CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d3ab595fac4486cbb7c8cea/our-secret-passages

Our Secret Passages

Hai hai agan dan sista. Si newbi kembali lagi dengan cerita baru ... sama sekalian nyobain tombol-tombol di kaskus. Iya aku seudik itu memang. Maafkeun.

Kini cerita yang terinspirasi sebuah kisah saat deela terdampar di Jepang. ROMANSA nih genrenya. Siap membaca? Kencangkan sabuk pengamaaan!!!

.
.
Lelaki berengsek itu bernama Maikuma Araki. Dia selalu menempel kemana pun Ela pergi. Mengesalkan!

Bahkan malam hari pun dia tak sungkan masuk ke kamar Ela daaaan menawari Ela untuk mabuk bersama? Maaf mas, situ sehat?

Namun lambat laun pertahanan Ela runtuh. Karena apa?

Di saat tersulitnya, Araki selalu ada dan mendampingi wanita Indonesia ini. Tak mudah untuk menjadi seorang Ryugakusei (mahasiswa asing) kau tahu?

Karena itulah, perlahan ...

Ela melepaskan cincin yang melingkar di tangan kirinya dan bermain bersama lelaki yang selalu ada dengannya itu.

Di bawah bunga Sakura, di negeri Matahari terbit ... cinta terlarang terselenggara.

---------------------------------------------------

OSP©deelanerth2019 



sumber: galeri hape deela


Spoiler for Cover ala-ala sinetron:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh deelanerth
3) His Name is Maikuma Araki
.

.

===================

Siapa bilang wanita, tak bisa membalas umpatan dengan makian yang lebih kasar, hm?!

===================
.

.

Musim dingin di Kumamoto tak seperti musim dingin di Tokyo, apalagi Hokaido. Kau tahu mengapa? Mari kita buka peta dan kita tilik dimana letak Kumamoto ini. Oh jika kalian berpikir prefecture dengan maskot Kumamon ini terletak di Honshu atau di sekitar Tokyo, Osaka, Kyoto … maka tetot! Selamat kau salah!

Kumamoto ada di pulau Kyushu, pulau nomor 3 terbesar di Jepang dan terletak di Selatan-nya Jepang, kakak …

Dan karena letaknya yang ke Selatan, prefecture Kumamoto cenderung lebih hangat dari wilayah Jepang yang lainnya (selain Miyazaki, Kagoshima tentunya). Karena itulah kendati sudah bulan Desember awal, salju belum menunjukkan batang hidungnya. Namun jangan salah, angin yang menampar cukup dingin hingga kalau kau keluar rumah, tetap harus berbalutkan syal meski tidak heboh sampai tumpuk-tumpuk.

Ela juga sama. Kini dia bagaikan lepet dengan kain-kain tebal yang dipadukan sweater dan syal membalut.

Lalu kau tahu? Hidup Ela bahagia selama 15 hari tak pernah bertemu lelaki berambut acak-kadut dan sialannya kebangetan bernama Maikuma Araki itu. Konon kata Mai, lelaki yang berasal dari Hiroshima itu sudah banyak melancong ke berbagai belahan dunia. Jadi sifat pribuminya lambat laun terkikis dan kata-kata umpatan kerap saja meluncur dari mulut. Hah, bahkan dia sering sekali baku hantam dengan preman kampus karena hal itu.

Pantas saja perangainya minus 100 begitu pada orang yang baru ditemui.

“Era, kamu perhatian sekali pada Araki-kun ya?” tanya wanita berema pirang (cat) yang tengah menyeruput coklat panas di akhir percakapan mereka. Ela yang sedang manggut-manggut sambil makan roti melon seketika tersedak.

“Huh?” Mengedipkan mata, Ela memandang Mai penuh kebingungan. Kenapa wanita ayu bertahi lalat di dagu ini bisa berpikir begitu? “Aku tidak peduli padanya, Mai-chaaan. Aku hanya ingin tahu!” buru-buru Ela menyusuli. Yang mana hanya mendapatkan kikihan manis dari perempuan manis di sampingnya yang diikuti jawaban “sure, sure!Oh my. Perempuan Jepang ini tak percaya.

Melengos, Syela tak ingin berdebat lebih lanjut. Dia memutuskan untuk menelan bulat-bulat sisa kue di tangannya dan meremat plastik pembungkus sebelum mengendik pada Mai, “kita balik lab sekarang?”

