CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e79fd2d65b24d29f02bada4/pelet-orang-banten

Pelet Orang Banten




Assalamualaikum wr.wb.



Perkenalkan, aku adalah seorang suami yang saat kisah ini terjadi, tepat berusia 30 tahun. Aku berasal dari Jawa tengah, tepatnya disebuah desa yang masih termasuk kedalam wilayah kabupaten P.

Aku, bekerja disebuah BUMN sebagai tenaga outsourcing di pinggiran kota Jakarta.


Sedangkan istriku, adalah seorang perempuan sumatra berdarah Banten. Istriku ini, sebut saja namanya Rara ( daripada sebut saja mawar, malah nantinya jadi cerita kriminal lagi ), bekerja disebuah pabrik kecil di daerah kabupaten tangerang, sejak akhir tahun 2016. Istriku ini, karena sudah memiliki pengalaman bekerja disebuah pabrik besar di serang banten, maka ia ditawari menduduki jabatan yang lumayan tinggi dipabrik tersebut.


Dan alhamdulillah, kami sudah memiliki seorang anak perempuan yang saat ini sudah berusia 8 tahun. Hanya saja, dikarenakan kami berdua sama-sama sibuk dalam bekerja, berangkat pagi pulang malam, jadi semenjak 2016 akhir, anak semata wayang kami ini, kami titipkan ditempat orang tuaku di Jawa sana.


Oya, sewaktu kejadian ini terjadi (dan sampai saat ini), kami tinggal disebuah kontrakan besar dan panjang. Ada sekitar 15 kontrakan disana. Letak kontrakan kami tidak terlalu jauh dari pabrik tempat istriku bekerja. Jadi, bila istriku berangkat, ia cukup berjalan kaki saja. Pun jika istirahat, istriku bisa pulang dan istirahat dirumah.


Oke, aku kira cukup untuk perkenalannya. Kini saatnya aku bercerita akan kejadian NYATA yang aku alami. Sebuah kejadian yang bukan saja hampir membuat rumah tangga kami berantakan, tapi juga nyaris merenggut nyawaku dan istriku !

Aku bukannya ingin mengumbar aib rumah tanggaku, tapi aku berharap, agar para pembaca bisa untuk setidaknya mengambil hikmah dan pelajaran dari kisahku ini
emoticon-Shakehand2


*


Bismillahirrahmanirrahim



Senin pagi, tanggal 10 februari 2020.


Biasanya, jam 7 kurang sedikit, istriku pamit untuk berangkat bekerja. Tapi hari ini, ia mengambil cuti 2 hari ( Senin dan selasa ), dikarenakan ia hendak pergi ke Balaraja untuk melakukan interview kerja. Istriku mendapatkan penawaran kerja dari salah satu pabrik yang ada disana dan dengan gaji yang lebih besar dari gaji yang ia terima sekarang.


Karena hanya ada 1 motor, dan itu aku gunakan untuk kerja, ia memutuskan untuk naik ojek online saja.


Awalnya aku hendak mengantarnya
emoticon-Ngacir tapi jam interview dan jam aku berangkat kerja sama. Akhirnya, aku hanya bisa berpesan hati-hati saja kepadanya.


Pagi itu, kami sempat mengobrol dan berandai-andi jika nantinya istriku jadi untuk bekerja di balaraja.

"Kalau nanti bunda jadi kerja disana, gimana nanti pulang perginya ?" kataku agak malas. Karena memikirkan bagaimana aku harus antar jemput.

"Nanti bunda bisa bisa ajak 1 anak buah bunda dari pabrik lama, yah," jawab istriku, "nanti dia bunda ajak kerja disana bareng. Kebetulan rumah dia juga deket disini-sini juga."

Wajahku langsung cerah begitu tahu, kalau aku nantinya tidak terlalu repot untuk antar jemput.

"Siapa emang, bun?" tanyaku, "Diki?"

Diki adalah salah satu anak buah istriku dipabrik ini. Diki juga sudah kami anggap sebagai adik sendiri. Selain sesama orang lampung, juga karena kami sudah mengenal sifat anak muda itu.

"Bukan," jawab istriku.

Aku langsung memandang istriku dengan heran.

"Terus siapa?"

"Sukirman, yah. Dia anak buah bunda juga. Kerjanya bagus, makanya mau bunda ajak buat bantu bunda nanti disana."

"Kenapa bukan diki aja, bun?" tanyaku setengah menuntut.

Istriku menggelengkan kepalanya.

