alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Tech / ... / Android /
[Official Lounge] Hisense Pureshot Plus 2 - The Best Dark Light Experience
4.71 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5750cb1a620881e93d8b4569/official-lounge-hisense-pureshot-plus-2---the-best-dark-light-experience

[Official Lounge] Hisense Pureshot Plus 2 - The Best Dark Light Experience

Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 58

Review Pureshot Plus 2 - Part 2

Charging
PSP2 support Qualcomm QuickCharging 2.0. Charger bawaan juga sudah support QC 2.0 ini, sehingga tidak perlu beli charger lagi untuk menikmatin fitur QC ini. Kabel yang disediakan juga termasuk tebal, untuk mendukung quickcharging. Port nya standard seperti kebanyakan HH lain, yaitu Micro USB 2.0 female. Sehingga agan bebas menggaulinya dengan kabel microusb dari kebanyakan android lainnya. Hisense belum berpikir untuk masuk ke ranah USB type-C, mungkin penerusnya baru akan mengusung ini; mengingat USB type-C baru akan mulai mainsetrum tahun ini.

Analisis mendalam mengenai QuickCharging sudah ane buatkan dalam satu trit terpisah.
Spoiler for Grafik Charging PSP2:

Ketika testing tersebut, ane cas PSP2 dari 1% dalam keadaan hidup sampai 100%. Ane pake Battery Monitor Widget (BMW) untuk monitor arus masuk, voltage, suhu batere dan persentase nya. Kemudian testing kedua ane lakukan dalam keadaan off, setiap 5 menit, persentase batere dicek manual, temperature diukur dengan thermometer dan daya charger terpakai diukur dengan power meter. Dari semua itu, ane menyimpulkan bahwa jika dicas dari 0%, baik on ataupun off, maka :
1. 30 menit : sekitar 40% (On 40%, Off 42%)
2. 1 jam : sekitar 70% (On 73%, Off 77%)
3. Sekitar 2 jam : 100% (On 2 jam 10 menit, Off 1 jam 59 menit)

Secara general, tentunya kecepatan charging meningkat drastis dibanding pureshot, yang baru mencapai 35-40% di 1 jam pertama. Arus masuk max di 3 Ampere, namun berselang-seling turun naik antara 2 dan 3 Ampere; sehingga rata-ratanya 2,5 Ampere. Data dari BMW mengatakan bahwa suhu batere tidak pernah melebihi 42 derajat selama proses charging (tercapai setelah cas 35 menit), dan ini dikonfirm setelah diukur via thermometer ketika off charging. Efisiensi charger berada di atas 90%, dengan melihat melihat wattage yang tertera max di 16,5 Watt (9,24 Volt x 1,81 Ampere ~ 16,72 Watt). Product Info PSP2 mengutip kata-kata dari Qualcomm bahwa QC 2.0 mampu mengecas 50% dalam 30 menit. Namun kelihatannya statement ini hanya cocok untuk batere max 2400 mAh. Jadi secara generalnya memang mereka tidak salah memberikan informasi, hanya saja (Qualcomm) tidak mengatakan semuanya (50% dari 2400 mAh).

Charging fase 1 (quickcharging) berlangsung sampai batere mencapai 70%, yaitu sekitar 1 jam. Setelah itu, fase 2 yang lebih lambat, dengan arus rata-rata di sekitar 1 ampere dan berangsur-angsur turun; juga membutuhkan kurang lebih 1 jam lamanya. Hisense termasuk konservatif dalam hal charging ini, karena fase 2 dimulai pada saat batere 70%; di mana rata-rata vendor lain memulainya di level yang lebih tinggi, 80%. Mungkin mereka tidak ingin battery nya cepat hamil (baca : kembung) karena battery selalu akan lebih awet jika diisi dengan arus yang lebih kecil. Apalagi baterenya PSP2 ini non-removeable, jika hamil, susah nanti pas melahirkannya. Begitupun, kecepatan secepat 70% di 1 jam pertama tentunya sangat bermanfaat terutama bagi agan yang sering main game dan mengeluhkan baterenya boros dan charging lama seperti di Pureshot/+ ataupun erdua.

Jika dicharge dengan charger non QC, tentunya akan lebih lambat. Karena arus max cuma sesuai kapasitas charger, dengan max di 2 Ampere jika chargernya mendukung. Dengan 2 Ampere stabil pun, 1 jam pertama akan mencapai 66% (masih belum masuk fase 2), yang juga sebenarnya tidak jauh berbeda charger QC 2.0. Jika dites charge dengan QC 3.0 charger, maka chargernya hanya akan tetap menggunakan fitur QC 2.0 saja, karena PSP2 tidak support variable voltage yang disediakan oleh QC 3.0. Untuk ini memang belum bisa ane tes, karena tidak punya charger QC 3.0. Namun begitulah yang diinformasikan dari Qualcomm.

PSP2 tidak support wireless charging ataupun pin wireless charging receiver. Kalau agan bersikeras ingin pakai wireless charging, tetap bisa memasang universal wireless charging receiver yang dicolok ke port micro usb nya. Ane tidak menyarankan memakainya karena sangat tidak efisien, lambat dan membuat HH cepat panas; yang mengurangi umur batere dan HH nya itu sendiri. PSP2 support OTG, akan dijelaskan di bagian connectivity di bawah.

Connectivity
Di sisi wifi, PSP2 tidak mengalami peningkatan, malah boleh dibilang penurunan. Padahal ane sudah berharap banyak untuk melihat wifi 802.11ac yang tidak ditemukan di Pureshot. PSP2 menggunakan wifi chipset WCN3615; yang secara penomoran seharusnya masih di bawah WCN3620 yang ada di Pureshot. WCN3615 masih memiliki spek yang mirip, namun mungkin ada mengalami penurunan yang tidak signifikan. PSP2 support wifi 802.11 b/g/n, 2,4 GHz single stream dengan channel width 20 Mhz, up to 72 Mbps (dengan SGI). Country code yang digunakan adalah ID, sehingga secara default mampu detek channel 12 dan 13. Bagi kebanyakan user memang wifi ac ini tidak berpengaruh banyak, karena mayoritas tidak memerlukannya. Sementera wifi router di luar sana masih didominasi oleh wifi n. Namun bagi ane yang sering transfer data melalui wifi, wifi ac ini menjadi minus point. Kecepatan transfer wifi nya tidak berbeda jauh dengan pureshot, yaitu sekitar 6 MB/s melalui protocol FTP ataupun HTTP seperti di airdroid. Tapi average di 4-5 MB/s tergantung kondisi wifi nya.

Wifi fitur lainnya yang bisa ditemukan seperti wifi hotspot, wifi direct, wireless display (Miracast/Castscreen) dan satu fitur unik yang jarang ditemukan di HH lain, yaitu : Wifi Bridge. Fitur ini lebih dikenal dengan nama wifi repeater. Wifi Bridge ini hanya akan lebih berguna pada kondisi tertentu, contohnya ketika agan punya beberapa teman yang memakai HH dengan chipset mediatek mid-low, yang terkenal masih kalah wifi receptionnya dibanding qualcomm. Maka agan bisa berbaik hati, me-repeat wifi utama dan membagikannya ke teman agan dengan nama wifi dan password yang berbeda. Tentunya minusnya adalah speednya akan menurun seperti repeater wifi lain yang juga begitu.

Miracast sendiri sudah ane tes dengan Ezcast wifi HDMI dongle. Sama seperti dengan pureshot, PSP2 juga bisa mirroring penuh ke TV menggunakan wireless displaynya. Jeda masih tetap ada seperti halnya dongle lain, yang memang disebabkan limitasi teknologi wireless display dan donglenya yang masih wifi n.
Spoiler for Miracast Bluetooth:

Bluetooth nya adalah versi 4.1. Dan masih tetap kompatible backward sampai ke 2.1 EDR sekalipun. Sudah ane tes pairing dengan berbagai device bluetooth seperti Pureshot, Boomphones Pocket Speaker, Bluetrek Musicall Stereo headset, Bluetooth Keyboard, Gamepad G910; semuanya berjalan lancar. Satu hal yang mungkin membuat beberapa user bingung mengenai bluetooth ini adalah tidak adanya opsi untuk visibility, yang membuat HH bisa disearch oleh device bluetooth lain. Ternyata sejak Android Lollipop 5.1, memang tidak ada fungsi ini lagi. Bluetooth akan selalu visible ke semua device jika kita masih berada di setting bluetooth tersebut. Begitu kita tidak di setting Bluetooth, meskipun Bluetooth aktif, tetap tidak akan discoverable oleh device lain. Jadi ini bukan bug (meskipun sudah dilaporkan), namun memang fitur dari sana nya.

GPS sudah tidak perlu diragukan lagi, PSP2 menggunakan Qualcomm Izat Gen 8C, sedikit lebih baik dibanding pureshot yang masih Gen 8C Lite. Untuk kecepatan locking tidak berbeda jauh dengan Pureshot. Ane rasa GPS ini tidak perlu ditesting lebih lanjut lagi, karena mayoritas user sudah tahu kalau chipset Qualcomm memang superior di bidang GPS ini. Satelitnya support : GPS with A-GPS, GLONASS, Beidou. Satu hal yang membedakan dengan pureshot adalah option Izat tidak ditemukan lagi seperti di pureshot. Namun PSP2 memang tetap support Izat, terbukti adanya file /system/etc/Izat.conf; yang isinya mirip dengan yang ada di Pureshot. Kemungkinan besar Izat ini sudah integrated dan tidak bisa dinonaktifkan lagi secara terpisah.

OTG Support
Salah satu fitur yang sangat ane rindukan di Pureshot; yang akhirnya terpenuhi di PSP2 adalah OTG Support. Secara default, ada dua mounting USB flashdisk di system. Tentunya agan perlu USB hub powered untuk bisa colok dua flashdisk sekaligus. Agan Ditonyo sudah tes menggunakan berbagai device, seperti flashdisk, harddisk, mouse, speaker di satu usb hub yang sama (dicolok external power).
Spoiler for OTG Hub testing:


Ane sendiri tes juga bisa colok ke Microscope usb camera dan usb webcam, dengan menggunakan Camera Fi untuk mengakses gambar nya. Selain keyboard/mouse, USB barcode scanner juga bisa dicolok dan tinggal pakai, tidak perlu install software lagi, karena terdetek sebagai keyboard usb. Meskipun sebenarnya jauh lebih mudah menggunakan app QRcode bawaan untuk scan QR / barcodenya. Colok ke senter LED dan USB fan juga bisa nyala. Bahkan dipakai untuk ngecas pureshot juga bisa. Voltage yang dikeluarkan dari OTG nya adalah 5,06 Volt; di mana jika digunakan cas arus max, voltage akan drop ke 4,94 Volt (masih wajar) dengan arus out 440 mA. Jadi kalau batere PSP2 nya penuh, bisa juga dipakai sebagai emergency powerbank untuk device lain, terutama untuk bluetooth headset, keyboard, speaker dan sejenisnya yang hanya memerlukan arus in kecil.

Namun ada minusnya untuk OTG ini yaitu setelah selesai pakai Flashdisk nya, tidak ada pilihan untuk safely remove langsung dari notification bar. Jadinya kita perlu masuk ke Settings > Storage lagi untuk unmount manual. Salah tap bisa jadi erase Flashdisknya. Memang ini sebenarnya bukan fitur bawaan android, tapi sudah banyak vendor yang implementasi fitur ini untuk mempermudah eject flashdisk setelah tidak diperlukan. Sudah ane bahas di bug report

Selain itu, nampaknya OS nya juga tidak support format NTFS seperti kebanyakan android lain juga begitu. Flashdisk 64 GB ke atas yang menggunakan format exFAT juga tidak bisa dikenali. Namun jika masih menggunakan FAT32, maka tetap bisa terbaca normal. Beberapa card reader ataupun device dengan USB 3.0 juga tidak dikenali. USB LAN juga tidak bisa terbaca, entah karena tidak ada drivernya atau memang USB LAN punya ane yang memang kurang kompatibel. Kemungkinan besar device tersebut menarik arus yang terlalu tinggi, sehingga langsung diproteksi oleh circuit OTG nya.

