CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)

Post-mortem Love (21++)


π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘸𝘦𝘯𝘡 𝘸𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘯π˜₯ 𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘀𝘰𝘢𝘭π˜₯ 𝘣𝘦 π˜₯𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘡𝘡𝘦𝘳

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«









profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
1


Gue minum kopi kebanyakan, dan sekarang gue melihat tubuh gue sendiri didalam peti mati. Ternyata ada yang namanya overdosis kafein, dan gue masih bisa merasakan pahitnya kopi di tenggorokan. Gue tentu pernah mendengar, bahwa pendengaran adalah panca indera terakhir yang pergi meninggalkan otak yang telah mati. Sungguh mengecewakan ternyata kata-kata terakhir yang gue dengar berasal dari orang yang sama sekali gue nggak kenal.

β€œβ€”kasihan dia masih 24 tapi mati muda, mulai besok kamu aku kurangin jatah ngopinya!”

Gue bahkan nggak sesuka itu dengan kopi.

3 Juni 1994 – 5 Mei 2018. Betapa pendeknya umur seorang Joshua Rizkinaldi.

Agak aneh dan canggung sebenarnya, menghadiri pemakaman diri sendiri. Dan menariknya, sekalipun gue bukan siapa-siapa, ternyata masih ada orang yang benar-benar tertarik untuk berada disini, menangisi ketiadaan gue, dengan memakai baju warna hitam yang paling elegan yang mereka punya. Padahal gue sendiri nggak melakukan apapun yang berdampak signifikan di dalam hidup mereka, tapi tetap saja tetes demi tetes air mata itu mengalir dari sudut mata. Mungkin mereka menangisi ekspetasi mereka terhadap gue yang nggak kesampaian.

Akhirnya.

Ternyata meninggal itu memang menyenangkan. Gue menunggu kesempatan ini sudah terlalu lama.

Dan ternyata gue nggak bisa melayang. Gue berjalan dengan baju yang gue pakai terakhir disaat semaput, menuju bangku lipat Chitose jelek, menunggu sesuatu terjadi entah apapun itu. Gue selalu fleksibel, gue nggak akan sedih kalau ditendang ke Neraka, dan juga nggak akan lega kalau di taruh di Surga. Jika ternyata dua-duanya sama sekali non-existent, maka gue akan tahu jawabannya. Tapi sekarang ini, gue sama butanya dengan manusia yang masih hidup.

Bahkan disaat gue mati, gue masih nggak tahu apa-apa soal kematian.

Saat punggung gue menembus sandaran punggung bangku Chitose, tahu-tahu gue terjatuh di dapur yang mengepul aroma cabai. Panik, gue berusaha jalan merangkak menembus tembok. Siapa tahu gue kembali lagi ke sepetak tanah dimana β€˜gue’ ditakdirkan untuk membusuk selamanya. Seseorangβ€”entah itu malaikat atau setan sedang menunggu gue disana! Tapi justru badan gue menembus ke kamar serba warna putih yang rapi, lalu ganti menembus ke kamar mandi yang habis di sikat lantainya dengan Portex. Gue kembali menembus tembok dan berdiri di belakang seseorang cewek yang sedang memasak. Mata gue melihat ke segala penjuru ruangan dengan perasaan waswas. Di meja makan terdapat tujuh kotak tupperware yang terbuka dan sudah terisi lauk. Gue melihat salmon, nasi putih dengan serbuk seaweed yang masih mengeluarkan panas. β€œOh, dia sedang bikin meal prep untuk seminggu.” Pikir gue seterusnya. β€œOke, terus kenapa gue bisa berada disini?”

Penasaran, gue berjalan ke samping cewek yang memunggungi gue untuk melihat wajahnya. Tapi gue sudah tahu siapa dia. Semua ini terlalu tipikal. Tentu saja, dia adalah cewek yang selalu gue takutkan adalah jodoh yang terlewat.

Dan dia bernama Leila.

Setengah berharap, Leila tetiba bisa melihat hantu lalu β€˜kaget’ dan mendadak menangisi kematian gue. Tapi dia terus memasak, sedikit-sedikit mengecek rasa dan menambah boncabe level 30 ke sayap ayam yang sudah berwarna cokelat kental. Melihat tumpukan bumbu boncabe yang ditumpahkan dari toples plastik kecil itu menggelitik hemmoroid gue yang seukuran leunca. Gue sudah 24 jam mati, tapi gue bisa merasakan asam lambung yang melambung naik membuat maag akut gue kambuh lewat aroma pedas yang mengumpul di ruangan.

Tapi setelah gue berhenti untuk bersikap dramatik, perasaan mual itu hilang dengan sendirinya.

Gue merosot duduk berjongkok didekat kaki Leila. Kedua mata terpejam, sementara suara kompor yang menyala dan gesekan sumpit kayu panjang di wok berbahan besi baja berukuran medium, membuat segala sesuatunya membingungkan dan menyakitkan disaat yang sama.

Jika saja gue mempertahankan Leila, mungkin kata-kata terakhir yang gue dengar berasal dari pita suaranya.

Apapun yang dia katakan, jauh lebih berarti daripada perkataan Emak-emak yang ketakutan suaminya mati keracunan kafein.

Dan sekarang gue penasaran, apa yang bakalan dia katakan kalau memang dia tahu gue meninggal?

β€œ Sampai kapan lo mau duduk disitu? Disitu kan jorok, karena deket tempat sampah. β€œ

Mata gue terbelalak, dan gue mendongak menatapnya. Dia mematikan kompor, hanya untuk berdiri sambil melipat kedua tangannya menghadap gue.

Lalu semuanya menjadi jelas. Oh, betapa tipikal nya semua ini. Fase berikutnya nggak akan terbuka didepan gue, kalau gue belum menyesali kehidupan gue berakhir dengan sia-sia. Seseorang menjebak gue dengan membuat gue terlempar kesini, menghadapi jodoh yang gue lewatkan. Seseorang ingin menenggelamkan gue ke dalam lautan penuh penyesalan.

β€œ Leila. β€œ kata gue setelah lama bingung mau berkata apa. Tapi lalu gue tersenyum, detik berikutnya bilang. β€œ Ternyata lo yang menang, gue memang nggak bisa β€˜hidup’ tanpa lo. β€œ

*
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan indrag057 memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi

9

9

Setelah PORSENI resmi diakhiri dengan panggung rental mulai dilepaskan satu-persatu dan diangkat ke atas truk Hino. Gue berdiri dalam kerumunan teman satu kelas sementara mata gue kebiasaan mencari-cari Leila. Kata Gian, Leila langsung cabut balik ke rumah sementara murid-murid lain menyusul pergi meninggalkan Sekolah yang udah mulai gelap dan bertebaran nyamuk kebon. Berapa kali dengan tepukan tangan yang tepat sasaran, sudah memakan korban? Ada mungkin sepuluh nyawa melayang di telapak tangan gue, dan ya gue sedetil itu, dan nggak sabar ingin segera pulang juga.

Tapi setiap kali gue beranjak mundur perlahan-lahan dari lingkaran manusia. Adit menusuk ujung stick drumnya ke arah pipi gue sambil merocos, β€œHabis ini kita mau ngumpul di Rumahnya Nabil”.

β€œAda acara apaan?” tanya gue gelisah.

β€œ Terus aja bengong kayak gini terus, kalau nggak bentar lagi kerasukan jin.” Jawab Adit terkekeh. β€œDitraktir pizza Ama McDonald, soalnya dia emang ulang tahun”

Gue gak mau ikut ke acara gak jelas begitu karena gue kesel juga sama Nabil. Dia dan gue selalu berkompetisi secara sadar gak sadar di berbagai Hal. Bahkan sampai tua pun, beberapa kali nyadar bahwa hobbynya gue dan dia sering sama, berusaha friendly. Tapi gue tahu banget si bajingan ini selalu ngikutin gaya gue. Sudah berapa kali gue harus puasa makan enak cuman untuk membeli barang yang setingkat lebih tinggi daripada barang Nabil?

Tapi ketika gue mau mentah-mentah menolak ajakan sesat, seketika yang keluar dari mulut berbeda. β€œOke gue ikut kalau ternyata ditraktir. β€œ

Mata Adit bahkan membelalak kaget mendengar ucapan gue. Gue sampai nggak tahu ternyata cowok baik yang gak lain kerjaannya baca koran dan ngerokok itu, bisa mengontrol gue dari jauh.

β€œ Harus ikut β€œ perintahnya tegas, mengganggu belakang telinga gue. Mata gue langsung bertemu sebentar dengan Nabil, Nabil bahkan langsung berjalan menghampiri Adit dan gue dengan tangan yang mengulurkan ke arah leher gue sebelum dia narik merangkul gue.

β€œ kalian ikut kan? Kalau takut pulang kemalaman, nginep aja sekalian! Besok libur ini. β€œ katanya riang sambil kepalanya ganti menatap Adit dan Gue secara bergantian.

Tapi yang Nabil gak sadari, karena tangannya merangkul leher gue. Seketika itu gue meresap masuk ke dalam badan gue.
Sekilas, gue melihat Nabil yang sudah dewasa, pakai baju hitam dengan celana chino selutut dengan warna yang sama. Sementara dia berdiri dekat dengan pemakaman gue, tapi Cuma mengamati gue yang udah membeku dengan air mata yang meleleh. Nabil menangis sambil ingusnya keluar sementara Adit nahanin badan Nabil yang gemetar.

Nabil melepaskan leher gue sehingga gue terlepas dari isi kepalanya. Gue sekarang langsung serta-merta merasa bersalah. Jantung gue yang berdetak tapi dentumannya mengirimkan sinyal perasaan ngilu ke sekujur tubuh.

Adit melihat gue yang diam dan sedikit pucat, langsung menunjuk ke arah gue sambil ngomong. β€œ Tuh si Joshu detik-detik menuju kerasukan jin. Pucet banget. Yuk buruan pergi ke rumah lo, Bil! β€œ

Nabil sekarang mengecek muka bersalah gue dengan tatapan mata serius dan memperhatikan gue ke seluruh tubuh. β€œ Aduh udah mana gue lupa lagi ayatnya buat ngusir jin”.

