CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d3ab595fac4486cbb7c8cea/our-secret-passages

Our Secret Passages

Hai hai agan dan sista. Si newbi kembali lagi dengan cerita baru ... sama sekalian nyobain tombol-tombol di kaskus. Iya aku seudik itu memang. Maafkeun.

Kini cerita yang terinspirasi sebuah kisah saat deela terdampar di Jepang. ROMANSA nih genrenya. Siap membaca? Kencangkan sabuk pengamaaan!!!

.
.
Lelaki berengsek itu bernama Maikuma Araki. Dia selalu menempel kemana pun Ela pergi. Mengesalkan!

Bahkan malam hari pun dia tak sungkan masuk ke kamar Ela daaaan menawari Ela untuk mabuk bersama? Maaf mas, situ sehat?

Namun lambat laun pertahanan Ela runtuh. Karena apa?

Di saat tersulitnya, Araki selalu ada dan mendampingi wanita Indonesia ini. Tak mudah untuk menjadi seorang Ryugakusei (mahasiswa asing) kau tahu?

Karena itulah, perlahan ...

Ela melepaskan cincin yang melingkar di tangan kirinya dan bermain bersama lelaki yang selalu ada dengannya itu.

Di bawah bunga Sakura, di negeri Matahari terbit ... cinta terlarang terselenggara.

---------------------------------------------------

OSP©deelanerth2019 


Our Secret Passages

sumber: galeri hape deela


Spoiler for Cover ala-ala sinetron:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
mohri17 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh deelanerth
PROLOG

(belum dibuahkan dalam tulisan tapi sudah terbit dalam bentuk chat di platform sebelah. Ini aku sematkan video screen recordingnya)
emoticon-Malu


Spoiler for Video Prolog:

profile-picture
dewimariaa memberi reputasi
Diubah oleh deelanerth
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
1) Such A Jerk
.

.

======================

Cerca yang kau lempar dari mulutmu, kadang melukai orang tanpa kau maksudkan begitu, kau tahu?

======================


.

.


"Astaga Tuhan, siapa juga yang pernah makan Candance? Aku bahkan baru dengar nama program ini di sini! Mana mungkin aku paham dalam waktu singkat lah!" seorang wanita asyik merancau di sebuah ruangan 5x6 yang dipenuhi dengan komputer dengan melototi satu-satunya komputer on di ruangan itu.

Dari gestur tubuh dan kerutan di muka mungilnya, tampak jelas bila wanita berhidung pesek ini geram bukan main atas jalan yang dipilihkan sensei-nya (sensei: professor). Lelaki pemilik laboratorium yang dia tempati memintanya menguji desain alat yang dia buat menggunakan sebuah software bernama Candance. Ingin sekali Ela menolak kala mendengar perintah itu, tapi tidak dia lakukan karena yah ... malu. Lulusan Universitas 5 terbaik di Indonesia dengan gelar sukma cumlaude dan lulus tidak sampai 3.5 tahun, diberi tantangan sedikit saja menyerah? Hah! Yang benar saja!

Tapi jujur Tuhan, kemana lagi dia harus meminta pertolongan atau pencerahan software ini? Karena kau tahu apa ... ini software baru di laboratoriumnya dan dia adalah pemakai perdana. Wut?

Menggeram sekali lagi, perempuan bernetra jelaga dan Asli Indonesia ini segera ambil ponsel dan mencari aplikasi Rine. Buru-buru dia mencari nama kakak tingkatnya, lalu dia tekan tombol telpon. Persetan benar abang di Taiwan itu sedang apa, yang jelas dia mau cari ilmu tambahan! Kemarin tak sengaja dia melihat WAtsup-story babang itu dan jelas sekali tampilan desain VLSI (Integrasi Skala Sangat Besar) yang dia buat menggunakan Candance! [Nb. Semua bahasa alien di atas adalah bahasa perteknikan]

Begitu tersambung, wanita yang remanya digelung macam bakpao di belakang kepala ini segera berucap, "Bang, ajarin aku pemrograman Candance gih. Harada-sensei meminta aku bangkitin flicker noise untuk desain amplifier yang aku bikin. Tapi aku samsek enggak pahaaam. Bisa video call kah kita?" tanpa mengucapkan halo atau semacamnya sebagai pembuka. Yang di seberang sepertinya sedikit tersentak. Kentara dari jeda yang terjadi selepas Ela berseru, tapi akhirnya kekehan meluncur menggantikan hening.

["Kamu nggak pernah telpon, sekalinya telpon langsung aja nembak keperluannya apa. Basa-basi dikit lah Syela ...,"] tegur babang di seberang sana di tengah kekehannya.

Ditegur seperti ini membuat Ela malu sejujurnya, karena memang benar dia sudah tidak pernah aktif lagi di aplikasi perpesanan mana pun dengan teman almamater universitasnya yang juga melancong di negeri orang demi gelar Master.

Hanya saja bukan Ela kalau tak bisa menyembunyikannya dengan sempurna. Suara jawaban atas komentar itu bahkan kokoh tanpa getar, "idih bang. Aku nggak perlu basa-basi kalau ke kamu atuh. Kamu angkat telpon dari aku aja udah ngasih tahu aku kabarmu gimana."

["Hm? Kabarku gimana?"]

Ela menggigit bibir. Dia tadi asal ceplos saja, jadi tak siap dengan pertanyaan mengejar begini. Namun dia juga tak mau dianggap orang tak pintar karena kalah cakap. Secepat lidahnya bersilat, secapat itu pula otaknya bekerja. Akhirnya ucapan balasan diutarakan mantap, "pertama nih ya, artinya kamu masih hidup. Kedua, sehat, karena bisa ketawa. Ketiga, hapemu nggak hilang. Keempat, kamu masih punya uang buat beli data."

