CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
MISTERI KEMATIAN IBU KOS
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ffbe9c2c820840de3591703/misteri-kematian-ibu-kos

MISTERI KEMATIAN IBU KOS

RULES

[I]- Ikuti perarturan SFTH

- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.

- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.

- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis.

INDEKS















Part - 1

Angin dingin berhembus menerpa wajah Kirana, yang tengah berjalan menembus pekatnya malam. Hari ini ia kebagian shift sore, hingga ia pulang ke kos-kosannya mendekati tengah malam. Dipersimpangan jalan langkahnya terhenti, saat netranya menangkap sosok wanita paruh baya yang sedang duduk disebuah halte. Wajahnya terlihat pucat dan sepertinya ia hanya seorang diri.

Kirana menghempaskan tubuhnya di kursi halte. Dengan senyum ramah Kirana coba menyapa. Dan ia kaget saat wanita itu menoleh ke arahnya.

"Bu Asih ?...ibu mau kemana ?, ini sudah tengah malam loh. Ibu sama siapa ?."

Wanita itu ternyata adalah ibu pemilik tempat kos yang Kirana tinggali. Bu Asih tak menjawab, hanya diam terpaku. Wajahnya terlihat sangat pucat. Kirana mengeluarkan sebungkus roti yang sengaja ia bawa dari tempat kerja. Kirana bekerja disebuah toko roti. Disodorkannya bungkusan roti ke arah bu Asih.

"Bu, saya punya roti, tadi saya bawa dari tempat kerja, ibu mau ?."

Karena bu Asih tak bergeming. Kirana menarik kembali roti yang tadi disodorkannya, dan mulai memakannya. Tiba-tiba hidungnya kembang kempis.

"Astaga !!, dari mana datangnya wangi ini, seperti wangi yang biasa dipakaikan ke jenazah," batin Kirana.

"Wangi apa ya bu Asih ?," Kirana melihat ke arah dimana bu Asih tadi duduk.
"Loh..bu Asih kemana ya, tadikan dia disini," gumam Kirana.

Tiba-tiba Kirana merasakan bulu kuduknya meremang, aroma melati semakin kuat menyengat.

"Upss...kemana sih bu Asih nih ?."

******

Kendaraan angkot yang ditunggu akhirnya datang, Kirana langsung naik.

"Ah..mungkin bu Asih sudah pulang duluan," gumamnya.

Wangi menyengat aroma melati masih tercium. Kirana melihat arloji yang melilit pergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 00.15 tengah malam.

*******

Kirana menghentikan kendaraan saat telah tiba di gang tempat kosnya berada.

"Kiri ya bang !."
"Baik neng."

Pak supir menghentikan laju kendaraannya. Saat ia hendak membayar, pengemudi itu menolak.

"Sudah neng, sudah dibayar ibu itu."
"Ibu yang mana bang ?."
"Itu udah turun duluan."

Kirana bengong saat pengemudi itu menunjuk ke arah jalan masuk gang. Kirana berlari mengejar ibu yang telah membayarkan ongkos angkotnya. Tapi hingga dipertengahan gang, ia tak menjumpai siapapun.

******

Beberapa rumah sebelum ia memasuki tempat kos, ia melihat bendera kuning tertambat di sebuah tiang. Di tengahnya tertulis nama ASIH BINTI FULAN.

Kirana diam terpaku, sendi-sendi tubuhnya bergetar.

"Jadi..bu Asih yang kutemui tadi, itu....itu...." Tubuh Kirana limbung, sebelum akhirnya ia terjatuh dan tak sadarkan diri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 36 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 7

Bram berjalan tergesa masuk ke dalam kamarnya. Di depan kamar hampir saja ia bertubrukan dengan Anto.

"Astaghfirullah !!, ngagetin gua aja lu bang. Kapan dateng bang ?."
"Sory dek !, abang baru sampe."

Bram langsung masuk ke kamarnya, dan terlihat mencari-cari sesuatu.

"Lu cari ini bang ?," ujar Anto sambil menunjukan gawai di tangannya.

Bram memandang heran ke arah Anto.

"Koq ada di elu dek ?."
"Iya kemarin gua denger gawai lu bunyi, pas gua lihat, taunya mbak Kirana telfon."
"Kirana ?."
"Iya..untung gue angkat bang, dia ketakutan. Gua samperin ke kosannya, trus gua ajak pulang ke sini. Dia kesian banget bang, emang ada apa sih bang di kosannya ?."

Bram tak menjawab, matanya mencari-cari Kirana.

"Sekarang Kirananya dimana ?."
"Kerja bang, tadi gua anter ke kantornya disuruh ibu."

Bram manggut manggut.

*******

Kirana merapikan meja yang berantakan, hari ini ia pulang agak sedikit telat.

"Na !!, mau gue anter," sapa Roy. Roy adalah laki-laki yang pernah mengutarakan cinta padanya, tapi Kirana menolaknya.
"Makasih Roy, aku naik angkot saja."
"Yakin !, udah malam loh ini."
"Iya Roy gak apa-apa."

********

Kirana menyebrangi jalan kecil, sedikit berlari menuju halte.

"Malam ini dingin banget," gumam Kirana.

Kirana duduk menunggu angkot yang lewat.
Tak berapa lama sebuah sepeda motor berhenti di dekatnya.

"Selamat malam mbak, sedang nunggu apa ?," laki-laki dengan wajah terbungkus helm menyapanya.

Kirana diam, lalu berdiri dan siap untuk berlari.

"Mau aku antar mbak ?," ujar laki-laki itu sambil membuka helmnya.
"Mas Bram !!," seru Kirana sambil menghambur kearahnya.

Bram tertawa saat Kirana memukul tubuhnya.

"Udah dong marahnya, yuk aku antar pulang."

Kirana langsung naik dan duduk di jok belakang motor.

"Kamu kemana mas, seminggu gak ada kabar berita."
"Aku tugas keluar kota sayang."
"Tapi kenapa hp nya gak dibawa."
"Yaitu ketinggalan, mau balik lagi gak mungkin. Aku tau pas dah di kereta."

Sepanjang jalan Kirana menceritakan semua yang terjadi di rumah bu Asih.

"Untung ada Anto yang nolong aku mas, kalau nggak, nggak tau aku."
"Yasudah, sekarang kan sudah aman. Tita juga sudah balik kan ?."
"Tita ?, emang Tita udah balik ?, koq mas tau?," tanya Kirana dengan wajah heran.

Bram terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Tadi saat aku sampai rumah, aku langsung cari kamu. Aku ketemu Tita, dan kata Tita kamu gak ada."
"Oh gitu."

