alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5139ed778027cf8043000009/orifict-the-daily-life-of-the-limit-breaker
[Orifict] The Daily Life of the Limit-Breaker
Reserved for Index

Prolog























Tulisan ini sebagai ajang peningkatan kualitas penulisan ane.
Peningkatan, penurunan, kestagnanan, tolong di komen dan di kritik ya emoticon-Kiss (S)

Prolog

Dalam ruangan persegi sempit. Sekitar 32 orang bertarung dengan pikirannya sendiri-sendiri. Ada seorang yang berdiri menatap aktivitas 32 orang di depannya. Dari tampangnya, dia seperti puas melihat orang-orang di depannya berpikir dengan keras. Dahi merengut dan pupil mata mereka mengecil, padahal tempat itu tidak terlalu terang. Singkatnya, 32 orang itu sedang menghadapi selembaran masalah-masalah dalam bentuk paduan angka yang ada di depannya. Sementara yang seorang lagi, mengawasi gerak-gerik mereka, adalah seorang guru yang mengawasi jalannya ujian.

Aku, salah satu dari 32 orang yang tersiksa di dalam ruangan itu juga merasa soal ini terlalu sulit. Soal ini semuanya hanya pilihan ganda dan total hanya 40 soal. Hanya saja, kombinasi soal-soal ini terlalu menyeramkan. Soal-soal yang ada di sini tidak terspesifik pada satu mata pelajaran saja. Hanya saja campuran! Yang paling membuatku berkerut dahinya saat pertama kali melihat suatu soal adalah soal nomor ke-21 ini. Gabungan antara Fisika dan Kimia.
Quote:
21. Larutan kaporit dielektrolisis selama 20 menit dengan menggunakan katoda dan anoda karbon. Sumber listrik berasal dari listrik AC standar PLN (220 V/100 W/ω=50 rad/s2) dengan hambatan kawat sebesar 30 Ohm. Dalam rangkaian tersebut dipasang kapasitor sebesar 50μF, dengan kasus seperti yang sudah dijelaskan di atas, berapa gram tembaga (Ar = 52) yang akan mengendap?

Tadi itu masih belum apa-apa, karena dalam soal itu hanya menggunakan 3 rumus dan semuanya hanya tinggal memasukannya. Tapi itu adalah soal yang tergolong mudah jika dibandingkan dengan soal nomor ke-35 ini, campuran antara Kimia hafalan dengan Geografi dan sedikit Fisika.
Quote:
35. Jika tanah miring sebesar 30° dari sumbu-x di suatu pegunungan yang tanahnya mengandung 30% kalkosit, 24% gips dan sisanya adalah unsur hara, maka berapa gaya normal yang bekerja pada suatu bola pejal beton dengan jari-jari 3,14 meter dan berat 500 kg jika disimpan di tempat itu?

Nah, kan? Sudah kusebutkan salah satu soal tersulit yang pernah kutemui. Aku tidak begitu tahu kalau kandungan tanah bisa sangat berpengaruh pada gaya normal suatu benda. Namun melihat ini hanya soal percobaan saja, aku tidak terlalu serius mengerjakannya. Aku tidak perlu mengeluarkan ‘itu’ untuk menyelesaikan soal ini, melelahkan. Lagipula, apakah soal UN akan seperti ini? Campuran dari beberapa mata pelajaran yang memang berhubungan atau mungkin sengaja dihubungkan? Tentu tidak kan? Mungkin guru ini hendak mengetahui siapa yang paling pintar dari kelas ini.

Bel sekolah berbunyi, pertanda bahwa saatnya ganti pelajaran. Entah kenapa, yang seharusnya pergantian pelajaran adalah hal yang biasa-biasa saja, namun bagi kami yang sudah tersiksa di ruangan ini selama 90 menit merasa bahwa bunyi bel tadi bagaikan malaikat yang memberi berita bahagia melalui bisikan yang hanya bisa didengar oleh kita.

“Yak, semuanya kumpulkan ulangannya!” Bapak Guru itu langsung keliling untuk mengambil soal dan lembar jawaban. Beberapa murid hanya bisa pasrah dan mengumpulkan seadanya. Kuyakin bahwa mereka hanya mengerjakan setidaknya 10 soal. Sementara ada sebagian kecil orang masih bergelut dengan angka-angka, mungkin dia merasa bahwa jawaban akan datang sebentar lagi.

Bapak Guru itu merapikan kertas soal dan jawaban lalu angkat kaki dari kelasku.
“Oh iya! Bapak lupa memberitahu kalian bahwa ini akan dimasukan ke nilai!” Bapak Guru itu berbicara di depan pintu kelasku dengan nada sedikit keras. Kalian sudah tahu kan, apa yang akan terjadi sedetik kemudian? Ya, seluruh murid, bahkan aku, bahkan ranking 1 di kelasku, bahkan juara umum yang berasal dari kelasku, berteriak kaget.

