CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9bbca2ddd77096058b456c/riding-to-jannah

Riding to Jannah



Profil Penulis :
  • Callsign: Neopo
  • Sosial Media: Instagram, Whatsapp, Kaskus (by request)
  • Software: Microsoft Word 2013
  • Pembuatan: September 2018
  • Menulis karena mencintainya


Don't choose the one who is beautiful to the world. But rather, choose the one who makes your world beautiful. Keep her close to Allah. Keep him close to Allah. Together for Jannah. I want love that will say: "Not even death will do us part, because we'll be reunited in jannah, insyaallah”

Welcome to my thread. Dimana disini kalian diperbolehkan untuk mengkritik, memberi saran, share, dan memposting komentar yang sekiranya bermanfaat baik bagi penulis ataupun pembaca. Fiksi atau non fiksi, semoga bukan menjadi masalah bagi pembaca. Karena penulis harap bisa memberikan banyak manfaat kepada orang-orang melalui tulisan yang tidak seberapa ini. Terima kasih.


Tokoh :
  • Ardian - Aku, pria dengan tinggi 176cm yang hobinya main motor
  • Azril Riswan - Sahabat sejak kuliah, beda jurusan tapi masih satu fakultas
  • Elriko - Kenalan saat pertama kali touring, so cool but nice guy
  • Dina Resti - Bagiku dia perfect, tetapi sedikit cerewet
  • Alyssa Erica - Gadis cerdas dan sangat mempedulikan lingkungannya
  • Rofila Afifah - Kakakku yang cantik, cerewet tapi selalu bisa jaga adik-adiknya
  • Nuri Freska - Adikku yang sangat manja, segalanya harus dituruti, tapi ia juga penurut
  • Raden Dimas - Sometime good guy, sometimes bad guy (dalam arti sifat, bukan tindakan menyimpang)
  • Lutvia Anissa - Mantan Dimas, pendiam, baik hati
  • Linda Aurelia - Agak pendiam, hobinya nyanyi dan yang penting, seksi hahaha



profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh neopo

Part 35 - 7 Desember

Sudah lama aku ga ngumpul sama anak-anak yang lain. Selain sibuk kuliah, aku juga harus bekerja malam harinya. Sebenarnya kalau ga kepaksa aku ga akan mau kerja kaya gini. Pulang malem udah kaya apa aja. Aku masih ingat malam itu Ardi bersedia jemput aku, bahkan saat itu hujan turun, dia rela ngasih jaketnya buatku. Tinggal dirumah tanpa orang tua rasanya sepi. Hanya ada bibi yang selalu membantu segala keperluanku. Bahkan aku merasa bibi seperti ibuku. Dan orangtuaku seperti sudah ga ada lagi. Meski sesekali mereka menghubungiku sekedar bertanya kabar dan bagaimana kondisi keuanganku disini. Tapi bukan itu yang aku butuhin dari mereka. Aku hanya butuh kehadiran mereka. Hari ini 7 Desember, merupakan hari kelahiranku. Siapa lagi kalau bukan ibi yang mengucapkan selamat hari jadi untukku.

Aku memutuskan untuk pergi ke kafe dimana dulu sering banget nongkrong bareng anak-anak. Aku jadi teringat saat Azril menyatakan perasaannya padaku, aku mulai menghindari teman-temanku. Aku gatau kabar Azril gimana, aku juga ga pernah ikut aktif lagi di grup chat. Bahkan aku ga dengar kabar lagi tentang Ardi. Memang bodoh jika aku mencintai seseorang yang tak seharusnya aku cintai. Aku masih tak mengerti tentang sebuah ucapan “Cinta ga harus memiliki”. Jika menyayangi, mungkin bisa saja. Tetapi jika sudah mencintai, aku rasa itu merupakan tahapan yang lebih serius lagi.

Setibanya aku di kafe bertepatan dengan hujan yang mulai turun namun masih gerimis. Aku memesan sebuah kue Black Forest kesukaanku. Aku juga membawa lilin yang aku beli di minimarket saat aku jalan kemari. Setelah pesananku datang, aku meletakkan lilin itu di atas kue dan menyalakannya dengan korek api yang aku pinjam dari pelayan kafe.
“Surprise...”
“Happy birthday to me . . . happy birthday to me”
“Selamat ulang tahun. Dina Resti”

Aku bertingkah seperti orang aneh. Memberi kejutan untuk sendiri, menyanyikan lagu ulang tahun sendiri, bahkan berbicara sendiri. Tanpa sadar airmataku mengalir perlahan di pipiku. Aku menatap kue ulang tahunku, kemudian tatapanku berpindah ke api kecil yang menyala dan aku meniup lilin tersebut.

