CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Tampilkan isi Thread
Halaman 58 dari 96
Lanjut update lagi om
Reader Selalu setia menunggu
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Mantan yg mengganggu blokirlah buat apa mikir perasaannya, semudah itu loh, atau mang ga mau nih ija lepas gitu aja, kadang sikap kita membuat rumit diri sendiri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Quote:


Quote:


Quote:


haha siap. nanti siangan bakal ada update baru ya gan. disimak aja. hehe..
profile-picture
Ntri31022 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Quote:


Quote:


Quote:


Geng Suzuran wkwkwkwk...yaudah diikutin lagi aja, biar makin seru. hehehe...
profile-picture
dayray memberi reputasi
Quote:


Sekertarisku bi Asih emoticon-Angel
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan Martincorp memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:

Loh a titin gak satu genk sama bang pirji?emoticon-Bingung (S)
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan Martincorp memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Harus Dicurahkan

Hari-hari berikutnya emang gue jadinya nggak menghubungi Emi sama sekali. Gue masih ngerasa bingung dan emosi aja sama situasi ini. Kenapa sih setiap gue mau memperjuangkan satu cewek yang gue sayang, mantan selalu nggak terima dan malah berusaha ngerusak hubungan?

Gilanya, Dee sekarang juga seperti berusaha dengan cara yang saama denngan Keket dulu. Apa malah dia terinspirasi ya? Karena dulu Keket sempat hampir berhasil dengan cara terornya dia itu. Tapi emang kalau dilihat dari pergerakannya, Dee belum sepenuhnya ‘menyentuh’ Emi. Masih berusaha membuka link dari gue.

Harus diakui gue salah dari awal. Membiarkan dengan iya-iya aja itu malah jadi berimbas nggak bagus. Gue harus mencoba mengakhiri benar-benar kalau kayak gitu. Gue menghubungi Dee dan nggak diangkat sampai beberapa kali. Gue meneruskan aktivitas bekerja gue sehari-hari.

Gue nggak menghubungi Emi dulu biar bisa menenangkan diri. Mudah-mudahan juga dia bisa menenangkan diri. Gue berfokus kepada Dee aja dulu. Setelah beberapa kali gagal dalam beberapa hari, akhirnya Dee mengangkat telpon gue.

Quote:


Gue langsung menutup telpon gue. Semoga apa yang gue bilang ke dia itu benar-benar dipikirkan. Gue udah capek sama drama yang dibuat sama angkatannya Emi. Uniknya, sekarang gue malah dihadapkan sama drama lain lagi yang datang dari mantan. Buset, kok bisa barengan gini ya? apa semuanya sebenernya ada hubungannya yang gue nggak tau? Yang gue tau, Dee itu sudah lost contact sama teman-temannya di kampus dan memang dia udah berkomitmen untuk nggak menghubungi mereka lagi selepas kepergiannya ke Padang dulu.

Segalanya jadi abu-abu buat gue. Lama-lama ini menjadi sesuatu yang bikin capek hati. Sementara gue nggak bisa cerita dengan siapapun. Arko yang biasanya gue ceritain udah rada susah waktunya karena dia udah nikah. Pun sama dengan Ara. Tapi rasa-rasanya sih Ara masih bisa kali ya gue coba hubungin.

Gue mencoba menelpon Ara dan langsung diangkat.

Quote:

Gue agak ragu apakah rencana gue untuk bertemu Ara ini akan berhasil apa nggak. Gue nggak begitu mengenal tabiat suaminya. Tapi gue yang pernah melihatnya secara langsung sih beranggapan kalau si suami ini sayang beneran dan percaya banget sama Ara. Jadi mestinya sih dia nggak akan curiga yang berlebihan.

--

Hari pertemuan gue dengan Ara pun tiba. Ara udah diijinin sama suaminya. Tapi kata suaminya kalau mau ketemuan di kafe milik saudaranya aja. Biar jaga-jaga dan biar suaminya juga nggak was-was. Gue sangat setuju dengan ide itu, daripada nanti gue dituduh macam-macam kan. Hehe.