Adit menimpali, β€œ Eh tanya dulu jin nya agamanya apaan? Ntar dibacain ayat Alquran kagak mempan, maunya diusir pake Alkitab” lalu dia terkekeh.

β€œ Wow, mulut Lo emang suka gak disaring dulu. β€œ Akhirnya gue membuka mulut sambil kepala gue ganti menoleh ke Nabil. β€œ Iya bil, nanti minta ijinin emak gue buat bisa nginep ya”

Sekilat ekspresi Nabil seneng banget, tapi karena mukanya emang harus gue akui, cowok ganteng yang dingin, sehingga dia balik lagi dengan muka lempeng. Tapi senyuman itu mencapai matanya, sehingga semakin bertubi-tubi perasaan bersalah gue.

*



profile-picture
profile-picture
profile-picture
chanry dan 3 lainnya memberi reputasi
5

Gue melihat Leila dan langsung tahu, bahwa hari ini adalah hari dimana Gian bilang bahwa gue harus gerak cepat. Gue harus nembak dia sebelum segala sesuatunya terlambat. Doa pagi di ruang perkumpulan anak kristiani mendoakan acara PORSENI untuk lancar sampai hari ketiga, dan sedikit-banyaknya mendesak setiap kepala yang bosan setengah mati di ruangan itu, untuk menjadi juara, apapun perlombaannya supaya bikin Guru-guru bangga. Karena pernah mengalami hal ini sebelumnya, gue bisa menebak setiap kata yang keluar dari mulut mereka tanpa perlu mencoba.

Membuat hati gue sedikit pedih, β€œ Kalian masih hidup, kecuali gue. Tapi gue sekarang disini lagi sama kalian. Sekalipun kalian, teknisnya, nggak disini lagi bersama gue. β€œ

Perasaan ini persis seperti menonton film yang dulu sekali ditonton, perasaan senang sekaligus membangkitkan perasaan nostalgik membuat kepala penuh dengan emosi euphoria yang sedikit bikin depresi.

Gue duduk di tempat khusus kelas gue, kelas orang pintar, kenyataan yang selalu membuat harga diri gue melonjak tinggi. Selain itu bangku yang gue duduki sekarang, memberikan akses gue untuk melihat ke arah Leila tanpa ketahuan. Doa pagi sudah selesai, tapi Leila nggak beranjak pergi melainkan duduk di bangku favoritnya dengan kepala menyandar di kusen jendela dengan kedua tangannya yang terlipat didepan dada. Gian disampingnya juga sedang main handphone sementara sesekali menunjukan sesuatu ke Leila dan lalu kepala Leila merosot ke pundak Gian, dengan mata tertuju ke handphone Gian.

Makin kesini, gue semakin percaya bahwa hubungan mereka nggak mungkin cuman sekedar temenan aja. Gian terkadang menatap Leila dengan tatapan sayang, dan sama sekali nggak risih dengan kontak fisik. Kadang Leila merangkul bahu Gian, dan sebaliknya juga. Pernah sekali, gue cemburu setengah mati disaat gue memergoki Gian mengacak-acak rambut Leila yang panjang sebahu.

Dan kini, entah kenapa Leila menatap ke arah gue–memergoki gue yang jelas-jelas mengamati mereka lima menit belakangan. Leila menarik kepalanya dari bahu Gian, yang membuat Gian menatap ke arah gue secara natural. Bibir Gian langsung tersenyum ke arah gue sementara Leila buang muka sambil mengikat rambutnya ke belakang.

Leila selalu milik orang lain, sekalipun nantinya gue sempat memiliki dia, pada akhirnya dia memilih orang lain.

Kenyataan pahit itu nggak mengubah rasa ketertarikan yang mengakar begitu kuat menjadi hilang begitu saja. Bahkan sampai detik ini, dia masih membuat gue terbakar api cemburu.

Lalu jam menunjukan pukul Sepuluh pagi, dan PORSENI hari pertama resmi dimulai. Leila bangkit berdiri mengikuti Gian di belakangnya, bahkan sampai mengalungkan lengannya Gian segala dengan tangannya.

Satu hal yang pasti, bahkan dalam ambang kematian, hati yang dibakar api cemburu tetap saja menyebalkan.

*

Tiba saatnya untuk Gian mengatakan, dan gue melihat gerakan bibirnya dengan seksama. β€œ Kalau elo beneran suka sama Leila, Cuma ini saatnya lo nembak dia. β€œ

Gue menatap Gian, perasaan yang dulu gue rasakan, perasaan dimana gue merasa akhirnya ada secercah harapan untuk memiliki Leila, tetap saja muncul. Tak ada bedanya. Tapi, kali ini gue berkata. β€œ Kenapa bukan elo yang nembak dia? β€œ

β€œ Huh? β€œ Gian pura-pura bingung, tapi jelas dia mengerti maksud gue dengan terang-terangan. β€œ Kan elo yang suka dia, kenapa gue yang jadi nembak dia? β€œ Kata Gian sambil mengelak.

β€œ Elo nggak suka Leila? β€œ gue langsung menembak begitu saja. β€œ Lo deket banget lagi ama dia, tinggal statusnya aja yang nggak jelas. Kenapa lo nggak nembak dia? β€œ

β€œ Bedanya gue ama elo. β€œ Gian menyambar kartu poker dan mulai mengocoknya. β€œ Gue tahu mana orang yang bener-bener enak buat diajak pacaran dan mana yang Cuma enak buat jadi temenan doang. β€œ

Gue kehabisan kata-kata. Gian benar. Beberapa dari cinta gue selalu berakhir gue temenan sama mantan gue, dengan satu pengecualian si Leila itu. Dan lagi, gue selalu merasa Gian jauh lebih dewasa daripada umurnya. Yang membuat gue selalu inferior disamping dia, kalau bukan karena Leila, gue nggak bakalan mau repot-repot deketin bocah sotoy yang satu ini.

Tapi kemudian Gian berkata, β€œ Gue yang bantuin, gue bakalan suruh dia ketemu lo supaya lo bisa nembak dia disaat itu juga. β€œ

β€œ Gue nggak perlu beli bunga atau cokelat gitu? β€œ Kata gue, berusaha memperbaiki β€˜penembakan’ gue yang dulu cuman gue berdiri, berharap yang terbaik sambil ngomong β€˜Gue suka sama lo, mau nggak jadi pacar gue?’ dengan tangan yang tremor, sedikit gemetar.

β€œ Leila nggak suka bunga tapi dia emang suka cokelat. β€œ Kata Gian memberi tahu, β€œ Cuman emang lo ada duitnya buat beli cokelat? Karena waktunya bener-bener nggak ada kecuali hari ini. β€œ

Gue meraba kantong celana seragam gue. Kosong. Nihil. Nada.

β€œ Emang kenapa harus hari ini sih? β€œ tanya gue, murni benar-benar penasaran. β€œ Kenapa nggak boleh lusa atau tahun depan? Kenapa harus hari ini juga? β€œ

β€œ Karena Leila bilang kalau hari ini, anak kelas 8-7 mau nembak dia juga. β€œ

Oh. Semua jadi jelas. Leila nerima gue nantinya hanya karena gue nembaknya paling duluan ketimbang Kakak kelas 8-7. Siapa cepat dia yang dapat.

β€œ Oke, kalau gitu minta petunjuknya Suhu Yo. β€œ Kata gue, setengah bercanda sambil mengatupkan kedua tangan didepan muka sementara badan gue membungkuk setengah untuk memberi hormat.

*


Gian bertemu lagi dengan gue di ujung lorong di sayap gedung bagian kiri setelah gue menyelesaikan kuis Cerdas Cermat. Gian menunjukan bbm nya dengan Leila dan lalu menginstruksikan gue untuk duduk disini, di atas meja yang kosong yang gunanya hanya untuk menulis kertas izin untuk pulang lebih awal dan menyerahkannya ke Pos Satpam Sekolah. Tangan gue langsung dingin, lemas di samping tubuh gue sementara gue setengah melamun. Gue membayangkan waktu-waktu bahagia yang gue jalani sewaktu macarin Leila, berusaha membangkitkan rasa percaya diri bahwa dulupun, gue berhasil mendapatkan dia. Kali ini, jawabannya juga pasti sama.

Tapi kegugupan itu tidak menghiraukan hal tersebut, dan tangan gue mulai berkeringat. Gue menggosokan tangan berkeringat itu ke paha gue dan mulai mengulang-ulang kalimat yang akan gue ucapkan nantinya.

Tentu saja, disaat gue mempersiapkan mental untuk nggak gagap, orangnya sudah didekat gue, menuruni tangga dari lantai tiga dan menghampiri gue. Gue mendongakan kepala dan berusaha tersenyum, lalu buru-buru meraih tangannya dan berkata secepat mungkin. β€œ Gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue lagi? β€œ

Setelah mendengar kata-kata yang barusan keluar dari mulut secara seksama, gue langsung mengulang lagi. β€œ Maksud gue, lo mau nggak jadi pacar gue? β€œ

Leila menatap gue sambil tersenyum, nyaris ketawa sebenarnya. Tapi tentu saja, dia menghendikan bahu dan berkata. β€œ Jawabannya nggak sekarang ya? β€œ Lalu dia menarik tangannya dari tangan gue dan melambaikan tangan. β€œ Dah ya, gue jajan dulu. β€œ

Dalam hati, gue langsung menggerutu. Dasar bocah, otaknya jajan mulu. Tapi melihat bagian belakang kepalanya Leila membuat gue teramat-sangat bahagia. Sekalipun, gue tahu bahwa kehidupan yang kali ini sudah amat-sangat berakhir. Tapi merasakan kenangan yang paling kuat untuk kedua kalinya, adalah salah satu alasan kenapa gue β€˜senang’ untuk meninggal terlalu cepat.

*
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
4


Leila menyandarkan kepalanya disamping gue. Tangan kita bergandengan sementara dia sesekali menarik punggung tangan gue, untuk mengecup setiap ruas jari, lalu menatap gue dari sudut mata sambil tersenyum.

Gue membuka mata dan melihat punggung tangan gue sendiri. Sama sekali berbeda dengan apa yang tadi dicium Leila. Karena memang bukan tangan gue, dan perasaan itu membelilit tenggorokan gue.

