CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Tampilkan isi Thread
Halaman 31 dari 115
Balasan post yanagi92055
Jangan salah loh bang ija....cewek baperan itu kebanyakan tulus..remember that
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Balasan post yanagi92055
Menurut ane... ada yg ember ke Dee soal hubungan lo sm Emi Ja... kyny si Teguh..
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Balasan post adorazoelev
Waaaaah.. emoticon-Big Grin
btw Dis... sprti saya merasakan aura2 membunuh dr Dany nih.. wkwkwk
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:


Hayati juga langka bang, rencana update kapan ya 😁
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi

Pertama Kali

Gue terlibat dalam perdebatan dengan Emi sebelum dia mempersilakan masuk kedalam kostannya. Akhirnya setelah beberapa lama kami berdebat gue dipersilakan masuk kedalam. Gue pun bersiap untuk membantu dia yang ternyata akan berangkat untuk penelitian lapang malam ini.

Gue yang kala itu membawa mobil, mengajak Emi untuk jalan kaki terlebih dahulu karena gue emang agak jauh parkirnya, dekat auditorium utama. Sepanjang perjalanan sepertinya gue bertemu dan melihat beberapa orang yang kenal dengan Emi, karena gue sadar selama perjalanan menuju parkiran auditorium utama itu, mereka seperti mengenali dan melihat kearah gue serta Emi. Gue nggak ambil pusing, kalau mau ada yang gosipin, ya sekalian aja, nggak usah tanggung-tanggung.

“Lo parkir jauh bener sih di parkiran Auditorium Utama begini?” protes Emi.

“Soalnya nggak muat kalo harus parkir di gang kosan lo, Mi.” kata gue.

“Nah gitu kek. Ngomong pake lo-gue kalo ketemu. Lebih enak. Lo bawa mobil?”

“Iya, kenapa emangnya? Lo mabokan kalo naik mobil?”

“Anj*ng.”

“Hahaha. Terus kenapa?”

“Lo kok nggak mikir sih? Nggak praktis. Ke Kampus yang macet dimana-mana begini malah bawa mobil. Apa bedanya naik angkutan umum hah? Gue kira lo bawa motor. Gue masih oke lah ke Kota naik motor. Mobil? Buset.”

“Baru kali ini gue liat cewek dijemput naek mobil bukannya demen malah ngamuk.” Gue agak heran sekaligus takjub dengan fakta lain yang ditunjukin sama Emi ke gue.

“Soalnya bloon. Nggak praktis. Mendingan gue naik angkutan umum sekarang. Sama aja waktunya. Bedanya cuman dianterin lo. Kalo lo naik angkutan umum sama gue, jadinya sama aja kan?”

“Kan ada AC.”

“Halah. Gaya bener. Sekarang ngapain segala buka-bukain pintu?”

Dia memprotes lagi. Gue emang terbiasa untuk membukakan pintu kepada cewek yang gue ajak naik mobil.

“BUSET BACOT! Gue biasanya juga SELALU bukain pintu mobil buat cewek yang mau naik ke mobil. Mantan gue digituin sama gue demen semua. Cewek yang pada gue ajak jalan semuanya seneng banget bahkan. Lo malah nanyain kenapa gue bukain? Buset. Aneh banget lu, Mi.”

“Gue bukan mantan lu, Zy. Besok-besok, nggak usah bukain begini lagi buat gue kalo lo bawa mobil. Gue bisa sendiri.”

Gue kemudian masuk mobil dan mengambil alih kemudi. Parkiran Auditorium Utama saat itu cukup gelap. Lampu yang ada saat itu ketutupan sama pohon.

“Mi, maafin aku.” Gue membuka obrolan lagi.

“Maaf untuk?”

“Maaf untuk kemarin. Aku salah, nggak mau akuin kita. Aku salah malah biarin kamu pergi. Aku salah malah kalah sama mantan aku.”

“Kita emang apa, Zy?”

“Aku masih mau tetep berjuang bikin kamu suka sama aku. Aku tuh udah sayang sama kamu. Kali ini tolong, jangan menghindar lagi. Jangan pergi lagi.”

Bersamaan dengan itu, gue mendekatkan muka gue ke muka dia yang agak gelap karena kurangnya penerangan disekitar mobil. Emi hanya
diam aja ketika itu. Nggak ada jawaban. Entah kenapa, gue ngerasa cewek yang didepan gue saat ini adalah orang yang sangat-sangat berbeda. Gue selalu kangen sama dia ketika gue jauh dari dia. Kami selalu berkomunikasi, nggak pernah nggak. Hanya karena kejadian kemarin itu kami putus komunikasi sejenak dan gue nggak mau ada putus komunikasi.

