KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Fanstuff /
([AMH City]) Story Thread
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000004648740/amh-city-story-thread

([AMH City]) Story Thread

Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 14
Jam sudah menunjukan pukul setengah enam, alphonse sedang berselancar di internet lewat komputer di kamarnya.
“bosen juga nih, seharian Cuma browsing aja” keluh al dalam hatinya. Kemudian al melirik ke handphonenya,

“udah jam segini si robert kok belum nelpon juga sih. Pikir Alphonse, kemarin siang dia mendapat telpon dari sahabat lamanya, Robert Rock.
al mulai mengenal robert ketika dia masih di kelas 1 smp, ketika itu Alphonse sedang dipalak oleh berandalan. Robert yang masih duduk di kelas 2 sma yang kebetulan lewat merasa kesal dan mengahajar para berandalan itu sampai babak belur.
Sejak kejadian itu mereka berdua menjadi sahabat baik, ternyata mereka juga tetanggaan, Al juga pernha diajari ilmu bela diri oleh Robert. Robert sendiri cukup ahli dalam bela diri.
Profesi Ayah robert adalah pegawai swasta yang cukup mapan. Robert melanjutkan kuliah di luar pulau, Al pun baru mendengar kabarnya lagi ketika di menelpon kemarin.
Tiba-tiba handphonenya Alphonse berbunyi ketika dia menggengamnya. Karena kaget, al hampir menjatuhkan handphonenya. Ketika dia melihat id yang menelpon ternyata yang menelpon adalah robert.
“halo, Al”

“halo juga bert, kok lu baru nelpon sekarang, gua pikir ke barnya gak jadi”

“sori-sori, soalnya gua dari pagi ampe sekarang lagi sibuk”

“sibuk ngapain” ujar alphonse dengan nada pernasaran

“rahasia, mau tahu aja lu.”

“dasar lu, ud gak ketemu 3 tahun, watak lu masih sama aja. Nanti ketemuan dimana?”

“di martyr bar, gua juga ada urusan disana”

“martyr bar ya, lokasi?”

Kemudian robert memberitahukan alamat martyr bar, karena takut lupa akan alamat bar yang dimaksud al mencatat alamat mereka juga nostalgia kenangan lama. Kenangan ketika Alphonse diselamakan robert. Dan kenangan persahabatan mereka lainnya.

“nanti ketemuan di sana jam 8 malam yak, udah dulu yak”

“yo, awas aja lu kalo gak muncul.”ancam al dengan sedikit becanda.

”Btw nanti ciri-ciri gua anak sma yang pake jaket dan rambut agak gondrong”

Al kemudian menaruh Hpnya di kantong celana, dia kemudian makan malam bersama kedua orang tuanya, setelah itu dia meminta ijin untuk pergi keluar rumah, ketika ditanya mau kemana. Al membuat alasan palsu. Kalau dia bilang kalo mau pergi ke bar pasti tidak dibolehkan gara-gara dia masih dibawah umur.
Dia pun berjalan menuju mart’y bar. Setelah berjalan selama satu jam, al samapi juga di bar itu. Sejenak dia melihat papan spanduk di bar itu, dia pun geleng-geleng kepala atas yang dia baca di papan itu.

“ini terlalu konyol, well mungkin robert sudah sampai di dalam” gumam ala sambil menggaruk kepalanya, dia masih keheranan dengan papan di bar itu, apa maksudnya dengan hal-hal supernatural gitu, yang punya pasti agak “sinting” . pikir alphonse, kemudai dia membuka pintu bar tersebut, dia kemudian mencari robert. Ketika dia sedang mencari-cari robert, ada suara yang memanggil namanya.

“woy, alphonse sini” suara itu berasal dari meja yang berada di ujung ruangan bar yang cukup kecil itu. Orangyang memanggil al adalah pemuda umur 20-an. Tinggi dan bejenggot tipis. Tidak lupa muka yang cukup tampan dan rambut yang spiky. Dengan kemeja dan celana jeans yang beremerek.
Al kemudian menghampiri pemuda tersebut.

“robert?” tanya alphonse

“iya ini gua, gak kerasa yak ud 5 tahun gak ketemu” ujar robert sambil meminum bir yang ada di gelasnya.

“iyak, sejak lu pindah buat kuliah di luar pulau”
Al kemudia memesan air putih ke pelayan perempuan yang datang meminta pesanannya. Sambil duduk-duduk dua sahabat lam tersebut mengobrol.

“al, gua ada pekerjaan buat lu, gampang kok, bayarannya juga gede”

“pekerjaan apa?” tanya alphonse dengan pernasaran?
-------------------------------------------------------------------------------------------
bersambung
http://www.kaskus.co.id/showpost.php...&postcount=120

good morning indonesia
i love you
semangat kini kan selalu ada
untukmu


=flashback=

"Captain Zward! my ammo is empty!" sesosok manusia, berseragam militer lengkap berteriak kearahku

"Here! take it! make sure every bullets is fukken count, Aegis!"

"Sir yes sir!"

"CRANIUM! KEEP YOUR HEADS DOWN!" dia tak mendengarku, dia tetap membabi buta menembakkan browning 12.7mm diatas technical coklat itu, semakin samar, semakin samar

gelap

"selamat pagi shcwartz damage report" suara yang kukenal terdengar, semoga jhony ku tidak terlihat

"ya suci sayang, i dream of you honey" aku berkelakar, badanku sakit semua

"hahaha dasar gila, kau sudah tiba di ground zero"

"he?" aku melihat sekeliling, reruntuhan bangunan, mirip di foto briefing, hanya saja aku masih di phone booth, dr whooooo?

"aku mengaktifkan orbital replacement transporter drive di booth tersebut, memang agak menyakitkan tapi kamu selamat kan"

"ya, omong2 rasa aneh apa di titiku ini?"

"oh itu, karena ada kesalahan teknis, communicator yang harusnya sampai di kepalamu terteleport ke biji zakar sebelah kirimu hihihi"

"sialan, sengaja kan kau? ku anal kau nanti ya!"

"HEI BRENGSEK JAGA BICARAMU!" pasti itu si zahrin

"yaya zahrin nanti kau ku anal juga kok"

"!&^(@*!&#)(&!"

"hei suci, bagaimana aku bernavigasi disini?"

"aku fax petanya kesana"

"HOEEEEK" keluar fax dari mulutku, badjingan

"baiklah ke tengah kan? roger that" aku meraba jasku, ah magnum ku ada, mudah2an lobangnya masih di depan

Mangueta~ Story of Mango tree-Chapter1

"hari menjelang malam, dan sekarang saatnya memproduksi karbondioksida.."
"ya, benar CO2, kalian mungkin lupa, kalau aku sebenarnya juga bernapas dan mengeluarkan CO2 sama seperti kalian.."

"hanya saja karena waktu siang hari, aku berfotosintesis, jadi oksigen yang kukeluarkan jauh lebih besar dibanding.."


Soy:
"ok mangueta.. Cukup nostalgia pelajaran biologinya"
"hari ini berapa total karbohidrat yang disetor ke buah?"

Mangueta:
"...."
"254 gram"


Soy:
"oh, 120 gram"
"bagus2.. tapi besok sepertinya agak mendung..kau harus berusaha lebih keras dari hari ini"


Mangueta:
"cih, majikan yang aneh..ngobrol sama pohon mangga.."
"tidak apa2 lah, selama dia rajin menyiramku.."
"fuh.. hidup sebagai pohon mangga benar2 sulit.."

roommate

10 juli 2015 , 8 pagi

"ahhmmm.... ngantuk... tidurku kurang banget. untung sekolah libur. ahh.. mandi dulu ah.."
gerutu erica sambil mengganti baju tidurnya, yang sekarang sudah tidak terlalu sesak
"YAY!! BERATKU TURUN!!"
"hmm... hari ini akan aku tanyai pusat, kenapa aku dapat suplai senjata begitu, dan apa maksudnya "pensiun"..."

jam 8:30, erica keluar dari kamar mandi, setelah berganti baju, ia merangkak kebawah tempat tidurnya. mengangkat lantai palsu seberat 5 kg, kemudian menarik perisai logam seberat 8 kg. disana terlihat ruangan kosong yang cukup besar, terlihat sejumlah amunisi kaliber besar dan kotak bertuliskan "sosis afrika".

erica mengambil sebuah kotak sebesar laptop yang berisi telepon dan beberapa alat elektronik lain. telepon tersebut terhubung ke "departemen" melalui jaringan terenkripsi yang sampai sekarang belum bisa ditembus

