CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sebuah Luka Dibalik Cahaya Surga
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60c8ad06d5e7046cd8194981/sebuah-luka-dibalik-cahaya-surga

Sebuah Luka Dibalik Cahaya Surga

   
 


hai agan agan sekalian sekali lagi selamat datang di trit terbaru ku Ryan, namun kali ini aku tidak menceritakan diriku, aku akan menceritakan sosok wanita cantik bernama Ratih yang memiliki kisah hidup yang cukup dramatis,

oh iya judul ini aku terinspirasi dari salah satu konten milik Kisah Tanah Jawa, namun cerita disini tidak ada hubungannya dengan cerita milik OM HAO ya hehe, hanya judul saja yang cocok untuk cerita ini

monggo untuk yang berminta membaca silahkan di simakya 

untuk trit tentang si centil Shinta dan Aruna masih terus berjalan kok tenang aja
monggo dinikmati

Oh iya jangan lupa
emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star
Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rudiajja dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh afryan015

Perkenalan



Perkenalkan namaku Ratih, aku adalah seorang gadis desa yang hidup dalam keluarga yang bisa dibilang kurang mampu, aku sudah menyelesaikan sekolahku di bangku sekolah menengah atas, aku dikenal oleh warga desaku sebagai perempuan yang solehah, setiap waktu sholat wajib aku selalu pergi ke mushola untuk mengerjakan sholat, dan setiap sore para warga didesaku meminta ku untuk mengajarkan anak anak mereka mengaji, karena disela sela kesibukanku membantu orang tua dalam mencari kebutuhan sehari hari, aku sempatkan untuk membaca Al-Qur’an sehingga aku menjadi terbiasa membacanya dan dinilai oleh orang kampung dan kiyai didesaku aku sudah pantas untuk mengajarkan ngaji untuk anak di desaku, itulah sebabnya para orang tua didesaku memintaku untuk mengajar ngaji, memang tidak seberapa tapi para orang tua yang memintaku untuk mengajar ngaji mau memberi uang pesangon tiap bulannya, padahal aku mengajar dengan suka rela karena aku menganggap diriku juga masih belajar.

Selain dinilai warga kampungku aku ini pandai dalam mengaji, aku juga sering berkumpul dalam organisasi rembana yang kebetulan didesaku memiliki organisasi tersebut, dan kembali lagi karena banyak yang menganggap ku pandai dalam mengaji, otomatis mereka menilaiku juga akan pandai bersolawat dan menunjuku sebagai vokalis pada grup rebana tersebut.

Terlepas dari kegiatanku bersama dengan warga, aku membantu ibuku yang berprofesi sebagai pedagang sayur keliling dan sedangkan ayahku berprofesi sebagai kuli bangunan, aku harus mau membantu ibuku, karena aku merupakan anak tunggal mereka, dan aku sudah mulai ikut berjualan dengan ibuku semenjak sekolah menengah pertama (SMP) setiap pulang aku menyusul ibuku berkeliling menjual sayur, terkadang juga aku mengirimkan pesanan yang telah dipesan pembeli kemarin, sementara aku mengantar pesanan, ibu terus berkeliling sehingga tidak ada yang tertunda, dan ibuku juga sudah memiliki beberapa pelanggan tetep, karena sayuran yang diperjualkan ibu dinilai masih segar segar, ada juga pelanggan ibu yang berada sedikit jauh dari tempat ibu berkeliling, ternyata itu akibat dari pelanggan ibu yang merekomendasikan, dan sempat beberapa kali membuat pedagang sayur yang berkeliling merasa tersaingi, karena dirasa ibu menyerobot rejeki mereka, padahal ibu tidak ada maksud untuk seperti itu.