Secara spontan gue mendekatkan bibir gue ke bibir Emi. Dan ketemu. Gue mencium bibir Emi untuk pertam kalinya dikegelapan malam, dihiasi alunan musik yang berasal dari mobil gue. udara di kabin mobil cukup dingin karena gue sudah menyalakan AC mobil. Emi diam aja nggak membalas pergerakan bibir gue.

Tapi lama-lama, akhirnya dia menggerakkan bibir seirama dengan pergerakan bibir gue. bibirnya yang tipis mulai bergerak untuk mengimbangi pergerakan bibir gue yang sudah lebih dulu bekerja. Kategori ciuman ini adalah ciuman pakai hati. Hanya aja, gue masih merasa ada keraguan di hati Emi. Mungkin dia masih merasa sedih dengan kejadian kemarin. Tapi, gue merasa ciuman Emi pakai hati ini adalah sesuatu yang bisa menjawab rasa penasaran gue tentang bagaimana perasaan Emi ke gue.

Gue merasakan ada secercah harapan ketika itu. Emi memberi sinyal positif, tinggal bagaimana aja gue menyatakan perasaan gue nantinya. Yang jelas, rasa kangen gue, rasa penasaran gue, dan rasa sayang gue seperti terbalas dengan balasan ciuman yang sangat hangat dengan Emi ini. Ini adalah kali pertama gue berciuman dengan Emi.

Gue memang pernah merasakan ciuman pertama dengan mantan-mantan. Tapi nggak ada yang sedalam dan seunik ini rasanya. Bukan rasa fisik, tapi rasa hati yang ingin diberi tahu sebuah jawaban. Rasa hati yang ingin mengetahui apakah balasan yang harusnya pantas gue dapatkan dari seorang Emi. Rasa hati yang ingin terbalas oleh perasaan sayang yang sama dari seorang Emi.

Kami saling berciuman dengan perasaan. Lidah sudah mulai terlibat dalam permainan. Bentuk ciuman french kiss seperti ini yang biasanya bisa meyakinkan pasangan kalau akan ada hubungan serius diantara dua individu. Setidaknya itu pendapat gue. mungkin kalau orang yang biasa ONS (One Night Stand), nggak akan berasa dan berarti apa-apa, tapi bagi gue, segila-gilanya gue bersama beberapa orang cewek, melakukan french kiss, mean something big to me.

Gue melakukannya dengan penuh perasaan. Perasaan gue seperti tercurah maksimal malam itu. Sepertinya Emi juga memiliki perasaan yang sama dengan gue malam itu. Selama beberapa lama kami melakukan ciuman. Sebelum semuanya akhirnya berakhir dengan tak terduga.

“Dek, jangan mesum di Kampus. Udah malem. Ayo pulang!” kata seseorang yang mengetuk kaca mobil gue.

“SATPAM BANGS*T!” kata gue tanpa membuka kaca.

Inilah yang dinamakan kentang. Bajingan banget udah. Orang lagi menikmati kerinduan dengan mewakilinya melalui sebuah ciuman pertama yang sangat hangat, eh malah diganggu sama keberadaan satpam. Emang sih salahnya kenapa pake ciuman diparkiran kampus. padahal di kostan kan juga bisa. Inilah yang namanya kebawa suasana kali ya. hehe. Gue melajukan mobil menuju keluar dari lingkungan kampus menuju ke kota.

Ternyata perjalanan menuju ke kota nggak semulus prediksi. Udah malam malah ternyata macet parah. Selama perjalanan gue nggak berhenti untuk mengumpat dan memaki.

“Makanya jangan bloon dan nggak praktis lagi. Kalo begini kan mendingan naik angkutan umum, kamu nggak capek tenaga sama bensin. Kalopun mau bawa kendaraan ya bawa motor aja. Kita udah kenyang kali di Mcd dari tadi kalo naik motor.” Kata Emi.

“Biasanya gue kalo lagi maki-maki di mobil, pasti dimarahin cewek gue dulu pas jalan. Dia yang maksa gue buat bawa mobil. Tapi giliran gue maki-maki orang karena kelakuan orang di jalanan yang nggak bener kayak gue barusan gini, protes. Macet protes. Bener-bener dah. Giliran si bangs*t ini, ngeliat gue ngomong kasar malah ketawa cekikikan. Sumpah, absurd banget lo, Mi!” kata gue sambil mengelus kepalanya.