4. Software overview
User interface
PSP2 menggunakan Vision UI 3.0, yang merupakan peningkatan yang cukup signifikan dibanding Vision UI 2.0 di pureshot/+. Ada banyak fitur yang ditambahkan, namun hebatnya PSP2 masih mempertahankan ke AOSP-annya di berbagai tempat. Secara sekilas, launcher bawaan masih sama dengan yang ada di pureshot, yaitu home screen tanpa app drawer. Quick setting menggunakan overlay dari Hisense dan bisa dicustomize. Recent button tidak menggunakan card seperti di AOSP, namun sudah lebih baik karena ada preview nya dan sudah tidak ngelag seperti di pureshot. Letak posisi dari setting hampir sama dengan pureshot yang juga masih AOSP-ish. Namun ada beberapa menu yang tersimpan di more, seperti battery, account, manage app dan sebagainya; sehingga perlu tap tambahan untuk mengaksesnya. Ada setting tambahan untuk customize status bar, seperti menambahkan connection speed, mengganti icon persentase batere ataupun mengganti style Quick Settings. Juga ada setting Buttons dan Motion & Gesture seperti yang ditemukan di Pureshot.
Spoiler for Quick Setting, Status Bar, Button, Motion & Gesture:


Screenshot bisa dilakukan langsung dari quick setting ataupun metode lama yaitu power + vol down selama 2 detik. Satu hal yang cukup mengganggu di bagian Screenshot. Di mana setelah pengambilan screenshot, akan ada tampilan preview dari screenshot yang diambil, dengan tombol Share dan Edit. Preview ini akan mengunci/block semua touch selama 2 detik penuh, kecuali ditekan back. Sangat mengganggu sekali terutama jika kita perlu mengambil banyak screenshot dalam waktu yang singkat, seperti untuk keperluan stitching long screenshot ataupun review. Sudah ane laporkan sebagai bug report

Flashlight sudah terintegrasi di quick setting, dan bisa dinyalakan dengan cepat. Begitu tap di flashlightnya, akan langsung membawa ke app Flashlight bawaan. App nya bisa di back dan flash tetap menyala. Untuk mematikan flash, tap lagi di quick setting. Warna flashnya akan terkesan agak kekuning-kuningan, karena dual tone LED nya.

Multi User
PSP2 memiliki fitur multiuser dengan guest account, yang terdapat di Settings > Users. Fitur ini sebenarnya sudah ada sejak Android JB 4.2 di tablet, dan baru diimplementasikan di semua HH sejak Lollipop. Namun meskipun sudah Lollipop, tidak semua vendor menampilkan pilihan multi user ini di settings. Tapi ada juga sih vendor lain yang menjual fitur bawaan ini dengan nama keren "Dual Space". Secara singkat, fitur ini memungkinkan agan untuk memiliki user yang berbeda di satu HH yang sama, mirip seperti multi user di Windows. Tentunya tetap akan ada satu user utama/owner (sejenis admin), kemudian kita bisa menambahkan beberapa user kedua yang diinginkan (lebih dari 1); dan juga ada guest account yang data nya akan dihapus setiap kali switch balik ke user lagi.
Spoiler for Multi User:


Ketika agan menambahkan user kedua yang baru dan switch ke user kedua ini, maka semua settingan app akan kembali ke seperti barusan factory reset. Semua app yang sudah agan install di owner, tidak akan muncul di user lain, dan tidak bisa mereka akses. Begitu juga dengan system app yang sudah agan disable akan kembali muncul. Google account, socmed, settings dan semua data di userdata akan menjadi seperti baru. Mereka hanya bisa menggunakan app yang sudah terinstall di owner, jika mereka menginstall ulang lagi di account mereka. Install ulang dari user kedua ini tidak menambah penggunaan storage, karena apk nya masih sama (seperti di windows). Bahkan user kedua juga bisa update versi app nya dan akan berefek ke owner juga. Namun data user app tersebut tetap terpisah. Karena android memisahkan ID setiap user di "ruang nya masing-masing". Sama seperti di Windows, di mana document per user hanya bisa diakses oleh user tersebut saja. Di android, limitasi ini juga merambat sampai ke internal sdcard, di mana secara bawaan nya user kedua tidak bisa mengakses data internal storage (internal sdcard) dari owner. Namun jika owner/user kedua menginstall app file manager yang mendukung (seperti Es File Explorer), maka mereka tetap bisa leluasa mengakses data internal storage dari user lain. Sementara itu, microsd maupun OTG flashdisk tetap akan terbaca tanpa limitasi baik di owner maupun user kedua. Implementasi multi user memang memiliki kelemahan di sini, karena android yang terlalu open. Intinya dengan multi user : apk, microsd dan usb otg semuanya akan shared dengan semua user. Namun app yang diinstall, disable, user data app nya dan account serta settingnya semuanya pisah per user.

Untuk menjaga keamanan user owner maupun user kedua, agan bisa set lockscreen pattern/password, sehingga tangan jahil tidak bisa sembarangan switch balik ke owner dan menggerayangi data owner, meskipun kita memberikan mereka akses ke user kedua/Guest. Tapi jika agan hanya ingin memisahkan setting dari app untuk keperluan tertentu, maka tidak perlu repot-repot set password jika memang tidak diperlukan. Adapun multi user ini sebenarnya banyak fungsinya, hanya saja kita jarang tahu. Berikut beberapa di antaranya :
1. Memisahkan antara dua account, misalnya account kantor vs pribadi. Agan mungkin punya berbagai account untuk kantor, misalnya gmail, BBM, Whatsapp. Namun ketika pulang kantor, agan tidak mau diganggu oleh kerjaan kantor. Sehingga agan bisa switch ke user kedua (pribadi), dan memiliki account yang berbeda : gmail, Facebook dan twitter. Tidak perlu sign out sign in lagi, cukup switch user saja. Notification yang masuk di owner tidak akan muncul di user kedua, sampai agan switch balik ke owner; begitu juga sebaliknya. Sehingga kehidupan kantor dan pribadi bisa benar-benar terpisah. Ini juga digunakan untuk "memisahkan kehidupan sosial lainnya", terutama bagi yang memiliki pertemanan yang luas. emoticon-Big Grin
2. Menjaga privasi agan. Tentunya ketika agan meminjamkan HH ke teman, famili ataupun anak; agan tidak ingin email, chatting, sms, dibaca/dihapus oleh yang tidak berkepentingan. Bisa saja ada email dengan transaksi bernilai ratusan juta yang bisa jatuh ke tangan yang salah; ataupun mungkin transaksi ebanking nya maupun statement transfernya. Apalagi jika ada chatting yang masuk kategori "bahaya". (maksudnya bahaya untuk bisnis ya emoticon-Big Grin) Ini juga termasuk melindungi foto/galeri agan supaya tidak diintip ataupun dihapus oleh tangan jahil. Namun seperti yang dijelaskan di atas, dengan install app yang tepat; user kedua tetap bisa akses fotonya. Namun tetap ada cara untuk melindunginya, dengan cara memblokir installasi di user kedua melalui app 3rd party yang sudah kita set sebelumnya.
3. Memisahkan account game atau sekedar memisahkan installasi app. Sama seperti di kantor vs pribadi. Mungkin saja semua app di owner adalah untuk mendukung aktivitas kantor. Sementara di user kedua (pribadi), baru ada game dan app entertainment lainya. Ini juga termasuk bisa memisahkan misalnya owner punya data game agan sendiri, sementara di user kedua adalah game yang sama tapi dengan data game dari anak agan, sepupu, famili, kerabat jauh ataupun kucing agan. Ini juga memastikan ketika agan meminjamkan HH nya, data game agan tidak akan diobrak/i mereka.
4. Menjaga home screen yang bersih untuk tutorial atau screenshot. Seperti ane sendiri, sengaja menggunakan user kedua untuk keperluan testing, screenshot ataupun foto. Karena tampila di owner sudah ane ubah home screen serta berbagai setting. Ane tidak mo susah untuk ganti balik hanya karena untuk mengambil satu screenshot. Dengan multi user ini, ane tetap bisa mempertahankan customization ane, sambil mengambil screenshot untuk keperluan review/tutor atau lainnya tanpa perlu reset.
5. Mengetes app yang tidak dikenal/masih beta. Terutama untuk app yang dicurigai ataupun masih penuh bug, maka agan bisa tes install di user kedua. Seandainya terjadi apa2 pun, tidak akan menganggu file/data di owner. Fungsi sandboxing level user ini benar-benar berguna untuk para tester ataupun developer. Misalnya agan perlu memakai chrome stable version; namun ingin mencoba fitur baru di chrome beta.
Diubah oleh Desmanto

Review Pureshot Plus 2 - Part 3

Namun multi user ini tetap ada kelemahannya. Paling pertama tentunya akan memakan storage lebih banyak. Karena data user disimpan terpisah. Tidak semua app yang terinstall bisa dipakai oleh semua user, namun tetap memakan tempat di storage. Lalu proteksi antar user sebenarnya cukup rapuh. Bagi yang geek user, begitu mereka mendapatkan akses fisik ke HH agan, meskipun di level user kedua; tetap saja ada cara untuk menembus sampai ke level owner. Cara yang paling sering tentunya melalui side attack via TWRP. Ya, sama sih di Windows juga user normal pun bisa menjebolnya dengan recovery disk. Jadi multi user ini sebenarnya memang lebih cenderung ke kenyamanan, bukan keamanan. Dan lebih diperuntukkan untuk pemisahan workspace agan seorang diri; bukan benar-benar untuk dipakai oleh dua orang yang berbeda.

Dengan melihat berbagai fungsi multi user (atau Dual Space) di atas, menurut ane Hisense kurang pede mempromosikan fitur ini di PSP2. Bahkan tidak disebutkan sama sekali di brosur ataupun banner. Mungkin karena Hisense berpikir ini adalah fitur bawaan android, sehingga tidak perlu disebutkan lagi. Begitupun, sebenarnya tidak semua vendor akan implementasi fitur ini; sehingga tetap boleh disebut sebagai nilai tambah. Karena Hisense ga promosiin, maka itulah tugas ane sebagai user untuk "mengekploitasi" fitur ini demi kepentingan ane sendiri #devilface

Intelligent Assistant
Penambahan fitur lainnya yang digabungkan ke dalam setting adalah Intelligent Assistant. Pureshot/+ sebenarnya juga sudah memiliki beberapa fitur ini, namun di PSP2 ada penambahan lebih banyak, seperti one-handed operator, Half-screen hover, Quick Start, Accident touch prevention mode, Pocket Mode.
Spoiler for Intelligent Assistant:

Half-Screen Hover : Juga termasuk dalam pengoperasian dengan satu tangan. Dengan tekan home 2 kali, maka UI bagian atas akan turun 1/2 layar ke bawah, sehingga mempermudah jempol kita untuk menjangkau 1/2 layar atas, tanpa harus memegangnya dengan 2 tangan. Fitur ini mirip reachability di ipin. Sayangnya entah apakah memang begitu atau ada bugnya, setelah UI turun 1/2 layar ke bawah, kita tidak bisa scroll ataupun swipe kiri kanan; hanya bisa tap untuk milih menu nya. Kemungkinan besar bukan bug tapi memang didesain seperti itu.
One-handed operator : Mempermudah akses dengan satu tangan, karena layar PSP2 adalah 5,5 inch, tentunya lebih susah untuk dipakai dengan satu tangan. Setelah diaktifkan, maka layar UI akan mengecil dan berada di sudut kanan/kiri bawah (bisa diswitch).
Accident touch prevention mode : Menggunakan proximity sensor untuk memutuskan apakah PSP2 akan menyala ketika menekan tombol power ataupun double tap awake. Ini terutama sangat berguna ketika kita menaruh HP di kantong celana yang ketat, sehingga kadang2 bisa salah tekan tombol power ataupun double tap awake. Dengan fitur ini, meskipun kita salah tekan tombol power, karena proximity sensor masih tercover celana, maka HP tidak akan menyala dan tidak salah pencet sana/sini.
Pocket Mode : Suara dan vibrate akan menjadi lebih keras ketika ditaruh di dalam kantong (proximity sensor tertutup), sehingga memastikan kita tetap mendengar kalau ada notifikasi ataupun panggilan masuk.
Quick start : yang mirip dengan gesture launcher; ada di Settings > Intelligent Assistant > More > Quick Start. Di sini kita bisa menambahkan gesture tertentu untuk menjalankan app tertentu ataupun merubah setting tertentu (wifi, bluetooth, GPS). Cara mengaktifkannya adalah swipe up dari touchscreen bagian bawah, kemudian gambarlah gesture yang telah ditambahkan sebelumnya. Misalnya ane tambahkan 'C' untuk buka app AIDA64. Fitur ini mirip dengan GMD Gesture (root), bedanya adalah perlunya tambahan swipe up terlebih dahulu sebelum memulai gesture nya. Dan tentunya pilihan action yang bisa dilakukan tidak selengkap di GMD gesture, yang memerlukan root. Tapi setidaknya, gesture launcher bawaan ini akan mempermudah untuk mengakses app ataupun settings yang sering dibuka; tanpa perlu root lagi. Namun ada bug general seperti kebanyakan gesture launcher lainnya. Karena starting point swipenya berada di bawah, sensitivitas touchscreen di daerah tersebut menjadi berkurang, karena adanya delay yang menunggu apakah touchnya adalah swipe up untuk mengaktifkan quick start. Bagian bawah layar cenderung terpakai untuk keyboard, karena kan keyboard muncul dari bawah. Sehingga ketika Quick start aktif, tombol bagian bawah keyboard seperti spasi, titik, koma dan sebagainya kadang-kadang terasa kurang responsif. Begitu juga dengan menu app yang juga sering berada di bawah, kadang-kadang perlu tap 2 kali baru bisa respon. Ane baru sadar akan hal ini setelah factory reset dan merasakan bahwa keyboardnya jauh responsif, dan kemudian menjadi kurang responsif setelah mengaktifkan fitur ini. Kalau agan mengalaminya, maka ane sarankan untuk tidak menggunakan fitur quick start ini.

