CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eec3ba182d495443f1a9bb5/bayangan-hujan-part-2

Bayangan Hujan Part 2

Bayangan Hujan [ Part 2 Ending]

Bayangan Hujan Part 2

Cerpen Fiksi
Penulis : Chii Ammu
Genre : Misteri, Horor



Baca dulu Gansis ==>part 1 sebelum baca ini.


"Kyaa!!" Suara lengkingan di dalam toilet memecahkan keheningan. Segera kubuka pintu masuk toilet.

"Tasya ... " panggilku terpotong. Kulihat Fay tergeletak dengan mata melotot, lehernya setengah terputus.

"Nila!!!" Tasya berlari kearahku. Air matanya jatuh penuh ketakutan.

Suara teriakan Tasya mengundang guru dan murid lainnya.

"Terlambat, pelaku itu cepat sekali hilangnya?" Gumamku yang hanya beberapa langkah dari toilet.

Selang berapa jam olisi pun datang mengangkat mayat Fay atas laporan sekolah.

"Pak, kami mohon segera tangkap pembunuh itu?! Jika tidak, akan ada korban lagi?" Pinta Pak Norman pada polisi yang mengatasi kasus.

"Ini kejadian pertama begitu sulit kita hadapi, begitu pandai pelaku itu tanpa tinggalkan jejak. Kami sangat kesulitan, kemungkinan pelaku punya hubungan pada para korban." Kedua polisi itu segera membawa mayat Fay ke dalam mobil. “Kami akan melakukan penyelidikan kasus baru ini.”

Kematian Fay menambah suasana menjadi lebih jauh mencekam. Kulihat Kiran mengigil, giginya gemeletuk. Wajahnya pucat, bibirnya biru. Tak seorang perhatikan dirinya, semua pada sibuk dengan ketakutannya sendiri.

"Kiran, kamu sakit?" tanya Tasya cemas.

Kiran tak menjawab, dia masih merasakan kedinginan.

"Kita bawa dia ke UKS aja, Tasya?" ujarku.

"Nggak, aku di sini aja. Aku takut di UKS," tolaknya gemetar.

"Baiklah, biar aku yang akan ambil obat untukmu," balasku menawarkan diri.

"Nila, kau tak apa? Biarlah ada yang menemanimu, sekolah ini sudah seram akan kematian Fay di toilet tadi," kata Tasya mengkhawatirkan.

"Biar Natasya yang temaniku.” Aku melirik Natasya.

"Kau sudah dekat dengannya?" katanya tampak ada rasa aneh.

Aku tersenyum, lalu meminta Natasya temaniku ke UKS. Natasya mengiyakan.

"Kau tahu, Kiran melihat sosok pembunuh itu di jendela luar," bisik Natasya.

"Apa? Sebab itu tiba-tiba mendadak sakit?" kagetku.

"Ketika semua sibuk keluar akan teriakan itu, Kiran tetap di kelas sama denganku serta beberapa murid, pembunuh itu melintas menatap kiran kebetulan melihat keluar jendela, dengan tatapan mengincar nyawanya," jelas Natasya. "Bukan, hanya itu saja tatapan itu berlaku padaku juga."

Aku hanya membisu tanpa harus berkata apa. Aku ingin segera menangkap pelaku bayangan hujan itu. Agar terhenti korban selanjutnya.

Tasya dan Kiran. Tinggal mereka berdua yang tersisa dan mungkin tersangka pembully-an yang pernah di ceritakan Natasya.

Aku kembali ke tempat awal kejadian pembunuhan Aurel, Rey yang mengenaskan di persimpangan jalan. Menerka-nerka kronologi terjadi pembunuhan itu. Mungkin bisa menemukan awal kemunculannya dan cara temukan jejaknya.

"Nila," panggil Kiran.

"Kiran ... Bukankah arah rumahmu nggak lewati jalan ini?" tanyaku.

"Iya, benar. Entah, aku tak ingin langsung pulang, dan kamu sedang apa berdiam diri di jalan ini? Ada yang kamu cari?" balas Kiran.

"Aku ingin menemukan pelaku pembunuhan itu?"

