alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Perjalanan Sang Penguasa Alam JIN & KAHYANGAN
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d3a494ef4d69573da0cbe6e/perjalanan-sang-penguasa-alam-jin-amp-kahyangan

Perjalanan Sang Penguasa Alam JIN & KAHYANGAN

Tampilkan isi Thread
Halaman 9 dari 10
CHAPTER 28




Aku benar-benar merasa aneh dengan suara Mbak Asrifah, tapi aku benar-benar bukan mimpi,


“Siapa itu?” tanyaku dari tempat aku duduk dzikir.


Tiba-tiba terdengar suara cring-krincing… seperti suara besi yang diseret, dan berdiri di hadapanku Mbak Asrifah, yang wajah dan rambutnya dipenuhi tanah, wajahnya menghitam, dan pakaian mori yang dipakainya compang-camping seperti bekas cambukan yang sampai membekas di mori, tangan dan kakinya dirantai dengan rantai hitam.


“Setan dari mana kau…!? ” bentakku.


“Aku kakakmu Yan.. Asrifah, aku ndak diterima di sana, tolong aku Yaaan… aduh panaaas…” katanya memelas dan kepanasan karena aku dalam keadaan dzikir.


“Benar kau mbak Asrifah? Jangan-jangan kau setan yang menyaru-nyaru belaka?” kataku dengan pertanyaan yang bernada tinggi.


“Benar Yaan aku Asrifah, maafkan kesalahanku padamu, aku tak mengindahkan nasehatmu.., sekarang aku tak diterima, lihat aku disiksa seperti ini, dirantai, apa kau tak kasihan padaku..?”


Terus terang aku sendiri takut setengah mati, melihat perwujudan yang amat menyeramkan, rambutnya yang tinggal sedikit dan acak-acakan, pipinya yang seperti habis ditampar, dan bau tanah kuburan berbaur dengan bau bangkai sangat kuat tercium, tapi aku berusaha bertahan, sebagai orang yang yakin pada Alloh, la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fissama’, tak ada yang berbahaya jika kita berpegang teguh pada Alloh, apapun yang di bumi dan di langit.


Seperti ada yang membisikiku, agar memutuskan rantai dengan akhir surrah Taubah.


“Kesinikan rantainya.” kataku.


Lalu dia menyeret rantai dan menyodorkan rantai kepadaku, lalu ku pegang rantai dengan membaca akhir surrah Taubah, Alhamdulillah rantai lepas, lalu rantai di kakinya, dan sama seperti ku lakukan pada rantai di tangannya, dan rantai pun lepas.


“Lalu bagaimana nasibku Yaan…!, Aku tak diterima, bagaimana ini?” katanya memelas.


“Sudah tak usah banyak ribut, besok akan ku coba menolong, sekarang pergilah.”


“Tak bolehkah aku tinggal di rumahmu… aku di sana dipukuli..”


“Tak boleh, nanti kau menakutkan keluargaku, sudah sana pergi, besok aku tolong.” kataku.


Lalu dia pergi tersaruk-saruk, tubuhnya membungkuk-bungkuk menahan sakit. Aku meneteskan air mata karena kasihan dengan nasibnya, manusia tetap hanya mampu berusaha, hidayah itu bulat-bulat milik Alloh.


Paginya Jum’at aku kirimi mbak Asrifah, ku bacakan sholawat nabi 10 ribu kali, ku mintakan pada Alloh agar ruhnya diterima dan dibebaskan dari siksaan. Aku yakin dengan apa yang ku kirimkan pasti sampai.


Malam aku sengaja menunggu, aku dzikir duduk di kursi ruang tamu, kira-kira jam 1 dini hari, terdengar suara pintu rumah diketuk dan suara salam.


“Waalaikum salam, masuk saja tidak dikunci.” kataku.


Ternyata mbak Asrifah, di belakangnya ku lihat empat anak kecil mengiring, sekarang pakaiannya pakaian seorang penganten. Dan wajahnya yang kemaren menghitam seperti bekas tempelengan, sekarang warna hitam itu sudah tak ada, tapi ada bekas kayak kulit mengelupas bekas terbakar, rambutnya tersisir rapi, dan bau wewangian semerbak.


“Bagaimana mbak?” tanyaku.


“Alhamdulillah Yan, terima kasih atas segala pertolongannya, sekarang aku akan berangkat ke alam sana, aku mau pamitan, aku benar-benar berterima kasih, jika tau kau orang seperti itu, sungguh dulu aku melayanimu pun mau…”


“Sudah mbak…, semoga engkau mendapat tempat yang enak di sana.”


“Terima kasih Yan…, aku mohon diri, wassalamualaikum.” kata mbak Asrifah melangkah pergi diiringi ke empat anak kecil.


Setelah berbagai kejadian, aku merasa betapa masih banyak yang di luar pengetahuanku, dan rasa ingin menuntut ilmu makin menggebu. Ku putuskan untuk ke pesantren lagi dan menuntut ilmu lagi.


Di pesantren, santri-santri lama sudah tak ada lagi, memang selalu begitu di tempat kyai, tahun ini dan tahun besok santri sudah lain, apalagi ini aku sudah lama tak kembali ke pesantren, kembali kemaren juga sebentar hanya menanyakan soal cara mengobati orang yang terkena santet.


Cara yang ku lakukan dalam mencari ilmu tidak sama dengan cara orang lain mencari ilmu, dan cara yang ku lakukan itu secara lahirnya tidak seperti orang yang mencari ilmu, tapi hasil yang dicapai, mencari ilmu sebulan maka akan sama saja dengan mencari ilmunya orang umum dalam masa sepuluh tahun. Makanya aku selalu di manapun tak pernah mencari ilmu atau mondok dalam jangka waktu lama, hanya butuh masa beberapa bulan, dan ilmu kyainya sudah ku serap semua.


Cara yang ku lakukan pertama adalah, aku berusaha memberi makan pada semua santri, dengan uangku, dan tenagaku sendiri, disamping aku ikut menyerap ilmu, maka tanpa disadari santri yang lain, aku meminjam tenaga mereka untuk diriku mendapat pahala.


Semua santri yang puasa, aku beri makan, maka disamping puasaku sendiri, maka aku akan mendapat pahala semua santri, bahkan aku memasaknya dengan tanganku sendiri, dengan penuh kerelaan, sebab aku mau mengambil pahala mereka kenapa harus malu dan risih, aku sama sekali tak malu, bahkan jika masakanku matang aku bangunkan satu persatu, untuk makan sahur, dan di saat aku buka, ku tatakan dengan rapi makanan, tempat cuci tangan dan minumnya, kan mereka tak tau kalau sebenarnya aku mengambil bagian pahala mereka, siapa yang memberi makan orang puasa, dzikir, beribadah, maka akan mendapatkan pahala sama seperti pahala yang didapat yang puasa, tanpa mengurangi pahala yang diberi makan.


Bahkan aku rela mencari pekerjaan di luar, kalau nanti mendapatkan uang maka santri lain ku masakkan lagi, begitu berulang-ulang. Sehingga aku seperti orang satu tapi memakai akal orang banyak dalam menyerap ilmu.