Bram menepikan sepeda motornya di depan kamar kos Kirana. Lampu kamar terlihat menyala. Dari balik gorden terlihat seseorang memperhatikan mereka berdua.

"Mas langsung pulang ya, mas capek."
"Gak mampir dulu mas ?,.biar aku buatin kopi."
"Gak usah sayang, udah malam, gak enak sama orang, nanti dikira kita ngapa-ngapain lagi."

Kirana merasakan adanya kejanggalan dari sikap Bram, biasanya selarut apapun Bram selalu mampir dan menemaninya sekedar mengobrol.

"Ada apa sama mas Bram, akh mungkin mas Bram capek kali," Kirana menepis pikiran buruk yang mulai merasuki otaknya.

********

Kirana mengetuk pintu. Tak berapa lama pintu terbuka. Tita sudah berdiri dengan senyum yang terlihat aneh dimata Kirana.

"Ta..kamu udah balik."
"Iya Na, tadi pagi. Aku tanya mang Dadang, katanya kamu dari kemarin gak ada di kamar. Kamu kemana Na?."
"Oh iya, aku nginep di rumah teman. Sepi Ta, gak ada kamu."

Kirana melihat koper tersandar di sudut kamar.

"Kamu mau kemana Ta ?."
"Aku mau pindah Na."
"Loh..koq kamu gak bilang sih. Koq mendadak gini."
"Iya aku minta maaf Na. Bibi aku minta aku untuk tinggal sama mereka. Maafin aku ya Na."

Kirana diam terpaku, entahlah terlalu banyak kejadian aneh yang terjadi akhir-akhir ini, sehingga membuat ia tak bisa berpikir jernih.

******

Kirana berjalan ke luar kamar, sementara Tita telah tertidur lelap.

"Ada apa sebenarnya ini ?, mengapa semua kejadian ini begitu tiba-tiba."

Saat Kirana tengah berdiri melamun, Kirana melihat sosok perempuan yang sangat dikenalnya berjalan terhuyung melintas di depannya.

"Bu Asih !!, itukan bu Asih," gumam Kirana dengan tubuh bergetar.

Sosok itu tiba-tiba jatuh terjerembab. Kirana reflek berlari kearahnya.

"Bu Asih !, ibu gak apa-apa ?."
"Tolong ibu Kirana."

Betapa terkejutnya Kirana saat ia hampiri, wajah itu bersimbah darah, dan

Astaghfirullah !!, sebuah pisau tertancap di perutnya.

Kirana berteriak meminta pertolongan

"Tolong...toloong..tolonnngggg."

Tubuh Kirana tersentak saat sebuah tangan menepuk pipinya.

"Na !..Kirana !!, Kirana bangun!."

Kirana membuka matanya. Keringat mengucur deras di dahinya.

"Na !, kamu ngimpi apa ?. Ada apa sih Na ?, cerita ke aku !."

Kirana menggelengkan kepalanya, entahlah seperti ada kekuatan yang melarangnya untuk menceritakan isi mimpinya pada Tita.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan

Part - 3

Satu hari setelah kepergian bu Asih, rumah besar itu kembali sepi. Rumah itu kini kosong dan hanya dijaga oleh mang Dadang dan istrinya. Jarot adik bungsu bu Asih hanya sesekali datang berkunjung untuk memeriksa keadaan rumah dan meminta uang kos-kosan, karena bu Asih tidak mempunyai anak, sementara suaminya telah lama menghadap sang pencipta.

******

Jarot adalah adik bungsu bu Asih, dia sudah berkeluarga dan mempunyai seorang putri yang masih duduk di bangku SMA. Kehidupan mereka tidak seperti bu Asih yang berkecukupan, kehidupan mereka sangat sederhana. Jarot bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik konveksi. Sebelumnya mereka tinggal disebuah kontrakan kecil, tak jauh dari rumah bu Asih.
Semasa bu Asih hidup, Jarot pernah ditawarkan untuk menempati salah satu kamar kos milik bu Asih, tapi Jarot menolak, dan lebih bersedia tinggal di kontrakan kecilnya.

******

Sementara itu kakak tertua bu Asih, seorang wanita bernama Retno, tinggal di luar kota. Retno sudah dua kali menikah dan sama seperti bu Asih, Retno juga tidak mempunyai anak, ia hanya mempunyai seorang anak tiri bernama Tika, bawaan suaminya yang seorang duda bernama Rudi.

*******

Kematian bu Asih yang tiba-tiba, telah menjadi buah mulut warga desa. Apalagi kematiannya bertepatan dengan adanya pertengkaran antara bu Asih dan Retno yang sedang datang berkunjung.

Retno dihari bu Asih meninggal, datang berkunjung. Entah apa yang menjadi penyebabnya tiba-tiba terjadi pertengkaran hebat. Retno yang sedang marah sempat mengancam akan menghabisi bu Asih, sebelum kembali ke rumahnya.

******
Mang Dadang pria paruh baya, yang bekerja membersihkan kebun dan menjaga keamanan di rumah bu Asih. Meski usianya sudah berkepala lima, tapi garis-garis ketampanannya masih terlihat nyata. Istrinya bekerja sebagai pembantu di rumah bu Asih. Mereka tinggal di salah satu kos-kosan milik bu Asih tanpa membayar alias gratis. Mereka mempunyai seorang anak laki-laki berkebutuhan khusus, tapi sudah meninggal karena sakit.

*******

Udara panas didalam kamar kos, membuat Kirana beranjak keluar. Hari ini Tita teman sekamarnya berdinas malam. Tita bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit.
Meski ada sedikit rasa takut, Kirana mencoba menepisnya dengan bersenandung.

Suasana di luar terlalu sunyi untuk malam yang masih belum meninggi. Entahlah pada kemana perginya penghuni kos-kosan. Kirana berjalan ke arah taman yang biasa ia datangi saat malam sepi sendiri. Dihempaskan tubuhnya disebuah bangku taman, sambil membuka gawai yang sejak tadi dipegangnya.

Tink...

Sebuah pesan masuk dari Bram

[Malam sayang...sudah bobo belum?😍]

Kirana tersenyum dan membalas wa dari Bram.

[ Belum mas, nih aku masih di luar, didalam panas ]

[ Mau mas temenin gak ? 😍]

[ Gak usah mas, sudah malam. ]

[ Yasudah kalo gitu istirahat ya, udara malam gak baik loh buat kesehatan ]

[Iya mas.]

