CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
The Adventure Of Horror | Horror Story
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f4910e0b840881072309cf1/the-adventure-of-horror--horror-story

[SFTH] The Adventure Of Horror | Horror Story

The Adventure Of Horror | Horror Story


The Adventure Of Horror | Horror Story


Quote:


Quote:




PROLOG

Hobi adalah hal yang dimiliki oleh semua orang, namun apa jadinya jika kita mempunyai hobi yang aneh dan tidak masuk akal ?. Namaku Dimas, dan hobiku adalah melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan “Horor”. Karena jarang ada orang yang mempunyai hobi yang sama denganku, akhirnya hobi ku itu menjadi kurang menarik dan aneh (kata teman teman ku). Tapi pada saat memasuki bangku perkuliahan, barulah aku menemukan orang-orang yang memiliki kesamaan denganku.



PART 1 - Hobi Yang Aneh ?

Kebiasaanku ketika sudah pukul 06:30 pagi yaitu siap-siap menuju ke sekolah, walaupun jarak rumah dan sekolahku cukup dekat. Sekitar 5 menit kalau naik motor. Dan entah kenapa dari dulu aku suka banget berangkat sekolah pagi-pagi.


“Pak Bu, aku berangkat sekolah dulu ya” Pamitku ketika mau berangkat ke sekolah setelah mencium kedua tangan orang tua ku tercinta.

“Iya le, hati-hati dijalan” Ucap Ibu ku ketika aku hendak naik motorku.


Aku sekolah di salah satu SMA di Semarang, dan SMA ku ini bisa dibilang sekolah favorit.
Setelah sampai di sekolah, aku langsung menuju kelas dan langsung buka smartphone ku, pasang headset, dan tanpa basa-basi aku buka Youtube dan langsung cari video-video horor.
Entah berapa lama aku nonton youtube, tiba-tiba...


“Woy !!!”


Seseorang berteriak tepat di sebelahku yang pasti membuat aku kaget. Dan ternyata itu si Adit teman sebangku ku di kelas. 


“Apaan sih ganggu aja.” Sahutku kesel

“Pagi-pagi udah nonton video horor aja”

“Ya Namanya juga hobi mau gimana.”


Entah kenapa tiap kali ada temen yang bilang gitu pasti jawabku, “Namanya juga hobi”
Apakah ada hobi menyukai hal-hal yang berbau horor ? Bahkan sampe sekarang aku pun masih belum mendapatkan jawabannya.


“Hobi tuh main bola, nonton film, main musik. Hobi kok sama hal horor. Mau jadi dukun apa gimana.”

“Ya gak gitu juga dong. Sembarangan”


Karena keasikan nonton video horor tanpa ku sadari ternyata sudah pukul 7. Dan pelajaran di sekolah pun sudah mau dimulai. Hari-hari ku di sekolah, ku habiskan dengan belajar, makan siang (ketika istirahat), dan ikut kegiatan OSIS di sekolah. Ya layaknya siswa SMA pada umumnya emoticon-Big Grin

Sepulang sekolah pukul 4 sore, aku langsung ambil baju dan bergegas untuk mandi. Oh iya sebenarnya rumahku ini juga ada penghuni gaib nya juga. Dan salah dua tempat yang konon ada sosok penghuni gaib nya adalah kamar mandi dan kamar tidurku.

Sosok yang mendiami kamar mandi di rumahku yaitu sosok seperti nenek nenek berambut putih dan mengenakan kebaya jawa. Sedangkan sosok yang mendiami kamar tidurku yaitu sosok hitam dengan postur tinggi besar mirip genderuwo tetapi bukan genderuwo.

Aku tau kebenaran tentang sosok gaib yang mendiami rumahku juga berawal dari teman Kakak ku yang main ke rumahku, namanya Kak Rani yang kebetulan dirinya juga anak indigo. Waktu itu aku masih kelas 3 SMP dan ketika Kak Rani sedang mengobrol di ruang tamu, aku sempat mendengar pembicaraan mereka.


“Sebenarnya di rumahmu ini ada penunggunya.” Kata Kak Rani yang sedang berbicara dengan Kakak ku.

“Ah masa iya.” Jawab Kakak ku yang seakan gak percaya.

“Iya bener, dan sosoknya bukan cuman satu, tapi banyak. Apalagi sosok yang di kamar paling belakang (Kamar ku).”

“Emang ada apa di kamar Adik ku ?”

“Aku gak tau nyebutinnya gimana. Tapi sosoknya itu kayak genderuwo tapi bukan genderuwo. Sosoknya itu tinggi besar dan hitam gitu. ”


Aku yang mendengar pembicaraan itu langsung kaget. Karena menurutku kamarku aman-aman aja. Gak pernah ada penampakan ataupun gangguan selama aku menempati kamarku tersebut. Ya walaupun pernah sih sekali ada suara seperti orang yang sedang menggaruk pintu kamar. Tapi aku cuman berpikiran kalau itu tikus. Dan kalaupun suara itu berasal dari makhluk yang konon mendiami kamarku ya bisa jadi juga. 

Setelah selesai mandi, aku lalu mengenakai baju ku dan langsung membuka laptopku. Apalagi yang kulakukan selain mau nonton film horor di laptop. Ya walaupun aku sendiri enggak terlalu suka sama film horor. Namun waktu aku sedang menonton film horor, aku seperti mengalami Deja Vu. 

Aku mendengar suara orang seperti menggaruk pintu kamarku. Dan berbeda dengan waktu itu, kalau waktu itu aku mendengar suara tersebut ketika sedang tidur, namun kali ini aku mendengarnya langusung dan 100% sadar. Dan setelah ku cari sumber suaranya pun juga mengarah ke pintu kamarku. Namun kali ini aku tau kalau yang melakukannya bukanlah seekor tikus.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh depata.prasetya
Halaman 1 dari 4
Ninggal jejak dulu gan...tar kemari lagi kl ud ad kopinyaemoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan depata.prasetya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Pasang kuda-kuda
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan depata.prasetya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
ayo lanjut.
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan depata.prasetya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Semarang kaline isih banjir gan?
profile-picture
depata.prasetya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

PART 2 - Penunggu Di Kamarku

Setelah kejadian sore itu, malamnya aku memutuskan untuk tidur tengah malam. Tepatnya jam setengah 1 dini hari. Sebenarnya ini merupakan hal gila yang gak akan pernah di lakukan oleh kebanyakan orang. Tepat pukul set 1 dini hari, aku duduk di kursi dekat meja belajarku sambil berkata


“Jika ada penghuni di kamar ini selain aku, muncul lah. Nampakkan dirimu” Seketika aku merinding setelah mengucapkan kalimat itu.


Aku menunggu sekitar 3 menit dan tidak terjadi apa-apa. Lalu aku mengatakannya lagi sampai 3 kali. Namun masih tidak ada hasil. Aku pun berinisiatif untuk mengganti kata-kata ku barusan.


“Jika memang benar di kamar ini ada penunggunya, maka berikanlah aku tanda kalau memang dirimu ada.”


Seketika lampu kamarku pun berkedip begitu cepat dan akhirnya mati. Aku pun kembali merinding dibuatnya. Belum sempat rasa takutku hilang, muncul lagi hal horor, tapi kali ini lebih seram dari yang tadi.


“Iya, aku memang ada” Terdengar olehku suara seorang yang seperti sedang berbisik padaku.


Mendengar hal itu pun aku langsung berlari menuju tempat tidurku dan langsung tidur. Untunglah kejadian tersebut tidak sampai terbawa mimpi.

Keesokan harinya ketika aku sedang menyiapkan buku-buku untuk ke sekolah, aku masih teringat tentang kejadian malam itu. Aku pun juga bertanya-tanya, buat apa aku melakukan hal tersebut semalam ?. Tapi setidaknya aku sudah bisa membenarkan tentang omongan Kak Rani dulu. Ya walaupun itu juga membuatku agak takut ketika aku sedang berada di kamarku. Tapi selagi sosok tersebut tidak macam-macam denganku, aku masih bisa nyaman lah.

Waktu di sekolah, aku pun menceritakan hal yang kualami semalam pada Adit.


“Eh Dit aku mau cerita sesuatu.”

“Alah palingan juga cerita horor.” balas Adit sambil tatapan matanya melihat smartphone milik nya

“Iya cerita horor, tapi cerita ini real yang kualami semalem.”

“Serius ? Emang ngapain kamu semalam ?” Tanya Adit yang langsung melihat muka ku dengan antusias.


