CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Yuk Gan / Sis, Saatnya Ikutan Survey di Forum Stories Form The Heart
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 4
pusing, pnjg
Ninggalin jejak dulu....
Author's note :

Bujug ini thread kenapa jadi hot thread? Lagi main Stardew Valley, tau-tau dikasih tau sama "anon" kalau thread ini HT. Padahal pas bikin waktu itu, lumayan sepi disini emoticon-Frown baca-baca komentar agan bikin ane sedih dan seneng secara


Quote:

Untung pas di cek di komputer, masih ada file nya. Gue lanjutin deh, tapi janji di baca nggak?emoticon-sad

Quote:


yuk gabung di pecinta teh hijau tong tji emoticon-Blue Guy Smile (S)

Quote:


iyakk seratus buat anda.

Quote:


tau aja ane pernah nulis cerita begituan uhuk

Quote:


Makasih banyak gan, komentar ente membuat ane ngerasa perasaan aneh di perut. Mungkin pengaruh bisacodyl.

Quote:


yaudah gue lanjut deh, karena asal tahu aja yak. ane juga pengen lanjutin ini dari kapan tahu, tapi pas dulu ini thread nggak ada yang ngecek jadi sedih uhuk.

gue lanjutin tapi janji dibaca ya, kalau nggak nanti gue kirim santet dari ember rumah gue ke ember rumah kalian. emoticon-Berduka (S)
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
ini SFTH pertama yang gue baca tauukk... dan bonding banget . buruan dilanjut kekk. huhuhuhhuu.
Diubah oleh djfely
Quote:


lanjut maka nya yaa ,,, gue baca ini emoticon-Keep Posting Gan
Quote:

lu kata gue sugar glider? pake acara bonding banget ahay.
iye gue kerjain sekarang nih, cuman part 4 nya udah kebikin tapi kurang sreg.

Quote:

ya pokoknya kalau nggak baca, cukup tau aja sih emoticon-Betty (S)
Quote:


emoticon-Najis

jangan menghilang lagi yak,,, kesian itu leila nungguin gue emoticon-Malu
ada lg tempat gelar kasur nih...lanjoott gan
lanjut lah bray...sayang lho kalo ga dilanjut emoticon-Embarrassment
4


Leila menyandarkan kepalanya disamping gue. Tangan kita bergandengan sementara dia sesekali menarik punggung tangan gue, untuk mengecup setiap ruas jari, lalu menatap gue dari sudut mata sambil tersenyum.

Gue membuka mata dan melihat punggung tangan gue sendiri. Sama sekali berbeda dengan apa yang tadi dicium Leila. Karena memang bukan tangan gue, dan perasaan itu membelilit tenggorokan gue.

Mata gue terpejam erat, sementara lautan memori itu menarik kesadaran gue sampai ke dasar yang paling dalam. Rasa mual itu kembali mencekik, sampai pada akhirnya seseorang mencengkeram pergelangan tangan gue dan menarik badan gue jalan bersamanya.

Tertatih-tatih sementara kesadaran itu datang secara perlahan. Walaupun pandangan gue kabur, gue melihat sedang berdiri di dalam lift semula.

Lautan memori Virdi yang memiliki emosi terkuat, entah itu kebencian atau cinta yang meluap-luap, tersedot keluar dari setiap pori-pori kulit. Setiap hempasan ombak masa lalu itu menceritakan apa yang bisa diteriakan, tapi tidak sesakit seperti kenangan yang melibatkan Leila sebelumnya, sehingga kepala gue berhenti meneriakan kata sakit ke setiap jaringan nadi di tubuh. Pandangan mata gue yang semula buram, kini mulai menajam. Dan mata gue menatap tepat kepada mata laki-laki yang menguarkan aroma kayu oak. Seakan-akan dia adalah pencetus kehidupan itu sendiri.

β€œ Gimana? Seru nggak? β€œ tanyanya dengan nada mengejek. Dia menyalakan rokok di ujung bibirnya dengan api dari ujung ibu jari. Lalu mematikan api tersebut dengan menyelipkan ibu jarinya ke dalam genggaman tangannya sendiri.

Gue langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan keras, dan sekarang gue merosot duduk jongkok di lantai lift. Kepala gue bersandar di belakang lapisan dinding metal yang dingin. Kalau gue masih hidup, mungkin gue semakin panik karena perasaan angin duduk itu menekan rongga paru-paru. Sekali lagi, ketika gue memutuskan untuk berkonsentrasi menghindari perasaan dramatik. Seluruh kesakitan itu menghilang dari tubuh dan sekarang cuma keheranan yang tersisa disana.

