CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a8420b9c0d770c1668b456e/dunia-para-monster-zombie-apocalypse-story

Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]

Hello kaskuser dan momod tercintah emoticon-heart

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor. emoticon-EEK!
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.

Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS emoticon-Malu
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang emoticon-Ngakak (S)

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka emoticon-Embarrassment

Selamat membaca emoticon-Blue Guy Peace

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinnopiant dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh irazz1234
Halaman 1 dari 14
CHAPTER 1



Ketika Alyssa lahir, dunia ini telah berubah menjadi neraka bagi seluruh umat manusia. Sebuah virus, yang dikenal oleh komunitas paramedis sebagai Z-994, telah bertanggung jawab atas terjadinya kiamat yang ditakuti oleh semua orang diseluruh dunia, yaitu munculnya para zombie. Ketika perjangkitan pertama dimulai di China, dunia tidak mengetahui sedikitpun tentang hal tersebut, hingga semuanya terlambat.

Para pemimpin telah memblokir media dari berita perjangkitan tersebut, memberitakan kepada negara lain bahwa itu adalah perjangkitan virus flu-babi terbaru dan merupakan masalah kecil yang dapat mereka tangani. Ketika virus tersebut telah menyebar dan menginfeksi orang-orang dan merubah mereka menjadi mayat hidup hingga membuat pemerintah China kewalahan, saat itulah dimana keadaan berubah menjadi sangat buruk. Dalam sebuah aksi strategis cerdik atau kita bisa menyebutnya sebuah kengerian yang nyata, pemimpin soviet saat itu telah meluncurkan sebuah serangan berupa senjata nuklir taktis menuju China, dalam upaya untuk mencegah perjangkitan virus zombie sebelum keadaan berubah menjadi sangat buruk.

Pihak Rusia yang dengan secara spesifik menghantam area di dekat perbatasan dengan negara China, berharap jika ledakan nuklir tersebut tidak membunuh para zombie, masih ada efek dari radiasi ledakan nuklir yang akan menuntaskan semuanya. Seluruh dunia menahan nafas ketika mendengar hal tersebut, dengan penuh harap atas tindakan ekstrem itu, secara drastis, dapat menghentikan serangan dari para mayat hidup. Tapi ternyata tidak...

Penyakit tersebut telah menyebar ke timur tengah sebelum serangan nuklir diluncurkan, dan terus menyebar menuju Afrika dan Eropa. Negara-negara di Amerika Utara telah berjuang sedemikian rupa untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut menyeberangi lautan, tapi itu adalah usaha yang sia-sia. Meskipun blokade telah dibuat dan menembak jatuh setiap pesawat yang mencoba melintasi wilayah udara mereka, zombie-zombie itu berjalan dari Rusia melewati Kutub Utara menginfeksi Kanada dan selanjutnya menginfeksi seluruh Amerika.

Pasukan militer U.S telah berupaya untuk melawan serangan zombie, tapi jumlah mereka terlalu banyak hingga pemerintahan pun runtuh. Rakyat bertebaran dihinggapi rasa putus asa dalam mencari perlindungan dan berupaya untuk tetap aman. Dalam upaya untuk menghadapi hal yang terburuk, Kota-kota di Amerika telah mulai bergerak untuk melindungi daerahnya ketika perjangkitan pertama kali telah dilaporkan terjadi di China. Dewan kota telah menggunakan seluruh dana yang mereka miliki untuk mulai membangun dinding tembok, yang sangat besar. Membutuhkan waktu kurang lebih satu dekade bagi para zombie untuk dapat berjalan melewati Kutub, hingga saat itu terjadi, akan banyak Kota-kota di Amerika Utara yang telah memiliki dinding tembok dengan tinggi hampir seratus kaki dan lebar hingga dua puluh sampai tiga puluh kaki, yang hampir semuanya berbahan dasar beton.