"halo agen 6" terdengar suara berat dari telepon
"nggak usah basa-basi. sekarang jelaskan misiku disini!"
"sudah jelas kan? misimu itu "pensiun" "
"lalu apa maksudnya dengan senjata senjata itu?"
"ah, kau ini. masih kayak anak kecil. kau lupa "pensiun" itu artinya kau disiagakan di suatu daerah yang terdapat ancaman yang belum pasti. lagipula, senjata-senjata itu masih level bawah kalau dibandingkan misi-misimu sebelumnya"
"ancaman belum pasti? maksudnya?"
"MI6 bilang soal adanya ancaman teroris, tapi mereka sendiri tidak bilang detilnya. untuk masalah itu, kau cukup melapor bila sudah menemukan informasi. misi utamamu mengamankan kota ini dari ancaman makhluk "magis" serta siap dipanggil untuk tugas mendadak. itu saja"
"baiklah, tapi soal "sosis afrika" itu?"
"hahaha... itu kiriman khususku untukmu.lagipula, aku yakin kau tahu saat yang pas untuk memakainya. ngomong-ngomong, kau sudah menemukan ancaman supranautal di kota?"
"ada, tapi masih belum jelas"
"vampir yang tidak suka darah dan bisa berjalan di siang hari kan? tak usah ragu. dia bukan ancaman. meskipun begitu, tetap waspada."
"hah, aku sudah 500 tahun lebih! aku tahu apa yang harus dilakukan"
"baiklah kalau sudah jelas. percakapan ini berakhir!"

segera setelah percakapan berakhir, erica menyembunyikan ruang rahasia beserta telepon itu. semuanya disembunyikan dengan baik. sistem keamanan untuk dua ruang rahasia di apartemen erica memang istimewa

"ah, waktunya mengecek koran"

di depan kamar, terdapat 2 koran. yang pertama adalah koran terpercaya di amh city, satunya lagi adalah koran yang kelihatannya editornya mabuk dan wartawannya lulusan SD
"hmm.. lampu kuning? apaan nih?"
erica membawa dua koran itu masuk. saat ia membaca "lampu kuning" ia langsung tahu kalau ada 2 kemungkinan mengenai editornya.
1. editornya selalu nyontek waktu ulangan bahasa dan nilainya dibawah 5
2. editornya lulusan nusakambangan

"pria mesum fetish robot digebugin sampe tonggos(emangnya bisa?)" ,
"cowok ini selingkuh terus dihajar ama 8 selingkuhannya(habis manis sepah dibuang)"
"pangeran brunei ketahuan cabul"
"skandal gila moderator forum dengan pria nigeria!"


adalah judul-judul yang terpampang di halaman depan koran itu

"koran apaan nih? beritanya nggak mutu banget! tapi mungkin ada sesuatu yang berguna disini"

tidak terasa beberapa jam berlalu ketika erica mendengar gedoran keras di pintu kamarnya

"siapa sih? kamar ini udah dibayar untuk beberapa tahun kedepan. polisi juga nggak mungkin. jangan jangan...."
"ADUH! KENAPA DIA LAGI!"

erica membuka pintu dan menemukan ada anak kecil di depan pintunya.

"apa? mau minta ganti makanan di kulkasmu? berapa?"
"uuuu.... rumah scarlet rusak. boleh menginap disini?" kata scarlet berkaca-kaca
"tipuan anak kecil itu nggak mempan. dan nggak. kamarku sempit"
"ooh... jadi nggak menyesal sama sekali ya? PADAHAL RUMAHKU RUSAK GARA GARA KAMU!"
"itu kan tindakan pencegahan" muka erica sedikit merah
"pencegahan apaan?! masih untung aku nggak minta ganti rugi rumah!"
"mau ganti? oke! berapa? lima juta? gampang!"
"telat, aku dapat gratis! lagian sekarang yang aku perlu rumah tinggal!"
"mau nginap? boleh, tapi traktir aku mak...."

BUAK! scarlet langsung menjitak erica sebelum sempat menyelesailan kalimatnya

"setelah tahu hobimu itu makan?! NGGAK! BISA-BISA AKU RUGI BESAR !"
"nggak boleh nginap tanpa imbalan!" kata erica sambil memegang kepalanya
"jadi mau berantem lagi? oke. kali ini rumahmu yang hancur!"
"ya sudahlah! lagian apa sih yang bisa kau kacaukan di rumahku?" erica tidak mau ambil resiko rumahnya rusak atau keributan lain terjadi
"bagus! memang seharusnya gitu kan?" kalau begitu aku tidur di..."
"FUTON! ambil sendiri di lemari!" potong erica.

"iya, iya. aku kan tahu diri. ngomong-ngomong, makan siangnya apa nih?"
"makanan di kulkasku basi semua. belanjaanku ketinggalan gara gara kamu! kalau mau makan jangan minta ke aku! kantong lagi tipis!"
"ya sudah, kalau gitu aku beli di luar"
"uangmu berapa?" tanya erica walaupun tidak terlalu mau tahu
"10 kowwa. cukuplah buat makan sampai rumahku selesai"
"5 kowwa bisa dapat banyak kalau tahu tempatnya. mau aku tunjukkan?" sepertinya erica punya maksud tersembunyi
"aku nggak yakin omonganmu itu tulus. pasti gantinya minta dibayari kan?"
"tenang, aku sudah cukup kenyang makan seisi kulkasmu kemarin. lagipula aku lagi diet"
"ya sudah. tapi jangan banyak-banyak apalagi yang mahal ya!"

=========================================================

setelah makan siang di warung paling murah dan paling dekat dengan apartemen erica..

"ahhh... kenyang.."
"APA-APAAN SIH? KAN SUDAH KUBILANG, JANGAN BANYAK-BANYAK!"
"emangnya nasi 1 piring itu banyak ya?"
"emang nggak, tapi lauknya banyak!. belum lagi nasiku kamu ambil juga!!!"
"tapi ga terlalu mahal kan?"
"GA TERLALU MAHAL APANYA! SEKARANG UANGKU TINGGAL 5 KOWWA! DASAR RAKUS!"
"masa sih? lauknya kan murah"
"IYA, TAPI KAMU NAMBAHNYA 2 KALI!!"
"ya mau gimana lagi? lauknya sedikit sih"
"SEDIKIT DARIMANA? AKU AJA NGGAK HABIS! EMANG KAMUNYA YANG RAKUS! POKOKNYA KALAU AKU KELAPARAN TANGGUNG JAWAB!"
"iya iya! kalau mau makan lain kali aku yang bayar! besok juga kubayari!"
"AWAS KALAU BOHONG!"
"ngomong-ngomong makan malam ba..."
BUAG!! kali ini scarlet menjitak erica lebih keras

apakah ini awal dari persahabatn yang indah?

New City~ new tragedy

tap~tap~tap
terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat dari arah belakangku
saat aku menoleh tidak ada siapapun, Itulah yang di alami raira setiap harinya.

Hari demi hari raira yang di hantui oleh masalalunya yang tidak jelas trus menjelajahi dari suatu tempat ke tempat lainnya, ia yang di berkati dengan relfeks yang sangat cepat dan insting yang luar biasa membuatnya dapat bertahan hidup dengan cara berkerja sebagai mercenary sejak beberapa tahun silam.

Sampai suatu hari raira sampai di sebuah kota yang mistis yang bernama AMH city.

raira yang lelah karena perjalanan jauh berjalan mengelilingi kota hingga melihat plank suatu bar yang bernama Martyr, ia bergegas lagi menuju ke tempat itu akan tetapi saat sampai ke pintu bar tersebut tertulis

Martyr's Bar
Open from 15.00 - 06.00

raira yang terkejut karena bar itu blum buka dan dia kehabisan tenaga langsung pingsan di depan bar itu............................



(gw nulisnya tadi pagi jadi anggap aja blom jam 3 baru sempet post)

Spoiler for update:

Ruu's Smile ~ Ch.1

Selimut kegelapan yang berteman dengan selendang merah merupakan pemandangan biasa. Namun, cahaya bulan kecil yang bersinar di atasnya merupakan gambaran baru atas kehidupan. Temukanlah dan pertahankan, tanpa berharap akan kelebihan. Karena sebuah titik merupakan awal dari sebuah garis.


Day 1


“Ini dimana ?”

Ruu terbangun di suatu tempat yang asing namun indah. Memandang ke sekitarnya, mencoba menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk mengenai keberadaannya.

Sampai akhirnya dia melihat saku bajunya, di situ tertulis “ Ruu, Hunter of Smile 1210 ”.