β€œ Sebenarnya, nggak semua orang tahu kalau orang yang sudah mati bisa melihat memori orang yang masih hidup. β€œ Dia menghela napas sementara asap rokok itu keluar dari sudut bibirnya. β€œ Tapi karena memori yang lo barusan lihat adalah memori yang sama sekali nggak ada kaitannya dengan lo, makanya lo sakit. Tapi kalau sudah mati, rasa sakit itu menjadi dua kali lipat pedihnya. β€œ

β€œ Dan karena secara teknisnya 48 jam yang lalu lo masih menjadi manusia, nyawa lo masih terbelenggu dalam keterbatasan manusia sekalipun lo jelas-jelas mati. β€œ katanya lagi sambil menatap gue dari sudut mata, mengamati setiap detik gue menderita.

β€œ Kenapa? β€œ Tanya gue dengan suara parau. β€œ Apa tujuannya gue harus ketemu dia? β€œ

Laki-laki tersebut menghisap rokok dalam sekali hirup, dan lalu menaruh batang rokok yang masih menyala di dalam genggaman tangan kuat. Detik berikutnya batang rokok tersebut menghilang. β€œ Mungkin karena orang tersebut orang kedua yang terus-menerus memikirkan elo?”

Mulanya gue nggak percaya, tapi semuanya jadi jelas. Dimulai gue tertarik ke dalam rumah Leila, dan lalu ke Virdi. Dari waktu ke waktu, mereka suka memikirkan gue. Mungkin mereka β€˜memanggil’ gue dengan emosi mereka yang mengakar kuat, ketika gue bisa dipanggil kesana-sini hanya bermodalkan dengan perasaan tersebut.

Tapi tetap saja, Leila memikirkan gue dan dia adalah orang pertama yang memanggil gue. Sedikit-banyaknya, hal tersebut membuat gue bahagia.

β€œ Kalau begini caranya, gue nggak akan cepat-cepat pergi ke fase berikutnya dong? β€œ tanya gue bingung. β€œ Mau sampai kapan gue harus kayak begini? Ngunjungin orang-orang yang penasaran setengah-mati sama gue? β€œ

β€œ Waktu kita masih banyak. β€œ Laki-laki tersebut membuka satu kancing nomor dua dari kemejanya dan lalu menghela napas yang panjang. β€œ Tapi lo bener juga. β€œ Dia tersenyum simpatetik. β€œ Gimana kalau kita ganti suasana? β€œ

Gue mendongakan kepala untuk melihat ekspresi kaku yang tak terbaca, sementara telinga gue kembali merasakan pintu besi terbuka didepan gue.

Dia menjelaskan. β€œ Gimana kalau kita pergi ke masa lalu? β€œ

Sebelum gue mengeluarkan satu patah katapun, Badan gue terdorong keluar seakan-akan ada kedua tangan kasat mata yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengusir gue keluar dari dalam Lift.

Pintu besi di belakang gue menutup, dan sementara pintu kayu dicat biru telur asin didepan gue terbuka lebar. Mata gue langsung tertuju pada seseorang yang gue paling inginkan. Duduk diatas bangku dengan ekspresi bosan. Ketika orang itu menatap gue balik, serta-merta badan gue melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.

Kapan lagi gue bisa diberi kesempatan untuk menjadi anak laki-laki berusia 13 tahun? Untuk yang kedua kalinya?

*

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
5

Gue melihat Leila dan langsung tahu, bahwa hari ini adalah hari dimana Gian bilang bahwa gue harus gerak cepat. Gue harus nembak dia sebelum segala sesuatunya terlambat. Doa pagi di ruang perkumpulan anak kristiani mendoakan acara PORSENI untuk lancar sampai hari ketiga, dan sedikit-banyaknya mendesak setiap kepala yang bosan setengah mati di ruangan itu, untuk menjadi juara, apapun perlombaannya supaya bikin Guru-guru bangga. Karena pernah mengalami hal ini sebelumnya, gue bisa menebak setiap kata yang keluar dari mulut mereka tanpa perlu mencoba.

Membuat hati gue sedikit pedih, β€œ Kalian masih hidup, kecuali gue. Tapi gue sekarang disini lagi sama kalian. Sekalipun kalian, teknisnya, nggak disini lagi bersama gue. β€œ

Perasaan ini persis seperti menonton film yang dulu sekali ditonton, perasaan senang sekaligus membangkitkan perasaan nostalgik membuat kepala penuh dengan emosi euphoria yang sedikit bikin depresi.

