"
"Well, berarti yang kita hadapi adalah pembunuh kelas kakap"
kata Ben

Tidak lama kemudian, seorang agen CSI datang dan menghampiriku

"Halo, namaku Ronald, aku agen CSI"
"Namaku Anna, aku sebagai saksi"
"Ohh, Anna, hai. Ceritakan bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Sudah dicatat di buku ini, baca itu, semua hal tentang kejadiannya sudah kucatat, ngomong-ngomong kenapa kau tidak datang bersama tim mu?"
Ben memotong pembicaraan.

"Ohh, baiklah mister, akan kubaca ini untuk tahu hal-hal mengenai kejadian ini. Aku tidak datang dengan timku karena tim-ku sedang pergi berlibur"
"Pergi berlibur?ohh, apakah kau tidak berlibur juga?" Tanya Ben dengat sedikit sinis
"Timku berlibur ke Maladewa dan aku sebenernya baru saja ingin menyusul timku besok, tapi karena ada sebuah kasus yang harus dituntaskan, aku penasaran dan akan kuambil kasus ini" kata Ronald
"Ohh, sangat profesional sekali yaa.." kata Ben.
Ronald pun membaca catatan yang dikasih Ben.

"Hmmm... Anna, ini kasus yang sangat rumit dan janggal menurutku, disini, Hotel bintang 5 yang mempunyai reputasi bagus, bisa-bisanya ada pembunuhan ditempat ini, dan yang paling aneh adalah pembunuhan ini dilakukan di tempat outdoor, kemana orang-orang hotel ini semua?sampai hanya kamu yang melihat kejadian langsungnya, setidaknya minimal ada satu saksi lain yang bisa kita tanyai mengenai ini,tapi ini tidak ada sama sekali" kata Ronald.

"Ya, aku pun merasakan kejanggalannya, saat aku masuk ke kamar, hotel ini terasa ramai sekali, tidak sepi sama sekali. Tapi ketika terjadi pembunuhan, hotel ini sangat sepi sekali" kataku

"Yaa wajar sajalah, jika hotel ini masih ramai mana mungkin ada pembunuh yang berani membunuh ditempat outdoor, dan toh kejadiannya pada tengah malam" sahut Ben.

"Tapi setidaknya mister, pasti ada beberapa orang lagi dong yang melihat kejadian itu secara itu dilakukan di outdoor, dan tiap kamar memiliki ranjang yang mengarah langsung ke jendela, masa tidak ada lagi orang yang mendengar suara jeritan tersebut?secara Anna tadi bilang korbannya sempat berteriak dan menjerit terlebih dahulu" kata Ronald

"Hmmm, begini agen, bagaimana asumsi mu tentang kejadian ini?" tanya Ben

"Aku belum bisa berasumsi tentang kejadian ini karena belum ada titik terangnya" kata Ronald.

"Apakah kau yakin bahwa ini ada sangkut pautnya dengan konspirasi?" Kata Ben.

"Hmm...mungkin, tapi itu gak pasti" jawab Ronald.

***





Buat mulustrasi dan part selanjutnya nanti segera diupdate. Mohon masukannya juga yaa soalnya ane baru first time bikin sfth emoticon-Malu (S).
sudah bagus gan..mgkn perlu sedikit perbaikan diukuran hurufnya di perbesar 😊
Part 2


Jam sudah menunjukan pukul 03.00 dan penyelidikan masih terus berlanjut. Ben sibuk menginterogasi semua orang yang ada di hotel itu.

Sedangkan Ronald sibuk mengurusi jenazah mayat dan mengobservasi beberapa benda disekitar.

Aku yang saat itu masih kaget dengan kejadian pembunuhan itu berusaha menenangkan diri di bench dekat kolam renang sambil melihat orang-orang yang sedang siduk menginvestigasi pembunuhan itu.

"Heyy!!" suara Ronald berteriak yang saat itu sedang mengobservasi sekitar, sontak membuat semua orang berkumpul, termasuk Ben yang sedang menginterogasi.
"Kau lihat ini!?ini sperma!" Ronald menunjuk ke arah lantai yang terlihat ada sedikit cairan putih kental disitu.

"Apa ini lelucon?kau yakin itu sperma?bukan susu atau krim yang jatuh dan sebagainya?" kata Ben.