System task killer
Salah satu peningkatan terbesar dibanding Pureshot+ dalam hal system adalah PSP2 kini telah dilengkapi dengan integrated system manager, yang dinamakan Mobile Manager. Fitur ini mirip seperti yang ada di MIUI nya siomay, yang berfungsi mengatur berbagai security dan system management. Ada 5 bagian menu di Mobile Manager ini:

a. Call block : Dilabel dengan nama firewall, sangat mirip dengan firewall di Pureshot/+. Fungsinya adalah sebagai blacklist/whitelist telepon/sms dari nomor2 tertentu.
Spoiler for Call Block:

b. Traffic Monitor : Mengontrol pemakaian data connection dan wifi dari app yang terinstall. Mirip seperti data usage bawaan android, hanya saja di sini kita bisa mengontrol permission app mana yang diperbolehkan untuk memakai data/wifi. Dalam dunia komputer, inilah firewall yang sebenarnya, memonitor trafik internet. Secara default app baru akan diperbolehkan untuk mengakses baik data maupun wifi (bisa diset sebaliknya). Kemudian di bagian network control nya kita bisa mengatur lebih lanjut settingan per app, apakah bisa mengakses data, wifi ataupun keduanya.
Spoiler for Traffic Monitor:

c. Power Manager : Memantau pemakaian batere. Ada power saving mode yang bisa disesuaikan dengan pola pemakaian. Ada alarm mode yang bisa dicustomize pemakaian wireless (toggle on/off), Super Power saving mode : yang akan menonaktifkan semua fungsi lain selain telepon/sms; smart saving dan The initial mode. Ke empat mode ini bisa diatur supaya otomatis aktif pada level batere tertentu, ataupun pada saat dicas. Di bagian ini juga terdapat schedule auto on dan auto off, untuk mematikan HP pada jam tertentu. Masuk ke Settings lebih lanjut (kanan atas), di sinilah tersembunyi auto task killer nya. Auto clear task default ke 5 menit, akan menutup semua app yang sudah ditutup, tapi masih tercached di RAM, setelah layar off di atas 5 menit. Akan ada notif yang memberitahukan task clear ini (bisa dihilangkan notifnya). Kemudian ada juga Whitelist, yang mencegah app tertentu kena kill oleh Power Manager ini. Ada juga RTC Management yang untuk mengontrol background app supaya tidak kena kill. Pastikan socmed ataupun app yang harus jalan di background sudah diwhitelist di kedua menu ini : whitelist dan RTC Management.
Spoiler for Power Manager:

d. Self Running-Management : Mengontrol auto start on boot dari app. Menurut ane seharusnya auto clear task di atas, berada di menu ini.
Spoiler for Self Run:

e. Authority Manager : Di menu tertera sebagai MobileSafe, fungsinya adalah permission manager. Mirip dengan pengaturan permission di MIUI, di sini setiap app juga akan dibatasi aksesnya sampai kita berikan izin. Contohnya kita install app baru Snap Camera. Pada saat buka Snap pertama kali, akan ada prompt apakah kita mengizinkan app ini untuk mengakses kamera. Tentunya harus kita ijinkan supaya Snap camera bisa berfungsi. Jika salah pilih, dan kena reject; maka kita perlu masuk ke menu Authority Manager ini, di Application Monitor cari app tadi (Snap) dan ubah izin nya ke Accept. Di sebelah kanan juga ada Permission Monitor untuk melihat semua permission yang diminta dari semua app.
Spoiler for Permission Manager:


5. Perfomance, Benchmark, Gaming, Thermal
SoC Spesification
PSP2 menggunakan SoC kelas menengah (untuk tahun 2016) dari Qualcomm yaitu Snapdragon 617, dengan codename MSM8952. SD617 ini dirancang menggunakan mirip (tapi tidak serupa) core design dari SD615 sebelumnya tapi menambahkan feature dari SD652 di atas nya. Core design masih sangat mirip dengan SD615, namun Modem dan ISP lebih mirip dengan SD652. Ada beberapa HH lain yang (mungkin) masuk pasar Indonesia, dengan memakai SoC SD617 yang sama, seperti samsul jetujuh 2016, hatece eiwannain, kulpedmaks, jetee aksonmaks dan lain sebagainya. Namun tentunya harganya berbeda dengan PSP2. Detail mengenai SD617 ini bisa diakses di website qualcomm ataupun pdadb.

Konfigurasi CPU nya adalah Octacore HMP (semua core bisa aktif bersamaan) dual cluster : Quadcore ARMv8 Cortex A53 @1,5 Ghz + Quadcore ARMv8 Cortex A53 @1,2 Ghz; didukung oleh Modem X8 LTE Chipset, DSP Hexagon 546, Dual ISP up to 21 MP dan DAC WCD9330. GPU yang digunakan masih sama seperti pendahulunya, yaitu adreno 405 @550 Mhz, 48 ALU dengan Gflops teoritis 59,4. Fabrikasi chipset menggunakan PolySiON 28 nm LP.

Sekilas mungkin terlihat bahwa SD617 ini tidak berbeda jauh dengan pendahulunya SD615 maupun SD415 di Pureshot/+, masih dalam satu rumpun SoC yang sama. Sudah banyak isu mengenai overheat dan throtling parah di SD615 selama setahun terakhir. Kemungkinan besar SD617 juga akan begitu. Apalagi GPU nya juga masih sama, yaitu adreno 405; yang perfomanya masih kalah dibanding GPU di SoC Mediatek yang setara, contohnya Mali T760MP2 di MT6752. Ane sendiri juga berpikir demikian, sebelum hands-on PSP2 ini. Namun terdapat perbedaan jauh secara mendasar yang memisahkan kasta SD617 dari keluarga SD415/615 yang lahir setahun sebelumnya. Dan hal ini sudah dijelaskan dengan detail di pejwan. Silahkan dipelajari lebih lanjut di pejwan bagian benchmark.

Benchmark CPU & GPU
Berbicara soal teori SoC di atas tidaklah akan memuaskan para pemburu HH dengan perfoma bagus. Selalu saja hal yang ditanyakan adalah benchmark. Di sini ane akan tampilkan 3 benchmark terkenal, yaitu Antutu 6 : untuk benchmark secara keseluruhan, Geekbench : fokus di perfoma CPU dan GFXBench : fokus di perfoma GPU. Untuk lebih detail mengenai screenshot nya sudah dipertontonkan dengan jelas di pejwan (link di atas). Di sini ane akan membahas hasil benchmarknya saja.

Antutu 6
Antutu 6 PSP2 berkisar 44000 - 45000. Jika sambil dicas dan dibiarkan supaya throtlling alami, maka antutu 6 nya akan turun ke 36000 an. Di pureshot/+, antutu 6 normal sekitar 28000, throttling sekitar 21000. Bisa terlihat ada perbedaan yang sangat jauh. Jadi ini juga ikut mendukung teori yang sudah dikemukakan di atas dan di pejwan. Yang naik drastis adalah nilai 3D yaitu 3000 + 5000 di PSP2, terutama jika dibanding dengan SD415/615 sebelumnya yang hanya 1000 + 1000. Bahkan pada saat throttling pun, nilai 3D tidak banyak berubah. Artinya meskipun thermal naik, hanya perfoma CPU yang diturunkan, perfoma GPU (untuk gaming) tetap stabil. Ini tentunya disebabkan oleh driver GPU nya yang lebih tinggi, yaitu OGLES 3.1 + AEP.

Peningkatan benchmark karena driver yang support OpenGL ES 3.1 + AEP ini ternyata bukan hanya terjadi di SD617. Ane cek Moto G3TE yang memakai SD615 di layar 720p, pas di Lollipop antutu 6 nya 33 ribu. Tetapi ketika sudah dapat update Marshmallow dengan driver support OGLES 3.1 + AEP, antutu 6 nya naik jadi 40 ribu an. Dengan demikian ada peningkatan signifikan setelah update AEP ini. Namun peningkatannya masih tidak akan sama dengan SD617, karena SD615 masih terkekang oleh CPU nya yang masih menggunakan A53 r0p1 serta board platform MSM8916.

GeekBench
SD617 di 750 dan 3100 an, naik di atas pureshot yang masih 600 dan 2300 an. Padahal kalau dihitung secara frekuensinya, SD617 hanya 10% lebih cepat dibanding pureshot (big 1,50 Ghz vs 1,36 Ghz, serta LITTLE 1,20 Ghz vs 1,00 Ghz). Namun karena revisi cortex nya lebih tinggi, sehingga nilai lebih tinggi sekitar 25-30%. Dengan nilai geekbench setinggi 750 ini, maka PSP2 lebih lancar lagi di sisi UI. Untuk berbagai daily task seperti copy file, decompress/compress, buka gambar/video, loading list app dan sebagainya akan lebih cepat sedikit.

GFXBench
Secara rata2 dari nilai on-screen test, PSP2 akan kalah vs Pureshot/+. Karena resolusi nya 2 kali lebih rapat, FHD 1080p di PSP2 vs HD 720p di pureshot. Jadi supaya imbang, kita perlu liat benchmark off-screen 1080. Bisa terlihat secara rata2 PSP2 menang sekitar 30% dibanding Pureshot. Lalu juga bisa terlihat bahwa PSP2 memiliki nilai benchmark di test Manhattan 3.1 (hanya di OGLES 3.1), Car Chase dan Tessallation (hanya di OGLES 3.1 + AEP). Sementara Pureshot tidak memiliki nilai ketiga test tersebut karena belum support OGLES 3.1 + AEP. Long term perfomance juga mengkonfirm apa yang ditemukan di nilai 3D di Antutu 6; di mana setelah menjalankan benchmark dalam waktu lama, nilai long term perfomance hampir tidak berbeda dengan test running benchmark 1 kali. Artinya tidak ada kata throttling GPU di kamus nya PSP2. Benchmark battery life juga hampir 2 kalinya Pureshot, yang berarti bahwa kalau digenjot gaming non-stop, PSP2 bisa bertahan 2 kali lebih lama dibanding Pureshot.

Gaming
Dengan melihat perfoma di atas, tentunya tidak ada gunanya sama sekali kalau tidak dites di real life applicationnya, yaitu game. Jika sebelumnya agan adalah pengguna pureshot/+ atau max R2, dan sudah cukup puas dengan perfomanya; maka agan akan menemukan agan jauh lebih puas lagi di PSP2 ini.

Sebagai perbandingan paling gampang, standard gaming yang paling nyata adalah Asphalt 8 : Airborne. Game ini termasuk cukup berat, sehingga tidak jarang kita perlu menurunkan kualitas grafik supaya bisa lebih lancar. Di pureshot/+, saya sudah tes dengan apk yang OpenGL ES 3.0; hasilnya Asphalt 8 hanya akan lancar max di setting medium. Setting high mungkin bisa, tapi pas gameplay bagi ane terasa banget ada framedrop yang membuat racing nya tidak nyaman, terutama pas belokan atau ngedrift. Nah di PSP2, dengan apk yang sama; hasilnya Asphalt 8 bisa lancar di setting high !!!, tidak terasa ada framedrop dengan efek high nya terlihat. Padahal resolusi di Pureshot/+ masih di HD 720p; sementara PSP2 sudah FHD 1080p. Bayangkan PSP2 perlu narik resolusi 2 kali lebih besar, tapi malah masih lebih lancar di setting lebih tinggi. Driver SD617 terbaru dengan support ES 3.1 + AEP benar2 membantu dalam gaming.