Yang tentu saja disambut gelak membahana. ["Anjay. Kamu pikir aku masih di Indonesia apa harus beli data buat konek dimana-mana? Aku juga di luar wkwkwk-land atuh, Neng."]

Ela cemberut. Iya juga ya ... dia lupa kalau di luar negeri banyak wifi kecepatan jos dan open akses dimana-mana. Namun bukan Ela kalau mau mengalah. Wanita selalu benar, ingat?

Penuh kepercayaan diri tinggi perempuan ini kembali membalas ucapan Bagaskara. Kini dengan intonasi congkak yang berujung cekcok panjang. Topik utama tentang pemrograman menggunakan Candance? Tentang pembangkitan flicker noise untuk meneliti kemampuan amplifier yang telah dia desain? Tentang tetek bengek yang berhubungan dengan keteknikan elektronika untuk thesisnya? Wah. Mereka jauh terlupakan.

Dua manusia berbeda negara asyik saling cerca sampai akhirnya Ela mendengar pintu satu-satunya di ruangan E-12.6 ini diketuk. Perempuan berbalut kemeja lengan panjang yang masih dibungkus lagi dengan cardigan polkadot dan jeans biru ini spontan mengentikan kereta bicaranya dan mematikan sambungan tanpa permisi. Biasa, manusia kan kalau sudah memiliki kedekatan di atas rata-rata kadang lupa tata krama, begitu juga dengan Ela.

Tanpa babibu, setelah mematikan sambungan teleponnya, perempuan manis ini segera melangkahkan kaki ke pintu. Dia merekahkan senyum kecil dan pasang tampang polos seiring tangan menarik handle.

"Hai?" (ya?) tanyanya sopan pada siapa pun yang ada di depan pintu. Dan dia serta merta terhenyak begitu melihat banyak orang di depan ruangannya dan mereka semua pribumi; Nihon-jin (orang jepang).

Salah satu di antara mereka, lelaki setinggi Ela, angkat bicara. Yang membuat Ela seketika berada di dunia alien.

Astaga! Dia sama sekali tak paham pria ini mengatakan apa!!

Sementara itu tik tok tik tok ... detik berganti dan orang-orang yang Ela tak kenal siapa ini menunggunya yang hanya bisa menganga dan pasang tampang mas-kamu-ngomong-apa-sih untuk angkat bicara.

"A-ano ne ... Wa-watashi wa Ryugakusei desu. Dakara ... Eigo, onegaishimasu!" Ela akhirnya berkata. Sesungguhnya, wanita ini tak pernah mengenyam pendidikan Bahasa Jepang selain dari Anime-sama (sama: gelar hormat). Itu pun dia hanya mengerti Bahasa yang sering diucapkan.

Karenanya, Bahasa Jepang yang dia katakan tadi diragukan kebenarannya. Pemilik nama Syela Asmara Lengka ini hanya asal tempel tiap kosa kata yang dia ketahui menjadi satu kalimat. Intinya dia ingin mengatakan jika dia adalah mahasiswa asing dan dia minta mereka berbicara menggunakan Bahasa Inggris.

"E-eigo? (Bahasa Inggris?) qwertyuiop0987lkjhgfdsa!!" Ela mengerjab kala keterkejutan lelaki di hadapannya akan permintaan Ela supaya mereka berbicara padanya menggunakan Bahasa inggris, menggoncang kestabilan ketenangan alam.

Err ... gimana-gimana? Pria berema serupa mie keriting ini tadi bicara apa? Mereka yang ada di depan Ela ini sedang kasak-kusuk apa?

Ela tak mengerti apa pun, kakanda! Kalimat mereka abstark, kecuali ... Yabai (waduh gawat), ryugakusei (mahasiswa asing), ore (aku), doushiyo (terus gimana)!

Sama seperti mereka yang ada di hadapannya, Ela pun bingung sendiri. Tampak sekali dedek-dedek gemes di hadapannya memiliki urgensi yang ingin mereka sampaikan padanya. Namun dia tak paham!

Mereka bingung sendiri-sendiri sebelum tiba-tiba si Pembuka percakapan berseru, "Araki-kun! Tasukete!" (Araki, tolongin gih!) pada lelaki berbalut kemeja pink dengan dua kancing di atas terbuka yang dipadu dengan celana coklat ¾. Raut pria itu penuh harap. Akhirnya muncul juga sang Peyelamat!

Ela ikut menoleh ke sosok lelaki yang jalan dengan malas setelah keluar dari lift. Dia bahkan berjalan sembari menggaruk rambut dan menguap. Matanya tunjukkan betapa dia mengantuk. Akan tetapi, begitu dia mendengar namanya diserukan dan dia dapati deretan manusia yang pancarkan mata penuh harap, serta merta dia segera balik kanan.

Sumpah! Ela yakin 100% manusia berambut tebal model Harajuku acakadut tak jelas itu sengaja! Bahkan dia berdecak penuh kejengahan!

"C-choto mate yo, Araki-kun! Araki-kun!" (tunggu sebentar, Araki!) pemuda pertama tentu mengejar lelaki yang lain. Dia segera meraih tangan temannya itu sebelum mengatakan sesuatu. Ela tak tahu apa yang mereka diskusikan, tapi yang jelas bibirnya melengkung ke atas melihat gerak-gerik pribumi ini dan detik berikutnya tipis dia terkikih. Astaga! Adegan tadi seperti di drama yang hobi dia tonton!

"Apa? Nggak ada yang lucu deh, fag**t."

Kau tahu apa? Ela langsung menghentikan tawanya dan mata hitamnya serta merta membola mendengar ucapan dingin yang dilemparkan lelaki itu. Dia memandang sang Araki yang baru saja sampai di hadapannya dan berbicara Bahasa Inggris dengan fasih dan benar di hadapannya. Bibirnya terbuka tertutup tak kuasa harus membalas apa.

Orang ini menyebutnya apa?

F-fag**t?