Mata gue terpejam erat, sementara lautan memori itu menarik kesadaran gue sampai ke dasar yang paling dalam. Rasa mual itu kembali mencekik, sampai pada akhirnya seseorang mencengkeram pergelangan tangan gue dan menarik badan gue jalan bersamanya.

Tertatih-tatih sementara kesadaran itu datang secara perlahan. Walaupun pandangan gue kabur, gue melihat sedang berdiri di dalam lift semula.

Lautan memori Virdi yang memiliki emosi terkuat, entah itu kebencian atau cinta yang meluap-luap, tersedot keluar dari setiap pori-pori kulit. Setiap hempasan ombak masa lalu itu menceritakan apa yang bisa diteriakan, tapi tidak sesakit seperti kenangan yang melibatkan Leila sebelumnya, sehingga kepala gue berhenti meneriakan kata sakit ke setiap jaringan nadi di tubuh. Pandangan mata gue yang semula buram, kini mulai menajam. Dan mata gue menatap tepat kepada mata laki-laki yang menguarkan aroma kayu oak. Seakan-akan dia adalah pencetus kehidupan itu sendiri.

β€œ Gimana? Seru nggak? β€œ tanyanya dengan nada mengejek. Dia menyalakan rokok di ujung bibirnya dengan api dari ujung ibu jari. Lalu mematikan api tersebut dengan menyelipkan ibu jarinya ke dalam genggaman tangannya sendiri.

Gue langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan keras, dan sekarang gue merosot duduk jongkok di lantai lift. Kepala gue bersandar di belakang lapisan dinding metal yang dingin. Kalau gue masih hidup, mungkin gue semakin panik karena perasaan angin duduk itu menekan rongga paru-paru. Sekali lagi, ketika gue memutuskan untuk berkonsentrasi menghindari perasaan dramatik. Seluruh kesakitan itu menghilang dari tubuh dan sekarang cuma keheranan yang tersisa disana.

β€œ Sebenarnya, nggak semua orang tahu kalau orang yang sudah mati bisa melihat memori orang yang masih hidup. β€œ Dia menghela napas sementara asap rokok itu keluar dari sudut bibirnya. β€œ Tapi karena memori yang lo barusan lihat adalah memori yang sama sekali nggak ada kaitannya dengan lo, makanya lo sakit. Tapi kalau sudah mati, rasa sakit itu menjadi dua kali lipat pedihnya. β€œ

β€œ Dan karena secara teknisnya 48 jam yang lalu lo masih menjadi manusia, nyawa lo masih terbelenggu dalam keterbatasan manusia sekalipun lo jelas-jelas mati. β€œ katanya lagi sambil menatap gue dari sudut mata, mengamati setiap detik gue menderita.

β€œ Kenapa? β€œ Tanya gue dengan suara parau. β€œ Apa tujuannya gue harus ketemu dia? β€œ

Laki-laki tersebut menghisap rokok dalam sekali hirup, dan lalu menaruh batang rokok yang masih menyala di dalam genggaman tangan kuat. Detik berikutnya batang rokok tersebut menghilang. β€œ Mungkin karena orang tersebut orang kedua yang terus-menerus memikirkan elo?”

Mulanya gue nggak percaya, tapi semuanya jadi jelas. Dimulai gue tertarik ke dalam rumah Leila, dan lalu ke Virdi. Dari waktu ke waktu, mereka suka memikirkan gue. Mungkin mereka β€˜memanggil’ gue dengan emosi mereka yang mengakar kuat, ketika gue bisa dipanggil kesana-sini hanya bermodalkan dengan perasaan tersebut.

Tapi tetap saja, Leila memikirkan gue dan dia adalah orang pertama yang memanggil gue. Sedikit-banyaknya, hal tersebut membuat gue bahagia.

β€œ Kalau begini caranya, gue nggak akan cepat-cepat pergi ke fase berikutnya dong? β€œ tanya gue bingung. β€œ Mau sampai kapan gue harus kayak begini? Ngunjungin orang-orang yang penasaran setengah-mati sama gue? β€œ

β€œ Waktu kita masih banyak. β€œ Laki-laki tersebut membuka satu kancing nomor dua dari kemejanya dan lalu menghela napas yang panjang. β€œ Tapi lo bener juga. β€œ Dia tersenyum simpatetik. β€œ Gimana kalau kita ganti suasana? β€œ

Gue mendongakan kepala untuk melihat ekspresi kaku yang tak terbaca, sementara telinga gue kembali merasakan pintu besi terbuka didepan gue.

Dia menjelaskan. β€œ Gimana kalau kita pergi ke masa lalu? β€œ

Sebelum gue mengeluarkan satu patah katapun, Badan gue terdorong keluar seakan-akan ada kedua tangan kasat mata yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengusir gue keluar dari dalam Lift.

Pintu besi di belakang gue menutup, dan sementara pintu kayu dicat biru telur asin didepan gue terbuka lebar. Mata gue langsung tertuju pada seseorang yang gue paling inginkan. Duduk diatas bangku dengan ekspresi bosan. Ketika orang itu menatap gue balik, serta-merta badan gue melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.

Kapan lagi gue bisa diberi kesempatan untuk menjadi anak laki-laki berusia 13 tahun? Untuk yang kedua kalinya?

*

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
3

Laki-laki itu menggerakan kepalanya menuju pintu lift yang terbuka. β€œ Nanti habis ini kita ketemu lagi. β€œ

β€œ Oke? β€œ gue jalan keluar lift dengan langkah nggak yakin. Pintu lift itu tertutup di belakang gue, dan gue melihat ke sekeliling ruangan pekat dengan aroma antiseptik. Disaat gue menoleh ke belakang, yang ada cuma pintu kayu geser sedikit tertutup yang membiarkan sinar matahari menerabas masuk.

Lift itu hilang, begitu pula laki-laki tersebut.

Sekali lagi, gue melihat bangku lipat Chitose yang kain kulit cokelatnya sudah sobek dengan busa kuning yang sudah dicongkel. Gue duduk disitu, menyilangkan kaki sambil melipat kedua tangan didepan dada, menunggu seseorang masuk ke dalam ruangan.

Pintu itu di geser dan mata gue langsung bertemu tatap dengan seorang cowok berambut panjang. Dia memakai baju pasien dengan muka pucat tetapi tatapan matanya tajam sekali. Gue bingung, sementara dia mengabaikan keberadaan gue dengan menggeret tiang infus bersamanya ke samping tempat tidur yang berantakan. Cowok tersebut duduk di samping tepi tempat tidur, menghela napas keras-keras dan baru menatap ke arah gue.

Gue menatap dia balik.

β€œ Lo kenapa masih disini? β€œ Katanya dengan suara parau. β€œ Sekarang neraka ada waiting list-nya? β€œ

Telinga gue berdiri dan gue langsung ganti gaya duduk. Badan gue duduk dengan tegap, menunggu sesuatu keluar dari mulutnya. Cowok itu mengedipkan mata sambil tersenyum tipis. β€œ Kenapa? Ada yang salah? β€œ

β€œ Lo yang kenapa? Kok tahu-tahu marah? β€œ tanya gue kesal, lalu bangkit berdiri berjalan menuju ke pintu geser. β€œ Gue juga nggak tahu kenapa gue disini, pasti gue salah tempat.”

β€œ Lo nggak salah tempat, gue kenal lo tapi lo nggak kenal gue. β€œ Katanya sambil membuka kotak permen dan mengambil satu butiran permen berwarna kuning ke dalam mulut. β€œTeknisnya, kita saudara. Tapi beda ibu. β€œ

β€œ Nggak mungkin. β€œ kata gue langsung cepat. Matanya menatap gue dengan tatapan kosong sementara mulutnya mengulum permen. Gue berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan memperhatikan mukanya.

Meski sedikit tapi gue bisa melihat sepasang mata dan alis yang Bapak gue miliki. Bahkan cowok ini mirip seperti Bapak ketika dia masih berumur 19 tahun. Sekalipun perangainya seperti anak punk, dan warna kulit yang jauh lebih pucat serta badan yang sepuluh kilo lebih kurus. Dia seperti cetakan Bapak gue waktu masih kuliah.

β€œ Hanya karena kesannya bokap lo setia, nggak berarti dia nggak tebar sperma sembarangan. β€œ Dia mengulurkan tangan menawarkan kotak permen yang tutupnya terbuka. β€œ Mau? Oh iya, lo kan udah mati. β€œ Telunjuknya langsung menutup tutup rapat kotak permen dan menaruhnya diatas kabinet besi berwarna putih.

Gue menatap dia dengan tatapan nggak percaya dan lalu mengabaikan sikap buruknya. β€œ Lo kenapa dirawat disini? β€œ

β€œ Karena gue sakit? β€œ Jawabnya sarkastik tapi gue masih nggak puas dengan itu sehingga dia mengibaskan tangan. β€œ Gue cuman tifus, nanti bentar lagi juga sembuh. β€œ

β€œ Oh, oke. β€œ Gue kembali duduk di atas bangku Chitose. β€œ Gue kira lo lebih parah sakitnya. β€œ

β€œ Huh, sekarang lo doain β€˜saudara’ lo sendiri untuk cepet mati? β€œ Dia sekarang tiduran menyelonjorkan kakinya di atas tempat tidur. β€œ Nggak suka ya kalau β€˜saudara’ lo dikasih nyawa lebih panjang daripada lo? β€œ

Gue nggak kuat dengan sikap sinisnya ke gue, sehingga gue bangkit berdiri dan menembus keluar pintu, hanya untuk melihat laki-laki yang didalam lift tadi sedang membaca koran di kursi depan lorong. Laki-laki tersebut menurunkan koran untuk menatap muka gue dan menggerakan kepalanya, menyuruh gue untuk kembali masuk.

β€œ No, jam kunjungnya belum habis. Balik lagi kesana kalau mau cepat-cepat lanjut ke tahap berikutnya. β€œ tangannya juga bergerak mengibas-ngibas keluar.

