CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sebuah Luka Dibalik Cahaya Surga
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60c8ad06d5e7046cd8194981/sebuah-luka-dibalik-cahaya-surga

Sebuah Luka Dibalik Cahaya Surga

   
 Sebuah Luka Dibalik Cahaya Surga


hai agan agan sekalian sekali lagi selamat datang di trit terbaru ku Ryan, namun kali ini aku tidak menceritakan diriku, aku akan menceritakan sosok wanita cantik bernama Ratih yang memiliki kisah hidup yang cukup dramatis,

oh iya judul ini aku terinspirasi dari salah satu konten milik Kisah Tanah Jawa, namun cerita disini tidak ada hubungannya dengan cerita milik OM HAO ya hehe, hanya judul saja yang cocok untuk cerita ini

monggo untuk yang berminta membaca silahkan di simakya 

untuk trit tentang si centil Shinta dan Aruna masih terus berjalan kok tenang aja
monggo dinikmati

Oh iya jangan lupa
emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star
Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rudiajja dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh afryan015
lanjut, di gas.
Ada cerita baru dari agan ryan nih...
profile-picture
afryan015 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wiiih... Asyik nih kisah2 gini emoticon-cystg
profile-picture
afryan015 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Usaha Baru Orang Tua


Tak terasa aku pun tertidur, tapi ternyata aku terbangun jam duabelas malam karena ada bau yang membuatku terganggu, aku terbangun karena aku mencium sebuah aroma kemenyan yang dibakar, sebelumnya aku belum pernah mencium bau ini disekitar rumah, namun bau ini sangat menyengat dan kuat, selai itu juga aku mencium bau dupa yang sepertinya dibakar bersamaan dengan dengan kemenyan tadi.


Karena rasa pensaranku aku, kuputuskan untuk mencoba keluar kamar mencari asal bau itu, dan setelah ditelusuri bau tersebut berasal dari kamar ayah dan ibuku, aku sangat heran sebenarnya mereka sedang melakukan apa, tapi satu nya harapanku adalah, mas Yudi tidak memberikan pengaruh buruk pada ayah dan ibu, karena ibu dan ayah sedang tidak klop dengan ku, aku tidak berani untuk mengetuk kamar mereka, dan untuk menghilangkan kegilasanku, aku berjalan kekamar mandi untuk mengambil air wudhu dan kembali ke kamar untuk sholat tahajud.

Hanya doa yang terbaik untuk mereka yang bisa aku panjatkan agar mereka tidak melenceng dari ajaran agama yang dulu mereka ajarkan padaku.

Pagi haripun tiba, aku sudah selesai mengerjakan sholat subuh dan langsung mulai membersihkan rumah, karena nanti aku tetap harus berjualan sayur walau tidak seramai biasanya, aku melihat ibu sedang menyiapkan panci yang akan dibawanya berjualan bakso mulai nanti, sedangkan ayah entah sedang apa didalam kamar, tapi yang jelas dia mengunci pintu kamar dari dalam.

“bu, Ratih bantu ya buat angkat ke grobak nya” aku menawarkan bantuan pada ibu.

“alah nggak usah, sudah sana urusi saja urusanmu sendiri” dengan jutek ibuku menjawab.

Aku hanya bisa beristighfar karena niat baiku dibalas penolakan dari ibuku, aku masih memaklumi mungkin emosinya kemarin belum reda padaku, aku pun melanjutkan menyapu semua ruangan kecuali kamar ayah dan ibu karena terkunci dari dalam.

Jam setengah tujuh aku bersiap siap untuk berangkat berjualan sayur, saat sedang bersiap siap, aku melihat ayahku sedang mempersiapkan barang barang yang akan dibawa berjualan, namun aku merasa ada yang sedikit janggal saat ayah mempersiapkan jualannya, aku sempat melihat ayah menaburkan sebuah serbuk kedalam kaldu bakso yang tadi sudah disiapkan oleh ibuku, tapi karena mereka adalah orangtuaku aku mencoba berfikir positif saja, mungkin itu adalah bumbu tambahan.

Setelah persiapan berjualanku selesai akupun bergegas berangkat berjualan sayur, karena jika kesiangan sedikit saja jualanku sudah tidak akan laku lagi, aku hanya membawa sedikit sayur segar dan sisanya adalah sayuran sisa kemarin yang tidak laku.

Sepanjang perjalanan aku berjualan aku masih terfikir sebenarnya apa yang dilakukan ayah dan ibu tadi malam dan apa yang ditaburkan ayah tadi pagi di panci bakso itu.

Disaat daganganku sepi pembeli tiba tiba muncul tukang sayur lain yang sepertinya merupakan singan ibuku, dan mungkin kali ini dia akan mengambil alih wilayah daganganku ini, tentu aku tidak akan membiarkan hal itu, jika aku kehilangan tempat ibu berjualan lagi aku sudah tidak bisa berjualan sayuran lagi, dan ternyata benar penjual sayur itu langsung mendekatiku dan menghentikan langkahku.