[ Love you dear ...met bobo ya..😍]

[ Love you too mas..😍 ].

Kirana menutup gawainya. Matanya menerawang melihat kelangit yang dipenuhi bintang-bintang dan cahaya rembulan. Malam ini teramat indah, karena bulan bersinar penuh, dan Kirana terhanyut dalam pesonanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 18 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Part - 2

Kirana merasakan kepalanya begitu berat. Perlahan netranya menangkap sosok Bram kekasihnya yang sedang berbicara dengan Tita teman satu kosnya.

"Aduh !!, kenapa aku ada disini ?."
"Alhamdulillah kamu udah sadar Na. Tadi kamu pingsan. Pak Tono dan beberapa warga yang bawa kamu kesini," ujar Tita dengan khawatir.

Bram menggenggam jemari Kirana dan menatap dengan tatapan penuh tanya.

"Kamu kenapa sayang ?, kenapa kamu pingsan ?, kamu sakit ?. Tita tadi telfon aku, makanya aku langsung kemari," Bram menghujani Kirana dengan pertanyaan, wajahnya terlihat sangat cemas.

Kirana mencoba bangun, tapi Bram menahannya.

"Jangan bangun dulu sayang, kamu kayaknya gak sehat."
"Aku gak apa-apa mas. Aku hanya bingung dan kaget tadi."
"Kamu kaget kenapa ?."
"Entahlah mas. Sepulang dari kantor tadi, aku bertemu dengan bu Asih. Bu Asih sedang duduk di halte dekat kantorku mas, tapi saat aku tanya, beliau diam saja, gak menjawab sepatah katapun."

"Bu Asih ?. Bu Asih sudah meninggal sayang. Kamu lihat sendiri kan ?. Sayang, kamu pasti lagi capek, makanya muncul pikiran yang enggak-enggak."

"Entahlah mas."

******

Rumah besar milik bu Asih dipenuhi sanak saudara, kerabat dan warga yang bertakziah. Malam hampir menjelang pagi, saat Kirana mendengar suara memanggilnya.

Kirana !!..Kirana !! tolong ibu Kirana !!

Kirana bangkit dari tidurnya..

"Siapa yang memanggilku ?, suara itu sepertinya sangat akrab ditelingaku."

Kirana berjalan ke arah jendela. Dilihatnya diluar begitu sepi. Beberapa lelaki masih terlihat berjaga didepan rumah bu Asih. Suara lantunan ayat sucipun masih terdengar. Kirana melepaskan pandangannya kearah pepohonan pisang yang berjajar di pekarangan rumah. Diantara gelapnya malam, Kirana melihat sosok wanita tua tengah berdiri menatapnya.

"Bu Asih !!," Kirana mengucek kedua bola matanya, mencoba meyakinkan kalau apa yang dilihatnya itu benar.

Tita yang kaget mendengar suara Kirana, mendekat sambil berbisik.

"Ada apa na?, kamu lagi liat apa ?."

Kirana menunjuk kearah rerimbunan pohon.

"Aku tadi melihat bu Asih berdiri disana Ti," bisik Kirana.
"Bu Asih !!, Ah..kamu salah lihat kali. Bu Asih kan sudah meninggal. Jangan ngaco ah, bikin aku takut aja," suara Tita sedikit bergetar.
"Udah yuk Na, kitatidur lagi !. Aku takut nih...hiyy." ujar Tita sambil menarik tangan Kirana untuk kembali tidur.

Kirana mengikuti Tita ketempat tidur, dan mencoba memincingkan matanya. Meski ia berusaha untuk tidur, tapi ia seperti dihantui bayang-bayang bu Asih.

"Ada apa sebenarnya ini ?. Kenapa bu Asih seperti hendak menyampaikan sesuatu ?," batin Kirana.

******

Suara adzan terdengar di kejauhan. Kirana bangkit hendak shalat. Dilihatnya Tita sudah lebih dulu berwudhu. Kirana bergegas bangkit dan berjalan ke kamar mandi.

"Na jamaah ya !, aku tunggu."

Kirana mengangguk. Tak berapa lama terlihat mereka khusuk dalam shalat.

*****

Hari mulai terang saat Kirana dan Tita berjalan ke rumah bu Asih. Bram yang semalam tidur di dalam mobil, sudah terlihat menunggu di depan rumah bu Asih.

"Mas !, mas sudah disini."
"Ia Na, mas gak bisa tidur, mas kepikiran kamu."
"Cie..cie..segitunya," canda Tita dengan suara pelan.

Kirana mencubit lengan Tita.

"Aduh !!, sakit Na."
"Biarin !," ujar Kirana sambil tersenyum

Bram yang melihat tingkah keduanya, hanya tersenyum, sambil menarik tangan Kirana untuk duduk disebelahnya.

*******

Tubuh bu Asih terbaring bertelekan kasur kecil. Kirana memandangi wajah perempuan tua yang terbaring dihadapannya, wajah yang selalu menyapanya dengan hangat saat ia berangkat dan pulang kerja. Bu Asih sangat menyayangi Kirana, ia menganggap Kirana seperti anaknya sendiri. Kiranapun sangat sayang dan hormat kepada bu Asih. Kematian bu Asih yang tiba-tiba, membuat Kirana sedikit terguncang.

*******

Hari menjelang siang, saat tubuh bu Asih diantarkan ke pemakaman. Perempuan tua yang baik hati itu kini telah tiada, namun masih menyisakan tanya di hati Kirana, akan sebab kematiannya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 6

Kirana berjalan mengitari halaman rumah bu Asih. Di halaman belakang Kirana berjumpa dengan mang Dadang yang tengah mengarit rumput.

"Sore mbak Kirana," sapa mang Dadang.
"Sore mang. Lagi ngarit mang ?."
"Iya mbak, rumputnya sudah tinggi, kalau tidak di arit, takut ada ular."

Kirana menatap mang Dadang yang tengah sibuk dengan aritnya. Lalu dengan ragu, Kirana bertanya,

"Mang kalau malam, di rumah bu Asih ada yang tidur gak ?."
"Nggak mbak, kosong. Kalau siang saya dan istri saya paling yang masuk ke dalam, biasa... bersih-bersih. Ada apa to mbak, koq tumben mbak Kirana nanya gitu."
"Oh..eh..gak apa-apa mang, hanya tanya."

Mang Dadang menghentikan aktivitasnya. Perlahan ia berdiri dan menatap tajam ke arah Kirana.

"Mbak Kirana, sebaiknya mbak jangan terlalu banyak ingin tau, apa yang seharusnya tidak perlu kita tau."
"Maksud mamang ?," tanya Kirana heran.