β€œ Nggak, β€œ Bantah gue. β€œ Gue nggak kenal dia, dan dia jelas-jelas nggak mau gue ada disini. β€œ

Laki-laki tersebut mendecakan lidah, melipat koran lalu mengapitnya di ketiak kiri sebelum tangan kanannya bergerak ke depan, yang mana membuat badan gue terlempar ke belakang menembus pintu.

β€œ Waktu masih panjang, nggak usah buru-buru pergi. β€œ Kata laki-laki itu dari lorong, tapi suaranya seperti muncul persis di balik telinga. β€œ Kalau mau selamanya disini juga bisa, pokoknya waktu masih banyak. β€œ

Gue melihat ke arah cowok itu yang sekarang menaruh kedua tangannya dibalik kepala, sementara matanya menatap gue dengan bibir yang kedua sudutnya tertarik ke belakang. β€œ Kenapa? Kok balik lagi kesini? β€œ

Badan gue terbangun dan menebas-nebaskan debu dari celana, murni karena kebiasaan lalu kembali berjalan ke bangku lipat Chitose. β€œ Nama lo siapa sih? Umur lo berapa? Kok lo nggak sopan sama gue? β€œ

β€œ Virdi Rizkinaldi. β€œ Jawabnya singkat sementara tangan kirinya menyambar kotak permen itu sekali lagi dan mengambil satu butiran sebelum memasukannya ke dalam mulut lewat sudut bibir. β€œ Kita cuman beda dua tahun, dan respect is earned, not given. β€œ

β€œ The fuck nama kita sama. β€œ Kata gue sambil menggeleng kepala nggak percaya.

β€œ Huh? Nama depan lo Virdi juga? β€œ katanya mengejek. β€œ Setahu gue lo Joshua? β€œ

β€œ Ha-ha, lucu lo. β€œ gue mendenguskan napas. β€œ Gue tahu gue udah mati, tapi gue mau cepet-cepet pergi dari sini. β€œ

β€œ Ya, bye bye kalau gitu. β€œ jawabnya cepat.

β€œ Maksud gue, kalau lo benci gue. Sekarang waktu yang tepat buat ngata-ngatain gue. β€œ Kata gue sambil memijit dahi dengan dua jari dengan rasa gemas yang memuncak di kepala.

Virdi nggak menanggapi omongan gue secara serius. Dia bahkan memutuskan untuk menyalakan TV dan mengganti-ganti saluran channel selama beberapa menit, sambil mengomentari beberapa dengan suara dibawah napas. Suara TV yang lumayan pelan itu membuat gue bangkit berdiri dan berjalan mengarah ke tempat tidur Virdi dan tidur di sampingnya persis. Diluar perkiraan gue, dia ternyata nggak risih ada gue tiduran menghadap nya disamping kirinya. Justru dia malah balas memposisikan badannya menghadap gue dan mengerucutkan bibir, mendekatkan kepalanya untuk mencium muka gue. Sontak gue langsung mundur sementara dia cuman memutar kedua bola matanya sambil mendenguskan napas mengejek.

Virdi kembali mengganti channel TV sampai dia berhenti ke channel Animax, dan menonton episode ulang Ranma Β½, dengan dubbing bahasa Inggris.

β€œ Sebenarnya sih gue pernah benci sama lo. β€œ kata Virdi kali ini duduk tegap diatas tempat tidur dengan mata lurus terpaku ke TV LCD berukuran 25”. β€œ Justru lebih ke arah iri, kalau boleh jujur. β€œ

β€œ Hah? β€œ gue sekarang malah bingung dan menatap belakang kepalanya. β€œ Gue aja baru pertama kali ketemu lo disini, gimana caranya lo bisa iri sama gue? β€œ

β€œ Hanya karena lo nggak tahu gue ada, bukan berarti sebaliknya sama. β€œ Virdi membuka laci kabinet tanpa mengubah posisi sehingga dia bergantung di tempat tidur, untuk mengambil Cheesy puff dari laci. Dia menggigit ujung plastik yang mana ujung tajamnya mengenai gusinya sampai berdarah.

β€œ Astaga, β€œ gue sekarang duduk diatas tempat tidur sambil menunjuk plastik snacks itu. β€œ Lo buka dari tengah, nggak usah pake gigi segala. Dasar jorok. β€œ

β€œ Sorry dude, gue cuman denger nasihat orang yang masih hidup. β€œ dan dia merogoh tangannya masuk ke dalam plastik sementara matanya kembali terpaku ke Ranma 1/2.

Gue mengabaikannya dan kembali menyandarkan kepala ke atas bantal sementara mata gue tertuju lurus mengamati langit-langit ruangan. β€œ Kenapa lo iri sama gue? β€œ

β€œ Karena lo yang dianggap sebagai anak sah Bokap gue, β€œ jawabnya cepat. β€œ Simpel sebenarnya, gue mau harta bokap gue. Tapi ternyata, harta bokap gue cuman turun ke keluarganya yang sah, yaitu elo dan adek-adek lo. β€œ

β€œ Oh, β€œ gue melipat kedua tangan gue ke balik kepala. β€œ Fair point, kalau gue diposisi lo gue juga pasti bakalan devastated. β€œ

β€œ Ugh, gue nggak butuh duitnya tapi emak gue yang mau duitnya. β€œ katanya lagi, kesal mendengar respon gue barusan.

β€œ Kenapa? Bokap gue nggak ngebiayain hidup kalian sama sekali? β€œ tanya gue lagi, kali ini murni penuh dengan rasa penasaran.

β€œ Bokap β€˜kita’ ngebiayain keluarga gue, tapi bagi emak gue nggak pernah cukup. β€œ katanya sambil menghela napas. β€œ Jadi gara-gara itu, emak gue rada benci sama gue karena menurut dia, gue β€˜gagal’ bikinin emak gue jadi istri yang disayang Bokap. β€œ

β€œ Oke, β€œ gue nggak tahu harus ngomong apa lagi. β€œ Nggak enak juga kalau situasinya begitu. β€œ

β€œ Yep. β€œ jawabnya singkat lagi, lalu dia mengunyah Cheesy puff sampai mulutnya penuh.

Gue bolak-balik ganti gaya di atas tempat tidur sampai akhirnya gue mati gaya. β€œ Oke deh! Kalau begitu. β€œ Gue bangkit duduk di tepi tempat tidur dan menepuk-nepuk tempat tidur sambil tersenyum.

β€œ Nice to meet you, I guess? β€œ Tapi ketika gue ingin menjejakan kaki di lantai vynil anti-microbial, tahu-tahu kaki gue nggak bisa bergerak.

β€œ Nope, masih panjang waktunya. β€œ Kata laki-laki tersebut di belakang telinga sementara gue yakin, dia masih di lorong dan baru saja membalikan kertas korannya.

β€œ Ugh. β€œ Gue menghempaskan badan gue ke tempat tidur lagi. β€œ Selain iri, lo kenapa lagi sama gue? β€œ kata gue secara mendesak.

Virdi menoleh ke balik bahu untuk menatap gue sebelum dia membuang muka dan bilang, β€œ Oh, dan gue juga mantannya Leila juga. β€œ

Gue langsung duduk tegap di atas kasur dan merasakan jantung gue merosot dari rongganya. β€œ Nggak mungkin, β€œ kata gue cepat, mekanisme defensif gue terbangun. β€œ Dia nggak bakalan mau sama yang jauh lebih muda dari dia, sama gue aja dia malu sendiri. β€œ

β€œ Yeah, tapi gue beneran mantanan sama dia. β€œ kata Virdi sambil mengangkat bahunya. Dia menghela napas dan bilang, β€œ Tapi dia nggak tahu kalau gue saudaraan sama lo. β€œ

Tangan gue memegang bahu Virdi, tapi entah kenapa sesuatu menjerat masuk ke dalam tubuh gue lewat dari permukaan kulitnya. Gue mengedipkan mata berkali-kali sementara gue melihat wajah Leila yang belum gue pernah lihat sebelumnya, memegang muka gue dan lalu menempelkan bibirnya ke gue.

β€œ Virdi. β€œ suara Leila menggema di belakang tengkorak.

Gue menarik tangan gue dari bahu Virdi sementara rasa mual naik dari perut menuju ke tenggorokan. Refleks, gue memuntahkan semuanya dari perut gue ke samping tempat tidur. Saat gue melihat ke lantai, sama sekali nggak ada cairan muntah di sana dan Virdi cuman melihat gue dengan muka kaget.

β€œ Lo nggak apa-apa? β€œ Tanyanya, kedengarannya mengejek tapi gue merasakan ada rasa khawatir disana.

Lagi, gue menghempaskan badan gue ke belakang dan kali ini gue menutup mata gue dengan tangan kiri. Semua memori tentang Leila berhamburan masuk, saling menghimpit satu sama lain sehingga kepala gue rasanya seperti mau pecah. Setiap percakapan mereka baik dari yang nggak penting sampai ke pertengkaran mereka masuk ke dalam gendang telinga, tanpa sama sekali nggak ada yang bisa gue saring.

Gue mengerenyitkan dahi, sementara kaki gue tertekuk mengenai dada. Sampai pada akhirnya memori terakhir tentang mereka berdua masuk paling belakang diantara semua yang mendorong masuk secara paksa ke dalam tenggorokan, gue mual di sepanjang perjalanan dan terbatuk-batuk.

Dibalik mata gue, ada Leila.

Dan dia memanggil nama orang lain sambil menatap mata gue secara langsung.

*

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
2



Dulu sekali, sebelum algoritma Tinder mempertemukan gue dengan Leila lagi, gue sudah bertemu Leila sewaktu berumur 13 tahun, karena kita sekolah di SMP yang sama. Leila lebih tua setahun, dan memiliki kebiasaan telat yang membuatnya sering dihukum dengan berbagai macam hukuman. Setiap pagi setelah bel selalu ada perkumpulan di kelas paling ujung di lantai dua, khusus untuk yang beragama Kristiani. Membuat gue secara tidak langsung terpaku ke arahnya. Mungkin, perkumpulan itu cuma satu-satunya kesempatan gue untuk melihat ke arah dia. Karena entah kenapa, Leila selain hobi telat dia memiliki penyakit IQ tiarap, yang membuatnya selalu berada di kelas yang berbeda.