"Kita mau pengujian di dalam dan ada urusan sama Harada-sensei. Kalau kamu nggak ada urusan di dalam sana, pergi, bi**h!"

Serius Ela membeku. Dia bahkan lupa bernapas. Tangannya terkepal kuat dan mata belo konstan melotot.

A-apa yang baru dibilang lelaki sialan ini?! Tadi dia panggil Ela apa? Sekarang apa?

"Nggak sopan amat kamu. Maumu apa sih?" Ela membalas, nadanya sedikit tajam. Dia mendongakkan kepala menantang.

Yang dibalas dengan kekehan sinis. "Kamu siapa kok memintaku sopan padamu?" kepalanya mendongak kemudian. Pandangan culas dia berikan dari atas, "dan mauku kamu pergi, jal**g! Kamu mengganggu kegiatan belajar kami."

W-what the—

"Ela, kamu belum selesai?" belum sempat Ela membalas cacian si Pribumi, suara hangat mengalun dari sisi kirinya. Ela kontan menoleh, dia lihat seorang lelaki paruh baya dengan rahang kokoh dan berbalut kemeja ditekuk setengah hingga siku tengah berjalan ke arah mereka. Pria itu merekahkan senyum lebar. Di tangannya tertenteng tumpukan dokumen. Orang ini ... Harada Kai, professor-nya, supervisor-nya.

Akhirnya, menelan semua emosi yang sempat ingin terlepas, Ela menarik napas panjang. Dia berkali mengucapkan kalimat tidak, kau tak boleh kelepasan dan marah-marah pada orang gila ini di depan sensei-mu di dalam hati. Setelah dia rasa emosi yang bercongkol berhasil ditekan, selayang senyum sopan dia rekahkan.

"Belum, sensei," ujarnya menggunakan bahasa Inggris sopan yang sedikit dimix dengan bahasa Jepang. "Saya lanjutkan besok tidak apa-apa, sensei. Akan saya ambil dulu barang saya," gumamnya sebelum masuk ke ruangan, mengemasi barangnya dan kembali ke luar.

Lalu untuk terakhir kali, dia menatap professor tampan meski sudah berusia kepala 5 di sana. Mantap dia berkata, "Otsukaresamadeshita sensei," (thanks for your hard work) lalu menunduk dan beranjak pergi tanpa menyapa makhluk berdarah Jepang yang lain.

Ela buru-buru bergerak ke arah ruangannya yang berada di sebelah ruangan ini. Dia lirik jam di tangan, masih sore kendati langit sudah mulai petang, 16:19. Harusnya ini belum jam pulang dia tahu. Tapi bodoh amat! Dia sudah mengucapkan kalimat pamungkas di setiap kegiatan berarti dia berhak undur diri. Ela ingin pulang ke asrama sekarang juga dan melakukan pelampiasan!

Kau tahu ... sakit sekali!

Siapa lelaki itu yang berani mengatainya fag**t dan bi**h di jumpa pertama? Hebat benar manusia bermata sipit itu! Perangainya sungguh tak seperti orang jepang yang normal! Ha! Pasti dia kelainan!

Tapi Tuhan ... sungguh Ela merasa terhina! Dia tidak pernah direndahkan seperti ini!

Berlari masuk ke ruangannya, Ela memasukkan barang-barang yang dia bawa. Teman berbagi ruangan dengannya menatapnya heran. Dia dengar wanita ayu yang merangkap sebagai Chuta (pembimbing)nya menanyakan dia baik-baik saja atau tidak. Ela sedikit merasa terhibur dengan perhatian ini, tapi hanya senyum kecil dia layangkan sebagai balasan karena ... argh! Melihat pribumi mengingatkannya pada makhluk itu!

"Era! Daijoubuka?" (Ela, kamu nggak apa-apa kah?) kukuh, wanita berema sebahu warna pirang ini meraih tangan Ela. Mata ke mata dia bertanya. Dia tahu wanita di hadapannya, Kurenai Mai, pasti bisa menangkap jika dia berdusta.

Namun Ela tak ingin menggunjing orang lain yang baru saja dia temui. Karenanya dia hanya menggeleng dan meyakinkan Mai jika benar dia tak apa, sebelum melangkah pergi, bergerak ke arah lift.

Di depan lift Ela meremat dadanya yang masih sakit. Semakin dia pikirkan, ucapan lelaki itu semakin membuat hatinya tersayat. Semakin pula mengancam air matanya ... tumpah.

Tak kuasa menunggu lama, akhirnya Ela memilih turun melalui tangga darurat.

Di sana ... berselimut sepi ... dia menangis.

[]


Diubah oleh deelanerth
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
2) Shop to a Supermarket
.

.

================

Lelahmu kan hilang kala gendangmu mendapatkan masukan ... dari suara kesayangan.

================

.

.

"Piring ke berapa tuh, El?" sebuah tanya menggugah Ela yang sedari tadi terdiam sembari menekuri tempe penyet di hadapannya. Dia spontan mendongak hanya untuk mendapati wanita ayu berbalut daster bunga-bunga sedang memandangnya penuh curiga.

Ela memilih menjawab tanya skeptis itu dengan kekehan, tapi untuk basa-basi yang lainnya, dia memilih untuk diskip saja sementara tangannya terus bekerja, mengambil sepuluk nasi sebelum hap! masuk ke dalam mulut. Baru ketika sang Penanya melenggang ke ricecooker dan menekan tombol di tutupnya, Ela menunjukkan reaksi lebih. Dia mulai berkeringat dingin.

Alis tebal teman kamar Ela ini naik begitu mendapati nasi tinggal 1/4. Kemana pula yang 3/4?

"Kamu kunyah apa langsung telan sih nih nasi?" tanya itu meluncur seiring pandangan menuduh terlempar. Ela seketika menjawab sambil terkekeh kecil, "sorry mbak, enak banget penyetannya. Enggak terasa udah masuk perut semua."

