CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)



π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘸𝘦𝘯𝘡 𝘸𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘯π˜₯ 𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘀𝘰𝘢𝘭π˜₯ 𝘣𝘦 π˜₯𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘡𝘡𝘦𝘳

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«









profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
2



Dulu sekali, sebelum algoritma Tinder mempertemukan gue dengan Leila lagi, gue sudah bertemu Leila sewaktu berumur 13 tahun, karena kita sekolah di SMP yang sama. Leila lebih tua setahun, dan memiliki kebiasaan telat yang membuatnya sering dihukum dengan berbagai macam hukuman. Setiap pagi setelah bel selalu ada perkumpulan di kelas paling ujung di lantai dua, khusus untuk yang beragama Kristiani. Membuat gue secara tidak langsung terpaku ke arahnya. Mungkin, perkumpulan itu cuma satu-satunya kesempatan gue untuk melihat ke arah dia. Karena entah kenapa, Leila selain hobi telat dia memiliki penyakit IQ tiarap, yang membuatnya selalu berada di kelas yang berbeda.

Dan gue tahu dia selalu punya pacar. Gue tahu itu dari Gian, temen sekelasnya yang juga satu agama. Sekalipun Gian itu cowok, entah kenapa dia yang paling dekat dengan Leila dan sedikit-banyaknya membuat gue cemburu. Leila suka menyandarkan kepalanya ke bahu Gian ketika perkumpulan, lalu mereka ngobrol bisik-bisik.

Disaat itu, untuk pertama kalinya gue berharap gue menjadi seseorang yang bukan β€˜gue’.

Lalu Gian bilang, β€œ Kalau elo beneran suka sama Leila, Cuma ini saatnya lo nembak dia. β€œ katanya disaat ngumpul bareng di kelas gue yang kosong karena Sekolah sedang mengadakan kegiatan PORSENI, ngomongin cewek dan Point Blank.

Gue menatap Gian, tertarik dan penasaran saling menyatu. β€œ Kenapa? Dia putus dari cowoknya? β€œ

β€œ Ya, tapi selain cowoknya yang sekarang, dia juga lagi dideketin Kakak kelas. Dari kelas 8-7. β€œ jawab Gian pendek, menenggak aqua gelas dalam tiga kali teguk lalu bangkit berdiri dari bangku didepan gue. β€œ Gerak cepet lo sebelum keduluan lagi. β€œ

Sehingga dalam keadaan panik, gue menyusun rencana dengan Gian. Rencana dimana gue menunggu di dekat tangga lantai bawah, dengan perasaan yang nggak pasti, menunggu Gian menggiring Leila ke tempat gue.

Dan sisanya menjadi sejarah. Gue macarin Leila, sekalipun cuman bertahan satu tahun lebih sebelum Leila mutusin gue karena kita pergi ke Sekolah yang berbeda. Sakit hati, gue menghapus semua tweet gue soal dia, foto kita berdua yang makan tempat 500 mega byte di handphone gue format ulang, membakar tiket nonton di tempat sampah depan rumah, dan berjanji bahwa gue yang akan duluan keluar sebagai orang yang move on paling pertama dari hubungan ini.

Lalu Leila menghilang. Gue nggak pernah mendengar kabarnya satu kalipun, bahkan Gian juga putus kontak dari Leila.

Di SMA gue, yang tahu Leila cuma satu orang dan dia kakak kelas gue, tapi dia pun tutup mulut nggak mau ngomongin Leila seakan-akan Leila adalah topik yang tabu. Dan gue, tentu saja, ketemu lagi satu orang dan gue macarin dia. Tapi sesuatu tentang Leila yang membuat gue sering berhenti berjalan, hanya untuk memperhatikan kerumunan orang, berharap salah satunya adalah dia.

Disaat itu juga, untuk pertama kalinya gue berharap seseorang untuk mati.

Gue berharap Leila untuk mati, karena kalau dia memang benar-benar mati, gue nggak akan berharap bahwa hubungan kita adalah meant to be, dan salah gue hubungan itu berakhir sia-sia. Gue juga nggak akan meneliti satu-persatu wajah di tempat yang ramai akan orang, berharap Leila berdiri di radius lima meter dari gue, karena gue tahu dia dimakan ulat di tanah.