“kamu berhenti sebentar, kamu pasti anak penjual sayur yang dulu berjualan di daerahku kan” Tanya penjual itu padaku.

Aku yang tidak terima atas pengakuannya kemudian membalas pertanyaannya.

“oh jadi kamu yang membuat ibuku kehilangan tempat berjualan, itu tempat berjualan ibu sejak dulu, aku tahu karena sejak kecil aku selalu membantu ibuku berjualan, terus sekarang mau apa, belum puas kamu mengambil tempat ibuku?” jawabku padanya.

“alah kamu ini tahu apa soal tempat jualan, pokoknya mulai sekarang, kamu juga tidak boleh berjualan disekitar sini, disini akan menjadi tempatku untuk berjualan juga” jawabnya

“jelas aku tidak mau, pokoknya kamu yang pergi tempat ini sudah menjadi wilayah berjualanku sejak tempat ini dibuka” aku menolak dengan tegas.

“dasar bocah baru kemarin, sudah berani nantangin aku” dengan marah dia menjawab.

Karena jawabanku yang tidak diharapkan oleh orang itu, kemudian dia berniat untuk mengacak acak daganganku yang sedang aku bawa, perlakuan kasar mulai dilakukannya dengan merebut paksa daganganku, kemudian dia buang hingga berceceran daganganku dijalanan yang kotor.

Sungguh sedih hati ini karena daganganku yang baru laku sedikit ini malah diganggu oleh orang yang gila akan wilayah untuk memperkaya dirinya sendiri, karena perlakuannya itu padaku dan aku tidak bisa melawan, aku hanya memintanya untuk berhenti menghancurkan daganganku, air mata mulai mengalir dari mataku, berharap ada seseorang yang yang akan menolongku, namun entah kenapa kebetulan jalanan disana sepi tidak ada seorangpun yang lewat.

Melihatku yang tersungkur jatuh karena mencoba mempertahankan daganganku, pria itu kemudian mendekatiku dan menarik kepalaku agar menghadap padanya.

“hey lihat aku” ucap pria itu sambil menarik kepalaku.

“……” aku enggan untuk melihatnya sambil menahan tangisku.

“ternyata lumayan juga wajahmu, ok baiklah kamu boleh berjualan disini tapi dengan satu sarat” pria itu mencoba bernegosiasi

“…..” mendengar hal itu aku hanya meliriknya dengan kesal.

“jangan marah dulu lah, kamu ini ternyata manis juga kalau lagi marah seperti itu ya” ucap pria itu padaku sambil menggoda.

“ok kamu boleh berjualan disini, dengan syarat kamu menyetorkan uang padaku minimal lima puluh ribu, ya itung itung sebagai ijin berjualan disini, dan kalau tidak menyetorkan uang setidaknya kamu mau melayaniku walau hanya satu hari” pria itu memberikan tawarannya.

Dalam hatiku, penawaran macam apa seperti ini, mendengarnya memberikan penawaran seperti itu, malah membuatku semakin jengkel dan tanpa berfikir lama aku kemudian berdiri dari tempatku lalu kemudian menampar pria itu karena hal yang dia ucapkan sangat melecehkan harga diriku.

Karena perlakuanku, otomatis pria itu semakin marah padaku dan membalas tamparanku tepat di pipi kiriku sehingga aku tersungkur kembali karena tamparan itu, dan ketika aku akan berdiri, pria itu kembali memegangi kepalaku dan hendak mencium ku, tapi sepertinya itu bukan lah hari keberuntungannya, saat pria itu akan menciumku, ada seorag lelaki sepertinya seumuran denganku dan sepertinya dia adalah warga sekitar, lelaki itu ternyata melihat kejadian itu dan segera berlari kearahku untuk membantuku, tepat sebelum bibir pria yang akan menciumku mengenai bibirku, tendangan telak diterima oleh pria tersebut tepat dikepalanya.

Lelaki yang merupakan warga sekitar kemudian membantuku berdiri dan berteriak meminta tolong pada warga lainnya.

Dengan wajah yang berdarah pria itu kemudian pergi dengan rasa sakit bercampur kesal karena dihajar tepat dikepalanya, ditambah lagi dia tidak berhasil untuk menciumku.

“mbak nggak papa kan” Tanya lelaki itu padaku.

“iya mas tidak apa apa, terimakasih sudah menolong saya” dengan menahan tangis ku ucapkan.

“memang dia sapa mbak, pacarnya ya, pasti sedang berantem” Tanya lelaki itu kembali, sambil mengambil daganganku yang sudah tidakk berbentuk.

“bukan mas andai pun dia pacar saya dia tidak akan merusak dagangan saya, dia itu pesaing dagangan saya, dan meminta saya untuk berhenti berjualan didaerah ini mas” jawabku sambil membersihkan pakaian ku karena terjatuh.