Setelah ku ceritakan semua yang kualami semalam, Adit pun masih enggak percaya dengan apa yang kulakukan. Ya wajar aja sih, aku pun juga enggak percaya sama apa yang kulakukan. Karena kalau dipikir-pikir, aku seperti sedang menantang sesosok makluk yang enggak bisa aku lihat dan aku pun juga enggak tau apakah dia baik atau jahat.

Pas jam istirahat, aku bergegas menuju kantin untuk makan siang. Seperti biasa aku memesan nasi rames yang menjadi salah satu makanan favoritku dari dulu.


“Bu saya pesen nasi ramesnya satu.” Kataku kepada Ibu kantin

“Saya juga pesen satu bu, Dimas yang bayarin.” Aku pun kaget dan langsung menengok di sebelahku. Dan ternyata si Vanessa temenku di OSIS.

“Enak aja lu Sa, bayar sendiri lah”

“Ayo lah Dim, kali ini doang. Yayaya”

“Yaudah deh iya”

“Asikkkk nah gitu dong” Jawabnya sambil memasang muka senang.


Setelah pesanan kami jadi, kami langsung bergegas mencari tempat duduk buat makan. Oh iya Sekilas tentang Vanessa. Vanessa ini orangnya cantik, tinggi, putih, dan rambutnya panjang. Jadi wajar kalau banyak cowo-cowo yang suka sama dia. Bahkan teman-temanku pun selalu saja minta nomernya lewat aku. Tapi pasti selalu ku jawab “Minta sama orangnya sendiri lah.”

Ya walaupun si Vanessa ini orangnya cantik tapi ada satu hal yang enggak ku sukai dari dirinya, yaitu orangnya suka banget ngomong a.k.a cerewet. Saat kami makan pun dia lebih banyak ngomong dari pada aku. Mulai dari ngomongin pelajaran, ekskul, bahkan sampe kehidupan pribadinya yang menurutku tidak terlalu penting juga buatku.

Dan setelah si Vanessa yang ngomong panjang X lebar itu selesai, barulah aku punya kesempatan ngobrol sama makhluk yang satu ini. Aku pun mulai bercerita tentang cerita yang sudah kuceritakan pada Adit.


“Ohhh itu, aku udah tau kok.”

“Lahhh tau dari mana lu ?” Tanyaku kaget karena dia tiba-tiba sudah tau sama apa yang mau kuceritakan.

“Tau dari Adit. Tadi pas jam istirahat pertama dia datang ke kelasku trus ngobrol sama temennya. Setelah ku perhatiin kayaknya obrolannya seru yaudah aku nimbrung aja sama mereka. Dan ternyata mereka lagi ngomongin kamu."

“Ohhh gitu, yaudah deh gak jadi cerita aku.” Kataku sambil berbegas untuk membayar makananku.

“Bu, tadi saya pesen nasi rames dua. Ini uangnya” kataku sambil menodongkan uang ke Ibu kantin.

“Makasih ya Dim udah dibayarin.”

“Iya sama-sama. Aku masuk kelas dulu ya.” Kataku sambil berjalan keluar kantin.


***

Sepulang dari sekolah, aku tidak langsung mandi seperti biasa. Ketika sampai di kamar, aku lalu meletakkan tas ku dan langsung rebahan di kasurku. Seketika aku jadi teringat kejadian semalam. Aku pun jadi takut untuk menutup mataku. Dan tanpa kusadari aku pun mulai berbicara pada sosok yang mendiami kamarku “lagi”.


“Jangan ganggu aku dulu, aku lagi cape habis pulang dari sekolah.”


Setelah aku tunggu beberapa saat dan tidak terjadi apa-apa, barulah aku bisa menutup mataku dan tidur. Aku bersyukur malam itu karena pada saat aku tidur tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh depata.prasetya
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Monggo dilanjutkeun
profile-picture
depata.prasetya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjut gan
profile-picture
depata.prasetya memberi reputasi
Lanjut gan..seru
profile-picture
depata.prasetya memberi reputasi
Quote:


Quote:


Sabar agan agan semua
profile-picture
aan1984 memberi reputasi

PART 3 - Tragedi Perkemahan

Hari Kamis, hari yang selalu ku tunggu-tunggu. Hari dimana di adakannya pramuka bagi kelas 10. Pramuka di sekolahku merupakan ekstrakurikuler wajib yang harus diikuti oleh seluruh siswa kelas 10. Dari dulu aku suka sekali sama kegiatan pramuka, karena itu walaupun sekarang aku sudah kelas 11, aku pun masih aktif ikut pramuka. Tentu saja bukan sebagai peserta tapi sebagai kakak pembimbing.

Biasanya pramuka diadakan hari Jum’at tapi hari ini merupakan hari yang penting bagi murid kelas 10. Karena hari ini merupakan kegiatan pramuka terakhir mereka. Dan sebagai penutup kegiatan pramuka kelas 10, maka dari pihak sekolah akan mengadakan kegiatan persami (perkemahan sabtu minggu).


“Oke anak-anak, sekarang siapkan buku catatan kalian dan catat beberapa hal yang harus di bawa tiap kelompok dan individu” kata kakak pembina yang sedang memberikan ceramah.

“Iya kak !”


Setelah semuanya selesai mencatat, kegiatan pramuka pun selesai. Dan tak lupa sebagai penutupnya di iringi do’a bersama untuk kelancaran persami besok sabtu sampai minggu.

Setelah kegiatan selesai Aku pun buru-buru pulang dan juga langsung mempersiapkan barang-barangku. Karena tugasku disanan hanya sebagai kakak pembimbing, maka aku tidak perlu membawa banyak barang. Mungkin Cuma pakaian, alat makan, alan mandi, dan alat sholat.

Setelah semuanya selesai aku pun langsung bergegas untuk tidur. Jujur tidurku malam itu tidak tenang. Bukan karena hal-hal aneh tapi karena aku udah gak sabar buat acara besok. Aku tidur pukul 22.00, tetapi aku mulai bisa tidur sekitar pukul 01.00.

Untung saja aku masih bisa bangun pagi walaupun sempat sulit tidur semalam. Sekitar pukul set 1 siang sehabis sholat Jum’at, aku pun berangkat ke sekolah.


“Bu, aku berangkat dulu ya.”

“Iya, hati-hati disana ya, jaga kesehatan, jangan aneh-aneh.”

“Nggeh bu.”


Yup kata “jangan aneh-aneh” merupakan kata wajib yang harus selalu ku pegang ketika disana. Karena tempat perkemahan kami termasuk tempat angker. Kesurupan merupakan kejadian yang sering terjadi dan bahkan wajar jika kita kesana.

Setelah sampai di sekolah, aku pun langsung ikut kumpul di lapangan bersama teman-temanku yang lainnya. Kita kumpul dulu disekolah untuk melakukan apel sebelum berangkat dan pastinya do’a bersama supaya disana tidak terjadi hal yang diinginkan. Ya walaupun firasatku mengatakan pasti akan ada hal yang akan terjadi disana.

Perjalanan menuju ke tempat perkemahan kita tuju dengan mengendarai truk. Sedangkan aku dan teman-teman ku dengan mengendarai motor. Hampir 1 jam kita berkendara dan akhirnya kita sampai di tempat tujuan. Ya walaupun pantatku pegal-pegal karena harus berkendara selama 1 jam, tapi aku tetap semangat begitu sampai di tempat tujuan kita.

Kita pun langsung bergegas menaruh barang-barang dan segera mengikuti apel. Dan ketika memasuki amanat pembina apel, sang pembina pun memberitahukan beberapa hal yang bagi ku tidak terlalu mengejutkan. Karena waktu dulu aku kelas 10, kakak pembina ku pun juga memberitahukan hal yang sama.


“Alhamdulillah akhirnya kita sampai di tempat tujuan kita. Dan buat kalian, ketika kalian sedang berada di sini jangan melakukan hal-hal negatif walaupun itu cuman berpikiran/ngomong kotor. Karena tempat ini merupakan tempat yang angker.” Kira-kira seperti itulah sedikit amanat yang disampaikan kakak pembina.


Setelah acara apel selesai, semua anak kelas 10 pun kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat agar bisa mengikuti kegiatan besok paginya. Sedangkan aku dan teman-temanku di beri tugas untuk menyiapkan acara pada malam hari nya. Pasti kalian juga sudah tau kan kegiatan apa yang akan dilakukan nanti malam. Yup kegiatan yang sudah sangat familira yaitu kegiatan jurit malam. Kalau aku lebih suka menyebutnya kegiatan tracking malam.

Waktu menunjukkan pukul 12 dini hari. Aku bergegas menuju pos dimana aku berjaga. Dan sialnya aku mendapat tugas untuk berjaga di post bayangan yang letaknya dekat dengan kuburan.