Perasaan aneh itu berubah menjadi kemarahan yang nggak mendasar. Gue marah sama dia karena gue nggak tahu apa-apa soal dia. Gue kesal karena dia selalu seperti seseorang yang nothing to lose, dia nggak masalah pergi menghilang dari kehidupan orang-orang yang dia kenal, nggak perduli seberapa dekatnya dia dengan mereka. Gue marah karena seharusnya gue sudah move on, dan hubungan kita berdua juga nggak akan bisa diperpanjang lagi umurnya, gue pikir gue sudah terima kenyataan itu karena gue juga sudah macarin orang lain setelah dia.

Lalu fotonya muncul di Tinder, dan tentu saja setelahnya semua menjadi jelas.

Gue ingin balikan lagi. Tapi entah kenapa, gue nggak mau terima kenyataan itu dan menganggapnya sebagai β€˜kekalahan’.

Dan untuk pertama kalinya, gue menelan ego gue, tepat ketika ibu jari gue swipe kanan nama Leila. Mata gue terpejam, jantung gue berdetak keras sampai-sampai gue bisa mendengarnya di belakang telinga. Saat mata gue terbuka, ada notifikasi error. Leila menghapus permanen akun Tindernya. Dan tampaknya, gue sekali lagi kehilangan dia.

*

β€œ Hei, Leila. β€œ kata gue, duduk jongkok di dekat kakinya sambil menutup muka gue dengan kedua tangan. β€œ Astaga, gue nggak mau disini. Gue mau pergi dari sini. β€œ Kata gue bangkit berdiri dan langsung berderap jalan ke pintu keluar.

Leila nggak menahan gue, dia masih terpaku dengan tangan melipat didepan dada. Kepalanya menunduk dan lalu melihat gue sambil menggeleng-gelengkan kepala. β€œ Oke, hati-hati dijalan kalau gitu. β€œ katanya tanpa basa-basi.

Gue langsung berhenti didepan pintu dan melihat ke balik bahu. Leila menarik bangku didepan meja makan yang menghadap pintu keluar, memandangi punggung gue. β€œ Kenapa lo bisa meninggal? β€œ tanya nya sambil mencuil salmon dari salah satu kotak tupperware yang berderet di atas meja makan. β€œ Lo kan masih muda, lo udah bosen hidup? β€œ

Badan gue memutar ke arahnya dan lalu tangan gue menunjuk ke arah Leila. β€œ Lo sendiri kenapa ngapus akun Tinder lo? Gue udah swipe kanan! Tapi tahu-tahu lo ilang lagi. Kenapa lo blocked semua temen-temen lo? Kenapa lo putus kontak dari kita semua? β€œ

Leila menatap mata gue dan lalu mendenguskan napas. β€œ Gue bikin Tinder karena gue marah sama cowok gue, tapi pas kita baikan, gue hapus akun gue. β€œ lalu dia mengambil sendok dan mulai makan dari kotak tupperware. β€œ Gue selalu begitu, gue nggak pernah mau berhubungan lagi sama temen-temen sekolah gue, itu udah jadi modus operandi gue. β€œ

β€œ Kenapa? β€œ Tanya gue masih nggak percaya.

Leila mengedipkan mata. β€œ Karena lebih gampang begitu. β€œ Lalu dia bangkit berdiri sambil mengangkat kotak tupperware nya, menyendoki sayap ayam ke atas nasi putih. Gue menatap dia terus-menerus sampai Leila duduk lagi di bangku yang sama.

Gue meneliti kedua tangan Leila, mencari-cari cincin diantaranya. β€œ Lo belum kimpoi? Ini rumah siapa? β€œ

β€œ Gua udah kimpoi tolol. β€œ Jawab Leila sambil mengunyah. Lalu dia menarikan bangku disampingnya, matanya menatap gue dan bangku itu secara bergantian. β€œ Duduk sini, ayo kita ngobrol. β€œ

Gue mengikuti perintahnya, tapi mata gue nggak lepas menatap dia. Badan gue duduk di bangku yang ditarikin Leila dan lalu melihat dia mengunyah makanan. β€œ Enak? β€œ tanya gue. Leila menatap gue sambil menganggukan kepala.

