CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d3ab595fac4486cbb7c8cea/our-secret-passages

Our Secret Passages

Hai hai agan dan sista. Si newbi kembali lagi dengan cerita baru ... sama sekalian nyobain tombol-tombol di kaskus. Iya aku seudik itu memang. Maafkeun.

Kini cerita yang terinspirasi sebuah kisah saat deela terdampar di Jepang. ROMANSA nih genrenya. Siap membaca? Kencangkan sabuk pengamaaan!!!

.
.
Lelaki berengsek itu bernama Maikuma Araki. Dia selalu menempel kemana pun Ela pergi. Mengesalkan!

Bahkan malam hari pun dia tak sungkan masuk ke kamar Ela daaaan menawari Ela untuk mabuk bersama? Maaf mas, situ sehat?

Namun lambat laun pertahanan Ela runtuh. Karena apa?

Di saat tersulitnya, Araki selalu ada dan mendampingi wanita Indonesia ini. Tak mudah untuk menjadi seorang Ryugakusei (mahasiswa asing) kau tahu?

Karena itulah, perlahan ...

Ela melepaskan cincin yang melingkar di tangan kirinya dan bermain bersama lelaki yang selalu ada dengannya itu.

Di bawah bunga Sakura, di negeri Matahari terbit ... cinta terlarang terselenggara.

---------------------------------------------------

OSP©deelanerth2019 



sumber: galeri hape deela


Spoiler for Cover ala-ala sinetron:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh deelanerth
2) Shop to a Supermarket
.

.

================

Lelahmu kan hilang kala gendangmu mendapatkan masukan ... dari suara kesayangan.

================

.

.

"Piring ke berapa tuh, El?" sebuah tanya menggugah Ela yang sedari tadi terdiam sembari menekuri tempe penyet di hadapannya. Dia spontan mendongak hanya untuk mendapati wanita ayu berbalut daster bunga-bunga sedang memandangnya penuh curiga.

Ela memilih menjawab tanya skeptis itu dengan kekehan, tapi untuk basa-basi yang lainnya, dia memilih untuk diskip saja sementara tangannya terus bekerja, mengambil sepuluk nasi sebelum hap! masuk ke dalam mulut. Baru ketika sang Penanya melenggang ke ricecooker dan menekan tombol di tutupnya, Ela menunjukkan reaksi lebih. Dia mulai berkeringat dingin.

Alis tebal teman kamar Ela ini naik begitu mendapati nasi tinggal 1/4. Kemana pula yang 3/4?

"Kamu kunyah apa langsung telan sih nih nasi?" tanya itu meluncur seiring pandangan menuduh terlempar. Ela seketika menjawab sambil terkekeh kecil, "sorry mbak, enak banget penyetannya. Enggak terasa udah masuk perut semua."

Wanita bernama Berlian ini mengerutkan kening. "Kamu lapar apa nggeragas sih?" dia bertanya lagi, nadanya sedikit menekan dan tampak jika dia tak suka.

Ela paham sih mengapa kawan berbagi kamar bentuk apartemennya seperti ini. Pertama, apa-apa di Jepang mahal (kalau kau berpikir dalam kurs rupiah). Kedua, tempe di sini sangat jarang; beli saja harus online! Ketiga, sama seperti tempe, lombok pun harus beli secara online daaaan harganya selangit! Mana toko yang menyediakan jasa pengirimannya tidak buka setiap saat! Sementara ini masih awal bulan dan bahan makan mereka ini patungan untuk dua kamar; kamar mereka 3 orang dan kamar atas 3 orang. Kamar lelaki bujangan Indonesia itu tak mau masak dan memilih menyumbang uang asal ada pasokan gizi setiap harinya.

"Iya, aku nanti masak nasi lagi. Tempe aku cuma pakai 1 dari yang kita beli. Lombok juga cuma 15 biji kok. Uangnya aku ganti. Swear!" kata Ela akhirnya menjawab tudingan dalam diam wanita yang lebih senior itu. Sengaja dia tak membalas provokasi yang terlempar.

"Lombok pakai saja nggak apa sih. Kalau tempe, ya, kamu harus ganti uangnya. Mahal itu. Di Indo cuma 3000 rupiah di sini kan 130.000 rupiah. Terus berasnya abis btw," mendenguskan napas berat, wanita asli Bali itu menjelaskan mengapa dia memberikan pandangan menghakimi. Ela terkejut tentu saja mendengar kabar ini. Dia sudah menganga dan ingin serukan keterperangahannya dengan alay, tapi dipotong dengan cepat oleh wanita berema sebahu di sana, "ah. Aku ada rapat PPI habis ini. Kamu yang beli ya. Sendiri."

Yang spontan dijawab, "eeeeehhhhh????!!!" Dari cara menatap kawannya, kentara sekali Ela keberatan harus beli sendiri. Namun di satu sisi dia tahu jika teman berbagi asrama berbentuk apartemennya ini memang sekretaris PPI (perhimpunan pelajar Indonesia) seperfecture Kumamoto ini dan di aplikasi Rine, dari kemarin Ketua PPI (salah satu abang di kamar atas) sudah koar-koar untuk diadakan rapat membahas tanggal pergi melihat iluminasi di taman bunga Floranta.