Wanita bernama Berlian ini mengerutkan kening. "Kamu lapar apa nggeragas sih?" dia bertanya lagi, nadanya sedikit menekan dan tampak jika dia tak suka.

Ela paham sih mengapa kawan berbagi kamar bentuk apartemennya seperti ini. Pertama, apa-apa di Jepang mahal (kalau kau berpikir dalam kurs rupiah). Kedua, tempe di sini sangat jarang; beli saja harus online! Ketiga, sama seperti tempe, lombok pun harus beli secara online daaaan harganya selangit! Mana toko yang menyediakan jasa pengirimannya tidak buka setiap saat! Sementara ini masih awal bulan dan bahan makan mereka ini patungan untuk dua kamar; kamar mereka 3 orang dan kamar atas 3 orang. Kamar lelaki bujangan Indonesia itu tak mau masak dan memilih menyumbang uang asal ada pasokan gizi setiap harinya.

"Iya, aku nanti masak nasi lagi. Tempe aku cuma pakai 1 dari yang kita beli. Lombok juga cuma 15 biji kok. Uangnya aku ganti. Swear!" kata Ela akhirnya menjawab tudingan dalam diam wanita yang lebih senior itu. Sengaja dia tak membalas provokasi yang terlempar.

"Lombok pakai saja nggak apa sih. Kalau tempe, ya, kamu harus ganti uangnya. Mahal itu. Di Indo cuma 3000 rupiah di sini kan 130.000 rupiah. Terus berasnya abis btw," mendenguskan napas berat, wanita asli Bali itu menjelaskan mengapa dia memberikan pandangan menghakimi. Ela terkejut tentu saja mendengar kabar ini. Dia sudah menganga dan ingin serukan keterperangahannya dengan alay, tapi dipotong dengan cepat oleh wanita berema sebahu di sana, "ah. Aku ada rapat PPI habis ini. Kamu yang beli ya. Sendiri."

Yang spontan dijawab, "eeeeehhhhh????!!!" Dari cara menatap kawannya, kentara sekali Ela keberatan harus beli sendiri. Namun di satu sisi dia tahu jika teman berbagi asrama berbentuk apartemennya ini memang sekretaris PPI (perhimpunan pelajar Indonesia) seperfecture Kumamoto ini dan di aplikasi Rine, dari kemarin Ketua PPI (salah satu abang di kamar atas) sudah koar-koar untuk diadakan rapat membahas tanggal pergi melihat iluminasi di taman bunga Floranta.

"B-bajin gimana? Dia nggak bisa nemenin aku?" kelabakan, Ela bertanya. Dia mencari seribu cara agar tak belanja sendiri. Karena jarak asrama universitasnya dengan swalayan tergolong jauh dan biasanya yang berangkat belanja itu mereka bertiga, Ela, Viriginia dan Berlian. Kadang sama abang-abang penghuni kamar atas, sih. Tapi dia tahu bang Yogi itu ketua PPI, bang Gaza Seksi Fotografi dan Bang Bangkit sebagai humas. Mereka pasti ikutan rapat pula. Dan btw, Bajin itu Virginia. Di Jepang, orang Jepang menyebut Vi sebagai Ba, sebagaimana Vietnam menjadi Baitonamu.

"Bajin lagi jikken (penelitian). Bilangnya sih pulang entar tengah malam," terang Berlian seiring kakinya melangkah ke kulkas. Dia segera membuka rak paling bawah yang harusnya dipenuhi sayur mayur. Alisnya langsung tertaut begitu dia hanya melihat "El. Kamu bikin penyet pakai terong juga? Aku mau masak oseng terong buat makan malam kok nggak ada semua terongnya, kamu pakai berapa, Maimunah?!" Mengerang Lian berdiri lalu menutup pintu kulkas. Dia tatap Ela tajam dengan geram, membuat sang empunya nama hanya bisa bergerak gusar di tempat duduknya.

"Iya aku beliin! Sekalian dilist deh kita butuh apa saja, habis ini aku caw!" menyelesaikan makannya dengan buru-buru, Ela menyerukan kalimatnya. Setelah selesai dia segera meletakkan piringnya di tempat cucian dan berlari ke arah kamar.

"Piringnya cuci dulu, Maimunaaaah!" Berlian yang sedang berkutat dengan list berseru melihat kelakuan temannya. Namun dari balik kamar, Ela menjawab, "kagak sempat! Makin malam makin dingin di musim dingin ini! Aku mau caw habis ini!" Yang dapatkan dengusan kasar dari Berlian. Karena apa artinya? Dia yang anti kotor-kotor harus mencucikan dulu piring ndoro ayu Ela sebelum dia berangkat rapat.

***


Supermarket terdekat asrama yang dihuni Ela adalah Maxvalue. Jaraknya 2.5 km tanpa kendaraan umum menghubungkan keduanya. Artinya? Ela harus jalan. Kenapa tidak naik sepeda motor? Oh please. SIM internasional saja dia tak punya. Lagipula motor dari mana? Hidup di luar negeri tak seenak kau main kelereng di negara sendiri, kakak ...

Dan menjadi manusia yang di Indonesia selalu naik kendaraan pribadi, jalan kaki sungguh bagaikan neraka. Sudah 4 bulan berdiam di negara matahari terbit pun dia belum biasa. Karenanya, baru sampai depan pintu supermarket saja Ela sudah ... kehabisan napas.

Dia bahkan sampai hoh ... hoh ... hoh ... bernapas berat dengan punggung melengkung di depan pintu supermarket saking capainya.

Sampai tiba-tiba saja ada suara menyapa, "s-sumimasen ... daijoubuka? (Maaf, kamu nggak apa-apa kan?)" dan kala Ela mendongak, seorang wanita tua yang tengah mendorong troli isi belanjaannya berhenti di depannya. Dia mendekati Ela dengan tangan terulur dan wajah khawatir.

