CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
THRILLER FICTION BY LOVEMBERS
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee32f2cb41d307f34359816/thriller-fiction-by-lovembers

THRILLER FICTION BY LOVEMBERS

THRILLER FICTION BY LOVEMBERS

TUAN, SAYA ADALAH SEORANG PEMBUNUH

"Tuan, saya adalah seorang pembunuh."

Dia gemetaran saat mengatakan itu. Dia duduk di kantor polisi kami, di seberang mejaku. Dia ada di sana untuk menyerahkan diri. Saya adalah penanggung jawab kantor polisi.

Dia adalah wanita cantik sekitar 22 atau 23 tahun, memiliki rambut panjang yang dirawat dengan sangat baik, mengenakan kemeja merah muda dan celana jeans biru tua, memakai kacamata hitam di matanya. Dia terlihat dari keluarga yang baik dan kaya.

"Siapa yang kamu bunuh?"

Yah saya bertanya kepadanya setelah mengambil jeda panjang karena kalimat pertamanya tidak benar-benar diharapkan atau jika saya berbicara terus terang, saya terhanyut dalam kecantikannya.

"Saya telah membunuh 3 orang."

Saya sangat terkejut mendengarnya. Seorang gadis, sangat cantik, dapat membunuh 3 orang dan juga mengakuinya di depan polisi. Semuanya agak tidak biasa bagi saya.

"Saya telah membunuh tukang kebun, supirku dan ........" Dia berhenti sebentar dan mulai terisak. "Dan ibuku." Dia mulai menangis keras. Saya memberinya air dan dia mulai minum dari gelas itu.

Ketika dia berusaha mengendalikan emosinya, dia terus berbicara. "Tolong saya mohon padamu, tolong tangkap saya kalau tidak saya akan membunuh orang lain juga."

"Mengapa kamu membunuh mereka dan mengapa kamu membunuh orang lain? Mbak ………. Siapa namamu?"

"Shita." Dia masih terisak.

"Shita, mengapa kamu membunuh mereka?"

"Aku tidak tahu. Itu terjadi begitu saja. "

"Shita, saya tidak mengerti. Dan saya tidak dapat menangkapmu tanpa aduan dan tanpa melihat jasad kamu bicarakan. " Dia terlihat sangat tegang. Jadi saya melanjutkan, "Shita, di mana mayatnya?"

"Aku menggubur mereka di kebunku." Dia tidak terlihat seperti berbohong tetapi apa yang dia katakan tidak bisa dipercaya.

Saya memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Saya juga membawa dua anggota polisi. Ketika kami sampai di rumahnya, dia membawa kami ke kebunnya dan memberi tahu kami tempat-tempat di mana mayat tukang kebun dan sopir digali. Saya memerintahkan polisi untuk mengeluarkan mayat-mayat itu.

"Di mana tubuh ibumu?" Saya bertanya pada Shilta.

"Di dalam rumah."

Saya mulai mengikuti Shita. Dia membawa saya ke dalam rumah dan kemudian berhenti di depan sebuah ruangan gelap.

"Di dalam. Ibuku sedang berbaring di dalam. " Dia mulai menangis lagi.

Perlahan aku mulai bergerak ke dalam ruangan. Ruangan itu begitu gelap sehingga sulit untuk melihat apa pun. Saya membawa satu senter lalu menyalakannya. Saya mencari di seluruh ruangan tetapi ruangan itu kosong. Kemudian saya melihat satu ruangan yang tertutup.

Saya membuka kamar itu. Dan kaget melihat ada tiga mayat tergeletak di dalam ruangan. Dua pria mungkin adalah tukang kebun dan pengemudi Shita dan seorang wanita tua mungkin adalah ibunya. Saya bertanya-tanya mengapa Shita mengatakan menguburnya di kebun.

"Ahhhhhh ………" Seseorang menikamku dari belakang. Aku berbalik. Saya kaget melihat Shita berdiri dengan pisau di tangan kanannya berlumuran darahku.

"Mengapa?" Saya bertanya dengan suara bergetar.

Dia mendekati saya dan menusuk perut saya dan berkata, "Karena, itu menyenangkan."

Saya jatuh di tanah dan dia mengambil pistol saya dan bergegas keluar. Saya mendengar dua tembakan. Dia membunuh anggota polisi saya juga.

Yang terakhir saya lihat, Shita berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya dan bersenandung pelan ………….

