CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5deeff650577a96ced5a53a8/teror-hantu-dewi

TEROR HANTU DEWI

Cerita ini adalah murni fiksi dan imajinasi saya semata, ini adalah Cerita Horor pertama yang saya buat, maka jika banyak kekurangan disana sini saya mohon maaf dan sangat berharap kritik dan sarannya. Dan Kisah ini saya persembahkan Untuk Novia Evadewi, yang novel horornya sederhana namun begitu mencekam nuansa horornya.

Cerita ini saya beri judul "Teror Hantu Dewi", selamat membaca.

=====================================






TEROR HANTU DEWI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kuyasalto dan 21 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mahadev4
Halaman 1 dari 9

TEROR HANTU DEWI

Daftar Lengkap serinya :

Prolog
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...01cf1c890f8ef7

Part 1 Malam Jahanam
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...276852b4209089

Part 2 Penantian Mencekam
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9d0f74315c743d

Part 3 Geger Mayat Dewi
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f23150685148c1

Part 4 Penguburan Mayat Dewi
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b24d4fb179657e

Part 5 Teror di Tumah Tua
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb03fd70d8c1

Part 6 Teror yang Berlanjut
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...77a911cf2e64f0

Part 7 Pembalasan Dewi
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7f9350b8248c4e

Part 8 A Hantu Dewi Meneror Lagi
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...bdb27e8d343637

Part 8 B Hantu Dewi Meneror Lagi
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cad75b4e7b72d2

Part 9 A Geger di Makam Dewi
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...518b6dfb20c6a4

Part 9 B Geger di Makam Dewi
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb767924c9bb

Part 9 C Geger di Makam Dewi
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b24d0e99023a0e

Part 9 D Geger di Makam Dewi https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9d0f67401cca59

Part 10 Menguak Tirai Gelap
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb34a824e051

Part 11 Keris Kiayi Pancasona
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...1d3079f11f4576

Part 12 Pertarungan Terakhir (Tamat)
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d195475e796fb5


================================


PROLOG

"Turun depan ya, pak. Dekat warung itu," kata Dewi kepada bapak tua supir angkot. Dewi tampak gelisah, matanya menatap area sekitarnya yang seharusnya sudah begitu akrab baginya.

"Iya, Mbak," jawab bapak itu seraya melirik sekilas kepada Dewi dari kaca mobil angkotnya. ada pancaran kecemasan di wajah pak sopir yang sudah puluhan tahun mencari nafkah dengan angkot tuanya itu, ia perhatikan gerak-gerik Dewi yang sejak tadi seperti orang yang ketakutan, entah apa yang ada di benak Dewi, sopir itu tak bisa menerkanya.

Angkot biru tua yang di tumpangi Dewi pun berhenti tidak jauh dari warung yang tadi ditunjuk Dewi. Sebuah warung makan pinggir jalan yang tidak terlalu besar, warung tersebut buka memang sampai larut malam, biasanya pemilik warung, Pak Harjo akan menutup warungnya sekitaran pukul 1, namun kalau sepi pembeli, bisa lebih cepat lagi.

"Hati-hati, Mbak. Soalnya ini sudah hampir jam 12 tengah malam," kata supir angkot setelah menerima ongkos Angkot dari tangan Dewi. Pak supir angkot menatap heran Dewi. karena ternyata uang yang di berikan Dewi adalah selembar uang seratus ribuan, padahal sejak pagi tadi ia sepi penumpang, ia pun bingung untuk memberikan kembaliannya.

Dewi tersenyum "Iya, terima kasih, Pak. Saya lahir dan besar di Desa ini, jadi sudah kenal dengan penduduk Desanya. Oh iya, kembaliannya ambil saja Pak, buat anak istri Bapak"

"Aduh.. Terima kasih banyak ya, Mbak. Kebetulan hari ini bapak sepi penumpang. Semoga sampai rumah dengan selamat ya, Mbak," usai berkata supir angkot itu tersenyum lebar, dan langsung kembali mengarahkan angkotnya kejalan raya, angkot tua itu berjalan merayap di jalanan beraspal, di iringi tatapan mata Dewi, sampai benar-benar menghilang di tikungan jalan.

Setelah Angkot tua tersebut pergi, Dewi segera menjinjing 2 buah tas besarnya, berisi oleh-oleh yang di belinya dari Jakarta, dan beberapa potong pakaian, baik yang lama biasa di pakainya, maupun beberapa setel pakaian baru yang juga di belinya di Jakarta, sedianya pakaian baru itu akan ia berikan kepada kedua orang tuanya, juga kepada kakak lelakinya, Dewo dan adiknya, seorang perempuan yang masih duduk di bangku SMA, Devi.

Dewi berjalan melewati Warung Nasi Pak Harjo, Pak Harjo sendiri tidak tampak di warungnya, mungkin sedang mencuci piring-piring di dapur, bekas pelanggannya makan. Dewi melihat ada 4 orang pemuda yang tengah nongkrong disana. dua diantaranya sedang menikmati makanannya, yang seorang sedang bermain gitar, dan seorang lagi sedang mengutak-atik sebuah motor.

Entah mengapa perasaan Dewi jadi tidak enak dan berdebar-debar, maka dipercepatnya langkah agar secepatnya tiba dirumah. Kalau saja tadi Bis yang di tumpanginya tidak mengalami pecah ban tentulah Dewi akan sampai kedesanya lebih sorean, atau kalau pun sampai malam tidak sampai selarut ini. Meski Dewi sudah mengenal betul jalan jalan Desanya, juga penduduknya.

Suasana malam itu tidak seperti malam-malam biasanya yang pernah Dewi rasakan di Desa ini, udaranya terasa begitu dingin, tak ada tanda-tanda orang lain berada di sepanjang jalan yang sedang di lewati Dewi. Bahkan Pos Ronda yang baru saja di lewati Dewi tadi tampak kosong, tak ada peronda sama sekali.
Dewi tiba-tiba menghentikan langkahnya, menurunkan tas yang di jinjingnya lalu mengelap keningnya yang mulai berkeringat.