Yang ku lakukan kedua, aku selalu berusaha mempunyai apapun peninggalan di majlis dzikir, atau apapun yang dapat dipakai orang banyak, sehingga jika aku pergi sekalipun, maka aku tetap mendapat bagian jika apa yang ku tinggalkan di pakai dzikir. Sehingga sekalipun aku sudah tak di pesantren itu, maka aku tetap seperti orang yang selalu hadir.


Jadi waktuku tak aku sibukkan hanya melakukan dzikir, atau menjalankan amaliyah, tapi lebih banyak berusaha melakukan sesuatu yang mempunyai nilai ganda.


Yang ketiga aku akan berusaha menyenangkan Kyaiku, apapun yang membuat kyaiku senang dan ridho maka akan ku lakukan, karena ilmu itu dari guruku, jika guruku senang, dan ridho, maka berbagai macam ilmu akan dengan senang hati diturunkan guruku kepadaku, dan guruku tak merasa rugi atau enggan menurunkan ilmu itu, sekaligus jika ilmu itu diturunkan maka aku dengan semangat menjalankannya, agar guruku melihat aku ini orang yang seperti orang yang diberi pakaian lalu hanya dibuang sebagai kain usang. Tapi aku akan menunjukkan penghargaanku pada ilmu itu, agar guruku merasa ridho pada ilmu yang diberikan.


Tak masalah bagiku waktuku habis ku pakai menyenangkan guru, sebab di pesantren itu waktunya menimba, bukan waktunya mandi, waktunya menimba ilmu bukan waktunya memakai ilmu. Di situlah penyerapan-penyerapan lebih yang ku peroleh. Karena cara aku mencari ilmu itu beda dengan orang lain.


Memang kadang diriku akan direndahkan dan diremehkan oleh santri lain, santri lain merasa diriku ini pelayannya, melayani mereka, dan dipandang sekilas seperti orang yang tak punya derajad, jika seandainya semua tau apa yang ku peroleh, pasti berebutan ingin menempati posisiku, tapi kebanyakan orang kan tidak berpikiran sejauh itu, yah tak apa-apalah direndahkan, bagiku yang penting nantinya, aku memetik ilmu paling banyak lebih banyak seratus kali lipat dari santri lain.


Apalagi tawadhu’ dan keta’atan pada guru, aku sangat mengutamakan itu, bahkan lebih utama dari santri manapun, sampai aku sendiri karena tawadhu’nya pada guru, maka tak pernah meminta apapun dari guru, dan bahkan tak pernah sms atau telpon, takut guruku pas lagi tak mau diganggu maka aku malah mengganggu, jadi selamanya tak pernah menghubungi guruku, sampai tak pernah menyampaikan maksud hatiku pada guru, kecuali yang berhubungan dengan kepentingan guruku atau jama’ah, tak pernah sekalipun berhubungan dengan keperluanku, yang ada di kamusku adalah sami’na wa ato’na, mendengar dan menta’ati.


Sedang santri lain minta ini minta itu, maka aku malah tak pernah sekalipun minta apa-apa, aku tak mau membebani guru, bagiku guru telah memberikan ilmu, maka aku tak pantas meminta yang lain.


Dan tak sekalipun aku mengeluhkan amalan, jika aku di beri amalan 1 maka akan ku amalkan 5 x, sebagai bukti keseriusanku, dan tak sekalipun aku meminta amalan baru, sampai kyaiku memberi amalan padaku.


Maka aku tak pernah butuh waktu lama di manapun aku mesantren, sebab cara mesantren yang aku jalani tidak sama dengan cara yang dipakai orang lain.


Di Banten aku diminta kyai selama 9 bulan, dan selama sembilan bulan itu ku habiskan waktu untuk memperbagus majlis, dan melakukan amaliyah yang telah ku sebutkan, dan selama sembilan bulan berlalu dengan cepat.



Bersambung ke Chapter 29
CHAPTER 29




Penyakit iri dengki itu seperti panu, yang bisa tumbuh di kulit siapa saja, iri dengki itu bisa tumbuh di hati siapa saja, jika panu tumbuh jamurnya karena kita tidak suka menjaga kebersihan kulit, maka iri dengki itu tumbuhnya karena kita tak suka menjaga kebersihan hati.


Dan sebab tumbuhnya penyakit itu karena MA AGNA ‘ANHU MALUHU WAMA KASAB, karena tak terima dengan hartanya dan keberadaan pekerjaannya, jika kita tidak mensyukuri kenikmatan, sehingga mempunyai harta bagaimanapun kurang, punya ilmu merasa kurang, punya kedudukan merasa kurang, punya apapun merasa kurang, maka ujung-ujungnya akan timbul iri dengki dengan apa yang dimiliki orang lain, tak perduli orang lain itu memiliki lebih sedikit dari apa yang kita miliki.


Dan jika iri dengki itu telah tumbuh maka persifatan kita akan seperti KHAMALATAL KHATOB, orang yang membawa kayu bakar, yang membakar sana membakar sini.


“Mas Ian, yang sabar ya…, nanti di rumah akan ada yang iri dengki, disabarkan, nanti dia akan meminta pertolongan pada mas Ian…,” kata kyai memperingatkanku ketika aku pamitan pulang.


“InsaAlloh kyai, do’akan saya bisa kuat dan selalu diberi kesabaran oleh Alloh. ” jawabku.


Memang benar, sampai di rumah namaku telah dijelek-jelekkan oleh kyai lain, bahkan tak tanggung-tanggung menjelek-jelekkannya lewat speaker masjid.


Pertama mendengar, diriku merasa kaget dan tak pada tempatnya, tapi setelah ingat pesan Kyai, maka aku tak perduli, ku biarkan saja apa yang dikatakan.


Mulut, dan anggota apapun di tubuh itu adalah penerjemah isi hati, jika hatinya ikhlas, maka apapun yang dilakukan oleh tubuh akan menuju pada kebaikan, dan jika hati itu buruk, maka hati apa yang dilakukan oleh tubuh, termasuk apa yang diucapkan oleh lisan itu akan buruk, hati itu sumber utama, jika sumbernya kotor maka semua aliran akan kotor.


Aku berpikir, orang yang menjelek-jelekkan tanpa adanya suatu kenyataannya, orang tak akan ada yang percaya, malah orang akan bersimpati denganku, dan membenci yang menjelek-jelekkan, juga akan meroketkanku semakin tinggi dalam kedudukan, sebab dia telah berusaha mengambil dosa-dosaku, sebenarnya secara teori aku harus membayarnya, karena telah mengambil dosaku.


Dan apa yang menimpaku ini belum seujung kuku, dari apa yang menimpa Nabi Muhammad. Maka pemikiran itu malah membuatku bukan cuma bukan hanya rasa hati lapang, tapi malah kayak ada rasa ketagihan. Apalagi diambil dosa dengan gratis, artinya walau orang itu sudah bicara kesana kesini, kalau lapar dia makan nasinya sendiri, aku tak perlu memberi makan.


Padahal dia sudah payah-payah menjelekkanku, maka kadang aku do’akan supaya rizqinya lancar, karena dia sudah aktif membersihkan dosaku, walau kelihatan secara lahirnya menghujad dan menjelekkanku.


Mungkin sudah berusaha menjelek-jelekkanku dalam setiap pengajiannya, kyai Askan, nama kyai tersebut akhirnya ke rumahku.


“Ada apa kang?” tanyaku ketika telah bertatap muka dengannya.