Ketika warga kota sibuk membuat benteng dan melindungi diri mereka, daerah lain harus berjuang dengan upaya mereka masing-masing. Daerah pemukiman padat penduduk dan Kota-kota kecil telah diserbu dan dibantai. Hanya Kota-kota kecil yang dekat dengan lautan yang dapat bertahan hidup, mereka beruntung karena zombie-zombie itu tidak dapat berenang. Kota besar seperti New York, San Francisco, dan bahkan New Orlean, hanya tiga kota tersebut yang berhasil melawan dan me benteng diri dari serangan zombie dibandingkan dengan kota lainnya. Meskipun ada beberapa kota lain yang berhasil membangun tembok dan melindungi warganya. Jumlahnya sangat sedikit dan lokasi antar mereka yang terlampau jauh antar satu sama lain. Tapi akan selalu ada tempat perlindungan kecil yang tersebar diseluruh negeri, yang berhasil melawan dan bertahan hidup hingga saat ini.

Alyssa lahir disalah satu kota kecil tersebut, dan karena mereka tidak tinggal di lokasi yang dekat dengan air, mereka harus pergi keluar setiap hari menuju tanah para mayat hidup untuk mencari dan mengumpulkan barang-barang guna kebutuhan sehari-hari. Alyssa dapat mengingat kapanpun ketika ayahnya pergi bersama rombongan untuk mencari makanan dan air. Kadang mereka semua mampu kembali dengan selamat dan ada pula saat lain dimana tak seorang pun yang kembali.

Masih jelas dalam ingatan Alyssa dimana ayahnya lah yang termasuk diantara mereka yang tak kembali setelah perjalanan. Mereka diserbu oleh sekelompok zombie ketika sedang mencari perbekalan didalam sebuah hypermarket yang terbengkalai. Hal itu merupakan hari yang paling menyedihkan dalam hidupnya. Alyssa tidak mengenal ibunya, ia meninggal ketika melahirkan dirinya. Meninggalnya sang ayah merupakan pukulan terberat bagi dirinya, karena hanya sang ayah lah satu-satunya orang tua yang ia miliki.

Selama lebih dari sepuluh tahun tinggal di dalam kota, Alyssa belajar cara membunuh zombie. Meskipun dirinya tidak menyukai kekerasan, tapi ia sangat piawai dalam melakukannya. Bukanlah sesuatu yang ia sukai, dan seringkali Alyssa menawarkan diri untuk melakukan sesuatu untuk menghindari tugas diluar dinding. Namun warga kota terus menyuruhnya untuk berjaga disekitar dinding karena mereka tahu tidak ada orang lain yang ahli dalam membidik terkecuali Alyssa. Hanya masalah waktu sampai ada seseorang yang memintanya untuk melakukan sesuatu, yang ia bersumpah tidak akan pernah mau melakukannya. Alyssa sedang berada di dapur mencuci piring kotor saat hari itu tiba.

"Alyssa" suara seseorang memanggil dari sisi lain dapur.

Dia mengira akan ada seorang pelayan yang datang membawa setumpuk piring kotor untuk ia cuci, ternyata bukan. Malahan itu adalah seseorang yang sangat tidak ingin dia temui. Namanya adalah Maxwell Davies, tapi semua orang memanggilnya major, atau max.

"Gw lagi sibuk banget sekarang". Alyssa berkata sambil mencoba untuk menghindar

"Gw harus ngomong sama lu". Max memaksa, "Hal yang penting banget."

Memang tidak setiap hari Major ingin berbicara dengannya tapi ia telah mengetahuinya. Alyssa telah mengetahui apa tepatnya yang Max ingin bicarakan dengannya. Alyssa telah menghindarinya selama berbulan-bulan semenjak ia mengejutkan orang-orang di area lapangan tembak.

"Gw gak akan pergi keluar sana," katanya, "Itulah kenapa ayah gw meninggal."

"Gw tau kok," Max melangkah mendekat, "Tapi kita mulai putus asa."

"Gw punya adek cewek." Alyssa mencoba menjelaskan, "Cuman gw yang Diane punya. Siapa yang bakal ngurus dia kalo nanti gw gak balik dari perjalanan?"

"Gw yang bakal ngurus Diane." Max membalas dengan cepat, "Begitu juga para warga kota lainnya."