Belakangan ane menyadari bahwa kenapa di pureshot ane bisa ngelag, itu disebabkan oleh apk mod nya. Ane pakai yang versi mod unlimited coin dan turbo. Dan apk ini ada konek dan mendownload banyak iklan di background, sehingga membebani system. Begitu ane tes off kan wifi dan data, ternyata pureshot juga bisa main di high dan cukup lancar. Namun tetap saja PSP2 menang karena masih tetap bisa main high di resolusi dua kalinya.

Testing game lain, the cave juga hampir sama dengan Asphalt 8. Dengan memakai apk dengan data untuk GPU adreno, di Pureshot akan terasa framedrop nya. Tapi karena ini adalah game semi real time, lebih ke strateginya; maka masih playable. Di PSP2 lebih lancar, lagi2 dengan resolusi lebih tajam. Tapi tetap ada framedrop di beberapa scene. Mungkin memang segitu lah optimasi dari game nya. Tes main Hero Legend, loadingnya PSP2 6 kali lebih cepat dibanding pureshot. Seperti yang dijelaskan di bagian Internal Storage, ini kemungkinan besar adalah pengaruh dari eMMC nya juga. Setelah masuk di game, keduanya hampir sama lancarnya. Namun ketik mode challenge di mana musuhnya banyak sekali, bisa terlihat PSP2 tetap lebih tahan framedrop dibanding pureshot. Secara keseluruhan, perfoma gaming meningkat; meskipun PSP2 harus menarik resolusi layar 2 kali nya Pureshot.
Diubah oleh Desmanto

Review Pureshot Plus 2 - Part 4

Long term gaming
Nah, kalau cuma gaming doank kayaknya ga fair. Tingkat kenyamanan setelah gaming juga perlu diukur. Maksudnya kenyamanan adalah mengenai suhu HH setelah gaming lama (misalnya 30 menit) dan ketahanan baterenya. Untuk membandingkannya, maka lagi-lagi ane akan ambil pureshot sebagai patokan.

Hero Legend
Ane tes dengan game Hero Legend. Karena game ini ada mode auto nya, sehingga ane bisa main mode challenge dan kemudian membiarkan AI nya main sendiri sambil mengukur suhu dan persentase baterenya. Ane sebenarnya mo jalankan gamebench juga di pureshot sebagai perbandingan, tapi entah kenapa setiap kali ane start gamebench, pureshot malah ngehang/restart. Sehingga ane cek manual saja. Kalau di PSP2, ane baru bisa tes sempurna dengan Gamebench, sehingga bisa terlihat grafiknya.

Spoiler for Hero Legend Gamebench:

Hero Legend ini termasuk game moderate, apk nya kecil tapi cukup butuh resource. Load GPU nya sekitar 60% (cek dari PSP2). Setelah 30 menit suhu rata2 tertinggi di Pureshot adalah 48,6. Sementara di PSP2 dengan fps yang cenderung lebih stabil, suhu rata2 tertinggi hanya max di 41,7 (hampir sama seperti pas quickcharging). Kalau membandingkan dengan kopi yang ane minum, pureshot masih enak diminum; PSP2 uda ga hangat dan ga enak lagi diminum. Hero Legend belum bisa memaksimalkan GPU load, jadi ane ga cek batere usage nya. Namun karena PSP2 memakai gamebench, ane bisa tahu daya tahannya adalah 4 jam 44 menit; hampir mendekati nilai benchmark battery life di GFXBench yang nilainya 294 menit (4 jam 54 menit)

Asphalt 8
Kemudian ane tes standard gaming yang termasuk paling GPU intens sampai sekarang, yaitu Asphalt 8. Ane tes main dari awal dengan koneski wifi/data off (supaya tidak ada iklan), main beberapa scene dari awal, dengan membeli mobil yang sama dan hampir semuanya dibuat semirip mungkin. Ane main selama 30 menit dan kemudian ngecek HH nya. Pureshot setelah main 1/2 jam, baterenya turun 30%; suhu rata2 tertinggi di 51,4 !!! Bahkan di battery temperature sempat tercatat ampe 55 (kalau nyentuh 60 bakalan restart). Baterenya sebenarnya tidak turun sampai 30%, soalnya begitu ane stop main 1 jam, persentasenya masih tidak turun sama sekali. Mungkin voltagenya drop karena drain arus berlebih pada saat gaming dan panas, sehingga persentase turun lebih cepat. Ane tes charge dan interpolasi persentasenya, seharusnya yang benar adalah sekitar 25%. Jika 1/2 jam 25%; maka pureshot hanya sanggup melayani Asphalt 8 selama 2 jam saja !!!

Spoiler for Asphalt 8 Gamebench:

Sementara di PSP2, ane bisa tes dengan gamebench, sehingga datanya lebih detail. Framerate bisa terasa mulus, tapi average fps sebenarnya sekitar 25, top di 31. Pemakaian CPU cuma sekitar 10% doank, kadang2 spike ke 20-30%. Tapi pemakaian GPU sering mentok 100%. Thermal tertinggi 46,7 derajat setelah main 30 menit, bahkan masih lebih rendah dibanding thermal pureshot di Hero legend yang masih GPU load 60%. Batere berkurang hanya 13 % dari 3000 mAh, artinya bisa tahan abuse 4 jam penuh nonstop dari batere penuh. Terbukti sekali lagi benchmark GFXBench yang mengatakan battery life nya PSP2 adalah 2 kalinya pureshot. Dari game Asphalt 8, bisa terlihat bahwa CPU nya bahkan hampir ga kerja sama sekali, tapi lebih ke GPU nya yang kerja rodi/romusha. Dan untungnya peningkatan terbesar di PSP2 adalah di sisi GPU nya.

Setelah melihat berbagai pembuktian di atas, dari teorinya, benchmarknya, testing gaming dan long term gamingnya; tidak bisa dipungkiri lagi fakta bahwa PSP2 memang sudah meningkat cukup signifikan dibanding pureshot/+ di bidang SoC nya.

6. Contacts and telephony, messaging
SIM Card
PSP2 menggunakan SIM card ukuran micro.
Spoiler for Dual SIM Micro:

Kedua slot ini terletak dalam satu sim tray yang sama, di bagian sisi kanan atas. SIM tray bisa dibuka dengan tray ejector yang tersedia. Slot microsd berada di sisi kiri, tidak mengganggu Slot SIM card.

Kedua SIM card masih mempertahankan keunggulan dari Pureshot/+ sebelumnya, yaitu support semua frekuensi operator selular di Indonesia. Artinya agan bisa pasang kartu SIM dari opsel Indonesia manapun, dan tetap akan dikenali oleh PSP2. Tapi ingat untuk tidak memasukkan Surat Izin Mengemudi (SIM) agan, karena tidak mungkin bisa masuk. Bagi agan yang uda pernah baca Klaim all operator support dari pureshot/+, maka seharusnya sudah tau mengenai ini, sehingga tidak akan ane jelaskan lebih lanjut. Slot primary dan secondary bisa diswitch secara software tanpa merubah posisi fisiknya di SIM tray. Yang perlu diingat adalah slot primary akan support semua opsel, namun slot secondary pasti hanya mentok di GSM-EDGE, tidak bisa CDMA.

Sama seperti pendahulunya PSP2 support Dual SIM Dual Standby (DSDS), yaitu kedua nomor telepon bisa aktif bersamaan, namun pada saat panggilan, hanya satu yang bisa aktif, slot lainnya akan jadi nada sibuk. Jika agan menggunakan data connection baik dari LTE, EVDO maupun 3G/H+, maka data connection akan terputus sementara ketika sambungan telepon berlangsung dan otomatis terhubung kembali setelah telepon selesai.

Contact and telephony
Untuk urusan telepon dan kontak, PSP2 mirip sekali dengan pureshot/+, di mana Call log dan contact tergabung dalam satu app yang sama, dipisahkan oleh tab. Untuk memanggil dengan sim 1 ataupun sim 2 juga sudah ada tombolnya. Sama seperti pureshot/+, PSP2 juga punya fitur hold, add call, mute, record (rekam percakapan telepon), dialpad dan speaker. Dua tambahan lainnya adalah contacts (mengakses contact) dan memo (untuk mencatat sesuatu). Mungkin penambahan memo ini lah yang berbeda dari Pureshot/+ sebelumnya, yang memudahkan untuk mencatat hal2 penting ketika masih telepon.
Spoiler for Dial & VoLTE:

Perbedaan lain di sisi telepon adalah PSP2 sudah support Enhanced HD voice, yang dikenal dengan VoLTE. Jika agan memakai kartu Smartfren yang sudah aktif VoLTE nya, maka kita bisa telepon dengan kualitas suara yang lebih jernih, serta juga video call. Sayangnya ane sendiri tidak sempat mencoba fitur ini, soalnya tidak ada target telepon yang bisa digunakan untuk confirm fitur ini.

Messaging
Urusan sms juga tidak banyak berubah dari pureshot/+, sehingga tidak akan ane bahas lebih lanjut. Intinya sama bisa sms dengan kedua SIM. Juga ada setting standard, serta backup & restore. Untuk SMS banking, tidak ane coba, karena ga pake. Namun melihat pureshot yang juga support, maka seharusnya PSP2 juga support.

App Package
Seperti kebanyakan android lainnya, PSP2 sudah menyediakan beberapa app bawaan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, seperti Clock, calculator, FM Radio, recorder, Flashlight, Compass dan Memo. Adapun fitur tambahan lain yang agak jarang ditemukan juga ada, seperti DLNA (local network media streaming sejenis XBMC atau Kodi), QRCode (scanner & creator), Mirror, HiDrop (sejenis airdroid). Beberapa app ini sebenarnya bisa dirangkum dalam satu app yang bernama Smart Tools. Adapun untuk office, ada WPS Office yang bisa untuk view dan edit dokumen. Kemudian facebook dan twitter juga terinstall sebagai preload; ane sih ga pake sama sekali. Tidak ada banyak bloatware lain lagi, rata2 ada standard android.
Spoiler for Built-in App & Google App:

Dari segi google apps, semuanya lengkap, mulai dari : Google Playstore, Search, Chrome, Gmail, Maps, Play Music, Youtube, Play Movie & TV, Drive, Hangouts, Photos, Google+, Play Services, News & Weather, Play Books, Play Games, Play Newsstand, Google Keyboard. Ane sendiri hanya memakai Chrome, gmail, playstore dan play services. Sisanya akan saya disable.

DLNA app nya standard seperti lainnya. Bisa sekaligus share media di HH, dan juga bisa akses media di device lain. Ane tes ke router tplink ane yang ada dicolok HDD eksternal 1 TB. PSP2 bisa langsung play videonya, namun untuk video flv dan beberapa format lain, tidak bisa muncul gambarnya, hanya audio doank. Mungkin codecnya dari DLNA app bawaan tidak lengkap. Ane sih tetap balik ke metode standard yang lebih terbukti, yaitu dengan Es File Explorer untuk mengakses samba share dari router dan play videonya via MX Player. Semua video bisa play sempurna tanpa lag.
Spoiler for DLNA & HiDrop:

Hidrop tu seperti airdroid sederhana, hanya untuk berbagi file. Perlu konek ke wifi dulu, kemudian add file/folder dari internal storage / microsd untuk dishare. Misalnya kita set share folder /sdcard/download. Nanti akan ada extract code (password) dan alamat IP dan port dari PSP2 nya. Di browser PC atau HH lain, ketikan alamat ini dan extract code nya untuk mengakses folder /download yang sudah dishare ini. Klik download di file yang akan dicopy ke PC/HH lain yang mengakses share ini. Transfer data hanya satu arah dari PSP2 ke browser lain, jadi sebenarnya tidak begitu praktis. Airdroid masih jauh lebih banyak fiturnya dibanding Hidrop ini.

