KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9bbca2ddd77096058b456c/riding-to-jannah

Riding to Jannah

Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 13

Part 18 - Kita

Dina langsung dibawa oleh petugas medis dan ditangani disana. Aku dan Nuri langsung menemani Dina di ruangan tempat ia dibawa. Beberapa saat kemudian, aku mendapat telefon dari Alyssa.
Alyssa: Assalamualaikum, Di. Kok telefonku ga di angkat terus?
Aku: Oh, kamu nelfon ya? Maaf aku gatau
Alyssa: Gimana bisa gatau? Dari tadi aku telefonin kamu *nadanya sedikit meninggi
Aku: Maaf Lis
Alyssa: Kamu kenapa?
Aku: Riko
Alyssa: Kenapa Di?
Aku: Riko kecelakaan
Alyssa: Inalillahi, terus sekarang gimana?
Aku: Dia meninggal pas dibawa ke rumah sakit
Alyssa: Inalillahi wainnalillahi rajiun. Kamu yang sabar ya
Aku: Iya Lis
Alyssa: Sekarang kamu lagi dimana?
Aku: Aku lagi dirumah sakit. Dina pingsan
Alyssa: Yaampun. Terus dia baik-baik aja kan?
Aku: Mungkin dia syok
Alyssa: Yaudah, kamu kabari aku ya. Dina juga kan sahabatku
Aku: Iya Lis. Dan aku minta maaf soal telfon tadi
Alyssa: Gapapa sayang. Yaudah kamu bantuin dulu ya. Jangan lupa kabari aku
Aku: Iya Lis.

Aku duduk di ruang tunggu. Menunggu semua hal yang mungkin saja terjadi. Meski aku tidak tahu penyebab kenapa Dina dan Riko bisa bertengkar, tapi aku yakin Dina tak pernah punya maksud seperti itu. Memang pasti Dina akan merasa kalau dia sudah membuat kekasihnya itu meninggal dunia. Tapi ini merupakan skenario yang Tuhan buat.
Nuri: Kak
Aku: Iya?
Nuri: Kak Dina udah sadar
Aku: Oh iyah, kamu jaga dulu sebentar lagi kakak kesana

Riko adalah seorang lelaki yang selalu memegang janjinya. Ia benar-benar seorang lelaki sejati yang dapat membuktikan setiap ucapannya. Riko merupakan orang yang sangat peduli terhadap lingkungannya. Riko juga merupakan pendengar yang baik, dan terlihat dewasa. Mungkin itulah kenapa Dina sangat menyukai Riko. Riko, perfect. Selamat jalan kawan. Kebaikanmu akan selalu kami ingat.

Dua hari kemudian, jasad Riko dimakamkan di kampung halamannya. Masih dalam suasana berduka, aku baru saja tiba dirumah setelah perjalananku dari kampung halaman alm Riko saat ikut membantu proses pemakaman Sungguh berat jika seseorang yang kita kubur itu adalah sahabat sendiri. Hari ini aku tetap menjalani aktivitasku seperti biasa. Sore hari, aku mendapat telefon dari Alyssa.
Aku: Assalamualaikum Lis
Alyssa: Waalaikumussalam. Sayang
Aku: Iya Lis ada apa?
Alyssa: Aku lagi di bandara, aku mau berangkat ke Bandung. Sekitar jam 5 mungkin aku baru tiba disana
Aku: Loh kok cepet?
Alyssa: Gapapa, Di. Aku cuma kangen kamu aja
Aku: Emm, baiklah, nanti aku jemput ya
Alyssa: Yaudah, pintu keberangkatan udah dibuka, aku berangkat sayang
Aku: Iya, hati-hati.

Sambil menunggu Alyssa, aku memutuskan untuk ke kafe yang selalu aku dan Alyssa datangi. Dan lokasi kafe inipun tak terlalu jauh dari bandara Husein. Aku membuka handphoneku, terlihat fotoku dan Alyssa sebagai wallpaper Hpku. Foto ini diambil ketika aku dan Alyssa berlibur ke pantai. Kenapa aku memilih kafe? WIFI. Aku melihat beberapa chat terdahulu dengan Alyssa. Melihatnya membuatku ingin tertawa sendiri. Aku melihat fotonya satu persatu. Ia terlihat cantik. Sangat cantik. Tak aku sangka Alyssa akan membuatku serindu ini. Satu jam lebih sudah aku disini. Hpku berdering, terlihat layar tertuliskan nama Alyssa. Dengan antusias aku langsung mengangkatnya.
Aku: Hallo, assalamualaikum
Alyssa: Waalaikumussalam, Ardi
Aku: Iya Lis. Kamu udah sampai?
Alyssa: Udah, ini mau keluar. Kamu dimana?
Aku: Aku di kafe yang biasa kita datengin kok. Aku kesana ya sekarang
Alyssa: Iya, kamu hati-hati sayang.
Aku: Iya Lis.

Dengan segera setelah aku membayar bill aku langsung meluncur ke bandara menjemput Alyssa yang tengah menungguku. Seketika ia melihat kearahku, ia langsung tersenyum manis.
Alyssa: Hei, lama yah *sambil memelukku
Aku: Engga kok. Yuk pulang
Alyssa: Kita ke kafe dulu yuk
Aku: Emm boleh. Yuk.