“oh begitu, sudah mbak tetap jualan disini saja, nanti saya bilang sama pengurus keamanannya, kalau ada penjual sayur selain mbaknya nggak usah diperbolehkan masuk, kebetulan saya ketua pemuda disini mbak, oh iya mbak nya mau diantarkan pulang, sudah tidak ada dagangan yang bisa dijual kan mbak” tawar lelaki itu padaku

“tidak mas, terimakasih saya pulang sendiri saja, lagian masnya sepertinya sedang terburu buru mau kesuatu tempat kan” dengan sopan aku menolak.

Setelah di bantu oleh lelaki ini aku kemudian pergi dan segera pulang kerumah dengan membawa hasil yang sedikit, dan tidak ada sisa sayuran untuk dijual lagi besok, sedangkan untuk membeli sayuran lagi uang yang kudapatkan sudah tidak cukup.

Sesampainya dirumah, aku kemudian membersihkan diri dan segera melakukan kewajibanku sholat dhuhur, karena kebetulan aku sampai dirumah tepat saat jam dua belas siang, ayah dan ibu masih belum kembali dari berjualan bakso, mungkin karena masih awal jadi mereka perlu mencari tempat dan menawarkan dagangan mereka yang baru.

Saat aku sholat aku berdoa kepada Allah untuk memudahkanku dalam mencari rejeki yang halal, dan dijauhkan dari perbuatan syirik hanya karena ingin kaya, aku juga mendoakan orang tuaku semoga mendapat rejeki yang banyak dan dijaukan juga dari perbuatan syirik atau yang tidak disukai oleh Allah.

Terdengar suara gerobak ayah dan ibu kembali dari berjualan, sedikit bingung sebenarnya, cepat sekali pulangnya, atau mereka membawa porsi bakso yang sedikit makanya cepta habis, atau jangan jagan mereka juga diganggu karena merebut lahan jualan orang lain.

Ayah dan ibu kemudian masuk kedalam rumah sambil membawa hasil jualannya, terdengar mereka seperti senang dengan hasil yang mereka dapatkan hari itu, tawa ibu dan ayah terdengar dari ruang tengah.

“haha yah, kenapa tidak dari dulu kita seperti ini ya, kan bisa cepet kaya” kata ibu kegirangan.

“iya yabu, kalo seperti ini sih tiga bulan saja kita sudah bisa beli rumah baru bu, kita beli rumah yang di pojok desa itu yang besar itu, katanya mau dijual itu bu” ayah menyampaikan rencananya.

“nah iya tu yah, tapi apa nggak mahal banget yah kalo rumah itu, orang rumahnya aja besar banget, katanya ada kolam renangnya kan” Tanya ibuku.

“alah kalau hasilnya seperti ini mah sepertinya cukup bu, apalagi nanti malam ayah sama Yudi mau cari tambahan uang biar kita cepet kaya” ucap ayah.

“ayah mau ngapain sama Yudi, mau ngepet ya, atau mau ngrampok” Tanya ibuku.

“hus ngarang aja, terlalu beresiko bu kalo itu, ayah sama Yudi mau jual Sate gagak nanti malam, kebetulan harinya pas ini sama yang diminta, dan Yudi masih cari gagaknya” terang ayah.

“oh ayah mau jualan sate, apa iya ada yang mau beli kalo sate gagak, ya mending sate ayam atau kambing kan yah, yang jelas banyak peminatnya” protes ibu pada ayah.

“udah lah ibu itu nggak tau nanti mau gimana, udah pokoknya nanti ibu tinggal terima hasilnya aja” sedikit kesal ayah menjawab.

Aku yang sedikit mendengar percakapan mereka kemudian menghampiri mereka.

“wah Alhamdulillah ya bu, rejeki dari Allah memang selalu ada saja jalannya ya, dagangan ibu habis hari ini?” tanyaku pada ibu

“ya begini lah, habis semua dan uangnya banyak, tau gini mah dari dulu mending seperti ini” ucap ibuku

“alhamdullah bu, semoga besok juga akan laris lagi ya bu, yah, tapi tadi aku denger kok ada kata kata babi ngepet ya, ayah sama ibu nggak melakukan itu kan” tanyaku pada mereka.

“ah kamu ini sama aja sama ibumu ayah ya nggak maul ah, udah lah ayah capek mau istirahat, eh iya kamu tumben udah pulang, gimana laris?” Tanya ayah padaku.

“ya Alhamdulillah dapet uang Cuma tidak seberapa dan tadi sempat dihadang sama pesaing bisnis ibu yang dulu, dan aku dilarang berjualan disana tapi untung ada yang nolongin” jawabku pada ayah.

