CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sisi Hati yang terbagi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e455a0dc9518b730e3de0f8/sisi-hati-yang-terbagi

Sisi Hati yang terbagi

Story By: Nurlia Safitri

Sisi Hati yang terbagi

Prolog

Des, apa kamu mencintaiku?"

Destia terdiam. Wanita itu bingung harus menjawab apa. Degup jantung yang semakin kencang, membuatnya  tak bisa untuk berkata-kata.

Satu menit berlalu, kedua insan itu masih saja diam membisu dan saling bertatapan. Adam terlihat gelisah menunggu jawaban dari sang pujaan hati.

"Des ... tolong jawab! Apa kamu juga mencintaiku?" Adam kembali mengulangi pertanyaannya.

"Adam. Maaf, aku tak bisa menjawabnya. Aku ini wanita yang telah bersuami, tak pantas jika aku mencintai dan menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Aku tidak ingin mengkhianati pernikahanku. Apalagi, suamiku adalah sahabat kamu. Di mana hati kamu, Dam?" jawab Destia sambil melepaskan tangan Adam dari wajahnya.

Adam tampak menghela napas panjang. Raut wajahnya terlihat sangat kecewa. Tak menyangka jika jawaban itulah yang keluar dari mulut Destia.

"Des, Mas Azmi itu, nggak pantes buat kamu. Dia itu bajingan! Asal kamu tau, sampai sekarang dia masih menjalin hubungan dengan selingkuhannya itu!" Adam berucap penuh dengan nada penekanan.

Destia hanya terdiam, sesaat sebelum buliran bening kembali mengalir di pipinya. Tak sepatah kata pun lagi yang keluar dari mulutnya. Hanya Isak tangis yang membuat hati Adam semakin teriris.

"Sayang ... beri aku kesempatan. Aku tidak main-main dengan perasaanku, ak---" Kalimat Adam terhenti karena Destia memotong ucapannya.

"Tolong kamu pulang sekarang! Aku mau sendiri!"

"Ta-tapi, Des."

"Aku bilang aku mau sendiri. Please ngertiin aku," ucap Destia masih dengan air mata yang berderai.

Adam mendekat, pria pemilik alis tebal dan bola mata indah itu kini terlihat berlutut di hadapan Destia. "Des, aku nggak bakal pulang sebelum kamu bilang, kamu juga mencintaiku," ucap Adam seraya menggenggam erat jemari Destia."

Destia terdiam, kali ini ia membiarkan Adam menggenggam jemari tangannya. Debar di dada kembali membuatnya lemah, wanita itu tak kuasa untuk bersuara.

"Des, kamu mencintaiku, 'kan?" tanya Adam dengan tatapan penuh cinta.

"Adam. Sekarang aku belum bisa menerima cintamu. Statusku masih istri Mas Azmi. Biar waktu yang menjawabnya. Bukankah kamu yang bilang biar semua mengalir seperti air? Aku tak mau jadi pengkhianat seperti Mas Azmi," jawab Destia sambil melepaskan genggaman tangan kekar itu.

Adam terlihat tersenyum, entah apa yang ia pikirkan. "Itu artinya kamu juga punya rasa yang sama denganku. Kalau itu alasan kamu, aku bakal nungguin kamu, Des. Aku janji." Adam kini berdiri dan kembali ke tempat duduknya.

Destia yang mendengar ucapan Adam, hanya bisa menghela napas. "Kamu pede banget, ya? Kapan aku bilang punya rasa yang sama denganmu?"

"Ya, iya lah. Karena hatimu aku pemiliknya, jadi aku tahu apa isinya." Adam menjawab sambil tersenyum manis dan membuat Destia tertawa geli. "Nah, ketawa gitu, 'kan makin cantik."

"Dasar, kamu, bisa aja jawabnya. Mending kamu pulang aja sekarang. Dari tadi bertamu, kok nggak pulang-pulang."