“Soalnya lucu banget lo ngamuk begitu karena kebodohan lo sendiri. Kenapa? Biar gaya-gayaan terus bikin gue klepek-klepek sama lo karena lo bawa mobil? Gue nggak serendah itu, Zy. Mobil juga palingan mobil bapak lo bukan? Apa yang mesti dibanggain?”

“Mi, gue cipok lagi yak abis ini?”

“GUE PIJIT JUGA TIT*T LO NIH! CIPAK CIPOK BAE! TADI CRAT CROT, SEKARANG CIPAK CIPOK! SANGEAN BANGET SIA TEH!” katanya.

Gue dan Emi hampir sampai dikedai fastfood McD. Kami harus belok ke kiri dulu sebelum sampai ditujuan karena pintu masuk ada disisi sebelah kiri bangunan (posisi bangunan adalah hoek, diantara dua jalan, persis diperempatan). Gue bahkan dari sebelum perempatan sudah memperingatkan yang dibelakang dengan menyalakan lampu sein tanda akan belok ke kiri.

Seperti umumnya (walaupun tidak semuanya ya) para pengguna jalan di Indonesia ini menganggap kalau jalan raya itu seperti jalan komplek yang nggak banyak aturannya. Menyalip dari kiri itu diharamkan di Indonesia. Tapi pada kenyataannya, banyak sekali pengendara yang sengaja menyalip dari kiri yang efeknya bisa sangat membahayakan diri sendiri, bahkan orang lain.

Hobi melanggar seperti sudah jadi kebiasaan terutama dikota-kota besar yang identik dengan macet. Melanggar selalu aja ada alasan ngelesnya. Entah buru-buru, atau emang gobl*k beneran tapi nggak ngaku. Perilaku warga negara macam inilah salah satu cikal bakal kemunduran sebuah negara dalam pembangunan sumber daya manusianya. Dari rakyat bawah sampai pejabat-pejabat pemangku kepentingan sama-sama suka ngelanggar. Etika dan aturan yang ditetapkan seperti retorika doang kalau di negara ini.

Pelanggaran terhadap segala macam aturan, walaupun itu dijalan raya sekalipun, tetap lah salah. tapi selalu ada celah untuk dicari pembenarannya. Wajar jadinya ketika jadi orang besar, jiwa-jiwa bengis koruptornya udah tertanam sedari dulu. Korupsi kecil-kecilan dalam bentuk pelanggaran lalu lintas aja dianggap wajar, jadi ya wajar pula kalau korupsi besar-besaran di negeri ini nggak pernah benar-benar tuntas. Itu semua kembali kepada mental yang harusnya benar-benar di revolusi. Tapi, sampai dewasa ini, revolusi mental cuma angan-angan yang tertulis hitam diatas putih pada secarik kertas kontrak politik para pejabat.

Penanganan masalah yang tidak holistik dan terkesan tebang pilih selalu jadi biang keladi yang sangat tak kasat mata. Penegakan hukum yang selalu memihak para petinggi atau pejabat serta orang yang duitnya banyak menjadi biang keladi kerusakan mental secara menyeluruh pada masyarakat +62. Rakyat kecil nggak terima, akhirnya mereka ngapain ikut aturan toh mereka kan juga meniru para pejabat atau orang besar dinegeri ini yang ketika melanggar seperti nggak ada tindakan tegas dari pemangku kepentingan.

Istilah gampangnya, ‘ngapain gue ikut aturan kalau ujung-ujungnya aturan itu dilanggar sama yang buatnya sendiri?’ Gitu kata rakyat kecil. Mental seperti ini dipupuk sampai ketika mereka jadi orang besar. Banyak juga yang berpikiran waras sebenernya, tapi lebih banyak yang kacau, sehingga banyak muncul istilah yang waras ngalah, karena malas berpolemik. Udah deh jadinya pelanggaran demi pelanggaran seperti sesuatu yang lumrah terjadi. Ujungnya cuma gampang aja ngomongnya, “namanya juga di Indonesia.” T*i!.

Emi sudah menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan tangannya, tanda minta jalan, karena sepertinya lampu sein mobil gue nggak bisa berfungsi dengan baik untuk menandakan mobil gue yang akan berbelok ke kiri. Gue sudah memelankan mobil dan sudah hampir setengah bodi mobil berbelok. Tapi apa yang terjadi?

Tangan Emi yang keluar tadi ditabrak oleh salah satu pemotor. Pemotor itu pun akhirnya nabrak spion mobil gue yang sebelah kiri. Tapi dia tetap melajukan motornya tanpa merasa bersalah sama sekali.