Ela kontan menegakkan punggung, sebuah senyum ramah tertarik di sela napas memburu sebelum balasan cepat dia berikan, "Hai, daijoubu desu! (iya, saya tidak apa-apa!)"

Tampak nenek berkacamata itu sanksi akan jawaban Ela, tapi dia tak menekannya lebih lanjut. Alih-alih dia tersenyum memahami, berikan sepatah dua patah kata tambahan yang Ela tangkap samar-samar sebagai syukurnya karena dia tak ada masalah. Lalu mereka berpisah.

Ela berdiri di depan pintu sampai sosok nenek perhatian itu menghilang di balik sebuah mobil biru berplakat nomor warna kuning. Pandangan kagum perempuan Indonesia ini berikan. Benar kata seseorang, kau tak perlu berada di negara taat beragama untuk mendapatkan junjungan tinggi akan kemanusiaan. Yang diperlukan hanya otak untuk memikirkan apa yang baik untuk khalayak bersama dan hati untuk berempati. Kau lihat betapa orang itu sangat memperhatikannya, bukan? Dan bagaimana orang pada orang lain di negaranya sendiri? Aw. Ironi.

Merasa wanita Jepang yang dia amati akan terganggu jika dia terus memperhatikan, akhirnya Ela memutuskan masuk ke dalam supermarket. Dia ambil troli dulu di luar dan segera capcicus mengambil semua kebutuhan. Sambil berbelanja, mood buruk Ela karena lelaki sialan tak tahu tata krama hilang. Memang, keburukan akan tertutup dengan kebaikan. Yang menari-nari di otaknya kini adalah fakta masyarakat Jepang memang begitu baik terhadap sesamanya ... Ah~~ dia pun ingin begitu~~

Setidaknya perasaan positif yang Ela dapat bisa dia jaga cukup lama. Dia sudah berdendang menikmati kegiatan mendorong kereta dan memilih-pilih barang.

Setidaknya sampai dia berjalan ke lemari es panjang dia masih menikmati harinya. Namun kala dia melihat gerombolan lelaki sedang memilih pudding di ujung lemari dengan berisik, semua berubah.

Bukan. Bukan pria berkupluk rajut yang menunjuk pudding di tangan temannya sebelum membuat gundukan di depan dada lalu dia goyang-goyangkan ala dada boing-boing yang membuat Ela membeku. Bukan dia.

Namun lelaki yang berdiri di samping kanan lelaki pembawa pudding. Lelaki dengan rambut berantakan yang kini ditahan dengan bando kecil hitam.

Lelaki itu tengah terkekeh dan tampak enjoy bercengkrama dengan yang lainnya. Tapi tetap saja ... lelaki itu ...

Si pria bere**sek, Araki.

Menggeram, akhirnya Ela memilih untuk balik kanan. Dia dorong keretanya menjauh dari keramaian anak muda itu. Susu bisa dia beli terakhir. Dia sedang tak ingin sakit hati dipanggil jalang lagi oleh orang yang pernah bicara dengannya saja tidak.

Keinginan Ela akhirnya terkabul. Dia bisa melanjutkan berbelanjanya tanpa harus terlibat dengan si mulut preman. Dia bahkan bisa ambil susu lalu berdiri di kasir tanpa ada keributan. Memasukkan belanjaannya pun dengan damai sentausa.

Masalah baru menampar Ela ketika dia ... ingin pulang.

Keringat sebesar jagung pun ikutan muncul di pelipis wanita ini.

Astaga Tuhan! Kenapa dia bisa beli banyak sekali belanjaan dan lupa jika dia kemari dengan kendaraan kaki? Dia harus gotong belanjaan ini sendiri, begitu? Namun realistis saja, dia tak mungkin meminta bantuan orang lain yang tak dia kenal. Karenanya, setelah menarik napas panjang dia segera mengangkat belanjaannya dan mulai berjalan.

Jarak 2.5 km yang membentang sejatinya bukanlah soal jika jalanan yang dilalui datar, lurus tanpa tanjakan. Hanya saja, untuk bisa kembali ke dalam asramanya, Ela harus mendaki dulu.

Benar, Daigaku (universitas) tampat Ela mengampu ilmu di negeri Matahari terbit kali ini benar-benar ada di tempat yang dai (tinggi). Maksudnya di sini ... universitasnya, asramanya, ada di dataran tinggi. Permainan kata-kata yang menarik, ya?

"Kalau di tipi-tipi nih, pasti ada lelaki yang nyamperin buat bantuin tuan putrinya ngangkat barang. Ada enggak ya di sini?" Ela tertawa sarkas sambil terus berjalan. Barang bawaan yang berat membuat tangannya merah kini. Sesekali dia beristirahat, meletakkan belanjaannya sebelum kembali melangkah. Namun kehidupan Ela bukanlah ftv. Tentu tak ada yang menghampiri membantunya membawa belanjaan.

Hanya saja, ketika wanita bermanik hitam ini merasa super lelah di sebuah perempatan, telepon genggam di kantongnya bergetar. Buru-buru dia ambil benda elektronik itu dan serta merta senyumnya melengkung ketika melihat sebuah nama memanggil.

"Hai, moshi-moshi? (Ya, halo?)" kata Ela setelah menancapkan earphone ke ponsel dan memasukkan benda kotak itu ke dalam saku jaket. Jantungnya berdegup kencang menunggu balasan suara tersayang dari seberang.

Begitu suara ngebass nan indah melantun dari speaker merasuk gendang, ["Hm? Kue mochinya kenapa?"] lelah yang sempat membebat Ela serta merta sirna. Senyum indah melengkung di bibirnya.

"Bukan kue mochi duh. Artinya tadi ya, halo? gitu bang," balas Ela kemudian sembari mengangkat kembali belanjaannya yang sempat dia letakkan di trotoar. Dia pun kembali berjalan.