Sementara dari kejauhan suara lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan, suaranya seperti mengisyaratkan kesedihan, saling lolong satu sama lain dengan lolongan yang tinggi melengking, seperti suara kesakitan yang sangat memedihkan.

Hal itu tentu saja membuat perasaan Dewi jadi tidak karuan, bulu kuduknya meremang, kemudian diangkatnya kembali tasnya, kali ini ia mempercepat langkahnya agar sesegera mungkin sampai kerumahnya, yang mana tentunya keluarganya sangat senang menyambutnya karena sejak kemarin dewi sudah mengabarkan bahwa hari ini ia akan pulang ke Desanya untuk selamanya, karena ia sudah meminta berhenti dari majikannya di Jakarta.

Dia memutuskan berhenti jadi pembantu rumah tangga karena pacarnya yang tinggal di desa bernama Prasetyo, sudah melamarnya pada kedua orang tuanya, Prasetyo sudah siap untuk membina sebuah keluarga bahagia dengannya, sebagaimana Dewi pun sudah lama siap dan menunggu kesediaan Prasetyo untuk menikahinya.

BERSAMBUNG
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mahadev4
Lihat 1 balasan
Balasan post mahadev4
TEROR HANTU DEWI - Part 1
by Deva

Agung masih sibuk dengan motornya yang terparkir di depan warung Pak Harjo, tiba-tiba Ilung yang sedang memainkan gitar melihat seorang wanita muda yang menenteng dua buah tas besar di tangannya, wanita itu berjalan bergegas, Ilung terus memperhatikannya, dan ia sempat melihat wanita itu melirik sebentar kepada mereka dan lanjut berjalan lagi.

“Gung, ada cewek cantik tuh, malam-malam begini, setan apa orang ya?,” tanya Ilung.

“Mana?,” Agung mengangkat kepalanya mencari sosok yang di maksud kawannya, sebelum Ilung menjawab tatapannya sudah langsung melihat sosok wanita yang berjalan itu.

“Oh.. itu kayaknya tetangga gw, si Dewi, udah lama gak kelihatan sih. Kabarnya dia kerja di Jakarta. Kayaknya baru pulang tuh dari Jakarta,” jawab Agung dan mulai kembali Asik dengan motornya.

“Syukurlah kalau bukan Setan. Asik neh, dapat mangsa malam ini kita, pesta besar cuy!,” Ilung meletakkan Gitarnya, disandarkan di dinding warung yang terbuat dari papan.

“Jangan gila Bos, itu kan tetangga gw!,” Agung sudah bisa menduga rencana jahat kawannya itu.

Ilung memang terkenal di pasar sebagai Preman Pasar yang paling disegani, kabarnya Ilung punya Ilmu kebal, sehingga tak mempan di tebas senjata tajam, dan rumornya malah ia kebal peluru juga. tak ada pedagang yang berani melawannya hingga akhirnya orang-orang pasar secara suka tidak suka memberikan uang keamanan kepada Ilung, bukan untuk mengamankan dari kejahatan orang lain justru agar mereka aman dari kejahatan Ilung dan kawan-kawannya tersebut.

Agung sendiri sebenarnya berbeda dengan mereka, ia tak pandai berkelahi, ia pun anak dari orang kaya yang cukup terpandang di desa ini, kalau pun ia mau ikut-ikutan gabung dengan mereka maka itu pun sebenarnya hanya karena ingin cari aman saja.

“Johan, Yondi, dah selesai belum makannya, lelet amat.” Teriak Ilung pada dua temannya lagi yang sedari tadi asik makan, namun telinga mereka tetap mendengar apa yang baru saja di bicarakan antara Ilung dan Agung.

“Ok bos, udah nih.” Kata Yondi menyingkirkan piringnya dan piring temannya.

“Pak! Pak Harjo! Kemana sih nih penjual, dagang tapi kabur-kabur mulu.” Teriak Johan.

Tak lama datang Pak Harjo dengan tergopoh-gopoh, kedua tangannya yang masih basah di lapkan di bajunya.

“Iya, maaf tadi saya habis buang hajat di kali belakang sana, ada apa ya?." Tanyanya.

“Ini semuanya berapa?,” tanya Johan.

“Makan 2, Rokok, sama kopi, semuanya Rp. 65.000,-.“ jawab pak harjo, ia tampak senang karena malam ini sebelum tutup warungnya laku banyak.

“Ya udah, catat hutang saja dulu ya, besok di bayar”.

“ya” jawab Pak Harjo dengan lemah, bayangan indahnya dalam sekejap hilang, wajahnya tampak lesu, ada rona kekecewaan menggurat disana.

Pak Harjo lantas menutup Warungnya, sementara Ilung naik motor di bonceng Yondi, sedang Johan Ikut Motornya Agung.

Agung tak kuasa menolak ajakan Ilung sang Preman pasar itu, dan untuk menyamarkan dirinya agar tak dikenali oleh Dewi nantinya, ia mengenakan masker.

Kedua motor dengan 4 pengendara itu ngebut kearah dimana sosok Dewi menghilang.

===

Dewi mendengar deru motor di kejauhan dari arah belakangnya, ia sudah menduga siapa kiranya yang ada di atas kendaraan itu, tentulah mereka para pemuda yang tadi ada di warungnya pak Harjo.

Perasaan cemas mulai merambati bathinnya, ia lebih mempercepat lagi langkahnya, namun terlambat, karena dua motor dengan 4 pengendara itu sudah lebuh dahulu menyalib jalannya.

“Minggir kalian, mau apa kalian?!” teriak Dewi.

“Waduh, galak juga nih cewek. Jangan kasar-kasar ngomongnya, kami orang baik kok, boleh kami antar? Gak baik loh gadis cantik kayak Mbak ini jalan sendirian, apalagi tengah malam begini, ditempat sepi kayak gini.” Ilung turun dari boncengan Yondi dan mendekati Dewi, Yondi mengikuti di belakangnya, sedangkan Johan dan Agung masih tetap duduk di motor, menunggu komando Bos mereka.