__TAMAT__
profile-picture
profile-picture
profile-picture
noorman.arta.w dan 5 lainnya memberi reputasi
Selalu keren, dan joss gandos kotos kotos mbledos
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
serem, sekaligus sadis btw keren banget
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Nyebelin emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Lihat 1 balasan
keren, coba kalo dibikin short movie., emoticon-2 Jempol
Lihat 1 balasan
Terlalu cepat
Lihat 1 balasan

WARUNG

THRILLER FICTION BY LOVEMBERS

Jam satu siang, matahari masih terasa terik, membuat orang-orang malas keluar rumah. Apalagi sejak ada aturan dirumah saja dan social distancing, mereka lebih nyaman duduk dengan kipas angin sambil menonton sinetron di tv.

Lain lagi dengan Tole. Rumah dia hanya 300m depan warung ku. Tangan Tole menyeret mobil-mobilan yang diikat tali. Sedangkan mulutnya terus-menerus menirukan suara mobil. Bruuummm...bruuummm. Tole menatapku sambil berceloteh gak jelas, dia memang memiliki keterbatasan dalam bicara. Sebagai tetangga yang sudah lama mengenalnya, mudah saja memahami maksud Tole. Aku jawab dengan isyarat agar dia tidur siang. Tole menggangguk lalu pergi sambil menyeret mainannya.

Aku melanjutkan tugasku menyetrika baju-baju yang baru kuangkat dari jemuran. Ketiga anakku Maya, Nino dan Juna sedang tertidur pulas. Sejam lalu mereka masih merajuk meminta ayam krispi. Stres aku dibuatnya. Warung kecil milikku sepi akhir-akhir ini. Sejak dibangun minimarket di ujung jalan, orang-orang yang biasa berbelanja ke warungku pindah teratur. Mungkin karena disana lebih lengkap dengan harga yang tidak jauh beda. Ditambah lagi sekarang sedang terjadi pandemi, orang-orang lebih memilih belanja dengan menggunakan aplikasi di handphone mereka.

Benakku melayang dua tahun silam, saat kuputuskan membuka warung kecil di teras rumah. Suamiku baru saja meninggal mendadak di tempatnya bekerja. Kata dokter itu serangan jantung, aku tidak peduli apa yang merengut nyawanya saat itu, yang aku dikirkan adalah bagaimana cara menghidupi ketiga anak-anakku.

Si sulung Maya waktu itu baru 3 tahun, Nino 1 setengah tahun dan si bungsu Juna baru 3 bulan. Dengan tabungan seadanya juga pinjaman sana sini yang kujadikan modal, maka di teras rumah kubuat warung yang menjual kebutuhan sehari hari juga makanan ringan yang kumasak sendiri.

Setiap hari warungku ramai pembeli, dari yang hanya membeli sebungkus rokok sampai kebutuhan bulanannya, bahkan tak jarang beberapa dari mereka betah ngobrol dan menggosip di warungku. Aku pun dengan senang hati melayani mereka dengan senyuman, meskipun seringnya obrolan-obrolan mereka membuatku pusing. Ini semua demi menghidupi anak-anakku.

Aku menghela nafas, pembeli di warungku menurun drastis, hanya beberapa orang yang mungkin terlalu malas jalan ke minimarket atau orang-orang yang tak cukup uang untuk belanja dari aplikasi. Pakaian kering sudah kusetrika, samar-samar masih terdengar suara Tole. "Bruuum...brummm...dinnn...dinn". Seketika hatiku ragu, berkali kali kutatap wajah-wajah polos anak anakku di atas kasur. Hampir 3 bulan warung sama sekali tak ada pembeli, sementara kebutuhan mereka tak mungkin ditunda.

"Ambillah segelas air dari kelapa hijau sebelum melakukannya"
Kata-kata Ki Joko terngiang di kepala. Bergaung hatiku berteriak kata 'lakukan' dan 'jangan'. Seolah olah ada yang bertengkar dalam kepalaku. Mataku sekali lagi menatap wajah anak anakku. Wajah mereka benar-benar tak berdosa. Aku mulai menangis.
"Tolong mudahkanlah." Rintihku sambil meraih sebilah pisau ... tanganku terguncang sangat hebat.