"Cuma karena gw sedikit ahli dalam menembak," Alyssa menjelaskan sambil mencuci piring, "Bukan berarti gw bakal hebat diluar sana."

"Lu itu termasuk dalam salah satu warga terbaik." Max memprotes, "Skor zona menembak lu itu yang paling tinggi. Ngirim orang lain malah bisa membahayakan, bukan sebaliknya."

"Tapi bukan berarti gw bakal hebat diluar sana!" Alyssa menjawab sambil dirundung rasa takut.

"Kita akan nugasin lu dimulai dari daerah yang paling mudah." Max berkata, menolak untuk mendapat jawaban tidak dari Alyssa, "Sebuah area mudah yang bagus buat lu untuk memulai misi."

"Hasil temuan jadi milik gw semua?" Alyssa lalu bertanya.

"Cukup adil buat gw." Max berkata, lalu terdiam barang sedetik, "Gimana kalo kita siapin tempat buat lu sama adek lu supaya lu bisa berhenti tinggal sama keluarga Wilson?"
Penawaran yang cukup besar untuknya. Meskipun diliputi rasa takut, namun Alyssa berpikir hal ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Major bisa melihatnya merasa tertarik atas tawaran tersebut.

"Tugas awal yang mudah untuk gw membiasakan diri?" Alyssa mengulangi.

"Ya, tentu saja." Kata Major mengiyakan. "Kita gak bakal nugasin lu untuk tugas yang berat sebelum lu terbiasa dan mengenali area diluar sana. Gua janji kita bakal ngasih lu tugas ringan, sampai lu terbiasa dengan keadaan diluar sana. Lu bakal aman selama lu tetap waspada sama sekitar lu. Kita punya daftar barang yang grup lu harus cari, dan barang-barang lainnya yang warga kota sangat butuhkan. Kita butuh bantuan lu."

Alyssa berhenti melakukan tugas mencuci piringnya, lalu melemparkan busa cuci piring kedalam wastafel. "Oke deh kalo gitu, gw mau."

Dia bisa mengingat memeluk erat adiknya pagi itu. Diane menangis sejadinya karena takut kakaknya akan mati diluar sana, sama seperti ayahnya waktu itu. Alyssa memantapkan tekadnya agar hal mengerikan tersebut tidak akan terulang kembali , yang mana hal tersebut tidak dapat dipastikan diluar sana, di tanah para mayat hidup.

Belum sampai setengah hari diluar sana ketika Alyssa menyadari bahwa Major telah berbohong kepadanya ketika berjanji akan memberikan tugas yang mudah untuknya di awal. Grupnya diserbu oleh hampir seratus zombie, dan mereka terperangkap didalam sebuah toko yang cukup besar tanpa ada jalan untuk keluar. Hal terakhir yang Alyssa ingat sebelum dirinya pingsan ialah teriakan dan jeritan anggota grup lainnya saat mereka dibunuh oleh makhluk-makhluk itu...
profile-picture
kudo.vicious memberi reputasi
Diubah oleh irazz1234
Apdet selanjutnya ngg rame yg komen sampe page 3 yak emoticon-Peace
Ane izin baca dulu gan
Quote:


Silahkan gan emoticon-Blue Guy Peace
Ikut mejeng page one aahhhh emoticon-Selamat
Ceritah zhombeeehhh

Tadi kira ane character utama nya cowok, ternyata cewek yg jadi char utama nya
Kuciwahhh adek bang kuciwaaahhhh emoticon-Turut Berduka

Tapi asik ini kalo di lanjutin sampe tamat gan emoticon-Big Grin
Muehehehehe
Gak kebayang kalo beneran Z virus ada di dunia ini emoticon-Takut
Diubah oleh contractorz
Quote:


Neko-chan belom tidur emoticon-EEK!

Iya neh udah lama banget pengen buat cerita zombie, cm masi bingung gimana alur ceritanya emoticon-Malu gak jago nulis kayak Neko-chan.