“ Jadi, namaku Ruu. Hmm, Hunter of Smile? Apa ya maksudnya? ”

Baru saja, Ruu beranjak bangun, tiba-tiba seberkas kertas jatuh dari saku celananya.

“ Eh..!! Ada lagi. Disini tertulis, Next Target : AMH City ”

Pikirannya mulai melayang-layang di angkasa, menyapa burung-burung gereja yang melintas di bawah awan. Namun, segera tertembak jatuh oleh senapan pemburu dan kembali ke kepalanya sendiri.

“ Aha !!! Aku mengerti…… Aku pasti adalah seorang penghibur yang dikirim ke kota ini untuk menemukan senyum-senyum baru di kota ini. Ok, sebelum menghibur kota ini, aku mengenali kota ini dan penduduknya. AMH City, aku dating..!!!!”

Untunglah sebelum asap keluar dari kepalanya, Ruu sudah menemukan tujuan yang harus dicapainya disini. Maklum, Ruu bukanlah seorang pemikir yang handal. Dan dengan ini pula, dibukalah perjalanan Ruu di AMH City.
Pagi sudah tiba, dimulai dengan sarapan pagi yang mewah. Lalu dilanjutkan dengan membaca koran. Koran aneh bernama lampu kuning. Lumayan membacanya se[erti membaca buku humor. Apa aku beli perusahaan koran itu agar bisa menerbitkan sesuatu yang bisa dibaca yah? Sayangnya, aku tidak borju seperti hikky lonjong bulet tanpa kumis yang suka meraep knalpot mobil.

"Mari kita lihat headline hari ini."

"pria mesum fetish robot digebugin sampe tonggos(emangnya bisa?)" ,
"cowok ini selingkuh terus dihajar ama 8 selingkuhannya(habis manis sepah dibuang)"
"pangeran brunei ketahuan cabul"
"skandal gila moderator forum dengan pria nigeria!"

"errr... kok sekarang jadi cabul yah? sama itu yang skandal ada videonya gak yah?"

Aku pergi meninggalkan koran laknat itu di kursi. "Aku pergi sebentar!" teriakku sambil membuka pintu yang lumayan berat itu.

Perjanjian dilakukan di depan pohon mangga legendaris yang katanya memiliki alat vital itu.

Klienku sekarang merupakan ketua organisasi mafia. Ia ingin informasi tentang pejabat - pejabat di AMHCity. Pengkhianat? biarin, bukan urusanku gini.

Sebenarnya apa yang ingin direncanakan para mafia ini, menggulingkan kekuasaan? menyulut perang? uang? atau yang lainnya? Tetap masih bukan urusanku ini. Tapi sepertinya aku harus tetap mencari pelayan dan bodyguad baru. Kan gak lucu kalau dikroyok para mafia kelas teri itu.

Waktunya pergi ke sisi gelap dari AMHCity, mungkin di sana aku bisa menemukan "dia".
#01 - LUCY


9 July 2010. 03.00 PM

Suasana sore itu begitu membekas, warna langit dan suara angin yang seolah terasa begitu gelap, kamar yang sunyi, kontras dengan suara bising dari kendaraan yang lalu lalang di depan apartemen kecilku ini. Tubuhku terbaring di ranjang kecil di sudut kamar. Dari CD player, tak jauh dari ranjangku, terdengar beberapa lagu instrumental dengan volume lirih, hampir tak terdengar. Aku baru saja bangun dari tidur siangku yang singkat, mencoba mengingat tentang hal terakhir yang aku lakukan sebelum tidur.

“Ah festival..” gumamku lesu setelah ingatanku mulai terkumpul sedikit demi sedikit. Aku tak begitu menyukai keramaian. Festival, dimana seluruh kota akan dipenuhi oleh manusia, adalah mimpi buruh buatku.

“Weekend ini akan jadi hari yang sangat menyebalkan, bagaimana menurutmu Lucy..” Kupandang Lucy yang sedang terbaring disampingku. Kepalanya tergeletak di lenganku. Tubuhnya ada di dalam selimut yang juga menutupi tubuhku. Dia membuka matanya perlahan, memandangku, dan menutup matanya kembali sambil menikmati tidurnya.

“Kau sangat suka tidur di atas lenganku ya..” Kulontarkan pertanyaan sekali lagi tanpa mengharapkan jawaban darinya, aku tau dia tak akan menjawab. Dia hanya akan memandangku tiap kali aku mengajaknya berbicara, terkadang dia akan tersenyum dan memalingkan mukanya.

Tersenyum..?
Ah.. Bahkan aku tak tahu..

Raut wajahnya begitu kaku, aku tak bisa membedakan kapan dia tersenyum dan kapan dia cemberut, namun terkadang aku bisa merasakannya dengan sangat jelas. Dia akan terlihat begitu anggun saat senyumnya merekah.

Tiba-tiba Lucy terbangun.
Dia segera beranjak dari tempat tidurku, keluar dari dalam hangatnya selimut.

Aku bisa melihat tiap lekuk tubuhnya dengan jelas.

Dia berjalan mendekati jendela, sedetik kemudian dia duduk di atasnya, memandangi dedaunan dari pohon mangga yang tumbuh di samping jendela. Aku melihat punggungnya yang mulus dan berkilau terpantul sinar matahari senja. Dia menoleh dan memandangku sejenak. Ekspresi wajahnya tak berubah, tapi aku tau apa yang dia inginkan.

Aku beranjak dari tempat tidurku. Berjalan menuju kulkas yang ada di pojok kamar, di sisi yang berlawanan dengan tempat tidur. Kuambilkan snack kesukaan Lucy dari dalam kulkas.

“Lucy, kubawakan makanan kesukaanmu..” Aku mendekatinya pelan pelan dan duduk disampingnya. Kutadahkan telapak tanganku yang penuh dengan snack kesukaannya.

“Meoong~~” jawab Lucy. Aku tahu kali ini dia sedang tersenyum. Aku mengelus kepalanya tapi Lucy tak menghiraukan. Dia sibuk dengan jatah makan sorenya di telapak tanganku.

“Hah.. Sepertinya aku akan menghabiskan waktuku bersamamu weekend ini.. Di luar akan sangat ramai..” Lucy menggesekkan kepalanya di lenganku dengan manja, “Meoong~~”

The Soy Sauce Tragedy, part 1

10 July 2015
6 A.M.

“Evaaa...!! Banguuun...!!”
Untuk yang ketiga kalinya teriakan ibu kembali terdengar. Tubuh Eva terasa lelah sekali.

Tadi malam dia sibuk sekali, dan baru bisa tidur jam 4 A.M.

Sepertinya hari ini aku bolos saja deh...

Ibu Eva akhirnya memaklumi anaknya yang kelelahan itu dan mengizinkan dia tidak masuk sekolah.


12 P.M

Perutku lapar...

Eva bangun dari ranjangnya dan segera menuju meja makan. Hanya ada secarik kertas disana, “Ibu pergi keluar sampai sore, ada urusan. Makan siangnya masak sendiri yah. Salam sayang, Ibu.”

Eva mengeluh dan segera mensummon Rai untuk menemaninya.

“Bagaimana kondisimu?” tanya Rai sambil menempelkan tangannya ke dahi Eva.
Eva hanya tersenyum lemah, “Sudah tidak apa-apa, aku hanya lapar sekarang,” dia pun berjalan menuju dapur, “Yosh! Hari ini mari kita memasak Chicken Curry!”

Rai melongo, “kita...?”
“Yups! Urusan memotong bawang aku serahkan padamu yaaah, hehe...” kata Eva sambil memohon.

Rai agak bete, dia pun akhirnya mengupas bawang sambil menangis tersedu-sedu.
Masakan mereka pun jadi, Eva dan Rai memakannya bersama-sama.


2 P.M

“TING TONG”
Bel pintu rumah Eva berbunyi, “Yaaaa...!! Sebentar..!!”

Eva pun membuka pintu rumahnya, dan menemukan 2 teman sekelasnya, Yume si cewek periang berambut hitam panjang, dan Elis si cewek kendo yang ‘keren’ dan selalu berambut ekor kuda. Mereka berdua adalah teman sekelas Eva.

Yume segera memeluk Eva saat Eva membuka pintu rumahnya, “Huaaa...!! Kamu tidak apa-apa Eva?! Kudengar kamu sakit parah sampai tidak bisa bangun..!!”

“Ha...? Ka, kata siapa itu?” sahut Eva, sambil susah payah melepas pelukan Yume, “Aku hanya kurang tidur...”
Yume mengembuskan nafas lega sambil mengelus dadanya, “Oh syukurlah.. Aku pikir kamu kenapa-kenapa...”