“Aku mau bicara,” katanya dengan nada tinggi.


“Silahkan, apa yang mau dibicarakan?” kataku ku buat serendah mungkin nadanya.


“Kau kan orang pendatang, aku orang sini, maka tak selayaknya kau merebut popularitasku di desa ini.” jelasnya masih dengan nada orang marah.


“Lhoh popularitas mana milik kang Askan yang ku rebut, tolong dijelaskan.”


“Itu orang-orang banyak yang ikut pengajian jika kau yang ngajar dan banyak yang ikut ma’mum jika kau mengimami.”


“Lhoh bukannya itu kemauan mereka sendiri? La saya juga ndak memerintah, ndak ada satupun orang yang ku suruh, semuanya atas kemauan mereka sendiri.” kataku masih dengan nada pelan.


“Ndak bisa.”


“Ndak bisa bagaimana kang?”


“Ndak bisa, ya ndak boleh kau merebut jama’ahku..”


“Oo maksud sampean mungkin saya tidak usah ikut pegang masjid?”


“Iya..”


“Ya ndak masalah, malah saya senang, jika sampean mau mengurusi semua, berarti melepaskan kalung rantai amanah yang diserahkan padaku, saya malah senang sekali dan berterima kasih pada sampean kang.” jelasku dengan senang.


“Jadi sekarang bagaimana?” tanya dia.


“Ya mulai nanti silahkan sampean yang mengimami, juga pengajian saya sampean yang mengganti, sungguh saya berterima kasih kang.” kataku.


“Baik..” katanya dengan semangat.


Maka sejak saat itu, aku tak ikut pegang menjadi pengurus, imam, pengajar di masjid, setiap pengurus lain menanyakan kenapa? Maka ku jawab, karena aku sering tak di rumah, sehingga tak mau nantinya tak bisa bertanggung jawab.


Padahal biasanya Kyai Askan itu juga jarang-jarang dia datang ke masjid dalam sholat lima waktu, dan kalau misal aku datang ke masjid, maka ustad atau kyai yang lain tak mau maju jika ada diriku datang, jadi serba runyam juga posisiku, biasanya sampai aku mau maju, baru sholat berjama’ah bisa dimulai, dan kalau aku maju, dan kyai Askan tau maka dia akan marah-marah.


Apalagi makmum yang telah tua-tua, kebanyakan akan sampai nangis-nangis jika aku yang menjadi imam.


Memang itu sudah sejak aku memimpin di pesantren tahfidzul qur’an dulu, jika aku yang menjadi imam, maka akan banyak yang menangis, bahkan ada yang sampai menjerit pingsan, hal itu bukan tanpa sebab, karena memang jika seseorang itu membaca qur’an dengan pendalaman kepahaman dan penerapan yang pas akan menimbulkan efek yang menggetarkan hati.


Awalnya kisah ini ku alami, aku ini sebelum menjadi orang yang berusaha mendekatkan diri pada Alloh, diriku seorang yang dapat dikatakan nakal, seorang yang senang berkelahi, hobby tawuran, rambut panjang sepantat, dan setiap hari memakai anting, dimana ada konser rock pasti datang. Pada waktu itu ada konser power metal di daerah Bojonegoro, aku dengan teman-temanku pun datang, entah memang sudah diatur oleh Alloh, kok konser dibatalkan, aku kecewa. Dan untuk mengobati kekecewaanku, aku jalan-jalan sama temen-temenku keliling kota Bojonegoro, kok pas kebetulan ada pengajian akbar, dan pas pembaca saritilawahnya dari Mesir, ya aku nongkrong aja di situ. Ee pas yang baca Qur’annya tampil ke panggung, tak ada sama sekali maksud mendengar bacaan qur’an orang itu, tapi kan pakai soundsystem tetep saja aku mendengar, dan ketika orang itu membaca qur’an, dadaku rasanya diaduk, bergetar, bergolak, aku yang asalnya berdiri dan bersandar pada tembok, sampai sampai karena getaran yang ku rasakan aku tak kuasa berdiri, mataku berlinang, ingin rasanya menjerit, melolong, minta ampun atas semua dosaku, diriku rasanya hina, tak berharga, munafik, fasik, kafir, pendosa, aku seperti merasa ditelanjangi di mahsar, sampai tanpa sadar aku mengguguk, menangis, meminta ampun atas semua dosaku, aku merasa sangat berdosa lebih berdosa dari orang yang paling berdosa, air mataku terkuras, dan itu bukan diriku saja, teman-temanku, semua orang yang hadir pun menangis, padahal itu hanya bacaan al-qur’an, yang aku juga temanku, juga orang yang hadir pasti tak semua tau arti satu persatu isinya, tapi kenapa semua menangis?


Pulang dari kejadian itu, aku telah berubah seratus delapan puluh derajad.


Tentang bacaan Qur’an itu selalu terngiang di pikiranku, siang malam selalu membayangi langkahku, dan otomatis kemudian menjadi perenunganku, sampai aku seperti terseret pada pemahaman tentang kenapa orang, bahkan Nabi sendiri jika dibacakan Al-qur’an sampai menangis.


Orang-orang utama kenapa bila membaca Alqur-an itu mereka menangis, seperti Abu bakar, ketika membaca qur’an itu akan terdengar suara air direbus di hatinya, bagaimana jika Umar bin Khotob itu membaca Qur’an akan tercium bau daging terbakar, karena terbakarnya hati takut pada Alloh.


Mata adalah mata airnya hati, jika mata menangis karena hati yang takut pada Alloh, seperti tanah yang keluar airnya, karena menunjukkan tanah yang subur, mata yang keluar airnya karena hati yang takut pada Alloh menunjukkan menyalanya iman dalam hati, iman menyala sehingga menerangi yang sebelumnya tak terlihat menjadi terlihat, yang samar menjadi jelas, juga arti alqur’an yang lembut-lembut itu tertangkap dari pembaca kepada pendengar, seperti orang yang menggoyang meja, orang yang duduk dengan orang yang menggoyang meja, maka akan ikut goyang mejanya, sebab meja itu hanya satu, orang yang hatinya tergetar karena membaca Al-qur’an, maka akan menggetarkan orang yang ada dalam satu jama’ah sholat. Getaran itu terkirim oleh kabel yang tak terlihat. Hanya orang yang telah tergetar hatinya, bisa menggetarkan orang lain.


Lalu bagaimana mungkin hati bisa tergetar? Hati tergetar atau wajilat qulubuhum, karena jika membaca Alqur’an itu diri memahami dan meyakini seyakin-yakinnya kalau Al-qur’an itu adalah surat dari Alloh, untuk diri kita, sebagai orang Islam, maka walaupun isinya tentang cerita orang munafik, orang kafir, orang yang tersesat, orang yang dzolim, maka maksudnya Alloh ya kita itu, bukan orang lain, karena Al-qur’an diturunkan untuk kita bukan orang agama lain.


Jadi penyadaran diri, kita dalam lahirnya dalam KTP nya orang Islam, tapi masih selalu bertingkah laku sebagai orang ingkar seperti kafir, pembohong seperti orang munafik, selalu tak menempatkan sesuatu pada tempatnya seperti orang dzolim, ngeyel seperti Bani Israil, melakukan perbuatan ngawur seperti orang tersesat, jadi penyadaran diri akan kemelekatan sifat buruk dalam diri, lalu Alloh menegur kita. Dzat yang bisa membalik dunia, dan menghancurkan kita menjadi bangkai yang tak berkubur, itu memperingatkan kita, pasti orang beriman yang menyala imannya akan tergetar, dan merasa diri itu benar-benar terlekati sifat buruk.


