CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d3ab595fac4486cbb7c8cea/our-secret-passages

Our Secret Passages

Hai hai agan dan sista. Si newbi kembali lagi dengan cerita baru ... sama sekalian nyobain tombol-tombol di kaskus. Iya aku seudik itu memang. Maafkeun.

Kini cerita yang terinspirasi sebuah kisah saat deela terdampar di Jepang. ROMANSA nih genrenya. Siap membaca? Kencangkan sabuk pengamaaan!!!

.
.
Lelaki berengsek itu bernama Maikuma Araki. Dia selalu menempel kemana pun Ela pergi. Mengesalkan!

Bahkan malam hari pun dia tak sungkan masuk ke kamar Ela daaaan menawari Ela untuk mabuk bersama? Maaf mas, situ sehat?

Namun lambat laun pertahanan Ela runtuh. Karena apa?

Di saat tersulitnya, Araki selalu ada dan mendampingi wanita Indonesia ini. Tak mudah untuk menjadi seorang Ryugakusei (mahasiswa asing) kau tahu?

Karena itulah, perlahan ...

Ela melepaskan cincin yang melingkar di tangan kirinya dan bermain bersama lelaki yang selalu ada dengannya itu.

Di bawah bunga Sakura, di negeri Matahari terbit ... cinta terlarang terselenggara.

---------------------------------------------------

OSP©deelanerth2019 



sumber: galeri hape deela


Spoiler for Cover ala-ala sinetron:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh deelanerth
1) Such A Jerk
.

.

======================

Cerca yang kau lempar dari mulutmu, kadang melukai orang tanpa kau maksudkan begitu, kau tahu?

======================


.

.


"Astaga Tuhan, siapa juga yang pernah makan Candance? Aku bahkan baru dengar nama program ini di sini! Mana mungkin aku paham dalam waktu singkat lah!" seorang wanita asyik merancau di sebuah ruangan 5x6 yang dipenuhi dengan komputer dengan melototi satu-satunya komputer on di ruangan itu.

Dari gestur tubuh dan kerutan di muka mungilnya, tampak jelas bila wanita berhidung pesek ini geram bukan main atas jalan yang dipilihkan sensei-nya (sensei: professor). Lelaki pemilik laboratorium yang dia tempati memintanya menguji desain alat yang dia buat menggunakan sebuah software bernama Candance. Ingin sekali Ela menolak kala mendengar perintah itu, tapi tidak dia lakukan karena yah ... malu. Lulusan Universitas 5 terbaik di Indonesia dengan gelar sukma cumlaude dan lulus tidak sampai 3.5 tahun, diberi tantangan sedikit saja menyerah? Hah! Yang benar saja!

Tapi jujur Tuhan, kemana lagi dia harus meminta pertolongan atau pencerahan software ini? Karena kau tahu apa ... ini software baru di laboratoriumnya dan dia adalah pemakai perdana. Wut?

Menggeram sekali lagi, perempuan bernetra jelaga dan Asli Indonesia ini segera ambil ponsel dan mencari aplikasi Rine. Buru-buru dia mencari nama kakak tingkatnya, lalu dia tekan tombol telpon. Persetan benar abang di Taiwan itu sedang apa, yang jelas dia mau cari ilmu tambahan! Kemarin tak sengaja dia melihat WAtsup-story babang itu dan jelas sekali tampilan desain VLSI (Integrasi Skala Sangat Besar) yang dia buat menggunakan Candance! [Nb. Semua bahasa alien di atas adalah bahasa perteknikan]

Begitu tersambung, wanita yang remanya digelung macam bakpao di belakang kepala ini segera berucap, "Bang, ajarin aku pemrograman Candance gih. Harada-sensei meminta aku bangkitin flicker noise untuk desain amplifier yang aku bikin. Tapi aku samsek enggak pahaaam. Bisa video call kah kita?" tanpa mengucapkan halo atau semacamnya sebagai pembuka. Yang di seberang sepertinya sedikit tersentak. Kentara dari jeda yang terjadi selepas Ela berseru, tapi akhirnya kekehan meluncur menggantikan hening.

