CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e79fd2d65b24d29f02bada4/pelet-orang-banten

Pelet Orang Banten

Tampilkan isi Thread
Halaman 26 dari 57
Quote:


emoticon-Ngakak
sa ae gan... emoticon-Malu (S)
profile-picture
valbo memberi reputasi
gelar tiker disini ah seru kayanya...
profile-picture
profile-picture
papahmuda099 dan indrag057 memberi reputasi
Teror Dimulai?






Aku bekerja dengan hati yang agak tenang. Karena Alhamdulillah, sekarang istriku sudah kembali seperti semula. Akan tetapi, aku juga menyadari akan satu hal. Bahwa Sukirman pasti tidak akan membiarkan kedamaian kembali didalam rumah tangga kami.
emoticon-Marah
(Kampret emang)


Entah kenapa, aku mempunyai sebuah keyakinan, bahwa cepat atau lambat, dia pasti akan berbuat sesuatu.


Selama bekerja, aku juga lebih memperhatikan istriku dirumah. Karena aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku harus bisa menjadi suami yang lebih baik lagi. Aku tak mau, kejadian yang sama terulang kembali. Hanya gara-gara sifat cuek yang aku punya.


Sorepun datang. Aku lalu pulang ke rumah. Entah kenapa, sekarang ini aku ingin selalu berada di samping istriku setiap saat.
emoticon-Malu


Sesampainya aku dirumah, istriku menyambut dengan hangat. Sebuah senyum yang merekah dari bibirnya, membuang semua rasa lelahku setelah seharian ini bekerja.


"Gimana hari, Bun? Amankan?" Tanyaku sembari membuka sepatu diteras depan.


"Aman sayang, Alhamdulillah," jawabnya sambil memberiku gelas berisi air dingin.


Setelah meneguk air dingin itu, tubuhku kembali segar. Kami lalu masuk dan menutup pintu.


Aku lalu berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih badan.


Malam mulai larut. Sekitar jam 10 malam, setelah solat isya bersama. Kami tidur dan parahnya aku lupa mengamalkan amalan dari abah.


Sekitar jam 2 dini hari, aku terbangun dengan tubuh agak basah kuyup. Kamarku, entah kenapa terasa agak panas. 


Didalam gelap yang remang-remang, karena semua lampu aku matikan (kecuali lampu didapur). Aku memperhatikan istriku. Ia tampak tidur dengan nyenyak. Seperti tidak merasakan hawa panas yang saat ini sedang aku rasakan.


Aku lalu melihat sekelilingku. Kipas angin masih menyala. Semua juga sama seperti biasanya. Tak ada yang aneh.


"Ah...," aku mendesah dalam hati.


Dengan sedikit hati-hati. Aku turun dari ranjang. Aku lalu berjalan menuju ruang depan sambil membawa bantal.


Kunyalakan kipas angin yang menempel didinding. Aku lalu merebahkan tubuh dilantai keramik yang dingin. 


"Hehehe...," Aku tersenyum sendiri, karena merasa panas tubuhku agak berkurang. Aku lalu mulai memejamkan mata.


Tapi perasaan tak nyaman kembali muncul. Seperti ada sesuatu yang aneh, sesuatu itu seperti tatapan mata yang terus menerus memperhatikanku. Dan itu sangat tidak membuatku nyaman.


Tak ada perasaan merinding. Hanya saja aku merasa tidak nyaman. Aku membuka mataku, tapi anehnya, mataku tidak mau untuk kubuka.


Seperti ada yang mencegahku untuk membuka mata ini. Aku berniat untuk membuka mata, tetapi pikiran dikepala ini berusaha keras untuk mencegahku untuk melakukannya.


Didalam pikiranku, doi seolah-olah berkata.


"Jangan kau buka matamu saat ini bro. Karena saat ini, didepanmu ada sesuatu yang tidak ingin kamu lihat,"


Deg!


Aku memang merasakan bahwa jika aku membuka mataku. Aku akan melihat sebuah sosok berwujud hitam yang saat ini tengah berdiri diatas tubuhku.