"Tidak, ini murni sperma! Dari baunya, tingkat kekentalannya" kata Ronald.
"Hey, apa ada yang bercinta disini?sebelumnya?ini jelas lelucon, mungkin sebuah krim dengan bau mirip sperma" kata Ben
"Tidak tidak, ini murni sperma Ben. Ini bisa jadi salah satu barang bukti" kata Ronald

"Barang bukti apa?bahwa seseorang membunuh dan merasakan masturbasi?" kata Ben
"Tunggu, tunggu, yang kau katakan ada benarnya juga, ada sebuah gangguan jiwa atau tepatnya gangguan seksual dimana seseorang akan mencapai kepuasan saat membunuh seseorang!" kata Ronald
"Membunuh seseorang dan mendapatkan kepuasan?setahuku gangguan seksual dengan mayat hanyalah necrophollia dimana seseorang akan merasakan kepuasan saat bercinta dengan mayat, tapi karena saksi tidak melihat aksi pembunuh bercinta dengan mayat, itu aku skip saja, ohh atau mungkin wanita tersebut diperkosa terlebih dahulu?secara Anna melihat wanita tersebut sempat berlari dengan kaki pincang" kata Ben

Kemanakah wanita itu keluar Anna?tepatnya lewat manakah wanita itu dikejar oleh sang pembunuh?" kata Ronald.
Aku pun menunjuk arah dimana sang korban dikejar. Ben dan Ronald pun langsung bergegas menelusuri tempat itu, ternyata tempat itu mengarah langsung ke ruang makan, dan ada sebuah lift di sampingnya.

"Bercinta di Ruang Makan?ini tidak mungkin, dan disini pun tidak ada tanda-tanda sperma tadi, berarti sang pembunuh mempunyai kelainan seks dimana akan merasakan kepuasan saat membunuh, bukan memperkosa baru membunuh" kata Ronald

Tiba-tiba ada seorang pria datang dan berbicara kepada Ben.

"Ben, setidaknya ada 5 tersangka yang ada, yaitu Gustav, sang pemilik hotel, Marlo, sang resepsionis, Clark, sang security, Dennis, sang Koki, dan Franco, seorang tamu. kata pria tersebut berbicara kepada Ben.

"Menarik...5 orang tersangka dan hanya satu orang yang merupakan tamu. Oh ya, perkenalkan ini Tommy, rekan kerjaku" kata Ben

"Lalu, boleh kutahu Tommy, mengapa hanya ada satu orang tamu yang masuk daftar dan kenapa orang tersebut masuk daftar tersangka? Karena aku berharap semuanya adalah orang hotel yang menjadi tersangka" lanjut Ben.

"Franco, gerak-geriknya terlihat mencurigakan, dan saat diinterogasi tadi dia menyatakan bahwa dia sedang berjalan-jalan untuk mencari sinyal yang bagus, sungguh tidak masuk akal bukan?karena disini di ruangan manapun sinyal tidak ada yang jelek" kata Tomny.

"Oke, tapi aku lebih mencurigai sang security, karena saat aku interogasi kedua kalinya, dia bilang bahwa dia sedang ronda malam, dan saat itu dia sedang berjalan disekitar taman, dan dia berniat memperbaiki lampu taman yang rusak, tapi dia kemudian melihat ada suara jeritan wanita di dekat kolam renang, lalu dia kemudian menyalakan lampu tamannya. Dia bilang dia ingin memperbaiki, tapi saat dia mendengar suara wanita dia langsung menghidupkannya, itu sangat bodoh sekali untuk sebuah alibi, dan juga dia berkata mendengar jeritan wanita, logikanya begini, jauh taman dengan kolam renang jarakny sekitar 250meter dan itupun ditutupin dengan tembok, apakah suara bisa terdengar dengan jarak sejauh itu?apalagi ini dihalangi oleh tembok yang menjulang tinggi, lagian jika suara terdengar sejauh itu mengapa para tamu tidak mendengarnya? kata Ben.

"Waww, itu dia tersangka utama kita, cari informasi sebanyak-banyaknya, oh ya, detektif, siapa namamu?aku belum sempat tahu namamu?" kata Ronald

"Ben, panggil saja Ben" jawab Ben.

Ben yang saat itu sedang mengurusi informasi tentang korban dan juga para tersangka terlihat bingung karena sama sekali tidak menemukan kartu identitas, bahkan handphone sang korban sekalipun yang mungkin telah diambil oleh sang pembunuh.

"Benar-benar pembunuh yang sempurna, detail dan pintar" kata Ben

Ronald pun terlihat sibuk berkeliling gedung hotel untuk melakukan observasi lebih lanjut, siapa tahu ia menemukan benda tajam seperti pisau, atau darah yang berceceran.
Uwooow... Akhirnya dirilis...
emoticon-Ultah

Ane sangat menikmatinya Gan...
emoticon-2 Jempol
Quote:


Makasih dah mampir gan emoticon-2 Jempol masih sepi tapinya emoticon-Turut Berduka
Part 3


Jam sudah menunjukkan pukul 05.30 tapi tetap saja tidak ada barang bukti untuk kasus tersebut, tidak ditemukan pisau, ceceran darah, jejak kaki berdarah, dan lainnya.