Dan gue tahu dia selalu punya pacar. Gue tahu itu dari Gian, temen sekelasnya yang juga satu agama. Sekalipun Gian itu cowok, entah kenapa dia yang paling dekat dengan Leila dan sedikit-banyaknya membuat gue cemburu. Leila suka menyandarkan kepalanya ke bahu Gian ketika perkumpulan, lalu mereka ngobrol bisik-bisik.

Disaat itu, untuk pertama kalinya gue berharap gue menjadi seseorang yang bukan β€˜gue’.

Lalu Gian bilang, β€œ Kalau elo beneran suka sama Leila, Cuma ini saatnya lo nembak dia. β€œ katanya disaat ngumpul bareng di kelas gue yang kosong karena Sekolah sedang mengadakan kegiatan PORSENI, ngomongin cewek dan Point Blank.

Gue menatap Gian, tertarik dan penasaran saling menyatu. β€œ Kenapa? Dia putus dari cowoknya? β€œ

β€œ Ya, tapi selain cowoknya yang sekarang, dia juga lagi dideketin Kakak kelas. Dari kelas 8-7. β€œ jawab Gian pendek, menenggak aqua gelas dalam tiga kali teguk lalu bangkit berdiri dari bangku didepan gue. β€œ Gerak cepet lo sebelum keduluan lagi. β€œ

Sehingga dalam keadaan panik, gue menyusun rencana dengan Gian. Rencana dimana gue menunggu di dekat tangga lantai bawah, dengan perasaan yang nggak pasti, menunggu Gian menggiring Leila ke tempat gue.

Dan sisanya menjadi sejarah. Gue macarin Leila, sekalipun cuman bertahan satu tahun lebih sebelum Leila mutusin gue karena kita pergi ke Sekolah yang berbeda. Sakit hati, gue menghapus semua tweet gue soal dia, foto kita berdua yang makan tempat 500 mega byte di handphone gue format ulang, membakar tiket nonton di tempat sampah depan rumah, dan berjanji bahwa gue yang akan duluan keluar sebagai orang yang move on paling pertama dari hubungan ini.

Lalu Leila menghilang. Gue nggak pernah mendengar kabarnya satu kalipun, bahkan Gian juga putus kontak dari Leila.

Di SMA gue, yang tahu Leila cuma satu orang dan dia kakak kelas gue, tapi dia pun tutup mulut nggak mau ngomongin Leila seakan-akan Leila adalah topik yang tabu. Dan gue, tentu saja, ketemu lagi satu orang dan gue macarin dia. Tapi sesuatu tentang Leila yang membuat gue sering berhenti berjalan, hanya untuk memperhatikan kerumunan orang, berharap salah satunya adalah dia.

Disaat itu juga, untuk pertama kalinya gue berharap seseorang untuk mati.

Gue berharap Leila untuk mati, karena kalau dia memang benar-benar mati, gue nggak akan berharap bahwa hubungan kita adalah meant to be, dan salah gue hubungan itu berakhir sia-sia. Gue juga nggak akan meneliti satu-persatu wajah di tempat yang ramai akan orang, berharap Leila berdiri di radius lima meter dari gue, karena gue tahu dia dimakan ulat di tanah.

Perasaan aneh itu berubah menjadi kemarahan yang nggak mendasar. Gue marah sama dia karena gue nggak tahu apa-apa soal dia. Gue kesal karena dia selalu seperti seseorang yang nothing to lose, dia nggak masalah pergi menghilang dari kehidupan orang-orang yang dia kenal, nggak perduli seberapa dekatnya dia dengan mereka. Gue marah karena seharusnya gue sudah move on, dan hubungan kita berdua juga nggak akan bisa diperpanjang lagi umurnya, gue pikir gue sudah terima kenyataan itu karena gue juga sudah macarin orang lain setelah dia.

Lalu fotonya muncul di Tinder, dan tentu saja setelahnya semua menjadi jelas.

Gue ingin balikan lagi. Tapi entah kenapa, gue nggak mau terima kenyataan itu dan menganggapnya sebagai β€˜kekalahan’.

Dan untuk pertama kalinya, gue menelan ego gue, tepat ketika ibu jari gue swipe kanan nama Leila. Mata gue terpejam, jantung gue berdetak keras sampai-sampai gue bisa mendengarnya di belakang telinga. Saat mata gue terbuka, ada notifikasi error. Leila menghapus permanen akun Tindernya. Dan tampaknya, gue sekali lagi kehilangan dia.

*

β€œ Hei, Leila. β€œ kata gue, duduk jongkok di dekat kakinya sambil menutup muka gue dengan kedua tangan. β€œ Astaga, gue nggak mau disini. Gue mau pergi dari sini. β€œ Kata gue bangkit berdiri dan langsung berderap jalan ke pintu keluar.

Leila nggak menahan gue, dia masih terpaku dengan tangan melipat didepan dada. Kepalanya menunduk dan lalu melihat gue sambil menggeleng-gelengkan kepala. β€œ Oke, hati-hati dijalan kalau gitu. β€œ katanya tanpa basa-basi.

Gue langsung berhenti didepan pintu dan melihat ke balik bahu. Leila menarik bangku didepan meja makan yang menghadap pintu keluar, memandangi punggung gue. β€œ Kenapa lo bisa meninggal? β€œ tanya nya sambil mencuil salmon dari salah satu kotak tupperware yang berderet di atas meja makan. β€œ Lo kan masih muda, lo udah bosen hidup? β€œ

Badan gue memutar ke arahnya dan lalu tangan gue menunjuk ke arah Leila. β€œ Lo sendiri kenapa ngapus akun Tinder lo? Gue udah swipe kanan! Tapi tahu-tahu lo ilang lagi. Kenapa lo blocked semua temen-temen lo? Kenapa lo putus kontak dari kita semua? β€œ

Leila menatap mata gue dan lalu mendenguskan napas. β€œ Gue bikin Tinder karena gue marah sama cowok gue, tapi pas kita baikan, gue hapus akun gue. β€œ lalu dia mengambil sendok dan mulai makan dari kotak tupperware. β€œ Gue selalu begitu, gue nggak pernah mau berhubungan lagi sama temen-temen sekolah gue, itu udah jadi modus operandi gue. β€œ

β€œ Kenapa? β€œ Tanya gue masih nggak percaya.

Leila mengedipkan mata. β€œ Karena lebih gampang begitu. β€œ Lalu dia bangkit berdiri sambil mengangkat kotak tupperware nya, menyendoki sayap ayam ke atas nasi putih. Gue menatap dia terus-menerus sampai Leila duduk lagi di bangku yang sama.

Gue meneliti kedua tangan Leila, mencari-cari cincin diantaranya. β€œ Lo belum kimpoi? Ini rumah siapa? β€œ

β€œ Gua udah kimpoi tolol. β€œ Jawab Leila sambil mengunyah. Lalu dia menarikan bangku disampingnya, matanya menatap gue dan bangku itu secara bergantian. β€œ Duduk sini, ayo kita ngobrol. β€œ

Gue mengikuti perintahnya, tapi mata gue nggak lepas menatap dia. Badan gue duduk di bangku yang ditarikin Leila dan lalu melihat dia mengunyah makanan. β€œ Enak? β€œ tanya gue. Leila menatap gue sambil menganggukan kepala.

β€œ Ya entah kenapa gue jadi bisa masak, β€œ lalu dia mendengus tertawa. β€œ Berkat bantuan emak-emak dari Cookpad. β€œ

Gue tersenyum tipis lalu tangan gue ditaruh diatas meja makan untuk menopang muka gue. Kepala gue tetap terpaku ke arah Leila, β€œ Lo suka minum kopi nggak? β€œ

β€œ Nggak, gue lebih milih minum teh hijau. Kenapa? β€œ

Gue mendengus. β€œ Gue mati gara-gara minum kopi kebanyakan, gue baru tau ternyata manusia bisa overdosis kafein. β€œ

β€œ Nggak usah kopi, kita juga bisa mati gara-gara overdosis air. β€œ jawab Leila cepat. β€œ Terus lo nyesel nggak mati gara-gara minum kopi? β€œ

β€œ Awalnya nggak, malah kesannya jadi lucu. β€œ Gue kini menempelkan dagu diatas meja. β€œ Kalau gue tahu bahwa manusia bisa overdosis kafein, mungkin gue nggak bakalan segila itu minum kopinya. β€œ

Gue terdiam sebentar. β€œ Bahkan gue nggak suka kopi sampai segitunya. β€œ

β€œ Duduk yang bener, ntar bengkok tulang punggung lo. β€œ Kata Leila, sambil memakan sayap ayam dengan tangan kosong.

β€œ Udah nggak penting lagi, kan udah mati juga gue. β€œ

β€œ Hmm, bener juga. β€œ

Lalu gue menegakan badan dan menatap lurus ke tembok didepan gue. β€œ Karena gue sudah mati, kayaknya sekarang waktunya yang tepat untuk bilang ini ke elo. β€œ

β€œ Nggak. β€œ Tolak Leila mentah-mentah. β€œ Gue nggak mau tahu apapun soal lo. β€œ

Gue nggak memperdulikannya. β€œ Tiga bulan sebelum gue mati, Gue datang ke reunian rohani kristen SMP kita. β€œ Leila menggerang sambil menggigit daging sayap ayam. β€œ Disana, gue berharap bahwa lo dateng, tapi lo nggak pernah dateng. Semua orang suka ngebahas lo, mereka nggak ngejelekin elo, malah mereka kayak kagum sama lo. β€œ

Leila diam saja tapi jelas sekali bahwa dia mendengarkan. β€œ Lo bener-bener ngilang, sama sekali nggak ada social media yang nyisa, Facebook lo hapus, Instagram mungkin lo buat tapi nggak follow siapa-siapa, nggak ada yang tahu lo dimana. β€œ

Mata gue melihat ke Leila. β€œ Gue pun, asal lo tahu, kalau lagi jalan ke Mall atau ke Gramedia, gue masih suka nyariin lo. Beberapa kali ketemu cewek yang mirip sama elo, tapi gue tahu elo bukan mereka. Jadi, pulangnya agak sedih. β€œ

β€œ Dan nggak ada yang bisa gue kenang dari lo, karena setiap foto β€˜kita’ udah gue apus-apusin karena waktu itu gue, jujur aja, marah bareng sama lo. Jadi, gue minta Gian dan siapapun itu yang kira-kira punya foto lo. Cuma untuk ngebayangin gedenya lo kayak apa. β€œ

Gue menarik napas panjang. β€œ Gue minta maaf Leila, gue milih keputusan yang salah. Gue tahu lo yang mutusin gue, tapi gue bisa ngeyakinin untuk kita tetep pacaran. Seharusnya kita nggak putus, kita bisa long distance, gue tahu kita bisa. β€œ Leila masih saja makan sementara gue menatap dia dengan tatapan sendu. β€œ Lo pernah nggak sih sekalipun mikirin gue? Karena gue suka mikirin lo, β€œ.