“Cewek ini tak henti-hentinya melihat jam saat pelajaran berlangsung,” sindir Elis sambil tertawa, “sepertinya dia benar-benar mengkhawatirkanmu~”
Wajah Yume sedikit memerah, “A.... Apa salahnya aku sebagai temannya khawatir khan?!”

“He...? Benarkah karena itu~?” sindir Elis lagi, “Wajahmu memerah lho ~ Sepertinya ada hal lain yang kamu sembunyikan~”
“A...!! Mu, mungkin ini gara-gara cuaca panas kan?!” seru Yume sambil membuang muka.

Eva tertawa kecil, “Cuacanya memang sangat panas yah. Silahkan masuk, tidak ada siapa-siapa dirumah.”
“Oke!” seru Yume dan Elis bersamaan.

Ketiga cewek itu pun saling bercanda riang, hubungan ketiganya memang sangat akrab. Rai hanya diam dan memperhatikan mereka bertiga, karena hanya Eva dan Elis yang mengetahui keberadaannya. Elis hanya dapat merasakan, sedangkan Yume tidak dapat merasakan Rai samasekali.


4 P.M

Kedua cewek itu pun akhirnya pamit pulang.

“Aku pamit dulu yah ~” kata Elis.
“Eva, jaga kesehatanmu baik-baik yah!” seru Yume.

Eva hanya tersenyum sambil melambaikan tangan pada keduanya. Dia pun menutup pintu dan langsung bersandar, “Huaaah... capeknya...”

“Haha... teman-teman yang menyenangkan,” kata Rai.



5 P.M

Ibu dan Ayah Eva sampai dirumah.


7 P.M

“Eva...!!” seru Ibu, “Tolong belikan ibu kecap di minimarket yah!”
Eva mengangguk dan langsung berjalan meninggalkan rumahnya, ditemani Rai.

Di perjalanan, mereka melihat banyak sekali pasangan muda yang hilir mudik dan asik bercumbu.

Eva agak bete melihat pemandangan itu, “Haha... Malam minggu begini aku malah berjalan-jalan bersama rubah cerewet yang transparan untuk membeli kecap...”

“Oh! Kalau begitu aku pulang saja!”
“Huwaaa...!! Aku hanya bercanda Rai!!” seru Eva sambil berusaha menangkap ekor Rai.

“Psssttt... psssttt...”
“Orang aneh...”
“Jangan dilihat...”
Beberapa orang yang berada disitu menatap Eva seolah-olah dia adalah makhluk planet mars.

Aaaah... malunya...

Eva pun segera berjalan cepat meninggalkan tempat itu.

“Hei Rai lihat!” seru Eva menunjuk ke arah langit, saat dia yakin bahwa sudah tidak ada orang disekitarnya, “bulannya indah yah! Kok bisa yah berwarna merah seperti itu?”

“Ini... Closed Space... Kita terjebak di dimensi lain...” kata Rai saat melihat bulan itu, wajahnya terlihat panik, “Kita tak akan bisa keluar dari sini sebelum mengalahkan makhluk yang menarik kita kesini..!!”

Tiba-tiba terdengar lolongan serigala dari kejauhan, diikuti oleh lolongan-lolongan lainnya.

“Werewolf...” seru Rai, “Lari..!! Jumlah mereka sangat banyak!!”
“KYAAAA...!!”

Rai pun menarik tangan Eva menuju ke sebuah gudang tua.

BRAKK

Sebuah mobil BMW melayang dan hancur didepan mereka. Sosok tinggi makhluk berbulu berdiri diatas puing-puing mobil itu. Terdengar suara seperti geraman, “Berikan... Ghost Ring....”

Lolongan kembali terdengar. Puluhan werewolf lain pun muncul dan mengepung Eva dan Rai.

“Werewolf... ras kegelepan yang sangat kuat...” kata Rai, “kita tidak mungkin bisa mengalahkannya...”
“La, lalu bagaimana?!”

DEG

"Aku, Scarlet, dengan ini, bersumpah akan menjadi penjaga setia seumur hidupku. Aku akan menjadi pedang dan perisaimu, musuhmu adalah musuhku, dan sahabatmu adalah sahabatku."
Tiba-tiba Eva teringat dengan vampir Scarlet.

“Scarlet... Mungkin Scarlet bisa mengalahkan mereka...!!” lanjut Eva.

“Kalau begitu, cepat panggil dia...!! Kita tidak punya waktu lagi!!” seru Rai panik, “Werewolf ini bisa menyerang kapan saja!!”

“Ta, tapi bagaimana caranya?!” Eva pun ikut panik, “Aku kan tidak melakukan contract, lagipula kita ada dimana sekarang?!”

“Konsentrasi! Gunakan Telepati! Panggil dia di dalam hatimu!”
“Ba, baik...!!”

Eva pun memejamkan mata dan berusaha membayangkan vampir mungil itu.

Scarlet!! Aku mohon, datanglah!!
Aku benar-benar berada dalam kesulitan!!
Tolong ak...


DARRR

Suara halilintar disertai kilatan cahaya yang menyilaukan tiba-tiba muncul dan mengejutkan Eva. Eva membuka matanya, dia kini berada di dalam lingkaran kuning yang dialiri listrik.

Rai berdiri di luar lingkaran pelindung itu, dia sedang menahan serangan salah satu werewolf.

“Aku adalah Rai, sang guardian pelindung!” seru Rai.

“Rai...!! Jangan..!!” isak Eva, “Pasti ada jalan lain!!”

“Kau teruskan saja ritual pemanggilan itu! Aku akan menahan mereka sampai vampir itu datang!”
“Rai... Tidak...!!”

“Kalaupun dia tidak datang...” Rai menatap tajam werewolf terbesar, yang berdiri diatas mobil, “Aku akan berusaha mengalahkannya walaupun harus mempertaruhkan nyawaku sendiri...!!”

Kilatan petir di tubuh Rai semakin bersinar, Rai segera meluncur cepat ke arah werewolf besar itu.

Sang werewolf terpental disertai ledakan besar. Werewolf lain yang mengelilingi Eva langsung berkumpul dan mennyerang Rai bersmaan.

Kilatan petir dan ledakan-ledakan dahsyat terpancar di berbagai arah. Rai bergerak secepat cahaya, menyerang puluhan werewolf itu sambil bertahan.

Rai...
Eva kembali memejamkan mata dan berusaha memanggil Scarlet.
Scarlet...!! Kumohon datanglah..!!

Ledakan besar kembali terjadi, yang membuat Eva terkejut dan membuka matanya.

Lengan kokoh berkuku tajam itu kini sedang mencekik Rai. Rai berusaha melepaskan diri dari cengkraman werewolf besar itu, namun sang werewolf tetap tidak bergeming.

“RAI...!! TIDAAAAK...!!”

Scarlet!! Hanya kau yang bisa menolong kami...!!

The Bar

10 juli 2015 1:30 siang

Erica masih memegang kepalanya yang benjol gara-gara dijitak Scarlet. Scarlet sendiri masih marah-marah dan mengomel. benar-benar seperti anak kecil.

Untung, saat tiba di apartemen, Scarlet berhenti mengomel walaupun tetap marah. Erica hanya membiarkannya. setelah membuka pintu kamar, Scarlet langsung menuju tv dan menonton apa saja yang ada di tv sedangkan Erica mengambil koran "lampu kuning" mencari informasi walaupun kelihatannya hanya ada berita murahan.

"Hmmm.... Martyr's bar... kayanya ini tempat yang cocok untuk mencari informasi. jam bukanya.....3 sore. Cukup bagus. aku akan kesana"
"Hei Erica! ada anime bagus nggak sih? tampatmu ini sudah sempit, nggak ada apa-apanya lagi!"
"Nggak suka sama tempatku? keluar sana!" Erica ketus, walaupun sebenarnya ia tidak mau Scarlet pergi secepat itu
"Emmhh... ya sudah, ada anime bagus nggak?"Scarlet hanya bisa menahan kesal
"Ambil sendiri di rak bawah tv sana!"

Scarlet terkejut saat melihat tumpukan dvd di rak tv. tidak pernah dia sangka kalau erica merupakan penggemar yuri.
Tidak hanya dvd, ternyata tidak cuma dvd, ada juga sejumlah manga yuri yang tentu saja, tidak ditata dengan baik.