Nampaknya pembunuh ini benar-benar profesional. Ben yang daritadi curiga terhadap sang security kemudian meledak-ledak karena dia sudah yakin bahwa itu pelakunya.

"Hei, sir aku rasa kamu bakal mendapatkan tempat istimewa hari ini!" teriak Ben sambil menendang sang security yang daritadi duduk di kursi.
"Aku tahu kau pelakunya!!" teriak Ben lagi sambil meluapkan amarahnya.
"Hei, tenanglah kawan, kita belum mendapatkan bukti secara fisik" kata Tommy berusaha menenangkan.

Ronald yang daritadi tidak terlihat wujudnya kembali ke kolam renang, dia langsung menghampiri pemilik hotel.
"Hei, pak boleh kutanya? Kenapa hotel sebesar dan sekelas ini tidak diberi CCTV? Padahal ini sangat penting untuk keamanan"
"Keamanan kita beberapa tahun belakangan sudah cukup memadai pak, tadi merupakan sebuah kesalahan fatal bagi kami" kata Pemilik Hotel tersebut.
"Hmm..jadi itulah alasanmu tidak memasang CCTV? Karena merasa keamanan hotelmu sudah memadai?" kata Ronald sambil menulis di sebuah note.
"Ya pak, keamanan kita sudah cukup memadai dan CCTV menurut saya hanyalah buang-buang listrik saja" lanjut sang pemilik hotel.

Ronald pun menghampiri Ben dan menanyakan apa yang terjadi.
"Hei, berantakan sekali disini? Ada masalah?"
"Ya ya, Ben sempat emosi dan meluap-luap tapi biarkanlah sudah reda" kata Tommy.

"Hei, Ben, pernahkah kau merasa bahwa kasus ini hanyalah kecelakaan semata?" bisik Ronald
"Lagi lagi kau membuat lelucon yang bodoh! Aku tak tahu kau sekolah dimana, tapi kita punya saksi mata, Anna! Dia melihat secara persis di depan matanya!" bentak Ben
"Pernahkah kau berpikir bahwa apa yang dikatakan Anna hanyalah omong kosong? Atau pernahkah kau berpikir bahwa Anna mengalami halusinasi?" kata Ronald pelan
"Tidak!!Tidak!!aku berani bersumpah itu bukanlah halusinasi!! Kau bisa lihat, ada lubang bekas tusukan yang berarti itu adalah pembunuhan!" teriak aku.

"Kurasa itu sebuah bunuh diri" kata Ronald dengan datar
"Hei, apa yang kau pikirkan? Apa kau putus asa terhadap kasus ini? Apa kasus ini terlalu rumit bagimu!? Maka pergilah dari sini dan biarkan aku dan timku yang mengurusinya, kau hanyalah sampah! bentak Ben sambil mendorong Ronald.

Ronald pun terdiam sejenak, ia mengajak kita untuk menghampiri mayat korban.
"Oh ya, daritadi aku belum sempat menanyakan identitas jenazahnya" kata Ronald
"Bella Crave, umur 32 tahun, seorang juru ketik, dan baru menginap sekitar 1 hari disini sebelum terbunuh" kata Ben
"Mmmm....dia menginap sendiri?" kata Ronald
"Ya, dan pertanyaan itu membuatmu tampak bodoh dan konyol, jika ia datang berpasangan kita daritadi sudah bisa menanyakan kejadian yang sebenernya kepada pasangannya" kata Ben dengan emosi.

Matahari sudah mulai terbit, tapi orang-orang masih ramai disini. Jurnalis pun mulai berdatangan karena penasaran banyaknya mobil polisi yang terparkir disini dan garis police line.

"Hei hei, Tommy, tolong bilang ke para anggota polisi untuk mencabut garis police line dan memarkirkan mobil jauh-jauh disini, jangan ada yang tahu bahwa telah terjadi pembunuhan disini, ini bakal membuat warga sekitar shock, cukup kita dan para tamu hotel diwajibkan tutup mulut" tegas Ben
Tommy dengan sigap langsung melaksanakan perintah dari Ben.