Ayahku yang berprofesi sebagai kuli bangunan Alhamdulillah dinilai oleh atasannya sebagai pekerja yang baik dan cekatan dalam melakukan pekerjaan, sehingga beberapa kali jika mandor sedang ada urusan dengan atasannya, mandor ayah menyerahkan tanggung jawabnya pada ayah sementara dia menyelesaikan urusannya dengan atasan, sebenarnya bukan salah ayah karena dia hanya menjalankan tugas dari mandornya selama pergi, namun hal itu juga membuat pekerja lain yang bekerja lebih lama dari ayah merasa dilangkahi, dan mungkin berfikir kenapa ayahku yang ditunjuk dan kenapa buka dia, karena dia yang bekerja lebih lama dari ayahku, dan hal itu membuat ayah sedikit tidak disukai oleh pekerja lain yang ingin lebih di anggap oleh atasanya.

Itulah pekerjaan orang tua ku yang tanpa disadari malah membuat beberapa teman yang seprofesi merasa tersaingi karena kualiat dari yang orang tuaku berikan tersebut lebih baik dari mereka.

Cerita dimulai setelah banyak yang tidak suka dengan kerja kedua orang tuaku pertama, orang orang tersebut menyerang bisnis ibuku yang berjualan sayur keliling, pernah suatu hari saat ibuku berjualan seorang diri, karena aku berjualan ditempat lain untuk mengembangkan bisnis ibuku walau dagangan masih ngambil dari orang lain.

Saat itu pukul delapan pagi ibuku berjualan diarea perumahan elit tidak jauh dari desaku, ibu menawarkan sayurannya pada penduduk perumahan tersebut, dan saat berada dijalan ibuku dihampiri oleh orang yang merupakan salah satu yang merasa bisnisnya tersaingi.

“hey bu, berhenti sebentar” ucap orang itu pada ibuku.

“iya, ada apa ya” dengan santai ibuku menjawab.

“ibu ini sudah saya peringatkan berkali kali jangan pernah lagi berjualan disini, pelanggan saya jadi pada pergi” ucap orang itu pada ibuku.

“tapi saya sudah sejak lama berjualan disini, dan saya pun sudah ijin dengan pengurus perumahan ini” terang ibuku.

“alah saya tidak perduli, pokoknya kalau besok masih berjualan disini, bakal saya acak acak daganganmu” orang itu mulai mengancam, padahal ibuku tidak mengambil lahan jualannya.

“terus saya harus jualan dimana” Tanya ibuku mulai menangis.

“terserah kamu lah, yang penting sekarang kamu pergi, nggak usah jualan disini” orang itu mulai mengusir ibuku untuk segera pergi.

Dengan sangat terpaksa ibuku menuruti perkataan orang itu, ibuku langsung pergi meninggalkan area perumahan itu dengan hati yang terluka karena tidak ikhlas harus menyerahkan tempat jualannya pada orang lain padahal itu merupakan tempat berjualannya sejak dulu, dan pada akhirnya hingga siang hari dagangan ibuku belum kunjung habis karena tempat berjualan yang berkurang, dan karena hari sudah mulai siang, sayur tadinya masih segar kini menjadi layu karena terjemur sinar matahari, dan hingga sampai sore pun belum habis padahal biasanya sebelum dhuhur dagangan ibu sudah habis terjual.

Ibu yang biasanya dagangannya habis terjual sesampainya dirumah saat itu masih memiliki banyak sayuran di gerobaknya yang jumlahnya masih cukup banyak, ibu sangat sedih dengan hal tersebut karena dia bingung haru diapakan sayur sebanyak ini, mungkin sebagian bisa di jual lagi, namun untuk sayuran yang sudah layu akan susah untuk di perjualkan.

Beberapa hari terus berlalu ibu terus berjualan berkeliling, dan beberapa hari itu juga area dagangan ibu terus di serobot dan dirampas oleh pesaingnya, ibu yang semakin merasa terdesak tidak bisa lagi untuk melawan, dagangan yang tadinya ibu stok banyak kini ibu stok sedikit, itupun tidak selalu habis karena area jualan ibu terus berkurang akibat di rebut pesaingnya.