"B-bajin gimana? Dia nggak bisa nemenin aku?" kelabakan, Ela bertanya. Dia mencari seribu cara agar tak belanja sendiri. Karena jarak asrama universitasnya dengan swalayan tergolong jauh dan biasanya yang berangkat belanja itu mereka bertiga, Ela, Viriginia dan Berlian. Kadang sama abang-abang penghuni kamar atas, sih. Tapi dia tahu bang Yogi itu ketua PPI, bang Gaza Seksi Fotografi dan Bang Bangkit sebagai humas. Mereka pasti ikutan rapat pula. Dan btw, Bajin itu Virginia. Di Jepang, orang Jepang menyebut Vi sebagai Ba, sebagaimana Vietnam menjadi Baitonamu.

"Bajin lagi jikken (penelitian). Bilangnya sih pulang entar tengah malam," terang Berlian seiring kakinya melangkah ke kulkas. Dia segera membuka rak paling bawah yang harusnya dipenuhi sayur mayur. Alisnya langsung tertaut begitu dia hanya melihat "El. Kamu bikin penyet pakai terong juga? Aku mau masak oseng terong buat makan malam kok nggak ada semua terongnya, kamu pakai berapa, Maimunah?!" Mengerang Lian berdiri lalu menutup pintu kulkas. Dia tatap Ela tajam dengan geram, membuat sang empunya nama hanya bisa bergerak gusar di tempat duduknya.

"Iya aku beliin! Sekalian dilist deh kita butuh apa saja, habis ini aku caw!" menyelesaikan makannya dengan buru-buru, Ela menyerukan kalimatnya. Setelah selesai dia segera meletakkan piringnya di tempat cucian dan berlari ke arah kamar.

"Piringnya cuci dulu, Maimunaaaah!" Berlian yang sedang berkutat dengan list berseru melihat kelakuan temannya. Namun dari balik kamar, Ela menjawab, "kagak sempat! Makin malam makin dingin di musim dingin ini! Aku mau caw habis ini!" Yang dapatkan dengusan kasar dari Berlian. Karena apa artinya? Dia yang anti kotor-kotor harus mencucikan dulu piring ndoro ayu Ela sebelum dia berangkat rapat.

***


Supermarket terdekat asrama yang dihuni Ela adalah Maxvalue. Jaraknya 2.5 km tanpa kendaraan umum menghubungkan keduanya. Artinya? Ela harus jalan. Kenapa tidak naik sepeda motor? Oh please. SIM internasional saja dia tak punya. Lagipula motor dari mana? Hidup di luar negeri tak seenak kau main kelereng di negara sendiri, kakak ...

Dan menjadi manusia yang di Indonesia selalu naik kendaraan pribadi, jalan kaki sungguh bagaikan neraka. Sudah 4 bulan berdiam di negara matahari terbit pun dia belum biasa. Karenanya, baru sampai depan pintu supermarket saja Ela sudah ... kehabisan napas.

Dia bahkan sampai hoh ... hoh ... hoh ... bernapas berat dengan punggung melengkung di depan pintu supermarket saking capainya.

Sampai tiba-tiba saja ada suara menyapa, "s-sumimasen ... daijoubuka? (Maaf, kamu nggak apa-apa kan?)" dan kala Ela mendongak, seorang wanita tua yang tengah mendorong troli isi belanjaannya berhenti di depannya. Dia mendekati Ela dengan tangan terulur dan wajah khawatir.

Ela kontan menegakkan punggung, sebuah senyum ramah tertarik di sela napas memburu sebelum balasan cepat dia berikan, "Hai, daijoubu desu! (iya, saya tidak apa-apa!)"

Tampak nenek berkacamata itu sanksi akan jawaban Ela, tapi dia tak menekannya lebih lanjut. Alih-alih dia tersenyum memahami, berikan sepatah dua patah kata tambahan yang Ela tangkap samar-samar sebagai syukurnya karena dia tak ada masalah. Lalu mereka berpisah.

Ela berdiri di depan pintu sampai sosok nenek perhatian itu menghilang di balik sebuah mobil biru berplakat nomor warna kuning. Pandangan kagum perempuan Indonesia ini berikan. Benar kata seseorang, kau tak perlu berada di negara taat beragama untuk mendapatkan junjungan tinggi akan kemanusiaan. Yang diperlukan hanya otak untuk memikirkan apa yang baik untuk khalayak bersama dan hati untuk berempati. Kau lihat betapa orang itu sangat memperhatikannya, bukan? Dan bagaimana orang pada orang lain di negaranya sendiri? Aw. Ironi.