“alah udah lah berhenti aja kamu jualan, dan mending nikah aja, sana nikah sama Yudi biar cepet kaya kita” ucap ayahku

Mendengar nama Yudi aku langsung tidak suka dan langsung meninggalkan mereka, dan berfikir pasti ada yang tidak beres dengan mereka sejak bergaul dengan yudi, apalagi sejak tadi pagi aku belum melihat kedua orang tuaku menjalankan sholatnya, dan kembali teringat kejadian tadi malam tentang bau menyan dan sesuatu yang ditaburkan ayah di bakso tadi, pasti ada sesuatu yang salah.

Singkat cerita sore haripun tiba, suara motor di luar rumah terdengar, ayah sedang beristirahat dikamarnya, sedangkan ibu sedang pergi berbelanja untuk kebutuhan berjualan besok pagi, dan setelah aku lihat kedepan rumah ternyata ada mas Yudi yang sedang berdiri diluar menunggu ayahku.

Walaupun aku tidak menyukainya, dia adalah tamu dirumahku, mau tidak mau aku haru menyapanya dan mempersilahkan masuk.

“asslamu’alaikum Ratih, hehe bapaknya ada” Tanya mas Yudi padaku

“iya wa’alaikum salam, ada mas, duduk dulu saja, bentar saya panggilkan dulu” jawabku pada mas Yudi.

“waduh syukur senang rasanya hati salamku di jawab sama pujaan hati” ucap mas Yudi.

Aku yang pura pura tidak mendengar kemudian pergi kedalam menuju ke kamar ayah dimana dia sedang beristirahat didalam sana, karena pintunya dalam keadaan tertutup aku kemudian mengetuk pintunya

“yah, ayah didepan ada mas Yudi nyariin ayah itu” sambil ku ketuk, aku memberi tahu ayah ada mas Yudi.

“iya sebentar bilang ayah lagi siap siap” ucap ayahku dari balik pintu

Walaupun ayah memintaku untuk mengatakan itu pada mas Yudi, aku enggan untuk melakukannya karena aku sudah sejak awal tidak suka dengan nya, maka aku lebih memilih pergi kekamarku, dan tidak berselang lama, ayah keluar dari kamarnya dan setelah itu mereka berdua langsung pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahuku mereka akan kemana.

Jam demi jam pun berlalu, hari mulai malan dan bahkan sudah mulai larut, namun ayah belum juga pulang dari perginya bersama mas Yudi, sedikit cemas aku menunggu ayahku pulang, ibu sudah masuk kedalam kamarnya dan kamar juga sudah dikunci oleh ibuku, mungkin ayah sudah bilang ke ibu kalau dia akan pulang larut malam atau pulang pagi, karena malam semakin larut rasa kantuk pun mulai kurasakan, dan aku memutuskan untuk pergi kekamar.

Singkat cerita sampai jam satu malam ayah belum juga kembali pulang, aku pun tidak bisa tertidur dengan nyeyak karena beberapa kali aku mendengar suara gaduh dari arah luar kamar namun setiap aku lihat keluar aku tidak menemukan siapapun disana, kadang juga ada suara seseorang mengetuk pintu rumah dari luar, aku berfikir kalau itu ayah yang pulang namun saat ku datangi depan rumah ternyata tidak ada siapa siapa, hingga pada akhirnya saat aku akan kembali tidur dari arah luar jendela aku mendengar suara gelak tawa dengan suara yang besar dan berat, rasa merinding dan takut langsung kurasakan saat suara itu terdengar.

Aku mencoba membaca beberapa surat yang sekiranya bisa membuatku tenang dan mengusir makhluk yang akan mencelakai diriku, dan setiap itu juga suara tawa yang besar dan berat itu menghilang, karena merasa sedikit takut aku kemudian berusaha untuk menidurkandiriku sendiri, disaat mata mulai akan terpejam, tiba tiba pintu kamarku diketuk dengan sangat keras yang membuatku tergaket dan kehilangan rasa kantuku.

Sambil membaca surat kursi aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamarku, aku berjalan mendekati pintu kamar dengan perlahan dan diikuti bacaanku, dan sesampainya didepan pintu kuraih gagang pintu, dimana suara ketukan keras itu masih terjadi, ku kumpulkan tekat dan keberanianku untuk membuka pintu itu, dan setelah dirasa terkumpul semua, aku bersiap membuak pintu tersebut.