"Nggak nyangka ternyata si rakus itu suka yang beginian:maho"

Disaat Scarlet "sibuk" mencari "barang bagus" Erica bersiap-siap untuk pergi ke bar Martyr's. Persiapannya meliputi: mantel panjang warna hitam dan 2 buah micro-uzi
"Untuk ke bar ini, kayanya nggak usah bawa "judgement" deh. rok lebih baik pakai yang pendek biar gampang gerak kalau-kalau ada baku tembak atau baku hantam"

Erica juga memutuskan untuk tidak mengajak scarlet, setelah memperkirakan akibat yang akan ditimbulkan.

"Hei Scarlet, aku mau pergi keluar dulu! jangan habiskan makananku ya!"
"Makanan apa? Semuanya basi! Kalau ada juga nggak akan kumakan semua!"

Setelah itu Erica pergi ke bar Martyr's dengan satu tujuan: Mencari ancaman dalam AMH CITY

===========================================================================================

Erica berdiri tepat di depan bar itu. di pintunya ada sebuah papan
Spoiler for papan:


Papan itu sama sekali tidak menghentikan Erica untuk masuk.

Bar itu masih sepi, didalamnya hanya terdapat beberapa pengunjung dan 1 orang bartender bermuka mesum, lengkap dengan kumis.

"Woi! Anak kecil dilarang masuk!"

Tidak berguna. Erica tetap masuk.

"Ini ktp-ku! secara umur, aku legal masuk bar! kalau masih kurang, lihat ini!" kata Erica sambil membuka mantelnya, menunjukkan 2 buah micro-uzi.

*stare* *stare* *stare* si bartender tetap memandang penuh kecurigaan.
"He ada uang ga? Lu mau todong gw pake uzi juga ga bakal gw gratisin soalnya."
"Uang masalah gampang. Yang penting, informasi yang kucari ada atau enggak?" Sambil menunjukkan sejumlah besar uang.
"Oke, jadi informasi apa yang dicari anak kecil kayak elu?"
BRAAAK
"AKU BUKAN ANAK KECIL!" terial Erica sambil menggedor meja.
"Easy, Easy! oke! jadi informasi yang lu mau?"
"Katanya ada semacam sindikat kriminal disini. coba jelaskan!"
"Organisasi yah? Setahuku ada satu. NEMESIS. tapi informasinya benar-benar nggak jelas."
"Beritahu!"
"Oke, jadi NEMESIS ini adalah pedagang senjata. Menurut kabar burung, mereka men-deploy sejumlah UAV beberapa malam lalu. Tujuannya belum jelas. Selain itu, ada rumor kalau mereka disupport salah satu penduduk disini. GW INGETIN SEKALI LAGI ini cuma kabar burung, jadi jangan terlalu percaya" Jelas sang bartender. Ia menekankan pada Kabar burung.
"Ancamannya bagi kota ini?"
"HAHAHAHAHA, PERTANYAAN KONYOL APA ITU? KALAU EMANG ADA BAHAYA BUAT KOTA INI, GW UDAH PINDAH DARI KEMARIN-KEMARIN!" Erica berpikir alasan ini cukup masuk akal. Lagipula hal itu bukan misi utamanya.
Erica kurang menyukai cara orang itu bicara, tapi tetap saja ia mengajukan pertanyaan demi informasi yang ia cari.
"Ngomong-ngomong, ada nggak ancaman selain NEMESIS?"
"HMMM.... ya, ada rumor mengenai seorang psikopat yang membawa KRISS SVD. Kabarnya dia tinggal di sebuah kendaraan aneh. Selain itu, ada juga isu mengenai makhluk jadi-jadian."
"Apa maksudnya "makhluk jadi-jadian"?"
"ya.. lu taulah. vampir dan kroco-kroconya seperti... apa itu.. anjing jadi-jadian?"
"werewolf" potong Erica
"Ah, ya itu dia! Kalau vampir emang nggak jelas. Tapi werewolf ini sudah memakan korban." Werewolf. Kata ini membuat Erica ingat pada masa lalunya. Werewolf merupakan makhluk kuat yang sulit dibunuh. Senjata biasa seperti uzi yang sekarang ia bawa jelas kurang mempan.
"Korban serangan werewolf yang selamat mengatakan kalau mereka secara tiba-tiba seperti berada di tempat lain, kemudian segerombolan werewolf menyerbu seakan-akan musang melihat ayam."
"Dimana biasanya makhluk-makhluk ini muncul?"
"Pola serangannya acak. Gw ga tahu sama sekali"
"Pernah lihat?"
"Gw pernah ngeliat anjing yang ukurannya diatas normal di mini market ga jauh dari sini . Entah itu werewolf apa bukan"
Merasa sudah cukup, Erica meninggalkan bar itu seiring dengan bertambahnya pengunjung.
"WOOIIIII!!!! BAYAR DULU! LU KIRA INFO TADI ITU GRATIS APA??!!"
RATATATATAT! Erica menembakkan uzi-nya ke arah meja bartender.
"Coba lihat baik-baik sebelum nagih!"
Bartender melihat bekas tembakan Erica. Disana terdapat sejumlah uang
"GANTI MEJANYA WOI!"
"ITU UDAH CUKUP BUAT INFO SAMA PERBAIKAN MEJA!"
Bartender hanya diam menghitung jumlah uang. Seperti kata Erica, uangnya cukup .
"Omong-omong tuan bartender, siapa namamu?"
"Panggil aja Maximillian!" kata Bartender ogah-ogahan. Erica langsung pergi dari bar. Dia punya Firasat buruk.
"Hei Sione, kenapa ya barku selalu kedatangan tamu aneh?"
"Seperti tamu kecil ber-submachine gun tadi?"
"Semacam itulah."
"But, she's cute"


Waktu menunjukkan jam 5 sore. Erica terus berlari menuju apartemennya. Firasat yang ia dapatkan aneh sekali. Seakan-akan sesuatu yang berbahaya akan segera terjadi
"Si Scarlet itu... aku punya firasat buruk!"



BERSAMBUNG....
10 July 2015
5.30 P.M.


"Dasar vampir menyebalkan!" gerutu Scarlet, sambil menendang kaleng kosong yang dibuang sembarangan oleh orang, dan tepat masuk ke tong sampah, "kalau aku bersama dia terus, uangku bisa habis..."

Sore itu cukup panas, Scarlet berjalan - jalan tanpa tujuan. Sebenarnya dia juga malas, tapi dia lebih memilih berjalan di luar daripada bersama Erica, meskipun dalam hati dia mengakui, Erica punya sisi baiknya juga.

"Apa sebaiknya aku mengecek perbaikan rumahku saja ya?" gumamnya.

Scarlet kemudian berjalan menuju lokasi rumahnya, di sana dia melihat, bahwa para pekerja sedang memperbaiki rumahnya dengan giat. Dia juga melihat sang pemilik jasa itu, sedang memakai helm konstruksi, dan di tangannya memegang selembar kertas berukuran besar.

"Bagaimana pekerjaannya pak?" tanya Scarlet, ramah.

"Ah, lancar dik, tapi...sepertinya ada yang aneh...apa ya?"

"Wah, dia agak ingat nih kayaknya," pikir Scarlet, "pak, tolong tatap mataku sebentar."

Seketika mata Scarlet berubah menjadi merah darah, "Kau tidak akan mengingat apa - apa, kecuali bahwa kau harus menyelesaikan rumah ini, mengerti?"

"Baik, nona..." jawabnya.

"Kalau begitu, kerja yang benar ya!" kata Scarlet riang, sambil berlalu dari tempat itu.

Merasa tidak ada tujuan, dan tidak ingin cepat - cepat kembali ke tempat Erica, Scarlet kemudian memutuskan pergi ke bar Stardust.

"Yoo...om mesum, sedang apa?" panggil Scarlet, sambil melangkah memasuki bar.

"Memikirkan dirimu," jawab sang pemilik bar.

"Ah Mikhail, kau selalu saja bercanda," kata Scarlet, sambil mengambil salah satu tempat yang kosong.

"Tidak, aku memang memikirkanmu, memikirkan kapan kau akan membayar utang mu, ditambah bunga 5 tahun, kalau kau lunasi, kurasa aku sudah bisa membuka 4 bar lagi di kota ini," canda pemilik bar yang bernama Mikhail ini.

"Ah, yang sudah berlalu biarlah berlalu," jawab Scarlet enteng, "aku pesan yang biasa ya."

"Segera disiapkan, kura - kura galapagos," jawab Mikhail.

"Apa?"

"Tidak apa - apa."