"Apa?" Kiran terkejut akan jawabanku. "Apa yang barusan kamu kata? Kau mau temukan pembunuh itu?"

"Iya," jawabku yakin.

"Keberanian apa merasukimu, Nila? Yang ada kau yang mati." Kiran tak percaya apa yang didengarnya.

"Aku tahu sebagian cerita tentang kalian saat itu. Maukah kau tambahkan cerita itu, Kiran?" Paparku meminta keterangan pembullyan itu.

Kiran mengeryitkan dahi. Diam. Mungkinkah ia kaget jika aku tahu semua yang terjadi hari itu? Kaget bahwa ia pernah melakukan kejahatan pada seorang siswi.

"Kiran, ... Apa kau tak merasa bagaimana hatinya saat kalian siksa?" tanyaku langsung ke hati. "Dan kini dia menuntut balas terhadap kalian? Kau dan Tasya yang tersisa." Sambungku menyudutkan.

Kiran menatap bawah. Rasa sesal menyelimutinya. Aku terus menatapnya, mungkin ada yang dapat kudengar cerita itu lebih jauh lengkap dari pengakuan Kiran. Tak di duga hujan tiba-tiba turun perlahan dan deras. Kiran terbangun dengan wajah ketakutan dan mencoba lari mencari keamanan.

"Kiran! Kiran ... " panggilku mengejar.

Aku merasa ada sesuatu yang mencemaskan. Pembunuh itu akan datang.

"KIRAN!" Panggilku dengan intonasi tinggi. Agar terdengar jika posisinya sedang berbahaya.

Aku melihat pembunuh itu dengan senyum seringainya di atas tembok seorang lalu mencoba menggapai Kiran.

"Nggak akan lolos lagi!" gumamku berlari lebih extra.

"Kyaaa!!" Teriak Kiran dengan rasa ketakutan.

"Hiaaa ... " teriakku menendang samurai yang hampir membelah kepala Kiran.

"Hosh ... Berhasil," kataku berkuda-kuda untuk siap membalas serangan.

"Nila," panggil Kiran yang terjatuh.

"Cepatlah Lari! Biar kuhadapi pembunuh ini," kataku.

"Huahaha ... Haha!" Pembunuh itu tertawa bergelegar, matanya menatap tajam. Hitam pekat. "Kau pikir, kau pahlawan? Atau cari mati?" ucapnya dengan senyum sinis.

"Akhirnya kubisa berhadapan langsung dengan pembunuh temanku," kataku menatap.

"Teman? Jadi, ... Kau teman dari mereka?"

Aku segera menjaga jarak serang. Melirik samurai yang di tanah, dengan cepat kulajukan tendangan kaki kanan mencegah tangannya mengambil samurai dan menendang memutar dengan kaki kiri.

"Bisakah kau terima kecepatan tendangan ini?!" ucapnya menyerang dengan tendangan berganti begitu cepat.

"Apa? Cepat sekali!" gumamku menahan tendangan kakinya ke arah wajah.

"Masih mampu yaa?" tanyanya sinis. "Bagaimana dengan ini?"

"Apa?" kagetku. Tendangan terakhirnya membuatku terpelanting jauh.

"Sial! Uhuk ... uhuk ...!" Tendangannya membuatku batuk-batuk dan rasakan sakit di daerah dada.

"Masih ingin menunjukkan kehebatan?" tanyanya berdiri dengan senyum sinis. "Seharusnya kau tak usah ikut campur dan ingin tahu. Bila tak ingin jadi korban, tapi sepertinya kau ingin jadi korban hari ini," sorotan matanya penuh kebencian. Samurai pun di layangkan mengarahku.

"Tak akan kubiarkan!" Natasya menendang pembunuh itu hingga jatuh.

"Natasya ..." ucapku atas kehadiran Natasya yang menyelamatkan nyawaku.

Natasya berkali-kali menendang tanpa memberi kesempatan pembunuh itu melawan. Tapi, pembunuh itu memegang sebelah kakinya dan menjatuhkannya.

"Aargh," keluh Natasya.

"Natasya!" teriakku lalu bangkit.

