CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)



π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘸𝘦𝘯𝘡 𝘸𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘯π˜₯ 𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘀𝘰𝘢𝘭π˜₯ 𝘣𝘦 π˜₯𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘡𝘡𝘦𝘳

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«









profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
1


Gue minum kopi kebanyakan, dan sekarang gue melihat tubuh gue sendiri didalam peti mati. Ternyata ada yang namanya overdosis kafein, dan gue masih bisa merasakan pahitnya kopi di tenggorokan. Gue tentu pernah mendengar, bahwa pendengaran adalah panca indera terakhir yang pergi meninggalkan otak yang telah mati. Sungguh mengecewakan ternyata kata-kata terakhir yang gue dengar berasal dari orang yang sama sekali gue nggak kenal.

β€œβ€”kasihan dia masih 24 tapi mati muda, mulai besok kamu aku kurangin jatah ngopinya!”

Gue bahkan nggak sesuka itu dengan kopi.

3 Juni 1994 – 5 Mei 2018. Betapa pendeknya umur seorang Joshua Rizkinaldi.

Agak aneh dan canggung sebenarnya, menghadiri pemakaman diri sendiri. Dan menariknya, sekalipun gue bukan siapa-siapa, ternyata masih ada orang yang benar-benar tertarik untuk berada disini, menangisi ketiadaan gue, dengan memakai baju warna hitam yang paling elegan yang mereka punya. Padahal gue sendiri nggak melakukan apapun yang berdampak signifikan di dalam hidup mereka, tapi tetap saja tetes demi tetes air mata itu mengalir dari sudut mata. Mungkin mereka menangisi ekspetasi mereka terhadap gue yang nggak kesampaian.

Akhirnya.

Ternyata meninggal itu memang menyenangkan. Gue menunggu kesempatan ini sudah terlalu lama.

Dan ternyata gue nggak bisa melayang. Gue berjalan dengan baju yang gue pakai terakhir disaat semaput, menuju bangku lipat Chitose jelek, menunggu sesuatu terjadi entah apapun itu. Gue selalu fleksibel, gue nggak akan sedih kalau ditendang ke Neraka, dan juga nggak akan lega kalau di taruh di Surga. Jika ternyata dua-duanya sama sekali non-existent, maka gue akan tahu jawabannya. Tapi sekarang ini, gue sama butanya dengan manusia yang masih hidup.

Bahkan disaat gue mati, gue masih nggak tahu apa-apa soal kematian.

Saat punggung gue menembus sandaran punggung bangku Chitose, tahu-tahu gue terjatuh di dapur yang mengepul aroma cabai. Panik, gue berusaha jalan merangkak menembus tembok. Siapa tahu gue kembali lagi ke sepetak tanah dimana β€˜gue’ ditakdirkan untuk membusuk selamanya. Seseorangβ€”entah itu malaikat atau setan sedang menunggu gue disana! Tapi justru badan gue menembus ke kamar serba warna putih yang rapi, lalu ganti menembus ke kamar mandi yang habis di sikat lantainya dengan Portex. Gue kembali menembus tembok dan berdiri di belakang seseorang cewek yang sedang memasak. Mata gue melihat ke segala penjuru ruangan dengan perasaan waswas. Di meja makan terdapat tujuh kotak tupperware yang terbuka dan sudah terisi lauk. Gue melihat salmon, nasi putih dengan serbuk seaweed yang masih mengeluarkan panas. β€œOh, dia sedang bikin meal prep untuk seminggu.” Pikir gue seterusnya. β€œOke, terus kenapa gue bisa berada disini?”

Penasaran, gue berjalan ke samping cewek yang memunggungi gue untuk melihat wajahnya. Tapi gue sudah tahu siapa dia. Semua ini terlalu tipikal. Tentu saja, dia adalah cewek yang selalu gue takutkan adalah jodoh yang terlewat.

Dan dia bernama Leila.

Setengah berharap, Leila tetiba bisa melihat hantu lalu β€˜kaget’ dan mendadak menangisi kematian gue. Tapi dia terus memasak, sedikit-sedikit mengecek rasa dan menambah boncabe level 30 ke sayap ayam yang sudah berwarna cokelat kental. Melihat tumpukan bumbu boncabe yang ditumpahkan dari toples plastik kecil itu menggelitik hemmoroid gue yang seukuran leunca. Gue sudah 24 jam mati, tapi gue bisa merasakan asam lambung yang melambung naik membuat maag akut gue kambuh lewat aroma pedas yang mengumpul di ruangan.

Tapi setelah gue berhenti untuk bersikap dramatik, perasaan mual itu hilang dengan sendirinya.

Gue merosot duduk berjongkok didekat kaki Leila. Kedua mata terpejam, sementara suara kompor yang menyala dan gesekan sumpit kayu panjang di wok berbahan besi baja berukuran medium, membuat segala sesuatunya membingungkan dan menyakitkan disaat yang sama.

Jika saja gue mempertahankan Leila, mungkin kata-kata terakhir yang gue dengar berasal dari pita suaranya.

Apapun yang dia katakan, jauh lebih berarti daripada perkataan Emak-emak yang ketakutan suaminya mati keracunan kafein.

Dan sekarang gue penasaran, apa yang bakalan dia katakan kalau memang dia tahu gue meninggal?

β€œ Sampai kapan lo mau duduk disitu? Disitu kan jorok, karena deket tempat sampah. β€œ

Mata gue terbelalak, dan gue mendongak menatapnya. Dia mematikan kompor, hanya untuk berdiri sambil melipat kedua tangannya menghadap gue.

Lalu semuanya menjadi jelas. Oh, betapa tipikal nya semua ini. Fase berikutnya nggak akan terbuka didepan gue, kalau gue belum menyesali kehidupan gue berakhir dengan sia-sia. Seseorang menjebak gue dengan membuat gue terlempar kesini, menghadapi jodoh yang gue lewatkan. Seseorang ingin menenggelamkan gue ke dalam lautan penuh penyesalan.

β€œ Leila. β€œ kata gue setelah lama bingung mau berkata apa. Tapi lalu gue tersenyum, detik berikutnya bilang. β€œ Ternyata lo yang menang, gue memang nggak bisa β€˜hidup’ tanpa lo. β€œ

*
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan indrag057 memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di