["Kamu nggak pernah telpon, sekalinya telpon langsung aja nembak keperluannya apa. Basa-basi dikit lah Syela ...,"] tegur babang di seberang sana di tengah kekehannya.

Ditegur seperti ini membuat Ela malu sejujurnya, karena memang benar dia sudah tidak pernah aktif lagi di aplikasi perpesanan mana pun dengan teman almamater universitasnya yang juga melancong di negeri orang demi gelar Master.

Hanya saja bukan Ela kalau tak bisa menyembunyikannya dengan sempurna. Suara jawaban atas komentar itu bahkan kokoh tanpa getar, "idih bang. Aku nggak perlu basa-basi kalau ke kamu atuh. Kamu angkat telpon dari aku aja udah ngasih tahu aku kabarmu gimana."

["Hm? Kabarku gimana?"]

Ela menggigit bibir. Dia tadi asal ceplos saja, jadi tak siap dengan pertanyaan mengejar begini. Namun dia juga tak mau dianggap orang tak pintar karena kalah cakap. Secepat lidahnya bersilat, secapat itu pula otaknya bekerja. Akhirnya ucapan balasan diutarakan mantap, "pertama nih ya, artinya kamu masih hidup. Kedua, sehat, karena bisa ketawa. Ketiga, hapemu nggak hilang. Keempat, kamu masih punya uang buat beli data."

Yang tentu saja disambut gelak membahana. ["Anjay. Kamu pikir aku masih di Indonesia apa harus beli data buat konek dimana-mana? Aku juga di luar wkwkwk-land atuh, Neng."]

Ela cemberut. Iya juga ya ... dia lupa kalau di luar negeri banyak wifi kecepatan jos dan open akses dimana-mana. Namun bukan Ela kalau mau mengalah. Wanita selalu benar, ingat?

Penuh kepercayaan diri tinggi perempuan ini kembali membalas ucapan Bagaskara. Kini dengan intonasi congkak yang berujung cekcok panjang. Topik utama tentang pemrograman menggunakan Candance? Tentang pembangkitan flicker noise untuk meneliti kemampuan amplifier yang telah dia desain? Tentang tetek bengek yang berhubungan dengan keteknikan elektronika untuk thesisnya? Wah. Mereka jauh terlupakan.

Dua manusia berbeda negara asyik saling cerca sampai akhirnya Ela mendengar pintu satu-satunya di ruangan E-12.6 ini diketuk. Perempuan berbalut kemeja lengan panjang yang masih dibungkus lagi dengan cardigan polkadot dan jeans biru ini spontan mengentikan kereta bicaranya dan mematikan sambungan tanpa permisi. Biasa, manusia kan kalau sudah memiliki kedekatan di atas rata-rata kadang lupa tata krama, begitu juga dengan Ela.

Tanpa babibu, setelah mematikan sambungan teleponnya, perempuan manis ini segera melangkahkan kaki ke pintu. Dia merekahkan senyum kecil dan pasang tampang polos seiring tangan menarik handle.

"Hai?" (ya?) tanyanya sopan pada siapa pun yang ada di depan pintu. Dan dia serta merta terhenyak begitu melihat banyak orang di depan ruangannya dan mereka semua pribumi; Nihon-jin (orang jepang).

Salah satu di antara mereka, lelaki setinggi Ela, angkat bicara. Yang membuat Ela seketika berada di dunia alien.

Astaga! Dia sama sekali tak paham pria ini mengatakan apa!!

Sementara itu tik tok tik tok ... detik berganti dan orang-orang yang Ela tak kenal siapa ini menunggunya yang hanya bisa menganga dan pasang tampang mas-kamu-ngomong-apa-sih untuk angkat bicara.

"A-ano ne ... Wa-watashi wa Ryugakusei desu. Dakara ... Eigo, onegaishimasu!" Ela akhirnya berkata. Sesungguhnya, wanita ini tak pernah mengenyam pendidikan Bahasa Jepang selain dari Anime-sama (sama: gelar hormat). Itu pun dia hanya mengerti Bahasa yang sering diucapkan.