Sosok itu berdiri tepat diatas tubuhku. Kedua kakinya berada tepat dikiri dan kanan tubuhku. Lalu tubuhnya sedikit terbungkuk dan wajahnya yang seperti wajah babon itu, sedikit menunduk sambil menatap lekat wajahku.

Ilustrasi breee...
Pelet Orang Banten
(sumber dari google)


Ya, entah bagaimana caranya, aku bisa membayangkan sosok itu dengan agak jelas. Seperti aku sedang berdiri disamping tubuhku yang sedang tiduran dilantai.


Jadi aku bisa melihat tubuhku dan makhluk hitam berwajah seperti wajah babon yang sedang berdiri setengah menunduk diatas tubuhku.


Aku tak tahu, apakah itu wujud dari makhluk yang bernama genderuwo, atau sosok jin lainnya. Yang pasti, aku bisa melihat jelas wujud dari makhluk itu. Tinggi sekitar 2 meteran, hitam, matanya sipit berwarna keputihan, wajahnya hampir seperti wajah babon, lalu tangannya yang panjang sedikit melewati lututnya.

Ilustrasi lagi breee...
Pelet Orang Banten
(sumber, google lagi breee)


Aku harap-harap cemas. Aku berdoa dalam hati, semoga aku tidak terbangun ataupun membuka mata. 


Keringat dingin sudah bercucuran di keningku. Bahkan mungkin sekujur tubuhku sudah basah oleh keringat, yang keluar akibat kejadian aneh ini. 


Sesaat kemudian, aku melihat salah satu dari tangan makhluk itu bergerak terjulur ke arah wajahku. Aku menelan ludah, jantungku berdegup keras. Menantikan apa yang akan dilakukan olehnya. Apakah ia akan mencakarku, atau bahkan mencabik-cabik wajah dan seluruh tubuhku? 

Lagi breee...
Pelet Orang Banten
(masih google sumbernya)


Entahlah...sebab, akupun masih menunggu apa yang akan terjadi.


Pelan tapi pasti, jari-jari makhluk itu mendekat ke wajahku. Disisi lain, aku hendak menjerit dan menerjang ke arahnya.


Tapi, aku tak bisa melakukan hal tersebut. Aku hanya bisa diam dan diam melihatnya. Yang bisa kulakukan hanyalah menonton kelakuan makhluk hitam itu.


Disaat beberapa centimeter lagi jari-jarinya akan menyentuh wajahku, tiba-tiba saja makhluk itu menghentikan aksinya.


Aku tegang.


Lamat-lamat, aku mendengar suara adzan subuh berkumandang dimasjid yang ada di sekitar kontrakanku.


Aku lalu kembali berfokus pada sosok hitam yang masih berdiri setengah menunduk diatas tubuhku yang tengah tertidur.


Entah kenapa, aku bisa merasakan bahwa makhluk hitam itu seperti ingin meneruskan maksudnya. Tapi, ada sesuatu yang tak kasat mata yang menahannya. Sehingga ia tampak kesulitan untuk meneruskan maksudnya itu.


Kemudian...


"Grrr....,"


Makhluk itu seperti mengeluarkan suara geraman. Suaranya persis seperti suara singa atau harimau yang sedang menggeram.


Sekujur tubuhku merinding tiba-tiba, demi mendengar suara geraman itu. Makhluk itu seperti kesal dan marah, karena maksud dan keinginannya tidak bisa ia lakukan.


Dan kembali seperti saat ia menunduk diatas tubuhku, ketika makhluk itu mengangkat tubuhnya agar tegak lurus, gerakannya juga sangat lambat. Seperti kakek-kakek yang sudah tua renta. Yang takut jika ada tulang-tulangnya yang patah bila melakukan gerakan yang tiba-tiba dan cepat.


Ketika makhluk itu berhasil meluruskan tubuhnya kembali. Ia lalu berjalan perlahan melangkahi tubuhku dan terus menembus tembok depan kontrakanku.