Leila menarik selembar tisu dari kotak tisu, menaruh tulang ayam yang bersih dari daging diatasnya lalu melipatnya. Kemudian dia menarik tisu lagi untuk membersihkan jarinya yang bekas makan ayam. Mata gue mengikuti setiap pergerakan Leila, meneliti ekspresi mukanya yang masih lempeng. Lalu, dia menatap tepat di mata gue. β€œ Gue sempet beberapa tahun mimpi lo setiap malam. β€œ

Mata gue terbelalak. β€œ Mimpi? β€œ

β€œ Ya, mimpi. β€œ Leila menutup kotak tupperware yang sudah habis dan menggesernya ke arah tembok. β€œ Gue mimpi kita masih sekolah, gue selalu ngelihat lo dari jauh, seakan-akan kita putus pas masih sekolah. β€œ

β€œ Tapi β€˜kan kita putus pas udah sama-sama lulus. β€œ Kata gue menegaskan.

β€œ Iya gue tahu, tapi saking seringnya gue mimpi begitu. Memori gue soal hubungan kita jadi sempet ketuker gitu. Gue sempet percaya, bahwa pas SMP, kita putus dan akhirannya gue selalu ngelihat lo dari jauh. β€œ

Leila tersenyum. β€œ Setuju nggak sih? Pas kita pacaran, setiap memorinya seakan-akan jauh lebih bagus daripada kenyataannya? β€œ

Tangan gue terangkat dan menaruh diatas punggung tangan Leila. Leila melihat punggung tangan gue sementara gue bilang, β€œ Menurut gue, β€˜seharusnya’ kita jodoh. β€œ

Leila menghela napas sambil melihat ke arah tangan gue. β€œ Gue bahkan udah nggak bisa ngerasa apa-apa dari badan lo. β€œ Katanya yang membuat mata gue melihat ke tangan kita berdua. β€œ Sebenar-benarnya, gue makin kesini makin yakin justru kita nggak bakalan cocok. Pasti ujung-ujungnya pisah lagi kalaupun dipaksa. β€œ

β€œ Kenapa? β€œ

β€œ Karena lo religius, dan gue nggak. Lo pengen anak, dan gue benci anak-anak. Lo ambisinya tinggi, dan gue juga, makanya kita nggak bakalan cocok. β€œ kata Leila menerangkan semuanya.

β€œ Gue nggak sereligius yang lo pikir. β€œ tegas gue.

β€œ Gue tahu darimana coba? Dunia kita udah beda. β€œ kata Leila cepat. β€œ Gue tahu lo udah mati sekarang, tapi yang gue maksud adalah pas kita berdua sama-sama hidup, dunia kita udah beda. β€œ

β€œ Nggak sebeda yang lo pikirin.” Kata gue. β€œ Gue bohong, asal lo tahu gue selalu ingin balikan. Ada sesuatu tentang lo yang bikin gueβ€”β€œ

β€œ Sesuatu tentang gue? β€œ Leila membuang muka. β€œ Lo salah tangkep, yang membuat β€˜gue’ seakan-akan meant to be itu cuman perasaan nostalgia aja. Seperti yang gue bilang sebelumnya, memori gue sama lo seakan-akan jauh lebih indah daripada kenyataannya. Karena otak kita pilih-pilih, mereka cuman pingin kasih bagian yang sempurna aja. β€œ

Gue mengerutkan dahi. β€œ Tapi kalau memang begitu kenyataannya, terus kenapa gue disini? β€œ

Leila menatap gue tepat di mata lagi. β€œ Ya, lo kenapa disini? β€œ

β€œ Gue pikir, β€˜seseorang’ mengirim gue ke tempat lo supaya gue menyesal, dan kalau sudah menyesal baru boleh pergi ke fase berikutnya. β€œ Kata gue jujur. β€œ Leila, β€œ gue menatap matanya. β€œ Lo bener-bener nggak nganggep bahwa gue jodoh lo yang kelewat? β€œ

β€œ Astaganaga, Joshua. β€œ Leila menatap muka gue dengan nggak percaya. β€œ Jangan kirim gue balik ke masa-masa kelam itu. Sekarang gue udah happy, semua udah ada di tangan gue. Gue bener-bener di posisi yang positif sekarang. β€œ

β€œ Leila, mungkin sekarang bener-bener terakhir kalinya kita bisa ngobrol kayak gini. β€œ Kata gue mendesak. β€œ Jawab gue yang jujur! Lo nggak mikir bahwa gue adalah jodoh lo? Bahwa kita seharusnyaβ€”β€œ

Leila sekarang menangis. β€œ Joshua, lo jangan begini. Lo harus mikirin gue juga, gue masih hidup dan udah nikah juga. β€œ

β€œ Jawab yang jujur, Leila. β€œ Kata gue pelan dengan lirih.

Leila menatap lurus ke tembok. β€œ Ada sesuatu tentang lo juga yang membuat semuanya jadi ribet. β€œ dia menarik selembar tisu dari kotak tisu untuk menyeka air mata. β€œ Tapi kita beda, gue nggak kayak elo, gue tahu bahwa kita seharusnya pisah, bahwa kita emang nggak ditakdirkan buat bareng. β€œ

Tahu-tahu air didalam galon aqua mengeluarkan banyak gelembung yang membuat Leila melonjak kaget. Leila bangkit berdiri dari kursi untuk mencuci tangan di bak cuci piring dan kemudian dia berjalan ke arah gue sambil mengeringkan tangan dengan handuk kecil.

Secara tidak langsung, gue tahu, bahwa pembicaraan sudah selesai dan nggak ada lagi yang perlu diungkapkan. Karena semua sudah terlalu terlambat, dan nggak ada yang bisa kita perbuat tentang hal tersebut.

Setelah gue perlahan-lahan kembali tenang, air didalam galon aqua berhenti menggelonjak dan semua kembali sunyi. Sunyi ini sekalipun singkat rasanya seperti selamanya, tapi Leila mematahkan kesunyian itu dengan berkata. β€œ Kasih tahu gue kalau ternyata manusia bisa reinkarnasi. β€œ

Gue kembali menatapnya sambil mendenguskan napas. β€œ Gue sama butanya sama lo, gue nggak tahu apa-apa soal protokol orang mati. β€œ

β€œ Ah, β€œ Leila menaruh handuk kecil di dekat kompor. β€œ Mungkin disaat lo β€˜akhirnya’ tahu, semuanya sudah terlalu terlambat. Jadi gue nggak akan pernah tahu. β€œ

Gue tersenyum. β€œ Sama seperti hubungan kita. β€œ badan gue bangkit berdiri, kembali berjalan menuju pintu. β€œ Dan asal lo tahu, gue tetep bersikeras bahwa lo adalah jodoh gue. β€œ

β€œ Terserah, tapi gueβ€”β€œ

β€œ Lo baik-baik disini, dan sorry gue terlalu terlambat buat ngasih tahu semuanya. β€œ Kata gue sambil tersenyum selebar mungkin. β€œ Doain gue untuk nggak gentayangan kelamaan di Dunia sini, oke? β€œ

Leila menghela napas sambil balas tersenyum. β€œ Oke. Nggak janji, tapi oke. β€œ

β€œ Auf widersehen! β€œ kata gue sambil melempar tangan hormat di samping kening. Gue nggak menunggu balasannya, dan berjalan menembus pintu. Tepat di sebelah kiri gue, gue melihat ada Cowok yang membawa dua keranjang kucing di masing-masing tangan lalu menembus badan gue untuk mengetuk pintu putih di belakang gue.

β€œ Beb, β€œ katanya sambil menaruh dua keranjang itu disisi badan. Lalu dia mengetuk pintu itu untuk kedua kalinya.

Pintu itu langsung dibuka dan Leila ganti mengangkat dua keranjang kucing itu ke dalam rumahnya, tanpa melihat ke arah gue sama sekali.

Gue berjalan menuju lorong apartement dan mendengar suara pintu dikunci di belakang gue. Di depan gue terdapat lift kosong dengan pintu terbuka, tanpa berpikir panjang gue masuk ke dalamnya. Setelah gue masuk, lift itu naik ke lantai yang paling atas dan perlahan-lahan pintu besi itu terbuka.

Seseorang laki-laki memakai kemeja putih dengan lengan yang dilipat di siku dan celana kain berwarna hitam yang disetrika rapi, berdiri di samping gue sambil berkata. β€œ Gimana rasanya? Lega? β€œ

β€œ Ternyata sama sekali nggak menyelesaikan masalah. β€œ Jawab gue jujur sambil menghela napas. β€œ Apakah abis ini gue bisa langsung pergi ke tahap selanjutnya? β€œ

β€œ Kenapa buru-buru amat? β€œ Tanyanya sambil tersenyum mengejek dengan tatapan yang melihat gue dari sudut mata. β€œ Nanti juga bakalan tahu kalau waktunya sudah tepat. β€œ

β€œ Kapan? β€œ tanya gue sambil melihat cermin didalam lift, yang tentu saja tidak menampilkan kita berdua.

Laki-laki tersebut mengabaikan pertanyaan gue. Pintu lift menutup ketika Laki-laki tersebut menekan tombol Lower Ground.