Karakter utama cewe supaya pada ngayal dah tuh gimana penampakan aslinya emoticon-Ngakak (S)
Quote:


Biasa gan, tugas negara (halah emoticon-Hammer (S) ) maka nya masih melek jam segini emoticon-Big Grin

Apaan dah agan ini, ane gak pinter nulis kok gan emoticon-Malu (S)
Mana ada kerja serabutan kaya ane pinter dulis emoticon-Malu (S)


Dan sial nya ane gak pinter ngehayal gaaaan emoticon-Frown
Jadi gak bisa dah tu bayangin si alyssya nya emoticon-Berduka (S)
Quote:


Bayangin aja Melissa Benoist gan. Nama Alyssa jg terinspirasi dari doi. Cuma muka dia yg muncul waktu nyari karakter emoticon-Embarrassment
Quote:


Melenceng jauh banget ternyata...
Ane kira tadinya malah mirip si emma stone, yg cantik2 gimanaaaa gitu (lupakan)
baca nih tred seperti rasa resident evil cerita tidak main stream seperti horor lainnya emoticon-Big Grin
Quote:

Wah, boleh juga tuh Neko-chan, bayangin aja Emma stone nembakin zombie emoticon-Belo
Quote:

Yak bener banget gan, rada jenuh sama horor indo. Udah banyak banget thread sejenis emoticon-Big Grin
Quote:


now...
i can imagine that emoticon-Malu (S)

emma stone emoticon-Wowcantik emoticon-kisssing emoticon-heart
wah cerita zombie nih.
ijin nongkrong ya gan emoticon-Angkat Beer
Quote:

emoticon-Wowcantik
Cerita zombie emg pantes klo tokoh utamanya cewe bule emoticon-Genit
Quote:


Silahkan gan, semoga suka sama ceritanya emoticon-Embarrassment
mata ane duh itu paragraf rapet banget emoticon-Leh Uga... padahal ente dulu komenin ane karena paragrap.. diedit lagi gan paragrafnya biar rnak bacanya emoticon-Leh Uga. dejavu emoticon-Ngakak
Diubah oleh roni.riyanto
Quote:


Iya juga sih emoticon-Genit
Tapi ane masih kebawa sama character nya Leon F.cenedy gan emoticon-Big Grin
Cool banget pembawaan nya emoticon-Cool
Waduhhh udah ada zombie nih. Semoga ceritanya melebihi ekspektasi ane gan. Lebih orisinil dan Kagak sekedar menceritakan kembali.
Quote:

Weee... Enak aja. Yang kmaren kan tanda baca noh. Wkkwkkw
Tar deh ngg edit di pc. Make hape ribet asli emoticon-Embarrassment
Quote:

emoticon-Belo
Setuju bree emoticon-shakehand
Quote:


Semoga aja gan. Ane gak jago nulis soalnya. Ini juga modal nekat emoticon-Ngakak (S)
Pokoknya inspirasi cerita ini tuh gabungan dari banyak game zombie emoticon-Hammer
CHAPTER 2



Ketika Alyssa membuka mata, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dalam bangunan yang sama. Cahaya terang dari lampu neon di dalam toko telah berganti menjadi lampu lentera redup yang menempel di dinding ruangan. Ia duduk dengan perlahan dan mengetahui bahwa ia berada diatas sebuah kasur besar berukuran queen size yang terlihat mewah, bahkan terlihat cukup bersih. Alyssa melihat ke sekeliling ruangan tapi tidak dapat menemukan seorang pun disana. Ia lalu berjalan perlahan, keluar dari kamar tidur menuju lorong. Ia lalu memutuskan untuk berteriak memanggil untuk mengecek apakah ia sendirian disana sebelum menuju ke ruang keluarga.

"Halooooo?" ia berteriak memanggil, berharap mendapatkan jawaban dari seseorang. Tapi tak ada satupun yang menjawab.