Aku terengah-engah, aku entah kenapa seperti orang yang baru saja menahan nafas panjang. Perasaan lega langsung kurasakan ketika aku yakin bahwa makhluk itu sudah tak ada lagi disekitarku.


Dan....


"Triinnggg.... triinnggg!"


Suara alarm handphoneku berbunyi.


Aku membuka mata.



Sekujur tubuhku basah kuyup oleh keringat yang keluar dari tubuhku. Padahal ubin tempatku berbaring sangat dingin karena hawa malam dan kipas angin yang kunyalakan semalam suntuk.


Aku lalu bangun dari posisi tidurku dan duduk. Nafasku sedikit terengah-engah. Aku bertanya didalam hati. Apakah yang tadi aku lihat itu mimpi atau bukan.


Dan tak selang beberapa lama...


"Ctak...!"


Suara saklar lampu terdengar disusul dengan cahaya terang yang sedikit membuatku silau.


"Ayah... ngapain tidur diluar?" Tanya istriku sambil menatapku.


Aku hanya bisa tersenyum.


"Gerah," sahutku pelan.


"Ya ampun, badannya kok bisa basah kuyup gitu. Perasaan bunda disini dingin gini. Kok bisa ayah keringetan begitu?" Tanya istriku.


Aku mengangkat bahuku, "gak tau. Panas aja bawaannya,"


"Ya udah atuh, sekalian mandi aja sana. Terus solat subuh," perintah istriku.


"Siap 86, ibu negara," kataku.


"Huh...dasar,"


Aku tertawa.


Aku lalu mengikuti saran dari istriku. Mandi dan solat subuh.


Setelah selesai, aku merasakan tubuhku kembali segar. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Aku lalu membuka pintu depan dan duduk diteras kontrakanku. Tak lama istriku juga keluar dan menemaniku duduk diteras.


"Udah solat subuh, Bun?" Tanyaku.


"Udah, yah,"


"Oh iya, hari ini bunda masuk kerja ya?"


Istriku mengangguk.


"Mudah-mudahan gak ada bisik-bisik tetangga ya Bun," kataku sambil melihat wajahnya.


Istriku menghela nafasnya. Kemudian ia tersenyum dan berkata.


"Bunda gak perduli dengan omongan orang, yah. Karena belum tentu mereka tahu yang sesungguhnya. Yang paling penting buat bunda adalah, ayah."


Aku mengerutkan alis.


"Kok ayah?" Tanyaku.


Istriku mengangguk, "iya, yang paling penting buat bunda adalah, ayah sudah kembali percaya sama bunda. Dan buat bunda itu lebih dari cukup untuk memberikan bunda kekuatan buat ngadepin gunjingan orang. Lagian juga bunda yakin, mereka ngomonginnya pasti dibelakang bunda. Gak bakalan berani mereka ngomong didepan bunda." 


Aku tersenyum senang. Inilah istriku yang aku kenal. Tak gentar menghadapi apapun selama ia benar.


Aku kemudian mengusap rambut panjangnya. 


"Sarapan yuk," kataku.


Istriku mengangguk.

"Tapi...," Kata istriku sambil berdiri didepan pintu.

Aku menatap heran wajahnya.

"Tapi kenapa, bun?" Tanyaku agak cemas.

"Tapi bunda gak masak, ayah," jawabnya.

Aku menghela nafas begitu mendengar jawabannya. Sambil tertawa akupun berkata.

"Ya beli aja kalau gitu,"

"Ayuk," jawabnya.

Kami berdua lalu berjalan kearah tukang nasi uduk.






*





Tapi Sukirman malah senyum.