Waktu itu hari jumat sore, sehabis pulang kantor gue langsung menuju ke kafe yang ada di Jakarta Pusat itu. Perjalanan gue tempuh dengan menggunakan kereta listrik. Setelah turun di salah satu stasiun gue naik ojek menuju ke kafe yang dimaksud. Disini pun gue udah mulai menggunakan fitur bantuan di HP yaitu google maps. Walaupun belum secanggih sekarang, tapi cukup membantu kok.

Kala itu gue datang terlebih dulu daripada Ara. Ara saat itu datang dengan diantar oleh supir. Supir pribadi keluarga suaminya sepertinya. Ketika Ara masuk, dia disambut bak putri raja oleh semua staf kafe. Sepertinya mereka udah mengenal Ara dengan baik. Ara nggak berubah, tetap aja manis seperti dulu. Bedanya, dia bajunya agak gedean sekarang. Mungkin mengikuti tren yang ada saat itu kali ya.

Ara menuju ke tempat gue duduk dengan senyum ceria ala lolinya yang nggak pernah berubah. Ketika sudah semakin dekat, aroma parfum Dolce Gabbana Peony langsung menusuk ke indra penciuman gue. Ara udah semakin dewasa terlihatnya. Tentunya, ya makin flawless lah. Haha.

“Kamu apa kabar?” Raut wajahnya terlihat sangat ceria.

“Alhamdulillah, aku baik Ra. Kamu gimana?” tanya gue balik.

“Aku, ya gini Ja. hehehe. Keliatannya baik apa nggak? Heheh.”

“Haha. Kamu makin oke aja penampilannya. Mana sekarang parfumnya mahal ni yee. Hehehehe.”

“Ah kamu bisa aja. udah pesen minum belum?”

“Belum. Bareng aja ya sama kamu Ra.”

Lalu Ara memanggil staf yang kayaknya udah dia kenal juga karena memanggil Ara dengan sebutan mbak. Gue memesan Frapuccino dan Ara memesan Caramel Latte. Kafe ini sangat nyaman dan santai banget buat dipakai untuk ngobrol-ngobrol.

“Ini punya suami kamu? Kayaknya kok orang-orang disini udah kenal semua sama kamu Ra.” Tanya gue sambil menunjuk ruangan dengan gestur memutar.

“Haha nggak kok. ini punya sepupunya suami aku. Kebetulan kalau ada acara keluarga dia, makenya tempat ini yang strategis ada ditengah-tengah.”

“Nah kan keluarganya banyak. Apa mereka kenal sama semua keluarganya suamimu?”

“Nggak juga sih. Cuma kan kamu tau sendiri aku gimana. Aku kan mau berteman sama siapa aja Ja. makanya setiap kesini aku selalu berusaha ngenal dan baik sama mereka. Sebagai gantinya, ya mereka juga otomatis baik sama aku. Hehe.”

Ara tetap seperti dulu. Orangnya selalu humble dan baik kesemua orang. Berusaha untuk mengenal banyak orang dan nggak mengenal strata sosial mereka. Ya pokoknya mau bergaul sama siapa aja nggak pilih. Sifat yang juga dimiliki oleh Emi.

Gue dan Ara terlibat obrolan yang seru. Tapi emang banyakan gue yang cerita. Gue menceritakan seluruh kejadian yang gue alami. Dari mulai pertama kali ketemu Emi sampai drama-drama nggak penting yang mengiringi perjalanan cinta kami. Ada drama dari adik-adik kelas yang freak seperti Dewi dan Nindy, drama dari Debby yang nggak jelas ada tujuan apa ke gue, ada juga drama dari Dee serta drama-drama orang-orang disekitar Emi.

Untuk drama cewek-cewek freak, Ara seperti udah biasa mendengar urusan seperti ini. Selama Ara mengenal gue, Ara selalu aja menjadi saksi beberapa orang yang mendekat ke gue secara sporadis dan malah bikin gue takut. Dan kalau gue takut, ya gue larinya ke Ara buat bantuin gue menjauh dari cewek-cewek itu. hehehe.