Gue duduk di tempat khusus kelas gue, kelas orang pintar, kenyataan yang selalu membuat harga diri gue melonjak tinggi. Selain itu bangku yang gue duduki sekarang, memberikan akses gue untuk melihat ke arah Leila tanpa ketahuan. Doa pagi sudah selesai, tapi Leila nggak beranjak pergi melainkan duduk di bangku favoritnya dengan kepala menyandar di kusen jendela dengan kedua tangannya yang terlipat didepan dada. Gian disampingnya juga sedang main handphone sementara sesekali menunjukan sesuatu ke Leila dan lalu kepala Leila merosot ke pundak Gian, dengan mata tertuju ke handphone Gian.

Makin kesini, gue semakin percaya bahwa hubungan mereka nggak mungkin cuman sekedar temenan aja. Gian terkadang menatap Leila dengan tatapan sayang, dan sama sekali nggak risih dengan kontak fisik. Kadang Leila merangkul bahu Gian, dan sebaliknya juga. Pernah sekali, gue cemburu setengah mati disaat gue memergoki Gian mengacak-acak rambut Leila yang panjang sebahu.

Dan kini, entah kenapa Leila menatap ke arah gue–memergoki gue yang jelas-jelas mengamati mereka lima menit belakangan. Leila menarik kepalanya dari bahu Gian, yang membuat Gian menatap ke arah gue secara natural. Bibir Gian langsung tersenyum ke arah gue sementara Leila buang muka sambil mengikat rambutnya ke belakang.

Leila selalu milik orang lain, sekalipun nantinya gue sempat memiliki dia, pada akhirnya dia memilih orang lain.

Kenyataan pahit itu nggak mengubah rasa ketertarikan yang mengakar begitu kuat menjadi hilang begitu saja. Bahkan sampai detik ini, dia masih membuat gue terbakar api cemburu.

Lalu jam menunjukan pukul Sepuluh pagi, dan PORSENI hari pertama resmi dimulai. Leila bangkit berdiri mengikuti Gian di belakangnya, bahkan sampai mengalungkan lengannya Gian segala dengan tangannya.

Satu hal yang pasti, bahkan dalam ambang kematian, hati yang dibakar api cemburu tetap saja menyebalkan.

*

Tiba saatnya untuk Gian mengatakan, dan gue melihat gerakan bibirnya dengan seksama. β€œ Kalau elo beneran suka sama Leila, Cuma ini saatnya lo nembak dia. β€œ

Gue menatap Gian, perasaan yang dulu gue rasakan, perasaan dimana gue merasa akhirnya ada secercah harapan untuk memiliki Leila, tetap saja muncul. Tak ada bedanya. Tapi, kali ini gue berkata. β€œ Kenapa bukan elo yang nembak dia? β€œ

β€œ Huh? β€œ Gian pura-pura bingung, tapi jelas dia mengerti maksud gue dengan terang-terangan. β€œ Kan elo yang suka dia, kenapa gue yang jadi nembak dia? β€œ Kata Gian sambil mengelak.

β€œ Elo nggak suka Leila? β€œ gue langsung menembak begitu saja. β€œ Lo deket banget lagi ama dia, tinggal statusnya aja yang nggak jelas. Kenapa lo nggak nembak dia? β€œ

β€œ Bedanya gue ama elo. β€œ Gian menyambar kartu poker dan mulai mengocoknya. β€œ Gue tahu mana orang yang bener-bener enak buat diajak pacaran dan mana yang Cuma enak buat jadi temenan doang. β€œ

Gue kehabisan kata-kata. Gian benar. Beberapa dari cinta gue selalu berakhir gue temenan sama mantan gue, dengan satu pengecualian si Leila itu. Dan lagi, gue selalu merasa Gian jauh lebih dewasa daripada umurnya. Yang membuat gue selalu inferior disamping dia, kalau bukan karena Leila, gue nggak bakalan mau repot-repot deketin bocah sotoy yang satu ini.

Tapi kemudian Gian berkata, β€œ Gue yang bantuin, gue bakalan suruh dia ketemu lo supaya lo bisa nembak dia disaat itu juga. β€œ

β€œ Gue nggak perlu beli bunga atau cokelat gitu? β€œ Kata gue, berusaha memperbaiki β€˜penembakan’ gue yang dulu cuman gue berdiri, berharap yang terbaik sambil ngomong β€˜Gue suka sama lo, mau nggak jadi pacar gue?’ dengan tangan yang tremor, sedikit gemetar.

β€œ Leila nggak suka bunga tapi dia emang suka cokelat. β€œ Kata Gian memberi tahu, β€œ Cuman emang lo ada duitnya buat beli cokelat? Karena waktunya bener-bener nggak ada kecuali hari ini. β€œ

Gue meraba kantong celana seragam gue. Kosong. Nihil. Nada.