“WOY BANGS*T! TANGAN GUE SEGEDE GINI MASIH LO TABRAK JUGA? BUTA WARNA LO NGGAK BISA LIAT LAMPU SEIN SINI NYALA? ANJ*NG!” teriak Emi spontan.

“WOY ANJ*NG!” gue ikut berteriak.

“Astagfirulloh. Kasar banget.” kata seseorang yang kebetulan ada di samping mobil gue, ini si manusia bangs*t kelakuannya juga sama tadinya mau nyalip dari kiri, tapi kayaknya kaget lalu nggak jadi setelah mendengar gue dan Emi sama-sama maki-maki.

“Kenapa, Mbak? Kaget? Tapi masih juga usaha nyalip dari kiri. Udah liat tangan saya sama lampu sein ini? Ayo jalan.”

Mbak-mbak brainless yang ada di motor itu cuman terdiam dengan muka bete ke arah Emi. Motor-motor yang lain pun ikut melototin kami dan klaksonin kami.

Mbak di motor tadi mendadak kasih tanda ‘FUCK YOU’ dengan kedua jari tengah dia.

“LOVE YOU TOO, MBAK!” Emi berteriak sebelum tepat mobil gue masuk ke parkiran.

Gue dan Emi sama-sama ketawa melihat tingkah orang-orang ini. Miris banget, udah salah, tapi ngotot. Hahaha. Bikin negara nggak maju aja. harusnya orang-orang model begini dibuang aja ke Greenland ya, biar tau gimana caranya jadi makhluk sosial yang baik. Greenland kan nggak berpenghuni, nah kalau dia nggak bisa bersosialisasi dan hidup suka-sukanya kayak gitu, sekalian aja nggak usah dibantuin kan hidupnya. Buang aja ke pulau tanpa penghuni. Bentar juga mati. Lumayan kan ngurangin populasi orang gobl*k (mentalnya) didunia.

“Makasih udah ikutan ngebelain yak. Biasanya cewek-cewek lain malah sibuk bilang ‘sabar’ ke gue tapi gue yang susah sendiri. Lo nanti liat body mobil gue di samping kanan kiri depan belakang semuanya kena baret motor atau mobil nggak bertanggungjawab kayak tadi, pada ngaco jalannya dan nggak nurutin aturan.

Gue juga ada di sisi pemotor kok karena gue juga suka naik motor, tapi karena mungkin gue lebih dulu bisa mengendarai mobil daripada motor, gue jadi lebih santun dan taat aturan dalam mengendarai motor. Itu juga karena gue tau apa yang dirasakan pengendara mobil ketika para pemotor ini pada suka-sukanya aja dijalan.” Kata gue.

“Nanti kalo misalnya si motor nabrak kita, kita pasti auto salah.”

Gue dan Emi mengucap kalimat ini barengan, lagi. Entah udah berapa kali nih kayak gini kejadiannya.

“Ih sayang banget sumpah gue sama lo. Chemistry nya ada nggak udah-udah ini. Please cipok lagi yaaa. Gue udah nggak tahan banget nih.” Kata gue sambil meledek Emi.

“COLI KALO GA TAHAN! BURU BUKA PINTU!” katanya membentak.

“Hahaha. Becanda, Mi. Demen banget gue godain lo.”

Gue akhirnya turun bersama dengan Emi kemudian memesan makanan. Makanan kami makan dengan lahap dan cepat karena emang Emi mau berangkat penelitian dan udah ditunggu teman-temannya. Gue dan Emi makan sambil sesekali ngomongin orang disekitar kami, dan pasti ujung-ujungnya ngata-ngatain. Kayaknya kegiatan ini bakal jadi kebiasaan kami kedepannya. Haha.

“Zy, Gue nggak mau semua ini berakhir.” Bisik Emi tiba-tiba.

Ha? Gue salah dengar apa gimana ini?

“Apaan yang berakhir?” kata gue.

Dia nggak membalas dan langsung pergi ke washtafel. Setelahnya gue mengantar dia langsung kerumah Pak Adam dosen pembimbingnya yang rumahnya nggak jauh dari McD situ. Dekat rumah Pak Adam ini, terlihat beberapa orang teman Emi yang gue nggak kenal, selain itu juga gue melihat ada Teguh yang ikut berangkat untuk menemani Tim penelitian Emi. Sebagai asisten dari Pak Adam kayaknya sih.
Sebelum turun, gue menyempatkan diri untuk memeluk dia, dan menciumnya sedikit.