Belum lagi tanyanya terjawab, tiba-tiba..

prangg, suara benda pecah terdengar dari rumah bu Asih.

"Pergilah !!, ujar mang dadang dengan intonasi marah.

"Tapi kenapa mang ?."
"Pergi kataku !!."

Kirana bergegas pergi. Kirana begitu takut melihat sorot mata mang Dadang.

"Ada apa sebenarnya ini, kenapa mang Dadang begitu marah."

********

Kirana menimang-nimang gawainya.

"Mas Bram kemana sih ?, kenapa seminggu ini gak bisa dihubungi."

Saat ia tengah gelisah, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Kirana membukanya dan ..

"Astaghfirullah, apa ini ?, siapa yang melakukan semua ini ?."

Seekor ayam hitam dipenuhi darah segar, tergeletak di depan kamarnya.
Kirana berlari keluar, dan melihat keseluruh sudut halaman, tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang disana, sepi, hanya gemerisik suara angin yang bergesekan di dedaunan.

Dengan rasa takut, Kirana kembali masuk kedalam kamar kosnya, dia tak mau mengambil resiko berada di luar sendirian.

*******

tuut...tuuuttt....tuttt

"Mas angkat dong hpnya mas!!, angkat !!."
"Hallo," terdengar suara diujung sana.
"Hallo mas !!, mas !!..tolong aku mas !!, tolong aku. Aku takut !!."
"Hallo ini siapa ?," terdengar nada heran diujung sana.
"Oh ma..maaf bu. Ini Kirana bu. Bu mas Bram ada?."
"Bram gak ada nak, sudah seminggu ia pergi, dia gak bawa hp. Tadi Anto yang hidupin hpnya, ada apa nak?, kenapa kamu teriak-teriak ?."
"Ibu !! tolong Kirana bu, Kirana takut."
"Ada apa Kirana ?, Kamu dimana ?, kirim alamatnya nak, nanti ibu suruh Anto kesana."

Dengan gugup Kirana menshare lokasi. Kirana bersembunyi disudut kamar, tubuhnya bergetar hebat. Ayam hitam yang tergeletak tak bernyawa didepan kamarnya, membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Keringat membasahi kening dan tubuhnya.

*******

tok..tok...tok

"Mbak !!, buka pintu mbak !."

Suara ketukan dipintu terdengar perlahan. Dengan tubuh gemetar Kirana berjalan mendekat, dan mengintip dari balik gorden. Anto adik Bram terlihat berdiri disana.

"Anto !."
"Iya mbak ini aku."

Kirana membuka pintu dan menghambur ke arah Anto.

"Siapa yang melakukan semua ini mbak ?."
"Mbak gak tau dek, tadi ada yang mengetuk pintu, pas mbak buka sudah ada ini."
"Keterlaluan !!. Ini gak bisa dibiarkan mbak."
"Kalo gitu, malam ini tinggal di rumahku saja mbak. Aku gak mau ada apa-apa sama mbak Kirana."

Kirana mengangguk. Dengan tergesa Kirana mengambil tas dan baju kerjanya. Dikuncinya pintu kamar dan pergi dengan Anto.
Dari balik gelapnya malam empat pasang mata mengawasinya menghilang di kejauhan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 5

Kirana terlihat gelisah dalam tidurnya. Malam ini Kirana tidur sendiri, karena Tita pulang kampung, ayahnya dikabarkan sakit keras.

Kirana beranjak dari tempat tidur, saat rungunya mendengar percakapan dari rumah bu Asih.

"Siapa yang malam-malam begini masih ada di luar ?."

Kirana mengintip dari balik gorden, dilihatnya ada dua orang sedang bercakap cakap di depan rumah bu Asih.

"Siapa mereka ?, kenapa mereka ada disana ?."

Kirana perlahan membuka pintu, dan mengendap-endap ke samping rumah bu Asih.

trakkk.., tanpa sengaja kakinya menginjak ranting yang jatuh di halaman rumah bu Asih.
Dua orang yang sedang terlibat pembicaraan, menoleh dan beranjak menjauh. Sepertinya mereka sadar kalau ada yang sedang mengawasi.

*******

Kirana berusaha mengenali dua sosok tadi, tapi pandangannya terhalang oleh hoody dan kaca mata hitam yang dipakai mereka.

"Siapa mereka ?, kenapa gerak gerik mereka sangat mencurigakan ?."

Saat ia tengah berpikir keras, tiba-tiba ada sebuah tangan dingin menyentuh bahunya. Kirana memejamkan mata, nafasnya memburu dan denyut jantungnya seperti berpacu. Ia merasakan hawa dingin berhembus ditelinganya.

Kirana !!!....Kirana !!!, tolonggg ibu Kirana, tolonggg ibu !!, ibu sakit...aakhhhh !!!

"Bu Asiihh !!, ibu kenapa bu ?, bu Asih !!."

Kirana membuka matanya, sepi..., bulu kuduk Kirana meremang, saat dilihatnya sebuah bayangan menghilang dibalik pekatnya malam.

*******

Dengan berlari kecil Kirana kembali ke kamarnya.

brukk, tubuh Kirana terhuyung saat sebuah benda menghantam tubuhnya, sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.

*******

Sinar matahari membangunkan Kirana yang tak sadarkan diri. Kirana membuka matanya, kepalanya terasa sangat sakit.

"Dimana aku?, apa yang terjadi ?."

Kirana mencoba mengingat kejadian yang sudah dia alami, hingga akhirnya sebuah benda membuatnya terjatuh dan tak sadarkan diri.

Kirana bangkit dan melihat sekeliling, alangkah terkejutnya ia, saat mendapati tubuhnya berada di sebuah pemakaman, dan ia tertidur diatas makam bertuliskan Asih bin Fulan.

"Astaghfirullah !!, kenapa aku ada disini ?, siapa yang membawa aku kesini ?."

******

Dengan tubuh terhuyung menahan sakit, Kirana berjalan menyusuri makam yang tersusun rapi.
Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkannya.

"Dari mana mbak Kirana ?."

Kirana menoleh, dilihatnya Jarot adik bu Asih sedang berdiri di bawah sebatang pohon.

"Pak Jarot !!, bapak sedang apa ?."

Pak Jarot tak menjawab pertanyaan Kirana. Sebuah arit berkilau tertimpa sinar matahari terlihat berada dalam genggamannya. Kirana merasa jiwanya dalam bahaya, untuk itulah saat pak Jarot melangkah ke arahnya, Kirana berlari menjauh.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 16 lainnya memberi reputasi

Part - 3

Kirana menatap rembulan yang malam ini cahayanya begitu memukau. Desir angin yang bertiup perlahan membuat Kirana tanpa sadar tertidur.