***

Aku sedang melayani pembeli. Sudah dua hari ini aku terpaksa mengajak Yani saudaraku untuk membantu jualan, meskipun di ujung jalan masih bertenger minimarket itu, pun peraturan pemerintah masih mengharuskan social distancing, warungku tak pernah sepi pembeli. Yani dengan cekatan membantuku.

'Jadi belum ada kabar tentang Tole, mas? Sudah hilang dua hari dan belum ketemu."
Seorang bapak-bapak berbaju biru bertanya pada kawannya.
"Belum ketemu wak, misterius sekali hilangnya Tole."
Percakapan itu membuatku terhenyak, aku atur nafas yang sempat membuncah, setetes keringat dengan cepat kuseka. Kuatur senyuman yang wajar. Yaaah paling tidak Tole sudah membantu meramaikan warungku lagi.

-TAMAT-
profile-picture
indrag057 memberi reputasi

HARGA SEBUAH RINDU

THRILLER FICTION BY LOVEMBERS

Hari mulai beranjak malam. Langit yang keemasan berganti kelam yang bertabur bintang. Kulangkahkan kaki denyan lunglai. Berat sekali rasanya beranjak dari ranjang ini.

Semua letih dan lelah masih kurasakan di tubuh ini. Ditambah lagi masalah dengan Siva yang ternyata akhirnya berujung dengan perceraian. Aku merasakan ada gunung yang memghimpit dadaku. Sangat berat.

Lima tahun ini aku berusaha menjadi suami yang baik dan setia namun segalanya kandas hanya karena sebuah prinsip dan ego. Tiga bulan sebelum keputusan pengadilan, hari-hari kami lebih sering diwarnai keributan daripada mencoba memperbaiki masalah.

Semua masalah kecil bisa berubah menjadi hal yang besar lalu berujung dengan pertengkaran-pertengkaran hebat. Sėtiap pulang istriku tak pernah lagi menyambutku. Dia hanya mengurung diri di kamar dan tak ingin kutemani.

Sekarang genap dua bulan kami sah bercerai. Hari-hariku sendiri lagi. Rumah berantakan. Tidur tak ada yang mememani. Sepi sekali. Aku benar-benar sangat merindukan Siva. Begitu rindunya sampai akalku mati.

Sekarang sudah genap satu setengah bulan setelah hakim mengetok palu perceraian. Hari-hariku kembali seperti bujangan. Rumah tak pernah rapi, makan seadanya, tidur sendiri. Sepi? Jelas. Keadaannya tak banyak berubah sejak kami saling dingin sebenarnya, tapi sekarang lebih menyedihkan tanpa Riska. Sampai saat ini, aku masih sering merindukannya. Sangat. Rindu yang teramat besar kadang membuat akal sehat mati. Terbunuh oleh perasaan.

Langkahku terhenti di depan wastafel di dalam kamar mandi. Setelah berkali-kali mengusap wajahku dengan air, kulihat bayangan sendiri di cermin. Lama kutatap, tapi tetap wajah Siva yang kulihat di sana. Aku berusaha mengingat rangkaian peristiwa sebelum bangun tidur. Semenit, dua menit, belum juga aku tahu kenapa wajah mantan istriku masih menghantui. Come on, Rio. Move on! Kepalaku terasa pening saat kupaksakan mendapatkan jawaban. Beberapa detik kemudian senyumku mengembang. Kuraba dada dan beberapa bagian tubuhku yang masih nyeri karena bedah pisau jahit. Tak apalah sedikit sakit karena operasi, asal aku sakit lagi memendam rindu.

Aku menghela nafas.

“Sedikit polesan pada alis mata, semuanya akan tampak sempurna sepertimu, Sayang!” Aku tersenyum puas.

-TAMAT-

Pic:https://tasteminty.com/62726F776E2D62656172/2077/man-confused-about-his-sexuality-imagines-himself-as-a-woman-in-the-mirror
wah bagus-bagus, lanjut ya terus.
emoticon-Cendol Gan

MONSTER BAWAH TEMPAT TIDUR

THRILLER FICTION BY LOVEMBERS

"Mami!! Mami!!"

Sitha memasuki ruangan,

“Ada apa, sayang?”

Anak itu sedang berlutut di tempat tidur sambil memandang dengan matanya yang lebar.
Dia jelas tidak tidur lama, mata merahnya yang besar berbicara tentang kengerian dan pikiran dewasa Sitha tidak pernah bisa mengerti. Dia tidak tidur sekejap mata selama dua hari terakhir. Anak itu terjaga sepanjang malam. Pindah ke rumah baru ditambah dengan insomnia bukanlah effect yang baik untuk emosinya.

