CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eec3417c342bb31be6309cd/kashmir-im-in-love

KASHMIR I'M IN LOVE

#Cerbung

Haru Biru Cintaku (1)

"Maaf, tak seharusnya hubungan ini dilanjutkan."

Suaramu terdengar lantang di seberang sana. Kau tak menghiraukan isakanku yang kian menyayat. Aku tak pernah menduga kau menghancurkan segala yang telah kita bangun. Mahligai, kedekatan, kehangatan, kebahagiaan kau porak-porandakan sekejap saja.

"Karena aku wanita tak berpenghasilan, kan? Tak punya pendidikan. Kau lebih memilih dia yang datang tiga bulan terakhir karena pekerjaannya bisa kau andalkan."

Aku tidak menuduhmu. Itu semua fakta yang kutemui di messenger-mu. Pantas saja sikapmu berubah sebulan terakhir. Kau lebih banyak menghabiskan waktu dengannya di sana. Sementara aku di sini? Gelisah menanti hari sakral terjadi di hidupku. Tiga bulan lagi kita akan menikah, Sayang. Tapi kau tega mencampakkanku!

"Kau takut akan disusahkan wanita pengangguran sepertiku, bukan? Tak apa jika memang itu maumu. Kudoakan kau bahagia."

Kuakhiri sambungan telepon itu dengan dada penuh sesak. Perih saat kukatakan 'tak apa', namun kenyataan di hati bertolak belakang. Aku terluka parah. Kau sosok yang kubayangkan menjadi imamku telah berpindah hati. Aku bisa apa?

Keluarga? Mereka memintaku membujukmu untuk kembali. Tidak. Aku tak bisa memaksa perasaanmu. Seiring waktu pun rasaku tak lagi sama. Aku benci dikhianati.

*****

Tak ingin larut dalam nestapa. Kubuka kembali pesan teman-teman lama di messenger yang tak pernah kubuka apalagi kubalas. Syahid. Pemuda yang berasal dari Kashmir itu telah mengirimiku pesan sebanyak 379 kali sejak tiga tahun terakhir. Pesan terakhirnya seminggu lalu.

[Jaanu, bagaimana kabarmu? Kenapa kau tak pernah membalas pesanku? Padahal kau selalu online. Bulan depan musim salju berakhir, kemudian selanjutnya musim semi. Apa kau tak ingin melihat tulip di negaraku?]

Jaanu panggilan sayang Syahid untukku dulu. Iya. Ia pernah menjadi bagian penting dalam hidupku. Namun terpaksa berakhir karena restu. Baik orang tuaku maupun orang tuanya tak menyetujui hungan kami. Terlalu banyak perbedaan. Selama hampir empat tahun kami memilih berpisah secara baik-baik, tak sekalipun kudengar kabarnya akan menikah. Lain denganku. Kabar pernikahanku sampai ke telinganya.

Bergetar tangan ini, namun kuberanikan diri membalas pesan itu.

[Aku baik ...,]

Bingung hendak menulis apa. Jaanu? Syahid?

[Aku baik. Maaf, aku baru melihat pesanmu. Tulip? Wah, pasti indah sekali. Kau masih ingat impianku melihat tulip di negar ...,]

Kuhapus kembali. Lalu hanya ini yang terkirim,
[aku baik. Maaf, aku baru melihat pesanmu.]

Tanda hijau bulat kemudian muncul di sudut photo profilnya. Pesanku terbaca.

[Tidak apa-apa. Bagaimana pernikahanmu? Negaraku mungkin cocok untukmu berbulan madu.] Ada getir yang kutangkap dari isi pesannya. Walaupun emoticon senyum ia sematkan di sana.

[Aku ingin berlibur ke negaramu bulan depan. Bisa minta tolong berikan aku info akurat?]

[Of course! Dengan senang hati, Jaanu. Masih bolehkah aku memakai panggilan itu?]

Aku tersenyum getir di sini. Kubalas tanyanya dengan emoticon senyum.

Aku keluar dari aplikasi itu. Kubuka album photo di facebook. Tanganku lihai dengan penuh emosi menghapus semua photomu, photo kita berdua.

[Kenapa? Kenapa kau menghapusnya?]

Deg! Dari mana Syahid tahu.

[Maaf, aku terlalu sering membuka album photomu. Hehe,] tambahnya.

[Aku tak jadi menikah, Syahid.] Kujejerkan entah berapa banyak emoticon menangis pilu. Sekuat apa pun kucoba. Tetap, aku butuh sandaran walau sekedar meluapkan beban dan sesak di dada.

Syahid tak membalasku lagi. Warna hijau tanda aktif pun sudah meredup. Kulanjutkan menangis di bantalku. Mungkin nasibku memang sememilukan ini.

Malam ini, aku sedang asyik menikmati bakso ayam buatan Cak Bro. Tukang bakso keliling favorit orang sekampung. Sebuah pesan kuterima lewat messenger. Terbelalak mataku menatap isi pesannya. Tiket, penginapan dan segala macam keperluan keberangkatanku sudah dibereskan dan dilunasi olehnya. Aku tinggal berangkat.

[Apa ini?] tanyaku pura-pura tak tahu.

[Tiket liburan untukmu. Kau tak perlu menemuiku jika kau tak ingin. Terima saja tiketnya dan selamat berlibur.] Tak lupa emoticon senyum menghiasi akhir pesannya.




B e r s a m b u n gKASHMIR I'M IN LOVE


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di