Saat ku buka pintu tersebut, aku kembali dikagetkan dengan suara tawa wanita yang melengking namun tidak diketahui wujudnya dan suara itu pergi kearah dapur, yang saat itu lampu dapur masih hidup namun sedikit temaram, mungkin aku lupa mematikan lampunya tadi sebelum tidur, aku pun mencoba untuk mendekat kearah dapur dan berancana untuk segera mematikan lampu disana, saat berjalan aku sedikit memperhatikan sesuatu di dapur, aku tertarik pada dua buah titik merah becahaya yang berada disudut dapur, sambil berjalan aku amati titik merah itu dan tiba tiba yang terjadi adalah…..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
meqiba dan 7 lainnya memberi reputasi

Perkenalan



Perkenalkan namaku Ratih, aku adalah seorang gadis desa yang hidup dalam keluarga yang bisa dibilang kurang mampu, aku sudah menyelesaikan sekolahku di bangku sekolah menengah atas, aku dikenal oleh warga desaku sebagai perempuan yang solehah, setiap waktu sholat wajib aku selalu pergi ke mushola untuk mengerjakan sholat, dan setiap sore para warga didesaku meminta ku untuk mengajarkan anak anak mereka mengaji, karena disela sela kesibukanku membantu orang tua dalam mencari kebutuhan sehari hari, aku sempatkan untuk membaca Al-Qur’an sehingga aku menjadi terbiasa membacanya dan dinilai oleh orang kampung dan kiyai didesaku aku sudah pantas untuk mengajarkan ngaji untuk anak di desaku, itulah sebabnya para orang tua didesaku memintaku untuk mengajar ngaji, memang tidak seberapa tapi para orang tua yang memintaku untuk mengajar ngaji mau memberi uang pesangon tiap bulannya, padahal aku mengajar dengan suka rela karena aku menganggap diriku juga masih belajar.

Selain dinilai warga kampungku aku ini pandai dalam mengaji, aku juga sering berkumpul dalam organisasi rembana yang kebetulan didesaku memiliki organisasi tersebut, dan kembali lagi karena banyak yang menganggap ku pandai dalam mengaji, otomatis mereka menilaiku juga akan pandai bersolawat dan menunjuku sebagai vokalis pada grup rebana tersebut.

Terlepas dari kegiatanku bersama dengan warga, aku membantu ibuku yang berprofesi sebagai pedagang sayur keliling dan sedangkan ayahku berprofesi sebagai kuli bangunan, aku harus mau membantu ibuku, karena aku merupakan anak tunggal mereka, dan aku sudah mulai ikut berjualan dengan ibuku semenjak sekolah menengah pertama (SMP) setiap pulang aku menyusul ibuku berkeliling menjual sayur, terkadang juga aku mengirimkan pesanan yang telah dipesan pembeli kemarin, sementara aku mengantar pesanan, ibu terus berkeliling sehingga tidak ada yang tertunda, dan ibuku juga sudah memiliki beberapa pelanggan tetep, karena sayuran yang diperjualkan ibu dinilai masih segar segar, ada juga pelanggan ibu yang berada sedikit jauh dari tempat ibu berkeliling, ternyata itu akibat dari pelanggan ibu yang merekomendasikan, dan sempat beberapa kali membuat pedagang sayur yang berkeliling merasa tersaingi, karena dirasa ibu menyerobot rejeki mereka, padahal ibu tidak ada maksud untuk seperti itu.

Ayahku yang berprofesi sebagai kuli bangunan Alhamdulillah dinilai oleh atasannya sebagai pekerja yang baik dan cekatan dalam melakukan pekerjaan, sehingga beberapa kali jika mandor sedang ada urusan dengan atasannya, mandor ayah menyerahkan tanggung jawabnya pada ayah sementara dia menyelesaikan urusannya dengan atasan, sebenarnya bukan salah ayah karena dia hanya menjalankan tugas dari mandornya selama pergi, namun hal itu juga membuat pekerja lain yang bekerja lebih lama dari ayah merasa dilangkahi, dan mungkin berfikir kenapa ayahku yang ditunjuk dan kenapa buka dia, karena dia yang bekerja lebih lama dari ayahku, dan hal itu membuat ayah sedikit tidak disukai oleh pekerja lain yang ingin lebih di anggap oleh atasanya.

Itulah pekerjaan orang tua ku yang tanpa disadari malah membuat beberapa teman yang seprofesi merasa tersaingi karena kualiat dari yang orang tuaku berikan tersebut lebih baik dari mereka.

Cerita dimulai setelah banyak yang tidak suka dengan kerja kedua orang tuaku pertama, orang orang tersebut menyerang bisnis ibuku yang berjualan sayur keliling, pernah suatu hari saat ibuku berjualan seorang diri, karena aku berjualan ditempat lain untuk mengembangkan bisnis ibuku walau dagangan masih ngambil dari orang lain.

Saat itu pukul delapan pagi ibuku berjualan diarea perumahan elit tidak jauh dari desaku, ibu menawarkan sayurannya pada penduduk perumahan tersebut, dan saat berada dijalan ibuku dihampiri oleh orang yang merupakan salah satu yang merasa bisnisnya tersaingi.

“hey bu, berhenti sebentar” ucap orang itu pada ibuku.

“iya, ada apa ya” dengan santai ibuku menjawab.

“ibu ini sudah saya peringatkan berkali kali jangan pernah lagi berjualan disini, pelanggan saya jadi pada pergi” ucap orang itu pada ibuku.