Dalam tidurnya, Kirana melihat bu Asih datang menghampirinya, wajahnya terlihat sangat pucat, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, langkahnya terseok-seok.

"Bu Asih ?, bu Asih kenapa ?."

Saat itu bu Asih hanya bergumam lirih.

Toloonggg....toloonggg...tolong ibu Kirana

Kirana berusaha menjangkau tangan bu Asih, tapi sebuah tangan kekar seperti menarik dan mencengkramnya dengan kuat. Bu Asih meronta-ronta hingga akhirnya terdiam.

"Bu Asih !!....bu...bu...bu Asih...bu Asiiihhh !!."

Kirana menjerit sekuat kuatnya, tapi suaranya seperti tersekat di kerongkongan. Nafasnya tersengal sengal. Hingga sebuah tangan menyentuhnya.

"Naa !!, Kiranaa !!, bangun Na!!."

Akh..., Kirana tersentak, guncangan tangan dan tepukan dipipi mengagetkannya.

"Kamu kenapa teriak-teriak gitu ?, trus kenapa juga kamu tidur disini Na ?," tanya Tita dengan nada heran.

Kirana mengatur nafasnya, dipandangi sahabat yang sudah duduk disebelahnya.

"Tita !!, kamu..kamu koq sudah pulang ?."
"Aku ijin Na, badanku gak enak, mungkin karena kecapekan kali ya, kemarin habis bantu-bantu beberes di rumah bu Asih."
"Kamu ngapain sih tidur di luar ?, serem tau, ayo ah kita masuk !!."

Kirana mengikuti langkah Tita yang berdiri sambil menggamit lengannya.

******

Kirana merapikan sajadah dan rukuknya, sementara Tita sudah lebih dulu naik ke tempat tidur.

"Na !!, kamu tadi mimpi apa sih ?, kok teriak-teriak manggil-manggil bu Asih. Bu Asih kan udah meninggal Na. Apa arwah bu Asih gentayangan ya ?, kan katanya kematian bu Asih gak wajar...hiiyyyy." ucap Tita sambil menutup wajahnya dengan selimut.

"Hush jangan asal bicara kamu Ta, didatengin baru tau rasa kamu."

Tita melompat dari tempat tidur, dan memeluk tubuh Kirana.

"Apaan sih kamu Na , aku takut tau."
"Hahaha...hahaha, makanya ngomong tuh hati-hati, gak usah dengerin gosip-gosip receh yang gak danta."

Tita diam, wajahnya terlihat sangat takut. Tangannya mencengkram Kirana dengan kuat. Kirana tersenyum geli.

*******

Malam semakin larut, suara serangga malam terdengar bersahut-sahutan. Angin yang bertiup kencang, membuat suara pepohonan diluar terdengar berderak-derak.
Kirana belum juga dapat memincingkan matanya. Kehadiran bu Asih dalam tidur sesaatnya tadi, membuat otaknya disesaki pertanyaan.

"Bu Asih!!, ada apa sebenarnya dengan ibu ?," gumam Kirana, sebelum akhirnya ia terbuai dalam lelap.

******

Kirana bergegas melangkah keluar dari kamar.

"Hadeuh telat nih !!. Ta aku jalan dulu ya, udah kesiangan nih. Aku masih ada beberapa potong roti dan mie instan di lemari, ambil aja kalo kamu laper."

Tita mengangguk. Kirana memang sahabatnya yang paling baik, dia tidak pernah hitung-hitungan dalam hal apapun. Perasaan dan tutur katanya sangat halus. Kirana tidak pernah marah, bibir tipisnya selalu tersenyum meski ia sedang ada dalam masalah, itulah yang membuat bu Asih sangat menyayanginya.

Bu Asih mempercayakan Kirana untuk menagih uang kos, kepada teman-temannya. Dan teman-temannya kerap meminta bantuan Kirana untuk bicara ke bu Asih, jika mereka telat membayar, karena mereka percaya bu Asih pasti akan membolehkan, jika Kirana yang bicara.

*******

Kirana masih duduk di mejanya. Makanan pesanannya yang diantar office boy masih belum disentuhnya. Jemarinya terlihat mengetuk ngetuk ballpoint ke meja.
Anggi teman sekantor yang satu ruangan dengannya datang menghampiri.

"Na !! kamu gak makan ?."
"Oh..eh..iya Nggi."
"Kamu kenapa Na ?, dari tadi aku lihat kamu banyak melamun. Kamu lagi ada masalah dengan Bram ?."
"Enggak Nggi. Aku lagi mikirin almarhum ibu kos aku."
"Bu Asih. Ibu kos yang kata kamu baik banget ke kamu kan ?, memangnya ada apa Na?."
"Ah..nggak apa-apa Nggi, mungkin akunya aja yang terlalu terbawa perasaan. Yuk kita makan."

Kirana dan Anggi makan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Anggi tak ingin lagi bertanya. Ia sudah sangat mengerti sifat Kirana. Jika Kirana ingin cerita, ia akan cerita tanpa diminta.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 15 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Part - 12

Narti istri mang Dadang berlari kecil diantara terpaan gerimis yang perlahan mulai turun satu satu. Mang Dadang yang sedang asik menghisap rokok menatapnya sambil sesekali menghembuskan asap ke udara.

"Dari mana bu malam-malam gini ?."

Narti tak menjawab, tapi langsung masuk dengan menenteng keresek hitam.
Narti usianya lebih tua dua tahun dari mang Dadang, meski begitu untuk ukuran wanita seusianya masih terlihat cantik dan menggairahkan.

Narti meletakan keresek hitam yang digenggamnya. Perlahan dibuka baju ya melekat dibadannya, ia menggantinya dengan baju daster transparan yang semakin menampakan lekuk-lekuk ditubuhnya.

*******

Mang Dadang menghampiri istrinya yang sedang terbaring di ranjang.

"Kamu ke rumah dukun Roso lagi bu?."

Narti tak menjawab, tubuh sintalnya beringsut membalik.
Mang Dadang ikut merebahkan tubuhnya disamping Narti. Dipandanginya punggung tubuh Narti yang putih.

"Kenapa kamu harus kesana lagi bu ?, apa hantu bu Asih masih mengganggu kamu ?."

Narti tetap membisu, hanya desah nafasnya yang terdengar kian memburu, kala tangan mang Dadang mulai merangkul pinggangnya.