Merasa wanita Jepang yang dia amati akan terganggu jika dia terus memperhatikan, akhirnya Ela memutuskan masuk ke dalam supermarket. Dia ambil troli dulu di luar dan segera capcicus mengambil semua kebutuhan. Sambil berbelanja, mood buruk Ela karena lelaki sialan tak tahu tata krama hilang. Memang, keburukan akan tertutup dengan kebaikan. Yang menari-nari di otaknya kini adalah fakta masyarakat Jepang memang begitu baik terhadap sesamanya ... Ah~~ dia pun ingin begitu~~

Setidaknya perasaan positif yang Ela dapat bisa dia jaga cukup lama. Dia sudah berdendang menikmati kegiatan mendorong kereta dan memilih-pilih barang.

Setidaknya sampai dia berjalan ke lemari es panjang dia masih menikmati harinya. Namun kala dia melihat gerombolan lelaki sedang memilih pudding di ujung lemari dengan berisik, semua berubah.

Bukan. Bukan pria berkupluk rajut yang menunjuk pudding di tangan temannya sebelum membuat gundukan di depan dada lalu dia goyang-goyangkan ala dada boing-boing yang membuat Ela membeku. Bukan dia.

Namun lelaki yang berdiri di samping kanan lelaki pembawa pudding. Lelaki dengan rambut berantakan yang kini ditahan dengan bando kecil hitam.

Lelaki itu tengah terkekeh dan tampak enjoy bercengkrama dengan yang lainnya. Tapi tetap saja ... lelaki itu ...

Si pria bere**sek, Araki.

Menggeram, akhirnya Ela memilih untuk balik kanan. Dia dorong keretanya menjauh dari keramaian anak muda itu. Susu bisa dia beli terakhir. Dia sedang tak ingin sakit hati dipanggil jalang lagi oleh orang yang pernah bicara dengannya saja tidak.

Keinginan Ela akhirnya terkabul. Dia bisa melanjutkan berbelanjanya tanpa harus terlibat dengan si mulut preman. Dia bahkan bisa ambil susu lalu berdiri di kasir tanpa ada keributan. Memasukkan belanjaannya pun dengan damai sentausa.

Masalah baru menampar Ela ketika dia ... ingin pulang.

Keringat sebesar jagung pun ikutan muncul di pelipis wanita ini.

Astaga Tuhan! Kenapa dia bisa beli banyak sekali belanjaan dan lupa jika dia kemari dengan kendaraan kaki? Dia harus gotong belanjaan ini sendiri, begitu? Namun realistis saja, dia tak mungkin meminta bantuan orang lain yang tak dia kenal. Karenanya, setelah menarik napas panjang dia segera mengangkat belanjaannya dan mulai berjalan.

Jarak 2.5 km yang membentang sejatinya bukanlah soal jika jalanan yang dilalui datar, lurus tanpa tanjakan. Hanya saja, untuk bisa kembali ke dalam asramanya, Ela harus mendaki dulu.

Benar, Daigaku (universitas) tampat Ela mengampu ilmu di negeri Matahari terbit kali ini benar-benar ada di tempat yang dai (tinggi). Maksudnya di sini ... universitasnya, asramanya, ada di dataran tinggi. Permainan kata-kata yang menarik, ya?

"Kalau di tipi-tipi nih, pasti ada lelaki yang nyamperin buat bantuin tuan putrinya ngangkat barang. Ada enggak ya di sini?" Ela tertawa sarkas sambil terus berjalan. Barang bawaan yang berat membuat tangannya merah kini. Sesekali dia beristirahat, meletakkan belanjaannya sebelum kembali melangkah. Namun kehidupan Ela bukanlah ftv. Tentu tak ada yang menghampiri membantunya membawa belanjaan.

Hanya saja, ketika wanita bermanik hitam ini merasa super lelah di sebuah perempatan, telepon genggam di kantongnya bergetar. Buru-buru dia ambil benda elektronik itu dan serta merta senyumnya melengkung ketika melihat sebuah nama memanggil.

"Hai, moshi-moshi? (Ya, halo?)" kata Ela setelah menancapkan earphone ke ponsel dan memasukkan benda kotak itu ke dalam saku jaket. Jantungnya berdegup kencang menunggu balasan suara tersayang dari seberang.

Begitu suara ngebass nan indah melantun dari speaker merasuk gendang, ["Hm? Kue mochinya kenapa?"] lelah yang sempat membebat Ela serta merta sirna. Senyum indah melengkung di bibirnya.

"Bukan kue mochi duh. Artinya tadi ya, halo? gitu bang," balas Ela kemudian sembari mengangkat kembali belanjaannya yang sempat dia letakkan di trotoar. Dia pun kembali berjalan.

["Hahaha. Mana aku tahu dah. Aku nggak bisa Bahasa jepang. But, hi babe. Do you miss me?"]

Ela memejamkan mata. Menengadah, melihat langit yang telah berubah hitam pun hanya bercahayakan lampu jalan, dia menjawab tanya lelaki di seberang. Ketulusan tersurat dari caranya melantunkan kata, "A lot."

Sebelum pembicaraan berlangsung lagi. Dan Ela merasakan penat, bad mood pun lelahnya hari ini ... tiba-tiba lenyap.

Hanya karena pemuda yang telah melingkarkan cincin di jari kelingkingnya ...

Meneleponnya.

[]



×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di