Untuk QRCode, juga cukup simple, di mana view finder nya berbentuk persegi di tengah layar. QRcode ini juga bisa mengenali barcode. Ada pilihan scan, decode image (dari local picture), dan create. Yang patut dibanggakan adalah kemampuan scanning QRcode dengan teks yang cukup banyak. Ane kadang2 kalau mau ngetik panjang di HH, tidak ketik langsung di HH; tapi ketik dulu di PC dan kemudian transfer textnya ke HH. Cara transfer memang bisa via wifi ataupun colok kabel. Namun adakalanya kedua metode tu juga terlalu lama. Apalagi kadang2 PC dan HH tidak berada dalam jaringan yang sama (tidak diperbolehkan). Jadi setelah ketik, ane akan copas textnya ke QR generator (Zint), dan scan QR dari HH untuk copy textnya. QRCode app yang biasa ane pake adalah QRDroid, di mana ada dua engine scanning, yaitu Zapper dan ZXing. Keduanya mirip2 dalam perfoma. Tapi biasanya max text yang bisa dikenali adalah sekitar 900 character, di atas itu akan susah banget scan QR nya. Tapi dengan memakai QRcode bawaan PSP2, meskipun terlimit oleh viewfinder yang lebih kecil, ternyata mampu scan ampe 1500 character! Ane sempat test di atas itu, tapi sudah mulai susah banget.

Sayangnya bundling keyboard bawaan adalah Touchpal, di mana keyboard ini ada masalah di privasi. Touchpal akan terus menerus jalan di background dan terhubung ke server umeng.com dkk di china sana. Di mana server ini fungsinya adalah data collection. Tidak diketahui jelas data apa yang dikirim ke sana. Tapi untuk sebuah app dengan fungsi sebagai keyboard, ini adalah ancaman serius, karena password apapun yang kita ketik melalui keyboard tersebut, bisa saja dikirim juga !!! Oleh sebab itu, saya sarankan untuk segera menonaktifkan touchpal ini dan menggunakan keyboard lain, seperti google keyboard yang juga sudah ada di system. Kita hanya perlu switch ke google keyboard dan menonaktifkan touchpal ini. Google sendiri juga ada data collection, tapi setidaknya itu sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari android itu sendiri (kita sudah setuju pada Terms & Conditions nya pada saat memakai android). Kalau memang google ketahuan menyalahgunakan data collection kita, bisa digugat dengan class action; kita sebagai korban malah bisa mendapatkan kompensasi. Tapi kalau yang seperti touchpal, ane ga yakin bisa digugat seperti itu saja; malah kita yang rugi tenaga dan waktu.

Sama seperti di Pureshot/+, tidak ada setting Spell Checker yang muncul di Settings > Language and Input. Sehingga untuk menghilangkan garis bawah merah dari kata-kata tidak baku, kita perlu off kan secara manual dari shortcut activities di Quickshortcutmaker ataupun nova launcher. Ini sudah saya laporkan sebagai bug juga.

7. Multimedia, audio quality
Gallery
Dari segi Galeri, tidak banyak yang berubah dari PSP2. Ada tab photo untuk melihat foto terakhir yang diambil ataupun mode album untuk melihat perfolder. Ada fitur slideshow, Multi select berfungsi hanya untuk delete dan share. Kalau ingin copy atau pindah foto ke folder terpisah, harus dilakukan secara terpisah dari file manager. Jika kita tap satu foto, ada beberapa pilihan tambahan. Terutama ada satu pilihan unik yaitu MakeUp. Secara generalnya fitur ini lebih cocok untuk foto selfie dan lebih arah ke kaum hawa. Fitur yang ditawarkan mirip seperti yang ada di perfect 365 ataupun app makeup lainnya, dengan beberapa penambahan seperti membesarkan bagian yang disukai pria. (beneran ada lo). Fitur MakeUp ini boleh dibilang termasuk USP nya juga. Tapi ane sih tidak butuh, jadi ya biasa-biasa aja deh. Cuma kadang-kadang ane tertawa sendiri pas ngetes fitur makeup ini. Hehehehe..... Hati2 dengan penggunaan fitur MakeUp ini secara berlebihan, terutama untuk para pria sejati; karena fitur MakeUp ini beresiko menambah jumlah elgebete di Indonesia.

Audio Chipset
PSP2 menggunakan DAC Intergrated Qualcomm WCD9330, yang support 24-bit audio 192KHz dan dedicated 2.55V amplifier. Saat ini, ada banyak vendor berlomba2 untuk memasang audio chipset external di HH mereka. Namun sebenarnya DAC bawaan Qualcomm juga sudah cukup mumpuni. Untuk kualitas suara yang dihasilkan, menurut ane sendiri, ada peningkatan signifikan dibanding Pureshot. Meskipun sama2 sudah pake Dolby Audio, suara bass yang dihasilkan lebih nendang lagi dibanding Pureshot. Play lagu yang sama, noisenya lebih sedikit dan vokalnya lebih jelas. Menurut ane ini terjadi karena lubang speaker sekarang terfokus ke satu lubang, sehingga tidak terpencar menjadi dua lubang seperti di pureshot/+. Selain itu, tentunya model DAC yang lebih tinggi ini juga turut berkontribusi atas peningkatan ini. Namun menurut para user trial lainnya, kualitas suara PSP2 tidak beda jauh dengan di pureshot/+. Setting Dolby di PSP2 berada di dalam Settings > Sound, tanpa adanya toggle di quick setting seperti di Pureshot/+. Audio Latency masih belum beda jauh dengan yang ada di Pureshot/+. Testing dengan Superpowered Latency Test v1.5; dengan Buffer size auto (240), Sample rate 48 Khz, didapat Round-trip audio Latency sekitar 73 ms. (Di pureshot 75 ms).
Spoiler for Dolby & Latency:


Music Player
Bicara soal music player bawaan, termasuk sangat standard. Bisa play per folder ataupun playlist, tapi tidak ada fitur shuffle. Suaranya seperti yang dijelaskan di atas, karena DAC dan dolby nya, terasa lebih mantap dibanding pureshot. Ada sedikit masalah mengenai musik player bawaan. Dari beberapa testing di awal, kadang ane menemukan masalah tidak bisa play lagu meskipun mp3 nya sudah dicopy ke internal SDcard maupun external MicroSD. Setelah dites beberapa saat, akhirnya ane menemukan ternyata MTP cache nya yang error, sehingga lagu nya muncul sebagai link saja, tetapi tidak bisa diplay sama sekali. Bahkan kadang2 lagu yang sama malah muncul dua kali di tampilan list musik. Ane pun masuk ke Manage Apps > All > Media Storage > melakukan Clear data dan kemudian restart. Setelah itu, semua lagu sudah terdetek sempurna dan bisa play normal. Ini sebenarnya memang error nya android, tetapi entah kenapa ane sempat ketemu error ini sampai dua kali; di awal testing dan setelah salah satu TF update. Mudah2an di final version setelah launching sudah tidak ada lagi yang kena MTP cache error ini.
Spoiler for Music & Video Player:

Video Player
Dari spek qualcomm, SD617 sanggup playback video up to HEVC (nama lain codec H265) 1080p 60fps. Setelah ane tes, baik MKV/MP4 1080p 30 fps baik codec H265 (HEVC) bitrate 5,7 Mbps maupun VP9 (yang terkenal berat habis) bitrate 2,2 MBps dilahap begitu aja pake MX player H/W+ dan H/W. Network streaming MKV/MP4 juga sama, sanggup playback dengan H/W+. SD415 di pureshot sih, jangankan VP9 FHD, HD saja ga lancar; FHD putus2, suaranya hilang setiap beberapa detik, baru muncul lagi (berulang). Di PSP2 malah lancar2 saja. Video yang ane tes adalah demo video dari samsul, yang uda ane ujicoba ke berbagai HH. SoC lama sebelum 2015 biasanya tidak sanggup playback codec HEVC/VP9 di resolusi 1080p. Ataupun kalau sanggup playback, hanya mampu menggunakan S/W decoder yang tentunya lebih boros batere. Untuk video anime 10 bit (Hi10p) sampai saat ini memang belum ada SoC selain tegra yang support secara hardware. Semuanya akan play secara software (S/W). Video anime up to 1080p 10 bit bisa lancar menggunakan S/W decoder (H/W atau H/W+ ga bisa play 10 bit), dengan bitrate yang ane tes ampe 15 Mbps. Tentunya khusus Hi10p ini masih perlu liat bitrate nya. Jika terlalu tinggi (mungkin di atas 20 Mbps), kemungkinan besar akan ngelag. Intinya sejauh ini sih semua video 1080p yang ane tes play akan lancar. Namun jika sudah ditaruh video 4K, akan ngelag framedrop. Ya memang spek nya belum mendukung 4K.

Seperti di Music Player, kualitas audio nya juga terasa di videonya. Untuk video MV lagu populer, suara vokal nya terdengar lebih jelas sehingga liriknya bisa diikutin dengan lebih mudah dibandingkan ketika play di pureshot sekalipun. Tanpa perlu memakai headset pun, ane masih bisa merasakan perbedaan di speaker nya, di mana ane lebih mudah mengikutin lirik lagu nya. Kemungkinan setting Dolby Audio dengan profile Music di PSP2, memang benar2 menekankan pada frekuensi vokal yang lebih jelas.

Ada problem kecil di bagian ini, di mana Video player bawaan defaultnya decodernya adalah H/W (android stock media framework). Video dengan codec HEVC tidak bisa play secara normal, akan auto exit, terlepas dari bitratenya. Video yang sama, jika diputar di MX Player dengan H/W Decoder juga memunculkan masalah yang sama. Namun jika di switch ke H/W+ ataupun S/W Decoder, HEVC 1080p lancar jaya, seperti yang dijelaskan di atas. Artinya memang secara hardware, SD617 sudah mampu, namun dari stock android nya yang terlimit di media framework. Sementara untuk VP9 malah kebalikannya dari HEVC. H/W+ akan not supported, tapi H/W lancar jaya. Untungnya hanya dengan install MX Player dan menggunakannya untuk playback sudah menyelesaikan masalah ini. Lagian rata2 user masih jarang ketemu dengan film yang menggunakan codec HEVC/VP9, cuma nonton video edukasi biologis yang tidak memakai codec berat. Biasanya ini hanya dicari oleh film enthusiast yang benar2 mengoleksi film kualitas tinggi. Problem ini sudah ane laporkan sebagai bagian dari bug report.
Diubah oleh Desmanto

Review Pureshot Plus 2 - Part 5

Satu hal unik mengenai video player ini, terutama berhubungan dengan CPU & GPU nya. Ane penasaran dengan CPU load dan GPU load ketika playback video HEVC 1080p. Kemudian ane jalankan gamebench, add MX Player dan putar video HEVC 1080p bitrate 2 Mbps H/W+ selama sekitar 15 menit (minimal yang dibutuhkan untuk hitung battery life). Ane cek hasilnya, ternyata CPU dan GPU loadnya hampir 0% atau nganggur sama sekali bolos kerja.
Spoiler for HEVC 1080p HW+ Gamebench:

Di grafik yang ada spike itu hanya pada saat ane tap di video dan memunculkan menu nya. Memang selama playback ane ada berkali-kali ngecek time nya sehingga CPU & GPU spike di saat yang sama. Selain itu, pemakaiannya hampir 0%. Hal yang sama terjadi jika ane playback video AVC (H264) 1080p bitrate 26 Mbps H/W, CPU dan GPU load hampir 0%. Battery life bisa 8,4 jam. Masa CPU dan GPU cuma digaji buta, ga kerja sama sekali. Tidak bisa, harus dipecat nih.

Ketika ane playback video yang sama dengan S/W decoder (CPU decoding), maka CPU loadnya langsung naik di sekitar 30% (average setelah benchmark 20%). GPU load ada tapi secara interval dan averagenya masih 0%. Battery lifenya ternyata cuma 3,1 jam!!!
Spoiler for HEVC 1080p SW Gamebench:


Artinya benar terbukti kalau playback dengan menggunakan S/W decoder (CPU), jauh lebih boros, pegawai yang tidak efisien. Ane tes lagi dengan video AVC Hi10p 1080p bitrate 15 Mbps yang hanya bisa playback via S/W decoder, ternyata hasilnya mirip, CPU load juga sekitar 25%. Berarti sebisa mungkin kita harus playback video dengan H/W (VP9) dan H/W+ (HEVC/AVC), hindari memakai S/W decoder kecuali terpaksa (karena mo play Anime Hi10p).