Tak berapa lama, Mikhail memberikan segelas minuman pada Scarlet. Dalam sekali tegukan, Scarlet menghabiskan isi di gelas itu. Beberapa tamu yang melihatnya terkejut, karena tidak menyangka anak sekecil ini bisa menghabiskan minuman sekeras itu, kalau saja mereka tahu berapa umur Scarlet sebenarnya.

Waktu berjalan cepat, saat jam menunjukkan pukul 06.45 P.M, tiba - tiba saja Scarlet merasakan ada yang aneh, tapi dia tidak terlalu ambil pusing.

"Sudah jam segini? Waktu memang selalu berlalu sangat cepat," gumam Scarlet, sambil melihat jam, "hoi om mesum, aku pamit dulu ya."

Mikhail tidak menjawab, dia hanya melambaikan tangan saja. Saat sedang berjalan balik ke apartemen Erica, dia melihat ada penjual kroket sedang berjualan, dia memutuskan untuk membeli beberapa potong untuk dia dan Erica.

"Kasihan, anak kecil masih dalam masa pertumbuhan," pikir Scarlet, sambil tertawa kecil. Dia membayangkan betapa Erica akan berterima kasih padanya atas makanan ini.

Namun, baru saja Scarlet berjalan beberapa langkah, dia kembali merasakan sesuatu.

"Rasanya ada yang aneh...dan...suara ini...Eva? apa dia dalam masalah?"

Tanpa membuang waktu lagi, Scarlet langsung mengembangkan sayapnya, dan melesat ke udara, meninggalkan penjual kroket yang merasa bingung bercampur kaget dan takut.

"Eh? tempat ini...border?" gumam Scarlet. Dia mendekati tempat yang terlihat aneh itu, dan saat dia menyentuhnya, sekilas terlihat bahwa tempat itu seakan dipisahkan oleh suatu garis yang tak terlihat.

"Tapi...border ini lemah sekali...tunggu aku, Eva!" Scarlet mengangkat tangan kanannya, kemudian dia mengepalkannya. Perlahan - lahan, tangan kanan Scarlet mulai diliputi cahaya berwarna merah darah. Dengan sekuat tenaga dia memukul garis itu, membuat lubang yang cukup besar.

Scarlet melesat masuk, dan dia melihat segerombolan werewolf, salah satunya sedang mencekik Rai, si rubah aneh pelindung Eva.

"Rupanya benar, Eva dalam bahaya," tanpa membuang waktu lagi, Scarlet melesat menuju werewolf yang sedang mencekik Rai. Tubuh Scarlet diliputi oleh cahaya berwarna merah darah, yang meruncing di ujung depannya.

Scarlet melesat menembus tubuh werewolf itu tepat di tengah - tengahnya. Werewolf itu melolong kesakitan, dan tak lama kemudian dia roboh, melepaskan Rai dari gengamannya.

"Eva, kau tidak apa - apa?" tanya Scarlet, sambil kedua tangannya, yang kini sudah diliputi cahaya merah, mengoyak tubuh dua ekor werewolf yang terdekat, "jangan takut, aku pasti akan melindungimu sesuai sumpahku!"

---------------kebiasaan orang jahat adalah memberi kata bersambung di saat sedang seru-----------
Reis berkutat dengan diagram-diagram rumit yang berserakan di atas mejanya. Ia mempelajari ulang berbagai simbol yang sekarang sudah semakin samar di otaknya, teknik-teknik yang paling ingin dia hindari, sihir-sihir yang digunakan untuk bertarung dengan tujuan membunuh.

Ia masih teringat malam pertama kedatangannya ke AMH City, berdua dengan Mary. Semua begitu damai dan biasa, mereka sama sekali tak mengira sebuah peluru yang dilepaskan dari pertengkaran di bar yang terlihat damai menembus jantung Mary dan mencabut nyawanya malam itu.

Asbestos

Nama itu berputar-putar di benak Reis, menghantuinya setiap detik.

Ia mengepalkan tangan dan menghantam meja bacanya.

"Tidak bisa, aku memang tidak berbakat dalam hal ini," benak Reis kesal, "Aku harus mencari seorang guru, pelatih yang dapat mengajariku cara membunuh dengan dingin…"

Satu persatu nama dicoba diingatnya, tak ada yang terlintas sebagai pembunuh tentu saja, karena selama ini ia selalu menghindari pertumpahan darah. Tapi ada yang mengganggu di benaknya, ia merasa sering bertemu dengan orang yang dicarinya, seorang pembunuh yang berpengalaman, tapi siapa…

*tok, tok*
"Saya membawa minuman yang anda pesan," suara Mikhail dari balik pintu

Reis beranjak, membuka pintu kayu kamarnya. Melihat Mikhail ekspresinya berubah dari kesal menjadi ini-dia-yang-kucari. Matanya, mata yang dingin, seakan pemiliknya dapat menghabisi satu desa tanpa perasaan apabila diperlukan.

Tanpa pikir panjang, Reis bersujud.
"Tolong terima aku jadi muridmu," ujarnya keras

Mikhail hanya memasang wajah bingung.

"Ajari aku membunuh, aku tahu ini aneh, tapi aku harus membalas kematian Mary," Reis melanjutkan

Ekspresi wajah Mikhail berubah, ia meletakkan minuman di meja dan langsung keluar dari kamar itu, meninggalkan Reis yang masih bersujud.

Werewolf- Fight Night

july 10th, 2015
6:30 malam

"Sial, firasatku benar! Aku bisa merasakan adanya aktifitas magis di daerah ini! dan si Scarlet itu!"
Beberapa saat setelah itu, Erica tiba di apartemennya. Ia menemukan kamarnya kosong dalam keadaan tidak terkunci.
"Sial, dia pergi tanpa mengunci pintu! Ah, nggak penting!"

Setelah mengunci pintu, Erica bergegas menuju kamar mandi tempat dia menyimpan senjata untuk pertarungan jarak dekat. setelah membuka lantai dan logam pelindung, Erica mengambil 2-buah machine pistol OTS-33 Pernach yang sudah dicustom untuknya.
Senjata itu berwarna hitam dengan garis perak. Di gagangnya terdapat tulisan dalam bahasa latin dan ibrani.
Justitia judicum dan פסק דין keduanya terletak di sisi yang berseberangan. di bawah larasnya terdapat laser pointer.

"Judgement" itulah nama kedua machine pistol tersebut.

"Cih, mana amunisi yang cocok? Ah, ini dia!"
Erica mengeluarkan magazin berisi 24 peluru kaliber 9mm dari sebuah kotak. bukan peluru sembarangan. Peluru tersebut terbuat dari perak, di dalamnya terisi serbuk kayu ek, dan sudah dicelup air suci sebelumnya. Erica mengambil 4 buah magazin. Setelah itu, ia kembali menutup tempat senjata tadi tanpa meletakkan uzi-nya. Ia juga mengambil sejumlah granat khusus.

"Sekarang melacak jejak auranya!" Mata Erica berubah menjadi merah darah. Sekarang ia bisa melihat segala berkas yang dipancarkan dari aktifitas magis maupun aura. Benar saja, Erica bisa melihat aura Scarlet. Dan aura itu, bergerak menuju sebuah "retakan" di langit pinggiran kota.

"Rune-based magic! Ada memakainya untuk membuat closed space!"


Tanpa membuang waktu, Erica merentangkan sayapnya dan langsung terbang menuju "retakan" tersebut.


===============================================
7:45 malam


Di dalam retakan, Scarlet bertarung mati-matian melawan gerombolan werewolf yang seakan-akan tiada habisnya. Werewolf, makhluk itu punya daya regenarasi luar biasa. Melukainya hampir tidak ada gunanya. Hal yang bisa dilakukan, jika mampu, adalah menghancurkan kepala atau jantungnya.

Sejauh ini, Scarlet, dibantu Rai, baru berhasil membunuh sekitar 5 ekor werewolf dan mereka benar-benar kewalahan. Scarlet sudah diserang beberapa kali. Beberapa puluh meter dari tempat Scarlet berdiri, terlihat segerombolan werewolf berlari. Mereka siap menghancurkan apapun yang menghalangi mereka. Scarlet dan Rai bersiap untuk bertarung mati-matian. Apapun hasilnya.

50 meter...

40 meter...

30 meter..

20 meter..





BLAARRRRRRR!!!!!!!! Sebuah ledakan besar menyapu gerombolan werewolf itu. Menyisakan gumpalan daging gosong berbau busuk. Beberapa yang selamat mencoba bangkit dan mengamati keadaan.

"Datang juga kau Rakus!!"
"Perisai dan pedang katamu? itu kurang! kau perlu senjata api!!"