Aku pergi menuju kafe dimana aku dan teman-temanku sering berkumpul. Bukan kafe yang tadi. Disanalah terakhir kali aku bertemu dengan Riko. Berkumpul bersama. Saat kami berjalan masuk dan Alyssa menggandengku, ia menunjuk ke meja sudut. Disana, aku lihat Dina sedang duduk seorang diri sambil menikmati minuman yang ia pesan. Alyssa langsung mengajakku untuk menghampiri Dina.
Alyssa: Dina
Dina: Alyssa? Heeiii
Alyssa: Lo apa kabar
Dina: Gue baik, Lis. Lo apakabar?
Alyssa: Gue baik.
Dina: Gabung aja sini.
Aku: Ko sendirian aja?
Dina: Gapapa Di. Gue pengen menyendiri aja\
Aku: Lo masih sedih dengan kepergian Riko?
Dina: Engga kok Di, gue udah ikhlas.

Dina dan Alyssapun nampak saling berbincang dengan topik yang sama sekali tak aku mengerti. Yah, urusan cewek. Sementara aku sendiri sibuk dengan handphoneku dengan WIFI yang tersambung. Sembari memainkan HP, aku memanggil yang lain untuk datang kemari. Azril dan Dimas mengiyakan ajakanku untuk berkumpul bersama. Oh ya, Dimas juga berkata bahwa ia akan mengajak Vivi untuk datang. Vivi dikabarkan membaik dan diperbolehkan untuk pulang. Sekitar 20 menit, mereka datang bersamaan. Alyssa nampak sedikit kaget melihat Dimas datang bersama Vivi. Alyssa menatapku dengan penuh tanya
Aku: Gapapa Lis
Azril: Wadahh udah pada ngumpul aja
Aku: Dari tadi Ril
Dina: Kalian pake apa?
Dimas: Dijemput sama Azril pake mobil
Dina: Duduk dong. Eh ini siapa? Pacar barunya Dimas?
Vivi: Kenalin, gue Vivi. Temennya Dimas

Vivipun memperkenalkan diri pada semuanya, termasuk pada Alyssa. Namun aku lihat ada sedikit wajah tak terima dari Alyssa dengan kedatangan Vivi dan Dimas. Aku mendekati Alyssa dan berbisik “Jangan seperti itu. Lupakan masalalu” Alyssa langsung menatapku dan tersenyum sambil mengangguk kecil.
Dimas: Di, gue boleh ngobrol sebentar sama Alyssa?
Alyssa: Ngapain?
Dimas: Ada hal penting yang mau gue bicarakan

Alyssa melihat kearahku seperti meminta persetujuan dariku. Aku mengangguk tersenyum menyetujui. Alyssa dan Dimaspun pindah meja untuk obrolan pribadi tersebut.
Dina: Lo bener temennya Dimas?
Vivi: Iya, kenapa kak?
Dina: Jangan panggil kakak, panggil Dina aja hehe
Vivi: Em iya.
Dina: Kok kayanya deket banget ya gitu
Vivi: Iya, sebenernya sih kami emang lagi deket
Dina: Oooh gitu.

Aku rasa, Vivi akan cepat akrab dengan kami semua. Mungkinkah Vivi hadir untuk menggantikan posisi Riko? Entahlah. Yang jelas, kami sangat menikmati kebersamaan ini. Lalu Alyssa dan Dimaspun kembali.
Aku: Ngapain tadi?
Alyssa: Ada deh
Aku: Nah kan gitu.
Dina: Ga ada rencana touring lagi?
Azril: Ada sih, tapi gue rasa, pake mobil lebih enak kali ya
Aku: Iya sih, bibsa bareng-bareng juga
Dimas: Tapi mau pake mobil siapa?
Azril: Kalau 6 seat cukup kali yah
Aku: Cukup lah.
Azril: Yaudah pake mobil gue aja kalau gitu.
Dina: Eh, emang mau kapan?
Aku: Gue paling weekend lagi.
Alyssa: Gue ngikut Ardi aja
Azril: Eh emang mau kemana dulu ini?
Dimas: Camping sesekali boleh juga tuh
Vivi: Boleh, gue ikut dong
Aku: Kuat?
Vivi: Kuat, insyaAllah
Alyssa: Yaudah, kapan dong ini?
Azril: Weekend pada libur?
Dina: Gue libur sih
Azril: Yang lain?
Dimas: Libur juga sih.
Azril: Yaudah fix, akhir minggu ini gimana?

Kami kembali merencanakan perjalanan kami untuk berlibur. Kali ini kami memutuskan untuk camping di daerah Lembang. Masih di nuansa rapat menuju liburan, waktu menunjukkan pukul 8 malam. Dimas dan Vivi sudah pulang sejak tadi, sementara Azril dengan Dina masih bersamaku dan Alyssa. Ya aku akan pulang bersama Alyssa.
Alyssa: Ardi, kita pulang yu
Dina: Zril, gue nebeng yah
Azril: Okeh
Aku: Din, Ril, kita duluan ya.
Dina: Iya, hati-hati. Jaga Alyssa tuh
Aku: Pasti lah
Azril: Yaudah, nanti kabar-kabarin aja
Aku: Oke dah

Aku dan Alyssapun pulang kerumah. Malam ini, Nuri tidak menginap dirumah Alyssa karena Alyssapun baru saja pulang dan belum ada persiapan Nuri untuk kembali menemani Alyssa.
Alyssa: Ardi
Aku: Iya?
Alyssa: Nanti kerumahku dulu ya.
Aku: Ngapain Lis?
Alyssa: Temenin aku beres-beres rumah
Aku: Eh buset. Yaudah iya deh
Alyssa: Gitu dong *sambil memelukku