"Diki masih diperluin dipabrik bunda yang lama. Gak enak juga main asal ambil aja sama bos. Kalo kirman ini, dia emang anak buah bunda. Kasihan, yah. Dia disini gajinya harian. Mana dia anak udah 2 masih kecil-kecil lagi." Istriku menerangkan panjang lebar.

Aku akhirnya meng-iyakan perkataannya tersebut. Aku berfikir, "ah, yang penting aku gak susah. Gak capek bolak balik antar jemput. Lagian maksud istriku juga baik, membantu anak buahnya yang susah."

"Ya udah, bun. Asalkan jaga kepercayaan ayah ya sayang," aku akhirnya memilih untuk mempercayainya.


Jam 09:00 pas, aku berangkat kerja. Tak lupa aku berpamitan kepada istriku. Setelah itu aku berangkat dengan mengendarai sepeda motor berjenis matic miliku.


Waktu tempuh dari kontrakanku ketempat kerja sekitar 40-50 menit dengan jalan santai. Jadi ya seperti biasa, saat itu aku menarik gas motorku diantara kecepatan 50 km/jam.


Tapi tiba-tiba, saat aku sudah sampai disekitaran daerah Jatiuwung. Motorku tiba-tiba saja mati
emoticon-Cape deeehh


"Ya ampun, kenapa nih motor. Kok tau-tau mati," kataku dalam hati.


Aku lalu mendorong motorku kepinggir. Lalu aku coba menekan stater motor, hanya terdengar suara "cekiskiskiskis...," saja
emoticon-Ngakak


Gagal aku stater, aku coba lagi dengan cara diengkol. 


Motor aku standar 2. Lalu aku mulai mengengkol.


Terasa enteng tanpa ada angin balik ( ya pokoknya ngemposlah ) yang keluar dari motor.


"Ya elah, masa kumat lagi sih ini penyakit," ujarku mengetahui penyebab mati mendadaknya motorku ini.


Penyebabnya adalah los kompresi
emoticon-Cape d... Penyakit ini, memang dulu sering motorku alami. Tapi itu sudah lama sekali, kalau tidak salah ingat, motorku terakhir mengalami los kompresi adalah sekitar tahun 2017.


Lalu, entah mengapa. Aku tiba-tiba saja merasakan perubahan pada moodku. 


Yang awalnya baik-baik saja sedari berangkat, langsung berubah menjadi jelek begitu mengalami kejadian los kompresi ini.


Hanya saja, aku mencoba untuk bersabar dengan cara memilih langsung mendorong motorku mencari bengkel terdekat.


Selama mendorong motor ini, aku terus menerus ber-istighfar didalam hati. Soalnya, gak tau kenapa, timbul perasaan was-was dan pikiran-pikiran buruk yang terus melintas dibenak ini.


"Astaghfirullah...Astaghfirullah...semoga ini bukan pertanda buruk," kalimat itu terus kuulang-ulang didalam hati.


Alhamdulillah, tak lama kemudian, aku menemukan sebuah bengkel. Aku langsung menjelaskan permasalahan motorku.


Oleh si lay, aku disarankan untuk ganti busi. Aku sih oke-oke saja. Yang penting cepet beres. Karena aku tidak mau terlambat dalam bekerja.


"Bang, motornya nanti lubang businya aku taruh oli sedikit ya," kata si lay itu padaku. Lalu lanjutnya, "nanti agak ngebul sedikit. Tapi tenang aja, bang. Itu cuman karena olinya aja kok. Nanti juga ilang sendiri."


"Atur aja bang," kataku cepat.


Sekitar 5 menit motorku diperbaiki olehnya. Dan benar saja, motorku memang langsung menyala, tapi kulihat ada asap yang keluar dari knalpot motorku.


"Nanti jangan kau gas kencang dulu, bang," katanya.


"Oke,"


Setelah membayar biaya ganti busi dan lainnya. Aku langsung melanjutkan perjalananku.


Aku sampai dikantor telat 5 menit. Yakni jam 10:05. Jam operasional kantorku sudah buka. Aku langsung menjelaskan penyebab keterlambatanku kepada atasanku. Syukurnya, merek mengerti akan penjelasan ku. Hanya saja, kalau nanti ada apa-apa lagi, aku dimintanya untuk memberikan kabar lewat telepon atau WA.


Aku lalu, mulai bekerja seperti biasa lagi.


Jam menunjukan pukul 12:00 wib.


Itu adalah jam istirahat pabrik istriku. Aku lalu menulis chat untuknya. Contreng 2, tapi tak kunjung dibacanya. Aku lalu berinisiatif untuk menelponnya. Berdering, tapi tak diangkat juga.