"Masa bodoh dengan suamimu. Tapi, kalau kamu tak bisa aku miliki, maka suamimu juga gak akan bisa milikin kamu,"




***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh papahmuda099
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
halooo.....
sukirman....
Sudirman.....
Sufirman....
Halooo........halooo
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Lanjut dong gan sampai endingnya Sukirman gimana .. supaya ada moral storinya. thanks gan
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
nitip sendal bre emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
semutjepang248 dan papahmuda099 memberi reputasi
Quote:


Akhirnya, yang ditunggu2 tlah tiba. Thank's gan update'y
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
Nitip sendal ya masbro
profile-picture
profile-picture
papahmuda099 dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
blm ada update lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
.noiss. dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Besok update lagi breee...
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
danhen dan 3 lainnya memberi reputasi
Nitip sandal gan...
Awas ilang.....:dor
profile-picture
profile-picture
papahmuda099 dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
update ditunggu gan
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
setelah selesai Sesi 1 dan mulai lanjut dengan sesi ke 2, pasti bakal lebih seru nih, karena itu maka dengan ini ane akan mulai ikut mantengin trit agan...
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
Sukirman itu khan sudah berkeluarga ?, jika dia adalah anak buah Ibu Rara, tentunya semua data alamatnya pasti diketahui, akan lebih mudah melacak keberadaan keluarga sukirman, bagimana jika dilakukan sedikit penyelidikan mengenai bagimana kondisi keluarganya , dan apakah ada masalah di keluarganya? Apakah masalahnya berat? mungkin bisa di carikan solusinya? pendekatan ini masih sebatas kemanusiaan saja, dengan sedikit perhatian itu semoga terbuka pintu hati sukirman dan menghentikan terornya. Namun jika persolan sudah pelik dan tdk bisa di tangani, ya mau gak mau harus siap menghadapi teror sukirman, jika perlu membalasnya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Ancaman




Rabu pagi...


Istriku berangkat bekerja seperti biasanya. Namun, aku yang melepas keberangkatannya tahu, bahwa dibalik sikap tegarnya itu, tersembunyi rasa khawatir. Tapi, aku percaya sepenuhnya kepada istriku. Aku yakin, bahwa ia akan bisa mengatasi permasalahannya. Karena aku tahu, siapa itu istriku.


Siang itu, semua berjalan dengan normal. Aku bekerja dengan baik tanpa adanya gangguan apapun. Sehingga kejadian semalam bisa aku lupakan. Hanya saja, tubuhku sedikit terasa berat dan agak pegal-pegal.


Maghrib, aku pulang kerja. Dan sampai rumah bertepatan dengan adzan isya.


Aku mendapati istriku tengah duduk dengan wajah agak tegang. Rasa khawatir menyergapku. 


Aku segera mendekatinya. 


Aku duduk disampingnya. Istriku memandangku dengan tatapan mata sedikit aneh.


"Ada apa lagi ini," ucapku dalam hati.


Sambil menggenggam tangannya, aku lalu bertanya.


"Bun, ada apa?"


Istriku memandangku, aku merasakan bahwa ia hendak berkata akan sesuatu. Tapi keragu-raguan tampak membayang dimatanya.


"Ada apa, sayang? Ngomong aja, jangan ragu-ragu," desakku pelan.


Setelah menunggu beberapa saat, istriku membuka mulutnya.


"Tapi ayah janji ya?"


Aku mengerenyitkan alis. 


"Maksudnya?"


"Iya, bunda mau ayah janji dulu. Nanti bunda akan cerita," kata istriku.


Aku yang penasaran akhirnya mengikuti kemauannya.


"Iya iya, ayah janji," kataku pada akhirnya.


"Ayah janji gak bakal marah dan berbuat yang enggak-enggak, ya?" Kembali istriku mencoba meminta janjiku.


Aku mulai berpikiran yang aneh-aneh. Filingku berkata, bahwa apa yang akan istriku katakan masih ada sangkut-pautnya dengan sikampret itu.
emoticon-Marah


Tapi, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Akupun mengangguk sambil berjanji bahwa aku tidak akan marah.


Setelah mendengar janjiku, istriku lalu mulai bercerita.



*




"Jadi, tadi siang. Sewaktu bunda selesai istirahat siang. Bunda mau masuk lagi ke pabrik,"


Tapi, sebelum bunda masuk, Sukirman tau-tau ada didepan bunda.