β€œ Emang kenapa harus hari ini sih? β€œ tanya gue, murni benar-benar penasaran. β€œ Kenapa nggak boleh lusa atau tahun depan? Kenapa harus hari ini juga? β€œ

β€œ Karena Leila bilang kalau hari ini, anak kelas 8-7 mau nembak dia juga. β€œ

Oh. Semua jadi jelas. Leila nerima gue nantinya hanya karena gue nembaknya paling duluan ketimbang Kakak kelas 8-7. Siapa cepat dia yang dapat.

β€œ Oke, kalau gitu minta petunjuknya Suhu Yo. β€œ Kata gue, setengah bercanda sambil mengatupkan kedua tangan didepan muka sementara badan gue membungkuk setengah untuk memberi hormat.

*


Gian bertemu lagi dengan gue di ujung lorong di sayap gedung bagian kiri setelah gue menyelesaikan kuis Cerdas Cermat. Gian menunjukan bbm nya dengan Leila dan lalu menginstruksikan gue untuk duduk disini, di atas meja yang kosong yang gunanya hanya untuk menulis kertas izin untuk pulang lebih awal dan menyerahkannya ke Pos Satpam Sekolah. Tangan gue langsung dingin, lemas di samping tubuh gue sementara gue setengah melamun. Gue membayangkan waktu-waktu bahagia yang gue jalani sewaktu macarin Leila, berusaha membangkitkan rasa percaya diri bahwa dulupun, gue berhasil mendapatkan dia. Kali ini, jawabannya juga pasti sama.

Tapi kegugupan itu tidak menghiraukan hal tersebut, dan tangan gue mulai berkeringat. Gue menggosokan tangan berkeringat itu ke paha gue dan mulai mengulang-ulang kalimat yang akan gue ucapkan nantinya.

Tentu saja, disaat gue mempersiapkan mental untuk nggak gagap, orangnya sudah didekat gue, menuruni tangga dari lantai tiga dan menghampiri gue. Gue mendongakan kepala dan berusaha tersenyum, lalu buru-buru meraih tangannya dan berkata secepat mungkin. β€œ Gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue lagi? β€œ

Setelah mendengar kata-kata yang barusan keluar dari mulut secara seksama, gue langsung mengulang lagi. β€œ Maksud gue, lo mau nggak jadi pacar gue? β€œ

Leila menatap gue sambil tersenyum, nyaris ketawa sebenarnya. Tapi tentu saja, dia menghendikan bahu dan berkata. β€œ Jawabannya nggak sekarang ya? β€œ Lalu dia menarik tangannya dari tangan gue dan melambaikan tangan. β€œ Dah ya, gue jajan dulu. β€œ

Dalam hati, gue langsung menggerutu. Dasar bocah, otaknya jajan mulu. Tapi melihat bagian belakang kepalanya Leila membuat gue teramat-sangat bahagia. Sekalipun, gue tahu bahwa kehidupan yang kali ini sudah amat-sangat berakhir. Tapi merasakan kenangan yang paling kuat untuk kedua kalinya, adalah salah satu alasan kenapa gue β€˜senang’ untuk meninggal terlalu cepat.

*
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
Quote:

udehh, dua chapter yang selama ini pengen gue update keluar juga.emoticon-Berduka (S)

Quote:

gugup di perut sama konstipasi di perut beda tifis ganemoticon-Betty (S)

Quote:


udeh breh, baca ye breh. emoticon-Kiss (S)
Quote:


Hayo loh ketauan nongkrong di sini yah

GGS
ganteng ganteng sfth
Quote:


hahaha , lah mod antum kok disini juga .. emoticon-Big Grin
keciduk kayaknya ane nih emoticon-Hammer
Quote:


Woakwokw

Sinyal lagi ancur, hobi MOBA beralih ke membaca hahaha
Quote:


pas ke hate , baca" nah ini trit lumayan buat mata di pandang dan membaca .. kayaknya antum sering singgah disini mod emoticon-Malu
Quote:


Nah iye lanjut gih gan,. Di baca dah janji, asal nih cerita kelar nya pas ae, ga kepanjangan n ga kependekan... Pas gitu pokok nya(kyk bareng gtu kluar nya)... emoticon-Malu
Quote:


Maba ml kah mod? Gabung donk mod, pm nick ente emoticon-Malu
lancrootkan gan.
siap menunggu updatenya.

cemungut kakaa!!
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
semoga ga gantung ya hehe
Halaman 2 dari 4


GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di