"Ada sesuatu di bawah tempat tidurku teriak anak itu."

Tidak lagi, pikir Sitha. Ketika dia mendengar anak itu, dia berguling di tempat tidurnya untuk membangunkan suaminya, tetapi dia tidak ada di sana. Dia pasti pergi ke kamar mandi, pikirnya. Dengan letih, dia keluar dari tempat tidur untuk pergi ke kamar tidur anak.

"Tidak ada apa-apa di bawah tempat tidur, sayang, kamu hanya bermimpi buruk."

“Tidak, aku tahu ada sesuatu di sana.” Dengan keyakinan yang datang dari seorang anak-anak

Sitha mendesah. Ini akan menjadi malam yang panjang. Saya akan segera mengakhiri malam ini, pikirnya.

“Ok, jika aku memeriksa di bawah tempat tidur dan tidak menemukan apa-apa, maukah kau kembali tidur?” Dia bertanya pada anak itu.

"Mungkin…"

"Ok, sebentar mami cari senter ..." katanya.

Dia berjalan keluar ruangan dan memanggil suaminya. Tidak ada Jawaban.

"Mami!!"
Sitha berjalan kembali ke kamar.
"Ayah pergi ke bawah tempat tidur dengan lampu senter ..."
"Apa?"
"Ayah pergi ke bawah tempat tidur dengan senter ... dia pasti terbaring di sana."

Agak terkejut, Sitha membungkuk untuk mengintip di bawah tempat tidur. Dia bisa melihat sesuatu yang berkilau di bawah tempat tidur. Dia meraihnya dan menyentuhnya, tetapi gulungan itu semakin menjauh. Dia merasakan sesuatu yang lengket di lantai. Dia menarik kembali tangannya dan memeriksa di bawah lampu di meja samping tempat tidur. Itu sesuatu yang gelap dan lengket. Dia melihat anak itu.

"Apakah kamu menjatuhkan sesuatu di bawah tempat tidur?"

"Cokelat ..." anak itu bergumam dengan suara penuh rasa bersalah.

"Di mana Ayah?"

"Dia masih di bawah tempat tidur ..."

Terkejut, Sitha membungkuk lagi. Senter itu berguling ke arah ujung tempat tidur yang lain yang menempel ke dinding. Dia merangkak di bawah tempat tidur dan meraihnya. Sebelum dia bisa menyalakan senternya, dia merasakan sesuatu atau seseorang menggenggam tangannya. Dia menjerit kecil, tetapi cengkeramannya hanya diperketat. Dia berteriak dan meronta-ronta, tetapi sesuatu mencengkeram tenggorokannya dan suaranya terputus. Dalam lima detik lagi, tubuhnya berhenti bergerak.

Anak itu mengintip ke tepi tempat tidur dan melihat tepi genangan cairan gelap kecil sambil tersenyum.

"Apa kamu masih lapar?"

-TAMAT-

KABAR (Flash Fiction)

Kurapihkan baju-bajuku dalam tas dengan tergesa-gesa. Pagi ini aku harus pulang ke Yogyakarta. Ada kabar buruk dari rumah. Lebih tepatnya, kabar sedih. Kata Mbak Parmi, gara-gara kabar itu, Ibu terus menerus menangis.

Lebih dari lima jam perjalanan membuat perasaan semakin gelisah. Kabar Mbak Parmi yang disampaikan pimpinan Pondok selalu saja membayangi. Aku penasaran mengapa Ibu tak berhenti menangis. Dia mungkin tidak ikhlas dengan kejadian ini.

Menjelang sore, aku sampai di Desa Gowongan, Yogyakarta. Di tempat inilah aku menghabiskan masa kecilku, sebelum aku mencari ilmu di Pondok Modern Gontor di Ponorogo Jawa Timur. Tergesa aku melangkahkan kakiku untuk pulang.

Wajah sedih Ibu dan Mbak Parmi terus terbayang, membuat aku ingin segera memeluk mereka. Sejak Bapak wafat, di rumah, aku adalah satu-satunya laki-laki. Dan selama mondok, Mbak Parmi yang menjaga Ibu.