Ara mengatakan cukup kompleks juga hubungan gue dengan seorang cewek kali ini. Karena dulu-dulu nggak pernah seribet ini. Dulu mah lancar-lancar aja, perjuangannya juga nggak berat. Tapi dia juga mengakui, kalau udah ribet begini masih aja diperjuangin, berarti ada sesuatu yang spesial dari seorang Emi bagi Ija. Setelah gue banyak cerita tentang Emi yang sebelas dua belas sama gue aslinya, Ara merasa Emi ini seperti dirinya juga. Ada beberapa kesamaan sifat yang dimiliki Emi dan Ara, yang disadari oleh Ara.

Ara juga bilang kalau secara fisik sebenarnya dia dan Emi itu juga mirip. Nggak terlalu tinggi, enerjik, dan juga selalu ceria. Bedanya Ara nggak pernah mengeluarkan kata-kata mutiara walaupun nggak pernah ngelarang siapapun untuk ngomong kayak gitu. Dari pendidikan juga Ara angkat topi buat Emi.

Walaupun Ara belum pernah bertemu dengan Emi, Ara seperti yakin kalau Emi adalah orang yang cocok untuk gue. Gue mendeskripsikan Emi dengan sangat baik menurut Ara, jadinya dia bisa membaca sekilas Emi ini seperti apa orangnya. Apalagi hampir disemua bidang yang gue senangi atau pernah gue jalani, semuanya juga dijalanin oleh Emi. Dari mulai musik metal, jejepangan, sampai dengan diskusi ilmiah yang sangat gue sukai, tapi nggak pernah bisa diimbangi oleh Ara. Hehe.

Gue sangat lega akhirnya bisa berbagi unek-unek yang udah lama gue pendam dan nggak bisa gue ceritain ke siapapun karena gue emang nggak banyak percaya orang. Orang yang gue percaya ya Emi. Masa iya gue cerita urusan gue sama Emi ke Eminya sendiri? Kan aneh.

Akhirnya pertemuan singkat gue dengan Ara selama beberapa jam berakhir. Ara juga bilang, kalau dirinya sedang hamil. Baru dua minggu usia kehamilannya. Ini berita yang sangat menyenangkan buat gue tentunya. Sebentar lagi hidup Ara akan semakin sempurna dengan kelahiran anak pertamanya. Gue juga bilang selalu jaga kesehatan dan jangan stres-stres takutnya malah ikutan kepengaruh tu calon anak. Hehe.

Ara juga bilang, tahun depan suaminya dapat penempatan di Sulawesi, ntah dimana dia juga kurang tau dan belum dijelasin juga sama suaminya. Tapi yang jelas, dia akan semakin jauh lagi dari gue. ya nggak apa-apa dong, kan nggak ada feeling apa-apa lagi. Harus gue akui kalau setiap momen ketemu Ara itu selalu ngebangkitin memori masa lalu yang pernah gue lalui bersama dia. Ara juga bilang begitu.

Itu adalah memori kami dimasa lalu, dimasa muda yang seru. Sekarang kami udah punya kehidupan masing-masing, dan gue merasa udah menemukan sosok Ara, dalam versi yang jauh lebih baik dan lebih sempurna menurut checklist gue. Itu semua ada di diri Emilya.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
Lihat 1 balasan
Quote:

Boleh request gak? Si gamer aja dongemoticon-Embarrassment
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Itu buat lu aja yee emoticon-Embarrassment
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Nggak, maunya sama bi Asih aja gue emoticon-Angel
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Wkwkwkwk suka bener kalo ngmg emoticon-Ngakak
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


gue pengasuh geng2 yang ada di kaskus sini wkwkwkwkwk....

geng bucin? waduh kesian mulu dong kalo tiap ngumpul tin. ahahhah...