Aku masih merasa beruntung karena area jualanku belum direbut oleh pesaing bisnis ibu, mungkin karena belum tahu kalau aku ini adalah anak ibu, sehingga mereka membiarkanku untuk berdagang, namu semakin kesini semakin hilang area berdagang ibu, hingga ibuku merasa bingung untuk berjualan dimana, melihat ibu yang merasa sedih akibat kehilangan tempat berjualan aku mencoba untuk memberikan area dagang ku pada ibu, biarlah aku yang mencari pekerjaan lain yang penting ibuku bisa senang.

“bu, jangan sedih terus seperti itu, mungkin Allah masih memberi ujian pada kita supaya terus ingat dengan-Nya” ucapku menenangkan ibuku.

“mau sampai kapan Allah menguji kita, kita sudah hidup miskin tapi masih diberi ujian seperti ini” protes ibuku

“istighfar bu tidak boleh berkata demikian, kita harus terus berprasangka baik pada Allah, Allah yang tahu jalan hidup kita mau seperti apa” aku tetap mencoba menenangkan ibuku.

“ibu ini capek Ratih, ibu sudah mulai tua, ibu pingin hidup enak sembari menikmati hari tua ibu, tidak seperti ini, masih kerja terus tapi tidak ada kemajuan, eh malah makin sulit buat cari uang” protes ibuku lagi.

Dan saat ibuku sedang protes tentang nasib hidupnya, ayah pun pulang dari pekerjaannya, terlihat ayah pulang dengan ekspresi yang sedikit kecewa bercampur marah, sepertinya baru terjadi sesuatu di tempat kerjanya, karena tidak seperti biasanya ayah pulang dengan menampakan ekspresi seperti itu, biasanya ayah pulang dengan ekspresi yang penuh dengan senyum, namun kali ini tidak, ayah datang dengan ekspresi demikian dan menutup pintu dengan kencang sehingga terdengar suara keras pintu yang menutup.

“masyallah ayah, ada apa kok tumben seperti ini” Tanya ku pada ayah yang terkejut karena suara pintu yang begitu keras.

“iya ada apa sih, udah suasana hati lagi nggak enak eh, ayah pulang pake banting pintu segala” omel ibu pada ayah.

“sudah kalian ini diam dulu saja kalau tidak tahu urusannya nggak usah komentar dulu, pikiran ayah masih kacau” jawab ayahku kesal.

“sudah sudah kita sholat dulu saja yuk yah, bu, hampir masuk waktu sholat maghribnya” Aku mencoba mengganti topic dengan mengajak sholat yang bermaksud mendinginkan hati mereka yangsedang marah.

“alah Sholat terus buat apa, sampai kapanpun kita akan miskin seperti ini, orang ayah kerja bener bener juga masih saja di salahkan, atau malah dibikin salah” ucap ayah kesal

“istighfar yah, istighfar tidak baik berkata seperti itu, mau bagaimanapun yang memberi kita rejeki itu Allah” ucapku terkejut mendengar ayah berkata demikian.

“alah kalau Allah yang ngasih rejeki, dia harusnya tidak mengambil area dagang ibu Ratih, itu semua area dagang ibu sejak masih mudah dulu” ucap ibuku

“dan kalau Allah itu ikhlas memberi kita rejeki, dia juga tidak akan membuat ayah di fitnah, padahal ayah tidak melakukan korupsi di tempat kerja” jelas ayahku.

“kok bisa ayah di tuduh korupsi memang apa yang terjadi” tanyaku pada ayah.

“yaitu mungkin karena Allah itu nggak ikhlas kasih kita rejeki, masa ayah di tuduh menggelapkan dana yang buat beli bahan baku bangunan, mentang mentang ayah yang dipasrahi oleh mandor ayah, itu namanya Allah menjebak ayah Ratih” protes ayah Ratih.

“masyallah yah istighfar, Allah tidak menjebak, Allah hanya memberikan cobaan pada kita supaya kita lebih mendekat lagi padanya” ucap ku menyadarkan.