"Kemana ini orang....," kataku agak kesal.


"Ya udahlah, nanti juga ngabarin balik," ujarku menghibur diri.


Jam 13:30 siang, disaat aku hendak melaksanak ibadah solat Dzuhur. HPku berdering. 


Kulihat disana tidak tertera nama, hanya nomer telpon saja.


"Nomer siapa nih," desisku.


Awalnya aku malas untuk mengangkatnya.


Tapi sekali lagi nomer itu meneleponku.


Dan, entah kenapa jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih cepat. Hatiku langsung merasakan ada sesuatu yang tidak menyenangkan akan aku dapatkan, bila aku mengangkat telpon ini.


Dengan berdebar, aku lalu menekan tombol hijau di HPku.


"Halo, Assalamualaikum...," jawabku.


"Halo, waalaikumsalam...," kata si penelpon.


"Maaf, ini siapa ya ?" tanyaku.


"Ini saya, mas. Sumarno," jawabnya.


"Oh, mas Sumarno," kataku.


Sumarno adalah laki-laki yang diserahi tanggung jawab untuk mengawasi dan mengurus kontrakan tempatku tinggal.


"Ada apa ya, mas ?" tanyaku dengan jantung berdebar-debar.


"Maaf mas sebelumnya," jawab mas Sumarno.


Aku menunggu kelanjutan kalimat mas Sumarno ini dengan tidak sabar.


Lalu, penjaga kontrakan kami ini melanjutkan ucapannya. Ucapan yang membuat lututku lemas, tubuhku menggigil hebat. Sebuah ucapan yang rasanya tidak akan terjadi selama aku mengenal istriku. Dari sejak kami berpacaran sampai akhirnya kami menikah.


Mas Sumarno berkata, "Mbak Rara berduaan sama laki-laki didalam kontrakan sekarang. Dan pintu dikunci dari dalam."



***



Part 1

Pelet Orang Banten




Quote:




Part 2

Teror Alam Ghaib


Quote:




Terima kasih kepada agan zafin atas bantuannya, dan terutama kepada para pembaca thread ini yang sudah sudi untuk mampir dilapak saya

emoticon-Nyepi






*
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adietaenk dan 224 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh papahmuda099
Teror Alam Gaib







Sedikit demi sedikit, pandangan mataku mulai mengabur. Bukan karena aku ingin pingsan, tapi akibat dari air mata yang mulai memenuhi kedua mata ini.

Dan ya, aku mulai menangis.


Aku menangis layaknya anak kecil yang hilang dari ibunya.

Saat itu, aku merasakan bahwa aku sendirian. Tak ada tempat yang bisa aku mintakan untuk berlindung.

Disaat aku sudah pasrah dan sedikit lagi berputus asa. Tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul dikepalaku.

"Apakah ini mimpi?" Aku berpikir seperti itu karena kadang aku memang mengalami kejadian Lucid dream, atau tersadar dalam mimpi.

Disaat aku mulai berpikir seperti itu, isak tangisku mulai mereda.

Aku lalu mencoba untuk mengingat saat-saat aku mulai tertidur sore tadi.

"Ah, mungkin saja ini mimpi pas aku tidur tadi," kataku dalam hati.

Berpikiran sampai disitu, keyakinan dan keberanianku mulai tumbuh dengan cepat seperti bunga bermekaran.

Aku lalu dengan cepat menghapus sisa-sisa air mata dan sedikit ingus dihidung mancungku.
emoticon-Malu

Setelah memejamkan mata sejenak, aku lalu menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. Berusaha mengenyahkan perasaan takut yang masih sedikit ada didalam diriku.

Setelah debar jantungku mulai kembali normal, perlahan, aku mulai berani membuka mata.

"Jreeng,"

Sosok pocong itu masih tetap berdiri disana. Kedua matanya tetap mengawasiku. Tapi, mulutnya kini tidak terbuka lagi. Mulutnya sudah tertutup.

"Asu," aku kembali memaki pelan.

Meskipun aku yakin bahwa ini adalah mimpi. Tapi bree...tetep aja serem banget itu pocong.
emoticon-Takut

"Jangan takut...jangan takut...jangan takut," aku mencoba mensugesti diriku sendiri dengan berucap sedikit keras.

"Ini mimpiku, jadi, akulah yang berkuasa disini," kataku lagi.

Aku perlahan-lahan mulai bangkit berdiri. Aku lalu memandangi pocong itu.