Karenanya, Bahasa Jepang yang dia katakan tadi diragukan kebenarannya. Pemilik nama Syela Asmara Lengka ini hanya asal tempel tiap kosa kata yang dia ketahui menjadi satu kalimat. Intinya dia ingin mengatakan jika dia adalah mahasiswa asing dan dia minta mereka berbicara menggunakan Bahasa Inggris.

"E-eigo? (Bahasa Inggris?) qwertyuiop0987lkjhgfdsa!!" Ela mengerjab kala keterkejutan lelaki di hadapannya akan permintaan Ela supaya mereka berbicara padanya menggunakan Bahasa inggris, menggoncang kestabilan ketenangan alam.

Err ... gimana-gimana? Pria berema serupa mie keriting ini tadi bicara apa? Mereka yang ada di depan Ela ini sedang kasak-kusuk apa?

Ela tak mengerti apa pun, kakanda! Kalimat mereka abstark, kecuali ... Yabai (waduh gawat), ryugakusei (mahasiswa asing), ore (aku), doushiyo (terus gimana)!

Sama seperti mereka yang ada di hadapannya, Ela pun bingung sendiri. Tampak sekali dedek-dedek gemes di hadapannya memiliki urgensi yang ingin mereka sampaikan padanya. Namun dia tak paham!

Mereka bingung sendiri-sendiri sebelum tiba-tiba si Pembuka percakapan berseru, "Araki-kun! Tasukete!" (Araki, tolongin gih!) pada lelaki berbalut kemeja pink dengan dua kancing di atas terbuka yang dipadu dengan celana coklat ¾. Raut pria itu penuh harap. Akhirnya muncul juga sang Peyelamat!

Ela ikut menoleh ke sosok lelaki yang jalan dengan malas setelah keluar dari lift. Dia bahkan berjalan sembari menggaruk rambut dan menguap. Matanya tunjukkan betapa dia mengantuk. Akan tetapi, begitu dia mendengar namanya diserukan dan dia dapati deretan manusia yang pancarkan mata penuh harap, serta merta dia segera balik kanan.

Sumpah! Ela yakin 100% manusia berambut tebal model Harajuku acakadut tak jelas itu sengaja! Bahkan dia berdecak penuh kejengahan!

"C-choto mate yo, Araki-kun! Araki-kun!" (tunggu sebentar, Araki!) pemuda pertama tentu mengejar lelaki yang lain. Dia segera meraih tangan temannya itu sebelum mengatakan sesuatu. Ela tak tahu apa yang mereka diskusikan, tapi yang jelas bibirnya melengkung ke atas melihat gerak-gerik pribumi ini dan detik berikutnya tipis dia terkikih. Astaga! Adegan tadi seperti di drama yang hobi dia tonton!

"Apa? Nggak ada yang lucu deh, fag**t."

Kau tahu apa? Ela langsung menghentikan tawanya dan mata hitamnya serta merta membola mendengar ucapan dingin yang dilemparkan lelaki itu. Dia memandang sang Araki yang baru saja sampai di hadapannya dan berbicara Bahasa Inggris dengan fasih dan benar di hadapannya. Bibirnya terbuka tertutup tak kuasa harus membalas apa.

Orang ini menyebutnya apa?

F-fag**t?

"Kita mau pengujian di dalam dan ada urusan sama Harada-sensei. Kalau kamu nggak ada urusan di dalam sana, pergi, bi**h!"

Serius Ela membeku. Dia bahkan lupa bernapas. Tangannya terkepal kuat dan mata belo konstan melotot.

A-apa yang baru dibilang lelaki sialan ini?! Tadi dia panggil Ela apa? Sekarang apa?

"Nggak sopan amat kamu. Maumu apa sih?" Ela membalas, nadanya sedikit tajam. Dia mendongakkan kepala menantang.