"Hmm ... tapi, kamu suka, kan?" ucap Adam dengan nada menggoda. Ya, udah, aku pamit, ya Sayang. Maaf telah membuat air matamu jatuh hari ini. Aku cuma, nggak mau kamu terus dibodohi suamimu." Destia tak menjawab, ia hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan sendu. Sementara Adam terlihat tersenyum lalu melangkah pergi.

.

Jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, Azmi belum juga pulang ke rumah. Membuat destia gelisah dan menaruh rasa curiga. Ia pun memutuskan menghubungi nomor suaminya.

Dengan rasa was-was, Destia menempelkan gawai di telinga kiri, seraya menunggu suara di seberang sana menyapa.

Nihil, tak ada jawaban dari Azmi. Wanita itu pun mencoba sekali lagi dan berharap kali ini Azmi mengangkat telepon darinya.

Berulang kali wanita itu menghubungi nomor yang sama. Namun, hasilnya tetap sama, tak ada jawaban. Membuat Destia benar-benar kecewa dan marah. Kini, wanita itu terlihat kembali berurai air mata.

Tiba-tiba ponsel Destia berbunyi, ternyata sebuah pesan masuk dari Azmi. Wanita itu pun dengan cepat meraih ponselnya lalu membaca isi pesan tersebut.

[Des. Maaf, Mas belum bisa pulang. Kerjaan masih numpuk dan harus siap malam ini juga]

Seusai membaca isi pesan itu, Destia seolah kehilangan keseimbangan diri. Hatinya sakit, seolah dicabik-cabik oleh ribuan pisau tajam. Dengan kesal dilemparkannya ponsel itu ke arah lantai, hingga benda itu hancur tak berbentuk.

"Kamu keterlaluan, Mas! Sudah cukup aku memberimu kesempatan! Hari sudah sangat malam dan kamu selalu beralasan lembur. Kamu jahat, Mas!" Destia mengoceh menumpahkan segala emosi yang membuncah dalam dada.

Akankah Destia akan berpaling dari Azmi dan menerima Adam sebagai cintanya? Atau selalu diam walau dikhianati?

Part_1


Pernikahan sejatinya bertujuan meraih kebahagiaan. Namun, apa yang terjadi jika pernikahan dijalani oleh insan yang belum siap berumah tangga.

Pernikahan dini, itulah jalan yang harus Destia jalani. Ia seorang gadis yang masih sangat muda. 18 tahun usianya kala itu dan masih duduk di bangku SMA. Pergaulan bebas membuatnya jatuh pada lubang yang salah dan membuat penyesalan tak berujung.

Jalan yang salah telah membuatnya jatuh terpuruk. Kubangan dosa yang tak semestinya ia jalani, telah memaksanya menjalani kisah hidup yang tak pernah ia impikan. Menikah memang impiannya, tapi tidak pada usia yang masih sangat dini.

Penyesalan memang selalu datang di kemudian hari. Andai malam itu, Destia tak mengiyakan ajakan Azmi--lelaki yang kini menjadi suaminya--berdua-duaan di tempat sepi, mungkin mereka tak akan kepergok warga dan dipaksa untuk menikah. Padahal, saat kepergok Destia dan Azmi tidak sedang berbuat apa-apa. Namun, warga yang tersulut emosi, tetap memaksa mereka menikah dengan alasan takut desa akan terkena sial, jika ke dua sejoli itu sampai berbuat zina.

Buliran bening tak henti membasahi pipi gadis cantik itu, saat ia resmi menjadi seorang istri. Kedua orang tuanya pun demikian. Terlebih sang ibu, guratan kecewa jelas terlihat di wajah tuanya. Hal itu tentu saja membuat hati Destia semakin hancur dan teramat merasa bersalah.

Destia tak begitu menyesal karena telah
menikah dengan Azmi, tapi teramat menyesal jika mengingat mimpi dan harapannya hancur sebelum mampu ia wujudkan. Kini hanya menjadi sebatas angan-angan yang tak mungkin akan ia genggam.

Kini, ia hanya berani bermimpi kecil, berharap Azmi--suaminya--bisa berperan menjadi imam yang baik untuknya.