“Okay,” balas wanita berbalut jaket bulu itu sebelum menenggak habis coklatnya. Dia berdiri kemudian dan mengekor Ela yang sudah bergerak lebih dahulu menuju pintu dan sedang sibuk mengamati tempat sampah. Well, kebiasaan orang asing di Jepang memang mengamati tempat sampah agar tak salah buang. Sehabis mereka menyelesaikan urusan perut, keduanya berjalan beriringan menuju mobil.

“Kau tak beli sushi atau apa gitu di konbini (minimarket), Era? Kamu tidak lapar cuma makan roti meron?” tanya Mai membuka pembicaraan dalam perjalanan. Dia melangkahkan kakinya yang berbalut stocking hitam sampai lutut yang dibalut boot sebetis sambil sedikit berlari. Ela tidak lebih tinggi darinya, tapi perempuan pendatang ini kalau jalan super cepat.

“Oh aku lagi mengencangkan sabuk,” balas Ela singkat tanpa melihat. Alih-alih, wanita Indonesia itu celingukan mencari mobil chuta-nya. “Lagi pula … aku bawa bento (bekal),” lanjut Ela tanpa menyuarakan kata hatinya yang terdalam, ‘di Jepang apa-apa mahal sih! Kan aku bukan anak sultan! Jadinya bawa bekal deh.’

“Mengencangkan sabuk?” Mai bertanya sambil menekan tombol remote yang dia pegang, dia melihat reaksi kawannya yang menepuk jidatnya ketika melihat sebuah sein mobil berkedip dan suara ‘bip bip’ menggaung. Dia ingin tertawa sejujurnya, Ela begitu gamblang dalam berekspresi. Lihat? Dia baru saja memperlihatkan ekspresi shock ‘Astaga iya! Aku lupa ada alarm! Kenapa aku bagai orang bodoh celingukan mencari dimana mobilnya diparkir?’

“… berhemat maksudnya, Mai-chan,” jawab Ela pelan sembari menggembungkan pipi saat dia menyebut nama kawannya. Dari ekor matanya, dia dapati Mai melengkungkan bibir sebelum menutupi mulutnya. Hahaha. Wanita ini menyadari kebodohannya melupakan keberadaan alarm!

Namun Mai tak menangkap alasan Ela memasang tampang kesal begini. Kebingungan, dia bertanya, “… kenapa kamu pasang tampang begitu, eh?”

Yang langsung dibalas sebuah gerutuan, “kau menertawakanku,” ketika sang Pemilik marga Kurenai sudah berjalan bersebelahan. Di saat itulah Mai memahami jika Ela malu.

Malu karena kelihatan bodohnya.

Dan itu membuat pertahanan Mai akan tawa yang siap meledak, runtuh.

“Pffft. Benar. Aku menertawakanmu, habis kamu … kukuku … hahahahaha!” Spontan, wanita ayu ini terbahak sambil mengusap air mata yang sedikit luber. “Imut sekali ekspresi bodohmu itu! Hahahaha!”

“Mai-chan, aku tidak bodoh! Aku cuma lupa keberadaan remote mobil. Tak ada yang luc—hei! Dengarkan kalau aku bicara! Jangan begitu, aih!”

Kedua orang berbeda bangsa dan negara ini kemudian saling canda menuju sebuah mobil sedan Mazda Hybrid berwarna putih yang terparkir di bawah pohon sana. Ela ngomel-ngomel pada Mai yang tampak sekali tak menggubris.

Orang Jepang, bila kau belum kenal dekat mereka … akan memasukkan segala yang kamu katakan ke dalam hati dan menganggapmu serius. Dulu Kurenai Mai juga begitu. Pernah sekali Ela mengatai, “uso deshou ne? (kamu bohong, kan?)” dengan nada bercanda. Maksud wanita kelahiran Pati itu ‘alah, boongan kan kamu? Iya, kan?’ tanpa sebuah keseriusan, tapi tentu beda tempat beda frekuensi penangkapannya.

Namun kini Mai sudah berbeda. Mungkin karena kebal pada Ela, dia jadi terbiasa dengan kata-kata Ela dan berujung mereka bisa tertawa, bercanda lepas.

Dan interaksi simple dua manusia itu rupanya ada yang mengamati.

Seorang lelaki berema berantakan yang baru saja memarkirkan sepeda dan kini berdiri tepat di depan konbini.

“Dasar orang asing, caper,” gumamnya sinis sebelum melenggang masuk ke dalam minimarket yang menjajakan makanan cepat saji tapi bukan junk food itu.

***


Ela sedang menimbang sesuatu di depan pintu ruang kerja di Harada-ken (kenkyushitsu: lab). Dia tampak serius membaca perpesanan yang sedang masuk di ponselnya. Percakapan selama 15 hari dia baca dengan seksama sebelum helaan napas panjang dia buang.