β€œ Ya entah kenapa gue jadi bisa masak, β€œ lalu dia mendengus tertawa. β€œ Berkat bantuan emak-emak dari Cookpad. β€œ

Gue tersenyum tipis lalu tangan gue ditaruh diatas meja makan untuk menopang muka gue. Kepala gue tetap terpaku ke arah Leila, β€œ Lo suka minum kopi nggak? β€œ

β€œ Nggak, gue lebih milih minum teh hijau. Kenapa? β€œ

Gue mendengus. β€œ Gue mati gara-gara minum kopi kebanyakan, gue baru tau ternyata manusia bisa overdosis kafein. β€œ

β€œ Nggak usah kopi, kita juga bisa mati gara-gara overdosis air. β€œ jawab Leila cepat. β€œ Terus lo nyesel nggak mati gara-gara minum kopi? β€œ

β€œ Awalnya nggak, malah kesannya jadi lucu. β€œ Gue kini menempelkan dagu diatas meja. β€œ Kalau gue tahu bahwa manusia bisa overdosis kafein, mungkin gue nggak bakalan segila itu minum kopinya. β€œ

Gue terdiam sebentar. β€œ Bahkan gue nggak suka kopi sampai segitunya. β€œ

β€œ Duduk yang bener, ntar bengkok tulang punggung lo. β€œ Kata Leila, sambil memakan sayap ayam dengan tangan kosong.

β€œ Udah nggak penting lagi, kan udah mati juga gue. β€œ

β€œ Hmm, bener juga. β€œ

Lalu gue menegakan badan dan menatap lurus ke tembok didepan gue. β€œ Karena gue sudah mati, kayaknya sekarang waktunya yang tepat untuk bilang ini ke elo. β€œ

β€œ Nggak. β€œ Tolak Leila mentah-mentah. β€œ Gue nggak mau tahu apapun soal lo. β€œ

Gue nggak memperdulikannya. β€œ Tiga bulan sebelum gue mati, Gue datang ke reunian rohani kristen SMP kita. β€œ Leila menggerang sambil menggigit daging sayap ayam. β€œ Disana, gue berharap bahwa lo dateng, tapi lo nggak pernah dateng. Semua orang suka ngebahas lo, mereka nggak ngejelekin elo, malah mereka kayak kagum sama lo. β€œ

Leila diam saja tapi jelas sekali bahwa dia mendengarkan. β€œ Lo bener-bener ngilang, sama sekali nggak ada social media yang nyisa, Facebook lo hapus, Instagram mungkin lo buat tapi nggak follow siapa-siapa, nggak ada yang tahu lo dimana. β€œ

Mata gue melihat ke Leila. β€œ Gue pun, asal lo tahu, kalau lagi jalan ke Mall atau ke Gramedia, gue masih suka nyariin lo. Beberapa kali ketemu cewek yang mirip sama elo, tapi gue tahu elo bukan mereka. Jadi, pulangnya agak sedih. β€œ

β€œ Dan nggak ada yang bisa gue kenang dari lo, karena setiap foto β€˜kita’ udah gue apus-apusin karena waktu itu gue, jujur aja, marah bareng sama lo. Jadi, gue minta Gian dan siapapun itu yang kira-kira punya foto lo. Cuma untuk ngebayangin gedenya lo kayak apa. β€œ

Gue menarik napas panjang. β€œ Gue minta maaf Leila, gue milih keputusan yang salah. Gue tahu lo yang mutusin gue, tapi gue bisa ngeyakinin untuk kita tetep pacaran. Seharusnya kita nggak putus, kita bisa long distance, gue tahu kita bisa. β€œ Leila masih saja makan sementara gue menatap dia dengan tatapan sendu. β€œ Lo pernah nggak sih sekalipun mikirin gue? Karena gue suka mikirin lo, β€œ.

Leila menarik selembar tisu dari kotak tisu, menaruh tulang ayam yang bersih dari daging diatasnya lalu melipatnya. Kemudian dia menarik tisu lagi untuk membersihkan jarinya yang bekas makan ayam. Mata gue mengikuti setiap pergerakan Leila, meneliti ekspresi mukanya yang masih lempeng. Lalu, dia menatap tepat di mata gue. β€œ Gue sempet beberapa tahun mimpi lo setiap malam. β€œ

Mata gue terbelalak. β€œ Mimpi? β€œ

β€œ Ya, mimpi. β€œ Leila menutup kotak tupperware yang sudah habis dan menggesernya ke arah tembok. β€œ Gue mimpi kita masih sekolah, gue selalu ngelihat lo dari jauh, seakan-akan kita putus pas masih sekolah. β€œ

β€œ Tapi β€˜kan kita putus pas udah sama-sama lulus. β€œ Kata gue menegaskan.