Tidak mungkin CPU dan GPU load nya mendekatin nol, tapi video playback seberat HEVC 1080p masih bisa smooth. Pasti ada tersangka lain yang berperan dalam memproses video ini dengan begitu efisiennya, bahkan mengalahkan CPU. Dan ane tidak bisa menebak tersangka utama selain DSP Hexagon 546 yang telah disebutkan di bagian specification. DSP ini ternyata bukan cuma untuk processing sinyal di modem doank. Qualcomm juga sudah tanam 1 DSP multimedia low power high perfomance di SoC. Versi DSP nya SD617 juga lebih tinggi dibanding SD615 sebelumnya. Ternyata apa yang direncanakan qualcomm dari sejak tahun 2013 mulai kelihatan hasilnya. DSP khusus multimedia ini bekerja pada frekuensi rendah namun tetap sepowerful CPU/GPU, ibarat spesialis atau teknisi tertentu yang memang kerjanya spesifik di satu bidang saja (multimedia processing). Konsumsi dayanya hanya sekitar 1/10 dari CPU untuk workload yang sama. Itulah sebabnya H/W / H/W+ decoder tidak membebani CPU/GPU serta bisa sangat hemat batere dibanding S/W decoder. DSP ini kemungkinan besar juga ikut membantu prosesing pada saat gaming dan multimedia lainnya, yang akhirnya turut serta membuat batere juga lebih hemat.

8. Camera
Berbicara soal camera, rasanya tidak lengkap kalau tidak membahas detail dari hardware camera yang digunakan di PSP2. Apalagi dengan nama HP nya sendiri sudah menekankan di kameranya. Hisense nampaknya memang fokus Unique Selling Point (USP) dari seri Pureshot ini di bidang kamera.

Camera sensor
Kamera utama PSP2 menggunakan sensor dari Sonice yaitu IMX298, tepatnya imx298_his_a16n03c. Sensor ini juga dipakai di beberapa HP flagship lainnya seperti kipas merah meit-eik, siomay mifaif, fifa ekspleifaif, opa ernainplus dan belakangan kuda terbang jentri. Sonice IMX298, yang diluncurkan di bulan November 2015 adalah sensor BSI Stacked CMOS (Exmor RS) 16 MP dengan resolusi max 4608 x 3456 (ratio 4:3). Ukuran sensor sebesar 1/2,8 inch atau diagonal 6,521 mm; dengan pixel size standar berbentuk persegi seperti sensor lainnya, yaitu 1,12 x 1,12 micrometer. Sensor ini lebih bagus dibanding ISOCell samsul dari segi management noise nya, karena SNR nya lebih tinggi. Detail sensornya bisa dilihat di website resmi sonice.

Sementara kamera depan menggunakan sensor CMOS BSI dari Omvi yaitu OV8856, tepatnya ov8856_his_st50207y. Sensor Omvi OV8856, yang diluncurkan di bulan September 2015 adalah sensor CMOS PurCel (BSI) 8 MP dengan resolusi max 3264x2448 (ratio 4:3). Ukuran sensor sebesar 1/4 inch atau diagonal 4,60 mm; dengan pixel size standar seperti sensor lainnya, yaitu 1,12 x 1,12 micrometer.
Detail sensornya bisa dilihat di website resmi Omvi.

Spesifikasi lengkap dari kamera dan lensanya bisa lihat di pejwan bagian camera zone.

Camera App
Tahun lalu ketika Pureshot/+ diluncurkan dan menyandang title untuk fotografi. Dengan begitu, ekspetasinya adalah semua hal tentang camera bisa dibanggakan. Memang benar untuk sensornya sudah cukup bagus terutama jika di manual mode. Namun banyak yang kecewa dengan camera app bawaan yang memang sangat kurang dan tidak menghidupin apa yang dibanggakan. Bahkan tidak ada setting manual seperti di snapdragon camera yang ada di erdua. Memang sih akhirnya mayoritas user yang butuh setting tambahan, akan menginstall camera app 3rd party.

Tahun ini, Hisense benar-benar mengobati luka tersebut. Camera bawaan PSP2 sudah jauh lebih bagus dibanding pureshot/+. Meskipun package namenya masih sama, tapi fitur yang ditambahkan sudah melebihi bahkan apa yang disediakan oleh Snapdragon camera. Camera bawaan inilah yang benar-benar menghidupin apa yang benar-benar dibanggakan. Auto mode nya juga sudah dipoles sehingga tidak perlu belajar mode manual lagi untuk menghasilkan foto yang bagus. Ini juga terutama karena didukung oleh sensor sonice yang rata-rata SNR nya lebih tinggi, sehingga noise lebih terkendali.

Karena package name nya masih sama, com.android.camera2, cuma beda versi saja; maka ane kepikiran untuk port app camera nya ini ke pureshot. Ane comot deh framework, dan apk + odex camera ini untuk dideodex. Kemudian hasilnya ane install di pureshot. Ternyata tidak bisa install karena beda signature. Sesudah disable signature verification, masih tetap tidak bisa install. Ane tes deh install di Max Es, bisa install, tapi ga bisa buka sama sekali. Kemungkinan besar memang app camera versi PSP2 memang sudah didesain hanya khusus untuk PSP2 saja; sehingga tidak bisa asal deodex. Mesti ada cleanup lagi di code nya dan mungkin masih perlu frameworknya PSP2. Kalau sudah begitu, ane benar-benar nyerah deh, karena tu bakalan banyak sekali yang perlu diport.

Shooting mode
Spoiler for Camera Mode:

Auto : Default ketika buka camera selalu di sini. Metode pengambilan umum bagi semua user yang tidak membutuhkan keperluan spesifik
Macro : Fokus mode akan lebih condong ke arah dekat, sehingga memungkinkan untuk mengambil objek pada jarak yang dekat (sekitar 6-7 cm).
Beauty : Mirip seperti efek dari camera 360, di mana kulit wajah akan terlihat lebih licin seperti kulit bayi
HDR : High Dynamic Range, pengambilan dua foto dengan eksposure tinggi dan rendah, kemudian hasilnya digabungkan untuk membentuk satu foto yang lebih kaya warna. Pas pengambilan foto, tangan tidak boleh goyang. Jika goyang, maka hasilnya akan berantakan.
Audio Note : Mirip juga dengan audio foto di camera 360 atau samsul. Setelah foto diambil, kita bisa rekam suara di sekitar selama 10 detik untuk mendapatkan feel keadaan sekitar pada saat pengambilan foto.
Baby Mode : Menyediakan beberapa suara yang bisa digunakan untuk menarik perhatian objek, sehingga melihat ke arah kamera (untuk difoto)
Night-Por : Mengambil foto portrait (objek diam) dalam kondisi minim cahaya. Flash akan otomatis aktif, meskipun sebelumnya dimatikan. Shutter speed akan melambat sampai ke paling lambat, 1/7 atau 1/8 detik. Kemudian ISO akan dinaikkan hingga exposure yang pas. Ini hanya lebih cocok untuk objek diam, bukan bergerak.
Slow Shutter : Long exposure mode, di mana shutter akan terbuka selama waktu yang ditentukan. (1-32 detik) Pengambilan foto dengan mode ini wajib menggunakan tripod ataupun alat bantu sejenis, karena kita hampir tidak mungkin bisa menahan HP stabil selama beberapa detik. Gambarnya akan blur atau berantakan jika HP goyang sedikit saja. Long Exposure biasanya dipakai untuk fotografi city night view, petir, Light painting, creative photography termasuk dark cloning.
Professional : Ini adalah mode pengambilan bagi yang sudah terbiasa dengan DLSR ataupun memang user advanced. Di mana ada 5 parameter camera yang bisa disetting manual, yaitu Sharpness (-2 s/d 2), ISO (Auto, 100-800), Exposure (-2 s/d 2), Saturation (-2 s/d 2) dan White Balance (Auto, Incandescent, Sunshine, Fluorescent, Cloudy).

Camera feature
Spoiler for Camera Feature:

Interest Recognition : Mirip seperti Facebook Facial Recognition (Pengenal wajah), di mana HP akan mencoba menebak umur dan gender dari wajah yang dikenalin. Fitur ini berfungsi baik di main cam maupun front cam, termasuk jika diarahkan ke pas-foto ataupun foto keluarga. Uniknya , bahkan bisa menebak umur balita. Ini adalah termasuk salah satu penerapan augmented reality
SmileCap : Capture dengan cara mendeteksi adanya wajah yang sedang senyum.
ScreenCap : capture dengan cara tap di mana saja, tidak harus tap di capture button. Boleh disebut juga touch capture atau tap to capture
BurstCap : Pengambilan beberapa foto sekaligus, dengan full resolution. Max di 20 foto. Setelah itu, satu set foto burst ini bisa dibuka lagi untuk memilih foto mana saja yang akan disimpan, sisanya akan dibuang. Sebenarnya foto hasil dari burst ini hanyalah serangkaian foto yang diberi nama tambahan _COVER dan BurstSnap_1 dan seterusnya. Sehingga jika dilihat melalui galeri eksternal (seperti Snap Gallery), akan terlihat seluruh foto hasil burst tadi (misalnya total 10 foto burst); yang hanya terlihat sebagai satu set foto di galeri bawaan.
Guidelines : terdapat 3 jenis guideline standard, 3x3, 2x2 dan kurva
Timer : Set timer sebelum capture, hanya tersedia pilihan 3 dan 10 detik.
Effect : Efek foto standard yaitu Emboss, Mono, Neon, Sketch, Posterize, Solarize, Negative, Sepia dan Aqua
FlipMirror : Hanya tersedia untuk kamera depan. Tanpa Flip Mirror, foto akan diambil seperti biasa, layaknya ambil dari main camera. Dengan FlipMirror, maka kiri dan kanan akan diflip, sehingga kalau ada tulisan akan jadi terbalik kiri-kanan. Ini tujuannya supaya hasil foto sama persis dengan tampilan di layar ketika foto.
CapSound : Set apakah pada saat capture akan ada suara atau tidak
RecordLoc : Menyimpan GPS location ketika capture, sehingga bisa ditrack fotonya lewat MAP
Volume : Set fungsi volume up/down, sebagai zoom atau fokus
PictureSize : set resolusi gambar, max di 16 MP.
SavePath : set apakah hasil foto disimpan di phone storage atau eksternal sdcard.

Main Camera
Secara keseluruhan, spek kamera utama di PSP2 sudah mengalami peningkatan signifikan. Dari yang sebelumnya hanya sensor samsul isocell di pureshot/+, menjadi sensor sonice IMX298. Dari beberapa googling, ane berasumsi harga sensor IMX298 tidak kurang dari $15. Makanya ini pasti berkontribusi banyak terhadap harga PSP2 yang signifikan lebih mahal dibanding pureshot/+.

Resolusi kamera naik dari 13 MP menjadi 16 MP. Tentunya kenaikan ini tidak begitu signifikan, mengingat ini adalah perkalian panjang dengan lebar. Namun karena sudah 16 MP, maka PSP2 support zoom hingga 8x. Dengan pixel size yang masih standard sama seperti kamera lain, yaitu 1,12 micron; otomatis sensor sizenya pasti lebih besar karena resolusi yang lebih besar ini.

Dengan sensor yang lebih besar dan focal length yang lebih panjang, perfoma low light nya PSP2 masih lebih bagus dibanding Pureshot. (AAD 2,020 vs 1,845). IMX298 di PSP2 sudah lebih minim artifak cat air seperti pureshot/+, karena SNR nya sudah jauh lebih tinggi. Sharpness bawaan nya tidak setinggi pureshot/+. Pada setting ISO yang sama, bisa terlihat noise di hasil foto PSP2 lebih sedikit dibanding pureshot yang oversharpening. Foto ISO 400 di PSP2 kurang lebih setara dengan ISO 200 di Pureshot, pada shutter speed yang sama. Kalaupun setting ISO dinaikkan, noise yang terlihat masih lebih terkontrol. Lihat perbandingan foto Pureshot vs PSP2 di ISO 400 dan ISO auto; serta crop dari salah satu bagiannya (semua brand yang muncul hanyalah kebetulan, ane tidak ada afiliasi apapun dengan mereka).
Spoiler for ISO 400:

Spoiler for ISO Auto:


Jika pureshot mengandalkan shutter yang lebih lambat untuk mendapatkan perfoma lowlight lebih bagus dengan resiko blur yang lebih tinggi; maka PSP2 lebih mengandalkan ISO yang lebih tinggi dengan resiko blur lebih rendah. Kalaupun perlu untuk menggunakan shutter yang lebih lambat, ada fitur long exposure 1 detik yang pastinya masih menang dibanding shutter terlambat di pureshot sekalipun (1/2 detik). Tentunya untuk foto dengan shutter 1 detik, perlu bertumpu pada tiang ataupun bidang datar supaya tidak goyang/blur.