Pukul set 1 dini hari, anak-anak pun dibangunkan dan kegiatan jejak malam pun di mulai. Aku yang harus berjaga di pos bayangan juga mulai bersiap. Namun, ketika aku sedang berjaga, aku mendengar bunyi semak-semak. Yang seakan ada sesuatu di balik semak-semak itu.


“Oi tolongin napa, kesangkut semak semak nih.”

“Huhhh dasar Vanessa bikin takut aja. Kirain setan ternyata ibu nya setan.”

“Sembarangan aja lu bapak nya setan.”

“Brarti kita suami istri dong hahaha”

“Mau mau kamu aja itu mah”


Oh iya Vanessa dan aku merupakan anggota OSIS yang juga aktif di pramuka. Kenapa aku bilang begitu ? karena kebanyakan anggota OSIS di sekolah ku jarang yang mau aktif di pramuka. Bukan semua tapi mayoritas. Alasan mereka gak mau ikut pramuka ya karena di OSIS banyak kegiatan jadi kebanyakan dari mereka takut kalau nanti gak bisa bagi waktu. Jujur aku paham sih alasan mereka, karena aku juga merasakannya sendiri.


“Kamu nagapain Sa kesini ?” Tanyaku heran

“Disuruh nemenin kamu, katanya si Riza lagi sakit trus aku suruh gantiin dia, dari pada kamu gak ada temennya kan.”

“Gak takut Sa ?”

“Kenapa mesti takut ?”

“Coba deh lihat kebelakang.” Vanessa pun langsung kaget sama apa yang dilihat nya.

“Kuburan ? Serius itu kuburan ?” tanya nya mulai takut.

“Ya gitu deh. Udah gak usah takut yang penting jangan ngelamun” kataku memperingatkannya.


Setelah menunggu sekitar 5 menit an, barulah ada satu kelompok yang datang. Namun kayaknya kedatangan mereka kurang pas. Karena ketika mereka datang, aku pun tiba-tiba merasakan merinding, yang pastinya bukan berasal dari angin. Kalau kata orang-orang, jika kita merasakan merinding tiba-tiba, ada kemungkinan di sekitar kita sedang ada...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrian0509 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh depata.prasetya

PART 4 - Tragedi Perkemahan 2

“Sa, aku tiba-tiba merinding nih”

“Udah deh Dim jangan nakut nakutin”

“Sumpah kali ini aku gak bahong” Vanessa pun cuman diam. Aku tau Vanessa pasti takut.


Ketika kelompok satu tiba di pos bayangan, kami pun mulai menjelaskan tentang apa itu pos bayangan.


“Selamat datang di pos bayangan, tugas kalian disini gampang kok. Kalian cuman duduk aja disini sampai pos berikutnya udah siap. Ya sekalian kalian bisa istirahat” kataku menjelaskan.

“Kak Dimas aku mau tanya boleh gak ?” kata salah seorang anggota di kelompok tersebut.

“Iya tanya apa ?"

“Kakak gak takut jaga pos bayangan ?”

“Awalnya sih enggak, tapi pas tau kalau di belakang pos bayangan ada itu jadi takut deh.” Kataku sambil menoleh ke belakang. Seketika mereka semua menoleh ke kebelakang. Dan benar saja mereka pun juga kaget, sama seperti Vanessa tadi.


Hampir 7 menit mereka menunggu di pos bayangan, akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Sekitar pukul 3 pagi, semua kelompok sudah melewati pos bayangan. Dengan begitu tugasku dan Vanessa pun sudah selesai. Dan kami pun kembali ke perkemahan.

Sebenarnya waktu kami hendak kembali ke perkemahan, aku sangat ingin melewati kuburan itu. Tapi karena aku teringat pesan Ibu ku, maka ku urungkan niat ku tersebut. Setelah sampai ke perkemahan aku pun langsung tidur. Ya karena aku gak mau terlalu capek karena paginya aku juga harus mengikuti kegiatan lagi.

Aku tidur cuman 2 jam dan itu pun juga gak nyenyak tidurnya karena kelakuan temen-temenku yang suka usil. Sekitar pukul 6 pagi aku bangun dan segera mandi. Ketika sampai kamar mandi ada salah seorang temanku (Yogi) yang sedang menunggu giliran kamar mandi sambil tangannya memegang perut.


“Lagi nunggu kamar mandi Yog ?” Kataku basa basi.

“Iya nih”.

“Kenapa perutmu ? Mules ? Apa laper ?”

“Gak tau, tapi sakit banget. Efek obat kayak nya nih”

“Coba aku lihat perutmu”


Si Yogi pun langsung membuka bajunya dan betapa terkejutnya kami, karena di perut Yogi terdapat tiga buah goresan seperti bekas cakaran.


“Perutmu kenapa Yog ? Kok bisa gitu ?” Tanya ku kaget

“Aku gak tau, beneran deh.” Jawab Yogi yang kaget juga

“Kalau gak tau kenapa bisa gitu ?”

“Tadi pagi pas aku bangun, aku ngerasa perutku sakit. Tapi aku gak tau kenapa. Ya udah lah aku minum obat sakit perut, eh bukanya mendingan malah tambah sakit sampe sekarang.”

“Kayaknya ini bukan efek obat deh Yog. Aku yakin bekas cakaran ini pasti dari...” Aku tidak melanjutkan kata kataku

“Iya sih kayaknya. Ya mungkin ini salahku juga sih

“Haa ? Maksudnya ?” Tanya ku sambil mencerna kata-katanya barusan

“Jadi semalem waktu aku mau balik ke perkemahan, aku sempat main-main dulu di kuburan deket tempat kamu jaga. Nah disana ada salah satu makam yang kayaknya itu makam keramat deh. Aku bisa nyimpulin soalnya makamnya itu ada di dalam rumah besar yang diantara rumah itu ada empat pohon kamboja di samping-sampingnya. Pas aku lihat makam keramat itu, tiba-tiba aku kebelet pipis. Ya udah deh aku pipis di pohon deket rumah yang ada makamnya itu.”


Mendengar cerita dari Yogi barusan membuat diriku penasaran dengan makam keramat yang dibicarakan Yogi.


“Coba deh Yog nanti kamu kembali lagi kesana trus minta maaf karena perbuatanmu semalem. Aku temenin deh kalau mau

“Oke deh, nanti aku kesana”


Pukul 7 pagi kegiatan pun dilanjutkan. Kegiatan dimulai dari senam pagi bersama dan dilanjutkan makan pagi. Barulah sekitar jam set 9 kegiatan tracking siang pun dimulai. Tracking siang jauh berbeda dengan tracking malam. Kegiatan tracking siang lebih ke pada kegiatan untuk senang-senang. Kegiatan berakhir sekitar pukul 12 siang.

Semua kelompok di beri waktu 1 jam untuk istirahat dan makan. Kami para kakak pembimbing pun juga di beri waktu untuk istirahat. Namun, disaat semua orang sedang istirahat, aku dan Yogi pergi ke kuburan yang menurut Yogi terdapat makam yang dikeramatkan itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh depata.prasetya

PART 5 - Tragedi Perkemahan 3

Aku dan Yogi berjalan sekitar 10 menit dari tempat perkemahan untuk menuju ke kuburan yang letaknya dekat dengan pos bayangan tempat aku dan Vanessa berjaga semalam.


“Ohh jadi ini kuburannya” Kataku ketika sampai di kuburan tersebut.

“Trus sekarang dimana makam yang katanya keramat itu ?”

“Letak makamnya ada di paling belakang, itu kamu bisa lihat kan ada rumah yang besar.“ katanya sambil menunjuk ke arah rumah besar yang dikelilingi pohon kamboja yang besar.


Dan benar saja setelah kami sampai di sana, ada sebuah rumah besar yang disekelilingnya terdapat pohon kamboja yang sangat besar. Dan didalam rumah tersebut terdapat satu buah makam. Persis seperti yang dikatakan Yogi tadi pagi.

Namun setelah sampai disana, aku melihat pohon beringin yang sangat besar, yang letaknya berada tepat di luar area pemakaman (kalau menurutku).


“Yog, kayaknya kamu salah sangka deh. Pohon yang kamu kencingin tadi malem kayaknya bukan pohon kamboja, tetapi pohon beringin itu.” Kataku sambil menunjuk ke arah pohon beringin yang kumaksud.


Dan karena letak pohon beringin tersebut berada di luar area pemakaman, maka aku bisa menyimpulkan kalau sebenarnya tidak ada makam keramat di kuburan tersebut. Dan mungkin saja makam tersebut merupakan makam milik sesepuh di desa tersebut. Karena di desa ku juga ada sebuah makam yang diletakkan di sebuah rumah besar yang sebenarnya itu adalah kuburan dari sesepuh di desaku.