Hujan mulai mereda. Awan kelabu mulai perlahan pergi ke seberang.

"Kali ini kalian selamat tapi aku akan kembali mengambil nyawa kalian," ucapnya sebelum pergi.

"Maaf, Natasya, aku tak ingin kehilangan jejaknya." Aku Bangkit mengejar menyusul si pembunuh. Kesempatan untuk mengetahui kemana perginya.

"Nila, jangan!"

Aku menghiraukan panggilan Natasya. Kali ini aku akan benar-benar menangkap pembunuh itu dan mengakhiri ketakutan orang-orang tentang hujan membawa kematian. Sebuah kejadian yang mengerikan bagi anak sekolah di saat hujan turun, pelaku itu bertindak sadis pada korban. Hingga setiap hujan turun bayangan menakutkan itu terlintas.

“Kau tak bisa lari dariku, aku bisa mengikuti jejakmu yang membekas,” pungkasku melihat tapak jejak yang tak sengaja ditinggalkan.

Sebilah samurai melayang, refleks tanganku bergerak menangkis dan mengenggam. Membiarkan darah menetes di sela kulit telapak tangan.

"Hebat juga," pengakuannya.

"Aku akan akhiri kesenanganmu!" Kulakukan  lututku untuk menyerang area perut.

Ini untuk pertama kalinya aku bertarung dengan seorang pembunuh. Kemampuan kita seimbang, hingga sulit kutumbangkan. Apalagi gunakan tangan kosong melawan musuh bersenjata suatu yang sulit mengalahkan secara cepat.

"Kau tak sendiri, Nila. Kita lawan dia berdua." Natasya berdiri di dekatku menatap pembunuh itu. "Kau masih mampu, kan?" tanyanya.

"Tentu!" semangatku bangkit.

"Kita akhiri semua ini!” Aku dan Natasya tak sengaja mengeluarkan kata dan waktu yang bersamaan

"Baiklah, akan kubunuh kalian berdua!" Samurai pun dihunuskan ke arah kami berdua. Terlihat jelas wajahnya penuh amarah.

Sorotan mata yang penuh kebencian tersimpan luka menyayat dilubuk hatinya. Wajahnya tampak jelas bekas luka begitu dalam.

"Terutama kau ... Natasya!!" serangnya.

Dua lawan satu, sebanding kupikir. Kemampuannya jauh lebih hebat di banding denganku yang pernah memenangkan pertandingan taekwondo antar sekolah. Caranya bertarung di luar tebakanku membuat tak bisa baca pergerakannya.

"Natasya!" teriakku.

Hujan kembali turun dengan deras, gelegar petir menambah suasana pertarungan ini. Natasya yang tak pernah tahu menahu bertarung, penuh darah mengalir di tubuhnya karena sering tergores samurai.

"Ini sungguh asyikan, Ha ... Ha ... Ha!" tawanya terbahak-bahak menikmati pertarungan.

"Natasya ... Kau baik-baik saja!" cemasku. Tak seharusnya kutanyakan hal itu. Sangat jelas Natasya tidak baik-baik saja.

"Jika aku mati pun tidak masalah, setidaknya dendamnya terbalas, kuharap tak ada lagi kebenciannya padaku, dan lagi aku tak biarkan kamu mengalahkannya sendiri," senyumnya. "Terima kasih, sudah berteman denganku."

Ini pertama kalinya Natasya  tersenyum. Sikap dinginnya yang selalu dia berikan, kutemukan rasa pertemanan dalam dirinya. Merasakan hal itu tak kubiarkan kesempatan itu hilang!

"Kau tahu, bahwa akulah yang akan mengakhiri kesadisanmu!!" lantangku mengepal tangan.

Entah, perasaan apa yang membawaku membara untuk membunuh pembunuh sadis itu. Mungkin karena Natasya penuh luka atau ingin berikan kesempatan ketenangan pada Natasya. Karena di masa lalunya dan pembunuh itu membuat harinya selalu menjadi tak indah. Tak memiliki teman yang menerima keadaannya. Dihantui oleh berbagai macam.