β€œ Iya gue tahu, tapi saking seringnya gue mimpi begitu. Memori gue soal hubungan kita jadi sempet ketuker gitu. Gue sempet percaya, bahwa pas SMP, kita putus dan akhirannya gue selalu ngelihat lo dari jauh. β€œ

Leila tersenyum. β€œ Setuju nggak sih? Pas kita pacaran, setiap memorinya seakan-akan jauh lebih bagus daripada kenyataannya? β€œ

Tangan gue terangkat dan menaruh diatas punggung tangan Leila. Leila melihat punggung tangan gue sementara gue bilang, β€œ Menurut gue, β€˜seharusnya’ kita jodoh. β€œ

Leila menghela napas sambil melihat ke arah tangan gue. β€œ Gue bahkan udah nggak bisa ngerasa apa-apa dari badan lo. β€œ Katanya yang membuat mata gue melihat ke tangan kita berdua. β€œ Sebenar-benarnya, gue makin kesini makin yakin justru kita nggak bakalan cocok. Pasti ujung-ujungnya pisah lagi kalaupun dipaksa. β€œ

β€œ Kenapa? β€œ

β€œ Karena lo religius, dan gue nggak. Lo pengen anak, dan gue benci anak-anak. Lo ambisinya tinggi, dan gue juga, makanya kita nggak bakalan cocok. β€œ kata Leila menerangkan semuanya.

β€œ Gue nggak sereligius yang lo pikir. β€œ tegas gue.

β€œ Gue tahu darimana coba? Dunia kita udah beda. β€œ kata Leila cepat. β€œ Gue tahu lo udah mati sekarang, tapi yang gue maksud adalah pas kita berdua sama-sama hidup, dunia kita udah beda. β€œ

β€œ Nggak sebeda yang lo pikirin.” Kata gue. β€œ Gue bohong, asal lo tahu gue selalu ingin balikan. Ada sesuatu tentang lo yang bikin gueβ€”β€œ

β€œ Sesuatu tentang gue? β€œ Leila membuang muka. β€œ Lo salah tangkep, yang membuat β€˜gue’ seakan-akan meant to be itu cuman perasaan nostalgia aja. Seperti yang gue bilang sebelumnya, memori gue sama lo seakan-akan jauh lebih indah daripada kenyataannya. Karena otak kita pilih-pilih, mereka cuman pingin kasih bagian yang sempurna aja. β€œ

Gue mengerutkan dahi. β€œ Tapi kalau memang begitu kenyataannya, terus kenapa gue disini? β€œ

Leila menatap gue tepat di mata lagi. β€œ Ya, lo kenapa disini? β€œ

β€œ Gue pikir, β€˜seseorang’ mengirim gue ke tempat lo supaya gue menyesal, dan kalau sudah menyesal baru boleh pergi ke fase berikutnya. β€œ Kata gue jujur. β€œ Leila, β€œ gue menatap matanya. β€œ Lo bener-bener nggak nganggep bahwa gue jodoh lo yang kelewat? β€œ

β€œ Astaganaga, Joshua. β€œ Leila menatap muka gue dengan nggak percaya. β€œ Jangan kirim gue balik ke masa-masa kelam itu. Sekarang gue udah happy, semua udah ada di tangan gue. Gue bener-bener di posisi yang positif sekarang. β€œ

β€œ Leila, mungkin sekarang bener-bener terakhir kalinya kita bisa ngobrol kayak gini. β€œ Kata gue mendesak. β€œ Jawab gue yang jujur! Lo nggak mikir bahwa gue adalah jodoh lo? Bahwa kita seharusnyaβ€”β€œ

Leila sekarang menangis. β€œ Joshua, lo jangan begini. Lo harus mikirin gue juga, gue masih hidup dan udah nikah juga. β€œ

β€œ Jawab yang jujur, Leila. β€œ Kata gue pelan dengan lirih.