“tapi saya sudah sejak lama berjualan disini, dan saya pun sudah ijin dengan pengurus perumahan ini” terang ibuku.

“alah saya tidak perduli, pokoknya kalau besok masih berjualan disini, bakal saya acak acak daganganmu” orang itu mulai mengancam, padahal ibuku tidak mengambil lahan jualannya.

“terus saya harus jualan dimana” Tanya ibuku mulai menangis.

“terserah kamu lah, yang penting sekarang kamu pergi, nggak usah jualan disini” orang itu mulai mengusir ibuku untuk segera pergi.

Dengan sangat terpaksa ibuku menuruti perkataan orang itu, ibuku langsung pergi meninggalkan area perumahan itu dengan hati yang terluka karena tidak ikhlas harus menyerahkan tempat jualannya pada orang lain padahal itu merupakan tempat berjualannya sejak dulu, dan pada akhirnya hingga siang hari dagangan ibuku belum kunjung habis karena tempat berjualan yang berkurang, dan karena hari sudah mulai siang, sayur tadinya masih segar kini menjadi layu karena terjemur sinar matahari, dan hingga sampai sore pun belum habis padahal biasanya sebelum dhuhur dagangan ibu sudah habis terjual.

Ibu yang biasanya dagangannya habis terjual sesampainya dirumah saat itu masih memiliki banyak sayuran di gerobaknya yang jumlahnya masih cukup banyak, ibu sangat sedih dengan hal tersebut karena dia bingung haru diapakan sayur sebanyak ini, mungkin sebagian bisa di jual lagi, namun untuk sayuran yang sudah layu akan susah untuk di perjualkan.

Beberapa hari terus berlalu ibu terus berjualan berkeliling, dan beberapa hari itu juga area dagangan ibu terus di serobot dan dirampas oleh pesaingnya, ibu yang semakin merasa terdesak tidak bisa lagi untuk melawan, dagangan yang tadinya ibu stok banyak kini ibu stok sedikit, itupun tidak selalu habis karena area jualan ibu terus berkurang akibat di rebut pesaingnya.

Aku masih merasa beruntung karena area jualanku belum direbut oleh pesaing bisnis ibu, mungkin karena belum tahu kalau aku ini adalah anak ibu, sehingga mereka membiarkanku untuk berdagang, namu semakin kesini semakin hilang area berdagang ibu, hingga ibuku merasa bingung untuk berjualan dimana, melihat ibu yang merasa sedih akibat kehilangan tempat berjualan aku mencoba untuk memberikan area dagang ku pada ibu, biarlah aku yang mencari pekerjaan lain yang penting ibuku bisa senang.

“bu, jangan sedih terus seperti itu, mungkin Allah masih memberi ujian pada kita supaya terus ingat dengan-Nya” ucapku menenangkan ibuku.

“mau sampai kapan Allah menguji kita, kita sudah hidup miskin tapi masih diberi ujian seperti ini” protes ibuku

“istighfar bu tidak boleh berkata demikian, kita harus terus berprasangka baik pada Allah, Allah yang tahu jalan hidup kita mau seperti apa” aku tetap mencoba menenangkan ibuku.

“ibu ini capek Ratih, ibu sudah mulai tua, ibu pingin hidup enak sembari menikmati hari tua ibu, tidak seperti ini, masih kerja terus tapi tidak ada kemajuan, eh malah makin sulit buat cari uang” protes ibuku lagi.

Dan saat ibuku sedang protes tentang nasib hidupnya, ayah pun pulang dari pekerjaannya, terlihat ayah pulang dengan ekspresi yang sedikit kecewa bercampur marah, sepertinya baru terjadi sesuatu di tempat kerjanya, karena tidak seperti biasanya ayah pulang dengan menampakan ekspresi seperti itu, biasanya ayah pulang dengan ekspresi yang penuh dengan senyum, namun kali ini tidak, ayah datang dengan ekspresi demikian dan menutup pintu dengan kencang sehingga terdengar suara keras pintu yang menutup.

“masyallah ayah, ada apa kok tumben seperti ini” Tanya ku pada ayah yang terkejut karena suara pintu yang begitu keras.

“iya ada apa sih, udah suasana hati lagi nggak enak eh, ayah pulang pake banting pintu segala” omel ibu pada ayah.

“sudah kalian ini diam dulu saja kalau tidak tahu urusannya nggak usah komentar dulu, pikiran ayah masih kacau” jawab ayahku kesal.

“sudah sudah kita sholat dulu saja yuk yah, bu, hampir masuk waktu sholat maghribnya” Aku mencoba mengganti topic dengan mengajak sholat yang bermaksud mendinginkan hati mereka yangsedang marah.

“alah Sholat terus buat apa, sampai kapanpun kita akan miskin seperti ini, orang ayah kerja bener bener juga masih saja di salahkan, atau malah dibikin salah” ucap ayah kesal

“istighfar yah, istighfar tidak baik berkata seperti itu, mau bagaimanapun yang memberi kita rejeki itu Allah” ucapku terkejut mendengar ayah berkata demikian.