Sebab jika diri makin merasa suci, maka diri itu makin kotor, sebab walau telah penuh menempul di tubuh aneka macam kotoran, tetap saja merasa suci.


Dan orang yang paling merasa lurus, maka akan paling tersesat, karena sudah tersesat tetap saja merasa lurus, sebab perasaan lurus itu telah mendarah daging.


Juga orang yang paling bodoh itu adalah orang yang paling merasa pintar, karena jelas telah salah, tapi akan selalu yang dilakukan itu adalah kepintaran dia.


Orang yang paling munafik, adalah orang yang merasa sifat nifak tidak melekat pada dirinya, jadi berulang kali berdusta, maka akan dianggap tidak dusta, sebab menganggap dustanya itu suatu kebenaran.


Jadi seseorang yang ingin menjadi baik, maka tak segan-segan mengkoreksi diri, jika ada kekotoran maka tak segan mengakui lalu membersihkannya, agar ketenangan hati yang bersih didapat.


Dan ketika hati telah bersih, saat mana Qur’an itu dibaca, maka cahaya hidayahnya Qur’an itu akan menyinari hati, memperjelas yang samar, mengurai arti dan makna yang lembut-lembut, seperti orang yang terseret merasa takut ketika membaca novel horor, dan tertawa ketika membaca novel humor, dan seakan menjadi pendekar ketika membaca cerita silat.


Ketika dalam qur’an itu ada cerita tentang neraka, maka diri itu merasa telah jatuh kedalam lautan apinya, ketika Alqur’an itu menceritakan surga, maka diri merasa rindu akan kedamaian dan keindahan di dalamnya.


Orang yang telah tergetar hatinya oleh qur’an, maka ketika mengimami jam’ah sholat, akan menggedor juga hatinya makmum, seperti orang yang menggoyang meja teman duduk dalam satu mejanya.


Semakin mendekati pusat getaran yaitu Alloh, maka getaran itu akan makin terasa, jadi getaran antara satu orang dengan orang lain itu beda, sebab bedanya kedekatan antara satu orang dengan orang lain dengan Alloh, pusat segala getaran keimanan.


Sama seperti ketika membaca cersil, lalu seseorang tergeret oleh alur cerita, artinya orang yang membaca itu akan merasa sedih ketika nasib malang menimpa tokoh yang disukainya, begitu juga jika seseorang telah terseret getaran qur’an akan merasa iba dengan keadaannya karena telah tersesat, jika membaca Waladzoliin, dirinya itulah yang tersesat, dan ingin kembali memperoleh hidayah. Rasa takut itu akan muncul membayangkan andai saja diri tidak mendapat hidayah dari Alloh, lalu diri menjadi orang yang merugi selamanya, dan masuk neraka tidak ada masa habisnya.


Bersambung ke Chapter 30
CHAPTER 30a



Ketika aku pulang dua minggu sekali ke rumah dari tempat usahaku, Kyai Askan datang ke rumah.


“Ada apa Kang?” tanyaku.


“Lha sampean ini bagaimana, masak waktu aku menjadi imam sampean tidak ikut menjadi makmumku.” katanya dengan nada marah.


“Lho saya kan seringnya ada di tempat kerja saya to kang, jadi jarang pulang, bagaimana saya bisa ikut?” jelasku.


“Ya harus tetap ikut, ya disempat-sempatkan ikut.” katanya memaksa.


“Lha tempatnya kan jauh to kang, kalau saya wira wiri, apa ndak ngabiskan bensin banyak?” kataku, aku mulai ndak sabar juga, kalau ada orang yang diberi hati malah minta jantung.


“Lalu apa kata orang, itu si kyai Askan jadi imam, kyai Ian tak pernah mau menjadi makmum, pasti karena bacaan kyai Askan tidak fasih.” katanya.


“Lha sampean ini kok ya aneh, apa ada orang bilang begitu?”


“Ya belum ada, tapi nanti kan juga ada.”


Aku geleng-geleng kepala,


“Sesuatu yang belum ada kok sampean ada-ada, itu namanya su’udzon, sampean ini kyai…” kataku.


“Juga apa urusannya bacaan fatekhah sampean sama kehadiran saya, lha kalau saya itu lidah sampean, misal saya ndak hadir otomatis sampean jadi cedal, hu-ha-hu-hu kayak orang bisu, lha saya kan orang lain, mau saya hadir atau tidak kan ndak pengaruh sama sholat jama’ah, la sampean ini ikhlas apa endak to sebenarnya? Kok selalu ngajak ribut dan meributkan saya, saya kan juga punya keluarga, perlu mencari ma’isah, perlu makan, nyari uang, sampean itu udah tak kasih minta semua, lha kok masih kurang, sebenarnya maunya apa?”


Dia berdiri, dan pergi begitu saja tanpa pamit, aku hanya menatapnya dengan heran, kok ada orang kayak gitu, mau mengatakan tidak ada juga, kenyataannya sudah dihadapi, mau bagaimana.


Penyakit iri dengki memang super sulit mengobatinya, jika seseorang tak mau menyadari bahwa penyakit itu memang benar-benar ada dan membakar hati pikiran orang yang memiliki penyakit itu.


Sebenarnya dalam pemikiran dangkalku, mengobati penyakit hati itu tak bedanya seperti mengobati penyakit lahir. Seperti kita kalau pergi ke dokter, kan diperiksa dulu, tidak asal disuruh nungging, trus jarum suntik ditancapkan, tapi didiagnosa, dokter akan bertanya apa keluhannya, lalu mengelompokkan dalam suatu penyakit. Keluhan itu disesuaikan dengan kebiasaan penyakit, jika pasien bilang giginya senut-senut, tak akan dibilang itu penyakit ambaien atau susah buang air besar, dibilang dokter itu sakit gigi, kalau dokternya seperti itu pasti dokternya yang sakit.


Sebuah diagnosa akan menentukan penyakit, lalu akan ditemukan penyakitnya dan obat yang tepat, sakit gigi, obatnya pasti obat untuk meredakan sakit gigi, jangan mau dikasih salep ambeien, dioleskan di lubang gigi.


Begitu juga sakit yang mengenai hati, maka didiagnosa, apa penyakitnya, yang jelas manusia yang mengidap penyakit harus menyadari kalau dirinya sakit, kalau tak mau menyadari ya makin susah untuk diobati.


Dan obat itu selalu bertentangan dengan penyakit, jika punya rasa sombong, ya bersikaplah tawadhu’, kalau perlu bayar orang suruh meludahi kita di tengah pasar, biar sombongnya hilang.


Sebab namanya juga penyakit, dirasa atau tidak dirasa itu akan mengganggu. Khususnya mengganggu dalam pendekatan diri pada Alloh, dan amal ibadahnya tak akan diterima, dengan kata lain, seumur-umur orang yang berpenyakit hati itu ibadah, maka tak akan mengecap manisnya ibadah, dan nikmatnya terijabahnya do’a.