Jika tidak sanggup menahan HH hingga 1 detik, kita bisa menggunakan flash untuk kondisi low light. PSP2 mengalami upgrade lagi di bidang ini, dengan menggunakan Flash Dual LED Dual Tone. Dengan menggunakan dual tone ini, maka warna putih yang dihasilkan akan lebih natural. Camera pun bisa lebih mudah menyetel white balance mencocokkan dengan objek. Namun karena dual tone ini, waktu menggunakan LED sebagai flashlight, warna cahaya akan nampak kekuning-kuningan, yang disebabkan LED yang lebih warm white balancenya.

White balance yang tersedia di camera bawaan ada 5, yaitu Auto, Incandescent, Sunshine, Fluorescent, Cloudy. Dengan snap camera, masih bisa diextend menambahkan Shade, Twilight dan Warm Fluorescent. ISO berada di rentang 100 - 3200. Di snap camera, kita bisa menggunakan mo HJR, yang mampu menaikkan ISO sampai 6400. Namun hasil foto akan jauh lebih banyak noise dibanding 3200. Saturation dari pureshot masih dipertahankan di PSP2. Kalau dibandingkan dengan IMX298 di siomay mifaif, punya siomay terkesan lebih berwarna; karena default saturation nya lebih tinggi. Ketika saturation di PSP2 dinaikkan (ada di Pro Mode), maka hasilnya jadi sama dengan yang di mifaif. Gambar yang lebih berwarna juga bisa diperoleh dengan foto mode HDR.

Untuk shooting macro, fokus kamera terdekat adalah sekitar 6 cm. Itupun kalau cahaya nya kurang, akan susah banget fokusnya, lebih lambat. Ya sebenarnya sama sih di HH lain juga susah. Dengan menggunakan camera app yang bisa lock focus, maka PSP2 bisa digunakan untuk foto bokeh setelah fokus dilock di macro ini. Aperture F/2.0 nya dengan focal 4.04 mm sangat membantu untuk bokeh ini. HDR kamera bawaan juga ada, namun ane masih tetap lebih suka memakai HDR dari Snap camera.

Satu kekurangan khusus IMX298 ini, termasuk di berbagai HH lainnya adalah di fokus nya yang kadang susah. Meskipun dilabel sebagai PDAF, namun dalam berbagai kesempatan di awal testing, ane menemukan fokusnya susah sekali, lebih susah dibanding Pureshot di scene yang sama. Untungnya ini memang bug bawaan dari IMX298 dan sudah diperbaiki di update firmware berikutnya. Firmware komersial setelah launching sudah fix masalah fokus ini. Namun, menurut ane sendiri PDAF ini tetap kadang terasa lambat di beberapa scene. Mifaif sendiri juga mengalami masalah yang sama; jadi kemungkinan besar memang begitulah kecepatan PDAF. Ane sendiri tidak punya metode teknis untuk mengukur kecepatan fokus, namun menurut ane sih kecepatan hampir sama dengan di pureshot. (kalau tidak lebih cepat)

Viewing angle nya dari hasil perhitungan ukuran sensor dan focal length adalah horizontal 65,7 derajat dan vertical 51,7 derajat dengan diagonal 77,8 derajat. Namun data dari hardware info nya, mengatakan diagonalnya adalah 78,1 derajat, tidak begitu berbeda jauh. Mungkin hanya karena pembulatan perhitungan saja. Viewing angle ini tidak jauh berbeda dengan yang di pureshot, yaitu 76,8 derajat (hardware info 76,3). Jadi secara teknis, foto PSP2 hanya sedikit lebih luas ukurannya dibanding pureshot pada jarak foto yang sama. Meskipun viewing angle sama, tapi karena sensor size di PSP2 lebih besar, maka PSP2 masih tetap lebih unggul.

Panorama bawaan di PSP2 tidaklah semaksimal di Pureshot. Sudut pengambilan hanya sekitar 1/2 lingkaran atau 180 derajat. Di mana di Pureshot, bisa mengambil satu lingkaran penuh 360 derajat. Entah kenapa panorama ini malah jadi downgrade, makanya ane laporkan sebagai bug nya.

Kekurangan terbesar di kamera PSP2 yang mampu membuat sisi camera ini sempurna adalah belum adanya support Camera2 API; sehingga tidak ada manual shutter speed. Memang benar ada long exposure, tapi itu hanya untuk shutter di atas 1 detik. Yang diperlukan adalah manual setting untuk shutter speed di bawah 1 detik, yang biasanya juga disertain dengan setting ISO yang lebih bervariasi. Fitur ini sih memang jarang dipakai oleh mayoritas user, tapi sangat critical bagi yang sudah terbiasa dengan setting manual yang ditawarkan oleh DLSR. Ini memang lebih arah ke support softwarenya, sehingga bisa saja update OTA mampu menambahkan fitur ini. Namun ane cenderung pesimis karena development driver untuk Camera2 API ini pastinya tergolong lebih susah. Soalnya bahkan sekelas siomay mifaif, bendera kapal yang juga pake IMX298 ini juga sama sekali tidak support Camera2 API ini.
Diubah oleh Desmanto

Review Pureshot Plus 2 - Part 6

Front Cam
Seperti halnya kamera utama yang mengalami peningkatan; kamera depan PSP2 juga mengalami peningkatan dari 5 MP menjadi 8 MP. Sensor kamera adalah dari Omni yang memang kabarnya diperuntukkan untuk selfie. Fitur beauty mode nya tetap berfungsi dan sangat efektif melicinkan wajah para pecinta selfie. Tingkat beauty bisa diatur seperlunya. Juga ada front Flash yang membantu foto di low-light. Jika dirasa kurang, hasil foto masih bisa diedit lagi dengan fitur Makeup bawaan seperti yang sudah dijelaskan di bagian galeri.

Resolusi Front cam naik dari 5 MP menjadi 8 MP. Kenaikan ini lebih signifikan. Zoom nya tetap sama seperti Main cam, bisa up to 8x. Pixel size yang masih sama dengan main di 1,12 micron, tapi sensor size naik menjadi 1/4 inch dibanding pureshot yang masih 1/5 inch. Viewing angle nya dari hasil perhitungan ukuran sensor dan focal length adalah horizontal 71,0 derajat dan vertical 56,2 derajat dengan diagonal 83,4 derajat. Namun data dari hardware info nya, mengatakan diagonalnya adalah 83,75 derajat, tidak begitu berbeda jauh. Lagi-lagi karena pembulatan perhitungan saja. Viewing angle ini tidak jauh berbeda dengan yang di pureshot, yaitu 84,33 derajat (hardware info 84,5). Jadi viewing angle untuk selfies tidak berbeda jauh juga (80+ derajat), meskipun sensor size nya lebih besar (lebih unggul).

Meskipun bukan memakai sensor sonice, front cam juga masih lebih bagus dibanding pureshot. Cat air juga lebih sedikit; sensornya dan AAD nya yang lebih besar tentunya ikut membantu. Secara keseluruhan peningkatan fiturnya mirip dengan yang ada di main camera. Hanya saja front cam tidak support auto focus, melainkan fixed focus. Sehingga untuk kondisi yang memiliki dynamic range tinggi, akan susah untuk memilih exposure yang tepat.

Ane sendiri sebenarnya tidak suka selfie. Soalnya sampai pureshot sekalipun, front cam memang terkesan seperti kena cat air. Tapi entah kenapa kalau ane pegang PSP2 ini, selalu ada godaan untuk foto selfie yang kemudian diedit via fitur Make-up nya.emoticon-Kiss (S) Mudah-mudahan PSP2 tidak membuat ane jadi kecanduan selfie deh dan jadi maho gara-gara makeup nya.emoticon-Betty (S) Bisa bahaya nih, satu galeri semuanya penuh dengan foto ane. Ane takut PSP2 ga sanggup menahan semua foto ganteng ane yang bersinar lebih terang dari lampu LED 20 Watt. #Lebaymodeon

Video Recording
Baik Main cam maupun Front Cam, keduanya mampu merekam video up to Full HD 1080p, atau sebesar layarnya. Tidak banyak yang bisa dibahas di bidang video recording. Pureshot series nampaknya memang menitikberatkan pada perfoma hasil foto. Untuk bidang video, fitur nya tidak se-wah yang di hasil foto. Namun tetap saja ada fitur tambahan yang dibawa. Yaitu Main camera sekarang support HFR (High Frame Rate) atau slow motion.
Spoiler for Video HFR:

Front cam tidak support HFR ini. Untuk mengaktifkannya, perlu switch dulu ke Main Cam dan set resolusi di bawah Full HD 1080p. Pada resolusi video HD 720p, support up to 60 fps. Pada resolusi VGA, support up to 120 fps. Video hasil rekaman akan otomatis sudah slow motion sesuai fps nya, yaitu 60 fps akan menjadi 30 fps slowmotion 1/2; 120 fps akan menjadi 30 fps slowmotion 1/4. Tidak ada fitur HSR seperti di erdua, yang akan tetap mempertahankan framerate nya (60/120 fps), sehingga hasil rekaman playback di speed normal, tapi memiliki fps lebih tinggi dari 30 fps.

Photo Samples
Sampel foto bisa dilihat di bagian camera di pejwan. Ane hanya akan cantumkan beberapa di bawah kalau malas kunjungin linknya. Semua foto uda resize 1280x960

HDR dari Snap Camera
Spoiler for HDR:

BurstShot dari Camera default. Foto kucing paling susah, lari ke sana/sini. Ane foto total 20 foto, tapi hanya 3 yang ga kabur, dan akhirnya pilih 1 sebagai yang terbaik
Spoiler for Burstshot:

Slow Shutter Mode. Tulisan Hisense dibuat dengan laser hijau.
Spoiler for Slow Shutter:


9. Price and Conclusion
Harga
PSP2 dijual dengan harga 4,2 juta, dan ada diskon 500 ribu menjadi 3,7 juta selama ICS 2016 (sudah lewat). Untuk harga setinggi ini, banyak calon buyer yang akan komplain kemahalan. Lihat saja trit ini dari awal. Mengingat nama Hisense belumlah begitu dikenal selain dari ex andromax user ataupun yang sudah sering ikut di forum nya. Harga PSP2 ini terasa mahal karena ada banyak kompetitor di luar sana dengan spek yang hampir setara dengan PSP2, namun dijual bahkan jauh lebih murah. Karena begitu, kebanyakan akan lebih memilih HH yang lebih murah dengan beda perfoma sedikit. Kalaupun ada budget, di rentang harga setinggi itu, kebanyakan calon buyer akan lebih memilih untuk membeli HH branded lainnya yang sudah pasti lebih terjamin.

Ini bukan berarti Hisense tidak bagus ataupun PSP2 tidak menarik. Tetapi memang Hisense yang kepedean menentukan harga yang terlalu jauh untuk digapai oleh profile user setianya. Banyak komen dari kaskus yang mungkin akan mempertimbangkan apabila PSP2 dijual max di harga 3 juta (harga normal), atau bahkan lebih baik lagi di rentang harga 2,5 - 2,8 juta. Ane sendiri juga setuju harga max nya di 3 juta, atau lebih sedikit juga boleh. Soalnya banyak juga yang mempertimbangkan minus di gyro sensor dan LED notif sebagai pengurang harga jual; meskipun kameranya memang bagus.

Apalagi mengingat kejadian tahun lalu, di mana Pureshot dan Pureshot+ dijual dengan harga 2,7 dan 3,2 juta di awal2. Sebelum akhirnya jatuh ke 2 dan 2,5 juta pada bulan Desember 2015. Banyak pembeli pertama sudah sempat sakit hati karena penurunan harga yang drastis dalam tempo yang sangat singkat. Tahun ini, pastinya banyak user yang akan masuk ke mode wait and see; untuk menunggu kapan PSP2 akan mengalami nasib yang sama. Sehingga jumlah pembeli awal akan berkurang drastis karena semuanya menunggu turun harga.