["Hahaha. Mana aku tahu dah. Aku nggak bisa Bahasa jepang. But, hi babe. Do you miss me?"]

Ela memejamkan mata. Menengadah, melihat langit yang telah berubah hitam pun hanya bercahayakan lampu jalan, dia menjawab tanya lelaki di seberang. Ketulusan tersurat dari caranya melantunkan kata, "A lot."

Sebelum pembicaraan berlangsung lagi. Dan Ela merasakan penat, bad mood pun lelahnya hari ini ... tiba-tiba lenyap.

Hanya karena pemuda yang telah melingkarkan cincin di jari kelingkingnya ...

Meneleponnya.

[]



Post ini telah dihapus oleh sella91
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
3) His Name is Maikuma Araki
.

.

===================

Siapa bilang wanita, tak bisa membalas umpatan dengan makian yang lebih kasar, hm?!

===================
.

.

Musim dingin di Kumamoto tak seperti musim dingin di Tokyo, apalagi Hokaido. Kau tahu mengapa? Mari kita buka peta dan kita tilik dimana letak Kumamoto ini. Oh jika kalian berpikir prefecture dengan maskot Kumamon ini terletak di Honshu atau di sekitar Tokyo, Osaka, Kyoto … maka tetot! Selamat kau salah!

Kumamoto ada di pulau Kyushu, pulau nomor 3 terbesar di Jepang dan terletak di Selatan-nya Jepang, kakak …

Dan karena letaknya yang ke Selatan, prefecture Kumamoto cenderung lebih hangat dari wilayah Jepang yang lainnya (selain Miyazaki, Kagoshima tentunya). Karena itulah kendati sudah bulan Desember awal, salju belum menunjukkan batang hidungnya. Namun jangan salah, angin yang menampar cukup dingin hingga kalau kau keluar rumah, tetap harus berbalutkan syal meski tidak heboh sampai tumpuk-tumpuk.

Ela juga sama. Kini dia bagaikan lepet dengan kain-kain tebal yang dipadukan sweater dan syal membalut.

Lalu kau tahu? Hidup Ela bahagia selama 15 hari tak pernah bertemu lelaki berambut acak-kadut dan sialannya kebangetan bernama Maikuma Araki itu. Konon kata Mai, lelaki yang berasal dari Hiroshima itu sudah banyak melancong ke berbagai belahan dunia. Jadi sifat pribuminya lambat laun terkikis dan kata-kata umpatan kerap saja meluncur dari mulut. Hah, bahkan dia sering sekali baku hantam dengan preman kampus karena hal itu.

Pantas saja perangainya minus 100 begitu pada orang yang baru ditemui.

“Era, kamu perhatian sekali pada Araki-kun ya?” tanya wanita berema pirang (cat) yang tengah menyeruput coklat panas di akhir percakapan mereka. Ela yang sedang manggut-manggut sambil makan roti melon seketika tersedak.

“Huh?” Mengedipkan mata, Ela memandang Mai penuh kebingungan. Kenapa wanita ayu bertahi lalat di dagu ini bisa berpikir begitu? “Aku tidak peduli padanya, Mai-chaaan. Aku hanya ingin tahu!” buru-buru Ela menyusuli. Yang mana hanya mendapatkan kikihan manis dari perempuan manis di sampingnya yang diikuti jawaban “sure, sure!Oh my. Perempuan Jepang ini tak percaya.

Melengos, Syela tak ingin berdebat lebih lanjut. Dia memutuskan untuk menelan bulat-bulat sisa kue di tangannya dan meremat plastik pembungkus sebelum mengendik pada Mai, “kita balik lab sekarang?”

“Okay,” balas wanita berbalut jaket bulu itu sebelum menenggak habis coklatnya. Dia berdiri kemudian dan mengekor Ela yang sudah bergerak lebih dahulu menuju pintu dan sedang sibuk mengamati tempat sampah. Well, kebiasaan orang asing di Jepang memang mengamati tempat sampah agar tak salah buang. Sehabis mereka menyelesaikan urusan perut, keduanya berjalan beriringan menuju mobil.

“Kau tak beli sushi atau apa gitu di konbini (minimarket), Era? Kamu tidak lapar cuma makan roti meron?” tanya Mai membuka pembicaraan dalam perjalanan. Dia melangkahkan kakinya yang berbalut stocking hitam sampai lutut yang dibalut boot sebetis sambil sedikit berlari. Ela tidak lebih tinggi darinya, tapi perempuan pendatang ini kalau jalan super cepat.

“Oh aku lagi mengencangkan sabuk,” balas Ela singkat tanpa melihat. Alih-alih, wanita Indonesia itu celingukan mencari mobil chuta-nya. “Lagi pula … aku bawa bento (bekal),” lanjut Ela tanpa menyuarakan kata hatinya yang terdalam, ‘di Jepang apa-apa mahal sih! Kan aku bukan anak sultan! Jadinya bawa bekal deh.’

“Mengencangkan sabuk?” Mai bertanya sambil menekan tombol remote yang dia pegang, dia melihat reaksi kawannya yang menepuk jidatnya ketika melihat sebuah sein mobil berkedip dan suara ‘bip bip’ menggaung. Dia ingin tertawa sejujurnya, Ela begitu gamblang dalam berekspresi. Lihat? Dia baru saja memperlihatkan ekspresi shock ‘Astaga iya! Aku lupa ada alarm! Kenapa aku bagai orang bodoh celingukan mencari dimana mobilnya diparkir?’

“… berhemat maksudnya, Mai-chan,” jawab Ela pelan sembari menggembungkan pipi saat dia menyebut nama kawannya. Dari ekor matanya, dia dapati Mai melengkungkan bibir sebelum menutupi mulutnya. Hahaha. Wanita ini menyadari kebodohannya melupakan keberadaan alarm!

Namun Mai tak menangkap alasan Ela memasang tampang kesal begini. Kebingungan, dia bertanya, “… kenapa kamu pasang tampang begitu, eh?”