Setibanya dirumah, kami langsung masuk tanpa menutup pintu depan. Alyssa langsung menuju kamarnya, sedangkan aku duduk di ruang tengah sambil menunggunya. Aku mengeluarkan HP dari saku celanaku dan memasang headset ditelingaku. Aku bersandar di sofa memberikan hak yang diminta oleh tubuhku. Tak butuh waktu lama, aku malah terlelap. Entah berapa menit aku terlelap, Alyssa membangunkanku.
Alyssa: Ardi. Makan yuk. Aku udah masak
Aku: Eh, Lis. Sekarang jam berapa?
Alyssa: Jam 10, Di
Aku: Aku harus pulang Lis
Alyssa: Ga makan dulu? Lagian lagi hujan juga Di
Aku: Hah? Hujan?

Aku langsung buru-buru bangkit dan melihat keluar. Benar saja, hujan sedang turun. Kenapa selalu turun disaat yang tepat, eh disaat yang tidak tepat.
Alyssa: Ardi
Aku: Aku pulang yah
Alyssa: Tapi hujan Di. Aku juga udah masak, kita makan dulu ya
Aku: Selarut ini?
Alyssa: Heem. Lapeer hehe
Aku: Buset, makannya
Alyssa: Temenin dulu, sambil nunggu hujan reda kan
Aku: Iya sih
Alyssa: Ardi
Aku: Iya Lis kenapa?

Alyssa tiba-tiba memelukku. Malam semakin larut, hujan mulai berhenti sekitar jam 11 malam. Ini sudah larut. Jika aku terus disini, bisa-bisa menimbulkan hal yang diinginkan. Eh, tidak diinginkan.
Aku: Udah larut Lis, aku pulang ya
Alyssa: Iya Di. Hati-hati yah
Aku: Inget besok jangan lupa
Alyssa: Apa?
Aku: Bangun
Alyssa: Iisshh parah deh . . .
Aku: Yaudah, kamu langsung tidur ya, udah larut
Alyssa: Iya, kamu juga yah

Akupun diantar keluar oleh Alyssa dan memulai perjalananku menuju rumah. Setibanya aku dirumah, lampu sudah gelap. Aku mengetuk pintu dan seseorang membuka pintu. Nuri.
Aku: Kamu belum tidur de?
Nuri: Belum, nunggu kakak lama iih
Aku: Maaf ya, kan hujan.
Nuri: Yaudah sini jaketnya aku simpenin
Aku: Ga usah, biar kakak aja
Nuri: Kakak udah makan?
Aku: Udah tadi dirumah Alyssa
Nuri: Oh yaudah, aku ke kamar ya kak
Aku: Iya de


Beberapa hari berlalu. Hari ini kami kembali melaksanakan apa yang sudah kami rencanakan dulu. Camping. Kami memutuskan untuk pergi ke Lembang. Aku menunggu dirumah Alyssa bersamanya. Azril mengabari kalau ia akan menjemput kami.
Alyssa: Kamu ga ada yang ketinggalan? Bawaan kamu sedikit banget. Tas kamu yang lain mana?
Aku: Engga ada
Alyssa: Ish masa cuma bawa ransel kecil?
Aku: Kita mau camping Lis, bukan mau pindahan
Alyssa: Iya, tapi masa kamu ga bawa peralatan sih
Aku: Kamu lupa ya, kita kan berenam. Jadi pasti bisa saling bantu
Alyssa: Semoga yah. Dan kamu jangan bikin repot
Aku: Enak aja. Kamu yang bikin repot.


*Tiiiinnn . . . * suara klakson mobil terdengar dari luar
Aku: Itu kayanaya mereka deh
Alyssa: Iyah, yaudah yuk

Aku dan Alyssapun keluar setelah memastikan tidak ada yang tertinggal lagi. Kamipun masuk ke mobilnya Azril. Didepan adalah Azril sebagai pengemudi, di bangku kedua tentunya Dimas dengan Vivi.
Azril: Pintu belakang buka aja dulu, simpen tas kalian
Aku: Oke oke
Alyssa: Gue di belakang aja ya sama Ardi.
Azril: Iya terserah. Asal jangan berbuat yang diinginkan hahaha
Alyssa: Huuu . . .

profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan NoMaLz memberi reputasi
Diubah oleh neopo
Good story moga ga ada kentang whahaa..
Riding to Janah = pacaran sampe menikah dg Alyssa emoticon-Big Grin
Tulisannya rapih gan mantap betul, semangat buat updatenya
wah kena quote gaib..
komen dulu, siap tarawih baru baca... emoticon-Big Grin
wah ternyata ada update yah emoticon-Angkat Beer
cerita bagus.. sayang update nya lama 😀😣
Quote:

emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
Quote:

siap emoticon-Big Grin
Quote:

emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin siap
Quote:

ada emoticon-Big Grin
Quote:

Sabar masih on progress emoticon-Big Grin
profile-picture
telahmemblok memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post neopo
Quote:


Belum update lagi gan?
Akhirnya, update lagi setelah sekian lama, selamat menjalankan ibadah puasa gan
profile-picture
benjahred memberi reputasi

Part 19 - Camping

Kami berangkat pada jam dua siang. Selama perjalanan, para makhluk didepanku saling berbincang-bincang. Sementara Alyssa dan aku hanya diam mendengarkan lagu Taylor Swift yang berjudul “You Belong with Me”