Bi Asih? hahaha. bukan maeeeennn...
Lihat 1 balasan
Quote:


Genk genk an aja Dor.. Kalo ada Dora dan gak da Tom and Dany kan jadi kurang seru.. 😀
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan adorazoelev memberi reputasi
Quote:

Jadi maksudnya kami tiga serangkai om?emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan dayray memberi reputasi
Quote:


Ya pokoknya seru aja kalo kalian lagi ribut.. plus Titin lagi.. emoticon-Ngakak
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi

Fitnah Yang Rese

Gue banyak menghabiskan waktu dirumah orang tua gue daripada di kostan. Entah kenapa gue seperti menemukan kembali kenyamanan kasur rumah gue. gue juga membawa pulang konsol game gue. gue juga banyak menulis blog serta beberapa kali mencoba menulis lagu.

Gue masih nggak mau menghubungi Emi dulu. Gue masih membiarkannya untuk menenangkan dirinya dulu. Sama gue juga begitu soalnya maunya. Tapi waktu gue bertemu Ara tempo hari, dia menyarankan untuk segera menemui Emi. Karena dia sepertinya tau kalau gue itu sebenarnya udah kangen berat sama Emi.

Emang gue udah kangen sama Emi. Hambar aja kalau nggak ada Emi. Minimal setiap harinya kami ngobrol, nggak pernah nggak ngobrol. Ada aja yang diceritakan. Jadi kalau nggak ada Emi ya jadinya ada yang kurang banget. akhirnya gue memutuskan untuk mengejutkan dia aja dengan datang dadakan ke kampus sehabis ngantor. Cukup setengah hari aja ngantornya.

Gue langsung cabut dari kantor sehabis makan siang. Perjalanan kala itu cukup cepat karena jalanan juga lancar. Maklum masih siang kan. Gue berganti pakaian dulu dengan kaos ketika sampai digedung fakultas. Gue melihat masih banyak mahasiswa disana. Ya kan masih belum terlalu sore ketika itu.

Tujuan gue udah jelas ke laboratorium tempat Emi biasa mengerjakan skripsinya. Dia kan juga pernah jadi asisten dosen untuk lab ini. Jadi pasti dia ada disana. Selama perjalanan gue menuju ke lab tersebut, ada beberapa orang yang ada disekitar gedung jurusan gue menyapa gue. Lagi-lagi yang bisa gue lakukan hanyalah tersenyum kepada mereka.

Gue udah sampai didepan laboratorium ketika gue melihat Emi yang sedang menangis. Dia memunggungi gue dan ditemani oleh temannya yang bernama Lidya. Entah apa yang habis diomongin sama mereka, tapi yang jelas pasti ini ada hubungannya dengan gue.

“Kenapa Emi nangis begitu?” tanya gue dipintu. Suara gue cukup keras jadi harusnya semua orang yang ada dilab bisa dengar.

“Bang Ija?” Lidya Cumiik kaget.

Emi semakin nggak melihat ke arah gue. “Kenapa lo kesini?” ujarnya.

“Lah kenapa gue ditanya kayak gini? Gue mau nemuin cewek gue kan. Emang ada yang ngelarang ya?” kata gue bingung sekaligus mulai emosi.

Karena nggak ada jawaban, gue langsung tarik Emi menjauh dari temannya.

“Duduk.” Perintah gue, “Kita omongin semuanya.”

“Omongin apaan lagi?” tanyanya.

“Emang menurut lo kemaren kita kenapa? Putus?”

“Bukannya lo milih putus? Butuh waktu sendiri-sendiri bukan?”

“Gue bukannya minta putus, Mi. Gue bilang kita sama-sama butuh waktu untuk sendiri.”

“Selama itu? Untuk apa emang? Udah beres urusan sama mantan lo? Eh sori, cewek lo.”

“Ga usah bahas dia lagi.” Gue mulai emosi disini. Gue tarik napas panjang dulu.

“Gue milih lu, Mi. Sori kemaren gue nggak ngakuin lo di depan dia. Maaf banget, gue lebih mikirin perasaan dia dibandingin perasaan lo selama ini. Maaf juga kemaren gue sempet kecewa sama lo yang lebih memilih percaya ke dia tanpa gue jelasin gimana kejadian aslinya. Gue cuman….gue cuman cape, Mi. Kok ya cuman buat pacaran sama lo sesusah ini. Banyak banget yang ngurusin kita. Belum lagi sampe mantan gue ikut-ikutan balik lagi. Kenapa begini amat perjuangannya? Gue milih lo, Mi. Bukan dia.”