“Nggak, makasih. Rumah saya sudah dekat. Minggir kalian!,” teriak Dewi sambil berjalan mundur menghindari Ilung yang langkahnya kian mendekatinya.

Ilung mengedipkan mata pada Yondi yang langsung mengerti kode Bosnya itu, ia langsung bergerak cepat ke arah Dewi, mencengkeram lengannya.

Dewi yang memang sudah waspada sejak tadi, langsung menghantamkan kakinya ke arah kemaluan Yondi, sontak Yondi langsung meringis kesakitan yang bukan alang kepalang.

Dewi sadar bahwa dirinya kini dalam bahaya besar, ia harus bisa melarikan diri dari mereka, tetapi untuk lari ke arah depan jelas tidak mungkin, karena di depannya ada Ilung yang siap menangkapnya, belum lagi Johan dan Agung yang tetap stand by di atas motor tentu akan lebih mudah mengejarnya, sama halnya jika ia memilih arah sebaliknya.

Maka di detik-detik yang paling menentukan itu ia memilih berlari kearah kanannya, menyusuri jalan setapak yang sunyi yang mengarah ke arah pesawahan Desa. Ditinggalkannya barang bawaannya, baginya keselamatannya kini jauh lebih penting dari barang-barangnya.

“Johan sama lo Gung, amanin nih barang kita, nanti kita buka sama-sama di Markas. Lo ikut gw Yon, kita kejar tuh cewek, lumayan malam-malam gini dapat barang anget gratis. Hahaha…”.

Yondi dan Ilung berlari mengejar Dewi yang sosoknya sudah jauh dan tak terlihat lagi, sementara Agung dan Johan membawa kedua tas Dewi ke markas mereka, sebuah rumah tua yang tak terpakai lagi, mereka menyembunyikan tas itu disana lalu mereka kembali ketempat semula, dan menyusuri jalanan setapak dimana Ilung dan Yondi mengejar Dewi.

Tidak butuh waktu lama, keduanya melihat Yondi dan Ilung yang berdiri di pinggiran Pesawahan, sedangkan Dewi tergeletak pingsan tidak jauh dari mereka.

Entah apa yang sudah di perbuat oleh kedua temannya itu, Agung dan Johan tak habis pikir.

“Mau diapakan nih Bos?,” tanya Johan menunjuk sosok Dewi.

“Ya kita nikmatin lah, ada barang bagus begini disia-siain, buruan angkat dia dan bawa kesana,” perintah Ilung pada Johan dan Agung.

Mereka berempat menyusuri pematang sawah, menuju sebuah gubuk yang ada di tengah-tengah sawah.

Sementara langit yang semula bertaburan bintang gemintang tiba-tiba berubah gelap gulita, sesekali kilat menyambar-nyambar, menimbulkan suara gelegar yang mendirikan bulu roma.

Di dalam gubuk itulah, ke 4 pemuda biadab tersebut beramai-ramai memperkosa Dewi yang sudah tidak berdaya itu secara bergiliran. Lalu mereka meninggalkannya begitu saja disana, setelah Yondi menikamkan belatinya berkali-kali ke tubuh Dewi, sampai mereka memastikan bahwa Dewi sudah tak bernyawa lagi.

Barulah mereka pergi dengan perasaan tenang karena takkan ada bukti dan saksi yang akan menyeret mereka ke ranah hukum.

Di kejauhan lolongan anjing masih saling bersahutan, kali ini lebih menyayat dari sebelumnya, di barengi suara kilat dan rintik hujan yang sudah mulai turun mengguyur Desa itu.

BERSAMBUNG
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jokopenceng dan 11 lainnya memberi reputasi
TEROR HANTU DEWI - Part 2
by Deva

Wanita itu duduk diruang tengah, gelisah. Sejak sore perasaannya memang sudah merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan, apa itu, ia pun tak tahu, dan malam ini sampai dengan pukul satu dini hari ia masih belum bisa memejamkan matanya untuk tidur.

Dari arah dapur seorang gadis remaja masuk ke ruangan tengah tempat wanita itu duduk, gadis itu membawakan segelas teh hangat kesukaan wanita itu, setelah meletakkan di meja ia duduk disebelahnya, meraih pundaknya.

“Wis to Buk, mungkin Mbakyu Dewi batal mulih dino iki (sudahlah Bu, mungkin Mbak Dewi batal pulang hari ini)”, gadis remaja itu mengelus-elus pundak wanita yang ternyata adalah Ibunya.

“Ora mungkin, Vi. Lha wong Mbakyumu kuwi wis telpon ning hapene Kangmasmu, Dewo. Mosok iyo Dewi arep ngapusi wong tuwone dewe, piye to kowe iki? (Gak mungkin, Vi. Soalnya Mbakmu itu sudah telpon di hape Mas kamu, Dewo. Mana mungkin Dewu membohongi orang tua sendiri, kamu ini bagaimana?)”.

“Yo ora ngunu maksude Buk, maksud Devi sing jenenge halangan kan sopo sing eruh, mungkin ae Mbakyu Dewi ono halangan, nek gak sesuk-
yo sesoke meneh baline (ya bukan gitu maksudnya Bu, maksud Devi yang namanya terhalang siapa yang tahu, mungkin saja Mbak Dewi berhalangan, kalau gak besok, ya besoknya lgi pulangnya)”.

“Halah..Ibuk kok gak percoyo Dewi onok halangan, perasaan Ibuk ngroso nek Dewi iku jane wis tekan kene, koyo wis mlebu omah iki loh, ibuk mung khawatir, jangan-jangan.. (Halah..Ibu tidak percaya Dewi punya halangan, Ibu merasa kalau Dewi sebenarnya sudah sampai sini, seperti sudah masuk kerumah ini, Ibu hanya khawatir, jangan-jangan...”, Belum sempat Ibunya Dewi menyelesaikan perkataannya tiba tiba…

"Jlegaaaarrr… !!!".