Entah kenapa aku malah berfikiran aneh mendengarkan lagu ini. Jika kudengar liriknya menunjukkan bahwa ada seorang perempuan yang menyukai seorang pria, namun pria tersebut seperti tidak bahagia dengan kekasihnya. Dan perempuan itulah yang selama ini selalu hadir untuknya.
Alyssa: Kok kaya kita yah lagunya
Aku: Kita gimana?
Alyssa: Ya dulu aku lagi berantem, kamu ada buat aku, dan akhirnya saling jatuh cinta hehe
Oh ternyata yang ia fikirkan sama denganku.
Aku: Oh, jadi kamu cinta sama aku? *bisikku padanya
Alyssa: Iiissh jadi gituuu
Aku: Bercanda iihh
Alyssa: Jelek tau
Aku: Biarin, jelek juga punya pacar
Alyssa: Siapa?
Aku: Yang nanya
Alyssa: Ardiii . . . . . ! ! ! *sambil memberiku seribu pukulan

Setelah satu jam perjalanan, kami tiba ditujuan. Tidak, belum. Kami parkir di tempat yang sudah disediakan. Dan darisitu, kami harus berjalan kembali menuju tempat camping. Para lelaki membawa barang yang sedikit berat, sementara para gadis membawa peralatan ringan. Bukan diperbudak, tapi kasian kalau cewek suruh bawa yang berat. Alyssa membawa ransel kecilku dan sebuah tas kecil miliknya. Sementara aku membawakan tas Carrier Bag milik Alyssa. Selama perjalanan, kami saling membantu satu sama lain. Misal, para lelaki membawa barang-barang para gadis. Sementara para gadis membantu kami dengan memberi semangat.

Sesampainya kami dispot camping, kami beristirahat sebentar. Tidak hanya kami, tapi banyak juga yang berekreasi disini, bahkan ada yang camping juga disini. Kami langsung disuguhi dengan pemandangan kota Bandung yang indah. Meski jarak pandangnya terbatas, tapi masih bisa melihat gedung dari atas sini. Aku menyimpan tas Alyssa ditanah dan aku gunakan sebagai bantal untuk berbaring sejenak.
Alyssa: Iiishh jangan ditidurin
Aku: Cape Lis ih
Alyssa: Iya tapi jangan tas aku juga yang dipake tidur
Aku: Bodo amat ah
Alyssa: Ardiii . . . . *sambil menarik tanganku

Akupun bangun dan mengubah posisiku menjadi duduk. Sore hari menjelang matahari terbenam, kami mulai mendirikan tenda. Hanya dua tenda yang kami gunakan. Yaitu untuk kaum lelaki dan wanita. Kulihat Dina mulai mengeluarkan perbekalan dari dalam tasnya. Dan para gadis kembali berkumpul dan berbincang-bincang mengenai tema yang sama sekali tak aku mengerti. Sementara aku berbaring saja di tenda. Azril dan Dimas pergi mengambil gambar sekitar.
Alyssa: Ga ikut yang lain?
Aku: Cape ah
Alyssa: Keluar yuk
Aku: Kemana?
Alyssa: Liat sekeliling aja. Kayanya enak suasananya dipuncak

Aku bangun dan duduk disamping Alyssa. Kulihat rambutnya tertiup angin. Oh dia terlihat begitu cantik. Beruntungnya aku memiliki dia. Atau mungkin, kasihannya dia karena punya cowok kaya aku? Hahaha. Aku mengikuti keinginannya untuk keliling. Alyssa membawa kameranya bersamaku. Kami duduk disebuah tempat yang menghadap langsung ke perkotaan.
Alyssa: Ardi
Aku: Iya?
Alyssa: Kita seperti bom waktu ya?
Aku: Maksud kamu?
Alyssa: Kalau lulus, aku akan pindah ke Bali. Apakah kisah kita berakhir disaat itu?
Aku: Engga, Lis. Jangan ngomong gitu.
Alyssa: Aku takut aja. Karena ga sedikit orang yang gagal menjalani LDR
Aku: Itu mereka Lis. Bukan kita.
Alyssa: Aku hanya takut Lis
Aku: Kamu tau apa yang bisa membuat sebuah hubungan itu bertahan?
Alyssa: Cinta?
Aku: Bukan, Lis. Tapi kepercayaan

Alyssa menatapku sayu. Begitu banyak kata yang tidak bisa terucap dari dalam diriku atas kebahagiaanku memilikinya. Aku tidak tahu banyak tentang urusan percintaan. Tetapi ibu pernah berkata padaku. "Sayangi wanitamu kelak, sama seperti kamu menyayangi ibu".
Alyssa: Ardi
Aku: Iya Lis?
Alyssa: Liatnya gitu banget hehe
Aku: Em maaf

Tiba-tiba Azril memanggil kami. Kamipun berkumpul bersama dan mulai membagi tugas kembali untuk persiapan makan malam. Seiring waktu berjalan, matahari mulai tenggelam. Langit sudah berubah warna menjadi oranye. Kami semua duduk ditempat dimana aku dan Alyssa duduk tadi. Kami duduk berenam dengan posisi (Vivi, Alyssa, Dina, Azril, Dimas, Aku). Kami juga sempat meminta foto kepada salah seorang pengunjung yang ada disitu. Aku memasang headsetku dan mendengarkan lagu dari handphoneku.