Wanita itu kini genap berusia 20 tahun dan telah memiliki seorang putri. Azmi lah yang berkeinginan kuat segera memiliki anak, berbeda dengan Destia yang belum siap menjadi seorang ibu. Namun, demi membahagiakan suami, Destia akhirnya setuju dan tak menunda lebih lama lagi untuk memiliki momongan.

***

Hari bulan tahun terus bergulir. Tak terasa pernikahan yang di awali dengan keterpaksaan itu, kini telah memasuki usia enam tahun. Sang putri pun tumbuh sehat dan telah berusia empat tahun.

Berliku-liku jalan dalam berumah tangga telah Destia dan Azmi lalui. Mereka merajut bahtera cinta seindah mungkin. Namun, bukan rumah tangga namanya, jika tak ada rintangan dan ujian.

Usia Azmi yang hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Destia, nyatanya belum cukup dewasa untuk menjadi imam keluarga.

Azmi memang tipikal suami yang baik dan bertanggung jawab. Namun, sikap genit selalu melekat pada diri laki-laki itu. Usia pernikahan yang lumayan lama, tak dapat bertahan jika Destia tidak sabar dalam menghadapi sikap Azmi.

Tiga kali Azmi ketahuan berselingkuh, tapi Destia selalu memaafkan. Entah apa yang membuat wanita itu begitu sabar. Mungkin karena, Elsa--putri cantik sang malaikat kecilnya.

Secara ekonomi hidup Destia telah cukup. Namun, batinnya terlalu rapuh menghadapi sang suami. Destia tipikal wanita yang tak banyak bicara. Hal itu lah yang kadang membuat hubungannya dengan Azmi terasa dingin.

Terkadang rasa bosan selalu bergelayut di hati. Ingin rasanya ia berlari meninggalkan beban hidup yang sebenarnya tak mampu lagi ia pikul. Tapi, bagaimana dengan Elsa, bukankah putri kecil itu butuh dirinya. Jika ia memaksa berpisah dengan Azmi, bukankah Elsa masih butuh ke dua orang tuanya. Destia hanya bisa bersabar menunggu keajaiban. Berdoa dan berharap agar Azmi berubah menjadi imam yang ia harapkan.

Sore yang cerah, Azmi baru saja pulang dari kantor. Namun, ia tak sendiri, ada seorang pria tampan yang ikut bersamanya. Adam nama pria itu, teman satu kantor dan juga sahabat baik Azmi. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Namun, baru kali ini Adam bertamu ke rumah Azmi. Selain sibuk, pria itu adalah tipe orang yang tak suka kelayapan

"Assalamualaikum, Des." Azmi mengucap salam sambil mengetuk pintu rumahnya.

"Waalaikumsalam, Mas. Sebentar ...." Terdengar Destia menjawab salam itu dan tak lama kemudian pintu rumah pun terbuka.

Mata bulat Destia sejenak menatap lurus ke arah Adam. Tatapan Destia pun mengusik hati Adam yang memang sedari tadi juga menatap lurus ke arah wanita cantik itu. Azmi yang melihat pemandangan itu pun langsung berdehem dan sontak membuat Destia kaget.

"Kamu, kok liat orang ampe bengong gitu, Des? Kamu udah kenal, ya sama temen Mas ini?" tanya Azmi dengan rasa penasaran.

"Em ... anu ... nggak, kok Mas. Aku, nggak kenal sama dia," jawab Destia dengan gugup. Adam yang melihat tingkah Destia terlihat tersenyum menahan tawa.

"Kamu kenapa, Dam? Kok senyum-senyum. Kamu udah kenal, ya sama istriku?" Kini Azmi bertanya pada Adam.

"Kenal bagaimana? Mas aja, nggak mau ngenalin ke aku," jawab Adam sambil melirik ke arah Destia.

"Hehehe ... kamu ini," ujar Azmi sambil menepuk bahu Adam. "Des, kenalin ini Adam. Teman Mas satu kantor dan sekaligus sahabat." Azmi memperkenalkan sahabatnya itu pada sang istri.