Terdengar suara petir yang diiringi kilat sambung menyambung, Devi Cumiik dan langsung memeluk ibunya reflek, Jendela kayu depan rumahnya mendadak terbuka, dan masuklah udara dingin diiringi hujan angin melalui jendela yang terbuka itu, jendela itu berderak-derak membuka dan menutup karena tiupan angin yang cukup kencang.

Devi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela namun tiba-tiba, terdengar suara kaca pecah seperti terjatuh, Devi buru-buru menutup jendela, namun sebelum-
tangannya meraih jendela pandangannya yang menatap keluar melihat sosok bayangan di depan rumahnya, ia tak bisa melihat jelas karena terhalang guyuran hujan malam itu yang turun begitu lebat.

“Mbakyu… “ gumam Devi, ia yakin betul bahwa sosok yang dilihatnya adalah Dewi kakak-
nya yang sejak sore begitu di nantikan kedatangannya. Devi berpaling kearah ibunya yang sedang membungkuk seperti tengah memunguti sesuatu di lantai.

“Buk iku sepertine Mbakyu… (Bu itu sepertinya Mbak...)“, ia kembali menoleh keluar untuk memanggil sosok itu, namun sosok yang dikiranya Dewi itu sudah tak ada lagi disana.

“Gak mungkin, gak mungkin aku salah lihat, aku benar-benar melihat sosok Mbakyu Dewi tadi…” Devi seperti tertegun di jendela, hujan deras yang terbawa angin sudah membasahi sebagian besar bajunya dan wajahnya.

Ia tersadar saat ia mendengar jeritan ibunya…

“Oalah Gusti.. Gusti.. pertondo opo to iki ?(Ya Tuhan.. Tuhan.. Tanda apakah ini?),” ibunya terduduk dilantai, di tangannya tergenggam foto Dewi dalam bingkai kaca, namun kacanya sudah hancur berantakan, ternyata suara benda terjatuh tadi adalah foto Dewi yang terpasang di dinding ruang tamu.

Terdengar suara deru motor datang dari arah kejauhan menuju kearah rumah mereka, tak lama motor yang di tumpangi seorang pemuda itu berhenti di halaman, pemuda itu turun dan mengetuk rumah.

“As salamu’alaikum. Ibu.. Ibu.. Aku mulih (saya pulang)”.

Devi sangat mengenal suara itu, itu Kangmasnya yang baru pulang dari pengajian, Aryo Sadewo. Bergegas Devi membukakan pintu untuk kakaknya.

“Kowe durung turu, Vi. Mbakyumu Dewi ngendi, wis turu tah?(kamu belum tidur, Vi, Mbakmu Dewi mana, sudah tidur ya?)”

“Mbakyu Dewi Durung teko, Mas, iku loh Ibu tulungo (Mbak Dewi belum datang, Mas. Itu loh tolongin Ibu)”.

Dewo menutup pintu dan menghampiri Ibunya.

“Bu, ono opo to kok nangis?( Bu, ada apa, kok nangis?”, di bimbingnya ibunya untuk duduk di kursi, tangannya masih mendekap foto Dewi, Dewo lalu meminumkan air teh hangat yang tadi di buatkan oleh Devi.

“Iku loh Mas, fotone mbakyu Dewi tibo keno angin, ibuk dadine koyo berfikir sing ora-ora(begini, Mas, foto Mbak Dewi jatuh terkena Angin, Ibu jadi berfikir yang tidak-
tidak)", Devi menjelaskan.

“Buk, wis kene fotone Dewi, bismillah ae gak ono opo-opo kok karo dewi, mengko tak telpone deweke (Bu, Kemarikan fotonya, bismillah saja, tak ada apa-apa sama Dewi. Nanti kutelpon dia),”

Dewo mengeluarkan hapenya dan segera menelpon adiknya, Dewi.

Terdengar suara nada panggilan, Dewo menunggu, Devi dan Ibunya ikut memperhatikan dan menunggu.

Suara telpon diangkat… hanya terdengar suara deru angin, dan samar suara tangisan perempuan di kejauhan,

“ Wi.. Dewi..” panggil Dewo.

Tak ada jawaban, Dewo menunggu, lalu kembali memanggil.

“Wi.. aku Dewo iki, kangmasmu (Wi.. aku ini Dewo, kakakmu)”.

“Iyo, Mas”, terdengar suara jawaban, begitu lemah..

“Kowe Dewi kan?” tanya Dewo seakan ingin lebih meyakinkan.

Sunyi.

Tak ada jawaban.

“Wi, kowe wis turu tah?( Wi, kamu dah tidur ya?)”.

“Ora, Mas (nggak, Mas)”, kembali terdengar suara Dewi dengan suara yang lemah.

“Kowe sido bali opo ora, ibuk gak iso turu iki ngenteni kowe, jare sore mawu tekone.. (kamu jadi pulang gak, Ibu gak bisa tidur nungguin kamu, katanya sore tadi sampainya..)”

“Sesuk aku pasti MULIH, Mas… (Besok aku pasti PULANG, Mas)“

Tiba-tiba telpon terputus.

BERSAMBUNG
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jokopenceng dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Pertamaxxxx.. nenda dulu. Bakalan rame nih. emoticon-Embarrassment
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
Quote:


Aamiin, kritik sarannya Gan, biar part demi part berikutnya lebih creepy...
Lihat 1 balasan
Balasan post mahadev4
Tanya Ama Agan AllKrearif aja gan. Udh kawakan tuh hehehe..
profile-picture
profile-picture
borrongrappo dan mahadev4 memberi reputasi
Quote:


Sepertinya gak asing dengar namanya...
Quote:


Pantas saja gak asing, ternyata saya pernah baca threadnya, Hutan Angker di Lampung.
Lihat 1 balasan
Balasan post mahadev4
Itu salah satu threat nya gan, masih banyak yg lain..
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
lanjutkan....sesok mulih
Lihat 1 balasan
Balasan post mahadev4
TEROR HANTU DEWI - Part 3
Geger Mayat Dewi
by Deva

Pagi itu cuaca mendung masih menggelayuti langit di Desa Medasari, meski semalaman diguyur hujan lebat nampaknya langit masih memancarkan rona mendung, sesekali terdengar gemuruh di kejauhan, udaranya yang dingin membuat penduduknya seakan enggan untuk keluar rumah menjalankan aktivitas keseharian mereka baik di sawah maupun di ladang.