"Bu...jangan marah lagi ya !, bapak minta maaf kalau kemarin sudah bikin kamu cemburu."
"Aku gak cem......"

Narti tak meneruskan kalimatnya saat netranya menangkap sosok tak lazim di sudut kamar tengah menatap kearahnya.

aakkhh....pe..pe..pe...pergi !! Pergii !!! Jangan ganggu aku, pergii !!

Mang Dadang bangkit dan menyalakan lampu, saat mendengar teriakan Narti.
Dilihatnya wajah Narti yang dingin dan pucat.

"Ada apa bu ?."
"Aku melihat dia pak, dia ada disana," jemari Narti menunjuk ke sudut kamar.
"Dia siapa ?, bu Asih maksudmu ?."

Narti mengangguk sambil menangis. Mang Dadang merengkuh tubuh Narti dan mendekapnya dengan erat. Tangis Narti terhenti saat mang Dadang mulai mencumbunya dan memastikan bahwa tidak ada siapapun dalam kamar, kecuali mereka berdua.

*********

Malam kian larut, hanya bunyi serangga yang ramai terdengar meningkahi kegelapan dan kesunyian. Mang Dadang meraih rokok diatas nakas dan mulai menghidupkannya. Dipandanginya tubuh Narti yang terbaring kelelahan. Ia gak mengerti kenapa arwah bu Asih selalu mengganggu istrinya dan membuatnya ketakutan. Ada apa ini.?

******

Kirana menarik selimut, saat tubuhnya merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya.

hehh...ssshhh

Tiba-tiba rungunya mendengar suara rintihan minta tolong, yang semakin lama semakin jelas.

tolooong....toloonng ...tolong ibu Kirana !!

Kirana membuka netranya, di luar jendela kamar yang terbuka, sosok tubuh yang sangat dikenalnya, terlihat merintiih dan melambai padanya.

"Bu Asih !!.:"

Saat Kirana mulai benar-benar membuka matanya, ia tak melihat siapapun didekat jendela. Tubuh bu Asih yang tadi melambai padanya, kini sudah tak terlihat.
Kirana bangkit dan kembali menutup jendela.

"Kenapa bisa terbuka ya ?, padahal aku tadi sudah menguncinya," gumam Kirana bingung.

tingg

Sebuah pesan masuk ke gawainya. Dilihatnya sebuah nama terpampang "Roy"

Kirana membuka pesan yang berasal dari Roy.

[Malam Kirana...sudah tidur atau masih mikirin aku ? 😁]

[Malam mas. Tadi udah tidur, tapi kebangun karena jendela kamar terbuka]

[Koq bisa ?, apa kamu lupa ngunci ?]

[Perasaan sih udah Na kunci. Tapi gak tau juga, mungkin Na lupa ]

[Oh ya sudah, kamu bobo lagi aja, jangan lupa wudhu, biar gak ada yang ganggu.]

[Iya mas]

[😍😍]

Kirana tersenyum, saat dilihatnya emozi cinta yang dikirimkan Roy. Entah mengapa ia tidak marah saat tau Roy menaruh hati padanya, mungkin karena akhir-akhir ini Bram jarang mengunjungi dan menelfonnya.

Kirana berjalan ke kamar mandi dan mulai membasuh tubuhnya dengan air wudhu. Kirana merasakan kesejukan dan kedamaian setelah berwudhu. Kirana yakin dan percaya Allah akan selalu menjaganya dimanapun ia berada.

*******

Bram menyeruput kopi perlahan. Disebelahnya terlihat seorang gadis muda tengah menemaninya. Wajah tampannya tersenyum kala gadis disebelahnya menyandarkan kepala kebahunya.

"Mas !."
"Hmm...ada apa sayang ?."
"Kapan mas mau nemuin orang tua aku ?."
"Sabar ya, mas selesaikan urusan ini dulu. Kalau semua sudah selesai, mas janji, mas akan ketemu dengan bapak dan ibu."
"Janji ya mas." Ujar wanita itu sambil menggelayut manja di lengan Bram.

Bram memandang wajahnya dengan mesra dan menghujaninya dengan kecupan hangat di dahinya yang putih.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 14 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Part - 4

Kirana berjalan menyusuri gang arah menuju tempatnya tinggal. Langkah kakinya sedikit tergesa, karena hujan sebentar lagi akan turun. Meski hari belum lagi malam, tapi suasana perkampungan tempat Kirana kos sudah sangat lenggang. Mereka sepertinya enggan untuk keluar rumah, disaat seperti ini.

Angin yang bertiup sedikit kencang, membuat tubuh Kirana menggigil kedinginan.

********

Masih beberapa rumah yang harus dilaluinya saat hujan deras turun.

"Ya Allah, hujannya deres banget. Aku gak bawa payung lagi."

Kirana berlari menepi kesebuah rumah kecil. Rumah ini sepertinya sudah lama ditinggalkan pemiliknya, karena debu dan sarang laba-laba ada dimana mana.

*******

Kirana mengeluarkan gawai dari tasnya. Sesaat ia mendekatkan gawai ke telinga.

"Assalamualaykum," terdengar suara laki-laki diujung sana.
"Waalaykumusallam. Mas Bram !!, aku kejebak hujan. Aku neduh di rumah kosong di gang ke arah kos-kosan, aku takut mas," ujar Kirana sambil menekan volume suaranya.
"Yasudah, kamu jangan kemana-mana !!, mas segera kesana," jawab Bram dari ujung sana.
"Iya mas, cepet ya !!, aku takut," ujar Kirana sambil menutup gawainya.

********

duarrr.....duarrr

Suara petir membuat hati Kirana semakin ciut. Malam mulai datang menyelimuti perkampungan. Tubuh Kirana mulai menggigil karena dingin dan rasa takut. Mulutnya tak henti-henti merafalkan doa.
Diantara derasnya hujan dan kilatan petir, Kirana melihat sosok wanita berjalan terseok-seok menuju kearahnya. Gaun putihnya yang lusuh basah oleh air hujan.

"Bu...bu...bu ..bu Asih," Kirana memejamkan matanya, saat sosok itu semakin mendekat. Tubuhnya seperti tak bisa digerakan, hingga sebuah tangan dingin menyentuh bahunya.

aaakkkhhh....ja...ja..jangan.....jangannn...jangan ganggu saya bu

"Sayang !!, ini aku. Heii buka mata kamu."

Kirana membuka matanya, dilihatnya Bram sudah berdiri di depannya. Kirana menghambur kepelukan Bram sambil menangis.