Langit sudah mulai cerah, dan Ronald mengajakku untuk minum kopi sejenak di kedai kopi sambil berbicang.
"Anna, aku mau tahu, jawab sejujurnya, siapakah yang kamu curigai menjadi tersangka selain dari tersangka itu sendiri?" kata Ronald
"Maksudmu? Selain dari para tersangka, siapakah yang paling aku curigai?
"Tepat, siapakah selain dari para tersangka yang kamu curigai?" kata Ronald
"Tidak ada"

"Mengapa kau menanyakan hal itu?" lanjut aku
"Tidak...aku hanya merasakan kecurigaan yang sangat besar terhadap Ben" jawab Ronald
"Hah?? Kenapa kau curiga terhadap dia?"
"Tadi pas aku menanyakan tentang apakah ini merupakan kasus bunuh diri, sebenernya itu hanyalah trik apakah kecurigaanku benar terhadap Ben, jika ia setuju maka kecurigaanku benar, lagian itu kasus sudah jelas merupakan pembunuhan, aku tidak sebodoh itu, jelas-jelas tidak ada benda seperti pisau, tapi korban terkena tusukan, yakali itu merupakan bunuh diri" kata Ronald sambil tertawa

"Dengar, aku hanya ingin tahu dan mengetes Ben, walaupun dia tadi tidak bersikap mencurigakan dan sempat menolak pernyataan aku bahwa itu adalah kasus bunuh diri, tapi aku tetap mencurigai dia, untuk masalah bunuh diri, aku yakin dia sudah mengetahui rencana ku, yakali pembunuh kelas kakap dengan mudahnya tertipu dengan pernyataan bunuh diri yang gak masuk akal, itu sih logis, jadi aku masih menaruh curiga kepadanya" lanjut Ronald

"Yaampun, Ronald, kenapa engkau mencurigainya separah itu? Kenapa kamu berprasangka buruk?"
"Begini Anna, tadi pas aku berkeliling, aku menemukan salah satu kartu nama detektif bernama Edward Fasser, ini kartu namanya, kutemukan pot dekat dengan lift kamarmu" kata Ronald sambil menunjukan benda yang telah ia temukan.

"Lalu, aku tidak menemukan orang yang bernama Edward Fasser, bahkan aku hanya menemukan satu detektif, yaitu Ben, dengar Anna, ceritakan bagaimana kau bertemu dengan dia?" tanya Ronald
"Aku bertemu dengan dia saat aku panik dan menelpon 911, disitu aku mendengar suara ketukan pintu dan suara orang jalan, beberapa menit kemudian, ada suara personel polisi ramai dan aku melihat segerombolan polisi langsung siaga berlari ke arah kolam renang, disitulah Ben datang dan mengetuk pintu"

"Bingo!! Katakan kepadaku, apakah ia memberikan kartu namanya kepadamu? tanya Ronald lagi
"Tidak"
"Okeoke, kira-kira berapa menit dia datang setelah kamu mendengar suara ketukan pintu? Kira-kira saja berapa?" tanya Ronald dengan penuh antusias
"Jika dikira-kira mungkin sekitar 2-3 menitan"
"Itu dia, dan pertanyaan terakhirku, apakah ia membawa Tommy saat itu?atau sendiri?" tanya Ronald dengan penuh penasaran
"Dia sendiri" jawab aku

"Itulah hal yang membuat aku curiga kepadanya! Dia datang sendiri, tapi beberapa jam kemudian datanglah Tommy seorang rekan kerjanya, dan kenapa Ben memilih ke kamarmu dulu? Kenapa dia gak langsung mengikuti para personel polisi? Dan yang paling buat aku curiga adalah dia ingin cepat-cepat menyelesaikan kasus ini, kau bisa lihat, dia tadi meluapkan emosinya terhadap para tersangka seolah-olah itulah tersangkanya, dan aku makin curiga ketika ia berusaha menutupi kasus ini dari publik" kata Ronald.
Keren banget gan ceritanya emoticon-Shakehand2 emoticon-Shakehand2
unpredictable...
penjelasannya logis jadi mudah dicernaemoticon-thumbsup
Berasa baca novel euyemoticon-Matabelo
Semangat updatenya ganemoticon-Peluk
Quote:

makasi udah mampir yaa emoticon-Betty nanti update lagii, jangan lupa share ya biar ramee
Quote:


siap gann emoticon-Betty makasih udah mampir emoticon-Peluk emoticon-Malu (S) jangan lupa share yaa biar rame
Quote:


Makasih gann emoticon-Malu (S) emoticon-Peluk nanti update lagii
Part 4


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, kami berdua pun segera bergegas untuk kembali ke hotel.
Di perjalanan, Ronald kembali menanyakan beberapa hal kepadaku tentang pembunuhan itu
”Hei Anna, aku lupa menanyakan suatu hal kepadamu, di catatan yang Ben berikan kepadaku tidak tercantum cirri-ciri fisik dari sang pembunuh” Tanya Ronald
”Ya, aku memang tidak tahu persis cirri-cirinya seperti apa, itu pertanyaan konyol Ronald, jika aku tahu cirri-cirinya maka pembunuhnya mungkin bias ditemukan sekarang” jawabku
”Mmmm….kira-kira saja, apa yang dia kenakan?” Ronald bertanya lagi
”Intinya…yang kulihat dia mengenakan hoodie hitam polos, dan hoodie hitam polo situ adalah fasilitas hotel, tiap tamu di hotel diberikan fasilitas seperti hoodie yang tersedia di kamar hotel, dan dia kemudian mencekik korban” jawabku
”Tunggu!! Kau bilang dia mencekik korban?” kata Ronald dengan kaget dan penasaran
”Yaa, kenapa kau seperti kaget begitu? Bukankah sudah dijelaskan di catatan yang Ben berikan kepadamu?” tanyaku
”Haha…di catatan itu hanya tertulis Anna melihat korban dibunuh! Dan tidak tertulis kalau Anna melihat korban dicekik, hanya tertulis dibunuh! Kecurigaanku semakin bertambah terhadap dia” kata Ronald sambil tertawa

Rupanya, Ronald semakin curiga terhadap Ben karena hal itu.
”Anna, lalu kenapa kau diam saja tadi ketika kau melihat luka tusukan yang ada di tubuh korban?” Tanya Ronald lagi
”Yaa karena sebelumnya korban sudah terpincang-pincang sambil berlari sebelum dia dicekik dan tewas seketika, aku yakin bahwa korban sebelumnya telah disiksa terlebih dahulu sebelum kemudian dibunuh”
”Ya Anna! Kau sangat jenius, teorimu ini membuat aku berpikir kepada satu kemungkinan motif dan alas an mengapa ia membunuh korbannya” kata Ronald
”Bagaimana?Jangan buat aku penasaran Ronald, apa motif yang kau pikirkan?” tanyaku dengan penuh penasaran
”Aku memiliki teori bahwa, sang pembunuh sebelumnya hanya ingin menyiksa dia saja, dia tidak ingin membunuh, karena menyiksa merupakan bentuk kepuasan bagi dia” jawab Ronald
”Apa?Apa Maksudmu?Aku tidak mengerti”
”Apa kau ingat Anna ketika aku menemukan sperma di area kolam itu?”
”Ya, tentu saja”
”Itulah yang sedang kumaksud, sang pembunuh mempunyai kelainan jiwa dimana ia akan mengalami masturbasi ketika ia menyiksa orang” kata Ronald
”Apaa??aku baru dengar hal tentang itu, apakah bukti orang yang mempunyai kelainan seperti itu?”
”Yaa, adaa, Adolf Hitler adalah salah satu orang yang mempunyai kelainan seperti itu, aku pernah membaca buku yang berjudul Hitler 1 and Hitler 2, The Sexual No-Man's Land, dimana Hitler orgasme saat menonton film pembantaian The Rebel” jawab Ronald
”Lalu apalagi Ron? Lanjutkan teorimu” kataku
”Sang pembunuh berusaha menyiksa korban untuk mendapatkan suatu kepuasan, dan sang korban berusaha kabur, si pembunuh pun menusuk nya dibagian kaki agar dia tidak bias kabur dan tetap hidup, lalu kemudian si korban tetap memberontak dan berteriak di area kolam renang, si pembunuh pun terpaksa untuk membunuh” kata Ronald
”Itu teorimu Ron? Apakah kau tidak berteori jika sang korban diperkosa?”
”Yaa, itu dia yang membuatku sedikit bingung tentang teoriku ini, antara diperkosa atau disiksa, jika teoriku benar, maka sang pelaku mempunyai kelainan jiwa” kata Ronald dengan sedikit kecewa.
ngopi dulu om, sambil gelar tiker baca satu2. emoticon-Peluk
Quote:


Siap bre emoticon-Peluk bantu share ya bre biar rame emoticon-Betty
Bagus Gan Ceritanya emoticon-2 Jempol
Semangat buat terus lanjutin ceritanya dan jangan ada kentang diantara kita emoticon-Cendol Gan
Quote:


Zipp gann emoticon-2 Jempol comingsoon update emoticon-Betty
lanjccrrootttt gan..uaappiiikkkkk
haduh tulisanya bikin ane makin berimajinasi makin liar emoticon-Takut
baru baca part 1 padahalemoticon-Embarrassment
Quote:


Ciyus udah baca beneran?emoticon-Malu (S)