Dan yang seharusnya dianggap keramat adalah pohon beringin itu. Alasan kenapa aku bisa sangat yakin adalah ketika aku menemukan sesuatu di sekitar pohon beringin itu.


“Sini deh Yog.” Kataku sambil menuyuruh Yogi untuk melihat apa yang kutemukan di dekat pohon beringin itu.

“What the...” Yogi pun langsung terdiam ketika aku menemukan sesajen dan dupa di pohon beringin itu.

“Kayaknya semalem kamu gak kencing di pohon kamboja itu, tapi kencing di pohon beringin ini.”

“Emmm bisa jadi sih. Soalnya aku juga gak bisa lihat sekitar. Gelap banget.”


Memang aku akui kalau kuburan ini kalau malam gelap, karena minimnya pencahayaan. Yang ada hanya tiga lampu dan itu pun hanya ada di depan kuburan.


“Yaudah sekarang kamu minta maaf gih sama penunggunya.”

“Eh, ini harus bawa sesajen juga gak ? Percuma dong kalau aku udah minta maaf tapi ternyata syaratnya harus bawa sesajen.”

“Yaudah kita balik lagi trus nanti kita beli kembang sama kelapa di pasar deket perkemahan.”

“Gak usah repot-repot Dim, biar aku beli sendiri aja. Kan sekarang kita udah tau akar permasalahannya.”

“Yaudah kalau itu mau mu, trus kamu mau balik ke sini lagi kapan ? Mau aku temenin ?”

“Kayaknya ntar malem deh. Gak usah ditemenin Dim, aku sendiri aja.”

“Yakin berani ?”

“Yakin dong.”


Setelah itu kami pun kembali ke perkemahan untuk istirahat sekaligus makan siang. Sedangkan si Yogi langsung pergi ke pasar untuk membeli barang-barang untuk sesajen.

Pukul set 9 malam, diadakan lah acara puncak dalam persami,yaitu api unggun. Acara api unggun kita isi dengan nyanyi bersama, kuis, dan masih banyak lagi hingga akhirnya selesai sekitar pukul 10 malam dan dilanjutkan dengan free time. Jadi semua orang bisa bebas mau ngapain aja pada malam itu. Ada yang main gitar, ada yang makan-makan, ada yang jalan-jalan, dan ada juga yang langsung tidur.

Pada pukul set 11 malam aku mendapatkan notif WA di hp ku.


“Dim, aku mau pergi ke kuburan itu.”

“Oke hati-hati Yog, kalau ada apa-apa telepon aja.” Balasku


***

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, aku yang baru bangun dari tidurku langsung mengambil air wudhu dan segera sholat subuh. Setelah selesai sholat, aku memutuskan untuk jalan-jalan sambil kumpul-kumpul bersama teman-temanku yang lain. Tapi, waktu kita semua pada kumpul, aku tidak merasakan kehadiran Yogi.


“Eh si Yogi kemana ? Kok tumben gak kelihatan.” Tanyaku pada teman-temanku

“Masih tidur.” Jawab salah seorang temanku.


Pada saat itulah aku merasakan keanehan. Karena Yogi sendiri tipe orang yang selalu bangun pagi. Bahkan dia tidur jam 1 bisa bangun jam 4. Tapi kenapa kali ini dia masih belum bangun ? Aku pun mencoba untuk ber positive thinking. Siapa tau aja dia kelelahan karena kegiatan kemarin. Ya kuakui emang kegiatan kemarin itu sangat melelahkan.

Kegiatan pun di lanjutkan pukul 8 pagi sampai pukul 11 siang. Kegiatan kali ini pure digunakan untuk game. Mulai dari game kelompok sampai game individu. Dan akhirnya pada pukul set 1 siang, diadakan kegiatan apel sebelum kita semua pulang menuju sekolah. Apel kali ini juga sebagai penutupan acara persami. Dan pada saat kegiatan persami dinyatakan berakhir, tawa, haru, sedih bercampur menjadi satu. Karena setelah mereka pulang nanti, mereka sudah tidak diwajibkan lagi mengikuti pramuka.

Dan pada pukul 1 siang, kami pun pulang menuju sekolah. Sebelum kami melakukan perjalanan pulang menuju sekolah, aku mendapat kabar yang mengejutkan. Aku mendapat kabar kalau Yogi sedang sakit dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit. Yogi sudah dibawa pulang tadi sekitar jam set 12 an. Aku yang mendengar kabar itu pun jadi merasa kasihan dan berdo’a semoga Yogi baik-baik saja.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh depata.prasetya
Lancar update kayaknya. Tandain duluemoticon-pencet
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan depata.prasetya memberi reputasi
Diubah oleh adorazoelev
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

PART 6 - Titik Terendah

Hari senin, hari yang paling tidak aku sukai, karena di hari ini setiap paginya selalu diadakan upacara bendera. Bukannya aku tidak suka upacara bendera hari senin, tapi karena aku pengurus OSIS, aku pun selalu mendapatkan tugas untuk menyiapkan persiapan buat upacara. Sehingga yang biasanya aku berangkat ke sekolah pukul set 7 hari ini harus berangkat jam 6 pagi. Rasa dingin ketika di perjalanan menuju sekolah dan jalanan yang masih sepi selalu menjadi teman perjalananku di hari senin.

Ketika sampai disekolah, ternyata sudah ada teman-temanku yang sampai duluan. Padahal jarak rumah mereka dengan sekolah juga lumayan jauh. Setelah dari jauh aku melihat mereka, aku pun langsung memarkirkan motorku dan langsung menemui mereka.


“Rumah deket tapi baru dateng.” Kata temanku sambil meledekku.

“Ini juga masih pagi kali. Jadi ya gak telat-telat amat lah. Udah nanti aja ngobrolnya cepetan kita siapin perlengkapan buat upacara nanti.”


Kami pun mulai menyiapkan perlengakapn upacara. Mulai dari bendera, pengeras suara, musik, sampai orang-orang yang menjadi petugas upacaranya. Dan salah satu orang yang bertugas hari ini adalah aku sendiri. Aku bertugas sebagai pengibar bendera bersama dengan 2 temanku yang lain. Dan karena yang bertugas hari ini adalah anak-anak OSIS, jadi kami hanya latihan sehari saja, dan latihannya pun H-1.

Karena mayoritas anggota OSIS di sekolahku adalah orang-orang yang duluya pernah ikut dalam pasukan pengibar bendera 17an waktu kelas 10. Jadi bagi kami, upacara hari senin, ya bisa lah walaupun latihan cuman sehari emoticon-Big Grin

Pukul 06.45, upacara pun dimulai. Kami yang menjadi petugas upacara berhasil menjalankannya dengan lancar dan tidak ada kesalahan sedikit pun. Dan pada pukul 07.30 upacara pun selesai. Setelah upacara selesai, kami pun membereskan peralatan dan mengembalikannya di tempat semula. Setelah semuanya selesai barulah kami langsung menuju kelas untuk mengikuti pelajaran.

Ketika aku sedang duduk dikelas selagi menunggu guru datang, tiba-tiba aku mendapat notif WA di hp ku.


Ketua OSIS : “Jangan lupa hari ini ada rapat OSIS setelah pulang sekeloh sekitar pukul set 5. ”


“Ah sial aku lupa ngasih tau Ibu kalau nanti aku ada rapat.” Kataku dalam hati. Segera aku ngirim pesan ke Ibu.

“Bu, nanti aku ada rapat OSIS habis pulang sekolah. Jadi aku pulangnya agak sorean dikit.” Tulisku dan langsung ku kirim ke Ibu ku.


10 menit kemudian


“Iya le, hati hati nanti pulangnya.”


Setelah bel pertanda pulang sekolah dibunyikan, aku pun langsung bergegas untuk ke ruang OSIS. Dan seperti dugaanku belum ada siapa-siapa disana. Ya karena bel pulang sekolah berbunyi pukul 16.00 sedangkan rapat dimulai pukul 16.30. Jadi wajar saja masih sepi. Dan mungkin anak-anak OSIS lainnya juga masih ada yang jajan, pikirku.

Sambil menunggu yang lain datang, ku habiskan waktu ku dengan baca-baca komik One Piece. Aku tak tau berapa lama aku membaca komik, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruang OSIS.


“Ehh kirain gak ada orang, ternyata udah ada penunggunya.”

“Sembarangan aja lu Sa.” Siapa lagi yang datang kalau bukan si Vanessa.

“Rajin amat pak haji jam segini udah dateng. Dateng jam berapa kamu ? Jangan bilang habis bel pulang langsung kesini.”