“Gue nggak tau. Gue nggak tau mesti percaya sama lo tentang ini apa nggak.”

“Gue terserah sih lo mau percaya sama gue atau nggak. Nama gue udah sejelek itu di Kampus ini bahkan di dalam hati lo. Gue cuman bisa minta maaf. Tapi, Hubungan ini nggak akan pernah berakhir.”

“Kok lo tetep maksa gue buat lanjutin hubungan ini, Zy?”

“Karena gue nggak akan pernah mau ini berakhir.”

“Kalo gue mau?”

“Kasih gue bukti kalo hubungan kita ini harus berakhir.” Emosi gue sudah tinggi dan gue menatap sangat tajam ke Emi.

“Gue tadi nangis Zy. Karena selama kita nggak kontak kemaren, ternyata ada beberapa omongan tentang lo.”

“Omongan apaan?” gue mulai bingung, tapi dari sini kecurigaan gue mulai terbukti.

“Tentang Nindy sama Dewi.”

“Kenapa lagi sama mereka? Mereka mau bilang apa lagi? Kalo lo diperlakuin sama lagi kayak mereka atau mereka ngajakin lo buat ikut gosipin gue?” gue memasang muka malas.

“Bukan. Lebih parah.”

“Gimana maksudnya?”

“Zy, apa semua cewek yang lo deketin itu wajib lo pake?”

“WAJIB GUE PAKE? Maksudnya apaan?”

“Nggak usah pura-pura beg*.”

“Ngapain pura-pura beg* kalo urusan begini. Jelasin apa maksud omongan lo?” gue mulai emosi lagi.

Gue nggak ngerti kenapa Emi bisa menarik kesimpulan terlalu dini kayak gini. Gue nggak pernah asal-asalan juga kalau mau kayak gitu sama cewek. Nggak sembarangan. Gue emang bukan orang yang sebersih itu, tapi ya nggak sembarangan atau asal suka dikit, deket dikit, hajar. Nggak kayak gitu cara mainnya.

“Janji mau dengerin sampe abis?” Emi melanjutkan.

“Buru apaan?” gue semakin penasaran.

“Janji dulu. Terus jangan potong omongan gue dan jangan ngamuk-ngamuk?”

“JANJI ANJ*NG! Buru apaan?” gue membentak Emi.

“Kenapa lo ajak Dewi ke Taman Bunga Nusantara juga kemarin?”

“Hah? KAPAN?”

“Kemarin pas kita nggak ketemu.”

“APAAN? MANA ADA! GUE DI KANTOR! GUE FULL DI KANTOR! GUE DI KOSTAN AJA PULANGNYA! SESEKALI GUE PULANG KERUMAH. GUE GA KEMANA-MANA, BANGS*T! LAGIAN HOBI BANGET GUE KESONOH SIH? SEGALA BAWA ANAK ORANG MULU?”

Kecurigaan gue soal omongan negatif tentang gue dikampus dan alasan banyak orang yang nggak gue kenal tiba-tiba nyapa gue pelan-pelan terbukti.

“Boong.”

“Kalo lo ga percaya, nih! Telepon atasan gue!” Gue berikan HP gue dengan nama si bos yang siap untuk di telpon. “TANYAIN, GUE KEMANA AJA KEMAREN? GUE BAHKAN HAMPIR NGINEP DI KANTOR SAKING GUE STUCK-NYA KERJA KARENA GUE NGGAK BISA NGEHUBUNGIN LO, MI!”

“Terus kenapa harus ada gosip kalo lo cipokan sama Dewi di Taman Bunga Nusantara, Zy? Siapa lagi yang tau kalo kemaren kita berdua kesana? Gue bahkan pasang status tanpa tag nama lo sama sekali! Masa iya ada yang tau kita jalan kesana? Terus kenapa gosipnya malah lo yang jalan sama dia?”

Sungguh pertanyaan yang sangat aneh dari seorang Emi. Anak secerdas ini kok pertanyaannya jadi tendensius dan mengarahkan kalau gue yang salah.