Pada saat itu ia memeriksa keadaan dirinya, untuk memastikan tidak ada luka ataupun memar pada tubuhnya. Tak ada satupun luka gigitan, sayatan, ataupun tanda bahwa ia telah terinfeksi dari para zombie yang telah menyerangnya waktu itu. Alyssa hampir sedikitpun tak tersentuh. Mengingat betapa banyaknya zombie yang telah berada di dalam toko, merupakan sebuah keajaiban bahwa dirinya dapat keluar dari tempat mengerikan itu hidup-hidup tanpa luka sedikitpun.

Fakta bahwa ia dalam kondisi tak sadarkan diri saat semua ini terjadi, berarti ada seseorang yang tak hanya menyelamatkan dirinya tapi juga membawanya ke rumah ini dimanapun ia berada sekarang. Alyssa merasa sangat yakin bahwa hidupnya telah berakhir pada saat itu, tapi disinilah ia berada sekarang. Di dalam sebuah tempat asing yang mungkin berada jauh dari kotanya. Daripada mencari tahu dimana dirinya berada sekarang, Alyssa lebih memilih untuk bersyukur bahwa dirinya masih hidup dan dapat pulang kerumah nanti.

"Selamat sore." Sebuah suara memanggil.

Alyssa berbalik lalu terkejut melihat ada seorang pria muda yang berdiri menatapnya. Pria itu muncul secara tiba-tiba. Ia sedang menghadap ke arah pintu ketika pria itu datang dan membuat dirinya bingung bagaimana pria itu bisa masuk tanpa ia mengetahuinya.

"Kamu datang darimana? Bagaimana caramu bisa berada disini?" Ia bertanya kepada pria itu.

"Anggap aja sebuah kebiasaan buruk," Pria itu menjawab. "Kamu akan terbiasa nanti."

"Dimana aku sekarang?" Alyssa bertanya, yang ia tau hanya tempat ini bukan berada di dalam kotanya. "Dimana yang lainnya?"

"Kamu ada dirumahku," Ia menjawab, "Tak ada orang lain disini."

"Aku tidak mengerti, bagaimana caramu membuat para zombie itu tidak masuk kedalam sini?" Alyssa bertanya.

"Cobalah keluar dan lihat dengan matamu sendiri." Pria itu menjawab.

Alyssa melangkah menuju jendela di ruang tengah dan melihat keluar jendela setelah membuka pengaitnya. Dirinya seperti berada di lantai dua puluh sebuah bangunan yang sangat tinggi. Mereka berada di tengah kota yang telah hancur ditinggalkan para warganya dan sekeliling bangunan itu nampak gelap. Ketika ia melihat kebawah, tampak sekitar ratusan atau bahkan ribuan zombie yang berjalan disekitar kota.

"Ada dimana kita?" Alyssa bertanya.

"Kita berada di tengah kota yang dulu disebut Nashville." Pria itu menjawab.

Alyssa menoleh balik ke pria itu, merasa khawatir. "Bagaimana cara kita keluar dari sini? Kita terkepung!"

"Mereka tidak dapat naik ke atas sini," Pria itu menjawab. "Aku telah menghancurkan tangga di lantai lima sampai sembilan. Jadi ada jarak sekitar empat lantai. Mulai dari lantai sepuluh ke atas semuanya aman. Tapi lebih baik kalau kita tetap berada disini."

"Apa yang ada di atas sana?" Alyssa bertanya.

"Lantai kedua puluh." Pria itu menjawab.

"Bagaimana dengan lift nya?" Alyssa melanjutkan.

"Kabelnya putus, lift nya tak berfungsi."

"Sudah berapa lama kau berada disini?" Ia bertanya.

"Semenjak kota ini ditinggalkan." Pria itu menjawab sambil meregangkan kedua tangannya. "Ngomong-ngomong namaku Gabriel."

"Alyssa" Jawabnya sambil meraih tangan Gabriel dan menjabatnya. "Sudah berapa lama aku ada disini?"

"Dua hari," Gabriel menjawab. "Kau terlihat sangat kacau waktu itu. Bahkan aku sempat tidak yakin apakah kamu dapat selamat atau tidak."

"Dua hari." Alyssa mengulangnya sembari memikirkan apa yang telah terjadi. Hingga saat ini, warga kota pasti berpikir bahwa ia dan grupnya telah tewas dalam tugas.