Namun tidak untuk dua sosok lelaki separuh baya yang tengah menyusuri pinggiran sawah, yang seorang mengenakan baju batik dengan celana pendek berwarna kecoklatan sedang seorang lagi mengenakan baju kotak-kotak bercelana hitam, keduanya berjalan santai menuju area sawah mereka untuk kembali mereka garap. Mereka adalah Barjo dan Badri.

“Jo, mau mbengi iku aku gak iso turu, omahku bocor parah, kepekso anak lan bojoku turu ning ngarepan. Udan kok sewengi tenanan ora liren-liren, Heran aku, ora bioso-biosone koyok ngunu,( Jo, Semalam itu aku gak bisa tidur, rumahku bocor parah, terpaksa anak dan istriku tidurnya di ruamg depan. Hujan kok bisa semalam penuh gak berhenti, aku heran, biasanya tak seperti itu)” kata Badri.

“Malah ning omahku banjir kabeh, akhire sewengi ora turu. Sak jane aku yo bersyukur, wes suwe kan Deso iki gak ono udan, tenane bersyukur loh.Tapi kok yo udan ora liren-liren tekan esuk(justru di rumahku kebanjuran semuanya, akhirnya semalaman tak bisa tidur, sebetulnya aku bersyukur, sebab sudah lama kan Desa ini gak turun hujan, beneran sangat mensyukuri, tapi kenapa hujannya gak berhenti sampai pagi),” Barjo menimpali.

Barjo dan Badri terus melangkah menyusuri pematang sawah. Tidak jauh di depan mereka terdapat sebuah gubuk, sebuah gubuk kecil yang biasa dipakai para petani untuk beristirahat melepaskan penat setelah bekerja di sawah.

Sepanjang perjalanan mereka tidak menjumpai seorang pun di jalan, jalanan sendiri tanahnya yang sudah retak-retak karena lama tidak tersiram hujan kali ini ini tampak becek di sana sini.

Tiba-tiba Barjo menatap tajam lurus ke depan ke arah rumah gubuk di tengah sawah itu, kemudian menepuk pundak temannya Badri.
“Kamu lihat nggak, itu seperti kaki yang sedang menggantung, kira-kira siapa ya?.”

Badri yang penasaran kemudian memusatkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk oleh Barjo.

“Iya Jo, itu memang kaki orang yang menggantung, Siapa ya? Tapi kok kalau dilihat-lihat seperti kaki perempuan,” jawab Badri.

“Yuk, kita lihat siapa yang tertidur di sana, jangan-jangan malah maling yang habis pulang dari maling terus ketiduran di gubuk itu, tapi masak iya maling kok perempuan?.”

“Sudahlah, kita lihat saja dulu.”

Akhirnya Barjo dan Badri bergegas berjalan cepat menuju gubuk yang berada di tengah sawah, sesampainya mereka di gubuk tersebut mereka sontak kaget bukan alang kepalang. Bagaimana tidak, karena ternyata sosok yang ada di dalam gubuk itu bukanlah seseorang yang sedang tidur, melainkan sesosok mayat.

Ya, mayat perempuan.

Sesosok mayat perempuan yang dipenuhi lumuran darah yang mengering.

“Astaghfirullaah!! iku mayat, Jo, Dudu wong keturon! (itu mayat, Jo, bukan orang tidur!).”

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Mayate sopo yo?(Mayat siapa ya?).”

Dengan takut-takut keduanya berjalan mendekat, diperhatikannya wajah mayat yang terbujur kaku itu, dan mereka sangat terkejut karena ternyata mereka mengenali siapa sosok mayat perempuan itu, tidak lain adalah Dewi, anak dari tetangga mereka sendiri, yaitu anak Pak Purnomo dan Bu Sari.

“Ayo kita kembali ke Desa. Kita laporkan kepada Pak Purnomo dan Pak RT Mangun.”

“Ya ayo.”

Keduanya lalu berlari dengan cepat, sesekali mereka nyaris terpeleset karena licinnya jalanan yang becek.

Kedua lelaki tersebut sampai lebih dahulu ke rumah Pak RT mereka yang bernama Pak Mangun, Barjo lalu mengetuk pintunya, “As Salaamu ‘alaikum.”

Beberapa kali Barjo mengucapkan salam barulah keluar seorang lelaki dengan perawakan tegap dan berkumis tebal.

“Loh kamu Barjo. Badri. Ada apa ini? kalian seperti habis berlari? kalian dari mana?.”

Badri yang menjawab, “Begini lho Pak Mangun, tadi itu saya sama Barjo mau berangkat ke sawah, terus kami lihat ada kaki yang menjuntai di gubuk tengah sawah, Pak. Lalu kami dekati, ternyata itu bukan orang sedang tidur seperti yang kami lihat sebelumnya”.

“Lalu?,” tanya Pak Mangun penasaran.

“Yang kami lihat adalah.. sesosok mayat perempuan, Kami jelas kenal siapa sosok perempuan itu.”

“Siapa?,” tanya Pak Mangun.

“Dewi, Pak. Dewi Anggraini, itu loh anaknya Pak Purnomo dan Bu Sari.”

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Lah kalian sudah kerumahnya Pak Purnomo?.”

“Belum, Pak, ini juga kami dari sawah langsung ke sini, mengabari Pak RT dulu.”

“Ya sudah kalau begitu mari kita sama-sama ke rumah Pak Purnomo, tapi sebentar, Saya salin baju dulu.”