Erica datang tepat pada waktunya. Ia terbang dan melemparkan granat langsung ke arah gerombolan werewolf tadi.

"Mau pakai uzi?"
"Nggak. Kekuatanku sendiri cukup!"
"Terserah deh. Hei eva dan kau rubah, bisa nembak kan?" Erica melemparkan kedua micro-uzi itu ke arah Eva dan Rai. Eva hanya bengong karena seumur hidupnya belum pernah memegang senjata.

"Oke! Mari mulai perburuannya!" Erica menembakkan pistolnya langsung pada kepala 2 ekor werewolf. keduanya tumbang.

"Payah!" Teriak Scarlet saat Ia mengoyak tubuh 2 ekor werewolf.

"Erica! Samping!" Teriak Eva memperingatkan

DAR! Peluru perak Erica langsung mengenai kepala makhluk itu. Padahal sedari tadi Erica hanya menembak ke arah depannya.

"Pistol ini menembakkan peluru berlapis auraku! Selain lebih destruktif, aku juga bisa mengubah arah sesukanya!"


Gerombolan werewolf datang lagi seakan tak ada habisnya.

"Cih, untung aku bawa cukup banyak granat dan amunisi!"


---------bersambung---------

The Soy SauceTragedy [Branch]

10 July 2015
8 P.M


BLARR
Tiba-tiba sebuah benda merah bercahaya meluncur cepat dan menembus tubuh werewolf besar itu. Werewolf itu melolong kesakitan, dan tak lama kemudian dia roboh, melepaskan Rai dari gengamannya.

“Uhuk, uhuk... Terimakasih Scarlet...” Rai terbatuk darah dan segera terbang menghampiri Eva.
"Eva, kau tidak apa - apa?" tanya Scarlet, sambil kedua tangannya, yang kini sudah diliputi cahaya merah, mengoyak tubuh dua ekor werewolf yang terdekat, "jangan takut, aku pasti akan melindungimu sesuai sumpahku!"

Pelindung cahaya yang mengelilingi Eva menghilang, Eva segera memeluk Scarlet sambil menangis tersedu-sedu.

“Rai, jaga dia,” kata Scarlet singkat.

Rai hanya mengangguk. Dia bisa merasakan kemarahan Scarlet yang meluap-luap. Energi vampir yang ada ditubuh Scarlet yang berwarna merah darah kini meledak-ledak karena kemarahannya.

“Beraninya...” Kata Scarlet, setengah menggeram, “Beraninya kau menganggu mereka!”

Scarlet meluncur cepat dan mengabisi puluhan werewolf itu dalam beberapa detik saja.
Sosok Scarlet terlihat berdiri dan menyeringai ditengah kepulan debu dan bulan besar berwarna merah darah di belakangnya.

“Kekuatan yang luar biasa dari tubuh mungil seperti itu.” Kata Rai sambil tersenyum.
“Scarlet...!!” seru Eva. Dia langsung berlari mendekati Scarlet dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Scarlet merespon panggilan Eva dengan cengiran childishnya, dia pun ikut berlari mendekati Eva.
Eva memeluk Scarlet dan menangis terharu, “Terimakasih... Terimakasih kau telah datang dan melindungiku,”

“Haha... Tidak apa-apa!” kata Scarlet, “Aku kan sudah berjanji akan...”

JLEB

Tiba-tiba seekor werewolf besar berhasil menusuk perut Scarlet.
“KYAAAA...!!” Eva menjerit dan menatap ngeri lubang pada tubuh Scarlet yang kini berlumuran darah.

Scarlet hanya diam dan menatap lukanya. Dia pun menatap werewolf besar yang menyerangnya tadi. Aura kemarahannya memuncak kembali, “Kau... Belum kapok juga ya?”
Rai segera terbang mendekat dan melindungi Eva, “Scarlet! Werewolf itu adalah werewolf yang sama seperti yang mencekikku tadi! Aku bisa merasakannya!”

“Apa?! Bukankah aku sudah mengalahkan makhluk itu sejak awal?! Lagipula dia tidak memiliki lubang di tubuhnya!”
Werewolf yang menyerang Scarlet berdiri mengawasi mereka dari kejauhan, dia pun melolong kembali. Dalam sekejap, para werewolf itu sudah mengepung mereka kembali. Jumlahnya kini jauh lebih banyak.

“Ini... Sepertinya mereka hanya ilusi... Aku rasa jumlah mereka tak ada habisnya...” kata Rai, terdengar ragu, “Kita harus menghancurkan catalyst dari sumber kekuatan mereka!”
“Baiklah, kuserahkan masalah analisis padamu!” seru Scarlet sambil mengawasi puluhan werewolf yang sudah bersiaga menyerang itu, “Seseorang tetap harus menahan dan menyerang mereka!”





{
If Erica = Come, Then {Play Next Post} ;
Else, {Read Bellow}
}


Spoiler for scarlet:

The Soy Sauce Tragedy, Erica

BLAAAAARRR

Tiba-tiba sebuah ledakan besar terjadi didepan mereka. Ledakan itu berhasil menyapu sebagian besar werewolf.

Scarlet memamerkan taringnya sambil melihat ke arah langit, "Heh! Datang juga kau Rakus!!"
Erica menyeringai, "Perisai dan pedang katamu? Itu kurang! Kau perlu senjata api!!"

Erica segera terbang mendekati mereka, “Maaf aku terlambat!” dia melirik ke arah Scarlet, “Kau mau pakai uzi?”

Scarlet mengepalkan tangannya, "Tidak. Kekuatanku sendiri sudah cukup!"

"Terserah deh. Hei Eva dan kau rubah, bisa nembak kan?" Erica melemparkan kedua micro-uzi ke arah Eva dan Rai. Eva hanya bengong karena seumur hidupnya belum pernah memegang senjata.

“Ba, bagaimana cara menggunakannya?”
Erica dengan malas menjawab, “Kau punya handphone kan?! Gunakan Google!”
Eva dengan polosnya mengangguk dan langsung mengeluarkan Nokia N73 nya.

“Hei...” Scarlet terdengar bete, “Beraninya kau me...”
DOR DOR, Erica memotong pembicaraan Scarlet dan langsung menembakkan pistolnya tepat di kepala 2 ekor werewolf. Dia pun menyeringai sambil meniup asap yang keluar dari pistolnya, "Oke! Mari mulai perburuannya!"

Scarlet terlihat kesal, “Ck! Jadi pahlawan kesiangan saja masih bisa bergaya!”
“Ha? Kau menantangku ya bocah?!” seru Erica, yang malah membidikkan pistolnya ke arah Scarlet.
Scarlet menyeringai dan tertawa, “Dengan kekuatanmu itu, apa kau yakin peluru itu bisa mengenaiku?!”

“Hei! Tinggalkan dulu pertengkaran kekasih sampai masalah ini selesai!” seru Rai kesal.
“Kami bukan kekasih!” seru Erica dan Scarlet bersamaan.

Seekor werewolf melompat dari kegelapan dan menyerang Erica.
"Erica! Samping!" seru Eva yang kebetulan melihat mereka saat sudah menemukan cara menembak di Wiki-How. “How to Shoot Uzi for Dummies,” Namun dia tetap tak mengerti cara menggunakannya seperti yang ditulis dalam artikel itu.

DAR! Peluru perak Erica langsung mengenai kepala makhluk itu. Padahal sedari tadi Erica hanya menembak ke arah depannya.

"Pistol ini menembakkan peluru berlapis auraku! Selain lebih destruktif, aku juga bisa mengubah arah sesukanya!"
“Gak tanya!” sahut Scarlet ketus.
“Grrrr...!!” Erica menggeram pada Scarlet, “Sepertinya musuhku sebenarnya adalah kamu!”
“Silahkan saja kalau bisa!”

BZZZZTTT

Rai memberi gelombang kejut pada kedua vampir itu, “Aku bilang ini bukan saatnya bertengkar! Lakukan saja hal itu saat kau sedang berduaan di kamar!”

“Sudah kubilang kami bukan kekasih!” seru Scarlet dan Erica bersamaan.

Lolongan werewolf kembali terdengar. Puluhan werewolf datang dari berbagai arah dan kembali mengepung mereka.
"Cih, untung aku bawa cukup banyak granat dan amunisi!" seru Erica.
“Rai! Bagaimana?!” seru Scarlet, “Apakah kau sudah menemukan kelemahan mereka?!”