“........"

“Woy jawab napa.”

“Tadi katanya gak boleh bilang. Gimana sih."

“Hehe iya maap.” Jawabnya sambil senyum sampai kelihatan gigi kelincinya.


Waktu menunjukan pukul 16.30, dan rapat OSIS pun dimulai. Rapat OSIS kali ini kita membahas tentang kegiatan menyambut Milad Sekolah atau HUT Sekolah. Hal-hal yang dibahas waktu rapat pun banyak. Mulai dari lomba antar kelas, pertunjukan band, sampai Do’a bersama di hari setelah acara.

Akhirnya rapat yang panjang pun selesai. Rapat selesai sekitar pukul 6 sore. Setelah rapat selesai, aku pun langsung menuju ke parkiran dan mengambil motorku untuk segera pulang. Karena perjalananku dari sekolah menuju rumah harus melewati hutan, jadi aku takutnya kalau pulang terlalu malam ntar malah terjadi hal yang tidak diinginkan. Ditambah lagi jalanannya pun kalau habis maghrib sudah sepi dan jarang ada kendaraan yang lewat.

Baru aja ku nyalakan motorku, tiba-tiba ku lihat dari kejauhan Vanessa berlari ke arahku sambil berteriak.


“Dimas...Dimas..!” Teriaknya dari kejauhan.


Setelah sampai di tempatku, dia pun langsung menangis.


“Kenapa Sa ?” Tanayaku yang masih bingung.

“Yogi Dim, Yogi”

“Yogi kenapa ?”

“Yogi udah gak ada.” Aku masih gak percaya dengan apa yang kudengar.

“Sasa, jangan sembarangan kalau ngomong.”

“Beneran, aku gak bohong.” Seketika tubuhku lemas serasa tak bertenaga.


Aku masih belum bisa menerima apa yang dikatakan Vanessa. Seorang temanku dari SMP, teman yang benar-benar ada di saat aku sedang susah. Sekarang udah pergi untuk selamanya. Aku jadi merasa bersalah dengan diriku. Karena disaat dia sedang jatuh sakit, disaat sedang mengalami kesusahan, aku jarang menjenguknya dan jarang menemaninya. Walaupun waktu itu aku sempat dapat kabar kalau kondisinya udah membaik tapi aku tidak habis pikir kalau Yogi akan pergi secepat itu. Dan untuk pertama kalinya aku seperti merasakan sedang berada di titik terendah dalam hidupku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh depata.prasetya

PART 7 - Hal Aneh Yang Menyelimuti Kepergian Yogi

Sudah tiga hari setelah Yogi meninggalkan kita teman-temannya untuk selamanya. Dan pada hari ini, mumpung sekolah lagi libur aku memutuskan untuk pergi ke makam Yogi. Tak lupa sebelum itu aku mau ke pasar untuk membeli kembang untuk Yogi. Dan karena hari ini hari libur, jadi kondisi dipasar agak ramai. Jadi aku pun kesulitan untuk mencari kembang di pasar waktu itu.

Aku yang berencana untuk pergi ke tempat Yogi sekitar jam 10 akhirnya harus molor. Karena aku baru bisa keluar pasar jam 09.45. Sedangkan perjalanku dari pasar ke tempat Yogi bisa sekitar 30 menit. Tapi bagiku itu gak menjadi masalah. Yang penting aku bisa ke tempat Yogi dan menengok temanku itu.

Setelah dari pasar aku pun langsung otw ke tempat Yogi. Aku beruntung karena pada hari itu jalanan sama sekali gak macet walaupun hari libur. Setelah sampai di depan pemakaman, aku pun langsung memarkirkan motorku dan bergegas masuk.


“Assalamu’alaikum ya ahli kubur.”


Segera aku menuju ke makamnya Yogi. Makam yang masih baru, makam yang masih banyak taburan kembang diatasnya, makam dimana terdapat jasad teman baikku di dalamnya.


“Yog, ini aku Dimas. Aku kesini mau nengokin kamu, semoga kamu tenang di alam sana. Karena aku yakin Allah sudah ngasih tempat buat kamu di surga” Kataku di depan makam temanku.


Aku pun bercerita banyak hal di depan makam Yogi. Mulai dari acara di sekolah, kejadian-kejadian yang dialami teman-temanku, hingga curhatanku ketika ditinggal oleh nya. Dan ketika aku sedang bercerita tentang betapa kehilangannya diriku, tiba-tiba saja air mataku mengalir dengan sendirinya. Ya jujur waktu itu aku masih belum percaya dengan kejadian yang dialaminya.

Setelah selesai bercerita banyak hal, aku pun mulai berdo’a untuk Yogi yang kini sudah tenang disana. Dan tak lupa aku taburkan kembang yang tadi sempat aku beli. Ya walaupun kembang yang ada di makamnya masih ada banyak.


“Yog, aku pulang dulu ya. Aku pasti kesini lagi.” Pamitku pada Yogi

“Iya hati-hati.” Sekilas aku mendengar suara Yogi yang seperti sedang berbisik di telingaku. Entah kenapa bukannya takut tapi aku malah tersenyum mendengarnya.


Belum sempat aku menyalakan motorku, aku kepikiran untuk mampir ke rumah Yogi sekalian mau silaturahmi dengan orang tuanya. Karena aku sendiri juga sudah akrab dengan orang tua Yogi. Kurang lebih 2 menit perjalanan akhirnya aku sampai di depan rumahnya. Rumah yang masih berkibar bendera kuning yang juga merupakan rumah temanku yang kini sudah di tinggal kannya


“Eh ada nak Dimas, sini masuk-masuk.” Belum sempat aku mengetuk pintu dan mengucap salam, ternyata udah disambut dulu sama tante Erin mama nya Yogi.

“Eh iya tante.”

“Assalamu’alaikum.” Ucapku ketika masuk ke rumahnya.

“Wa’alaikumussalam. Sini duduk le.” Kata tante Erin

“Iya tante.”

“Habis nengok Yogi ?”

“Iya tante habis nengok Yogi sekalian mampir sini.”


Ketika aku sedang berbicara dengan tante Erin, aku masih bisa melihat kesedihan dari raut wajah tante Erin. Ya wajar saja sih, setiap orang tua pasti akan sangat sedih ketika ditinggal oleh anak kandungnya sendiri. Dan sebenarnya, tujuanku ke sini selain untuk mampir, aku juga mau menanyakan sesuatu yang sampai saat ini masih mengganjal di pikiranku. Yaitu tentang penyebab meninggalnya Yogi.

Karena baru 4 hari aku mendapat kabar kalau kondisi Yogi membaik, tiba-tiba beberapa hari setelahnya aku mendapat kabar kalau Yogi sudah gak ada. Dan itu yang masih membuatku merasa aneh.

Tapi karena aku masih melihat raut kesedihan di wajah tante Erin, aku pun membatalkan niatku untuk menanyakan hal tersebut. Karena aku takut tante Erin akan teringat kembali oleh anaknya dan akan membawa kesedihan bagi dirinya.

Disana aku cuman ngobrol-ngobrol aja ngalor ngidul. Dan aku pun hanya bertanya tentang hal-hal basic aja, seperti tanya kabar om, tante sama Irgi (adiknya Yogi). Dan tante pun juga menanyakan hal-hal yang serupa. Tanya kabar ku & orang dirumah, tanya tentang sekolahku, tanya tentang kegiatanku di sekolah dan banyak lagi lah yang gak mungin aku ceritain.

Pada jam 12 siang aku pun pamit sama tante Erin untuk pulang.


“Tante aku pamit ya.” Kataku sambil mengecup tangan tante Erin.

“Iya le, hati-hati dijalan, jangan ngebut.”

“Iya tante.”


Tante Erin ini orangnya memang baik sekali sama aku. Aku pun sudah menganggap tante Erin sebagai Ibu ke dua ku. Setelah berpamitan pada tante Erin, aku pun langsung menyalakan motorku dan otw pulang ke rumah.

1 bulan kemudian, aku pun kembali ke rumah tante Erin, tentunya setelah selesai nengok Yogi.


“Tok..tok..tok Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam. Eh ada Dimas sini masuk.” Kali ini yang membukakan pintu bukan tante Erin, tapi om Yanto (suami tante Erin).

“Sengaja kesini apa kebetulan ?” Tanya om Yanto kepadaku.

“Tadi habis nengok Yogi om, trus sekalian mampir kesini hehe.”


Seperti biasa, karena kami gak punya hal buat dibahas, akhirnya kami ngobrol ngalor ngidul. Dan seketika terbesit di otakku untuk menanyakan pertanyaan yang waktu itu tidak jadi ku tanyakan pada tante Erin. Waktu om Yanto sudah berhenti berbicara, baru lah aku berani untuk menanyakan pertanyaan itu kepadanya.