"Sudah...kamu aman sekarang sayang. Maafin mas ya, mas telat, tadi ada kecelakaan di jalan," ujar Bram sambil mencoba menenangkan Kirana.

*******
Tita yang menunggu Kirana dengan was-was, akhirnya dapat tersenyum lega, ketika melihat Kirana pulang diantar Bram.

"Alhamdulillah kamu dah pulang Na. Aku buatin teh hangat ya," ujar Tita sambil berjalan masuk.

Kirana mengangguk, tubuhnya masih terasa lemas karena rasa takut.

"Ganti baju dulu sayang, badan kamu basah nih."

Kirana mengangguk sambil berjalan kearah kamar.

*******

Bram mengepulkan asap rokok ke udara. Kejadian yang menimpa Kirana membuatnya khawatir akan keselamatannya.

"Apa sebenarnya yang diinginkan bu Asih dari Kirana ?, kenapa bu Asih selalu mendatangi Kirana."

Saat ia tengah menunggu Kirana berganti baju, ia melihat bayangan berkelebat masuk ke rumah bu Asih.

"Siapa yang malam-malam berkunjung ke rumah bu Asih," gumamnya.
"Ada apa mas ?."

Kirana yang muncul dari balik pintu, mencuri dengan ucapan Bram.

"Siapa yang datang ?."
"Gak tau sayang. Mas heran aja, siapa yang berkunjung saat hujan deras seperti ini ?."
"Mungkin mang Dadang kali mas, meriksa rumah bu Asih, takut bocor."

Bram mengernyitkan dahinya.

"Mungkin. Ah sudahlah, mungkin juga mas yang salah lihat. Sayang kamu punya kopi panas gak ?."
"Nih, sudah aku buatkan mas Bram," tiba-tiba Tita muncul dari balik pintu sambil membawa secangkir kopi panas.
"Dengan sedikit gula dan gak diaduk kan," ujarnya sambil tersenyum manis.
"Koq, kamu tau Ta, kesukaan mas Bram."

Tita sedikit gugup, tapi cepat-cepat ditepisnya rasa gugup itu.

"Loh kan kamu yang bilang, mas Bram itu kalo ngopi sukanya dengan sedikit gula dan gak diaduk. Kamu lupa ya Na."

Kirana mencoba mengingat-ingat, tapi sepertinya ia belum pernah mengatakan itu ke Tita, tapi bisa jadi ia lupa.

"Iya Ta, mungkin aku yang lupa, pernah bilang gitu ke kamu."

*******
Bram berjalan ke mobil. Kirana menggamit lengannya dengan mesra, sambil berbisik.

"Mas, baiknya aku cari kos-kosan baru kali ya, daripada tiap hari aku ketakutan."
"Iya sayang, mas juga dari tadi mikir gitu. Alhamdulillah kamu juga sepemikiran. Kalau gitu besok mas tanya sama teman-teman di kantor, kali aja ada yg tau kosan yang bagus."

"Iya mas. Hati-hati di jalan ya."
"Hmm. Kamu juga hati-hati sayang, mas mulai was-was. Jangan kemana-mana ya, langsung tidur."

Karina mengangguk. Dilepaskan pegangannya dari lengan Bram.
Bram meninggalkan Karina yang berdiri sambil melambai kearahnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 14 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Part - 9

Bram sudah meninggalkan tempat kos Kirana, saat Kirana membuka matanya.

"Mas Bram sudah pergi, koq gak bangunin aku ya," gumam Kirana.

Kirana berjalan keluar kamar, suasana diluar masih terlihat gelap dan sepi, hanya sayup-sayup terdengar suara orang mengaji dari masjid di depan gang. Kirana membuka keran dan mulai berwudhu.

Saat ia tengah membasuh kakinya, tiba-tiba ekor matanya menangkap sekelebat bayangan di kejauhan. Kirana memalingkan wajahnya, tapi netranya tak dapat melihat apapun di kegelapan.

"Ah..mungkin cuma perasaan aku aja," gumam Kirana

Kirana berjalan masuk ke kamar kosnya. Sesaat kemudian terlihat ia sudah khusuk dalam shalatnya.

********

Bram memarkir motornya di pelataran sebuah rumah. Terlihat ia mengetuk pintu, dan dari dalam seorang wanita muda membukakan pintu sambil tersenyum manis.

"Mas..koq lama banget."
"Iya, aku nunggu Kirana tidur dulu."

Lalu keduanya terlibat dalam percakapan panjang, hingga akhirnya..

"Mas pamit dulu ya, gak enak kalau dilihat orang, nanti dikiranya kita ngapa-ngapain lagi."
"Gak ngopi dulu mas ?."
"Gak usah, aku udah telat, nanti aku ngopi di kantor aja."
"Mas Bram lembur ?, inikan hari Minggu."
"Iya..kerjaanku lagi banyak, jadi aku harus lembur," ujar Bram sambil menstater motornya.
"Yaudah aku pergi dulu ya."

Sesaat kemudian tubuh tegapnya sudah tidak terlihat lagi.

******

Kirana merapikan buku-buku milik Tita yang tertinggal saat ia meninggalkan kosan. Kirana sudah mencoba menelpon Tita, tapi sepertinya nomer Tita sedang tidak aktif.

"Ah berantakan sekali buku-buku ini, Tita jorok banget," gumam Kirana.

Saat ia mengangkat sebuah buku tiba-tiba..triingg, sebuah benda terjatuh.

"Apa ini ?," gumam Kirana sambil memperhatikan benda yang terjatuh tadi.
"Tuspin emas !. Aku sepertinya kenal Tuspin ini punya siapa," Tita memperhatikan tuspin emas ditangannya.
"Oh..aku ingat, inikan tuspin milik bu Asih. Bu Asih suka banget pake Tuspin ini, karena katanya pemberian seseorang yang dia cintai. Tapi kenapa ada di buku milik Tita ya ?."

Kirana mengernyitkan dahinya..

"Ah..biar aku simpan saja, nanti kalau ketemu Tita, aku tanya dia."

********

Kirana meregangkan kedua tangannya, sambil menarik nafas dalam-dalam.

"Ah..seger banget udara pagi ini," ujarnya sambil menarik dalam-dalam

Saat ia tengah menatap kuntum bunga mawar yang sedang mekar, suara seseorang mengejutkannya.

"Mawarnya sudah mulai mekar, sayang mbak Asih gak bisa melihatnya, padahal dulu ia yang rajin menanamnya."

Kirana menoleh, dilihatnya mas Jarot sudah berdiri dibelakangnya.