Pak Mangun lalu masuk ke dalam mengganti pakaian dan mereka bertiga pun bergegas ke rumah Pak Purnomo.

Sesampainya di sana yang mereka jumpai adalah anak pertama Pak Purnomo yang sedang memanaskan motor di pekarangan rumah.

“As Salaamu ‘alaikum,” kata Pak RT Mangun.

“Wa ‘Alaikumus salaam. Eh ada Pak RT Mangun, Kang Barjo, dan Kang Badri. Ada apa ini bertiga? nggak biasanya. Mau ke mana?.”

Barjo lantas berkata, “Justru Kami bertiga memang sengaja ingin ke sini.”

Dewo menatap Pak Mangun, “Kelihatannya ada hal yang serius ini Pak RT. Mari, silahkan duduk dulu , nanti saya panggilkan Devi untuk membuatkan minuman.”

Sebelum Dewo beranjak ke dalam untuk memanggil Devi tangannya keburu disambar oleh Pak RT Mangun dan ia berkata, “Nggak usah. Kami kesini mau mengabarkan kabar duka untuk keluarga kamu.”

Sadewo memandang Pak RT dengan pandangan bingung, “Kabar duka? maksud Pak Mangun ini apa ya?.”

"Begini loh, Dewo, tadi Barjo dan Badri berlari-lari ke rumah, katanya mereka dari sawah. Mereka mengatakan, melihat ada sesosok mayat tergeletak di gubukan tengah sawah. Menurut mereka sosok itu adalah.. Dewi, adikmu.”

“Astaghfirullaah! Barjo, Badri, kalian jangan main-main ya. Adikku itu saat ini masih dalam perjalanan dan rencananya pagi ini atau siang nanti sampai ke sini, mau pulang!,” Sadewo menatap wajah Badri dan Barjo dengan tatapan marah.

Badri yang melihat gelagat tidak enak itu segera berkata, “Sabar dulu, Dewo. Lebih baik sekarang kita sama-sama menuju ke area sawah untuk memastikan bahwa memang mayat yang kami temukan disana adalah adik kamu atau bukan, tetapi menurut kami berdua yang kami lihat memang ya adikmu. Bagaimana kami tidak kenal, Lha wong kami tahu kamu dan adikmu Dewi sejak kecil sampai seka rang kalian dewasa. kami sangat hafal wajahnya.”

“Baiklah,” kata Dewo. “Mari kita sekarang berangkat ke sana."

Dari dalam Devi yang mendengar suara ramai di depan rumah lalu keluar.

"Ono opo toh iki?(Ada apa Ini?)."

"Sudah, Vi, kamu di rumah saja, Mas tinggal sebentar, enggak lama nanti Mas kembali."

Kemudian Dewo, Pak RT Mangun, Badri dan Barjo, mereka berempat bergegas menuju persawahan tempat mereka melihat mayat Dewi.

Sesampainya di lokasi Sadewo yang menyaksikan mayat di hadapannya hanya bisa tertegun tidak percaya, bagaimana mungkin adiknya bisa menjadi mayat di tengah persawahan seperti ini, padahal semalam sekitar pukul 1 ia masih sempat berbicara dengan adiknya di telpon, dan adiknya mengatakan bahwa hari ini ia akan pulang.

Pak Mangun lalu menatap Sadewo dan berkata, "Bagaimana, Wo? yakin kamu sekarang kalau memang yang ditemukan oleh Badri dan Barjo ini adalah benar adikmu?."

Dewo hanya mengangguk lemah tak tahu harus berkata apa lagi.

Kemudian Pak RT Mangun berkata pada Badri, "Kamu ke sana ke tempat Mbok Sinah(Nenek Sinah), itu rumahnya kan dekat dari sini, kamu pinjam Jarik(Kain Selendang) yang nantinya akan kita gunakan untuk menutupi mayat ini."

Badri lantas bergegas ke rumah Mbok Sinah.

"Kulo nuwun, Mbok. Mbok Sinah!."

Pintu terbuka, seorang wanita tua lantas keluar.

"Kamu Badri toh? Ada apa ya pagi-pagi begini?."

"Begini, Mbok. Saya diminta Pak RT Mangun untuk meminjam jarik sama Simbok."

"Jarik? kanggo opo to(untuk apa)?," kata Mbok Sinah heran.

"Iya, jarik. Katanya untuk dipakai menutupi mayat yang ada di gubuk tengah sawah."

"Ee lah dalah.Mayat sopo to iku(Mayatnya siapa itu)?."

"Iku lho Mbok, mayat Dewi, adine Sadewo, anak'e Pak Purnomo (Itu loh Nek, mayat Dewi, adiknya Sadewo, anaknya Pak Purnomo."

"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun," kata Mbok Sinah. "Yo wis (Ya udah), tunggu sebentar aku ambilkan jariknya."

Tak lama Mbok Sinah keluar, "Ini aku beri 2 potong, sudah, tidak usah dikembalikan dipakai saja."

"Terima kasih, Mbok," kata Badri yang lantas kembali bergegas menuju persawahan.

Pak RT kemudian menutupi mayat Dewi dengan jarik pemberian Mbok Sinah, ditatapnya Sadewo, "Wo, kamu telpon kepolisian, sekarang. Katakan kejadian sebenarnya yang terjadi di sini."

"Ya, Pak," kata Sadewo, kemudian Sadewo menelepon pihak Kepolisian.

Tak lama kemudian pihak Kepolisian datang kemudian membawa mayat Dewi ke Rumah Sakit untuk diotopsi.

Sementara di rumah Pak Purnomo warga sudah banyak yang datang untuk melayat.

Di ruangan tengah Bu Sari tak henti-hentinya menangis, Devi sendiri hanya bisa memeluk ibunya dan tak berkata apa-apa.