“Emm om, aku boleh tanya sesuatu gak ?”

“Mau tanya apa ? Kayaknya penting banget.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Kan dulu sebelum Yogi meninggal, aku dapat kabar kalau kondisi Yogi udah mulai membaik. Tapi kenapa setelah itu dia pergi om ?” Seketika raut wajah om Yanto pun menjadi serius.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh depata.prasetya

PART 8 - Kebenaran

Om Yanto pun sempat diam beberapa detik. Aku pun cuman diam sambil menunduk, karena takut om Yanto akan marah karena pertanyaanku barusan.


“Iya emang bener kalau dulu kondisi Yogi sempat membaik. Dan wajar aja kalau kamu penasaran sama hal itu. Karena kondisi Yogi mulai membaik karena ada sesuatu alasan.”

“Alasan apa om ?” Tanyaku masih penasaran.

“Dulu waktu Yogi masuk RS, dokter gak bisa menganalisa penyakit Yogi. Makanya Yogi disuruh pulang dan cuman dikasih obat. Tapi, obat yang dikasih pun juga masih belum bisa menyembuhkan penyakit Yogi. Lalu, om dan tante pun datang ke orang pintar (dukun) dan kata orang pintar itu..” Seketika om Yanto berhenti menjelaskan.

“Apa katanya om ?”

“Katanya penyakit Yogi ada hubungannya dengan hal yang tak kasat mata.” Aku yang mendengarnya pun langsung terkejut.

“Apa ini ada hubungannya sama yang waktu persami itu ya ?” Tanyaku dalam hati. Memang setelah Yogi berpamitan padaku untuk pergi ke pohon beringin itu, aku tidak tau kabar/kondisinya pada saat dia disana ataupun saat dia balik.

“Dia bilang kalau jiwa Yogi sedang diikat oleh makhluk astral tersebut. Dia juga bilang cepat atau lambat nyawa Yogi pasti akan diambil oleh nya.”

“Om dan tente juga sempat meminta supaya nyawa Yogi tidak diambil. Tapi kata dukun tersebut, makhluk yang sedang mengikat nyawa Yogi punya aura yang kuat, ya bisa dibilang jin kelas atas lah. Jadi sangat tidak mungkin untuk meminta hal tersebut.”

“Om dan tante pun sudah kehabisan kata-kata kala itu. Dan, mau tidak mau om dan tante harus menerimanya. Karena gak ada pilihan lain.” Om Yanto pun mulai meneteskan air matanya.

“Tapi sebelum itu, om dan tante mencoba untuk berbicara dengan makhluk yang sekarang sedang mengikat jiwa Yogi. Tentunya lewat perantara dukun tersebut.”

“Om sama tante kenapa mau berbicara sama sosok itu ?”

“Om sama tante mau minta satu syarat sama dia sebelum nyawa Yogi diambil.” Aku sontak kaget mendengarnya.

“Om sama tante minta sebelum nyawa Yogi diambil, kami mau kondisi Yogi dalam keadaan sehat. Kami gak mau Yogi meninggal dalam keadaan sakit dan menderita. Kami mau sebelum Yogi pergi, Yogi bisa ceria lagi.” Setelah mendengar hal itu tanpa sadar aku pun mulai meneteskan air mata.

“Dan akhirnya, beberapa hari setelah nya, kondisi Yogi mulai membaik dan berangsur pulih. Kami senang karena kondisinya membaik, tapi disisi lain kami juga sadar kalau itu merupakan pertanda kalau Yogi akan segera pergi.”


Akhirnya setelah sekian lama, rasa penasaranku pun sudah terbayar. Ya walaupun aku agak kasihan mendengar kebenaran dibalik kepergian Yogi. Tapi namanya juga sudah takdir, maka aku pun juga harus mengiklaskan.

Setelah lama aku dan om Yanto bercerita, aku pun memutuskan untuk pamit.


“Om, Dimas pamit pulang dulu ya.” Kataku sambil mencium tangan om Yanto.
“Iya hati-hati dijalan.”
“Iya om, salam juga buat tante sama Irgi.”
“Siap, nanti om salamin.”


Aku pun langsung menyalakan motorku dan bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku masih saja kepikiran tentang Yogi. Karena bagaimanapun, aku juga merasa bersalah karena kejadian yang menimpa Yogi waktu persami kala itu.

Ketika sampai dirumah, aku pun istirahat sebentar untuk menghilangkan rasa penatku di perjalanan. Sekitar 15 menit aku istirahat di kamarku. Tanpa sadar aku pun tertidur dan bangun sekitar jam set 6 sore. Karena kaget hari sudah menjelang maghrib, aku pun langsung mengambil handuk dan segera mandi. Namun, ketika aku sedang mandi, muncul kejadian aneh saat itu.

Jika kalian masih ingat, di kamar mandiku ini ada sosok penunggunya. Dan sebenarnya sudah sering sih kami orang rumah menemukan kejadian-kejadian aneh ketika sedang di kamar mandi. Mulai dari sikat gigi yang jatuh sendiri, handuk yang tadinya kering menjadi basah, dan lain-lain lah.

Tapi kejadian yang kualami kali ini udah beberapa kali ku alami dan seringnya kualami ketika aku sedang mandi menjelang maghrib. Jadi, ketika aku sedang mandi, aku mendengar suara orang yang sedang menyanyikan tembang lagu lingsir wengi. Dan pasti kalian juga udah tau lah ya lagu lingsir wengi itu kayak gimana.


Lingsir wengi sliramu tumeking sirna
Aja tangi nggonmu guling
Awas ja ngetara
Aku lagi bang winga winga
Jin setan kang tak utusi


Kira-kira seperti itulah tembang yang kudengar kala itu. Dan ya, walaupun aku udah sering diganggu seperti itu tapi tetap saja hal itu membuatku merinding ketakutan. Aku pun langsung segera menyelesaikan mandi ku dan segera ganti baju.

Setelah memakai baju, aku pun segera mengambil air wudhu dan sholat maghrib. ketika selesai sholat, aku pun tak lupa untuk mendo’akan Yogi. Aku berdo’a cukup lama kala itu, karena selain mendo’akan Yogi aku juga ingin meminta maaf pada dirinya. Karena setelah kejadian di persami kala itu, aku tidak sempat untuk menanyakan kondisinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 7 lainnya memberi reputasi
Knp org tuanya sepasrah itu ya..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aldinsova dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 14 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 14 balasan

PART 9 - Perumahan Terbengkalai

Hari ini aku mendapat jadwal piket di kelas ku. Sehingga itu membuatku harus berangkat pagi tidak seperti biasanya. Ya walaupun tiap hari aku juga selalu berangkat pagi sih. Ketika sampai di sekolah, aku langsung menuju ke kelasku.

Oh iya jadi di sekolahku ini, kita tidak punya kelas tetap. Jadi setiap hari kita selalu pindah-pindah kelas. Dan kebetulan kelasku hari ini merupakan kelas yang letaknya berada di belakang gedung sekolah.

Jujur aku suka dengan kelas yang berada di gedung belakang sekolah. Karena setiap hari aku bisa melihat pemandangan hutan-hutan dan sungai yang mengalir derasnya. Apalagi jika di pagi hari udaranya pun juga sejuk, banyak burung-burung berkicau, dan bahkan kita juga bisa melihat tupai-tupai yang melompat di pohon.

Selain bisa melihat pemandangan alamnya yang masih sejuk dan asri, aku juga bisa melihat perumahan yang sampai sekarang aku masih tidak tau itu perumahan apa. Karena selama aku sekolah, aku sering melihat perumahan itu, tapi aku tidak pernah sekalipun melihat tanda-tanda kehidupan di perumahan itu seperti orang ataupun kendaraan yang melintas. Aku sempat berpikir mungkin kalau perumahan itu masih dalam proses pembangunan sehingga belum ada penghuninya.

Pernah suatu ketika aku bertanya kepada salah satu temanku yang bernama Yuli, yang kebetulah rumahnya berada di dekat perumahan tersebut.


“Eh Yul, aku boleh tanya sesuatu gak ?”

“Tanya apa ?”

“Perumahan itu gak ada penghuninya ya ?” Tanyaku sambil menunjuk ke arah perumahan yang ku maksud.

“Iya emang gak ada penghuninya.”

“Masih dalam pembangunan to ?” Aku pun masih ber positive thinking

“Enggak, perumahan itu emang gak ada penghuninya dan bukan dalam pembangunan.”