"Aku harus bisa berpikir bisa mengalahkannya. Karena ini hanya mimpi, maka dia juga hanyalah bayanganku saja. Jadi...,"

Aku langsung mencoba berlari kearahnya.

Awalnya memang sangat sulit. Karena memang, faktor ketakutanku kepada makhluk itu tidaklah bisa hilang sepenuhnya.

Tulang dan sendi-sendi kaki ditubuhku terasa kaku dan masih lemas saat kugerakan. Tapi aku tetap mencoba memaksakan kehendak.

Maka, dengan gerakan lari yang sedikit tertatih-tatih, aku berlari kearahnya dengan pikiran yang bercampur aduk antara berani dan takut.


Dan, setelah jarak antara ku dengannya sudah dekat,aku lalu melompat dan menerjang kearahnya sambil berteriak...

"Jangan panggil aku anak kecil, pamaann!"

(entah kenapa kata-kata itu yang keluar)
Lalu,

"Bruak!"

Tendangan kedua kakiku sukses mendarat ditubuh pocong itu. Ia terdorong dan terlempar ke belakang dan jatuh berguling-guling diatas tanah.

Sedangkan aku sendiri juga ikut jatuh di tanah. Tapi, aku sebisa mungkin segera berdiri. Takut pocong itu kembali muncul di depanku.

"Ngiiing...,"

Sepi.

Tak ada pergerakan dari pocong yang kutendang tadi.

Kulihat tubuh putihnya masih saja terbaring diatas tanah. Wajahnya tak bisa kulihat dikegelapan malam. Yang pasti, setelah aku menunggu beberapa saat, tubuhnya masih tetap saja diam terbaring disana.

Setelah beberapa saat, aku lalu bergerak mundur. Dan saat jarak kami sudah jauh, aku segera kembali berjalan.

Tapi, aku kembali terhenti.

"Tunggu, kalau ini mimpi, biasanya kalau aku lari, gerakan lariku akan jadi lambat, seperti slow motion. Tapi ini kok enggak sih. Enteng-enteng aja," pikirku.

Untuk lebih jelas, aku lalu berlari sedikit. Dan benar saja, lariku sangat enteng. Malah lebih enteng dari biasanya saat aku joging di pagi hari saat hari Minggu.

"Ini kayaknya bukan mimpi deh,"

Dan saat aku berpikiran sampai disitu, tiba-tiba saja dari arah depan, atau mungkin samping, terdengar suara men-ciap anak ayam diantara suara-suara hewan kecil dihutan ini.

Hanya satu ekor.


Dan dari suaranya, sepertinya dekat.

"Ciap...ciap...ciap,"

"Masa sih ada anak ayam...," Baru saja aku berpikir sampai disitu. Mendadak muncul sebuah ingatan. Ingatan tentang perkataan bapak.

"Kalau ada suara anak ayam ditempat yang ganjil, coba perhatikan baik-baik. Kalau suara anak ayam itu dekat, artinya bahaya itu masih jauh. Namun jika sebaliknya, suara anak ayam itu menjauh, maka sesungguhnya bahaya itu sudah dekat denganmu. Dan, saran bapak adalah, kamu sebaiknya lari atau mencari tempat untuk bersembunyi, Nang."


Jantungku kembali dipompa.

"Deg..deg..deg..deg,"

Berdegup kencang dan cepat.

Aku lalu mencoba memperhatikan dari mana datangnya suara anak ayam itu. Dengan sedikit memejamkan mata, aku berusaha berkonsentrasi pada sumber suara.

Setelah beberapa saat, Tak ada hasil. Nihil. Karena suara anak ayam itu seperti menggema ditengah hutan ini.

"Ciap...ciap...ciap!"

Suara itu masih terus terdengar disekitarku.

"Aduh, bagaimana ini?" Tanyaku pada diri sendiri.

Dan disaat aku tengah kebingungan, tiba-tiba suara anak ayam itu menjauh!

"ciap...ciap...ciap,"

"Mampus," ujarku.

Aku langsung menengok ke kanan dan kiri. Mencoba mencari tempat untuk bersembunyi. Hanya ada pohon-pohon besar disekitarku.

Lalu, tanpa berpikir lebih lama, aku segera berlari kesebuah pohon yang lumayan besar dan bersembunyi diantara akar-akarnya yang cukup besar.


Aku bersembunyi diantara akar-akarnya itu.

Dengan jantung yang berdebar-debar, aku mencoba untuk menajamkan mata dan telingaku.