“kalau hanya ingin itu kenapa semua jalan rejeki kita ditutup, ayah jadi di pecat dari pekerjaan ayah, dan ibumu ini, area dagangnya di serobot orang lain, mau kaya dari mana kalau seperti ini,kita ini sudah tua pingin istirahat menikmati harta dimasa tua” ucap ayahku kesal.

“kalo ayah dan ibu pinginnya seperti itu, pingin istirahat, istirahat saja biar Ratih yang kerja jualan keliling” ucap Ratih mulai sedikit sedih atas omongan ayah ibunya

“kamu mau jualan apa, kita sudah tidak dapat stok sayur dari orang yang biasanya karena kita sudah tidak punya lapak untuk jualan, atau mau jual diri biar cepet dapet uang” ucap ibuku yang emosi

“ya Allah ibu, aku sama sekali dan tidak akan pernah terfikirkan diri ini untuk melakukan hal macam itu, lebih baik hidup miskin daripada harus berjual diri bu” aku berkata sambil menangis karena omongan ibuku.

“sudah lah sana, nggak usah nangis, sana sholat, minta Allah mu buat kita kaya, sudah capek ayah sama ibu hidup gini, sudah kurang sabar seperti apa selama bertahun tahun hidup seperti ini.

Dan setelah itu sambil menangis aku berlari ke belakang untuk mengambil air wudhu dan melakukan sholat maghrib, hatiku sungguh tidak menyangka ayah ibuku akan berubah seperti itu, mungkin karena mereka terlalu lelah dengan keadaan mereka yang seperti itu, tapi mereka harusnya lebih mendekatkan diri lagi pada Allah jika ingin hidup lebih baik, bukan malah menjauhi.

Selama berdoa dalam sholatku aku memohon pada Allah untuk mengampuni segala dosa orang tuaku dan memohon untuk segera dicarikan rejeki pengganti yang dicari oleh orangtuaku, doa itu selalu ku panjatkan agar keinginan orang tuaku dapat tercapai.

Beberapa hari terus berlalau, setiap sore hari ibu selalu mengangluh karena dagangan semakin tidak laku, dan ayah masih belum mendapatkan pekerjaan lain, entah bagaimana, hampir semua orang mengetahui kalau ayah korupsi dana pembangunan padahal itu bukan ulahnya, hal itu mengakibatkan para mandor enggan menggunakan jasanya karena takut nantinya ayahku akan melakukan hal yang sama pada tempat kerjanya yang baru, hal itu menyebar dengan sangat luas dan merata.

Hal itu membuat ayahku mulai tidak karuan, pribadi ayahku menjadi pribadi yang berbeda dari yang kukenal, ayahku yang sekarang jadi lebih sering marah marah, selalu membentak dan bahkan dia tega menyuruhku untuk melepas kerudungku suapaya lebih gampang mendapatkan pekerjaan, namun aku selalu menolak, karena hingga sampai saat ini auratku masih ku jaga dan akan terus kujaga, walaupun itu hanya sehelai rambut.

Dan sejak saat itu kehidupan kelamku dimulai, semenjak aku mendengar ayah dan ibuku mulai bergaul dengan tetanggaku yang bernama mas Yudi, dia terkenal sebagai seorang yang sering mabuk mabukan dan sering berjudi untuk mendapatkan uang, dia juga merupakan seorang kaki tangan orang pintar yang kerap orang orang sebut dukun, dia bekerja pada dukun yang bernama mbah Sukir, seorang dukun yang bisa menyembuhkan orang melalui aji aji, menerima juga santet, dan juga menerima pesugihan bagi yang membutuhkan nya.

Hingga suatu hari saat itu ayah terlihat sedang menunggu seseorang pagi hari sambil menikmati kopi, aku pun bertanya pada ayah karena itu bukan hal biasa yang ayah lakukan.

“tumben banget ayah ngopi diluar sambil ngrokok, biasanya didalam sambil nonton tv” tanyaku sambil nyapu

“biasa nunggu tamu, katanya ada yang mau kesini, dah lah kamu nggak usah tahu, sana beres beres dalam rumah saja” dengan sedikit sewot ayah menjawab.