Leila menatap lurus ke tembok. β€œ Ada sesuatu tentang lo juga yang membuat semuanya jadi ribet. β€œ dia menarik selembar tisu dari kotak tisu untuk menyeka air mata. β€œ Tapi kita beda, gue nggak kayak elo, gue tahu bahwa kita seharusnya pisah, bahwa kita emang nggak ditakdirkan buat bareng. β€œ

Tahu-tahu air didalam galon aqua mengeluarkan banyak gelembung yang membuat Leila melonjak kaget. Leila bangkit berdiri dari kursi untuk mencuci tangan di bak cuci piring dan kemudian dia berjalan ke arah gue sambil mengeringkan tangan dengan handuk kecil.

Secara tidak langsung, gue tahu, bahwa pembicaraan sudah selesai dan nggak ada lagi yang perlu diungkapkan. Karena semua sudah terlalu terlambat, dan nggak ada yang bisa kita perbuat tentang hal tersebut.

Setelah gue perlahan-lahan kembali tenang, air didalam galon aqua berhenti menggelonjak dan semua kembali sunyi. Sunyi ini sekalipun singkat rasanya seperti selamanya, tapi Leila mematahkan kesunyian itu dengan berkata. β€œ Kasih tahu gue kalau ternyata manusia bisa reinkarnasi. β€œ

Gue kembali menatapnya sambil mendenguskan napas. β€œ Gue sama butanya sama lo, gue nggak tahu apa-apa soal protokol orang mati. β€œ

β€œ Ah, β€œ Leila menaruh handuk kecil di dekat kompor. β€œ Mungkin disaat lo β€˜akhirnya’ tahu, semuanya sudah terlalu terlambat. Jadi gue nggak akan pernah tahu. β€œ

Gue tersenyum. β€œ Sama seperti hubungan kita. β€œ badan gue bangkit berdiri, kembali berjalan menuju pintu. β€œ Dan asal lo tahu, gue tetep bersikeras bahwa lo adalah jodoh gue. β€œ

β€œ Terserah, tapi gueβ€”β€œ

β€œ Lo baik-baik disini, dan sorry gue terlalu terlambat buat ngasih tahu semuanya. β€œ Kata gue sambil tersenyum selebar mungkin. β€œ Doain gue untuk nggak gentayangan kelamaan di Dunia sini, oke? β€œ

Leila menghela napas sambil balas tersenyum. β€œ Oke. Nggak janji, tapi oke. β€œ

β€œ Auf widersehen! β€œ kata gue sambil melempar tangan hormat di samping kening. Gue nggak menunggu balasannya, dan berjalan menembus pintu. Tepat di sebelah kiri gue, gue melihat ada Cowok yang membawa dua keranjang kucing di masing-masing tangan lalu menembus badan gue untuk mengetuk pintu putih di belakang gue.

β€œ Beb, β€œ katanya sambil menaruh dua keranjang itu disisi badan. Lalu dia mengetuk pintu itu untuk kedua kalinya.

Pintu itu langsung dibuka dan Leila ganti mengangkat dua keranjang kucing itu ke dalam rumahnya, tanpa melihat ke arah gue sama sekali.

Gue berjalan menuju lorong apartement dan mendengar suara pintu dikunci di belakang gue. Di depan gue terdapat lift kosong dengan pintu terbuka, tanpa berpikir panjang gue masuk ke dalamnya. Setelah gue masuk, lift itu naik ke lantai yang paling atas dan perlahan-lahan pintu besi itu terbuka.

Seseorang laki-laki memakai kemeja putih dengan lengan yang dilipat di siku dan celana kain berwarna hitam yang disetrika rapi, berdiri di samping gue sambil berkata. β€œ Gimana rasanya? Lega? β€œ

β€œ Ternyata sama sekali nggak menyelesaikan masalah. β€œ Jawab gue jujur sambil menghela napas. β€œ Apakah abis ini gue bisa langsung pergi ke tahap selanjutnya? β€œ

β€œ Kenapa buru-buru amat? β€œ Tanyanya sambil tersenyum mengejek dengan tatapan yang melihat gue dari sudut mata. β€œ Nanti juga bakalan tahu kalau waktunya sudah tepat. β€œ

β€œ Kapan? β€œ tanya gue sambil melihat cermin didalam lift, yang tentu saja tidak menampilkan kita berdua.

Laki-laki tersebut mengabaikan pertanyaan gue. Pintu lift menutup ketika Laki-laki tersebut menekan tombol Lower Ground.

*

GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di