“Gue bakal kangen Mi.”

“Kangen cipokan sama gue?”

“Semuanya. Kangen wangi parfum bocah lo. Kangen ngomong kasar sama lo. Kangen becandain lo. Kangen ribut sama lo. Kangen dengerin lagu sama lo. Kangen ngomongin orang bareng lo. Kangen makan banyak sama lo. Semuanya pokoknya.”

“Yaelah, gue cuman tiga hari di lapang. Weekend bisa kita main bareng Bang Benu kan. Biar rame.”

“Benu? Gue mau kita berduaan doang Mi. Please jangan bilang kalo lu masih belum ada perasaan ke gue.”

“Zy, gue pernah begini kok. Istilahnya teman tapi mesra lah. Dan gue rasa, kita lebih baik begitu daripada pacaran. Kembali ke mantan lu aja ya, Zy.”

Disitu gue shock. Nggak nyangka aja si Emi malah bilang begini. Terus makna ciuman pakai hati tadi apa? Terus yang dia bilang nggak mau berakhir tadi di McD apaan? Gue makin bingung dan menahan emosi. Jadinya gue diam aja.

Gue yang udah kepalang emosi karena berasa sakit banget dapat jawaban kayak gitu, langsung aja ninggalin dia pas dia udah turun dari mobil gue. nggak banyak kata-kata yang gue ucapin. Gue cuma males aja kena sakit hati kayak gini lagi. Apalagi ini yang nyebabin bukan dari urusan kami berdua. Faktor eksternal yang jadi penyebab semuanya. Kalau gue dan Emi praktis nggak ada masalah apapun. Tapi masalahnya datang dari luar. Banyak yang kayaknya mau ikut campur urusan gue dan Emi habis ini.

Gue jadi bingung waktu itu, kenapa pada mau banget ngurusin hubungan gue dan Emi. Okelah Emi emang disayang banyak teman-temannya dan nggak mau dia terluka, tapi apa iya gue nggak boleh ngejar Emi? Emang teman-temannya ini tau apa soal gue dan latar belakang gue? kenal aja nggak. Udah mau menuduh macam-macam. Tapi gue biarin aja dulu. Gue akan lihat pergerakan mereka kayak apa. Kalau rese terus, gue abisin sekalian semuanya. Mau cowok, mau cewek, nggak ada cerita. Gue bantai aja sekalian semuanya ntar. Bangs*t.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
lenduy dan 29 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Quote:


Buset hahaha..itu tergantung martin yang ngelola pabriknya
profile-picture
bryan10herera memberi reputasi
Quote:


Haha ga sih sis..malah ini lebih santai daripada season2 sebelumnya.. udah nemu enaknya gaya nulis gue soalnya. Hehe.

Kalo masalah jaga perasaan juga kayanya nggak sih. Ya ngalir aja wkwkwk..
profile-picture
IzyMom020 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Wahahhaa ati2 begosip sama salah satu subes dimari..bener kata martin tuh, di sembur bisa langsung miskin ente semua wkwkwkwk
profile-picture
profile-picture
laynard22 dan DanyMartadinata memberi reputasi
Balasan post yanagi92055
Siippp dachh...ditunggu kelanjutannya.emoticon-Jempol
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
Quote:

Akhirnya Rock.. eh Bang Ija murka jugaemoticon-Takut (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
laynard22 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Haha dee kenapa gan?
Quote:


Haha iya kadang mesti diselipin gitu sih wkwkwk
Quote:


Haha ga tau sih kalo harga2nya..dia ga ngubah namanya gan, sama kok
Quote:


Haha siap gan, silakan udah ada updatean terbaru
Quote:


Quote:


Haha ya begitulah, ada aja yang ngalangin buat orang lain seneng wkwk
profile-picture
kaduruk memberi reputasi
Quote:


Haha iya gan makasih
Quote:


Haha ya kebetulan aja kan emang pengalamannya sama ini
Quote:


Hahaa ini pengalaman mayan gokil yang sama emi tin..wkwkwk..

Ntar jawabannya ada di next2 update
profile-picture
dayray memberi reputasi
Quote:


Quote:


Quote:


Betul tin, emi langka selangka2nya orang udah itu mah wkwkwk.

Suhu tom kan klo urusan perstensilan pasti ngamatin detail wkwkwkwk
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Haha, ane juga cape juga direcokin gitu sebenernya. Cuma karena ane laki jadi ga ambil pusing wkwkkw..

Wahaha mantap..makasih gan udah baca2..lanjutan udah ada tuh barusan
Halaman 31 dari 115


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di