Ternyata Kyai Askan masih tetap menjelek-jelekkanku di setiap pengajiannya, aku dibilang tak bertanggung jawab diberi amanat di masjid, nifak, dan lain-lain, tapi ku biarkan saja. Itung-itung mengurangi dosaku, aku tetap santai menjalankan aktifitasku tiap hari.


Sampai pada suatu hari, aku mendengar anak dari Kyai Askan yang sudah bisa jalan tiba-tiba lumpuh, dan kakinya mengecil, tiap malam selalu menangis sampai pagi, sudah dibawa ke dokter, tapi tak ada perubahan sama sekali. Anaknya tetap dalam keadaan lumpuh, dan tiap mulai magrib menangis sampai suaranya habis, karena sebelum ada adzan subuh, anaknya itu tak mau berhenti menangis.


Sehingga Kyai Askan dan istrinya dibuat pusing, karena tiap malam harus begadang menjaga anaknya yang menangis terus, tiap hari dicarikan obat kesana kemari tapi semua tak sanggup mengobati, sampai dibawa ke Kyai Sepuh. Di katakan oleh kyai Sepuh itu kalau anaknya itu digandoli dua jin lumpuh, dan bahkan kyai Sepuh itu tak sanggup mengambil, dan yang sanggup mengambil hanya seorang pemuda berkaca mata, rumahnya depannya ada pohon mangganya, dekat balai desa Bligo, itu ku dengar setelah istrinya bercerita padaku.


Sudah sebulan anak Kyai Askan seperti itu, mau dibawa ke rumahku, jelas gengsi, mencoba dibawa ke paranormal, atau kyai, dukun, semua tetap hasilnya nihil.


Sampai mungkin sudah tak ada jalan keluar, maka istrinya jam 2 malam disuruh ke rumahku membawa anaknya yang lumpuh dan digendong, dalam keadaan menangis, mengetuk rumahku.


“Siapa?…” tanyaku yang waktu itu masih dzikir.


“Saya dik.. istrinya Askan..” jawab istrinya Askan.


Aku keluar membuka pintu, dan kulihat anaknya digendong dalam keadaan menangis.


“Mari silahkan masuk.” kataku mempersilahkan.


Anehnya ketika melangkah ke pintuku, maka anaknya langsung diam, tak menangis. Memang di luar ku lihat dua jin lumpuh, tengah bersembunyi dari tatapan mataku.


“Ada apa mbak?” tanyaku.


“Ini Anakku, lumpuh dan rewel terus.” jelasnya.


“Lha tidak rewel gitu kok mbak, anteng saja,” kataku menunjuk anaknya yang tidur dalam gendongannya.


“Iya ya…, tapi tadi rewel.” katanya. “Kalau gitu saya mohon diri.” tambahnya.


“Ya silahkan…” ku antar sampai pintu, dan pintu ku tutup, tapi baru berjalan sampai 50 meteran, anaknya nangis lagi.


Aku juga mendengar, dan ku tunggu ternyata dia datang lagi, ku bukakan pintu.


“Siapa mas…?” tanya Husna yang bangun.


“Ini istrinya pak Askan” jawabku.


Dan lagi-lagi ketika anaknya dibawa masuk ke rumahku, maka tangisnya pun terhenti.


“Ini bagaimana …, kok kalau masuk rumah anakku jadi ndak nangis?” katanya.


Tak ku katakan kalau ada dua jin lumpuh yang mengikuti dan dua jin itu tak berani masuk rumahku, takutnya malah membuat istri pak Askan takut.


“Wah aku ndak tau mbak, wong saya ini orang bodo.” jawabku.


“Sudah tidur di sini saja mbak, wong anaknya juga sudah anteng gitu tidurnya, sana bawa tidur di kamarku.” kata Husna. Dan Husna pindah ke luar tidur di lantai.


Paginya Kyai Askan datang dan mengajak pulang istrinya. Hanya Husna yang menemui. Siangnya istrinya datang lagi, juga ditemui Husna. Dia cerita soal aku yang dikatakan orang yang bisa mengobati anaknya, lalu Husna memanggilku.


“Ada apa mbak?” tanyaku,


“Ini soal lumpuhnya anakku, kata orang pinter sampean yang bisa mengobati.” katanya.


“Wah orang pinternya itu mengada-ada mbak, wong saya ndak bisa apa-apa.” jelasku.


“Ya mbok sampean kasih air atau apa, biar lumpuh anakku ini sembuh.”


“Dik tolong ambilkan aqua,” kataku pada Husna.


Lalu air ku bacakan basmalah, dan ku tiupkan ke air,


“Ini nanti airnya dipakai memandikan si kecil ya mbak.., semoga Alloh memberikan kesembuhan.” kataku.


Lalu istrinya Kyai Askan mohon diri, aku hanya berharap semoga semua menjadikan kebaikan ke depan, walau aku tak banyak berharap.


Dan memang besoknya anaknya Kyai Askan benar-benar sembuh.


Tapi kemudian malah dalam pengajiannya aku disiarkan di speaker bahwa aku telah mengerjai anaknya. Yah biarlah, aku juga tak berharap pekerjaanku dinilai dengan penghargaan, kok kemudian malah membuatku karena menolong orang lain aku makin dijelek-jelekkan, mungkin akan membuatku makin meningkat derajadku di sisi Alloh,


Dan saat cerita ini ku tulis, sekarang malah bukan kyai Askan saja yang memusuhiku, tapi juga istrinya, sampai berusaha dengan daya upaya, dan membakar ke sana-sini untuk menjatuhkan namaku.


Tapi segala kebaikan pasti harus ada yang dengki agar kebaikan itu seperti terdorong.


Dan keikhlasan manusia akan teruji, serta terukur, keikhlasan tertinggi menurut dangkalnya pikiranku adalah ketika kita telah tak merasa bahwa perbuatan baik apapun yang kita lakukan adalah perbuatan kita, tapi itu adalah perbuatan Alloh, kita hanya lapangan tempat Alloh melakukan perbuatan baik, bagaimana tidak, kan semua anggota tubuh yang kita punya adalah milik Alloh, bahkan sebuah niat baik melakukan perbuatan baik yang menempatkan di hati adalah Alloh, dan pemikiran untuk melakukan perbuatan dengan segala bentuk kejlimetan proses teorinya yang memberi ilham agar terealisasi dengan sempurna adalah Alloh, bahkan kemudian suatu perbuatan yang asalnya dalam bentuk teori dan rencana kemudian menjadi gerak dan kejadian yang mengijinkan dan memberi tempat, waktu, peluang, semua yang memberi adalah Alloh, maka tak ada satupun hak kita mengakui kalau satupun adalah perbuatan kita, walau bila dilihat seperti perbuatan kita.


Coba saja kalau satu saja itu merupakan perbuatan kita, contoh saja waktu, jika kita merasa itu waktu kita, maka coba hentikan waktu, berarti kita harus menghentikan semua, menghentikan waktu yang berjalan, seluruh manusia di seluruh dunia yang bergerak, seluruh jantung mahluk, dari semut, sampai hiu, manusia dan jin yang berdetak, angin yang berhembus, dari denyut nadi sampai pergerakan matahari.


Cuma mau menghentikan waktu saja begitu beragam dan majmuknya yang harus kita hentikan bersama penghentian waktu.