Sudah dia duga. Fahmi, tunangannya tercinta, beberapa hari ini sedikit sekali mengirimkan pesan padanya! Well, tiap hari mereka masih berkomunikasi, sih, tapi jumlah chatnya menurun!

Apa?! Kau merasa ini tak penting?!

Bagi kalian-kalian yang tak memiliki hubungan LDR, jarak jauh, komunikasi rasanya cuma ampas. Lebih baik bertemu muka saja, kan? Namun bagaimana nasib mereka yang terpisahkan samudra? Jumlah chat bisa menjadi indikasi bosan atau tidaknya seorang manusia!

B-bagaimana kalau di Indonesia sana dia digoda oleh tante girang? Atau oleh atasannya? Sekertarisnya? NOOOOOO!!!

“Kenapa Ela?” sebuah tanya yang meluncur dari suara berat dan serak tak asing membuat wanita 22 tahun ini terperanjat. Koreksi, bukan cuma terperanjat tapi terkejutnya bukan main sampai rasanya mau mampus dan tanpa sadar sampai membuang ponselnya sendiri. Yang apesnya, ponsel ini mengenai muka orang lain yang lewat. Membuat orang itu mengaduh, “itte! (Aw!)”

Namun merasa lelaki berema merah karena cat dengan rambut bergelombang yang tak asing itu bukan prioritas, Ela tak acuh. Dia spontan hadap kiri, melebarkan senyumnya dan santun mengucapkan salam, “eh, sensei. Selamat siang ... Tidak ada apa-apa kok, sensei. Jangan khawatir …”

Lelaki berbalut kaos berlogo buaya itu mengangkat dua alisnya dan memberikan pandangan tak percaya sambil menginspeksi Ela dari atas ke bawah, sebelum berkomentar cepat, “ah, okay. Saya kira ada apa-apa. Habisnya kamu melamun sambil garuk-garuk begitu.” Dia kemudian berjalan melalui Ela yang juga spontan hadap kiri, mengantarkan beliau pergi.

Namun belum juga lima langkah, pria berahang kokoh itu berbalik badan, “Syela, kalau ada kesulitan atau masalah, kamu harus langsung memberi tahu saya. Saya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu selama kamu menjadi mahasiswa ampuan saya, mengerti?”

Hai, wakarimashita, sensei! (Baik pak, saya mengerti!)” seru Ela sembari mengangguk dengan senyuman cerah masih terpampang. Yang mana anggukan ini dibalas senyum simpul oleh sang Professor sebelum akhirnya pria itu berbelok ke sebuah ruangan daaaan … Ela membuang napas lega.

Setidaknya sampai suara dingin yang berbalut tatapan tajam penuh kekesalan menembus punggungnya, Ela merasa lega. “Iya memang kita harus jaga sikap di depan sensei, tapi bukan berarti tak memperhatikan hubungan dengan sesama, bit*h!” kata suara yang juga familier itu, membuat Ela seketika berbalik badan.

Lelaki tinggi berkupluk rajut yang dipadukan sweater bergaris kecil-kecil dengan dalaman kaos berkerah lengan panjang warna merah-lah sumber suara. Bukan lelaki biasa, melainkan orang super nyebelin; Maikuma Araki.

Serta merta senyuman Ela jatuh. Dia melipat tangannya dan memicingkan mata. Namun belum sempat dia membalas kalimat pedas itu, sebuah ponsel pink—ponselnya—diketukkan oleh lelaki itu ke puncak kepala Ela. “Minta maaf sama Hideo, sekarang,” desis lelaki ini dengan manik berkilat penuh intimidasi.

Ela mengerutkan kening tentu saja, dia bingung apa maksud ucapan Araki si kutu kupret ini. Namun ketika dia melirik ke pemuda lain yang remanya mirip indomie goreng sambil mengambil ponsel dari tangan Araki, seketika bibir berpoles gincu tipis yang siap menyerang pemilik marga Maikuma itu tertutup. Pelipis Hideo menggaris merah, sepertinya ada darah juga.

Dan ini membuat jantung Ela berpacu. Astaga! Dia melukai anak orang! Itu kenapa bisa merah begitu?! Kena ujung ponselnya yang retak ya?!

"G-gomennosai ... (maaf ...)" kata Ela cepat sambil melengkungkan punggung 90 derajat. "Aku tidak tahu, serius," lanjutnya sembari menegakkan punggung, dengan bahasa Inggris. Sebelum sekali lagi dia membungkuk dan berkata, "hountoni gomennosai! (Aku sungguh-sungguh minta maaf)" penuh kesungguhan hingga tanpa sadar suaranya mengencang dan menggaung di lorong panjang tempat mereka berdiri.