Sepi.

Masih lengang.

Hanya suara-suara hewan malam saja yang masih terdengar.

Lalu...

"Slep,"

Hening.

Tak ada suara apapun. Suara hewan malam seperti jangkrik dan sebangsanya menghilang.

Pikiranku langsung berkata agar aku harus meningkatkan kewaspadaan sekarang. Karena bahaya sudah mulai mendekat.

Dan, ala yang aku duga memang benar adanya.

"Srak...srak...srak,"

Aku mendengar seperti suara langkah kaki yang menyeret sesuatu, berjalan dari kegelapan malam menuju tempatku bersembunyi.

Dari nada ada suaranya, makhluk atau apapun itu, berjalan seperti tertatih-tatih. Karena suara "srak...srak-nya" itu seperti tersendat-sendat.

Dan suara itu makin lama makin mendekat.
emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut

Aku sebisa mungkin berusaha untuk mengecilkan suara nafasku yang memburu seiring dengan mendekatnya suara langkah kaki tadi.

Dada ini, mungkin bisa pecah akibat hentakan keras yang berasal dari debaran jantungku.

"Dug...dug...dug...dug,"

Aku menekan dadaku dengan keras, berusaha untuk menahan. Takut suara jantungku terdengar oleh sosok pemilik dari suara langkah kaki itu.

Mulutku juga tak berhenti untuk berdoa membaca semua doa yang yang bisa aku pikirkan dan yang terlintas di otakku.

Aku juga waktu itu heran dengan ketakutanku yang sangat amat itu. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, sudah semingguan ini aku terus-menerus diteror dan bahkan beberapa kali masuk ke dalam alam gaib. Dan meskipun aku memang ketakutan, tapi aku tidak merasakan setakut sekarang.

Kalau diingat-ingat lagi, memang waktu kemarin-kemarinnya, saat aku mengalami hal-hal gaib, aku memang ditemani oleh seseorang. Juga karena faktor keinginanku untuk membantu istriku.

Seperti contohnya waktu di kebun Abah. Meskipun mendapat teror gaib, aku bisa melewatinya karena ada soleh waktu itu. Dan juga karena aku bertekad untuk membantu istriku.

Kemudian sewaktu aku berada di tanah Cirebon, di tempat guru bapak. Aku masuk dalam gaib, ditemani oleh Bapak.

Jadi, selama ini selalu ada yang menemani dan juga tekad kuat untuk menyelamatkan istriku.

Tapi sekarang, aku sendiri. Istriku sudah selamat. jadi memang aku tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk bisa menghadapi hal ini.

"Ya Allah tolong selamatkan aku," pintaku berdoa dalam hati sambil memejamkan mata.

Parahnya, saat aku memejamkan mata sehingga pandanganku gelap gulita. Indra pendengaran ku malah semakin sensitif. Sehingga suara-suara yang tadinya tidak bisa ku dengarkan, malah gini bisa terdengar jelas di telingaku.

Ada banyak suara di sekitarku.

Selain suara langkah kaki yang seperti menyadari sesuatu, aku juga bisa mendengar suara tawa khas dari kuntilanak, yang keberadaannya entah ada di mana. Lalu ada juga suara seperti desahan-desahan berat yang kudengar dari arah depanku. Pokoknya, saat itu aku merasakan bahwa banyak suara-suara aneh yang mengelilingi tempatku bersembunyi.

mereka semua seolah-olah sengaja berganti-gantian bersuara untuk membuat mentalku tambah down.

Dan hal itu memang berhasil.

Aku sungguh sangat lelah.

Rasanya tubuhku sudah mulai di ambang batasnya. Aku mulai merasa lemas, kepalaku seperti berputar-putar di dalam ruang yang hampa. Meskipun aku masih memejamkan mata, tapi dimataku semua pohon dan juga makhluk-makhluk yang asing terlihat seperti berputar-putar membuat jalur spiral.

Dan saat sebentar lagi aku akan ambruk, tiba-tiba di benakku muncul sesosok tubuh dengan balutan gaun panjang yang melambai-lambai tertiup angin. Rambut panjangnya tergerai kesamping, matanya yang berwarna biru menatapku dengan tatapan mata yang sejuk.

Sosok ini seolah menahan dadaku agar aku tidak roboh ke depan. Kemudian dari mulutnya keluar sebuah suara.

"Jangan tuan kalah dengan semua ini. Ada saya di dalam diri tuan yang dimasukkan oleh bos, sewaktu dirumah si bos,"

Aku memandang sosok cantik itu dengan tatapan mata yang sedikit sayu.