“MANA GUE TAU, ANJ*NG! SUMPAH BANGET INI!”

Gue udah kehabisan tenaga untuk menahan emosi dan nggak berekspresi. Gue menendang kaki meja yang ada dikoridor jurusan. Kaki meja itu kan terbuat dari besi sehingga kalau ditendang akan terdengar sangat keras dan menggema.

“Oke kalo gitu, jawab pertanyaan kedua gue.”

“Apa lagi? Nindy ikutan ngaku dicipok sama gue di Taman Bunga Nusantara juga?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Kemaren lo maen ke kostannya Nindy?”

“Nggak. Gue pernah main kekostannya dia itu cuma sekali-kalinya pas mau acara kompetisi antar angkatan dulu itu, itu juga cuman buat numpang ibadah.”

“Boong.”

“BANGS*T! Kenapa lo nggak percaya banget sih? Terus kenapa sih emangnya?” gue memukul meja tersebut sekeras-kerasnya dan memaki dengan keras juga.

“Ada gosip katanya Nindy pernah dipake sama Bang Ija pas Bang Ija main ke kostannya Nindy belum lama ini.”

“BUSET! INI FITNAH BANGET YA! PADA BERANI YA ANAK MUDA JAMAN SEKARANG NGEFITNAH KAKAK KELAS? GA PADA TAU SOPAN SANTUN APA HAH?”

Seumur-umur gue ada dikampus ini, belum pernah gue seemosi ini sama adik kelas. Bahkan sebenci-bencinya gue sama angkatan tol*l kayak angkatan Diani aja nggak sampai sebegininya. Ini jelas fitnah yang sangat kejam. Gue hanya kerja biasa, pulang ke kostan atau kerumah dan selebihnya hanya bertemu Ara beberapa jam aja. Gue bahkan udah lama nggak kontak sama Nindy ataupun Dewi.

“Jangan begini, Zy! Ga enak diliat orang!” Emi terlihat sangat nggak nyaman dengan sikap gue.

“NGGAK PEDULI GUE! BIAR AJA ORANG-ORANG PADA TAU SEKALIAN! TOH UDAH PADA GOSIPIN GUE BEGITU KAN? GUE NGGAK TAKUT! SEKALIAN AJA RUSAK NAMA GUE DIMATA SEMUA ORANG! SINI MANA YANG GOSIPIN GUE? KELUAR BANGS*T! GUE YAKIN SI NINDY SAMA DEWI ADA DI KELAS! SINI ORANGNYA SURUH KELUAR! TEMUIN GUE DI SINI! NGOMONG SAMA GUE! KAPAN GUE PERNAH BEGITUIN MEREKA! RUGI AMAT GUE! NGGAK PERNAH NGAPA-NGAPAIN MEREKA, EH DIFITNAH BEGINI! DIOMONGIN LAGI KE CEWEK GUE! FITNAH GUE DAN NYAKITIN HATI KAKAK KELASNYA ITU GIMANA BANGET SIH CERITANYA? SALAH GUE APA SAMA MEREKA? AYO MANA SINI ORANGNYA?! APA PERLU GUE SERET LANGSUNG DARI KELASNYA?”

Gue udah nggak bisa nahan emosi. Suara gue yang lantang ditambah dengan energi yang berasal dari emosi tertahan membuat suara gue makin bergema diseantero gedung jurusan gue. gue udah bodo amat mau diliatin siapapun termasuk dosen. Biar aja sekalian mereka pada tau kalau ada adik kelas yang berani dan tega memfitnah kakak kelasnya sendiri yang motivasi sebenernya pun juga nggak tau kenapa.

“DIEM ZY! UDAH!!!” Emi membentak gue.

Gue melihat ada anak yang sepertinya sekelas dengan Nindy dan Dewi. Lalu gue tarik mereka.

“Heh, sonoh ke ruangan kelas antara tiga itu di sana. Suruh keluar yang namanya Nindy sama Dewi, bilang Ija mau ketemu!” gue memerintahkan mereka dengan air muka yang sangat bersungut-sungut.