"Cukup sudah! Sekarang terbukti kau yang berakhir!" ucapku menghunus samurai yang kurebut darinya.

"Berakhirlah!" kuayunkan samurai pada si pelaku yang tak berdaya.

"Nila!!" Teriak Natasya menghambat.

"Natasya!" kagetku menghentikan seranganku. "Mengapa kau mencegahku untuk membunuhnya? Dia sudah banyak membunuh!"

"Tidak, aku tak ingin kau menjadi pembunuh!" ucapnya. "Cukup dia saja, dan aku ingin menembus dosaku padanya," lirih Natasya.

"Apa?" Aku tak mengerti ucapannya. "Dia bisa membunuh lagi, Natasya?!" kataku tak mengerti.

Kulihat air mata mengalir di pelupuk pembunuh teman-teman baruku. "Baru kali ini ada melindungiku, padahal aku pembunuh dan niat membunuhnya. Kenapa kau selamatkan aku, Natasya?" Lirihnya yang mengenaskan.

"Aku sudah membiarkanmu saat itu, dan kini aku tak akan mengulangnya. Hatiku masih mengenalmu, Fara?" balas Natasya. "Maukah kau maafkan aku yang dulu?"

Aku menjatuhkan samurai yang kugenggam. Sepertinya aku melewati batasku. Bagaimana jika aku benar-benar membunuhnya? Apa yang terjadi setelah melakukannya? Bukankah pelaku itu layak dibunuh?

"Aku memaafkanmu, Natasya. Terima kasih telah melindungiku, boleh aku memelukmu untuk yang terakhir?" ucap Fara meminta sebuah pelukan.

Amarahku runtuh. Sisi lain diri Natasya. Hatinya ... Hatinya tak pernah di perkenalkan padaku kini dia perkenalkan di saat semua masalah ini akan berakhir. Kini pembunuh itu sudah terkulai tak berdaya, seranganku pada titik-titik kelemahan yang bertubi-tubi telah melumpuhkan tubuhnya.

"Tangkap pembunuh itu?" Seorang berteriak.

"Nila!!" teriak ibu berlari menghampiriku. "Ya ampun, kau harus ke rumah sakit,” lirih ibu melihat tubuhku tergores dan berdarah dimana-mana mengotori kulit.

Akhirnya pembunuh dalam bayangan hujan itu kini sudah berada di tangan polis dan akhirnya juga aku bisa mengakhiri permasalahan ini dengan bantuan Natasya yang awalnya dingin terhadapku. Darahku terlalu banyak keluar serta tenaga terkuras karena pertarungan begitu sengit dengan Fara. Aku mulai terhuyung-huyung, pandanganku mulai kabur. Tiada lagi yang harus di takutkan bila hujan itu tiba di persimpangan jalan ini, tiada lagi mayat siswi mengenaskan. Berakhir sudah tanpa ada mayat di hujan kali ini.

***

"Akhirnya selesai juga cerpen terakhirku!" rasa senang bergelayut memandang kertas yang penuh dengan paragraf-paragraf kususun. Peristiwa itu kujadikan bahan tulisan setelah vakum dua minggu karena cidera di tangan.

Aku bisa merasakan ketenangan di kamarku, dan hujan kali ini turun menerpa lembut. Tiada lagi bayang-bayang di luar jendela. Lagi kumulai terbiasa dengan kamar ini dan menghadapi hari esok. Bermain dengan Natasya yang sudah mau berteman denganku dan berbaur dengan yang lain.


- Tamat-
profile-picture
profile-picture
profile-picture
AyraNFarzana91 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chiiammu02
hmmmmmm
profile-picture
profile-picture
081364246972 dan embunsuci memberi reputasi
Pinter bener nulisnya, pas semuanya. Keren. Betewe, kok pisah pisah Partnya ndak dalam satu thread?
profile-picture
profile-picture
081364246972 dan chiiammu02 memberi reputasi
Lihat 7 balasan
bagus banget.
profile-picture
chiiammu02 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Dibikin thread aja, biar semuanya ada didalam satu. Itu saranku, boleh mampir juga kok ke threadku. Sukses!


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di