Pasar android sudah mulai masuk ke ranah komoditi. Akan susah banget untuk menarik calon buyer jika brand kita belum dikenal banyak orang, tapi sudah keburu set harga ketinggian. Alangkah baiknya jika Hisense menyusun ulang strategi nya dengan escape plan yang ada untuk bisa menarik hati calon buyer. Jika momennya sudah lewat, akan sangat sulit lagi memikat hati mereka kalau sudah sempat selingkuh ke vendor lain yang speknya tidak jauh berbeda tapi harganya jauh lebih murah. Mudah2an Hisense mendengarkan jeritan dari agan2 di kaskus, yang jumlahnya mungkin hanya tidak seberapa dibandingkan seluruh rakyat Indonesia.

Strength & Weakness
Strength
Perfoma SoC yang ternyata signifikan lebih bagus untuk kelas mid range
Kamera yang bagus
ROM dan RAM yang besar
Batere 3000 mAh dengan Quickcharging 2.0
Dual SIM all operator Support, LTE cat 7
Speaker yang mantap + Dolby Digital Plus
Integrated system management dengan fitur tambahan
Minim bug yang critical

Weakness
Tidak ada gyro dan LED notif
Tidak ada fingerprint dan NFC
Harga yang mahal untuk speknya

Kesimpulan
PSP2 adalah HH terbaru Hisense dengan perfoma mid-range, storage lega, Dual SIM all operator support, memiliki kamera yang ajib; batere yang awet dan Quickcharging; dengan kekurangan di gyro sensor, LED notif dan harga awal launching yang kemahalan.

Penutup
Akhir kata, ane mengucapkan terima kasih sudah mau membaca review sepanjang ini sebelum akhirnya bertanya di trit tentang hal-hal yang sudah dibahas di atas. Mohon maaf sebelumnya karena ane tidak punya banyak waktu untuk membuatnya lebih singkat. emoticon-Big Grin Semua review ini ane buat apa adanya, dengan menyampaikan kelebihan dan kekurangannya sebagiamana yang ane temukan. Ada beberapa info yang terpaksa ane ambil sebagai asumsi terutama dari hasil googling, karena keterbatasan waktu dan sumber daya untuk mencobanya ataupun kurangnya informasi. Jadi kalau ada kata-kata atau info yang salah, ane minta maaf dan tolong bantu untuk dikoreksi (dengan pembuktian tentunya supaya lebih valid). Ane akan berusaha untuk mengoreksi semampu mungkin. Terima kasih sekali lagi atas perhatiannya.
Diubah oleh Desmanto
setelah lama kagak liat forum hape, kembali liat lagi, liat psp2. setelah tahun lalu pindah ke lain hati dr smartpren tidak membeli psp1, belinya siomay note2, agak kecewa sih, pakenya hapenya 2 jadinya, andro Z sama siomay, repottt.

liat thread ini, thread psp2, mikirnya sudah bahagia kalau harga 2,8-3 juta mah sikat, karna sudah merasakan repot klo 2 hape. eh eh eh harga 4,3 juta. WTF beneran, tanpa gyro sih masi gpp aku, meskipun sudah beli kacamata VR, ga penting2 amat. harganya itu loooo, ngawur e polllll
Quote:

Nah itu dia deritanya user semar. Sama deh, tapi ane kan akhirnya pake pureshot juga. Memang sih ga sepowerful renotu, tapi ya sinyal da pasti lebih ok dan simpel ga perlu dua HH. Gyro sih masih critical, soalnya ane belum pernah merasakan gyro asli di HH sendiri emoticon-Frown

======================
Ripiu ane da siap, liat di atas ya. Page 5 ini jadi longcat gara2 post ane emoticon-Ngakak (S)

Post ini telah dihapus oleh aatjitra
Quote:


review nya mantap gan, terutama bagian harga, benar benar mewakili jeritan hati user mid low end. mungkin kita jumlah nya emang ga seberapa, tapi hisense jangan lupa kalo kita lah free marketing agent mereka. karna kalo kita bisa beli dan puas, otomatis temen2 kita bakal diajak mengenal brand hisense.

Mantap review nya Om Desmanto. Makin kelihatan sih keunggulan si PSP2 dengan SoC yang dia gunakan. Tapi tetap harganya ga tahan ahahahaa..udah gitu ga ada gyro lagi, ga bisa berkreasi dengan photo sphere. Jadi kepikiran mau ambil erdua, tapi saya bukan pemakai SF, jadi sayang, tetap harus pake 2 HP karena sudah punya 2 nomor. So, lagi mempertimbangkan renotri dan Leknopo KaeForNot.
Quote:


bener gan customer experience ini penting
nanti kalo pada komplain ke sosmed hisense mahal bisa berabe emoticon-Big Grin
sekarang konsumen dikit2 larinya ke sosmed
Quote:



barusan saya browsing lazadut sama web nya hisense, pengen tau apa bener udah dijual 4.2 jt? ternyata ga ada tuh psp2 yang dijual. apa mereka emang lagi tes pasar doank ya, sampe sekarang produk nya blom dijual bebas.
Quote:

Quote:

Hehehe, jelas kan kenapa ane lama banget rilis ripiunya. emoticon-Big Grin Bukannya nunda, tapi kalau misalnya post dikit2 entar ga cukup satu post dan jadinya terpencar2. Makanya dikumpulin ampe jadi satu dulu. BTW yang uda baca, pada ngeskip lompat2 atau dibaca semua ya emoticon-Bingung (S) Kalau benaran baca lengkap, berapa lama selesainya ya? Soalnya ane mungkin mo ambil ripiu ane kali ini jadi template untuk ripiu berikutnya.

Kalau soal nama Hisense, benaran masih belum dapat awareness nya. Teman ane tadi pagi nanya2 soal spek HH yang layak dibeli. Juga sekalian nanya apakah ane masih pake HH Hua**i. emoticon-Hammer (S) Ane ampe bingung, sejak kapan ane pernah pake kipas merah. Ternyata dia cuma ingat H nya doank, ga teringat Hisense. Asli kejam banget emoticon-Ngakak (S)
Quote:


Hmm, tadi baca sebagian di Gojek dengan segala kendalanya. Udah gitu skimming di bagian Gaming karena ga banyak main game tapi pengen tau aja performanya. Udah gitu baca lagi sisanya di kantor. Asli emang panjang banget hehe. Mungkin harus bikin summary dari tiap part/bagian kalau yang ga punya waktu banyak tapi pengen tau lumayan detil sebelum bagian kesimpulan. Kalau kesimpulan kan lebih general/overall dari semua bagian-bagian itu.

Tapi emang om Desmanto punya banyak waktu yang untuk ngetes ini itu dan masih punya banyak waktu lagi untuk menuliskannya. hehehe
Quote:


iya agan desmanto pake pureshot tapi kan hadiah, kalau rogoh dr kocek sendiri psp1 beli ga kira2 bro?
Quote:


Sumpah baru baca, ternyata batre tanam...wis kayake good bye ajalah, cukup pegang hp batre unibody sebiji ajah (r2). Ane pribadi kalo mau ngapa2in yg unibody rada2 ciut nyali...enggak jadi doa turun harga emoticon-Big Grin
Janji deh dalam seminggu ini pasti baca reviewnya
Edit: Bacanya di skip-skip tentang spek sama kamera karena saya gak terlalu tahu tentang spek dan kamera secara mendetail.
Ini ada yang kata-katanya kurang dikit, atau gak pas menurut saya. Peace gan emoticon-Shakehand2

Quote:


Minor sih, agak kurang sreg bacanya pas ditambahin -in di akhiran
Quote:


Quote:

Mana screenshotnya? Atau gak kebaca di browser saya.

3. Memisahkan account game atau sekedar memisahkan installasi app.
p-nya kurang dibold.
Quote:

"tidak semua vendor akan implementasi" rasanya ada yang kurang katanya.

Quote:

Gagal paham maksudnya

Quote:

hanya kedua? ada lebih berarti?
Diubah oleh Zekrom26
Quote:

Wkwkwk, mank bisa ya. Ngeri dah sambil gojek baca kaskus emoticon-Big Grin Kalau mo bikin summary lagi, malah tambah panjang lagi dari di atas. Dan seperti yang ane kasih tau di bagian akhir, ga punya banyak waktu buat pendekin lagi emoticon-Stick Out Tongue

Ane kan trial tester, jadi sebenarnya kebanyakan uda ane tes sebelumnya. Seminggu terakhir ane cuma nuangkan hasil tes dalam bentuk kata2 dan screenshotnya. Dan ane suka sih masuk ke detail2 kek gini, karena setiap testing biasanya membuka wawasan baru. Seperti fungsi DSP yang menggantikan CPU & GPU, sehingga batere lebih awet. Ataupun seperti testing multiuser tu untuk keperluan screenshot dan tutorial, ane jadi ga perlu balikin setting lagi kalau mo ngejawab post dimari.
Quote:

Jujur memang ane ga akan beli di awal2. Tapi baru "terpaksa" beli pas uda turun jadi 2 juta. Jadi sebenarnya kalau ga dikasih waktu tu, ane mungkin juga akan mengikutin jalan hidup agan, menempuh bersama dua HH. Tapi setelah pake pureshot, baru ngerti memang kadang user experience tu di atas segalanya. Daripada repot2 dua HH, tetap mending satu aja, dengan spek yang kena sunat. Tetap rindu sih layar Full HD, OTG dan Gyro (tidak terpenuhi kali ini).

Tapi yang kali ini memang uda rada kelewatan sih harganya. Ane kadang mempertanyakan pilihan ane juga, termasuk membuat trit ini. Sisi lainnya, ya tinggal setengah tahun lagi toh. Begitu semar uda go full LTE, melepas selang oksigen cdma; nampaknya pilihan akan sudah lebih gampang.
Quote:

Iya, memang perlu special attention. Kalau ngehang ga bisa force restart, perlu nunggu ampe batere abis emoticon-Takut (S)
Quote:

hehehe, thanks koreksinya. emoticon-Shakehand2 Memang perlu editor eksternal nih. emoticon-Smilie Ada beberapa kata2 yang ane ketiknya di lain tempat, lalu dimerge di text file, jadi memang kadang bisa ilang, kadang bisa ketimpa, kadang ketiknya di tempat lain tu ngaco.

Quote:

Ini memang benar, partisi data maksudnya /data; internal storage mengacu pada /sdcard0 atau internal virtual sdcard, mungkin perlu ane perjelas. Tapi kadang jadi ambigu, ane ngikut kata2 tersering di googling.

Screenshot CPU-Z ane lupa hapus kata2nya. emoticon-Hammer (S) Soalnya uda ane buat di pejwan, maksudnya mo ganti jadi link ke pejwan aja. Tapi ya da deh, ane link balik SS nya aja biar gampang liatnya.

tidak semua vendor akan implementasi >> maksudnya ga semuanya akan pasang fitur multiuser meskipun uda disediain android.

Bagian bawah cenderung adalah keyboard, karena kita kan pasti sering mengetik. Keyboard tu selalu muncul dari bawah. Tapi memang ambigu sih emoticon-Big Grin

yaitu hanya kedua nomor telepon bisa aktif bersamaan >> kedua nomor telepon bisa aktif bersamaan. Ooops salah konteks tadi, ini uda fix.

Yang lain2 ane koreksi deh, dan perjelas. Berarti agan ada baca detil emoticon-thumbsup , ga sia2 deh ane ngetik lama dan panjang emoticon-Frown

EDIT : semua yang di atas ane da fix. Nanti ane telusuri lagi dan catat ulang mana yang harus diperbaiki lagi. Terlalu panjang, jadi cenderung banyak typo. Ane kayaknya kena sindrom akhiran -in emoticon-Hammer (S)
Diubah oleh Desmanto
lengkap banget reviewnya, baca dikereta selama perjalanan dicommuter kurang lebih 50mnt, panjang bingit. jadi tambah ngiler pengen minang. gak ada gyro, led notif masih accepted buat gw, tapi soal harga engga banget deh.
kalo dibawah 3 jt masih masuk akal.
jadi penasaran psp3 tahun depan harganya berapa, mungkin menyentuh 5,5 jt hahaha. gak ngerti deh sama team marketingnya si H ini. bakal layu sebelum berkembang.
bro desmando oot dikit ya, saya mau ambil hp, rekomendasi mana bro ubtuk menggantikan andro z saya, untuk 1 tahun ke depan, pilih r2, pureshoot?
Halaman 5 dari 58


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di