Bapak guru itu pun pergi tanpa beban dari kelasku. Sementara 34 orang yang ditinggalkan langsung berkeluh histeris. Ada yang ‘AAAHHH… aku cuman ngerjain 5 soal! Itu juga ga tahu bener apa salah!’. Ada juga yang ‘Setidaknya aku dapet 4…’. Ada yang mengumpat kesal pada guru itu. Dan berbagai macam rasa kesal lainnya. Setidaknya aku sendiri juga merasa kesal. Aku hanya mengerjakan 20 soal, dan yang yakin hanya 9 soal saja. Jadi maksimal aku hanya mendapatkan 5.

Hah! Peduli amat dengan yang begituan. Yang lewat sudahlah lewat, menyesal tidak akan membuat kita memutar waktu. Ini adalah dunia asli, di mana logika dan hukum alam berlaku untuk semua. Baik hitam atau putih, baik yang memiliki Tuhan ataupun tidak, baik yang normal ataupun tidak. Aku pun hendak menyegarkan pikiranku dengan pergi ke kantin. Melihat aku yang hendak keluar dari kelas, temanku menyapaku dan berjalan bareng ke kantin.

“Heh, soal ulangan tadi bangs*t juga yah?” Temanku memulai pembicaraan. Seperti biasa, dia kalau kesal akan mengeluarkan gaya sarkasme-nya yang khas. Tidak peduli yang dia sarkasme-kan, jika dia sudah melakukan itu, hatinya menjadi lega.
“He.eh…” Balasku pendek. “…Dilihat dari nomor satu juga, logika matematika dicampur dengan materi akutansi.”
“Hahaha!” Balas temanku ini dengan tawa sambil menunjuk mataku. “…Lihat! Matamu aja sampai biru, kelihatan banget kalau kamu mikir keras!”

Akupun hanya membalas itu dengan tawa yang cukup renyah dan keras.

Oke, STOP! Yang temanku katakan tadi adalah kata dengan makna denotasi. Tidak ada kata kiasan yang tersimpan dalam kata itu tadi. Ah… orang sarkasme mana yang mengerti indahnya kata konotasi. Yah, walaupun jujur, jika tidak terpaksa, aku akan selalu menggunakan kata dengan makna denotasi karena akan menyebabkan multitafsir. Terutama dari orang-orang bahasa yang ada saja alasannya untuk mentafsirkan suatu kata. Walaupun alasannya masuk akal dan aku suka itu, tapi tetap saja multitafsir itu adalah hal yang kubenci. ‘Mata biru’. Itulah kata denotasi yang aku maksud tadi. Mungkin ada yang mengira mata biru itu habis kalah bertarung, tapi yang temanku katakan itu adalah kenyataan. Mataku berwarna biru.

Oke, kujelaskan dari awal. Aku, Ferdinand Perdana, mengalami kelainan genetika sejak lahir. Entahlah, aku, ibuku, ayahku juga tidak tahu apa nama dari kelainan itu. Bahkan ilmuwan pun tidak mengetahuinya karena ini adalah kasus pertama yang pernah ada. Maka dari itu kelainan ini dinamakan Sindrom Ferdinand. Keren juga namaku jadi tercantum pada suatu sindrom yang langka. Sindrom Ferdinand adalah suatu kelainan pigmen mata yang bisa berubah-berubah warna. Penyebabnya adalah inversi kodogen pada sel saraf pada mata sehingga membuat saraf itu menjadi dwifungsi, yaitu saraf sensorik sekaligus menjadi saraf motorik.

Kronologinya sederhana, saat otak sedang beraktivitas normal, dan metabolisme tubuh juga berjalan normal, maka saraf mata akan merangsang iris untuk mengganti pigmen mata sebelumnya menjadi warna pigmen asli. Maksud dari pigmen mata asli adalah warna mata yang kudapatkan dari ayah dan ibuku. Dalam kasus ini, warna pigmen asliku adalah warna hitam kecoklatan. Beda lagi jika otak sedang beristirahat dan metabolisme tubuh juga sedang berjalan lambat, maka saraf mata merangsang iris untuk mengganti pigmen sebelumnya menjadi putih sehingga mataku menjadi putih saat tertidur atau ketika pingsan. Beda lagi ketika otakku bekerja keras dan metabolisme tubuh bekerja efektif. Saraf mata akan merangsang iris untuk menghilangkan warna dari pigmen sebelumnya sehingga akan membuat warna mataku menjadi biru.

Begitulah, ulangan tadi membuat otakku bekerja keras sehingga mungkin mataku tanpa kusadari berubah menjadi biru. Mungkin para ilmuwan bertanya-tanya apakah ada efek samping secara pertumbuhan baik mental maupun fisik seorang penderita Sindrom Ferdinand. Tapi sampai umurku menginjak 17 tahun, aku tidak merasakan adanya kelainan penglihatan, mental, pertumbuhan pada diriku.