Yang dibalas dengan kekehan sinis. "Kamu siapa kok memintaku sopan padamu?" kepalanya mendongak kemudian. Pandangan culas dia berikan dari atas, "dan mauku kamu pergi, jal**g! Kamu mengganggu kegiatan belajar kami."

W-what the—

"Ela, kamu belum selesai?" belum sempat Ela membalas cacian si Pribumi, suara hangat mengalun dari sisi kirinya. Ela kontan menoleh, dia lihat seorang lelaki paruh baya dengan rahang kokoh dan berbalut kemeja ditekuk setengah hingga siku tengah berjalan ke arah mereka. Pria itu merekahkan senyum lebar. Di tangannya tertenteng tumpukan dokumen. Orang ini ... Harada Kai, professor-nya, supervisor-nya.

Akhirnya, menelan semua emosi yang sempat ingin terlepas, Ela menarik napas panjang. Dia berkali mengucapkan kalimat tidak, kau tak boleh kelepasan dan marah-marah pada orang gila ini di depan sensei-mu di dalam hati. Setelah dia rasa emosi yang bercongkol berhasil ditekan, selayang senyum sopan dia rekahkan.

"Belum, sensei," ujarnya menggunakan bahasa Inggris sopan yang sedikit dimix dengan bahasa Jepang. "Saya lanjutkan besok tidak apa-apa, sensei. Akan saya ambil dulu barang saya," gumamnya sebelum masuk ke ruangan, mengemasi barangnya dan kembali ke luar.

Lalu untuk terakhir kali, dia menatap professor tampan meski sudah berusia kepala 5 di sana. Mantap dia berkata, "Otsukaresamadeshita sensei," (thanks for your hard work) lalu menunduk dan beranjak pergi tanpa menyapa makhluk berdarah Jepang yang lain.

Ela buru-buru bergerak ke arah ruangannya yang berada di sebelah ruangan ini. Dia lirik jam di tangan, masih sore kendati langit sudah mulai petang, 16:19. Harusnya ini belum jam pulang dia tahu. Tapi bodoh amat! Dia sudah mengucapkan kalimat pamungkas di setiap kegiatan berarti dia berhak undur diri. Ela ingin pulang ke asrama sekarang juga dan melakukan pelampiasan!

Kau tahu ... sakit sekali!

Siapa lelaki itu yang berani mengatainya fag**t dan bi**h di jumpa pertama? Hebat benar manusia bermata sipit itu! Perangainya sungguh tak seperti orang jepang yang normal! Ha! Pasti dia kelainan!

Tapi Tuhan ... sungguh Ela merasa terhina! Dia tidak pernah direndahkan seperti ini!

Berlari masuk ke ruangannya, Ela memasukkan barang-barang yang dia bawa. Teman berbagi ruangan dengannya menatapnya heran. Dia dengar wanita ayu yang merangkap sebagai Chuta (pembimbing)nya menanyakan dia baik-baik saja atau tidak. Ela sedikit merasa terhibur dengan perhatian ini, tapi hanya senyum kecil dia layangkan sebagai balasan karena ... argh! Melihat pribumi mengingatkannya pada makhluk itu!

"Era! Daijoubuka?" (Ela, kamu nggak apa-apa kah?) kukuh, wanita berema sebahu warna pirang ini meraih tangan Ela. Mata ke mata dia bertanya. Dia tahu wanita di hadapannya, Kurenai Mai, pasti bisa menangkap jika dia berdusta.

Namun Ela tak ingin menggunjing orang lain yang baru saja dia temui. Karenanya dia hanya menggeleng dan meyakinkan Mai jika benar dia tak apa, sebelum melangkah pergi, bergerak ke arah lift.

Di depan lift Ela meremat dadanya yang masih sakit. Semakin dia pikirkan, ucapan lelaki itu semakin membuat hatinya tersayat. Semakin pula mengancam air matanya ... tumpah.

Tak kuasa menunggu lama, akhirnya Ela memilih turun melalui tangga darurat.

Di sana ... berselimut sepi ... dia menangis.

[]


Diubah oleh deelanerth
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di