Tiba di depan rumah, langkah aku terhenti. Ragu-ragu aku meneruskan masuk ke dalam rumah. Bulu kudukku berdiri, peluh menetes membasahi pakaianku. Aku gemetar ketakutan. Kabar Mba Parmi terngiang kembali. Kabar bahwa tadi malam aku ditemukan mati tergantung di kamar.

-TAMAT-

WANITA SIMPANAN

THRILLER FICTION BY LOVEMBERS



Aku seharusnya tidak ada di rumahmu.

Tapi aku ...

Aku duduk di teras depan rumahmu, di atas ayunan. Aku suka ayunan teras. Itu mengingatkanku pada masa kecilku dulu, tentang limun, kue cokelat. Bermain di luar. Aku tidak pernah keberatan kotor atau berkeringat atau berantakan.

~~~

“Anak nakal,” ibuku sering berkata, setelah aku masuk rumah, ranting di rambut dan lumpur berkerak di telapak tanganku, setelah seharian bermain tanah dengan anak-anak lelaki tetangga.

"Gadisku yang nakal," katanya, suaranya melunak oleh kasih sayang, tapi aku curiga dia lebih suka kalau putri berperilaku baik dengan rambut ikalnya yang tetap tersemat pita, yang menyukai gaun dan boneka dan pesta teh saat bermain, menghindari bola dan berburu katak.

~~~

Aku seharusnya tidak ada di rumahmu,

Tapi aku ...

Kamu tinggal di tempat ini, tanpa tetangga. Aku ingat ketika kamu pertama kali mengatakan itu padaku. Kamu memberi tahuku tentang danau kecil di dekat rumahmu. Itu terdengar sangat indah. Memiliki pemandangan danau dari rumah pasti menyenangkan, kataku. Bisa berenang kapan pun kamu mau. Aku membayangkan permukaan airnya yang bermandikan cahaya bulan. Aku membayangkan kita berenang berdua. Aku membayangkan masa depan.

Aku mengayunkan kakiku ke papan lantai teras hingga ayunan bergoyang ke depan dan belakang. Cuacanya sempurna. Hangat dengan angin. Aku menutup mata, membayangkan danau. Sangat dekat, aku bisa mencium baunya.

Aku seharusnya tidak di rumahmu, tetapi kamu seharusnya tidak berada di tempatku juga. Dan kamu, berkali-kali. Lusinan, sebelum kamu akhirnya bercerita tentang istrimu.

Aku melirik mobil di jalan masuk.

Dia pasti ada di sini.

Aku bertanya-tanya berapa lama aku bisa duduk di sini, dengan dia di dalam, tidak menyadari keberadaanku. Aku seorang wanita yang sabar. Bisakah aku duduk di sini sampai kamu kembali dari hari yang panjang di tempat kerja, dan mengejutkan kalian berdua sekaligus?

Aku memaksakan diri.

Aku seharusnya tidak ada di sini. Tapi selama aku mungkin akan bertemu dengannya. Aku akan datang untuk bertemu dengannya.

Aku datang untuk memperbaikinya.

Kamu bukan pria yang baik dan dia harus tahu itu. Dia harus tahu yang sebenarnya. Dia harus tahu segalanya.

Aku menggigit bibirku. Kamu biasa menggigit bibirku, dengan lembut menariknya di antara gigimu.

Tanganku gemetar ketika aku mengulurkan tangan untuk membunyikan bel pintu. Aku mendengar anjing yang bergegas mendekat, membuat kesal.

Suara perempuan mengatakan sesuatu pada anjing itu lalu ada keheningan yang tiba-tiba di kepalaku.

Kamu punya anjing.

Aku menelan ludah melawan empedu yang terbakar di tenggorokanku. Pada kencan pertama kita, aku bertanya apakah kamu punga anjing. Kamu bilang tidak, dan itu seharusnya menjadi pemecah masalah bagiku, tetapi senyummu mengalihkan perhatianku dari kekecewaan. Senyummu mengalihkan perhatianku dari begitu banyak kebohongan, begitu banyak hal. Seperti fakta bahwa kencan pertama itu adalah piknik takeout di lantai ruang tamuku. Kamu yang menyarankannya. Dan tersenyum. Dan aku berpikir, Oh, betapa romantisnya. Siapa yang butuh restoran yang ramai kalau bisa hanya kita?

Ternyata bukan hanya kita.

Ada suara sepatu hak tinggi di atas lantai kayu mendekati pintu.