“Ha ? Serius ?” Seketika aku kaget mendengar nya.

“Iya, lagian itu juga udah lama sih terbengkalainya. Udah bertahun tahun deh kayaknya.”


Kenapa perumahan yang bagus itu gak ada penghuninya ? Itu lah pertanyaan yang sampai sekarang masih menjadi misteri di kepalaku.

Ketika jam pelajaran dimulai, aku pun masih tidak bisa fokus dengan apa yang kupelajari. Yang ada di ingatanku sekarang adalah tentang misteri perumahan yang terbengkalai tersebut.

Ketika bel istirahat berbunyi, seperti biasa aku hanya duduk di depan kelas sambil menikmati udara sejuk. Dan pastinya juga sambil melihat perumahan itu. Jujur aja, perumahan itu nampak jelas sekali terlihat di depan kelasku. Karena memang jaraknya juga dekat, hanya saja di pisahkan oleh sungai dan hutan.


“Oy bengong aja lu, ntar kesambet lho.”

“Apaan sih Yul ngagetin aja.”

“Masih kepikiran tentang perumahan itu ? Kalau masih penasaran ntar sore kita kesana tanya-tanya sama orang disana. Sebenernya kenapa perumahan itu kosong aku juga penasaran sih. ”

“Hmm boleh. Gas lah.” Tanpa basa-basi langsung aku terima tawaran Yuli.


Setelah mendapat tawaran dari Yuli, aku pun jadi tidak sabar untuk menunggu jam pulang sekolah. Dan semoga aja ketika kami sampai disana bisa mendapat jawaban dari semua pertayaan yang ada di kepalaku selama ini.

Sangking senangnya aku mendapat tawaran dari Yuli tadi, aku pun tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri seperti orang gila waktu pelajaran di dalam kelas.


“Audzubillahi Minasy Syaithanir Rajim. Bismillahirohmanirohim. Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum.”

“Ngapain Dit baca ayat kursi ?” Tanyaku sambil melihat Adit yang tiba-tiba membaca ayat kursi.

“Lagian kamu senyum-senyum sendiri pas jam pelajaran kayak orang lagi kesambet aja.”

“Bukan kesambet, tapi lagi seneng aja.”

“Iya iya tau yang habis jadian sama si Vanessa.”


Oh iya, beberapa hari yang lalu memang aku sempat nembak si Vanessa. Tapi bukan nebak dalam artian yang sebenarnya. Dan entah kenapa belum ada seminggu udah nyebar tuh berita ke seluruh sekolah. Aku sama Vanessa pun sempat berpikir pasti anak-anak OSIS yang nyebarin berita tersebut. Karena emang orang yang pertama tau kita jadian ya salah satu pengurus OSIS.


“Bukan masalah jadian sama Vanessa.”

“Lha trus apa ?” Tanya Adit yang masih penasaran.

“Ntar sepulang sekolah aku sama Yuli mau ke perumahan terbengkalai itu.” Kataku sambil menunjuk ke luar jendela.

“Ohh perumahan itu, aku ikut juga dong. Boleh ya ?”

“Emmmm. Yaudah deh ntar pulang sekolah jangan langsung pulang dulu. Ntar kita kumpul di parkiran.”

“Siapp.”


Ketika jam pulang sudah berbunyi, Aku, Yuli, dan Adit kumpul di parkiran sekolah sambil menunggu para siswa yang lain pulang.


“Loh Dit kok kamu disini ?” Tanya Yuli yang kaget karena aku datang sama Adit.

“Iya Yul, dia mau ikutan juga katanya.” Jawabku menjelaskan.

“Kamu mau ikutan juga Dit ?”

“Iya Yul, aku juga penasaran kali sama perumahan itu.”

“Hmm. Yaudah deh kuy lah berangkat.”


Dan perjalanan kami untuk memecahkan misteri perumahan terbengkalai itu pun dimulai.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 7 lainnya memberi reputasi

PART 10 - Pengalaman Pertama

Kurang lebih 5 menit perjalanan kita dari sekolah menuju perumahan yang konon terbengkalai itu. Dan benar saja, sesampai nya kita di perumahan tersebut, memang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Disana kita hanya dapat melihat rumah-rumah yang sudah tidak layak huni lagi. Banyak dinding-dinding yang retak, ubin-ubin yang pecah, sampai atap rumah yang tertimpa batang pohon.

Setelah sekitar 10 menitan kami jalan-jalan dan sambil melihat-lihat rumah yang ada disana, kami pun bertemu dengan seorang bapak-bapak yang kebetulan lewat situ.


“Ada acara apa mas kok kesini ?.” Tanya bapak tersebut.

“Tidak ada pak. Cuman jalan-jalan aja sambil mau tanya-tanya tentang rumah ini.” Jawabku

“Tanya-tanya apa mas ?”

“Perumahan ini udah lama gak dipake ya pak ?”

“Iya mas, udah sekitar 3 tahunan. Sebenarnya dulu perumahan ini sempat ditempati. Tapi karena ada sesuatu hal, banyak orang-orang yang milih pindah. Dan akhirnya perumahan ini jadi kosong sampai sekarang.” Kata bapak tersebut menjelaskan.

“Ada hal apa ya pak sampai orang-orang disini pada pindah ?” Kata Yuli.

“Kalau kata orang-orang sekitar sih, jika ada keluarga yang tinggal disini atau pindah ke perumahan ini, pasti bakal kena sial. Kayak nanti ada keluarga yang meninggal, kena musibah/kecelakaan, keluarga gak harmonis. Bahkan dulu juga sempet ada kabar kalau ada salah satu kepala keluarga gitu yang bunuh diri disini.” Kata bapak tersebut yang menjelaskan sangat rinci.

“Ohh gitu ya pak. Bapak tinggal di daerah sini juga ?” Kataku

“Saya tinggal di sana mas.” kata bapak tersebut sambil menunjuk ke arah desa yang letaknya dekat dengan perumahan terbengkalai ini.

“Ohh deket ya pak. Yaudah pak kita mau pamit pulang dulu. Mari pak.”

“Oh iya mas, hati-hati dijalan mas.”


Akhirnya misteri tentang alasan kenapa perumahan tersebut terbengkalai sudah terjawab. Kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lega.

Setelah sampai dirumah, aku pun beristirahat sebentar untuk menghilangakn rasa lelahku. Baru sebentar aku rebahan, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Yuli.


“Hallo Assalamu’alaikum. Apa apa Yul ?”

“Wa’alaikumussalam. Eh aku ada ide nih.”

“Ide apaan ?”

“Gimana kalau ntar malem kita eksplore perumahan itu. Mumpung besok sekolah libur.”

Aku pun sempat berpikir sejenak dan kemudian meng iyakan ajakannya.

“Emmm iya deh.”

“Eh iya Adit diajak sekalian gak ?” Tanyaku pada Yuli

“Emm coba deh kamu ajak. Kalau mauya ayo, tapi kalau gak mau ya gak apa-apa.”


Aku pun mencoba menghubungi Adit, tapi tidak mendapat jawaban. Sekitar 3x aku telepon nomernya tapi tetap aja gak ada jawaban.

“Mungkin dia lagi sibuk, jadi gak bisa menerima telepon dariku.” Kataku dalam hati.

Setelah sekitar 30 menit kemudian hp ku pun berbunyi. Dan benar saja ada seseorang menghubungiku tapi bukan si Adit melainkan si Vanessa.


“Hallo Assalamu’alaikum. Kenapa Sa ?”

“Wa’alaikumussalam. Kamu udah pulang ?”

“Udah dari tadi. Kenapa ?”

“Kamu ntar malam ada acara gak ?”

“Emmm ada sih.”

“Yahhhh.” Nada Vanessa tampak kecewa.

“Ada acara apa emang ? Sama Siapa ?”

“Cuman mau jalan-jalan aja di perumahan kosong deket sekolah itu lho. Sama Yuli, rencana nya juga sama Adit kalau dia mau.”

“Aku ikut dong.”

“Haa ? Serius ? Emang berani ?” Tanyaku kaget. Karena setahuku Vanessa ini orangnya penakut banget.

“Berani kalau ada kamu mah hehe.”

“Yeuu dasar. Yaudah ntar malam aku jemput.” Kataku mengakhiri pembicaraan.


Setelah selesai teleponan sama Vanessa, aku pun bergegas untuk mandi. Sekitar 15 menit aku selesai mandi, dan ketika aku masuk ke kamarku dan segera mengambil hp ku, ternyata ada chat dari si Adit. Dia bertanya kenapa aku telepon tadi. Dan langsung saja aku bilang padanya mau gak dia gabung sama aku, Yuli, dan Vanessa eksplore perumahan tadi. Dan tanpa ragu dia pun langsung meng iyakan.

