CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)



π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘸𝘦𝘯𝘡 𝘸𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘯π˜₯ 𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘀𝘰𝘢𝘭π˜₯ 𝘣𝘦 π˜₯𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘡𝘡𝘦𝘳

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«









profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
3

Laki-laki itu menggerakan kepalanya menuju pintu lift yang terbuka. β€œ Nanti habis ini kita ketemu lagi. β€œ

β€œ Oke? β€œ gue jalan keluar lift dengan langkah nggak yakin. Pintu lift itu tertutup di belakang gue, dan gue melihat ke sekeliling ruangan pekat dengan aroma antiseptik. Disaat gue menoleh ke belakang, yang ada cuma pintu kayu geser sedikit tertutup yang membiarkan sinar matahari menerabas masuk.

Lift itu hilang, begitu pula laki-laki tersebut.

Sekali lagi, gue melihat bangku lipat Chitose yang kain kulit cokelatnya sudah sobek dengan busa kuning yang sudah dicongkel. Gue duduk disitu, menyilangkan kaki sambil melipat kedua tangan didepan dada, menunggu seseorang masuk ke dalam ruangan.

Pintu itu di geser dan mata gue langsung bertemu tatap dengan seorang cowok berambut panjang. Dia memakai baju pasien dengan muka pucat tetapi tatapan matanya tajam sekali. Gue bingung, sementara dia mengabaikan keberadaan gue dengan menggeret tiang infus bersamanya ke samping tempat tidur yang berantakan. Cowok tersebut duduk di samping tepi tempat tidur, menghela napas keras-keras dan baru menatap ke arah gue.

Gue menatap dia balik.

β€œ Lo kenapa masih disini? β€œ Katanya dengan suara parau. β€œ Sekarang neraka ada waiting list-nya? β€œ

Telinga gue berdiri dan gue langsung ganti gaya duduk. Badan gue duduk dengan tegap, menunggu sesuatu keluar dari mulutnya. Cowok itu mengedipkan mata sambil tersenyum tipis. β€œ Kenapa? Ada yang salah? β€œ

β€œ Lo yang kenapa? Kok tahu-tahu marah? β€œ tanya gue kesal, lalu bangkit berdiri berjalan menuju ke pintu geser. β€œ Gue juga nggak tahu kenapa gue disini, pasti gue salah tempat.”

β€œ Lo nggak salah tempat, gue kenal lo tapi lo nggak kenal gue. β€œ Katanya sambil membuka kotak permen dan mengambil satu butiran permen berwarna kuning ke dalam mulut. β€œTeknisnya, kita saudara. Tapi beda ibu. β€œ

β€œ Nggak mungkin. β€œ kata gue langsung cepat. Matanya menatap gue dengan tatapan kosong sementara mulutnya mengulum permen. Gue berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan memperhatikan mukanya.

Meski sedikit tapi gue bisa melihat sepasang mata dan alis yang Bapak gue miliki. Bahkan cowok ini mirip seperti Bapak ketika dia masih berumur 19 tahun. Sekalipun perangainya seperti anak punk, dan warna kulit yang jauh lebih pucat serta badan yang sepuluh kilo lebih kurus. Dia seperti cetakan Bapak gue waktu masih kuliah.

β€œ Hanya karena kesannya bokap lo setia, nggak berarti dia nggak tebar sperma sembarangan. β€œ Dia mengulurkan tangan menawarkan kotak permen yang tutupnya terbuka. β€œ Mau? Oh iya, lo kan udah mati. β€œ Telunjuknya langsung menutup tutup rapat kotak permen dan menaruhnya diatas kabinet besi berwarna putih.

Gue menatap dia dengan tatapan nggak percaya dan lalu mengabaikan sikap buruknya. β€œ Lo kenapa dirawat disini? β€œ

β€œ Karena gue sakit? β€œ Jawabnya sarkastik tapi gue masih nggak puas dengan itu sehingga dia mengibaskan tangan. β€œ Gue cuman tifus, nanti bentar lagi juga sembuh. β€œ

β€œ Oh, oke. β€œ Gue kembali duduk di atas bangku Chitose. β€œ Gue kira lo lebih parah sakitnya. β€œ

β€œ Huh, sekarang lo doain β€˜saudara’ lo sendiri untuk cepet mati? β€œ Dia sekarang tiduran menyelonjorkan kakinya di atas tempat tidur. β€œ Nggak suka ya kalau β€˜saudara’ lo dikasih nyawa lebih panjang daripada lo? β€œ

Gue nggak kuat dengan sikap sinisnya ke gue, sehingga gue bangkit berdiri dan menembus keluar pintu, hanya untuk melihat laki-laki yang didalam lift tadi sedang membaca koran di kursi depan lorong. Laki-laki tersebut menurunkan koran untuk menatap muka gue dan menggerakan kepalanya, menyuruh gue untuk kembali masuk.