*

Quote:

udah itu double ya, lima kagak kuat. emoticon-Berduka (S)

Quote:

ai syap banggg emoticon-Kiss (S) emoticon-Betty (S)
8


Gue membuka website chord guitar Mr.Brightside, memainkannya di gitar akustik, dan bolak-balik ganti menatap layar handphone ke gitar sekalipun gue sudah hapal diluar kepala. Gue bolos rehearsal kemarin, dan sebenarnya nggak ada yang perduli juga gue ikut atau nggak, mengingat gue paling fleksibel dan jujur aja, gue yang paling jago diantara mereka bertiga.

Bahkan disaat gue berumur 19, gue juga mulai ngeband dengan teman kampus gue dan mengcover lagu-lagu The beatles, The Strokes, dan sebagainya dan rutin latihan di rumah temen gue.

Hanya saja, sekarang ini Leila β€˜tertarik’ dengan kegiatan gue, membuat gue bisa mendengar detak jantung gue yang menggebu dibalik belakang telinga. Meskipun β€˜mental’ gue berusia 24 tahun, tapi tetap saja β€˜badan’ gue berusia 13 tahun.

Disaat gue mengulang lagunya dari awal, gue sadar bahwa gue sebenar-benarnya nggak pernah dengar Leila menyanyi. I mean, gue β€˜dengar’ dia somewhat nyanyi pas misa pagi tapi dia kelihatan seperti buka mulut lalu menutupnya tanpa mengeluarkan satu nada keras sekalipun.

Leila yang nggak tertarik dengan misa pagi adalah Leila yang gue tahu. Mungkin karena itu juga dia terkesan misterius di mata gue, karena gue sama sekali nggak tahu apa-apa soal dia.

Jam dua siang adalah slot waktu untuk band gue naik panggung setelah dari ekskul tari Saman selesai, sehingga gue masih memiliki banyak waktu panjang untuk main-main sebenarnya. Leila juga tampaknya lari ke kafetaria dan mengungsi disana, sementara gue di ruang musik sambil sesekali menyesap fruitea apel dari botol 500 mililiter. Gue mengecek jam tangan gue. Pukul sebelas lewat sepuluh pagi. Yep. Waktu masih panjang. Dan bahkan gue berpikir untuk pacaran kilat sama Leila, kalau bisa kabur dari ruangan ini.

Gue menyadari bahwa permainan gue bahkan tiga kali lipat lebih bagus daripada permainan gitar gue pada waktu itu. Hal ini mendongkrak rasa percaya diri gue, lumayan tinggi apalagi beberapa orang nyadar akan hal yang sama.

β€œ Gila, Jo. β€œ Kata Adit, drummer yang sekarang sedang strumming lantai karpet yang bikin gatal kulit dengan ekspresi takjub. β€œ Kok lo jago banget sekarang? Kemarin-marin pas latihan nggak kayak begini. β€œ

Gue mulai mengeluarkan beberapa lagu andalan yang gue hapal mati dan memainkannya dengan lidah menjulur dan mata ke belakang kepala sehingga yang terlihat cuma putihnya aja. Adit ketawa-tawa, tapi gue bisa melihat bahwa kekagumannya nggak berhenti sampai disitu.

Sekarang tenggorokan gue kering karena yang sedari tadi gue tenggak adalah minuman yang kelewat manis. β€œ Gue mau beli aqua. β€œ kata gue, begitu saja.

β€œ Yaudah, tapi jangan susah dicari nanti. β€œ kata Adit mendongakan kepala menatap gue yang bangkit berdiri. β€œ Nggak kayak kemarin, susah banget dicari. β€œ

Gue mendengus dan teringat bahwa gue kemarin emang sembunyi sama Leila. Tapi kalau gue ceritain, yang ada kebakaran jenggot doang ini anak.

Bagaimana gue bisa mengatakannya? Adit... nggak begitu suka sama Leila.

Sehingga ketika gue menutup pintu kayu dibelakang gue. Gue langsung jalan dengan langkah kaki selebar mungkin, mengejar Leila di kafetaria. Siapa tahu dia masih mengungsi disitu sehingga gue bisa duduk bareng dia, mengeluarkan gombalan satu atau dua seenggaknya.

*

Gue bertemu Leila di kafetaria yang sedang makan indomie rebus lengkap dengan sawi dan bakso. Tapi kuahnya yang merah seperti darah, membuat maag akut gue naik dan gue bisa merasakan asam lambung lagi naik tangga menuju tenggorokan gue ketika mencium betapa pedasnya aroma indomie tersebut.

β€œ Buset. β€œ Kata gue, sambil menjepit hidung dengan jari. β€œ Gila pedes banget itu kelihatannya! β€œ

Leila mendongakan kepala nya, ganti menatap gue dari handphonenya yang sedang terbuka website fanfiction. Dia cuman menghendikan bahu lalu berkata, β€œ Nggak kok, warnanya doang yang merah. Tapi rasanya nggak begitu. β€œ

Nggak begitu gimana. Gerutu gue dalam batin. Gue kan pernah nyobain juga sambel buatan warung indomie sini. Abis itu gue sampe minum promag dua tablet.

Seperti Vampir yang dipaparkan bawang putih yang dikalungkan dileher, gue memutuskan untuk mundur sambil mengibaskan bau indomie itu jauh dari muka. β€œ Cuma mau ngasih tau aja, nanti gue manggung jam dua. Lo nonton ya! β€œ

β€œ Oke? Gue tahu kok. β€œ katanya tanpa menghiraukan gue.

Agak sedih karena dicuekin, gue langsung pergi ke ibu-ibu yang jualan minuman dan membeli botol aqua 250 mililiter. Setelah gue selesai membayar, gue berjalan mendekati meja Leila lagi.

β€œ Awas, kalau nggak nonton. β€œ kata gue, sedikit mengancam. Lalu gue mengeluarkan dua batang cadburry dari kantong celana gue. β€œ Atau nggak nanti gue jual lagi ini cokelat ke Indomaret. β€œ

Pupil mata Leila langsung melebar dan dalam beberapa kedipan, matanya langsung berkaca-kaca. β€œ Ta-tahu darimana kalau gue suka cokelat itu! β€œ Katanya nyaris histeris.

Gue balas nyuekin dia dan langsung jalan meninggalkan area kafetaria, balik lagi ke ruang musik yang karpetnya cuman bikin bentol-bentol di betis.


*

Sekarang gue berdiri di pinggir panggung sementara mata gue menunggu ekskul tari Saman berhenti memutarkan lagu yang super keras dan mengamati beberapa cewek yang agak sedikit ketinggalan daripada cewek-cewek yang lain. Menghancurkan ilusi aja.

Adit mulai menggigiti kuku jarinya dan meludahi kukunya ke lapangan. Sementara yang lainnya cuek aja, bahkan nyaris kasual. Gue mencari-cari Leila diantara banyaknya kepala yang duduk bersila di depan panggung yang tingginya nggak lebih dari semeter. Dia nggak disitu, sehingga gue mencari kepalanya di lantai dua. Siapa tahu dia mau nontonnya dari situ aja. Dan benar saja, dia berdiri di sudut yang bahkan nggak bisa nonton gue di panggung.

Leila menyadari gue mencarinya dan cuman mengangkat tangannya, melambaikan dengan sebentar lalu mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum kaku.

Gue langsung ingat, bahwa ada beberapa hal dimana gue berharap dia lebih normal sedikit. Orang lain kalau pacaran, seharusnya lebih
perhatian dan pengen duduk didepan panggung persis β€˜kan, kalau seandainya cowoknya mau naik ke atas panggung dan main satu lagu?

Ketika gue menyuruh dia turun dengan jari gue dan membuat kotak persegi panjang dengan jari telenjuk lalu menepuk-nepuk saku celana. Leila langsung memutar kedua bola matanya dan menyuruh gue untuk menunggu, lalu dia menghilang dari pandangan gue.

Nggak berapa lama kemudian, dia ikut duduk di bawah terpal dan duduk di lapangan. Tapi paling jauh, dan bahkan dia mengajak Gian disampingnya supaya nggak canggung.

Gian mengangkat satu jari telunjuk sambil menunjuk mulutnya.

Sialan dia minta cokelat juga. Batin gue dalam hati. Kenapa bocah-bocah ini doyan makan sih?

Dan ketika musik Saman itu berhenti membuat tuli telinga kiri gue, gue langsung tepuk tangan sementara cewek-cewek saman yang dahinya berkeringat dengan kostum yang gue tebak, pasti cuman menjebak panas dan membatasi pergerakan badan, satu-persatu menunggu dengan sabar untuk bisa menuruni panggung itu dengan tangga besi. Bahkan ada satu yang nyaris kepleset dan menyambar lengan gue sebagai penyangga. Beruntungnya, yang kepleset itu yang paling cantik. Claudie. Gue langsung melihat Leila, dan Leila melihat kejadian itu dengan seksama tapi ekspresinya cuman datar. Tapi gue tahu, amat-sangat tahu bahwa kejadian itu mengusik dirinya.

Gue naik ke atas panggung paling pertama, mencolok gitar listriknya ke amplifier, lalu setelah melihat satu-persatu anggota band gue dan menunggu aba-aba dari Adit yang kali ini sudah tenang.

Lalu ketika gue memainkan intro dari Mr.Brightside, semua langsung jejeritan. Kalau Leila seorang anjing, telinganya langsung tegak. Karena intro yang gue barusan mainin benar-benar bagus banget, dan kelihatan dari reaksinya. Dia sendiri nggak nyangka gue bisa mainin gitar sebagus itu.

Pfft. Gue mendengus. Gue kasih lihat nih hasil latihan selama 24 tahun.

Adit main drumnya dengan sangat bagus, dan yang lainnya juga jadi semangat karena gitarnya sekelas pemain gitar aslinya. Kalau gue bisa bilang, semuanya langsung hype dan bahkan Claudie menunjuk-nunjuk ke arah gue dari sudut panggung dan membisikan sesuatu ke temen ceweknya.

Rasa percaya diri gue makin naik, bahkan didongkrak dengan kenyataan bahwa Leila ikut teriak juga.

Lalu gue ikut nyanyi sebagai suara dua. β€œJealousy, turning saints into the sea. Swimming through sick lullabies. Choking on your alibis β€œ

Setelah itu, gue melirik Leila. Gue memergoki Gian membisikan sesuatu ke arah Leila dan lalu Leila malah sibuk ngobrol ke Gian.