Dan jangankan menghentikan seluruh dunia, bahkan menghentikan diri sendiri, aliran darah, degup jantung, kita tidak bisa menghentikan, apalagi harus menghentikan seekor hiu yang berenang, bukankah kita akan mati sendiri. Berarti kalau kita munafik, maka waktu itu bukan milik kita, juga kesempatan, sampai detilnya semua kejadian, hanya Dzat Yang Maha Sempurna dan tanpa cela juga kekuranganlah yang mampu mengatur.


Jadi hanya Alloh yang berbuat baik, kita hanya menjadi tempat Alloh melakukan perbuatan baik, karena hanya menjadi tempat perbuatan baiknya Alloh, maka tak pantas kita mengharap suatu balasan dari perbuatan baik yang tak pernah kita lakukan, jika kita masih mengaku-aku, maka perbuatan baik kita itu tak ada nilai dan timbangannya.


Fadholallohu ba’dokum, Alloh memberi keutamaan, jadi bila keutamaan itu kita sadari dan kita yakini adalah PEMBERIAN, bukan dari daya upaya, atau kelebihan kita menjalankan laku tertentu, maka kita baru dikatakan bersyukur, kalau menggunakan keutamaan atau kebisaan yang kita miliki untuk dipakai sesuai dengan guna kelebihan yang kita miliki, maka kita baru dikatakan orang yang bersukur, dan jika kita bersyukur, maka Alloh akan menambahi fadhilah atau kelebihan lain yang Alloh anugerahkan.


Bukan sebagai suatu alasan tertentu, tapi sebagai kewajaran kejadian, sebab sudah sunatulloh, peraturan dari Alloh, bahwa kejadian atau sesuatu yang terjadi itu akan menjalar pada kejadian yang lain, makanya dikatakan Lain sakartum la azidannakum, apabila kamu bersyukur maka kami akan menambahi untuk kalian, sebab sesuatu yang terjadi itu akan menimbulkan kejadian baru, dan kejadian baru itu membutuhkan kelengkapan waktu, ruang, materi pendukung terjadinya.


Contoh sepele saja, kita mau makan, jika kita pergi ke warung nasi, jika tempatnya jauh kita butuh jalan, dan jalan harus ada yang membangun, jika jalan raya, maka harus ada kerikil, aspal, kontraktor, krikil itu harus ada yang mengangkut, ada kejadian sampai terjadinya berbentuk kerikil, dll.


Jika sampai di warung, maka warung itu berdiri, harus ada yang mendirikan, dibangun dari kayu, maka harus ada kayunya, penebang kayunya, yang mengangkut, tukang kayu, dan kelengkapannya.


Contoh kita ambil jika ada tukang kayu, maka tukang kayunya harus dalam keadaan sehat, hidup, kuat, bisa menukang, punya peralatan lengkap dari ukur sampai gergaji, lalu kita ambil lagi tentang gergaji, harus ada besi, ada pembuat gergaji, ada kikir.


Itu belum sampai ke nasinya, baru dalam perjalanan ke warung nasi, begitu banyak dan sambung menyambung suatu kejadian, dengan kejadian lain.


Jadi kata simpelnya, jika kita melakukan sesuatu sesuai dengan cara dan teori yang benar, maka Alloh akan memudahkan terjadinya pendukung lain dari yang menyangkut yang berhubungan dengan perbuatan yang kita lakukan dengan benar.


Semua dijadikan mudah, mau kemana, jalannya mulus, prosesnya lancar, tak ada macet, antara kejadian yang satu dengan yang lain sepenuhnya saling mendukung. Sebab semua seratus persen dalam kendali Alloh, jika kita menjalankan sesuatu tidak sesuai aturan Alloh, katakanlah menyalahi aturan yang benar, maka laingkafartum inna adzabi lasadid, jika kamu ingkar maka adzab Alloh itu teramat pedih, itu juga suatu kejadian wajar, jika kesalahan satu akan menimbulkan kesalahan yang lain.


Contoh, pembangunan jalan raya, uang pembangunannya dikorupsi, jalan dibangun dengan mengurangi ini itu, jalan berkuwalitas rendah, maka jalan menjadi cepat rusak, berlubang, lalu banyak terjadi kecelakaan, macet, kerusakan mobil, pemborosan bahan bakar, unjuk rasa, anarki, pengrusakan, dan terus menyambung pada kejadian-demi kejadian.


——————————————


Magrib baru saja berlalu, selesai dzikir waktu sholat, seperti biasa aku duduk santai menikmati secangkir kopi dan rokok.


Kang Din menghampiriku dengan seorang pemuda, tapi ku lihat pemuda itu wajahnya berwarna hitam.


“Ada apa kang?” tanyaku.


“Ini Yan, ada orang mau minta tolong..” kata kang Din tetangga rumahku.


“Minta tolong kenapa kang?”


“Ini teman kerja di kantorku, dia itu sakit kok aneh,”


“Anehnya di mana kang?” tanyaku heran.


“Anehnya, ini kalau istrinya melihat dia, itu melihatnya seperti kera, jadi istrinya takut, lalu kalau mau berangkat kerja kaki dan tangannya tak bisa digerakkan, jadi kayak lengket di ranjang.” jelas Kang Din.


“Wah aneh juga kalau begitu.”


“Apa menurutmu sakitnya diguna-guna? atau dikerjai orang?” tanya Kang Din.


“Wah kalau itu aku ndak tau kang,”


“Soalnya kemaren sudah diobati pakai telur, jadi telur dijalankan digelundungkan di atas tubuhnya, dan setelah itu telurnya dipecah, dan ternyata di dalam telur ada jarumnya.” jelas Kang Din.


“Terus kemaren juga dibawa ke orang paranormal, katanya dari tubuhnya dikeluarkan ada paku, jarum, gumpalan tanah.” jelas kang Din lagi.


“Wah aneh juga…, tapi aku gak bisa ngobati kang..”


“Tolonglah diapakan gitu, kasihan dia, wong ini juga sudah dibawa kemana-mana tapi hasilnya nihil.”


“Lha apa waktu dikeluarkan pakunya ndak sembuh?” tanyaku.


“Yah begitulah tidak sembuh.”


Sebenarnya seminggu silam, aku telah diberi tau tentang orang ini yang dibawa kang Din, bagaimana cara mengobatinya maka aku tinggal mengobatinya, dengan petunjuk yang ku peroleh.


“Bagaimana Ian…?” tanya Kang Din.


Sementara lelaki yang dibawa sama sekali tidak berbicara, hanya mendengarkan pembicaraan kami.


Jadi aku hanya perlu mengucapkan petunjuk yang ku terima lewat mimpi.


“Masnya ini namanya siapa?” tanyaku kepada orangnya yang sakit itu.


“Saya bernama Muhajir mas..” jawabnya singkat.


“Binnya siapa?”


“bin Abdul Munir mas..” jawabnya lagi.


“Yakin tidak sampean jika aku yang mengobati?” tanyaku lagi.


“Yakin mas.”


“Mau menjalankan syarat yang akan ku berikan?”


“Siap mas, asal saya bisa sembuh, syaratnya apa mas?” tanyanya.


“Syaratnya sampean harus mengambil kelapa hijau, tapi jangan sampai kelapanya jatuh ke tanah, soal caranya itu terserah sampean bagaimana agar kelapanya tak jatuh ke tanah, entah memakai tambang atau bagaimana, sanggup?”