β€œ No, jam kunjungnya belum habis. Balik lagi kesana kalau mau cepat-cepat lanjut ke tahap berikutnya. β€œ tangannya juga bergerak mengibas-ngibas keluar.

β€œ Nggak, β€œ Bantah gue. β€œ Gue nggak kenal dia, dan dia jelas-jelas nggak mau gue ada disini. β€œ

Laki-laki tersebut mendecakan lidah, melipat koran lalu mengapitnya di ketiak kiri sebelum tangan kanannya bergerak ke depan, yang mana membuat badan gue terlempar ke belakang menembus pintu.

β€œ Waktu masih panjang, nggak usah buru-buru pergi. β€œ Kata laki-laki itu dari lorong, tapi suaranya seperti muncul persis di balik telinga. β€œ Kalau mau selamanya disini juga bisa, pokoknya waktu masih banyak. β€œ

Gue melihat ke arah cowok itu yang sekarang menaruh kedua tangannya dibalik kepala, sementara matanya menatap gue dengan bibir yang kedua sudutnya tertarik ke belakang. β€œ Kenapa? Kok balik lagi kesini? β€œ

Badan gue terbangun dan menebas-nebaskan debu dari celana, murni karena kebiasaan lalu kembali berjalan ke bangku lipat Chitose. β€œ Nama lo siapa sih? Umur lo berapa? Kok lo nggak sopan sama gue? β€œ

β€œ Virdi Rizkinaldi. β€œ Jawabnya singkat sementara tangan kirinya menyambar kotak permen itu sekali lagi dan mengambil satu butiran sebelum memasukannya ke dalam mulut lewat sudut bibir. β€œ Kita cuman beda dua tahun, dan respect is earned, not given. β€œ

β€œ The fuck nama kita sama. β€œ Kata gue sambil menggeleng kepala nggak percaya.

β€œ Huh? Nama depan lo Virdi juga? β€œ katanya mengejek. β€œ Setahu gue lo Joshua? β€œ

β€œ Ha-ha, lucu lo. β€œ gue mendenguskan napas. β€œ Gue tahu gue udah mati, tapi gue mau cepet-cepet pergi dari sini. β€œ

β€œ Ya, bye bye kalau gitu. β€œ jawabnya cepat.

β€œ Maksud gue, kalau lo benci gue. Sekarang waktu yang tepat buat ngata-ngatain gue. β€œ Kata gue sambil memijit dahi dengan dua jari dengan rasa gemas yang memuncak di kepala.

Virdi nggak menanggapi omongan gue secara serius. Dia bahkan memutuskan untuk menyalakan TV dan mengganti-ganti saluran channel selama beberapa menit, sambil mengomentari beberapa dengan suara dibawah napas. Suara TV yang lumayan pelan itu membuat gue bangkit berdiri dan berjalan mengarah ke tempat tidur Virdi dan tidur di sampingnya persis. Diluar perkiraan gue, dia ternyata nggak risih ada gue tiduran menghadap nya disamping kirinya. Justru dia malah balas memposisikan badannya menghadap gue dan mengerucutkan bibir, mendekatkan kepalanya untuk mencium muka gue. Sontak gue langsung mundur sementara dia cuman memutar kedua bola matanya sambil mendenguskan napas mengejek.

Virdi kembali mengganti channel TV sampai dia berhenti ke channel Animax, dan menonton episode ulang Ranma Β½, dengan dubbing bahasa Inggris.

β€œ Sebenarnya sih gue pernah benci sama lo. β€œ kata Virdi kali ini duduk tegap diatas tempat tidur dengan mata lurus terpaku ke TV LCD berukuran 25”. β€œ Justru lebih ke arah iri, kalau boleh jujur. β€œ

β€œ Hah? β€œ gue sekarang malah bingung dan menatap belakang kepalanya. β€œ Gue aja baru pertama kali ketemu lo disini, gimana caranya lo bisa iri sama gue? β€œ

β€œ Hanya karena lo nggak tahu gue ada, bukan berarti sebaliknya sama. β€œ Virdi membuka laci kabinet tanpa mengubah posisi sehingga dia bergantung di tempat tidur, untuk mengambil Cheesy puff dari laci. Dia menggigit ujung plastik yang mana ujung tajamnya mengenai gusinya sampai berdarah.

β€œ Astaga, β€œ gue sekarang duduk diatas tempat tidur sambil menunjuk plastik snacks itu. β€œ Lo buka dari tengah, nggak usah pake gigi segala. Dasar jorok. β€œ

β€œ Sorry dude, gue cuman denger nasihat orang yang masih hidup. β€œ dan dia merogoh tangannya masuk ke dalam plastik sementara matanya kembali terpaku ke Ranma 1/2.