Sekitar pukul 9 malam setelah aku menjemput Vanessa, kami pun langsung menuju ke TKP. Setelah sampai disana, Yuli dan Adit sudah sampai lebih dulu dan sedang menunggu kami.

Dan tanpa basa-basi kita pun langsung menelusuri perumahan itu “lagi”. Namun bedanya kali ini kita melakukannya di malam hari. Kami mengecek tiap rumah satu-persatu. Dan hampir semua isi rumahnya berantakan dan berdebu. Ya wajar aja lah, namaya juga rumah udah terbengkalai. Beberapa rumah juga masih ada perabotan di dalamnya seperti meja, kursi, bahkan jam besar yang cukup tua.

Ada salah satu rumah yang menurut kami cukup menarik perhatian. Yaitu rumah yang di cat biru yang letaknya berada di paling ujung dekat pertigaan. Mungkin orang-orang biasa menyebutnya “rumah tusuk sate”. Di rumah itu banyak sekali perabotan yang ada didalamnya. Meja, kursi, lemari, jam dinding, kasur, akuarium, dan sebuah radio tua.

Dan yang paling mengejutkan kami semua adalah, ternyata di dalam rumah itu ada sebuah tali tambang yang menggantung di depan pintu kamar mandi. Aku sempat berpikir kalau tali itu mungkin yang digunakan seseorang untuk bunuh diri. Seperti kata bapak-bapak yang tadi sore kita temui. Sontak kami semua segera meninggalkan rumah itu. Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

Namun, ketika kami sedang buru-buru keluar, kami melihat seperti ada sosok orang yang sedang duduk di kursi depan teras rumah tersebut.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 6 lainnya memberi reputasi

PART 11 - Sosok Bapak Misterius

Ketika kami hendak keluar dari rumah tersebut, kamu sekilas melihat ada bayangan orang yang sedang duduk di kursi teras depan rumah. Kami sempat takut ketika melihat sosok itu. Akhirnya kami pelan-pelan keluar satu persatu. Aku yang pertama keluar dari rumah tersebut dan kemudian diikuti Vanessa, Yuli, dan Adit.

Namun, ketika kami keluar dan langsung melihat kearah kursi yang ada di teras tersebut, tidak ada siapa-siapa.


“Loh kok...” Kataku ketika aku melihat kursi teras yang kosong.

“Wait wait, tadi kalian lihat kan ?” Tanya ku pada semua.

“Lihat.” Jawab Vanessa, Yuli, dan Adit dengan kompak.


Setelah kejadian itu, kita pun langsung meninggalkan rumah tersebut. Dan ketika kita sedang jalan untuk mengambil motor, aku pun kaget dengan apa yang barusan aku lihat.

Aku teringat perkataan bapak-bapak yang tadi sore kita temui. Bapak tersebut bilang kalau rumahnya ada di desa dekat perumahan tersebut. Ya memang sih waktu bapak itu memberi tau kami sambil menunjuk ke desanya, kami juga lihat desa tersebut. Namun, entah kenapa waktu malam itu yang kulihat hanyalah hutan belantara. Dan tidak ada satupun desa yang terlihat.


“Dit Yul, coba deh lihat kesana.” Kataku sambil menunjuk ke hutan belantara.

“Iya kenapa ?” Tanya Yuli

“Kalian inget gak kata bapak-bapak yang tadi sore kita temuin. Kan dia bilang kalau rumahnya ada di desa sana, tapi kok sekarang desanya gak ada ?”

“Ehhh. Kok iya. Perasaan yang kita lihat tadi sore itu pedesaan, kok jadi hutan ?” Tanya Adit yang keheranan dan ketakutan.


Kami pun tidak melanjutkan pembicaraan dan langsung menuju motor lalu pulang. Kami pulang sekitar pukul set 12 malam. Jujur aku merasa bersalah sih mengajak Vanessa keluar malam sampai jam set 12. Apalagi keluarnya sama cowo.

Ketika aku mau pulang dari rumah Vanessa, aku pun meminta Vanessa untuk mengijinkanku berpamitan pada orang tuanya. Sekalian juga aku mau minta maaf karena udah bawa anaknya pulang malam.


“Ma Pa, ini Dimas mau pamit.” Vanessa memanggil Mama sama Papanya.

“Ohh ini to nak Dimas.” Kata Papa Vanessa.

“Iya om tante, saya Dimas.”

“Mau pamit ?” Tanya Mama Vanessa

“Iya om tante saya mau pamit. Dan maaf udah ngajak Vanessa main sampe malam gini.”

“Iya gak apa-apa yang penting Vanessa nya dijagain. Yaudah hati-hati dijalan.” Kata Mama Vanessa.


Setelah pamit, aku pun langsung pulang ke rumah. Kurang lebih 15 menit perjalanku dari rumah Vanessa menuju rumahku. Namun, waktu di perjalanan, aku melihat ada seseorang sedang jalan kaki sendirian di tengah malam. Aku pun menghentikan motorku dan langsung menawarkan tumpangan.


“Mau kemana pak ? Butuh tumpangan ?” Orang itu langsung menoleh ke arahku.

“Mau ke warung di jalan *** ” Aku pun langsung kaget, ternyata orang itu adalah bapak-bapak yang kita temui tadi sore di perumahan terbengkalai itu.

“Ehh ternyata bapak. Yaudah pak saya antar kebetulan rumah saya juga lewat situ.”


Selama di perjalanan, kami pun ngobrol banyak hal. Bahkan aku juga sempat kaget ketika bapak itu menanyakan hubunganku dengan Vanessa. Ketika bapak itu tiba-tiba menanyakan hal yang menurutku gak masuk akal, aku pun mulai berpikiran yang aneh-aneh. Ya karena aneh aja ada bapak-bapak yang belum terlalu mengenalku tapi sudah tau tentang hubunganku dengan Vanessa. Disitulah aku mulai curiga.

Dan untuk memastikan kecurigaanku, aku pun menananyakan beberapa hal pada bapak itu.


“Bapak sendiri ngapain jalan sendirian malam-malam ? Ini udah hampir pukul 12 lho pak.”

“Kan saya mau ke warung mas, beli kemenyan.”

“Ha ? Kemenyan ?” Tanyaku kaget.

“Buat apa pak ?”

Bapak tersebut diam tidak menjawab pertanyaanku. Aku pun mulai mengganti pertanyaanku.

“Oh iya pak saya mau tanya satu hal lagi pak.”

“Tanya apa mas ?”

“Kan tadi sore bapak bilang kalau rumah bapak di desa dekat perumahan yang terbengkalai itu. Nah tadi kan saya sama temen-temen saya ke perumahan itu, tapi kok kita gak lihat ada desa ya pak di dekat perumahan itu. Yang kami lihat malah hutan-hutan.” Dan bapak tersebut pun kembali diam tidak menjawab.


Aku pun semakin takut dengan situasi ini. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berbicara lagi dengan bapak tersebut selama perjalanan. Ketika sampai di warung yang dimaksud, tiba-tiba bapak itu...


“Nah disini pak sudah sampai.” Kataku pada bapak itu. Namun bapak itu diam saja.

“Pak..” Masih tidak ada jawaban.


Ketika aku berbalik untuk melihat jok belakangku, ternyata bapak tersebut sudah tidak ada. Seketika aku takut dan langsung buru-buru pulang. Bahkan diperjalanan aku juga sempat kepikiran bapak itu. Dan hal itu masih berlanjut ketika aku bangun pagi harinya.

Ketika pagi hari, karena ini libur sekolah, aku bangun dan langsung mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, nyiram tanaman, dll. Baru setelah selesai mengerjakan pekerjaanku, aku pun pergi ke dapur untuk membuat kopi dan mengambil gorengan. Setelah kopi nya jadi, barulah aku duduk di teras rumah sambil ngopi dan makan gorengan.

Lagi enak-enakan ngopi, tiba-tiba aku mendapat notif di hp ku. Dan setelah kulihat ternyata ada chat dari Adit.


Adit : “Semalem aku ketemu bapak-bapak yang kemarin sore ada di perumahan.”

“What the ...” kataku dalam hati.


Belum sempat aku membalas chat dari Adit, tiba-tiba muncul notif chat dari Yuli.


Yuli : “Dim. Tadi malam aku lihat bapak-bapak yang diperumahan itu lagi jalan kaki di jalan tengah hutan.”


Aku pun mulai tidak bisa ber positive thinking lagi. Seketika aku langsung menelepon Adit dan Yuli secara bersamaan dan meminta kita ketemuan untuk membahas masalah ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 7 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di