"Sebentar," katanya, dari sisi lain pintu. Dia menyambut tamu yang mampir tanpa pemberitahuan dan tanpa diundang. Aku tidak dapat membayangkan ternyata kamu mendapatkan banyak hal dari mereka di sini, di antah berantah, jauh dari hiruk pikuk kota.

~~~

Keset di luar apartemenku bertuliskan Go Away. Saat ada yang mengetuk, kecuali aku memesan makanan, aku pura-pura tidak di rumah. Kamu adalah orang pertama yang pernah aku izinkan masuk.

Rasa dingin membanjiriku dan ada rasa sakit di kepalaku, seperti aku baru saja makan es krim terlalu cepat.

Lalu istrimu dan aku berhadapan muka.

Aku hanya harus mengatakannya. Aku harus mengatakan padanya bahwa suaminya adalah seorang pembohong yang curang. Aku harus mengatakan padanya bahwa kami berselingkuh selama berbulan-bulan. Aku harus memberitahunya bahwa kamu mengatakan kepadaku bahwa aku adalah satu-satunya. Aku hanya harus membuang kata-kata ini, seperti kurir POS yang mengirimkan paket, dan kembali ke tempat aku parkir di sisi lain jalan. Kembali ke mobilku dan pergi. Biarkan nanti kamu berurusan dengan kekacauan.

"Halo," katanya, “Oh, kamu pasti butuh bantuan.”

Ada sedikit gangguan, kataku

"Masalah mobil?" Dia bertanya.

Aku tidak bisa membuat bibirku terbuka. aku hanya bisa melihatnya, bingung.

Dia berambut ikal. Tinggi. Mata besar hitam.

Aku berambut ikal. Tinggi. Mata besar hitam.

Semua type kamu.

Aku tidak tahu mengapa aku mengharapkan wanita sainganku. Berambut lurus, bermata sipit, dan berbadan mungil.

"Apakah kamu baik-baik saja?"

Tidak. "Ya," kataku. "Aku minta maaf," aku menunjuk ke anjing Golden. “Saya suka anjingmu. Manis sekali. ”

Dia tersenyum. “Antara kamu dan aku, aku pikir dia lebih memilih suamiku. Meskipun aku tidak akan pernah mengakuinya."

Aku mendorong ujung bibirku ke atas dan menarik tawa kecil. “Um, ya, mobilku mogok. sebenarnya aku benci mengganggumu, tapi aku tidak punya peralatan. ”

Itu adalah alasan yang bagus.

"Ya," katanya. Apakah kamu ingin masuk dan menggunakan telepon? "

"Ya, jika dibolehkan," kataku. “Saya mau menelfon mobil derek agar datang. Lagipula perut saya sakit karena belum makan sepanjang hari. ”

Juga alasan yang masuk akal.

"Oh, masuklah, ayo masuk. Biarkan aku membuatkanmu roti bakar," katanya. “Dan segelas teh? Pergi ke tempat tidurmu, buddy. ”

Aku melihat selain Golden, ada Pomeranian, dan semacam campuran pudel, mengintip dari antara rel tangga di sisi kiri jalan masuk.

“Tidak, tidak, itu terlalu merepotkan. Jika tidak merepotkan aku hanya menumpang menelfon lalu aku akan menunggu di mobilku sampai mobil derek datang."

"Aku tidak mendengarnya!" Dia mengajakku ke dalam dan itu membuyarkan semua kekakuanku yang terlihat seperti seorang pencuri, mencari tahu semua barang berharga sehingga aku bisa kembali nanti ketika tidak ada seorang pun di sini. Semuanya adalah potongan dari teka-teki kehidupan yang kamu rahasiakan dariku.

“Rumahmu indah,” aku berhenti sejenak di sebuah gambar di dinding. “Suamimu?” Tanyaku, memancing keingintahuan biasa, tapi suaraku tinggi, kaget.

Dalam potret, Kamu berdiri di belakangnya, tanganmu memeluknya, di pinggang, tanganmu bertumpu pada perutnya. Perutnya yang hamil.

Anak-anak? Ada anak-anak?

“Ya, itu Ronan ku. Oh, dan saya Melanie, ”katanya, kata-katanya meluap karena bangga. Dia menatapku. Apakah dia pernah berhenti tersenyum?

"Apakah kamu baik-baik saja?