Kemudian seperti ada kilas balik di depanku.

Disana aku melihat waktu aku berada di rumah bapak beberapa hari yang lalu. Saat aku menginap di rumah akibat pingsan sewaktu keris Bapak berkelahi dengan makhluk kiriman Sukirman. Lalu saat aku tengah tertidur di rumah bapak, aku diuji oleh Bapak dengan sosok genderuwo. Dan setelah aku berhasil menghajarnya, aku diberikan sebuah pegangan oleh Bapak. Sehingga aku bisa mengeluarkan sebuah tinju yang bisa melukai para makhluk gaib.

Mataku kemudian terbuka lebar demi melihat kilas balik itu.

Kesadaranku kini pulih seutuhnya.

Didepanku, kini benar-benar ada sesosok perempuan cantik yang sepertinya memang pernah aku lihat disuatu tempat.

Aku memandang sosok cantik itu dengan tatapan tajam.

"Jadi, kamu khodam keris milik bapak?" Tanyaku.

Sosok cantik itu mengangguk dengan tersenyum.


Entah karena aku melihat senyum jin yang menawan itu, ataukah karena sebab yang lain. Tiba-tiba muncul sebuah keberanian untuk tidak tinggal diam dengan keadaanku sekarang.

Dengan bekal yang kupikir cukup untuk melawan mereka, apalagi aku juga didampingi oleh sosok khodam keris milik bapak, aku segera bangkit berdiri dengan mengepalkan kedua tanganku.

Sosok jin perempuan itu juga berdiri dihadapanku.

Untuk sesaat aku saling bertatapan muka dengannya. Bukan untuk melihat dan mengagumi kecantikannya, melainkan untuk melihatnya kalau ia benar-benar ada.

Untuk membuktikan keyakinanku sekali lagi.

Dengan memejamkan mata, aku berusaha untuk kembali mengingat sensasi sewaktu aku mengeluarkan tinjuku yang bisa mengalahkan jin milik bapak.

Perlahan namun pasti, aku bisa merasakan ada sesuatu yang aneh muncul dipertengahan perutku.

Sebuah hawa yang sedikit hangat muncul disana.

Didalam bayanganku, hawa yang muncul tadi lalu kupikirkan sebagai sebuah gumpalan awan yang berdiam diperutku. Lalu, gumpalan awan itu perlahan-lahan aku pecah sedikit dan kuarahkan menuju kedua tanganku.

Berhasil!

Aku bisa merasakan kedua tanganku menghangat.

Aku lalu membuka mata.

Aku bisa melihat sebuah senyum yang muncul diwajah khodam didepanku.

Lalu, perlahan namun pasti, sosok khodam itu mengabur lalu berubah menjadi asap keputihan dan masuk kedalam tubuhku.

Tepat saat seluruh asap yang berupa perwujudan dari jin khodam tadi masuk kedalam tubuhku. Aku langsung merasakan tubuhku berubah menjadi sangat enteng.

Kini, keyakinanku serta keberanianku sudah 100%.


Kemudian, dengan mengucap bismillah, aku mulai melangkahkan kakiku. Bersiap untuk bertempur melawan apapun yang ada dibalik pohon tempatku bersembunyi tadi.





***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kyotoshi dan 45 lainnya memberi reputasi
profile picture
Waa... papah hebat tidak pingsan lagi emoticon-Wink
profile picture
TS papahmuda099
kaskus holic
@makgendhis iya dongs emoticon-Cool
profile picture
pah katanya hidung papah mancung. No pict = HOAX pah emoticon-Big Grin
profile picture
TS papahmuda099
kaskus holic
@makgendhis husss...jangan. nanti yang disamping saya bisa marah kalau saya menunjukan diri emoticon-Malu
profile picture
seemhaseem
kaskus addict
"Jangan panggil aku anak kecil, pamaann!".
.
.
.
njir ini mah quotes nya shiva kartun alay vrindavan yang sering ditonton sepupu gua wkwkwkwk
profile picture
Ilustrasi nya bikin ketawa padahal cerita horor 😂
profile picture
TS papahmuda099
kaskus holic
@adietaenk biar seimbang emoticon-Jempol
profile picture
lah kok kentang gan... padal kan udah mau tempur
profile picture
TS papahmuda099
kaskus holic
@bauplunk biar penasaran
profile picture
@papahmuda099 gak bagus gan bikin orang penasaran, pamali emoticon-Ngakak
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 11 dari 11 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di