"Destia." Destia mengulurkan tangannya.

"Adam." Kini Adam menyambut tangan itu. Namun, di luar dugaan Destia, Adam mencubit telapak tangan Destia saat mereka bersalaman. Destia terkejut, tapi ia mencoba bersikap biasa-biasa saja.

"Ayo duduk, Dam. Ini lah rumah kami. Oh, ya kamu mau minum apa?" tanya Azmi pada Adam.

"Hmm ... apa aja, deh," jawab Adam sambil duduk di sofa.

"Ya, udah bentar aku bikin minum dulu, ya." Destia berlalu menuju dapur.

Saat Adam dan Azmi asyik mengobrol, tiba-tiba Elsa datang memeluk Azmi dari belakang.

"Ayah ...." Elsa berteriak sambil memeluk sang ayah.

"Eh, anak ayah. Tadi ayah pulang, kok nggak nyambut di pintu. Terus ini lagi main apa?" Azmi terlihat memangku gadis kecilnya itu.

"Tadi Elsa lagi main di kamar, jadi nggak dengar Ayah pulang. Maaf, ya Yah. Oh, iya ini siapa? Kok, Elsa nggak pernah liat?" tanya gadis kecil itu.

"Ini namanya, Om Adam. Temennya ayah kerja. Ayo Salim!" perintah Azmi pada Elsa.

Gadis kecil itu pun menyalami Adam dengan sopan. Azmi adalah seorang ayah yang memang sangat dekat dengan putrinya. Itu lah yang menjadi pertimbangan Destia untuk tidak mengakhiri rumah tangganya dengan Azmi.

"Ya udah, Elsa main ke kamar lagi, ya Yah." Azmi tampak mengangguk dan Elsa pun berlalu masuk ke kamarnya.

Destia keluar dengan dua buah gelas berisi sirup segar. Hari memang sudah sore, tapi cuaca masih sangat panas. Minuman dingin lah yang memang cocok disuguhkan.

"Terima kasih, Kak," ucap Adam. Destia tampak mengangguk.

"Istriku ini seumuran, lho sama kamu, Dam. Kenapa kamu panggil kakak?" ucap Azmi sambil tersenyum.

"Ya, aku tau, ka--" ucapan Adam terhenti karena Destia memotong ucapannya.

"Tau dari mana?" Destia bertanya dengan penuh rasa penasaran.

"Tau dari Mas Azmi lah. Kan, Mas Azmi banyak cerita tentang kamu, Kak," jawab Adam sambil terlihat serba salah.

Destia yang mendengar jawaban Adam tampak kaget. Tak menyangka jika suaminya bersikap demikian. Bukankah tak pantas menceritakan seorang istri pada orang lain, terlebih orang lain itu adalah seorang pria.

"Hehehe ... santai, Kak. Aku dan Mas Azmi itu bersahabat. Kami biasa cerita-cerita masalah pribadi. Nggak usah kaget," jelas Adam mencairkan suasana.

"Iya, Des. Kamu, nggak usah heran gitu. Lagian, nggak semua tentang kamu, Mas ceritain ke Adam. Mending sekarang kamu siapin makan malam. Mas mau mandi dulu," ucap Azmi sambil menyesap sirup yang masih tersisa di gelasnya. "Dam, kamu pulangnya ntar aja, ya. Kita makan-makan dulu," pinta Azmi pada Adam. Sementara Adam tampak mengangguk pelan.

Azmi pun berlalu dan menuju ke kamar mandi. Kini di ruangan itu hanya ada Adam dan Destia. Terlihat Adam berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Destia. Kini jarak antara Destia dan Adam sangat dekat. Destia terlihat serba salah sekaligus bingung dengan tingkah pria yang kini berada tepat di hadapannya.

Bersambung ....

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Quote:


Tamat di novel, Gan😁
profile picture
cyber crime
kaskus maniac


wow semoga sukses sis kalo gitu novelnya
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di