Gue mengabaikannya dan kembali menyandarkan kepala ke atas bantal sementara mata gue tertuju lurus mengamati langit-langit ruangan. β€œ Kenapa lo iri sama gue? β€œ

β€œ Karena lo yang dianggap sebagai anak sah Bokap gue, β€œ jawabnya cepat. β€œ Simpel sebenarnya, gue mau harta bokap gue. Tapi ternyata, harta bokap gue cuman turun ke keluarganya yang sah, yaitu elo dan adek-adek lo. β€œ

β€œ Oh, β€œ gue melipat kedua tangan gue ke balik kepala. β€œ Fair point, kalau gue diposisi lo gue juga pasti bakalan devastated. β€œ

β€œ Ugh, gue nggak butuh duitnya tapi emak gue yang mau duitnya. β€œ katanya lagi, kesal mendengar respon gue barusan.

β€œ Kenapa? Bokap gue nggak ngebiayain hidup kalian sama sekali? β€œ tanya gue lagi, kali ini murni penuh dengan rasa penasaran.

β€œ Bokap β€˜kita’ ngebiayain keluarga gue, tapi bagi emak gue nggak pernah cukup. β€œ katanya sambil menghela napas. β€œ Jadi gara-gara itu, emak gue rada benci sama gue karena menurut dia, gue β€˜gagal’ bikinin emak gue jadi istri yang disayang Bokap. β€œ

β€œ Oke, β€œ gue nggak tahu harus ngomong apa lagi. β€œ Nggak enak juga kalau situasinya begitu. β€œ

β€œ Yep. β€œ jawabnya singkat lagi, lalu dia mengunyah Cheesy puff sampai mulutnya penuh.

Gue bolak-balik ganti gaya di atas tempat tidur sampai akhirnya gue mati gaya. β€œ Oke deh! Kalau begitu. β€œ Gue bangkit duduk di tepi tempat tidur dan menepuk-nepuk tempat tidur sambil tersenyum.

β€œ Nice to meet you, I guess? β€œ Tapi ketika gue ingin menjejakan kaki di lantai vynil anti-microbial, tahu-tahu kaki gue nggak bisa bergerak.

β€œ Nope, masih panjang waktunya. β€œ Kata laki-laki tersebut di belakang telinga sementara gue yakin, dia masih di lorong dan baru saja membalikan kertas korannya.

β€œ Ugh. β€œ Gue menghempaskan badan gue ke tempat tidur lagi. β€œ Selain iri, lo kenapa lagi sama gue? β€œ kata gue secara mendesak.

Virdi menoleh ke balik bahu untuk menatap gue sebelum dia membuang muka dan bilang, β€œ Oh, dan gue juga mantannya Leila juga. β€œ

Gue langsung duduk tegap di atas kasur dan merasakan jantung gue merosot dari rongganya. β€œ Nggak mungkin, β€œ kata gue cepat, mekanisme defensif gue terbangun. β€œ Dia nggak bakalan mau sama yang jauh lebih muda dari dia, sama gue aja dia malu sendiri. β€œ

β€œ Yeah, tapi gue beneran mantanan sama dia. β€œ kata Virdi sambil mengangkat bahunya. Dia menghela napas dan bilang, β€œ Tapi dia nggak tahu kalau gue saudaraan sama lo. β€œ

Tangan gue memegang bahu Virdi, tapi entah kenapa sesuatu menjerat masuk ke dalam tubuh gue lewat dari permukaan kulitnya. Gue mengedipkan mata berkali-kali sementara gue melihat wajah Leila yang belum gue pernah lihat sebelumnya, memegang muka gue dan lalu menempelkan bibirnya ke gue.

β€œ Virdi. β€œ suara Leila menggema di belakang tengkorak.

Gue menarik tangan gue dari bahu Virdi sementara rasa mual naik dari perut menuju ke tenggorokan. Refleks, gue memuntahkan semuanya dari perut gue ke samping tempat tidur. Saat gue melihat ke lantai, sama sekali nggak ada cairan muntah di sana dan Virdi cuman melihat gue dengan muka kaget.

β€œ Lo nggak apa-apa? β€œ Tanyanya, kedengarannya mengejek tapi gue merasakan ada rasa khawatir disana.

Lagi, gue menghempaskan badan gue ke belakang dan kali ini gue menutup mata gue dengan tangan kiri. Semua memori tentang Leila berhamburan masuk, saling menghimpit satu sama lain sehingga kepala gue rasanya seperti mau pecah. Setiap percakapan mereka baik dari yang nggak penting sampai ke pertengkaran mereka masuk ke dalam gendang telinga, tanpa sama sekali nggak ada yang bisa gue saring.

Gue mengerenyitkan dahi, sementara kaki gue tertekuk mengenai dada. Sampai pada akhirnya memori terakhir tentang mereka berdua masuk paling belakang diantara semua yang mendorong masuk secara paksa ke dalam tenggorokan, gue mual di sepanjang perjalanan dan terbatuk-batuk.

Dibalik mata gue, ada Leila.

Dan dia memanggil nama orang lain sambil menatap mata gue secara langsung.

*

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di