“Sanggup mas.”


“Nah besok kalau sudah mendapat kelapa itu sampean bawa kemari kelapanya.” jelasku.


“Ya mas.. kalau begitu saya mohon diri.”


“Ya silahkan.”


Memang kadang secara logika, kadang pengobatan itu tak logis, tapi sesuatu terjadi itu tak menunggu akal kita menerima baru terjadi, tapi segala sesuatu itu terjadi karena Alloh mengijini untuk terjadi, bahkan syetan saja tau itu, makanya ketika dulu iblis mau menyesatkan anak turun Adam, dia meminta ijin dulu pada Alloh, agar diberi ijin menggoda anak turun Adam, sebab jika Alloh tak mengijinkan maka bagaimanapun remehnya, sesuatu tak akan terjadi.



Bersambung ke Chapter 30b
CHAPTER 30b


Besoknya Muhajir datang lagi, dengan membawa kelapa hijau tiga butir, lalu ketiga kelapa hijau ku do’akan, dan yang satu ku suruh meminum, yang satu ku suruh memakai mandi, yang satu ku suruh memakai untuk mengepel rumah.


Dua hari kemudian Muhajir datang disertai istrinya, dan mengucapkan terima kasih karena istrinya tidak lagi melihat pada yang lelaki seperti melihat kera, juga penyakitnya Muhajir telah tuntas tak dirasakan lagi.


Tapi malamnya di atas genteng rumahku terdengar ledakan seperti petasan, ada beberapa kali ledakan, terjadi kira-kira jam 1 dini hari.


Aku segera melepas sukma, mencari arah cahaya api dari mana datangnya, sukmaku melesat ke arah Cirebon, dan berhenti di sebuah rumah.


Aku pun melesat ke dalam rumah, bau menyan serasa menyengat, dan di dalam rumah seorang lelaki berpakaian batik bertubuh pendek, tengah melakukan ritual tenung, ku buat lingkaran membentengi ruang gerak kekuatan lelaki itu, sebentuk seperti lingkaran balon tembus pandang, lelaki itu mencoba berulang-ulang mengirim santetnya, tapi selalu mental mengenai dirinya sendiri, dia heran, dan mengulangi, tapi tetap saja jarum, paku, silet yang dikirimkan tetap membalik mengenai dirinya sendiri.


“Ada apa ini? Sial siapa yang memberi pertolongan kepada sasaranku..” dengus lelaki itu, aku hanya menggeleng melihat tingkah lakunya.


Lalu aku pulang ke rumah, kembali ke dalam ragaku.


Aku sedang melakukan kerja sama dengan Mahmud, dia yang menanggung segala penerimaan pembayaran usaha kami, dan aku yang menjalankan usaha, di awal-awalnya pembayaran yang dia berikan lancar, tapi heran ini sudah sebulan berlalu tapi pembayaran tak kunjung dia berikan, padahal secara perhitungan bagian yang ku terima 6 juta kadang ada dalam satu minggu, sebab pendapatan memang tak pasti karena tergantung jalannya usaha yang ku jalankan.


Aku mendatangi Mahmud, dia orang kaya yang banyak usahanya, ada toko elektronik, ada penjualan sepeda motor, juga usaha yang ku tak tau apa lagi.


“Mas Mahmud, ini soal pembayaran bagian saya bagaimana kok tidak ada ku trima pembayaran.” kataku ketika berhadapan dengan mas Mahmud.


“Itu Ian untuk bulan ini tak ada uang, semua uangnya habis untuk pembelian bahan.” jawab dia.


“Lhoh bahan apa lagi, kan aku yang mengerjakan, jadi melihat beli tidaknya bahan.” kataku heran dengan pernyataannya.


“Ya nyatanya uangnya sudah habis.” katanya ngotot.


“Ya kalau begitu caranya, ya saya yang rugi, mana ada bekerja tidak dibayar, mana ada orang mau.” kataku, karena sudah merasa di akali.


“Ya kenyataannya seperti itu, mau bagaimana lagi.”


“Sudah kalau seperti itu, kita hentikan saja kerja sama kita, sebab ini jelas merugikan saya, kalau sistimnya tidak saling menguntungkan.” jelasku.


“Ya kalau sampean ingin membatalkan ya sampean tidak mendapat bagian apa-apa.” katanya.


“Tak papa jika saya tidak dapat apapun, daripada nantinya kita lanjutkan saya akan makin dirugikan.” kataku agak jengkel juga menghadapi orang seperti itu.


Aku pun pulang, tapi dua malam kemudian aku merasa aneh, rumahku seperti suntuk, sumpek, toko ku juga sama sekali tak ada yang membeli, bahkan satu orang pun tak ada yang membeli, seperti toko tak terlihat oleh orang yang lewat saja, dan serasa udara dalam rumah serasa suntuk.


Ada apa sebenarnya, ku coba meraga sukma, melihat apa sebenarnya yang terjadi, ternyata di gaib rumahku seperti dikurung aura gelap sekali.


Kelebihan meraga sukma itu bisa melacak ke masa yang lewat, kita bisa menelusuri ke dunia masa yang lewat, tinggal meraga sukma ke waktu yang kita tuju, tapi dengan cara awal berangkat, jadi tak bisa dilakukan setelah meraga sukma, tapi bisanya dilakukan dengan tujuan waktu yang dituju sebelum meraga sukma.


Aku segera kembali ke tubuh, dan mulai lagi melacak siapa yang berbuat membuat rumahku dilingkupi aura hitam, segera sukmaku melesat ke arah waktu dan tempat, dimana Mahmud dan istrinya sedang duduk di hadapan seorang dukun, dan sedang mengerjai rumahku.


Aku jadi tau, kenapa Mahmud tak mau membayar pembagian uang kerja sama kami.


Aku kembali lagi ke tubuhku. Dan besoknya meminta seseorang untuk memperingatkan kepada Mahmud, supaya menarik kekuatan jahat yang dipakai untuk mengganggu rumahku.


Ee malah Mahmud marah-marah, dan malah menuduhku memakan uangnya, mencuri uangnya.


Aku berusaha sabar, tapi anehnya, setelah mahmud menjelek-jelekkanku, ada seorang gila yang meminta rokok. Sebenarnya di dekat Mahmud ada banyak orang, tapi yang dimintai kok kebetulan Mahmud, dan Mahmud tak memberi lalu orang gila itu marah dan memukul Mahmud, dipukul sampai giginya lepas tiga.


Aku tak perduli pada cerita orang yang ku suruh, soal orang gila yang memukul Mahmud itu, aku meminta pada orang yang ku suruh memperingatkan Mahmud lagi, agar menarik kekuatan jahat yang dikirimkan ke rumahku itu, sampai peringatan yang ku berikan telah tiga kali.


Lalu aku berinisiatif mengembalikan kekuatan jahat kepada pengirimnya.


Malam itu telah ku rencanakan untuk mengembalikan semua kekuatan jahat pada Mahmud. Maka aku duduk bersila menghimpun semua dzikir, meminta pada sang pemberi kekuatan yaitu Alloh, lalu setelah semuanya kekuatan terkumpul, bumi ku gedor, serasa pusaran kekuatan dasyat membuyarkan kekuatan yang melingkupi rumahku, dan terdengar jerit “Ampuuun..! ampuuuun..” dari puluhan jin yang dikirim ke rumahku.