"Kamu pasti lapar," Ujar Gabriel sambil menunjuk ke arah meja di ruangan sebelah. "Bisa kah kita ngobrol sambil makan?"

"Tentu, kurasa." Ujar Alyssa terkejut senang atas keramahan coba yang diberikan Gabriel.
Gabriel menekan tombol saklar di dinding dan sebuah lampu besar menyala terang diatas mereka, kilau cahaya lampu itu mengejutkan Alyssa.

"Kamu punya listrik?" Ia bertanya, terkejut karena lampunya berfungsi.

"Ya, aku punya." Ujar Gabriel, terheran karena Alyssa melonjak terkejut. "Aku memasang panel surya di atap bangunan ini. Aku tidak terlalu sering menggunakan lampu, tapi kupikir kau akan lebih nyaman jika dapat melihat apa yang kamu makan."

"Terima Kasih." Ucap Alyssa sambil memandang kesekeliling apartemen yang sangat luas tempat mereka berada sekarang. Lalu berpikir mungkin seperti inilah yang dinamakan penthouse.

"Tempat ini indah sekali." Alyssa berkata kepadanya.

"Aku dulu adalah seorang penyanyi country." Ujar Gabriel bercerita sambil memimpin jalan menuju dapur. Alyssa duduk diatas sebuah bangku meja makan ditengah ruangan dapur yang sangat luas sambil menyaksikan Gabriel yang sedang menyiapkan sup. Ia menuangkan sup dari kaleng lalu menuangkan sup kaleng itu kedalam panci, memasukannya kedalam oven, lalu menunggu sup itu matang.

"Maaf ya, cuma ada sup sayuran untuk sekarang," Gabriel berkata sambil mengaduk panci. "Kalau saja aku tahu akan ada tamu disini, aku bisa mencarikan makanan yang lebih baik dari ini."

"Tidak, tak mengapa." Kata Alyssa sambil duduk tanpa melepaskan pandangan dari Gabriel yang sedang memasak sup diatas kompor gas. "Aku gak ingat banyak soal kejadian waktu itu."

"Bukan hal yang aneh." Kata Gabriel tanpa berpaling dari sup yang sedang ia masak. "Kebanyakan orang yang kepalanya terbentur jarang ada yang bisa mengingatnya. Apalagi begitu banyaknya zombie disana waktu itu, mungkin ini yang terbaik. Kamu beruntung karena aku sedang berada disekitar sana pada saat zombie-zombie itu menyerang."

"Apa yang waktu itu kamu lakukan disana?" Alyssa bertanya.

"Sama sepertimu," Gabriel menjawab. "Mencari persediaan."

"Gimana caranya kita keluar dari sana?" Alyssa bertanya. "Gimana caranya kita kabur?"

"Bukan sesuatu yang pantas diomongin sebelum makan." Gabriel berkata sambil terus mengaduk. "Aku berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu nanti. Kamu aman disini."

"Terima Kasih." Ucap Alyssa sambil menghela nafas.

Satu menit kemudian Gabriel menuangkan supnya kedalam sebuah mangkuk, lalu ia mengambil sendok dan menyerahkannya kepada Alyssa. "Bon Appétit."

Alyssa mengambil sendok lalu mencoba supnya. Rasanya sungguh enak sekali. Ia tak terbiasa makan makanan yang enak, karena bahan makanan cukup sulit didapatkan. "Kamu gak ikut makan?"

"Nanti sajalah," Gabriel memberitahunya seraya duduk di meja makan. "Aku ingin nawarin kamu roti, tapi sayang aku lagi gak bikin. Akan kucoba untuk menjadi tuan rumah yang baik di lain waktu."

"Tawaran yang tak bisa kutolak." Kata Alyssa sambil melanjutkan makannya.

"Aku cuma gak terbiasa punya tamu." Gabriel mengakui.

"Sudah berapa lama kamu sendirian disini?" Alyssa bertanya.