Spoiler for Ilustrasi:


Selama beberapa saat kami menikmati sang matahari yang hendak berganti shift dengan rembulan. Suasana begitu terasa damai. Ditambah dengan alunan lagu instrumental yang aku dengarkan dari headsetku. Azril beranjak dan kembali ke tenda, diikuti yang lain. Sementara Alyssa beranjak untuk duduk disampingku. Alyssa menyandarkan kepalanya kepundakku, dan aku memasangkan salah satu headsetku di telinganya. Lagu yang kami dengarkan adalah salah satu lagu yang tidak asing lagi bagi kalian. Lagu dimana seorang anak perempuan datang ke gunung menemui seorang lelaki (tokoh utama) dalam game Harvest Moon Back to Nature. Namun ini merupakan versi loopnya dan sedikit di aransemen.



Alyssa: Senja indah bukan?
Aku: Iya Lis
Alyssa: Ini lagu apa?
Aku: Lagu dari game hehe
Alyssa: Kok cocok yah hehe
Aku: Iya, soalnya kan lagu ini dimulai ketika tokoh utama bertemu seorang anak perempuan di gunung. Lalu mereka saling bercerita di puncak. Dan anak perempuan itu merupakan gadis yang si tokoh utama itu nikahi nanti
Alyssa: Bagus ya hehe. Romantis gitu

Aku membayangkan bahwa akulah tokoh utama dalam game itu dan Alyssa merupakan gadisnya. Hahaha konyol bukan? Itulah aku yang mulai berkhayal sesuatu yang mungkin terdengar aneh.
Alyssa: Dingin, Di
Aku: Kamu udah pake jaket masih dingin?
Alyssa: Hehe. Ardi
Aku: Iya
Alyssa: Kita akan bisa terus lihat matahari terbenam kan?
Aku: Tentu saja

Matahari mulai tenggelam. Langitpun mulai gelap. Aku kembali bergabung bersama yang lainnya di tenda. Kami berkumpul di tengah diantara tenda perempuan dengan laki-laki. Menggelar sebuah terpal dan kami gunakan untuk shalat magrib disitu. Selepas shalat magrib, Aku dan Dimas membuat sebuah api unggun kecil dan kami duduk melingkar dengan posisi laki-laki perempuan.
Dina: Cerita-cerita yuk
Azril: Cerita apaan?
Dina: Cerita horor gitu
Dimas: Gue ada nih
Dina: Gimana?
Dimas: Cewek gue diambil orang
Aku: Elu belum pernah kelilipan tai burung?
Dimas: Bercanda hahaha
Dina: Euuuhh . . . gibeng juga da
Azril: Baru juga jam segini, ya kurang seru. Nanti pas udah agak sepi baru rame
Aku: Gue mau kebelakang bentar

Entah kenapa moodku tiba-tiba hilang begitu saja. Entah karena ucapan Dimas tadi, atau memang suasana hatiku yang sedang tak enak karena terfikirkan sesuatu. Tetapi yang jelas tiba-tiba aku ingin sendirian.
Azril: Kemana? Ngambek ah
Aku: Engga, gue mau cari angin aja
Dina: Yaaah ngambek dia
Aku: Kaga

Akupun berlalu menjauh dari mereka dan berjalan entah kemana. Yang jelas masih tetap sekitaran area perkemahan ini. Aku duduk disebuah batu menghadap kearah kota. Terlihat lampu kota mulai menyala dan mengisi kegelapan dibawah sana.
Seseorang: Damai bukan?
profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan telahmemblok memberi reputasi
Diubah oleh neopo
Tentu saja damai, aku tuh penikmat senja entah digunung atau dipantai. Saat aku sedang gundah atau gabut aku suka liat senja buat mengembaliin mood boosterku.
Aku suka liat senja dan menikmati pergntian siang jadi malam. Eh btw, itu campingnya dimana yak, didaerah lembanngkah?
Quote:


Yup di Lembang
keren om ada soundtrack nya 😎😁
astogeh mau update malah bluescreen 😡
profile-picture
telahmemblok memberi reputasi

Part 20 - Keluarga Kecil

Tentu aku merasa damai. Aku melihat ke sumber suara tersebut. Dan ia ikut duduk denganku.
Dina: Gue boleh ngobrol?
Aku: Iya, tapi...
Dina: Gue udah bilang kok ke Alyssa
Aku: Oke
Dina: Eh kenapa lo tiba-tiba pisah?
Aku: Gapapa, kan udah bilang mau cari angin
Dina: Lo kesel ya sama ucapan Dimas?
Aku: Yaa ada lah
Dina: Yaa gitu lah dia. Kadang ceplas ceplos
Aku: Lo sendiri ngapain?
Dina: Sama cari angin. Eh iya, gue boleh tanya sesuatu?
Aku: Tanya aja
Dina: Sebelum Riko pergi, lo liat sesuatu yang beda ga dari dia?