"Eh mas Jarot, kapan datang mas ?."

Yang ditanya tak menjawab, wajahnya terlihat begitu misterius. Ia hanya menatap kearah Kirana, lalu pergi begitu saja. Sepatu boot kulitnya berderak-derak di aspal jalan setapak taman, meninggalkan Kirana yang berdiri mematung.

"Orang aneh !, aku nanya malah ditinggal pergi, dasar si*t*ng !," umpat Kirana.

*******

Mang Dadang mengangkut sampah dedaunan dan membuangnya kedalam drum. Biasanya mang dadang akan membakar sampah-sampah itu disore atau malam hari.

"Pagi mang Dadang."

Mang Dadang menoleh sambil tersenyum.

"Eh mbak Kirana, pagi juga mbak. Nyenyak tidurnya semalam mbak ?," ujarnya seperti menyelidik.

Kirana menatap mang Dadang, sambil tersenyum.

"Nyenyak mang, mungkin karena aku capek kali," ujar Kirana, berusaha menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.
"Syukurlah. Maaf mbak saya mau pulang ke rumah dulu, sepertinya istri saya memanggil," ujarnya sambil melangkah menjauh.

Kirana menatap punggung mang Dadang, yang berjalan tergesa-gesa.

"Ada apa dengan mang Dadang ?, aku gak dengar suara istrinya manggil. Kenapa mang Dadang bilang dipanggil istrinya ya ?, aneh !!."

Kirana berbalik kembali kearah kamarnya. Pagi ini ia merasa semua orang terlihat sangat aneh hingga membuatnya kepalanya dipenuhi tanda tanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Part - 8

Kirana menimang-nimang gawainya. Ruang kamar terasa sepi. Tita sudah pergi ke tempat bibinya seusai shalat dzuhur.

"Ah..sepi banget sih," gumam Kirana sambil beranjak dari kursinya.

Kirana membuka pintu kamar dan berjalan ke arah taman. Suasana terasa begitu lengang, hanya suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin sesekali terdengar.

Semenjak kematian bu Asih, suasana kos-kosan tidak lagi ramai, banyak penghuninya yang pergi mencari kos-kosan baru. Dari sepuluh kamar yang ada, hanya lima kamar yang berpenghuni dan kesemuanya sudah berkeluarga, kecuali Kirana.

********

Lamunan Kirana buyar, rungunya mendengar percakapan dari salah satu kamar kos yang kosong.

"Siapa yang ada disana ?, seingatku kamar itu kosong," gumam Kirana sambil berjalan mendekat.

Degup jantung Kirana berdebar kencang, semakin ia mendekat, semakin jelas suara itu terdengar.

"Aku sudah bilang, kamu jangan gegabah, sekali saja kita salah melangkah, kita gak dapet apa-apa."

Kirana tak dapat melihat siapa yang berbicara di dalam sana, karena pandangannya terhalang tirai yang menutup jendela.

"Siapa orang itu ?, mengapa ia sepertinya sangat marah ?, ada apa ini ?."

Belum lagi usai kebingungannya, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya. Ia berusaha meronta, tapi tangannya kalah kuat dengan tenaga orang yang membekapnya.
Perlahan pandangannya kabur, sebelum akhirnya ia terbaring tak sadarkan diri.

********

Kirana membuka matanya, saat tubuhnya merasakan hawa dingin menerpa wajahnya.
Kirana memegangi kepalanya yang terasa berat.

"akh..., kepalaku sakit sekali. Kenapa aku ada disini ?," gumanya sambil memegangi kepalanya.

Kirana bangkit dengan sedikit terhuyung. Udara malam dengan wangi aroma bunga kemuning, membuatnya bergegas melangkah meninggalkan kursi taman. Kirana tidak tau, saat ia melangkah ada sepasang mata yang sedang mengawasinya di kejauhan.

********

kreekkk, suara ranting yang terpijak kaki, membuat Kirana mempercepat langkahnya. Dibukanya pintu kamar, dan cepat-cepat dikuncinya.

"Ya Allah, lindungi aku ya Allah!, aku takut sekali."

Saat ia sedang dalam ketakutan yang teramat sangat, tiba-tiba gawainya berdering. Sebuah nomer tak bernama memanggilnya. Dengan ragu-ragu, Kirana menjawab panggilan itu.

"Hallo...hallo..siapa ini."

Suara diujung sana, tak menjawab pertanyaannya.

"Hallo...siapa ini ?."

tut...tut...tutt, suara telpon terputus.

Jantung Kirana berdetak semakin keras, tangannya basah oleh keringat. Saat itulah...ting, gawainya menyala, sebuah pesan tanpa nama muncul di gawainya..

[Jika kamu ingin selamat, jangan terlalu banyak ingin tau nona !! ]

Kirana mencoba mengatur nafasnya. Belum lagi ia dapat menenangkan hatinya, tiba-tiba...

brakk, sebuah hantaman keras menghantam pintu kamarnya.

*******

Dengan rasa takut yang teramat dalam, Kirana mencoba menghubungi Bram.

"Hallo ..." terdengar suara Bram diujung sana.
"Mas Bram !, mas ! to..to..tolong aku.. !, aku takut mas !."
"Ada apa Kirana ?, kamu kenapa ?."
"Ada orang yang mengancam aku mas !, aku takut mas..huhuhu."
"Kamu tenang Kirana !, kunci pintu dan jangan dibuka, sebelum mas dateng."
"Iya mas, mas jangan lama-lama ..huhuhu, aku takut mas."

Kirana menutup gawainya, dan bersembunyi disudut kamar. Mulutnya komat kamit membaca doa sambil terisak. Tubuhnya basah oleh keringat.

******

Suara sepeda motor yang terhenti, memaksa Kirana bangkit dari tempatnya bersembunyi. Dengan sedikit keberanian yang tersisa, Kirana mencoba mengintip dari balik gorden, dilihatnya Bram turun dari motor, dan berjalan ke arah kamarnya.
Kirana membuka pintu kamar, dan menghambur memeluk tubuh kekar Bram.

"Tenang sayang, kamu aman sekarang."
"Aku takut mas..huhuhu."

Bram memeluk erat tubuh Kirana dan berusaha menenangkannya. Dibimbingnya masuk tubuh Kirana yang letih dan ketakutan.

Malam sudah hampir mendekati pagi, saat mata Kirana akhirnya dapat terpejam. Tubuhnya yang letih akhirnya dapat beristirahat, setelah Bram meyakinkan, bahwa ia akan tetap ada disampingnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 12 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di