"Wis tak kandani kat mau mbengi, Vi, perasaan ibu ora enak, ora tenang. Opo maneh mau mbengi kan kowe ngerti dewe, potone mbakyumu tiba, kocone ancur pirang-pirang. Tegese kuwi alamat ora apik, lan nyatane bener, mbakyumu yo tenanan mulih, mung mulih sak lawase ning akhirat (Sudah kubilang dari semalam,Vi, perasaan ibu enggak enak, enggak tenang. Apalagi semalam kan kamu tahu sendiri foto kakakmu jatuh, kacanya pecah berkeping-keping. Jelas itu pertanda tidak baik, dan ternyata benar, kakakmu memang pulang, tetapi pulang untuk selama-lamanya ke akhirat), " Bu Sari terus menangis sesenggukan.

Beberapa warga yang lain ada yang mencoba menghibur dan mengatakan agar bersabar dan menerima apa yang terjadi sebagai bentuk ujian dari Allah Swt.

Sadewo bersama Pak RT Mangun masih berada di kota untuk mengurus jenazah Dewi yang akan diotopsi, kemudian mereka juga ke Kepolisian untuk memberikan laporan akan apa yang terjadi.

Barjo dan Badri sebelumnya memang sudah ditanya fihak kepolisian waktu di Desa dan mereka nantinya akan dijadikan saksi untuk kasus ini.

Sepanjang hari langit terus nenampakkan rona mendungnya.

Sore harinya suasana mendung masih meliputi Desa Medasari, sehingga udara di desa itu terasa dingin dan mencekam.

Di teras rumah duduk Pak Purnomo, Pak RT Mangun, Barjo, Badri, Sadewo dan dua orang Polisi.

Mereka Tengah bercakap-cakap tentang kasus terbunuhnya Dewi.

Salah seorang Polisi membuka percakapan, “Jadi begini, Pak Purnomo dan Dik Sadewo, serta Pak Mangun selaku RT di sini dan bapak-bapak ini. Kami dari Kepolisian bisa menyimpulkan bahwa kematian Dewi jelas adalah sebuah tindak kriminalitas, walaupun hasil otopsinya belum keluar tapi dari pihak Dokter tadi sudah ada kejelasan bahwa Dewi meninggal karena dibunuh dengan luka tusukan berkali-kali di perutnya dan sebelum dibunuh menurut dokter lagi Dewi sempat diperkosa. Tampaknya dia diperkosa tidak oleh satu orang saja tetapi oleh beberapa orang. Secepatnya Kami dari Kepolisian akan segera menyelidiki ini. Beberapa tim Penyidik Kami sudah turun di lapangan untuk mencari informasi, itu saja yang bisa kami laporkan untuk sementara.”

Dari dalam muncul Devi yang membawa nampan berisi beberapa gelas kopi dan teh serta makanan lalu di taruhnya di meja.

“Silakan di nikmati hidangan alakadarnya. Saya selaku anak dari Pak Purnomo serta Kakak dari Almarhumah Dewi sebelumnya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Bapak-Bapak sekalian dan khususnya kepada Bapak dari Kepolisian yang sudah banyak membantu untuk menyelidiki kasus ini. Saya sangat berharap agar kasus ini benar-benar bisa dipecahkan dan pelakunya bisa tertangkap, karena kalau tidak Saya khawatir nantinya bisa saja ada korban-korban baru.”

Seorang Polisi yang lain berkata, “Iya Dik Sadewo, Kami memang akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas, sampai pelaku-pelakunya benar-benar tertangkap, karena tindakan keji seperti ini tidak bisa Kita biarkan dan harus ditindak tegas. Kami cukup optimis bahwa kami akan menemukan pelakunya dalam waktu dekat, karena dari Tim Penyelidik di lapangan kami sudah mengumpulkan cukup banyak bukti. Yah, mudah-mudahan secepatnya kami bisa kabari perkembangan kasus ini kepada warga Desa Medasari.”

=====

Malamnya sekitar pukul 7 sebuah mobil Ambulans datang, ada beberapa orang Polisi yang ikut mengawal mobil Ambulans tersebut, berhenti tepat di depan rumah Pak Purnomo. Dari dalam mobil dikeluarkanlah jenazah Dewi yang sudah di otopsi oleh pihak Kedokteran. Beberapa warga yang masih berada di rumah Pak Purnomo ikut membantu menggotong jasad Dewi untuk dibawa masuk ke dalam rumah, mereka meletakkan jenazah Dewi di ruang tengah kemudian sopir Ambulans dan beberapa Polisi yang mengawal tadi berpamitan kepada Sadewo.

Malam itu di rumah Pak Purnomo jadi ramai sekali. Di teras beberapa orang laki-laki berkumpul, sedang di ruang tengah tampak beberapa muda-mudi remaja sedang membacakan Surat Yasin di sekeliling jenazah Dewi. Di sisi lain beberapa ibu-ibu merangkai bunga dan sebagiannya lagi ada yang di dapur sekedar membuat makanan ringan untuk warga yang kumpul di rumah Pak Purnomo.

Semakin malam satu persatu warga berpamitan, hanya tinggal beberapa orang saja, itupun tetangga dekat mereka.

Barjo dan Badri duduk di teras, mereka memang berniat untuk tidak tidur malam ini, berjaga di depan menemani Pak Purnomo dan Sadewo yang juga belum tidur.

Sementara Bu Sari kondisi badannya sedikit ngedrop karena syok atas kematian putrinya, maka ia lebih memilih untuk beristirahat di kamar.

Devi membantu beberapa ibu-ibu di Dapur melanjutkan membuat makanan ringan, karena walaupun beberapa warga sudah pulang selalu saja ada tamu-tamu yang datang, biasanya dari Desa tetangga yang memang kenal dekat dengan keluarga Pak Purnomo, maupun beberapa teman-teman kerja Sadewo.

Menjelang pukul 11 malam Devi sudah mulai mengantuk dan ia berpamitan kepada ibu-ibu yang ada di dapur untuk masuk ke dalam dan beristirahat.