Aku mengkerutkan keningku seraya aku melihat kearahnya. Aku berfikir sejenak berusaha mengingat apapun itu
Aku: Ga ada Din. Hanya Riko lebih sibuk sama lo
Dina: Gue ngerasa ada yang berubah dari dia
Aku: Berubah gimana?
Dina: Perhatiannya lebih dari biasanya. Dia selalu hadir disaat gue susah. Bahkan dia pernah rela bolos kerja hanya demi jaga gue saat gue sakit. Sampai dia hampir dikeluarkan dari tempat kerjanya
Aku: Lalu?
Dina: Gue marah-marah karena masalah kecil. Dan hari itu ternyata hari terakhir kalinya ia tersenyum buat gue
Aku: Lo masih sedih?
Dina: Gue ngerasa bersalah. Hanya karena masalah kecil, emosi gue mengalahkan akal sehat gue
Aku: Gue tau lo itu perempuan yang kuat Din. Kalau gue ada di posisi lo, gue mungkin sudah ga bisa mengendalikan diri gue. Tapi lo masih bisa ceria. Riko juga pasti senang lihat lo bahagia.
Dina: Gue benci sama diri gue sendiri
Aku: Din, masa lalu itu ga bisa diubah. Tapi lo bisa perbaiki di masa mendatang. Doain Riko adalah jalan terbaik saat ini.
Dina: Gue kangen Riko, Di

Aku dapat melihat Dina benar-benar merasa bersalah pada dirinya. Mungkin Dina meminta pendapatku karena aku lebih dekat dengan Riko. Dina mulai tertunduk berusaha menyembunyikan airmatanya. Apa yang bisa aku perbuat? Menenangkannya? Mungkin sebaiknya aku biarkan ia melepas semuanya.
Aku: Lo lepasin aja semua, biar lega
Dina: Gue bodoh
Aku: Lo ga boleh ngomong kaya gitu. Masih ada gue, Alyssa, dan yang lainnya. Lo ga akan pernah sendiri.

Dina mencoba menghapus airmatanya dan menatapku. Ia tersenyum kecil sambil berusaha menghapus airmatanya
Dina: Makasih Di
Aku: Yaudah, gue masih pengen disini, lo masih mau disini atau mau gabung?
Dina: Gue gabung sama yang lain deh, ga enak sama Alyssa
Aku: Yaudah

Dina pun berdiri dan hendak kembali bergabung dengan yang lain. Tetapi, kurasakan ia kembali mendekatiku dan berbisik padaku
Dina: Alyssa beruntung punya lo

Aku melihatnya, ia hanya tersenyum, dan akupun hanya membalas dengan senyuman saja. Aku kembali memasang headset ditelingaku dan mendengarkan musik dari handphoneku. Aku meletakan kedua lenganku dan melipatnya diatas lutut sebagai tumpuan. Aku memejamkan mata namun tak tidur. Tak berfikiran apa-apa, hanya menghayati alunan musik yang sedang aku dengarkan. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang
Alyssa: Sayang kamu ngapain disini
Aku: Eh kamu Lis
Alyssa: Aku temenin ya
Aku: Boleh kok
Alyssa: Ardi
Aku: Iya Alyssa
Alyssa: Mau? *sambil menyodorkan snack
Aku: Mau dong

Kami berdua duduk bersama sambil menatap keindahan kota Bandung dari atas sini. Alyssa bersandar dipundakku dan tangannya melingkar ditubuhku. Aku menatapnya sejenak ia terlihat manis sekali mengenakan topi kupluk panjang seperti kupluk reggae namun berwarna coklat polos. Sebagian rambut panjangnya tidak dimasukkan dan sedikit tertiup angin.
Aku: Kamu cantik Lis
Alyssa: Ardi... Malu *sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya
Aku: Kamu cantik banget Lisa
Alyssa: Aku sayang kamu Ardi
Aku: Aku lebih sayang kamu
Alyssa: Di, kamu janji kan bakal temenin aku terus?
Aku: Aku janji Lis.
Alyssa: Aku seneng dengernya. Boleh aku tidur disandaranmu?
Aku: Tentu Lisa

Beberapa saat aku terdiam dengan lenganku digenggan erat oleh Alyssa. Aku terfikirkan tentang situasi nanti dimana mungkin Alyssa akan pindah ke Bali jika sudah lulus kuliah. Apakah itu berarti aku akan menjalani hubungan jarak jauh? Atau lebih buruk, hubunganku dengan Alyssa berakhir? Atau mungkinkah aku melamar Alyssa ketika sudah lulus nanti? Mungkin saja. Semua bisa terjadi atas kehendak Allah. Untuk saat ini, aku ingin fokus pada diriku. Namun tetap memperjuangkan apa yang seharusnya aku perjuangkan.

Sekitar jam 10 malam, kami berkumpul di dekat tenda kami. Azril dan Dimas sedang mengobrol di dalam tenda, sementara aku masih diluar tenda berusaha membuat api unggun ini tetap menyala. Beberapa orang yang camping disini ada yang masih beraktivitas dan ada yang sudah beristirahat.
Azril: Di
Aku: Oy
Azril: Ga akan tidur?
Aku: Ntaran lah, lagi pewe gue
Azril: Cewek-cewek udah tidur?
Aku: Gatau, tendanya ditutup
Azril: Intip lah
Aku: Ah elu, ada ada aja. Ayok lah

Aku dan Azrilpun bangkit dan menghampiri tenda para gadis. Perlahan tapi pasti kami mengendap-endap. Sampai tiba-tiba