“alah kalau Allah yang ngasih rejeki, dia harusnya tidak mengambil area dagang ibu Ratih, itu semua area dagang ibu sejak masih mudah dulu” ucap ibuku

“dan kalau Allah itu ikhlas memberi kita rejeki, dia juga tidak akan membuat ayah di fitnah, padahal ayah tidak melakukan korupsi di tempat kerja” jelas ayahku.

“kok bisa ayah di tuduh korupsi memang apa yang terjadi” tanyaku pada ayah.

“yaitu mungkin karena Allah itu nggak ikhlas kasih kita rejeki, masa ayah di tuduh menggelapkan dana yang buat beli bahan baku bangunan, mentang mentang ayah yang dipasrahi oleh mandor ayah, itu namanya Allah menjebak ayah Ratih” protes ayah Ratih.

“masyallah yah istighfar, Allah tidak menjebak, Allah hanya memberikan cobaan pada kita supaya kita lebih mendekat lagi padanya” ucap ku menyadarkan.

“kalau hanya ingin itu kenapa semua jalan rejeki kita ditutup, ayah jadi di pecat dari pekerjaan ayah, dan ibumu ini, area dagangnya di serobot orang lain, mau kaya dari mana kalau seperti ini,kita ini sudah tua pingin istirahat menikmati harta dimasa tua” ucap ayahku kesal.

“kalo ayah dan ibu pinginnya seperti itu, pingin istirahat, istirahat saja biar Ratih yang kerja jualan keliling” ucap Ratih mulai sedikit sedih atas omongan ayah ibunya

“kamu mau jualan apa, kita sudah tidak dapat stok sayur dari orang yang biasanya karena kita sudah tidak punya lapak untuk jualan, atau mau jual diri biar cepet dapet uang” ucap ibuku yang emosi

“ya Allah ibu, aku sama sekali dan tidak akan pernah terfikirkan diri ini untuk melakukan hal macam itu, lebih baik hidup miskin daripada harus berjual diri bu” aku berkata sambil menangis karena omongan ibuku.

“sudah lah sana, nggak usah nangis, sana sholat, minta Allah mu buat kita kaya, sudah capek ayah sama ibu hidup gini, sudah kurang sabar seperti apa selama bertahun tahun hidup seperti ini.

Dan setelah itu sambil menangis aku berlari ke belakang untuk mengambil air wudhu dan melakukan sholat maghrib, hatiku sungguh tidak menyangka ayah ibuku akan berubah seperti itu, mungkin karena mereka terlalu lelah dengan keadaan mereka yang seperti itu, tapi mereka harusnya lebih mendekatkan diri lagi pada Allah jika ingin hidup lebih baik, bukan malah menjauhi.

Selama berdoa dalam sholatku aku memohon pada Allah untuk mengampuni segala dosa orang tuaku dan memohon untuk segera dicarikan rejeki pengganti yang dicari oleh orangtuaku, doa itu selalu ku panjatkan agar keinginan orang tuaku dapat tercapai.

Beberapa hari terus berlalau, setiap sore hari ibu selalu mengangluh karena dagangan semakin tidak laku, dan ayah masih belum mendapatkan pekerjaan lain, entah bagaimana, hampir semua orang mengetahui kalau ayah korupsi dana pembangunan padahal itu bukan ulahnya, hal itu mengakibatkan para mandor enggan menggunakan jasanya karena takut nantinya ayahku akan melakukan hal yang sama pada tempat kerjanya yang baru, hal itu menyebar dengan sangat luas dan merata.

Hal itu membuat ayahku mulai tidak karuan, pribadi ayahku menjadi pribadi yang berbeda dari yang kukenal, ayahku yang sekarang jadi lebih sering marah marah, selalu membentak dan bahkan dia tega menyuruhku untuk melepas kerudungku suapaya lebih gampang mendapatkan pekerjaan, namun aku selalu menolak, karena hingga sampai saat ini auratku masih ku jaga dan akan terus kujaga, walaupun itu hanya sehelai rambut.

Dan sejak saat itu kehidupan kelamku dimulai, semenjak aku mendengar ayah dan ibuku mulai bergaul dengan tetanggaku yang bernama mas Yudi, dia terkenal sebagai seorang yang sering mabuk mabukan dan sering berjudi untuk mendapatkan uang, dia juga merupakan seorang kaki tangan orang pintar yang kerap orang orang sebut dukun, dia bekerja pada dukun yang bernama mbah Sukir, seorang dukun yang bisa menyembuhkan orang melalui aji aji, menerima juga santet, dan juga menerima pesugihan bagi yang membutuhkan nya.

