CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Food & Travel / ... / Cerita Pejalan Mancanegara /
Greget! Ini Rasanya Naik Perahu Luar Angkasa di Jepang
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef9a45ae83c726fa4313731/greget-ini-rasanya-naik-perahu-luar-angkasa-di-jepang

Greget! Ini Rasanya Naik Perahu Luar Angkasa di Jepang

Pagi sudah mandi sudah wangi, mau kemana kita? Tour leader membimbing kita untuk ke pusat elektronik Jepang di Akibahara. Jadi setelah sarapan kita memutuskan naik bus ke sana. Di sini saya kaget karena ada mobil gocar berseliweran di jalan. Lucunya para pengemudinya menggunakan kostum Mario Bros. Heh? apa tu? ternyata (mungkin) ini salah satu komunitas atau atraksi yang diberikan Tokyo untuk kita. Soalnya orang yang Tokyo pasti ketemu ini deh. 

Lalu lalang Tokyo juga membuat saya menyadari sesuatu betapa banyak manula di sini. Mereka jalan-jalan meski tubuh sudah membungkuk ke bawah. Bahkan saya yang nyaris gak pernah menemukan ikemen alias cowo ganteng. Dimanakah mereka berada wkwkw... Saya baru ngeh dan membuktikan ternyata benar, di Jepang hampir sebagian besar merupakan manula. Duh kasian dah. Orang-orang Jepang juga termasuk orang yang tidak sabaran. Gerombolan saya juga sering banget pengen keserempet sepeda yang seliweran di trotoar. Mereka ngebut lagi kesel banget, dan kita baru tahu kalau emang ada jalurnya di trotoar. Dan kebiasaan orang indo itu kan kalau jalan ngasal aja wkwkwk... jadilah di kring krang kring. Adeh.

Greget! Ini Rasanya Naik Perahu Luar Angkasa di Jepang

Pas kita udah sampe di Akibahara, ternyata waktu yang tersisa tinggal sedikit. Kita harus cabut lagi buat menikmati cruise Tokyo. Yuhuuu.... tapi kita harus balik lagi ke hotel karena naiknya dari situ. Entah kenapa kami begitu terburu-buru. Kayaknya gegara pasangan tua di kelompok kami yang terus-terusan ribet ngurusin hal-hal yang gak penting. Akhirnya, yang direpotin si tour leader dia mendorong kita untuk jalan lebih cepat, sementara si pasangan rempong ini ga bisa dipaksa begitu apalagi lari-larian. Tour leader pun berbisik pada saya, "gw duluan, titip dulu ya. gw beli tiket dulu nanti ga kekejar". Saya sempet syok, wah gila gimana caranya nanti kalau nyasar gimana. Tapi ngeliat muka dia udah panik. Yaudahlah, saya oke-okein. Dia pun langsung ngibrit. Saya berusaha terus memantau peta di gadget mudah-mudahan gak lemot nih map menuju loket cruise.

Bener saja, pas kami sudah sampai di loket cruise, udah ga bisa dibeli. Harus beli perjalanan berikutnya yang sekitar 1 menit atau 2 jam lagi. Yaudah kita gak punya pilihan lain selain menunggu. Di seberang kali Tokyo ini ada icon emas seperti tanduk, saya penasaran apa itu ya. Ternyata gedung Asahi Beer. Di sebelahnya ada gedung juga yang dinilai lebih tinggi dari Tokyo Tower namanya Tokyo Skytree. huwoww... tapi saya gak bisa naek ke sana cuma memandangi aja sambil mupeng wkwkw.

Karena waktu masih lama dan saya sudah kehabisan gaya. Saya meminta tour leader saya yang udah mulai gak enak mukanya buat anter ke money changer. Dia langsung mengiayakan dengan semangat. Heh? Ternyata selama perjalanan kami dia memendam kesal karena perjalanan tidak sesuai rencana karena pasangan older itu. Plus si emak-emak yang doyan minta difotoin tiap 10 menit kali hahaha. Rentetan keluhan dia, saya sikapi senyum aja. Emang gak ada yang mudah kerja itu, termasuk jadi guide. Dia yang sekolah di universitas ternama Jepang ini juga mulai memikirkan masa depan. Entah mau pulang dengan gaji fantastis atau jadi PNS atau bertahan di Jepang. Ketua perserikatan mahasiswa ini pun cerita kalau dia masih punya idealisme untuk negara. Lega dengernya. Saya belakangan lihat lewat medsos dia sering bolak balik BI atau Kemenkeu atau Dirjen Pajak ya saya lupa. At least dia memenuhi perkataannya beberapa waktu lalu di Jepang. 

Setelah saya tukar dolar, si tour leader ini minta saya berfoto di Asakusa Temple. Saya bilang udah lah ga usah (pengen tapi saya gak suka ngerepotin orang lain, apalagi dia abis kecapean fotoin orang mulu) tapi dia memaksa. Bahkan dengan senang hati menyuruh saya berfoto berbagai gaya, meski saya bilang "udah,udah" hahaha... Nah waktu berangkat kapal pun tiba. Saya tertegun sekaligus excted melihat kapal luar angkasa ini. Desainnya sungguh futuristik dengan banyak kaca dan sedikit menyerupai kapsul. Wow! Antrean pun mengular, turis lokal dan domestik pun bebaur. Jadi kami pakai kapal ini untuk menuju Odaiba juga. 
Greget! Ini Rasanya Naik Perahu Luar Angkasa di Jepang

Masuk ke kapal kami langsung menuju dek atas, yang langsung bisa melihat jelas sisi-sisi Tokyo. Tapi saya kurang puas berdiam duduk di situ. Akhirnya saya memutuskan mengeksplorasi semua bagian kapal ini. Sambil sedikit menunduk, karena dek atas langit-langitnya rendah, saya turun ke bawah. Rupanya restoran. Kamu bisa pesan makan di sini lewat kedai yang dilayani bapak tua. saya lalu jalan ke depan. Ternyata dek terbuka ini penuh dengan orang yang berdiri dan duduk. Mereka ramai-ramai ingin menikmati embusan angin dan percikan air yang sesekali mampir ke wajah. Wah adem banget cuaca Jepang di musim semi ini. 
Greget! Ini Rasanya Naik Perahu Luar Angkasa di Jepang

Gedung-gedung mirip gedung di Jakarta menjulang dimana-mana dan bersih, gak ada tuh bebauan hahaha. Pemandangan semuanya gedung, sesekali kami melewati kolong jembatan yang bikin bersuara "wow" karena desain jembatannya bagus-bagus. Di dek ini juga semua orang berlomba-lomba untuk memotret ke segala arah. Sekitar setengah jam. Kapal merapat. Saya pikir saya udah sampai ternyata belum, kami harus berganti kapal. Kali ini kapalnya lebih besar dan lebar tetapi enggak ada dek atas. Belum apa-apa kami sudah harus turun lagi ternyata kami sudah sampai. Yeayyy....

Greget! Ini Rasanya Naik Perahu Luar Angkasa di Jepang

Kalau ke Tokyo saya merekomendasikan ini sih karena keren banget, harganya kalau gak salah itu mulai dari 1.500 yen. Lumayan kan, bikin tipis dompet hahaha... Dari sini ternyata banyak lagi yang lebih keren. Apa tuh? tunggu ceritanya. Cerita lainnya lihat di sini. 









GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di