Sekitar lima menitan gue menunggu dengan bertolak pinggang disekitaran koridor jurusan.

“Bang maap, Dewi sama Nindy-nya nggak mau ketemu.” Ujar salah satu cewek itu. Mukanya ketakutan.

“SURUH DIA KELUAR ATAU GUE YANG SERET MEREKA KELUAR! FITNAH ITU JAHAT! APALAGI FITNAH ORANG YANG LEBIH TUA! ANJ*NG! KALO LO MIKIR, HARUSNYA LO PERCAYA SAMA GUE! KALO GUE BENERAN MAKE MEREKA, GUE NGGAK AKAN BERANI NGOMONG BEGINI SEKARANG! TAPI APA? MEREKA YANG NGGAK BERANI NEMUIN GUE KAN?! BERARTI SEKARANG SIAPA YANG SALAH?” teriak gue ke Emi sambil menendang bangku yang ada.

“UDAH! AYO PULANG!!!” Emi tiba-tiba menarik tangan gue.

“GUE MAU NEMUIN MEREKA DULU! ENAK AJA KABUR GITU AJA!” kata gue nggak terima.

“Nanti gue yang urus!”

“Nggak mau!” gue menyentak pegangan tangan Emi.

“Lebih penting mana? Ributin mereka karena gosip yang nggak bener? Atau dapetin kepercayaan gue, Zy?”

Gue terdiam langsung. Gue lebih memilih untuk mendapatkan kembali kepercayaan Emi lah. Padahal Emi dibuat nggak percaya sama gue juga bukan karena gue yang bikin masalah atau mengecewakan Emi. Tapi dari omongan entah siapa ini yang mempengaruhi mindset Emi. Dan tentunya, urusan dengan Dee.

“Ayo balik Mi. Bilang ke mereka! Kalo berani jangan Emi yang digesek, suruh mereka hadapin gue langsung!” kata gue ke anak-anak yang tadi gue suruh nyampein pesan.

Sepanjang perjalanan menuju ke parkiran motor, gue memasang raut muka yang amat kesal. Emi gue genggam dengan langkah yang lebar. Emi terlihat agak sedikit berlari untuk mengimbangi langkah gue.

Sesampainya di parkiran, gue meminta maaf atas kericuhan yang gue buat tadi. Gue sama sekali udah kehilangan kontrol karena urusan fitnah tersebut. Seumur-umur gue dekat dengan cewek, gue nggak pernah sampai difitnah kayak gini. Ini benar-benar norak sih kalau kata gue.

Permasalahannya adalah, gue nggak pernah ngapa-ngapain sama mereka. Gue hanya chat yang menurut gue masih wajar dan nggak ada modus-modus tertentu. Kayak misalnya ujung-ujungnya minta foto bugil mereka. Nggak ada kayak gitu. Gue juga jadi nggak berminat karena chat dengan mereka itu basi. Apalagi setelah gue ketemu dengan Emi.

Tapi anehnya kok mereka gini amat sama gue? gue nggak memberikan harapan apapun ke mereka. Karena emang dari awal gue udah ngerasa nggak pas aja sama mereka. Gilanya, mereka bahkan bisa tau loh kalau gue dan Emi sedang ribut-ribut pasca pulang dari reuni akbar tersebut. Disitu mereka bikin cerita seolah gue datang dan berbuat macam-macam dengan Dewi dan Nindy.

Apa ini sebenernya ada hubungan juga dengan kebetulan si Dee yang tau-tau menghubungi lagi setelah semua masalah yang ada di Emi? Gue nggak mau berasumsi, tapi gue harus curiga dulu aja. Gue masih berpikir kalau Dee itu nggak mungkin banyak tau dari lingkaran pertemanan yang ada dijurusan. Dia udah bilang kalau nggak akan menghubungi teman-teman angkatannya lagi.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan 24 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
Lihat 6 balasan
hmmm hmmm menarik ayo lnjut lg bang
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
tambah menarik ceritanya.
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Sama aku lupa ga ?
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Quote:


Cinta segitiga bermuda dong ? Duh rumitnya huft
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Halaman 58 dari 96


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di