Si bangke. Dalam hati gue mengerang sebel. Lihat gue! Gue cowok lo sekarang. Lihat gue!

Claudie bahkan terang-terangan melihat ke arah gue. Dengan senyuman terlihat di mukanya yang berbentuk hati. Seakan-akan cuman gue cowok yang tersisa di dunia.

Ketika tiba di permainan Outro, gue ikut menyanyi lagi sambil jelas-jelas menatap ke arah Leila. Memperhatikan dia masih aja ngobrol ama Gian, dan bukannya merhatiin gue.

Si bangke ini bener-bener baik. Seru gue dalam hati. Jangan lovey-dovey sama cowok lain didepan gue, sialan.

Lalu gue mendengar semua orang menjerit teriak heboh dan beberapa tepukan tangan. Adit meloncat dari bangkunya dan merangkul gue dari belakang, sementara yang lainnya bergabung. Gue melihat dari balik bahu, Leila setidaknya sekarang tepuk tangan.

Ketika gue turun paling terakhir di tangga. Claudie nyamperin gue sambil menyentuh ujung lengan gue. β€œ Tadi sorry ya, gue megang lo pas jatoh tadi. β€œ

β€œ Eh, iya nggak masalah. β€œ Kata gue sambil tersenyum.

β€œ Tapi tadi keren dah lo main gitarnya. β€œ tambah Claudie sambil mengangkat dua ibu jarinya ke udara. β€œ Gila, kayak pensi aja rasanya. β€œ

Lalu Claudie pengen ngomong lagi, tapi dia ditarik sama adek kelas dan lalu dia berkata. β€œ Eh, oke. Yaudah gue ganti baju dulu, ya Jo. β€œ

Gue melambaikan tangan ke Claudie lalu menghela napas. Gue menyeka keringat gue yang sebesar biji jagung dengan punggung tangan sementara gue berjalan menuju ke ruang musik untuk menyimpan gitar listrik ke tasnya lagi.

Nggak sadar, Leila ternyata berada di belakang gue meskipun beda beberapa langkah. Leila tepuk tangan pelan-pelan sehingga gue melihat ke belakang dan lalu menghampiri dia.

β€œ Gimana? β€œ tetap saja, gue perduli sama pendapatnya. β€œ Keren nggak tadi gue main gitarnya?”

β€œ Gila lo doang yang paling jago daripada yang lain. β€œ puji Leila cepat, lalu dia menyerahkan kemasan plastik berisi tisu yang muat dikantong ke arah gue. β€œ Nih, pake. Lo keringatan banget.β€œ

β€œ Eh, makasih. β€œ kata gue sambil menyambar tisu itu dari tangannya. β€œ Tapi tadi lo gimana sih, masa lo ngomong ama Gian terus dan bukannya ngeliatin gue? β€œ

β€œ Tapi tadipun kita juga ngomongin lo kok. Gian kaget lo sejago itu main gitarnya, dan dia bilang ke gue kalau gue harus bangga punya cowok β€˜anak band’. β€œ

Gue nggak menghiraukannya dan langsung ngomong, β€œ Tapi tadi kayak dia yang pacaran sama lo, dan bukannya gue. β€œ

Muka Leila langsung keras dan matanya menyipit. β€œ Gue kan sama dia cuman temenan? Terus kenapa kalau dia deket sama gue? Gue sama dia juga nggak pernah pacaran kan? β€œ

β€œ Ya, tapiβ€“β€œ

β€œ Pokoknya lo mainnya bagus, udah itu aja. β€œ Lalu Leila putar balik badan dan langsung berjalan menuruni tangga dengan cepat. Gue nggak langsung mengejarnya karena gue tahu, hal ini kalau gue terusin bakalan berakhir putus aja. Apalagi baru sehari. Masih belum ada apa-apanya gue dimata Leila, dan gue tahu itu.

Sehingga gue menerima β€˜kekalahan’ ini dan menelan kecemburuan ini bersama dengan asam lambung yang mulai naik karena gue telat makan.

*
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
Quote:


makasih banyak momod. makasih juga udah setia ngirimin cendol. jadi banyak dikulkas, dibekuin juga cendolnya biar awet ampe lebaran nanti.emoticon-Betty (S)

Quote:
wedew, minuman energi kan konten kafeinnya kayak 80-100 mg, bukan? karena caffeine od itu kayak 2000 mg atau kayak 2 gram lah. hati-hati lah, mati karena od kafein kagak enak bos.

Quote:

pengen double update, tapi nanti gue kagak mancing di stardew valley dongemoticon-Berduka (S)

hari ini double dehemoticon-Betty (S)
7


Bokap menjemput gue di sekolah, dan entah kenapa dia memutuskan untuk berhenti di Indomaret untuk membeli sesuatu. Dia menawarkan gue untuk ambil apapun yang gue butuhkan saat dia mendorong pintu kaca, dan aroma plastik bercampur lantai yang baru di pel menyerbu indera penciuman gue.

Leila suka cokelat, sehingga gue mengambil dua Cadburry untuk β€˜persembahan’ hari besok. Toh, besok PORSENI hari terakhir. Hari dimana gue bakalan manggung, mainin lagu Mr.Brightside dengan gitar listrik. Jantung gue langsung berdegup gugup setiap kali memikirkan bahwa besok ada pacar gue yang nontonin gue manggung. Meskipun gue tahu, Leila nggak bakalan menganggap tingkat kemahiran gue dalam main gitar yang intermediate dengan terkagum-kagum. Karena ibunya musisi, dan gue baru tahu itu belakangan.

Melihat muka bokap gue membuat gue langsung teringat dengan Virdi. Bulu kuduk gue di belakang leher berdiri disaat memori Virdi berkelebat di balik kelopak mata. Tapi, gue sedikit-banyaknya berterimakasih terhadap Virdi. Karena lewat memorinya, gue bisa melihat Leila sewaktu SMA.

Dan sekarang gue jadi sedih sendiri, sementara sekarang kaki gue mengikuti Bokap gue yang mengambil satu-persatu barang-barang β€˜rumah’ seperti pelembut pakaian, detergent, dan beberapa bungkus besar Chicken nugget, satu liter cola dan dua bungkus kentang goreng beku.

Gue langsung sadar, bahwa hal tersebut nggak bakalan dibawa pulang ke Rumah gue melainkan langsung ke Virdi. Mengingat betapa bencinya nyokap gue dengan sesuatu yang tinggi kalori dan cepat saji.

Bokap gue sebenarnya adalah back end programmer di salah satu perusahaan e-commerce terkenal di Indonesia. Gajinya lumayan, tapi yang membuat dia sebenar-benarnya bisa hidup diatas kata β€˜nyaman’ karena Kakek gue orang kaya. Dan Bokap adalah anak laki satu-satunya yang Kakek punya. Kakek gue masih hidup, tapi sudah jelas kemana akhirnya hartanya bakalan diwariskan.

Gue menaruh dua batang cokelat itu diatas meja kasir dan lalu memandangi muka Bokap gue dari samping. Tangan gue, iseng, menjulur ke sisi lengannya yang berbulu untuk melihat ke dalam memorinya.

Lalu semua itu mengalir, seperti tenggelam sejenak dan hidung gue dipenuhi aroma kaporit. Memori itu menghujam kepala gue, menusuk setiap sel otak, meminta untuk ditonton.

Dan sekalipun gue benci dia karena perselingkuhannya, sekarang gue jadi nggak bisa menyalahkan dia. Karena sejak awal, gue sadar bahwa Nyokap nggak pernah membiarkan Bokap gue untuk menceraikan dirinya. Dan posisi Nyokap sebagai menantu yang disayang Kakek gue juga sama sekali nggak membantu, mengingat Bokap menghormati Kakek gue sedemikian rupa sampai-sampai dia rela untuk tidak menceraikan Nyokap–selama Kakek masih hidup.

Dulu, gue sama sekali nggak sadar bahwa Bokap memiliki kehidupan ganda dibalik matanya yang selalu memancarkan sinar pesimistik. Sekarang, setelah menyelami setiap kenangannya. Gue cuma bisa merasakan kesedihan yang gue tutupi dengan ekspresi datar.

Bokap nggak bisa mendatangi pemakaman gue. Bukannya nggak mau, tapi dia sendiri juga sudah meninggal lebih dahulu ketimbang gue. Dia bahkan nggak mau repot-repot bikin surat bunuh diri, karena dia ingin membawa rahasianya sampai ke dalam peristirahatan terakhir.

Meskipun pada akhirnya, semua menjadi jelas pada kematian gue juga. Tapi gue sama sekali nggak bisa memahami dia, satu kalipun ketika gue masih hidup.

Bokap mengangkat dua plastik berat itu dengan kedua tangan sementara gue jalan didepannya, mendorongkan pintu kaca itu lalu menahannya sebentar untuk Bokap gue. Bokap gue tersenyum, dan tetapi dia lanjut membuka pintu mobilnya lewat kunci otomatis.

Gue melihat belakang kepalanya dan merasa ingin menangis.

Kenangan ini, adalah kenangan kedua yang paling kuat dan sering menghantui gue di belakangan hari.

Gue nggak mau merusaknya dengan menghujami dia dengan hujatan. Tapi, apakah dia bakalan senang kalau seandainya gue bilang ke dia bahwa gue β€˜mengerti’ sebagian dari penderitaannya?

Bahwa gue sekarang melihat dia sebagai manusia, seutuhnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tanpa mengekspetasi apapun dari dia?

β€œ Nggak ada yang mau lo omongin ke dia? β€œ

Mata gue melihat ke cermin belakang mobil dan memandangi Laki-laki berpakaian rapi, yang menguarkan aroma rokok dan kayu oak. Lagi-lagi mengepit koran di ketiaknya sementara dia duduk dengan kaki terbuka selebar mungkin.

Gue menggelengkan kepala dan membuang muka. Tangan gue menarik sabuk seatbelt dan lalu memasangnya. Sementara Bokap gue menyalakan audio music didalam mobil. Lalu parfum mobil bau cemara itu menyeruak ke setiap sudut mobil sementara mesin menderu dengan lembut di belakang telinga gue.

*



profile-picture
pulaukapok memberi reputasi


GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di