Segera ku lepas sukma, karena memburu, bicara dan menangkap jin dengan badan wadak tanpa mediator amatlah sulit, sementara aku sendirian, aku melompat, dan menghadang berbagai jin yang mencoba lari dari gebahanku, yang paling tinggi berbentuk raksasa dan berbadan hitam ku hentikan, dia langsung menekuk tubuh sujud minta ampun, padahal tanganku sudah ku isi cahaya dari ya latif, sehinga berwarna putih keperakan, jika ada yang melawan, aku sudah siap meleburnya lumer menjadi cairan.


Tapi ternyata tak ada yang melawan, semua langsung bersimpuh takluk, aku melayang menunggu, semua terdiam. Ada tiga belas jin, beberapa berbentuk cebol kecil, dengan telinga lancip dan dagu kecil serta tubuh katai, yang paling aku perhatikan adalah yang bertubuh tinggi, mungkin tingginya ada lima meteran, tubuhnya hitam legam, dan tak memakai pakaian sama sekali, tapi tubuhnya dipenuhi bulu.


“Kalian tau kesalahan kalian?” tanyaku ku buat kereng.


“Ampuuun… ampun, kami hanya diperintah…!” kata jin yang bertubuh besar, dan berbibir tebal.


“Aku tau kau dan teman-temanmu hanya diperintah, maka dari itu, aku ingin kalian kembali pada yang memerintah,” kataku.


“Kami tak berani…” kata jin yang bertubuh besar.


“Hm… kalau begitu, kalian tau apa yang ada di tanganku ini? Jika ku hantamkan kalian, apa yang terjadi,” kataku mengancam.


“Ampuuun…!” kata semua serentak, dan bersujud-sujud.


“Bagaimana, apa kalian mau kembali ke pengirim kalian, atau kalian memilih lebur musnah …” kataku sambil menambah konsentrasi lafadz ya latif ke tangan kananku, sehingga warna terang keperakan makin menyala.


“Baik, kami akan kembali kepada pengirim kami, lalu apa yang harus kami lakukan?” kata jin yang bertubuh besar.


“Kalian lakukan saja apa yang pernah diperintahkan oleh pengirim kalian kepada kalian, untuk melakukan sesuatu hal buruk padaku, nah kalian sanggup kan?”


“Ya kami sanggup.” jawab mereka serempak.


“Nah sekarang kalian boleh pergi.” kataku sambil menyingkir.


Dan semua jin kemudian beranjak pergi, akupun kembali pada raga yang ku tinggalkan.


——————————————


Yang terjadi kemudian sungguh membuatku amat tercengang.


Pertama yang terjadi rumah Mahmud jadi angker, istri dan anaknya takut tinggal di rumah, sehingga minta pulang ke rumah istrinya. Bahkan orang yang lewat di sekitar rumah Mahmud pun jadi takut lewat samping rumah itu. Jika malam kadang terdengar suara seram, kadang terdengar tembok digedor-gedor, berbagai paranormal sudah berulang kali dan berganti-ganti didatangkan untuk membersihkan rumah itu, tapi ujung-ujungnya, kalau tidak pingsan ya lari kabur dari rumah itu.


Entah bagaimana prosesnya, Toko Elektronik nya Mahmud kesandung masalah, dan semua Elektronik disita oleh pihak yang juga telah bekerja sama dengan Mahmud.


Juga Dealer motor, juga kesandung masalah, sampai kemudian ketahuan kalau Mahmud banyak menanggung hutang pada Bank.


Dan rumah yang pernah ditinggalinya ditawarkan mau dijual seratus lima puluh juta, tapi orang hanya mau menawar seratus juta, beberapa hari kemudian akhirnya Mahmud mau menjual rumahnya seharga seratus juta, tapi yang menawar hanya berani limapuluh juta, Mahmud tak mau, tapi beberapa hari kemudian dia mau menjual rumahnya limapuluh juta, tapi yang menawar hanya mau duapuluh lima juta, begitu terus terjadi, sampai akhirnya rumah terjual tiga juta, dan itupun setelah ada perjanjian Mahmud akan merobohkan rumahnya sendiri.


Dan bukan cuma sampai di situ, istri mahmud minta cerai, dan anak-anaknya tak ada yang mau tinggal dengannya, Mahmud tinggal di bekas kandang sapi tetangganya.


Semua itu terjadi dalam masa cuma tiga bulan, aku membayangkan bagaimana jika seandainya hal itu menimpa diriku dan keluargaku.


Kadang aku sendiri merasa kasihan dengan keadaan Mahmud, tapi seandainya tidak begitu pasti yang dia lakukan pada orang lain tak akan berhenti, dan sampai pada diriku pasti orang sebelum diriku yang dikerjai Mahmud sudah banyak korbannya, dan pas kebetulan dia ketemu batunya.


Segala perjalanan apapun yang terjadi, maka itu tak ada artinya jika kita tidak bisa mengambil sebagai pelajaran, menyerap kandungan hikmah apa yang tersimpan di dalamnya. Sehingga segala keputusan dan apa yang seharusnya dilakukan ketika menghadapi hal yang sama.


Begitu juga bagi diriku sendiri, apapun yang dihadapi, kepanikan sekali-kali bukan jalan keluar, ketenangan mengambil sikap, akan menghasilkan keputusan yang terbaik.


Jika kita menyandarkan diri pada Dzat yang paling kuat yaitu Alloh, maka kita akan menjadi kuat.


Dan jika kita menyandarkan pada selain Alloh, siapapun selain Alloh itu pasti mati, terhalang, tak ada manusia atau apapun ciptaan Alloh itu sakti, dan punya kelebihan kecuali Alloh yang memberi kelebihan, seperti burung yang terbang, atau ikan yang tahan di dalam air.



Bersambung ke Chapter 31
Quote:


Garam kasar toh emoticon-Ngakak kayak beras sih dar jauhemoticon-Ngakak
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Lihat 1 balasan
Ditunggu chapter 16 mas bro.pengalaman sampean keren
Itu pengalaman hidup Guru saya. Monggo ikuti kelanjutan kisahnya di Link diatas
di sini gak di panjut kah?
ane udah masuk sih di group pesbuk nya walo sekarang jarang buka pesbuk emoticon-Peace

yah sayang sekali kalo yg disini gak di update kan saya sering buka nya dimare emoticon-Big Grin
Balasan post gelandangan143
gak lanjut disini lg mas ?
Quote:


Efeknya apa gan klo ada gangguan..? Klo gda gangguan efeknya apa jg...
Lanjut ke sebelah nih.. nunggu di confirm
ni blog sang kyai sdh tamat malah.. tanpa join grup segala
Balasan post gelandangan143
Lanjutannya Gan?
Balasan post gelandangan143
Mana lanjutannya yah
Banyak nilai positif yang bisa didapat dari cerita ini, terkadang membuat saya sampai merenung...

Kalau bisa diteruskan disini gus, di facebook ga enak karena ga berurut postingannya
matur suwun
emoticon-I Love Kaskus
Balasan post gelandangan143
Minat Gan
Lah mana nih gan lanjutannya
Gak punya fesbuk gan
Halaman 9 dari 10


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di