Otomatis bunda berhenti, karena dia berdiri seperti menghadang jalan bunda.


Aku memandangi istriku dengan jantung yang seperti mulai dipompa.


Bunda akhirnya tanya.


"Apa maksud kamu berdiri disitu. Awas, minggir!" Kata bunda agak keras. 


Karena mau bagaimanapun, posisi bunda dipabrik itu lebih tinggi daripada dia. Jadi bunda harus menunjukkan sama dia kalau bunda ini atasannya.


Tapi, bukannya jawab pertanyaan bunda, Sukirman malah berjalan mendekat.


Otomatis bunda mundur, karena bunda gak mau orang-orang pada punya pikiran aneh.


Tapi Sukirman jalannya agak cepet. Terus, pas dia udah dideket bunda, dia berkata agak pelan.


"Gak ada yang bisa memisahkan kita didunia ini. Hanya kematian yang bisa memisahkan aku darimu. Kamu milikku. Gak ada yang boleh memiliku kamu selain aku,"


Bunda langsung merinding begitu Sukirman ngomong kayak gitu. Tapi kemudian bunda emosi.


"Maksud kamu ngomong kayak gitu apa? Kamu lupa ya, saya ini sudah bersuami. Jadi saya ini sudah ada yang milikin. Yaitu suami saya!"


Tapi Sukirman malah senyum.


"Masa bodoh dengan suamimu. Tapi, kalau kamu tak bisa aku miliki, maka suamimu juga gak akan bisa milikin kamu,"


"Gila kamu ya?! Awas, minggir!"


Bunda tinggalin aja dia. Selain bunda marah sama kata-katanya, bunda juga takut sama ancamannya.


Terus bunda juga masih denger dia bilang...


"liat aja nanti,"




*




Istriku menyudahi ceritanya. 


Aku merasakan kalau dadaku ini seperti sesak. Penuh dengan rasa marah yang menggumpal. Perasaan marah itu seperti memenuhi semua rongga dadaku. Sangat menyesakan dada.
emoticon-Marah


Aku lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang. Sambil sesekali beristighfar didalam hati. 


Aku mencoba untuk bisa mengendalikan emosi yang mulai merasuki badanku.


Istriku sendiri kulihat tegang melihat kelakuanku yang menarik nafas panjang terus menerus sampai beberapa kali.


"Ayah...,"


Panggilan istriku kembali menyadarkanku dari permainan tarik nafas itu.


Aku lalu melihat wajah cantiknya. Sebuah senyuman lalu tersungging dari bibirku.


"aku harus bisa mengendalikan diri didepannya. Jangan sampai ia tahu isi hatiku yang sebenarnya,"kataku dalam hati.


Yup, setelah bersusah payah aku akhirnya bisa mengendalikan emosi yang tadi memenuhi seluruh rongga ditubuhku. Meskipun aku tahu, kalau tak sepenuhnya hal itu benar.

Tapi, untuk saat ini. Aku harus bersikap seolah-olah aku bisa menahan emosiku. Agar istriku tidak khawatir. Tapi, didalam hati, aku sudah merencanakan sesuatu untuk si kampret itu.


"Iya sayang," jawabku sambil menggenggam erat tangannya.


"Ayah enggak marahkan?"


Aku sedikit tersenyum. Senyum yang sangat aku jaga keasliannya didepannya.


"Kalau marah pasti ayah bakalan marah. Karena suami mana yang rela kalau istrinya diganggu sama orang asing. Ditambah lagi bukan gangguan biasa, tapi sudah masuk kategori gangguan berat. Tapi, ayah berpikir percuma kalau masalah ini diselesaikan dengan amarah. Yang ada malah ayah yang rugi," jawabku panjang lebar.


"Tapi, ayah harap bunda juga hati-hati mulai sekarang. Jangan makan atau minum air pemberian dari orang. Sama jangan lupa amalkan amalan yang sudah Abah kasih ke kita," kataku.