Hingga suatu hari saat itu ayah terlihat sedang menunggu seseorang pagi hari sambil menikmati kopi, aku pun bertanya pada ayah karena itu bukan hal biasa yang ayah lakukan.

“tumben banget ayah ngopi diluar sambil ngrokok, biasanya didalam sambil nonton tv” tanyaku sambil nyapu

“biasa nunggu tamu, katanya ada yang mau kesini, dah lah kamu nggak usah tahu, sana beres beres dalam rumah saja” dengan sedikit sewot ayah menjawab.

Tidak lama setelah itu dari arah luar terdengar seseorang datang kerumah dan kemudian bercengkarama dengan ayah mengobrolkan sesuatu, aku yang kebetulan sedang membersihkan ruang tamu, maka samar samar aku mendengar pembicaraan mereka berdua, dan aku sempat mendengar kalau mas Yudi menyebut nama Sukir sidukun yang menjadi bosnya itu.

Karena mendengar nama tersebut aku kemudian langsung keluar untuk memastika dan berharap aku salah dengar dengan apa yang dikatakan mas Yudi

“maaf yah tadi aku dengar kata mbah Sukir, apa bener?” tanyaku pada ayah

“eh Ratih, hehe selamat pagi, lagi apa nih, masih pagi udah cantik aja kamu” mas Yudi mencoba merayuku.

“alah kamu malah keluar, udah ayah bilangin sana bersih bersih dalem aja, nggak usah ngurusin ayah sama mas Yudi yang masih ngobrol” ucap ayah kesal

“sudah tenang aja dek Ratih aman kok kita nggak macem macem ngobrolnya, paling nanti tentang lamaran kita” mas Yudi terus mencoba menggodaku.

Aku yang merasa kesal kemudian terpaksa masuk kedalam rumah, aku berharap apa yang aku dengar tadi salah dan ayah tidak akan memilih jalan yang ditempuh bersama mbah Sukir.

Tak berselang lama, ayah dan mas Yudi pergi dari rumah entah mau kemana, namun ayah sempat berpamitan dengan ibu ku untuk keluar dulu berasama mas Yudi, saat aku Tanya ibu kemana ayah akan pergi, ibu tidak mau menjawabnya dan memilih diam sambil melanjutkan kegiatannya, aku yang berfikir cemas karena takut apa yang aku pikirkan itu menjadi nyata.

Cukup lama ayah pergi hingga tak terasa siang haripun tiba, aku masih terus menunggu sambil menyiapkan materi untuk diajarkan ngaji sore hari nanti di mushola kampung, sudah menjadi kebiasaanku mempersiapkan materi untuk mengaji.

Terdengar ayah pulang dari perginya bersama mas Yudi, ayah membawa sebuah kantong kresek berwarna hitam yang langsung dia bawa menuju kamar dan langsung di letakan dalam lemarinya kemudian dikunci, setelah itu ayah kembali pergi lagi karena ternyata diluar mas Yudi masih menunggu ayah di atas motornya.

Kekhawatiran masih terus kurasakan karena ayah perginya bersama mas Yudi, seandaynya saja dia pergi bersama orang lain aku tidak akan sekhawatir ini, singkat cerita hari mulai sore, aku pun baru pulang selesau mengajar anak anak mengaji di mushola, ayah kebetulan menyusul pulang dari perginya bersama mas Yudi, tapi kembali ayah membawa benda lagi ditangannya yang kali ini berbentuk kain kantong berwarna hitam dan kembali langsung dibawa kedalam kamarnya kemudian dia kunci dari luar karena akan makan malam, aneh kuraasa karena tidak biasanya ayah mengunci kamar saat semua berada dirumah.

Malam hari pun tiba aku sedang bersiap siap untuk tidur di kamarku, dari luar kamar aku melihat ayah dan ibu sedang sibuk menyiapkan sesuatu, aku tak ambil pusing karena mungkin ayah dan ibu sedang menyiapkan untuk bisnis yang akan mereka mulai besok, karena beberapa hari lalu mereka berencana membuaka usaha baru menjual bakso keliling.

Tak terasa aku pun tertidur, tapi ternyata aku terbangun jam duabelas malam karena ada bau yang membuatku terganggu, aku terbangun karena aku mencium sebuah aroma………
profile-picture
profile-picture
profile-picture
meqiba dan 2 lainnya memberi reputasi
Spt nya seru ini...
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan afryan015 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Numpang di page one
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan afryan015 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
WoW, ada Ratih nih.

Ikutan numpang ngejogrok dimari ya gan, sambil menikmati ssnyum manisnya Ratih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
saga027 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan
Sebelah ditinggal apa diterusin bos ?
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan afryan015 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
aroma ... bikin penasaran aja tuh kisah. lanjutkan gan sis!
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan afryan015 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ijin nenda om
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan afryan015 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Pejawan cok!!☺️ ☺️ 😶
Pertamax pula!!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rijalbegundal dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh slametfirmansy4
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 16 balasan


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di