"Lebih lama dari pada yang aku percaya." Gabriel berkata dan Alyssa memberinya senyuman. "Bukan masalah besar, dan aku harus mengakui kalau sebenarnya menyenangkan punya tamu disini."

"Aku bukan tahanan disini, ya kan?" Alyssa bertanya tanpa rasa takut.

"Tentu saja bukan." Gabriel berkata sembari tertawa renyah. "Dengan senang hati aku akan antar kamu pulang kerumah kapanpun kamu mau. Aku hanya berharap kamu mau membantuku lebih dulu."

"Karena kamu sudah nyelamatin nyawaku, aku mau kok ngelakuin apapun." Jawab Alyssa sambil menyeruput supnya. "Aku harus ngapain?"

"Aku gak mau bohong, tapi ada banyak sekali." Ujar Gabriel mengakui. "Berapa umur kamu?"

"Dua puluh enam tahun." Alyssa menjawab. "Kamu sendiri?"

"Tiga ratus lima puluh empat." Gabriel menjawab.

"Itu gak mungkin!" Sergah Alyssa sambil berdiri dari bangku. "Bagaimana hal kayak gini bisa jadi mungkin?"

"Kau tau," Gabriel mulia bercerita sambil berdiri, "Jika aku bertanya padamu lima puluh tahun yang lalu apakah kamu percaya monster itu ada? Kamu pasti kan mengatakan tidak. Tapi kamu percaya bahwa monster itu ada sekarang, bukankah begitu Alyssa?"

Alyssa terdiam untuk sementara waktu. "Karena para monster itu telah menjajah bumi kita lebih lama dari aku hidup. Aku bilang iya."

"Itulah jawabannya." Gabriel berkata sambil menggenggam kedua tangannya. "Aku adalah monster berusia tiga ratus tahun."

"Monster jenis apa?" Alyssa bertanya.
Gabriel terdiam sejenak untuk sementara sebelum menjawab, "Aku adalah vampire."

Saat pertama kali mendengarnya, Alyssa ingin sekali menertawakan pria muda tersebut. Ia pernah membaca tentang vampire di perpustakaan. Namun tak pernah sekalipun terbesit dalam pikirannya kalau mereka benar-benar ada. Ia lalu melihat keluar jendela dan menyaksikan ratusan zombie sedang berjalan terseok-seok disekitar bangunan lalu kembali melihat kearah Gabriel. Jika satu monster memang sudah ada, dia berpikir, mungkin kemunculan monster jenis yang lain bukan sesuatu yang aneh.

"Vampire?" Ia mengulanginya.

"Ya." Jawab Gabriel singkat agar tidak terlalu menakuti Alyssa.

"Aku ingat pernah membaca tentang jenismu." Alyssa berkata sambil mengikuti Gabriel menuju kearah ruang keluarga. "Aku pikir buku-buku itu cuma dongeng. Karangan fiksi abad ke tujuh belas."

"Sayangnya itu bukanlah sebuah dongeng." Gabriel menerangkan sambil duduk di kursi sofa. "Semua cerita monster yang pernah kamu baca sebenarnya adalah hal yang nyata. Mereka ada diluar sana. Mereka menjadi lebih agresif semenjak kejadian zombie ini dimulai."

"Aku sudah pernah membaca semua buku tentang jenismu." Alyssa berkata.

"Jadi kamu sudah paham bagaimana cara kami bertahan hidup?" Gabriel bertanya.

"Ya," Kata Alyssa. "Inikah alasannya mengapa aku berada disini?"

"Tepat sekali" Kata Gabriel berterus terang. "Aku lapar."

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Gajadi nunggu sampe page 3 deh, kelamaan jg kyknya. Apalagi kayaknya kaskuser dimari kurang suka sm cerita zombie sama monster emoticon-Blue Guy Peace

Selamat membaca emoticon-Smilie
profile-picture
kudo.vicious memberi reputasi
Diubah oleh irazz1234
olala...

sudah update rupanyah emoticon-Matabelo

ok baca dulu aja deh
lagi mager soal nya emoticon-Hammer2
Halaman 1 dari 14


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di