"Iya, ayah. Bunda juga selalu berdoa agar rumah tangga kita dijauhkan dari segala macam marabahaya. Baik itu yang nyata maupun yang ghaib," sahut istriku.


"Aamiin," aku mengamini ucapannya. Karena kalau kata orang tua, ucapan itu adalah sebuah doa.


Hening sejenak merayapi ruang depan kontrakanku. Kami berdua sibuk dengan angan-angan kami. 


Tapi kemudian aku disadarkan oleh cubitan istriku.


"Mandi... mandi," ucapnya.


"Hehehe...iya iya," kataku sambil mencium keningnya.


Aku lalu membersihkan diri. Dan setelah itu, kami solat isya berjamaah diruang depan.


Sekitar jam 10 malam, kami berdua segera beristirahat di kamar.


Aku berdoa agar malam ini tidak terjadi hal-hal yang aneh dan ganjil. Karena jujur saja, aku ini tidak punya pegangan apapun untuk menghadapi hal-hal yang ganjil.


Kalau gangguan bersifat nyata, dalam artian masih manusia, satu atau dua orang aku masih yakin menghadapinya. Karena gini-gini, aku memiliki sedikit bekal dari guru silatku, silat khas orang Betawi.


Tapi, kalau gangguan itu bersifat ghaib, maka aku hanya bisa tersenyum manis dan berharap agar segera pingsan.
emoticon-Ngakak


Setelah berdoa secukupnya, aku lalu mulai memejamkan mata.



*




Aku berdiri disebuah perempatan besar, ditengah hiruk-pikuknya orang dan kendaraan yang tengah berlalu lalang. Saat itu siang hari, karena aku bisa dengan jelas melihat sekitar.


Aku menoleh kearah kanan.


Disana kulihat sebuah bangunan besar yang terhubung dengan bangunan disebarang jalan sana. Terhubung dengan menggunakan sebuah jembatan besar yang memanjang. Bukan jembatan, tapi mungkin bisa disebut sebuah lorong panjang dan besar. 


Dilorong itu menempel berbagai macam poster dan banner.


"Ah, aku kenal ini. Inikan diperempatan Mall Pondok Indah," gumamku.

Pelet Orang Banten
(sumber google bree)


Aku melihat-lihat keadaan sekitar. Kemudian, disaat aku memandang keatas, aku terkejut.


Kenapa?


Karena ternyata diatas perempatan jalan itu, ada jalan layang sendiri. Dan diatas sana juga banyak kendaraan berlalu lalang. Bahkan aku baru menyadari, kalau tiang lampu merah yang ada diperempatan jalan itu memanjang sampai keatas sana. Sehingga diatas sana ada juga lampu merahnya.


Disitu aku mulai sadar. Kalau ini adalah mimpi. 


Dan saat aku menyadari hal itu. Aku tersenyum. 


Why?


Because, lucid dream kali ini aku berada disebuah kota besar. Pondok indah, Jakarta Selatan!


Yang artinya, disitu banyak perempuan-perempuan cantik!
emoticon-Betty


Tidak seperti lucid dream yang kemarin, saat aku tersadar disebuah hutan bambu dan bertemu sosok yang mengerikan.


Kali ini tidak.


Aku mengalami kejadian lucid dream disebuah kota, disiang hari pula. Dan itu membuat presentasi bertemu sosok aneh hampir 0%.


"Ini mimpiku, dan akulah yang mengendalikannya," kataku mantap.
emoticon-Cool


Secepat mungkin aku berusaha untuk bisa segera sampai di Mall Pondok Indah itu. 


"Terserah mau PIM 1 ataupun PIM 2. Yang penting bisa ketemu sama perempuan cantik," kataku sambil berjalan agak cepat. Karena percuma saja jika aku berlari. Toh nantinya malah aku akan melambat jika aku paksakan untuk berlari.


Pintu lobby utama mall mulai terlihat. Aku semakin bergegas menuju lobby utama itu. Aku bisa melihat orang-orang yang keluar masuk dari pintu itu.