*DUARR ! ! !*

Azril: Astagfirullah
Dina: Ngapain lo, ngintipin kita ya
Azril: Enak aja
Aku: Ngaku aja sih hahaha
Azril: Ah elu juga sama aja
Alyssa: Ooohh jadi mulai nakal yah sekarang *sambil menarik telingaku
Aku: Ampun ampun . .
Azril: Mampos hahaha
Dina: Lo juga sama aja *sambil menarik telinga Azril
Azril: Ampun ampun nona manis
Dina: Ngegoda lagi yah
Alyssa: Ngapain ngintip-ngintip? Ga cukup ketemu serahian?
Aku: Ga gitu, bercanda doang
Alyssa: Jelek Ardiii , , , , ! ! !
Aku: Iya iya, maaf, lepas atuh, sakit
Alyssa: Huuu.
Dina: Kalian ga tidur? Dimas mana?
Azril: Bentar lagi, Dimas udah tumbang di tenda. Vivi mana?
Vivi: Ada gue *katanya sambil keluar dari tenda
Aku: Kalian kenapa ga tidur?
Alyssa: Ini mau, tadi ngobrol-ngobrol dulu sambil ngemil.
Azril: Yaudah gue juga ke tenda dulu. Di, ikut?
Aku: Lo duluan aja
Azril: Yaudah gue masuk
Alyssa: Kamu jangan tidur kemaleman. Disini dingin
Aku: Iya Lisa

Semua sudah masuk ke tenda, kecuali aku yang masih duduk didepan api unggun yang mulai mengecil. Aku berbaring diatas terpal yang kami gunakan sebagai alas duduk tadi. Sambil memasang headset ditelingaku, aku menutup mataku sejenak. Entah berapa lama, tetapi aku masih dapat merasakan hembusan angin yang meniup tubuhku. Ketika aku membuka mata, aku melihat Alyssa sedang duduk disampingku sambil tersenyum.
Alyssa: Sayangku
Aku: Kenapa Lisa?
Alyssa: Jaga dirimu baik-baik
Aku: Maksudmu apa bicara begitu?
Alyssa: Aku akan pergi
Aku: Apa maksud kamu Lis?
Alyssa: Sayang
Aku: Lis?
Alyssa: Temukan kebahagiaanmu, dengan atau tanpa aku *tersenyum manis banget
Aku: Dengan kamu aku bahagia
Alyssa: Terima kasih
Aku: Alyssa??

Aku terbangun dan langsung duduk. Aku tersadar bahwa itu semua hanya mimpi. Diluar sini aku seorang diri. Aku terdiam sambil menatap handphone dan ini sudah jam satu malam. Udara dingin, tapi kenapa aku berkeringat? Aku mematikan musik dari headsetku dan masih dengan terfikirkan mimpi tadi, aku kembali merebahkan tubuhku di terpal itu. Tak butuh waktu lama, aku tertidur. Pada subuh, aku terbangun oleh alarm di handphoneku. Aku langsung mengambil wudhu dan shalat subuh. Setelah shalat subuh aku melihat teman-temanku masih dalam keadaan tertidur. Aku menyalakan kembali api unggun ini karena udara lebih dingin ketika subuh. Aku pergi ke bukit bagian belakang. Terlihat langit mulai terang disana, dan matahari terbit akan muncul darisana. Ada beberapa orang yang sudah berkumpul disana. Aku bergabung dengan mereka dan duduk disebuah batu kecil.
Seseorang: Sendirian mas?
Aku: Temen saya belum bangun hehe
Seseorang: Eh iya, saya Bagas
Aku: Saya Ardi
Bagas: Dingin kalau pagi ya
Aku: Banget mas hehe. Masnya sama siapa?
Bagas: Sama temen-temen reunian, tuh lagi pada ngumpul. Masnya sendiri?
Aku: Saya sama temen-temen touring mas, sama pacar saya juga
Bagas: Asiiik hahaha
Seseorang: Kamu lagi apa?

Aku menoleh dan ternyata sumber suara itu adalah Alyssa. Ia masih mengenakan jaket tebalnya
Alyssa: Ngapain Di?
Aku: Engga, nunggu sunrise aja nih. Kamu udah bangun, udah solat?
Alyssa: Udah dong
Bagas: Ini ceweknya mas?
Aku: Iya, kenalin, ini Alyssa. Lis, ini Bagas

Sambil menunggu matahari terbit, kami mengobrol seputaran tentang diri masing-masing. Sampai waktu tak terasa, matahari mulai memberikan sinar lebih terang kepada langit.
Alyssa: Indah ya Di
Aku: Sangat

Alyssa menggenggam lenganku dengan erat. Tiba-tiba aku teringat mimpi semalam. Apa maksud mumpi tersebut? Apakah itu hanya bunga tidurku, atau pertanda sesuatu? Aku tidak tahu.
Alyssa: Kamu kenapa Di?
Aku: Eh, engga kok. Aku bahagia bisa sama kamu Lis
Alyssa: Aku juga. Tapi kamu harus tetap bahagia, dengan atau tanpa aku

Kata-katanya sama seperti yang ia ucapkan dalam mimpiku.
Aku: Kamu kok ngomong gitu?
Alyssa: Aku akan bikin kamu bahagia. Meski tanpaku, kamu juga harus terus bahagia ya
Aku: Kamu adalah kebahagiaanku Lis
Alyssa: Terima kasih banyak sayangku

Setelah menyaksikan matahari terbit, semua sudah berkumpul dan sedang mempersiapkan untuk sarapan. Sementara Alyssa bergabung dengan yang lain, aku malah beristirahat karena tidur semalam tak begitu nyenyak. Ditambah dengan mimpi aneh semalam. Aku harap itu bukan pertanda. Ketika para gadis selesai memasak, kami semua sarapan bersama didepan tenda.
Dina: Nanti kita pulang jam berapa?
Azril: Agak sorean aja, kita main-main dulu aja
Dimas: Kemana?
Azril: Ya keliling lah, kita foto-foto dulu. Gimana?
Dina: Gue ikut yang lain aja, Lo gimana Lis? Vi?
Vivi: Ayo aja
Alyssa: Ayo
Azril: Berati deal ya, kita foto-foto dulu

