CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)



π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘸𝘦𝘯𝘡 𝘸𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘯π˜₯ 𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘀𝘰𝘢𝘭π˜₯ 𝘣𝘦 π˜₯𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘡𝘡𝘦𝘳

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«









profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
7


Bokap menjemput gue di sekolah, dan entah kenapa dia memutuskan untuk berhenti di Indomaret untuk membeli sesuatu. Dia menawarkan gue untuk ambil apapun yang gue butuhkan saat dia mendorong pintu kaca, dan aroma plastik bercampur lantai yang baru di pel menyerbu indera penciuman gue.

Leila suka cokelat, sehingga gue mengambil dua Cadburry untuk β€˜persembahan’ hari besok. Toh, besok PORSENI hari terakhir. Hari dimana gue bakalan manggung, mainin lagu Mr.Brightside dengan gitar listrik. Jantung gue langsung berdegup gugup setiap kali memikirkan bahwa besok ada pacar gue yang nontonin gue manggung. Meskipun gue tahu, Leila nggak bakalan menganggap tingkat kemahiran gue dalam main gitar yang intermediate dengan terkagum-kagum. Karena ibunya musisi, dan gue baru tahu itu belakangan.

Melihat muka bokap gue membuat gue langsung teringat dengan Virdi. Bulu kuduk gue di belakang leher berdiri disaat memori Virdi berkelebat di balik kelopak mata. Tapi, gue sedikit-banyaknya berterimakasih terhadap Virdi. Karena lewat memorinya, gue bisa melihat Leila sewaktu SMA.

Dan sekarang gue jadi sedih sendiri, sementara sekarang kaki gue mengikuti Bokap gue yang mengambil satu-persatu barang-barang β€˜rumah’ seperti pelembut pakaian, detergent, dan beberapa bungkus besar Chicken nugget, satu liter cola dan dua bungkus kentang goreng beku.

Gue langsung sadar, bahwa hal tersebut nggak bakalan dibawa pulang ke Rumah gue melainkan langsung ke Virdi. Mengingat betapa bencinya nyokap gue dengan sesuatu yang tinggi kalori dan cepat saji.

Bokap gue sebenarnya adalah back end programmer di salah satu perusahaan e-commerce terkenal di Indonesia. Gajinya lumayan, tapi yang membuat dia sebenar-benarnya bisa hidup diatas kata β€˜nyaman’ karena Kakek gue orang kaya. Dan Bokap adalah anak laki satu-satunya yang Kakek punya. Kakek gue masih hidup, tapi sudah jelas kemana akhirnya hartanya bakalan diwariskan.

Gue menaruh dua batang cokelat itu diatas meja kasir dan lalu memandangi muka Bokap gue dari samping. Tangan gue, iseng, menjulur ke sisi lengannya yang berbulu untuk melihat ke dalam memorinya.

Lalu semua itu mengalir, seperti tenggelam sejenak dan hidung gue dipenuhi aroma kaporit. Memori itu menghujam kepala gue, menusuk setiap sel otak, meminta untuk ditonton.

Dan sekalipun gue benci dia karena perselingkuhannya, sekarang gue jadi nggak bisa menyalahkan dia. Karena sejak awal, gue sadar bahwa Nyokap nggak pernah membiarkan Bokap gue untuk menceraikan dirinya. Dan posisi Nyokap sebagai menantu yang disayang Kakek gue juga sama sekali nggak membantu, mengingat Bokap menghormati Kakek gue sedemikian rupa sampai-sampai dia rela untuk tidak menceraikan Nyokap–selama Kakek masih hidup.

Dulu, gue sama sekali nggak sadar bahwa Bokap memiliki kehidupan ganda dibalik matanya yang selalu memancarkan sinar pesimistik. Sekarang, setelah menyelami setiap kenangannya. Gue cuma bisa merasakan kesedihan yang gue tutupi dengan ekspresi datar.

Bokap nggak bisa mendatangi pemakaman gue. Bukannya nggak mau, tapi dia sendiri juga sudah meninggal lebih dahulu ketimbang gue. Dia bahkan nggak mau repot-repot bikin surat bunuh diri, karena dia ingin membawa rahasianya sampai ke dalam peristirahatan terakhir.

Meskipun pada akhirnya, semua menjadi jelas pada kematian gue juga. Tapi gue sama sekali nggak bisa memahami dia, satu kalipun ketika gue masih hidup.

Bokap mengangkat dua plastik berat itu dengan kedua tangan sementara gue jalan didepannya, mendorongkan pintu kaca itu lalu menahannya sebentar untuk Bokap gue. Bokap gue tersenyum, dan tetapi dia lanjut membuka pintu mobilnya lewat kunci otomatis.

Gue melihat belakang kepalanya dan merasa ingin menangis.

Kenangan ini, adalah kenangan kedua yang paling kuat dan sering menghantui gue di belakangan hari.

Gue nggak mau merusaknya dengan menghujami dia dengan hujatan. Tapi, apakah dia bakalan senang kalau seandainya gue bilang ke dia bahwa gue β€˜mengerti’ sebagian dari penderitaannya?

Bahwa gue sekarang melihat dia sebagai manusia, seutuhnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tanpa mengekspetasi apapun dari dia?

β€œ Nggak ada yang mau lo omongin ke dia? β€œ

Mata gue melihat ke cermin belakang mobil dan memandangi Laki-laki berpakaian rapi, yang menguarkan aroma rokok dan kayu oak. Lagi-lagi mengepit koran di ketiaknya sementara dia duduk dengan kaki terbuka selebar mungkin.

Gue menggelengkan kepala dan membuang muka. Tangan gue menarik sabuk seatbelt dan lalu memasangnya. Sementara Bokap gue menyalakan audio music didalam mobil. Lalu parfum mobil bau cemara itu menyeruak ke setiap sudut mobil sementara mesin menderu dengan lembut di belakang telinga gue.

*



profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di