Aku harus cepat sebelum aku nantinya terbangun.


"Mimpi basah...i'm coming,"
emoticon-2 Jempol


Sesampainya aku di pintu, aku dihadang oleh seorang petugas keamanan.


Aku berhenti. 


Aku agak heran juga, karena biasanya kalau aku mengalami lucid dream, aku tidak pernah menemukan ada orang-orang yang memperhatikanku. 


Tapi kali ini beda. 


Petugas keamanan itu menghentikan langkahku dengan cara menyilangkan tongkatnya.


Hampir saja aku menepis tongkat yang menghalangi jalanku itu.


Tapi, aku tak jadi melakukannya karena aku melihat sosok yang sangat familiar yang berdiri menghalangi langkahku itu.


Ternyata, petugas keamanan itu adalah bapakku sendiri.


Aku terdiam.


Aku lalu mulai merasakan tanda-tanda bahwa aku akan segera terjaga dari tidurku.


Dan, sebelum aku terjaga. Sosok yang menyerupai bapakku itu berkata singkat.


"Temui bapak...,"




*




Aku membuka mata.


Suasana kamar tampak gelap, karena lampu yang kami matikan. Setelah aku membiasakan kedua mataku dalam susana ini, mataku mulai bisa melihat meskipun masih agak gelap. Entah jam berapa waktu itu, aku tak sempat melihat. Yang pasti, saat itu adalah saat wayah sepi uwong.


Aku berjalan keruang depan. Membuka kulkas, mengambil sekotak susu coklat dan mulai meneguknya langsung dari wadahnya


Aku meletakkan kembali susu itu kedalam kulkas. Kemudian kututup kulkas itu.


Sambil berdiri, aku masih memikirkan mimpi barusan. 


"Temui bapak...," kataku pelan sambil mengulangi ucapan bapak dimimpi tadi.


Memang, sudah hampir 2 bulan aku belum mengunjunginya. Padahal tempat tinggalnya tak seberapa jauh dari kontrakanku. Hanya satu jam perjalanan menggunakan motor.


Tapi, karena kesibukanku dalam mengejar duniawi, membuatku seolah tidak punya waktu untuk silaturahmi kepada keluargaku sendiri.


"Hehhhh....," Aku menghela nafas panjang. Seolah berusaha untuk melepaskan semua beban berat yang kutahan ini.


Aku lalu memantapkan hati untuk secepatnya mengunjungi keluarga bapak. Aku segera berbalik dengan maksud untuk kembali kekamar.


Akan tetapi, aku merasakan bahwa ada sesuatu yang memperhatikanku dari arah luar.


Aku mencoba untuk membiarkannya. Tapi entah kenapa aku malah menjadi semakin penasaran. Apakah itu, sampai-sampai aku bisa merasakannya.


Aku melangkahkan kakiku kekamar, tapi, baru saja 2 langkah aku berjalan. Dari arah belakang tubuh, aku merasa ada sesuatu yang meniup-niup leherku.


Dingin...dan membuat bulu kudukku meremang.
emoticon-Takut


Aku langsung berhenti melangkah.


"Fuuuhhh....," Tiupan angin itu kembali kurasakan dileher bagian belakang.


Jantungku berdegup kencang. Seluruh tubuhku tiba-tiba saja sulit untuk aku gerakan. Bahkan, hanya untuk melirik saja aku tak sanggup melakukannya.


"Ada yang gak beres nih," desisku.


Lalu...







***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 29 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Ada yang gak beres nih," desisku.


Lalu...
... kentang krispi balado
profile-picture
profile-picture
Cupu1971 dan papahmuda099 memberi reputasi
Lalu kentang emoticon-Wink
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
Lalu kemana bangggg
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
wah ngeri benerr
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nitip rokok sebungkus dimari bre.... cerita dan tulisan nya bagus enak diikutin
profile-picture
papahmuda099 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 26 dari 57


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di