Tidak lama setelah itu dari arah luar terdengar seseorang datang kerumah dan kemudian bercengkarama dengan ayah mengobrolkan sesuatu, aku yang kebetulan sedang membersihkan ruang tamu, maka samar samar aku mendengar pembicaraan mereka berdua, dan aku sempat mendengar kalau mas Yudi menyebut nama Sukir sidukun yang menjadi bosnya itu.

Karena mendengar nama tersebut aku kemudian langsung keluar untuk memastika dan berharap aku salah dengar dengan apa yang dikatakan mas Yudi

“maaf yah tadi aku dengar kata mbah Sukir, apa bener?” tanyaku pada ayah

“eh Ratih, hehe selamat pagi, lagi apa nih, masih pagi udah cantik aja kamu” mas Yudi mencoba merayuku.

“alah kamu malah keluar, udah ayah bilangin sana bersih bersih dalem aja, nggak usah ngurusin ayah sama mas Yudi yang masih ngobrol” ucap ayah kesal

“sudah tenang aja dek Ratih aman kok kita nggak macem macem ngobrolnya, paling nanti tentang lamaran kita” mas Yudi terus mencoba menggodaku.

Aku yang merasa kesal kemudian terpaksa masuk kedalam rumah, aku berharap apa yang aku dengar tadi salah dan ayah tidak akan memilih jalan yang ditempuh bersama mbah Sukir.

Tak berselang lama, ayah dan mas Yudi pergi dari rumah entah mau kemana, namun ayah sempat berpamitan dengan ibu ku untuk keluar dulu berasama mas Yudi, saat aku Tanya ibu kemana ayah akan pergi, ibu tidak mau menjawabnya dan memilih diam sambil melanjutkan kegiatannya, aku yang berfikir cemas karena takut apa yang aku pikirkan itu menjadi nyata.

Cukup lama ayah pergi hingga tak terasa siang haripun tiba, aku masih terus menunggu sambil menyiapkan materi untuk diajarkan ngaji sore hari nanti di mushola kampung, sudah menjadi kebiasaanku mempersiapkan materi untuk mengaji.

Terdengar ayah pulang dari perginya bersama mas Yudi, ayah membawa sebuah kantong kresek berwarna hitam yang langsung dia bawa menuju kamar dan langsung di letakan dalam lemarinya kemudian dikunci, setelah itu ayah kembali pergi lagi karena ternyata diluar mas Yudi masih menunggu ayah di atas motornya.

Kekhawatiran masih terus kurasakan karena ayah perginya bersama mas Yudi, seandaynya saja dia pergi bersama orang lain aku tidak akan sekhawatir ini, singkat cerita hari mulai sore, aku pun baru pulang selesau mengajar anak anak mengaji di mushola, ayah kebetulan menyusul pulang dari perginya bersama mas Yudi, tapi kembali ayah membawa benda lagi ditangannya yang kali ini berbentuk kain kantong berwarna hitam dan kembali langsung dibawa kedalam kamarnya kemudian dia kunci dari luar karena akan makan malam, aneh kuraasa karena tidak biasanya ayah mengunci kamar saat semua berada dirumah.

Malam hari pun tiba aku sedang bersiap siap untuk tidur di kamarku, dari luar kamar aku melihat ayah dan ibu sedang sibuk menyiapkan sesuatu, aku tak ambil pusing karena mungkin ayah dan ibu sedang menyiapkan untuk bisnis yang akan mereka mulai besok, karena beberapa hari lalu mereka berencana membuaka usaha baru menjual bakso keliling.

Tak terasa aku pun tertidur, tapi ternyata aku terbangun jam duabelas malam karena ada bau yang membuatku terganggu, aku terbangun karena aku mencium sebuah aroma………
profile-picture
profile-picture
profile-picture
meqiba dan 2 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di