Yang langsung dibalas sebuah gerutuan, “kau menertawakanku,” ketika sang Pemilik marga Kurenai sudah berjalan bersebelahan. Di saat itulah Mai memahami jika Ela malu.

Malu karena kelihatan bodohnya.

Dan itu membuat pertahanan Mai akan tawa yang siap meledak, runtuh.

“Pffft. Benar. Aku menertawakanmu, habis kamu … kukuku … hahahahaha!” Spontan, wanita ayu ini terbahak sambil mengusap air mata yang sedikit luber. “Imut sekali ekspresi bodohmu itu! Hahahaha!”

“Mai-chan, aku tidak bodoh! Aku cuma lupa keberadaan remote mobil. Tak ada yang luc—hei! Dengarkan kalau aku bicara! Jangan begitu, aih!”

Kedua orang berbeda bangsa dan negara ini kemudian saling canda menuju sebuah mobil sedan Mazda Hybrid berwarna putih yang terparkir di bawah pohon sana. Ela ngomel-ngomel pada Mai yang tampak sekali tak menggubris.

Orang Jepang, bila kau belum kenal dekat mereka … akan memasukkan segala yang kamu katakan ke dalam hati dan menganggapmu serius. Dulu Kurenai Mai juga begitu. Pernah sekali Ela mengatai, “uso deshou ne? (kamu bohong, kan?)” dengan nada bercanda. Maksud wanita kelahiran Pati itu ‘alah, boongan kan kamu? Iya, kan?’ tanpa sebuah keseriusan, tapi tentu beda tempat beda frekuensi penangkapannya.

Namun kini Mai sudah berbeda. Mungkin karena kebal pada Ela, dia jadi terbiasa dengan kata-kata Ela dan berujung mereka bisa tertawa, bercanda lepas.

Dan interaksi simple dua manusia itu rupanya ada yang mengamati.

Seorang lelaki berema berantakan yang baru saja memarkirkan sepeda dan kini berdiri tepat di depan konbini.

“Dasar orang asing, caper,” gumamnya sinis sebelum melenggang masuk ke dalam minimarket yang menjajakan makanan cepat saji tapi bukan junk food itu.

***


Ela sedang menimbang sesuatu di depan pintu ruang kerja di Harada-ken (kenkyushitsu: lab). Dia tampak serius membaca perpesanan yang sedang masuk di ponselnya. Percakapan selama 15 hari dia baca dengan seksama sebelum helaan napas panjang dia buang.

Sudah dia duga. Fahmi, tunangannya tercinta, beberapa hari ini sedikit sekali mengirimkan pesan padanya! Well, tiap hari mereka masih berkomunikasi, sih, tapi jumlah chatnya menurun!

Apa?! Kau merasa ini tak penting?!

Bagi kalian-kalian yang tak memiliki hubungan LDR, jarak jauh, komunikasi rasanya cuma ampas. Lebih baik bertemu muka saja, kan? Namun bagaimana nasib mereka yang terpisahkan samudra? Jumlah chat bisa menjadi indikasi bosan atau tidaknya seorang manusia!

B-bagaimana kalau di Indonesia sana dia digoda oleh tante girang? Atau oleh atasannya? Sekertarisnya? NOOOOOO!!!

“Kenapa Ela?” sebuah tanya yang meluncur dari suara berat dan serak tak asing membuat wanita 22 tahun ini terperanjat. Koreksi, bukan cuma terperanjat tapi terkejutnya bukan main sampai rasanya mau mampus dan tanpa sadar sampai membuang ponselnya sendiri. Yang apesnya, ponsel ini mengenai muka orang lain yang lewat. Membuat orang itu mengaduh, “itte! (Aw!)”

Namun merasa lelaki berema merah karena cat dengan rambut bergelombang yang tak asing itu bukan prioritas, Ela tak acuh. Dia spontan hadap kiri, melebarkan senyumnya dan santun mengucapkan salam, “eh, sensei. Selamat siang ... Tidak ada apa-apa kok, sensei. Jangan khawatir …”

Lelaki berbalut kaos berlogo buaya itu mengangkat dua alisnya dan memberikan pandangan tak percaya sambil menginspeksi Ela dari atas ke bawah, sebelum berkomentar cepat, “ah, okay. Saya kira ada apa-apa. Habisnya kamu melamun sambil garuk-garuk begitu.” Dia kemudian berjalan melalui Ela yang juga spontan hadap kiri, mengantarkan beliau pergi.

Namun belum juga lima langkah, pria berahang kokoh itu berbalik badan, “Syela, kalau ada kesulitan atau masalah, kamu harus langsung memberi tahu saya. Saya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu selama kamu menjadi mahasiswa ampuan saya, mengerti?”

Hai, wakarimashita, sensei! (Baik pak, saya mengerti!)” seru Ela sembari mengangguk dengan senyuman cerah masih terpampang. Yang mana anggukan ini dibalas senyum simpul oleh sang Professor sebelum akhirnya pria itu berbelok ke sebuah ruangan daaaan … Ela membuang napas lega.

Setidaknya sampai suara dingin yang berbalut tatapan tajam penuh kekesalan menembus punggungnya, Ela merasa lega. “Iya memang kita harus jaga sikap di depan sensei, tapi bukan berarti tak memperhatikan hubungan dengan sesama, bit*h!” kata suara yang juga familier itu, membuat Ela seketika berbalik badan.

Lelaki tinggi berkupluk rajut yang dipadukan sweater bergaris kecil-kecil dengan dalaman kaos berkerah lengan panjang warna merah-lah sumber suara. Bukan lelaki biasa, melainkan orang super nyebelin; Maikuma Araki.