Setelah sarapan dan bersiap-siap, kami mulai perjalanan kami mengelilingi kawasan pegunungan ini. Kami juga mengambil beberapa foto. Tidak hanya satu kamera, kami membawa beberapa kamera, dan Alyssa adalah salah satunya.
Dimas: Coba lo foto sama Alyssa
Alyssa: Ayok Di

Dimas mengambil beberapa fotoku dan Alyssa. Alyssa juga bergaya dengan berbagai pose, sementara aku hanya berdiri dengan memasukkan tanganku ke jaket saja. Saat kami melihat hasilnya, ada satu foto yang sangat aku dan Alyssa sukai. Aku berpose seperti biasa, dan Alyssa sedang menggandengku sambil menatap kearahku, dan aku juga sedang menatap kearahnya dengan background pohon-pohon yang begitu tinggi.
Aku: Dim, nanti cetak foto ini ya
Dimas: Gampang
Aku: Lo mau gue fotoin bareng Vivi?
Dimas: Ah, gue mah gampang. Si Azril tuh, sama si Dina. Combaling sekalian hahaha
Aku: Bisa bisa . .
Alyssa: Bener juga yah
Aku: Tapi Dina kayanya masih belum bisa buka hati buat orang
Vivi: Yaaa hati ga ada yang tau kan
Aku: Iya sih.

Hari itu, setelah kami semua berfoto, kami bersiap untuk kembali ke Bandung. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dan kami benar-benar siap untuk turun kebawah, kami memulai perjalanan. Singkat cerita, kami semua berkumpul di rumah Alyssa sebagai tempat peristirahatan kami. Aku dan Alyssa membawakan camilan dan minuman untuk yang lainnya. Kami sudah seperti tuan rumah, padahal tuan rumahnya adalah Alyssa. Sementara aku hanyalah tamu. Malam hari, kami semua berpamitan untuk pulang, termasuk aku.
Alyssa: Ardi
Aku: Iya Lis?
Alyssa: Besok kerumah ya
Aku: Iya insyaAllah
Alyssa: Ajak Nuri juga hehe
Aku: Iya Lisa. Yaudah aku pulang ya, udah malem, salam buat bibi
Alyssa: Iya bawel

Alyssa berdiri didepanku, ia mencium pipiku dan tersenyum. Aku mengusap kepalanya dan berpamitan padanya. Setibanya dirumah, seperti biasa Nuri menyambutku dengan sejuta pesanan, yah meski dengan tubuh yang lelah, aku mencoba menjawab setiap pertanyaannya, termasuk tentang aku dan Alyssa. Aku juga memperlihatkan foto-foto selama aku disana
Nuri: Kakak itu baguuuuss . . .
Aku: Iya dong hehe
Nuri: Ajak aku kesana kak
Aku: Nanti aku ajak deh kapan-kapan
Nuri: Janji yah
Aku: InsyaAllah

Beberapa hari kemudian, aku sedang mengikuti perkuliahan di kampus. Saat itu hari sedang panasnya. Bahkan aku ke kampus saja hanya mengenakan kemeja dan rompi saja. Alyssa tidak ada kuliah hari ini, tetapi ia mengabariku bahwa ia akan kembali ke Bali karena ada keperluan disana. Tanggal 13 April ia akan berangkat. Pada awalnya ia tetap mengajakku untuk ikut, tetapi keadaanku yang sedang banyak tugas membuatku tidak bisa ikut dengannya. Maafkan Lis
Guntur: Di, minggu depan kita ada kerkom ya di kosan Riza
Aku: Oh oke oke, tanggal 13 ya?
Guntur: Iya, soalnya kan kita dua minggu lagi presentasi
Aku: Siap siap. Eh, tapi jam berapa?
Guntur: Sore, sampai malem sih, lo bisa?
Aku: Oh oke deh, tapi telat-telat dikit gapapa kan?
Guntur: Emang lo mau kemana?
Aku: Nganter cewek gue ke bandara
Guntur: Oh, yaudah, asal lo dateng aja. Biar tau tupoksinya
Aku: Oke oke

Sepulang kuliah ,Alyssa chat padaku, ia memintaku menemaninya ke toko buku. Akupun mengiyakan saja permintaannya dan langsung meluncur kesana. Setibanya aku dirumah Alyssa, ia sudah terlihat cantik sedang menungguku untuk pergi.
Alyssa: Ardii
Aku: Udah siap cantik?
Alyssa: Udah dong, yuk. *sambil mengangguk kecil

Ketika dia ngomong “yuk” sumpah, gemes banget.
wakwakwak... ngintipin cewek matanya bintilan nnti gan.. hhaha


dina, jewer nya yg kenceng, biar lepas tuh telinga.. emoticon-Leh Uga
Gemes pengen nyubit pipinya yg comel y gan wkwkwk..
Mimpi dan kata2 yg d ucapkan Alysa seperti sebuah firasat dia akan pergi jauh ninggalin dunia ini. Mudah2an dia gk knapa2.
Quote:

Itu penyiksaan emoticon-Wakaka
Quote:

Pasti kena pipi haha
Quote:


Gk lahir batin kan gan?
haduihh mudah2an bukan pertanda buruk dr mimpinya ya kang ..aamiin ..
Halaman 7 dari 13


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di