"Oh ya," kataku, meskipun aku tidak baik-baik saja. Aku di bawah air. Tidak ada oksigen. Aku mencoba untuk bernapas, tetapi tidak bisa.

"Baik. Dan siapa namamu? ”

"Saly."

"Yah, senang bertemu denganmu, Saly, tapi aku berharap kita bertemu dalam situasi yang berbeda."

Aku juga, Melanie, aku juga. Aku datang ke sini untuk mengakhiri pernikahan kalian. Aku tidak tahu ada anak-anak.

Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku? Bagaimana kamu bisa melakukan ini padanya?

"Saya baik-baik saja," kataku. Mataku pindah ke foto lain. Kamu. Istrimu. Anak kecil yang mirip denganmu. Gadis kecil yang mirip dengannya. “Aw, mereka menggemaskan.”

Tetapi aku tidak bisa membiarkan mereka menghentikanku. Aku harus memperbaikinya. Tetapi aku harus memastikan anak-anak ini tidak mendengarnya.

"Jack. dan Jessie. Mereka jauh lebih muda di foto itu. Sekarang mereka berdua sudah nakal nakal makanya aku biarkan tinggal di asrama ”katanya, setiap kata penuh dengan cinta.

“Oh. Jadi mereka di asrama sekolah, kalau begitu. ”

"Ya," katanya. "Ayo di dapur, Saly"

Aku mengikutinya, melihat sekeliling, melawan dorongan untuk menjalankan jariku di setiap permukaan, setiap benda.

“Roti dan keju oke?” Dia bertanya.

Dia sangat baik. Bisakah aku melakukan ini? Bisakah aku menyakiti seorang putri Disney?

"Tomat?" Dia mengangkat yang matang.

"Oh, ya, terima kasih," aku menghampiri meja. “Biarkan aku membantu. Aku akan mengiris. "

Dia tersenyum padaku lagi dan aku tahu aku tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut.

“Apakah kamu yakin? Kamu gemetar. Kamu pasti kelaparan. Aku tidak ingin kamu memotong tangan sendiri. ”

Aku melihat tanganku. Jari-jariku gemetar. “Aku baik-baik saja,” aku bersikeras, mengambil tomat dan pisau.

Dia terlalu baik. Dia tidak pantas patah hati mengetahui apa yang telah kamu lakukan. Tetapi kamu akan mengkhianati dia lagi. Dan aku tidak bisa membiarkannya.

Setelah makan, aku menggunakan telepon yang dia tunjukkan.

Berdering dua kali sebelum kamu menjawab.

"Hei, Sayang," katamu.

Aku tidak bisa bicara. Sudah lama sejak aku cukup dekat denganmu untuk mendengar lagi suaramu.

Melanie? "

Aku menemukan kata-kata. "Ini bukan Melanie."

"Saly?" Suara mu rendah, kencang, tipis, seperti karet gelang yang membentang terlalu jauh. "Apa yang kamu lakukan di rumahku?"

“Di mana Melanie? Kamu tidak bisa berada di rumahku. Aku menelepon polisi. kamu tahu aku bisa saja memenjarakanmu.

“Ya. Tapi mengapa istrimu tidak tahu tentang hal itu? ”Aku bertanya. “Aku memberitahunya nama asliku dan semuanya. Dia tidak pernah mendengar tentang aku. "

"Di mana dia?" Kamu bersikeras.

Aku melihat keluar jendela belakang di danau. “Oh, dia pergi berenang.”

"Apa yang kamu bicarakan? Beri dia telfonnya

"Aku sudah bilang. Dia ada di danau dengan pisau yang aku gunakan untuk membunuhnya. Kamu mengatakan kepadaku bahwa aku adalah satu-satunya, Ronan. Dan sekarang aku satu-satunya, ”kataku.

Aku menutup telepon. Aku sudah membersihkan dapur.

Kamu seorang pembohong yang curang. Tetapi jangan khawatir. Cintaku padamu tak bersyarat dan kurasa aku bisa membantumu melupakan kebiasaan buruk itu.

Aku duduk di ruang tamu, menghampiri golden dan menggaruk belakang telinganya. "Jangan khawatir, kawan. Ayah akan segera pulang. Dia harus menjelaskan semua yang terjadi pada Jack dan Jessie. Mereka perlu belajar bahwa berbohong memiliki konsekuensi. ”

Pic:


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di