Aku merasa hancur. Hancur karena aku menyadari bahwa aku sendirian disini. Tidak ada orang tuaku, tidak ada teman-temanku, bahkan tidak ada Ardi. Lelaki yang dengan bodohnya aku harapkan datang kemari dan mengusap air mataku. Aku rasa otakku sudah terlalu banyak berkhayal. Ini kehidupan realita, bukan sinetron yang penuh dengan drama
“Silahkan dinikmati mba” ucap pelayan sambil meletakkan jus strawberry didepanku.
“Maaf mba, tapi kan saya ga pesan ini” ucapku
“Setiap ada yang berulang tahun, kami beri satu minum gratis mba” katanya
“Terus gimana kalau ternyata saya bohong?” tanyaku

Gadis pelayan itu tersenyum, kemudian ia duduk didepanku.
“Tatapan ga bisa berbohong mba. Ga mungkin ada yang sampai menangis seperti itu, hanya untuk dapat minuman gratis. Mbanya lagi ada masalah ya?” tanya dia
“Gapapa kok mba, saya cuma ngerasa sepi aja” jawabku
“Di dunia ini, kita ga pernah sendiri mba. Banyak orang sekitar yang peduli dengan kita. Hanya saja kita ga menyadari itu” katanya
“ . . . “ aku diam tertunduk
“Kita hanya perlu menilah sekitar mba. Gimanapun kita akan butuh orang lain dalam hidup kita” katanya
“Makasih banyak ya mba, udah mau nemenin saya” ucapku
“Sama-sama. Kalau gitu saya kembali kerja dulu ya. Dan selamat ulang tahun mba” katanya sambil memelukku dan ia mengusap punggungku.
Ada juga beberapa pengunjung kafe yang mendatangi mejaku kemudian mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Ya, meski bisa dihitung jari.

Iapun beranjak namun aku kembali duduk di kursiku. Aku mulai menikmati kueku. Potongan demi potongan ku makan. Sampai aku mendapati telefon masuk di Hpku dan bertuliskan “Daddy”
“Hallo, assalamualaikum” ucapku sedikit serak karena habis nangis
“Waalaikumussalam, nak. Kamu kenapa?” tanya ayah
“Gapapa, Yah” jawabku
“Selamat ulang tahun ya nak” ucap ibuku yang sepertinya ayah menggunakan speaker
“Makasih bu” jawabku singkat
“Kamu habis nangis?” tanya ibu
“Engga kok bu. Gapapa” jawabku
“Kamu mau kado apa dari ayah?” tanya ayah
“Aku gamau apa-apa, Yah” ucapku
“Jangan gitu. Anak ayah bilang aja, mau apa. Sebisa mungkin ayah akan kabulkan” katanya
“Aku ga yakin” ucapku
“Memangnya kamu mau apa nak?” tanyanya
“Aku mau . . . KALIAN” ucapku kembali dalam isak tangis
“Nak . . “
“Ayah ga bisa kabulin kan? Gapapa, Yah. Aku udah tau” ucapku
“Maafkan kami nak” ucap ibu
“Ibu ga perlu minta maaf. Dina udah terbiasa sendiri disini” ucapku
“Biarkan ayah sama ibu menemani kamu” ucap ayah
“Menemani? Hanya lewat telefon aja aku tetep ngerasa sendiri, Yah”
“Engga nak. Biarkan ayah sama ibu menemani kamu disini”

Ucapan itu semakin jelas terdengar. Jelas, bukan suara telefon. Aku mengangkat kepalaku, dan aku lihat ayah, ibu, pelayan tadi, dan bibi. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku dan menangis sejadi-jadinya. Ayah dan ibu memelukku. Aku dapat mendengar isak tangis dari ibu sambil terus mengucap selamat ulang tahun dan meminta maaf padaku. Beberapa bulan saja mereka ga ada, aku sudah merasa kesepian seperti ini. Aku gadis manja.
“Coba lihat ayah” kata Ayah
“...” aku terus menutup wajahku sambil menggelengkan kepalaku
“Sini nak, tatap ayah” katanya

Aku membuka mataku dan aku melihat sosok lelaki yang merupakan icnta pertamaku. Aku langsung memeluk ayahku saat itu juga. Dilanjutkan juga dengan memeluk ibuku. Kami semua duduk di meja terkecuali pelayan tadi.
“Makasih ya mba. Sudah bantu kami” ucap ayah pada pelayan itu
“Sama-sama. Sedih juga sih liat mbanya nangis kaya gitu” kata gadis pelayan tersebut
“Awalnya malah saya pengen ikut nangis hehe” ucap pelayan
“Hehe, makasih ya mba sudah mau nemenin anak ibu tadi” ucap ibu
“Sama-sama bu. Kalau gitu saya kebelakang dulu ya”

Aku banyak diam sambil mencoba menenangkan diriku. Setelah aku mulai tenang, aku mengobrol dengan keluargaku, termasuk bibi. Mereka menanyakan bagaimana kuliahku disini. Apa aku memiliki uang yang cukup, dan sepertinya bibi memenuhi permintaanku dulu untuk tidak memberitahukan orang tuaku kalau aku bekerja. Tapi satu yang membuatku sedikit terperanjak ketika mereka bertanya
“Apa kamu mau ikut kami?”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 6 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di