Serta merta senyuman Ela jatuh. Dia melipat tangannya dan memicingkan mata. Namun belum sempat dia membalas kalimat pedas itu, sebuah ponsel pink—ponselnya—diketukkan oleh lelaki itu ke puncak kepala Ela. “Minta maaf sama Hideo, sekarang,” desis lelaki ini dengan manik berkilat penuh intimidasi.

Ela mengerutkan kening tentu saja, dia bingung apa maksud ucapan Araki si kutu kupret ini. Namun ketika dia melirik ke pemuda lain yang remanya mirip indomie goreng sambil mengambil ponsel dari tangan Araki, seketika bibir berpoles gincu tipis yang siap menyerang pemilik marga Maikuma itu tertutup. Pelipis Hideo menggaris merah, sepertinya ada darah juga.

Dan ini membuat jantung Ela berpacu. Astaga! Dia melukai anak orang! Itu kenapa bisa merah begitu?! Kena ujung ponselnya yang retak ya?!

"G-gomennosai ... (maaf ...)" kata Ela cepat sambil melengkungkan punggung 90 derajat. "Aku tidak tahu, serius," lanjutnya sembari menegakkan punggung, dengan bahasa Inggris. Sebelum sekali lagi dia membungkuk dan berkata, "hountoni gomennosai! (Aku sungguh-sungguh minta maaf)" penuh kesungguhan hingga tanpa sadar suaranya mengencang dan menggaung di lorong panjang tempat mereka berdiri.

Berdasarkan adat, Ela melengkungkan punggung dan tidak mengangkatnya sampai orang yang ingin dia pinta maafnya ucapkan sesuatu. Kalau di Indonesia kita bisa melenggang santai, lingkarkan tangan di bahu dan berkata, "sorry bro. Kagak maksudnya menyakitimu," tanpa ada rasa tak enak. Namun sekali lagi, Ela adalah orang asing. Dan dia harus ikut tatanan yang ada di negeri orang bukan sebaliknya. Karena itulah dia menunggu ... menunggu Hideo bilang, "tidak apa-apa kok," atau sebangsanya.

Dan beberapa detik kemudian lelaki itu merespon. Dia tidak menggunakan bahasa untuk membuat Ela tegak kembali, melainkan tangannya terjulur dan penuh kelembutan dia membimbing Ela meluruskan punggung.

Setelah itu baru keduanya saling tatap, tapi tangan besar pemuda ini masih mencengkeram lengan atas Ela kuat, yang akhirnya membuat suasana menjadi serius. Awalnya Ela pikir akan ada baku hantam. Hanya saja ketika hitamnya bertumbuk dengan netra hazel lelaki ini ...

Saat itulah Ela melihat lautan sabar di mata Hideo (yang sangat kontras dengan kecamuk emosi pada manik Araki), dan seolah membuktikan teorinya, dia mengatakan, "ii yo, Era-san. Daijoubu yo."

Kalimat simple itu Ela tahu apa artinya: tak apa-apa, Ela. Semua baik-baik saja kok.

Yang mana membuat Ela spontan meraih tangan pria ini yang masih di lengannya, menggenggam dua telapak tangan itu di antara jari-jemarinya. "Anata wa tenshi deshou ne?" Yang walau pun konteks, struktur atau tetek bengek perbahasaan Ela kacau balau, artinya masih dapat dicerna. Itu membuat Hideo serta merta memerah. Karena Ela menanyakan, apakah Hideo adalah malaikat? Sehingga bisa memaafkannya sedemikian mudah! (Tentu kalimat terakhir tidak terucap, tapi entah mengapa dapat dimengerti).

Momen perminta maafan dan memaafkan yang dibangun Ela serta merta runtuh ketika pria lain di lorong itu angkat bicara. Nadanya sinis, "he ... sekarang jadi tukang rayu gitu? Menjijikkan." Dia mengucapkan itu sambil mengetukkan kakinya di lantai dengan tidak sabar, tangannya terlipat.

Yang mana komentar tidak bersahabat ini membuat Ela melengos. Dia bersendekap kemudian dan berjalan mendekati Araki dengan gestur sok-sokan. Tak kalah sinis dia kemudian melemparkan kata, “bagaimana aku, bukan urusanmu, as**ole!” seiring pandangan lembutnya mengeras.

Terlihat Araki mengerutkan kening mendapati reaksi yang demikian ini. Mungkin dia tak menyangkan wanita dari luar negeri berani meladeni mulutnya yang nyolot. Namun cepat sekali pemilik rema berantakan dan dicat coklat mentereng ini mengendalikan diri. Berikutnya dia bergumam, “oooh?” dengan dua alis terangkat; menantang.

Ela merekahkan seringai menanggapinya, “yea. Kalau kamu pikir aku takut sama kamu, maka kamu salah besar, di****ad.”

Sementara Hideo di samping kedua insan yang saling lemparkan tatapan ingin melumatkan ini … hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Dan memilih untuk menolak pusing, dia pergi perlahan dari lokasi persiteruan. Bodo amat dah.

Orang yang sedang asyik dengan umpatan-umpatan (yang sejujurnya dia juga tak paham artinya), tak perlu diperhatikan lebih. Mereka hanya membuang-buang waktu!

Namun siapa sangka, Ela yang berani membalas makian Araki dengan makian juga, membuat lelaki itu menyeringai penuh makna ketika tiada orang yang memerhatikan. Seakan-akan … dia adalah predator yang telah temukan mangsa.

[]


note:
-chan : panggilan untuk mereka yang telah akrab dan biasanya diberikan pada cewek karena itu imut.
-kun : panggilan untuk mereka adik kelas atau yang lebih muda
-san : panggilan untuk mereka yang lebih tua, orang asing (menunjukkan rasa menghargai)
-sama : Tuan

Diubah oleh deelanerth
Thread sepi begini jadi HT emoticon-Cape d... (S)
Nggak tau kenapa,

Ane numpang pejwan dulu..
Menarik sekali
Wah wah kenapa ga di terusin yaaaa


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di