Jika aku ditanya apakah ada efek samping, akan aku jawab ‘iya’. Sebelum aku menjelaskan apa efek sampingnya, akan kusampaikan suatu teori dasar bahwa di dalam tubuh manusia tersimpan energi potensial yang sangat besar. Dalam keadaan santai manusia tidak akan mengeluarkan energi potensial itu, namun jika terdesak manusia akan mengeluarkan energi potensial yang terpendam itu.

Sementara dalam kasusku, seorang penderita Sindrom Ferdinand memiliki efek samping. Yaitu seorang penderita bisa mengeluarkan seluruh energi potensial tanpa perlu dalam keadaan terdesak. Caranya tidak begitu detail bisa dijelaskan. Yang jelas kita cukup mengirimkan sugesti pada diri kita, sedetik kemudian kita akan merasa bisa berpikir cepat, metabolisme tubuh berjalan sangat cepat sehingga kita tidak mudah lelah. Mataku bukan berubah menjadi biru lagi, melainkan menjadi merah. Mungkin ini adalah keadaan di mana efektivitas otak dan tubuh berada di atas 90%. Orang-orang menyebutnya ‘The Power of kepepet (terjepit). Namun, aku menyebutnya sebagai limit-break.

Namun namanya efek samping pasti memiliki efek samping. Namanya manusia juga memiliki batas-batasnya tersendiri yang tak bisa dihancurkan. Tubuhku hanya bisa berada dalam ‘mode’ itu selama 5 jam. Dan 5 jam berikutnya setelah mode itu di non-aktifkan, maka pikiran dan tubuhku menjadi sangat lelah. Untuk menggerakan jari, memikirkan keadaan sekitar, berbicara pun juga tidak bisa. Tubuhku diharuskan istirahat, lama istirahat juga tergantung dari lamanya aku menggunakan mode itu. Jika aku menggunakan mode itu selama 2 menit, maka tubuhku harus istirahat 4 menit. Jika aku menggunakan mode itu selama 10 menit, maka aku harus istirahat sekitar 20 menit.

Sebagai manusia yang memiliki HAM yang sama, aku menuntut disamakan dan disetarakan dengan orang-orang normal lainnya, seperti yang tercantum di dalam The Universal Declaration of Human Right dan seperti yang tercantum di UUD negara ini. Tapi, aku menjadi tertawa sendiri. Orang yang tidak normal apakah normal menuntut kenormalan dan hidup normal seperti orang normal pada kehidupan normal umumnya? Dan di sinilah, kisah kehidupan, suka duka, tiris miris seorang penderita Sindrom Ferdinand yang meminta untuk menjalani hidup dengan normal, dikelilingi oleh orang normal yang harapannya adalah mereka menganggap dirinya juga normal.
Wogh, awal-awal ceritanya mirip sama fiction yang pernah ane bikin. But well that's another story...

Anyway, kalimatnya udah mengalir, cerita gampang dibaca, baguslah. Tapi tolong dispoiler dong, biar orang gak cape scroll entar kalo chapternya udah banyak emoticon-Big Grin

Sayang, dipertengahan prolog ini informasi yang langsung diberikan terlalu banyak, atau dibilang juga apa tuh namanya, infodump ya? emoticon-Hammer

Bikin simpel aje gan, nggak usah terlalu detil-detil amet. Atau emang kalo mau ngeinfodump ya cicil aje, nggak usah langsung satu bagian itu ngejelasin semuanya emoticon-Big Grin

Satu lagi, sarkasme itu IMO bukan cara ngomong yang kasar gitu. Tapi berhubung ane nggak terlalu ngerti, mungkin user yang lain bisa jelasin entar. emoticon-Malu

Anyway, sekian dulu deh dari ane. Keep writing gan emoticon-Angkat Beer
setuju ama di atas spoiler please biar enak ngescrollnya emoticon-Big Grin

soal cerita kayanya menarik nih,, limit breaknya keren tapi belum keliatan dipakenya. mungkin chapter depan
Limit break?
Kalo kekuatan bawah sadar kayak mejretin nyamuk di kaki dengan satu jari termasuk gak?
Eh itu the power of keasikan nonton tipi deng emoticon-Ngacir

Kasih spoiler gan emoticon-Add Friend (S)
Spoiler for prolog 2:



Ahah... maaf untuk yang prolog pertama. Pas banget itu semuanya 10000 karakter emoticon-Bingung (S)
jadi ga bisa dikasih spoiler

soal sarkasme. secara bahasa sarkasme tuh kan yang ngejek orang dengan bahasa kasar secara langsung.
too much infodump dengan plot minimalis

ya gw tau ini prolog dan kamu ingin menyampaikan situasi cerita, tapi kalau bisa diakalli sedikit demi sedikit info mengenai karakter utama dan keadaan sekolah itu bisa menambah unsur penasaran bagi pembaca emoticon-Big Grin