Berdasarkan adat, Ela melengkungkan punggung dan tidak mengangkatnya sampai orang yang ingin dia pinta maafnya ucapkan sesuatu. Kalau di Indonesia kita bisa melenggang santai, lingkarkan tangan di bahu dan berkata, "sorry bro. Kagak maksudnya menyakitimu," tanpa ada rasa tak enak. Namun sekali lagi, Ela adalah orang asing. Dan dia harus ikut tatanan yang ada di negeri orang bukan sebaliknya. Karena itulah dia menunggu ... menunggu Hideo bilang, "tidak apa-apa kok," atau sebangsanya.

Dan beberapa detik kemudian lelaki itu merespon. Dia tidak menggunakan bahasa untuk membuat Ela tegak kembali, melainkan tangannya terjulur dan penuh kelembutan dia membimbing Ela meluruskan punggung.

Setelah itu baru keduanya saling tatap, tapi tangan besar pemuda ini masih mencengkeram lengan atas Ela kuat, yang akhirnya membuat suasana menjadi serius. Awalnya Ela pikir akan ada baku hantam. Hanya saja ketika hitamnya bertumbuk dengan netra hazel lelaki ini ...

Saat itulah Ela melihat lautan sabar di mata Hideo (yang sangat kontras dengan kecamuk emosi pada manik Araki), dan seolah membuktikan teorinya, dia mengatakan, "ii yo, Era-san. Daijoubu yo."

Kalimat simple itu Ela tahu apa artinya: tak apa-apa, Ela. Semua baik-baik saja kok.

Yang mana membuat Ela spontan meraih tangan pria ini yang masih di lengannya, menggenggam dua telapak tangan itu di antara jari-jemarinya. "Anata wa tenshi deshou ne?" Yang walau pun konteks, struktur atau tetek bengek perbahasaan Ela kacau balau, artinya masih dapat dicerna. Itu membuat Hideo serta merta memerah. Karena Ela menanyakan, apakah Hideo adalah malaikat? Sehingga bisa memaafkannya sedemikian mudah! (Tentu kalimat terakhir tidak terucap, tapi entah mengapa dapat dimengerti).

Momen perminta maafan dan memaafkan yang dibangun Ela serta merta runtuh ketika pria lain di lorong itu angkat bicara. Nadanya sinis, "he ... sekarang jadi tukang rayu gitu? Menjijikkan." Dia mengucapkan itu sambil mengetukkan kakinya di lantai dengan tidak sabar, tangannya terlipat.

Yang mana komentar tidak bersahabat ini membuat Ela melengos. Dia bersendekap kemudian dan berjalan mendekati Araki dengan gestur sok-sokan. Tak kalah sinis dia kemudian melemparkan kata, “bagaimana aku, bukan urusanmu, as**ole!” seiring pandangan lembutnya mengeras.

Terlihat Araki mengerutkan kening mendapati reaksi yang demikian ini. Mungkin dia tak menyangkan wanita dari luar negeri berani meladeni mulutnya yang nyolot. Namun cepat sekali pemilik rema berantakan dan dicat coklat mentereng ini mengendalikan diri. Berikutnya dia bergumam, “oooh?” dengan dua alis terangkat; menantang.

Ela merekahkan seringai menanggapinya, “yea. Kalau kamu pikir aku takut sama kamu, maka kamu salah besar, di****ad.”

Sementara Hideo di samping kedua insan yang saling lemparkan tatapan ingin melumatkan ini … hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Dan memilih untuk menolak pusing, dia pergi perlahan dari lokasi persiteruan. Bodo amat dah.

Orang yang sedang asyik dengan umpatan-umpatan (yang sejujurnya dia juga tak paham artinya), tak perlu diperhatikan lebih. Mereka hanya membuang-buang waktu!

Namun siapa sangka, Ela yang berani membalas makian Araki dengan makian juga, membuat lelaki itu menyeringai penuh makna ketika tiada orang yang memerhatikan. Seakan-akan … dia adalah predator yang telah temukan mangsa.

[]


note:
-chan : panggilan untuk mereka yang telah akrab dan biasanya diberikan pada cewek karena itu imut.
-kun : panggilan untuk mereka adik kelas atau yang lebih muda
-san : panggilan untuk mereka yang lebih tua, orang asing (menunjukkan rasa menghargai)
-sama : Tuan

Diubah oleh deelanerth
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di