Sebagaimana biasanya sebelum tidur ia akan menunaikan Shalat 'Isya. Bergegas ia mengambil air wudhu kemudian ke kamar, mengenakan mukena dan Shalat.

Usai Shalat Devi merapikan mukena nya dan bersiap berbaring di kasur untuk tidur.

Namun tiba-tiba ia beranjak bangun karena lamat-lamat ia mendengar suara tangisan di balik tembok kamarnya. Suara itu terdengar tepat dari balik jendela kamar yang mengarah keluar.

Dengan perasaan was-was dan penuh kehati-hatian Devi bertanya, “Siapa ya ?.”

Tidak ada jawaban.

“Siapa itu yang di balik jendela?.”

Hening. Tak lagi terdengar suara tangisan.

Namun kali ini yang didengarnya justru seperti suara seseorang memanggil namanya lirih. Jauh, “Devi.. Devi.. .”

Bulu kuduk Devi meremang, ia mulai ketakutan, “Tidak mungkin. Tidak mungkin Kakakku menjadi Hantu. Tidak mungkin.”

Devi berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk itu dari bayangannya, namun semakin keras ia berusaha membuangnya semakin keras pula bayangan-bayangan itu menghantui dirinya.

“Devi.. Devi.. iki aku, Mbakyumu (ini aku, kakakmu).”

Sontak wajah Devi memucat karena suara itu begitu jelas, ia hafal betul kalau suara yang didengarnya itu adalah memang suara kakaknya Dewi. Tetapi bagaimana mungkin? Pikirnya.

“Devi.. Devi.. .”

Devi hanya terduduk di kasurnya dengan tegang, keringat dingin mengucur deras di tengkuknya, ia menggigil, rasa takut benar-benar sudah melingkupi hatinya.

Tiba-tiba lampu di kamar mengerjap-ngerjap seperti lampu yang mau putus.

Devi lalu bergumam, “Pergi. Pergilah. Bukan. Kamu bukan Kakakku. Nggak mungkin Kakakku jadi Hantu. Pergi. Jangan ganggu aku.. .”

Baru saja Devi selesai menggumamkan kata-katanya itu lampu di kamarnya seketika padam.

Devi terpekik kaget bukan buatan, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar merasa sangat takut dan dia merasa ada sesosok bayangan yang berdiri di dalam ruangan kamarnya yang gelap gulita itu.

Suara yang memanggil namanya itu kembali terdengar, namun kali ini lebih dekat di telinganya.

“Devi.. Iki aku Mbakyumu (Ini aku Kakakmu), Dewi.. .!!!”

Refleks Devi menurunkan tangannya dan menoleh ke arah suara di telinga kirinya.

Dalam keadaan remang karena gelap ia masih bisa melihat bayangan itu dengan jelas. Wajah yang begitu dekat dengan wajahnya. Wajah yang ia kenal betul. Wajah itu adalah wajah Kakaknya, tapi wajah Itu tampak pucat dan kedua matanya.. bolong.

Devi langsung berteriak keras, “Mas Dewo.. .!!”

Seketika lampu di ruangan kamarnya kembali menyala. Sosok menakutkn itu lenyap begitu saja.

Sadewo yang mendengar teriakan adiknya menjadi kaget dan langsung berdiri berpamitan pada tamu teman-temannya, berjalan cepat menuju kamar adiknya.

Dibukanya pintu dan ia lihat adiknya sedang duduk diatas ranjangnya dengan keringat yang mengucur deras.

“Kamu kenapa to, Dik?.”

Terang lampu kamar yang baru menyala itu membuat Devi kembali kepada kesadarannya, dia tersenyum kepada kakaknya.

“Nggak. Nggak ada apa-apa, Mas. Aku cuma mimpi buruk.”

“Ah kamu ini. Mas pikir ada apa. Makanya kalau mau tidur itu jangan lupa berdoa. Kamu sudah Shalat 'Isya?.”

“Sudah, Mas. Kayaknya tadi aku yang lupa berdoa deh, soalnya capek, Mas. Dari tadi siang kan aku bantu-bantu di dapur.”

“Ya udah kalau tidak ada apa-apa, kamu tidur lagi. Mas tidak enak, di depan ada tamu-tamu Mas. Biasa, teman-teman kerja Mas datang untuk mengucapkan bela sungkawa.”

Sadewo menutup kembali pintu kamar adiknya dan bergegas kembali menemui kawan-kawannya.

Sementara Devi membaringkan tubuhnya, kemudian membaca doa sebelum tidur.

Malam itu ia tak lagi mendengar suara panggilan Kakaknya, Dewi.

Devi bisa tidur dengan pulas.

=========

BERSAMBUNG
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jokopenceng dan 11 lainnya memberi reputasi
Balasan post ekonurwonogiri
Part 3 nya sudah saya siapkan, selamat menikmati, Gan.
profile-picture
cos44rm memberi reputasi
Cuma saran aja sih gan, kalau bisa ga usah pakai bahasa Jawa nya gan, walaupun di translate ke bahasa Indonesia.. kadang pusing bacanya hehehe.. emoticon-Cendol Gan
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
Quote:


ok maka sih.....
Quote:


ok maka sih.....
Quote:


Ok deh next partnya dialog jawanya akan langsung di gantikan oleh translatenya, but hanya untuk di forum ini.

Demi agan nyaman di room ane hehehe...
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan pelauttangguh memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post mahadev4
Jadi terhura ane gan emoticon-Mewek
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
wihiiiii cerhor lagi
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
part nya jangan banyak banyak ya..... suka sih bacanya tapi kalau kepanjangan jadi males... kayak yang sinetron sebelah, ada yang sampai 1.800an episode lebih....emoticon-Toast emoticon-Toast

profile-picture
profile-picture
jengkolchrispy dan mahadev4 memberi reputasi
Diubah oleh Ndaru4u
ini TS nya apa sama dengan pemilik akun twitter @Dev4horor ya? soalnya sama persis cerita bahkan judulnya sama yg di twit sama akun disana.
Halaman 1 dari 9


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di