“Bicara apa kau?!” seru Erica, “Kita hanya tinggal menghancurkan mereka semua!”
“Bodoh! Mereka itu hanya ilusi! Berapa banyak pun kita hancurkan, tidak ada gunanya!”
“Apa?! Beraninya kau menyebutku bodoh?! Dasar vampir kerdil!”

Eva yang daritadi duduk manis sambil membaca tutorial akhirnya bangun dan menggenggam uzi dengan yakin.

RATATATATATATATA

Dia pun segera menembakan Uzi itu, namun pelurunya malah beterbangan ke arah Scarlet dan Erica.

“Hei cewek bodoh! Kau mau menyerang kami ya?!” sahut Erica kesal.
“Eva-chan...” mata Scarlet terlihat berkaca-kaca, “kenapa kau melakukan itu padaku?”
“KYAAA...!! Maaf!!” seru Eva sambil membuang senjata itu dan membunggukan badan berkali-kali, “Ternyata cara menggunakannya tidak semudah di tutorial...!!”
Rai hanya bisa menggeleng-geleng kepala, “Teamwork yang berantakan...”

Rai kembali berpikir sambil menganalisa keadaan sekeliling, “Catalyst... Sebuah Catalyst dalam Closed Space biasanya adalah benda yang tidak seharusnya berada di dunia nyata.”

Tiba-tiba dia ingat kata-kata Eva, “Hei Rai lihat! Bulannya indah yah! Kok bisa yah berwarna merah seperti itu?”

“Scarlet! Erica! Sumber kekuatan mereka adalah bulan merah itu!"
Scarlet dan Erica menatap bulan merah itu dan merespon panggilan Rai bersamaan, “Roger!”

Scarlet segera mengambil ancang-ancang orang yang akan melempar lembing. Kedua bola matanya terfokus pada bulan merah itu. Cahaya merah di tangan kanannya menyatu dan membentuk sebuah tombak cahaya yang sangat besar.
“Divine Spear, Spear the.... BLBHH...!!” Erica melompat dan menginjak wajah Scarlet sambil tertawa nyaring.

“Bodoh! Tak akan kubiarkan kau mendapat peran sekeren itu! Bweeek...!!” serunya sambil terbang melesat mendekati bulan merah itu.

Scarlet menggeram sambil mengelus hidungnya yang terasa menyengat, “A, apa?!” dia pun bercahaya merah darah dan segera terbang melesat mengejar Erica.

Erica mengeluarkan sebuah grenade dan langsung mencabutnya, “Akan kuselesaikan dengan serangan ini!”
“Tak akan kubiarkan!” seru Scarlet yang terus meluncur menuju bulan itu.

“Midnight King, Dracula Cradle!”
“Grenade Explosion!”


BLARRR

Bulan merah itu pun hancur berantakan. Serpihan-serpihan cahaya merah perlahan-lahan berjatuhan dari langit. Suara-suara percakapan manusia mulai terdengar, Closed Space telah berhasil dihancurkan oleh Scarlet dan Erica.

The Soy Sauce Tragedy, Epilogue

10 July 2015
9 P.M


Scarlet dan Erica melakukan salto dan mendarat dengan anggun, dilanjutkan dengan pose andalan masing-masing. Serpihan cahaya merah berjatuhan disekitar mereka, sangat indah seperti lukisan di malam hari.

TIIIIIIN...!!! BRAKKKK

Sebuah mobil truk besar tiba-tiba menabrak mereka berdua. Mereka pun terpental dan sukses mencetak tubuh mereka di sebuah gedung.

“Ah... rupanya kita muncul di tengah jalan raya...”
“Dasar bodoh...”


* * *


Eva berlari mendekati mereka berdua diikuti oleh Rai, Eva tampak sangat panik, “Ka, kalian tidak apa-apa?”

“Segini sih tidak ada apa-apanya untukku!” kata Scarlet sambil nyengir. Luka di tubuhnya sudah hampir tertutup. Tingkat regenerasi vampir memang sangat tinggi.

Erica membersihkan debu yang berada ditubuhnya, berbalik, dan mengangkat jempolnya.

“Ah, sok bergaya!” sungut Scarlet.
“Suka-suka aku donk!” balas Erica.
“Haha... Sepertinya kita tak perlu mengkhawatirkan mereka berdua...” kata Rai, “Terimakasih atas bantuan kalian,”

Rai pun menatap Eva, “Ayo kita pulang Eva.”
“Eeeh...? Ta, tapi...?”
Erica pun menarik tangan Scarlet, “Ayo!”
“Eeeh...?”

Eva dan Scarlet saling menatap, seperti tidak mau berpisah, “Tu, tunggu dulu!”
“Apalagi?!” sahut Rai dan Erica bersamaan.
Eva berpikir sejenak, “Ah! Rai, kenapa werewolf itu mengincar Ghost Ring?”

Rai terkejut dan menatap aneh Eva, “Otakmu itu... seperti otak seekor burung y?”

“Heee...? Ma, maksudnya?”
“Ini kan bukan kejadian yang pertama,” jawab Rai sambil menyilangkan tangannya, “Ghost Ring milikmu itu bisa membuat kekuatan kegelapan meningkat hampir 300%.”

“Ti... tiga ratus...?!” sahut Erica dan Scarlet bersamaan.
“Yeah,” lanjut Rai, “Tapi sayangnya benda itu tak akan bisa dilepas dengan metode apapun juga, selain membunuh pemiliknya, atau Eva berhasil menyelesaikan misinya.”

“Misi?” tanya Scarlet.
“Mengumpulkan 1000 Ghost Fragment,” jawab Rai sambil menatap mata Scarlet dalam-dalam, “Dengan kata lain, menghapus makhluk kegelapan seperti kalian.”

Eva terkejut dan segera berdiri diantara mereka, “Bi, bicara apa kamu Rai?! Mereka kan sudah menolong kita! Kita tak boleh berkata seperti itu!”
Rai tertawa kecil, “Dan aku, dipercayakan untuk membantu gadis ini dalam menyelesaikan misinya.”

“Rai!” Eva terlihat panik dan menghadap Scarlet dan Erica, “Ta, tapi aku tidak akan pernah mencelakakan kalian! Kalian adalah sahabatku yang paling berharga!”

Scarlet dan Erica tertawa bersamaan.
“Benar-benar cewek yang lucu,” sahut Erica, “lagipula kau terlalu cepat 500 tahun untuk berusaha mengalahkanku.”
Scarlet nyengir, “Jangan khawatir Eva, aku percaya padamu. Kita adalah sahabat!”

“Bukankah hubungan kalian seperti babu dan tuannya?” sindir Erica.
“Tarik ucapanmu kerdil!”
“Aku tak mengerti sebenarnya kalian ini akur atau tidak...” sahut Rai.

Eva terharu, dia tersenyum lembut dan menatap 3 makhluk mungil didepannya. Dia teringat kata-kata yang sering diucapkan dalam Anime dan Manga, Nakama. Seseorang yang berharga, yang tidak takut untuk mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dirinya. Orang yang paling berharga dalam hidupnya.

Yeah... Aku telah berhasil menemukan mereka.

Eva menatap langit dan berbisik, “Semoga persahabatan ini tak akan pernah pudar.”


Scarlet Devil

10 July 2015
10 P.M


Setelah berbincang - bincang cukup lama, mereka pun kembali berpisah, Eva pamit disertai nasihat Rai seperti saat pertama kali mereka bertemu, sementara Erica entah pergi ke mana, tinggallah Scarlet sendiri di situ.

"Huahhh...hari yang melelahkan..." kata Scarlet, sambil menguap. Sambil berjalan, tanpa sadar kakinya telah sampai di depan bar Stardust

"Hmm...rasanya boleh juga, berkunjung lagi," pikirnya, ketika melihat keadaan di dalam tidak terlalu ramai.

"Mik, sedang sibuk?" tanya Scarlet, sambil langsung mengambil salah satu tempat yang kosong.

"Scarlet? kebetulan, ada yang mau kutanyakan," kata Mikhail.

"Ada apa?" tanya Scarlet.

"Kau tahu, akhir - akhir ini ada gosip serangan vampir? vampir itu tampaknya hanya menarget anak - anak kecil."

Mikhail memberikan minuman yang biasa dipesan Scarlet.

"Tidak, kau kan tahu aku tidak mengikuti info - info seperti itu," jawab Scarlet, sambil menghabiskan minumannya, "...kau tidak mencurigaiku kan?"

"Entahlah, karena vampir yang kukenal di kota ini hanya kau, tapi kurasa kau tidak akan melakukannya, benar kan?" jawab Mikhail.

"Mik, dengar ya," tanpa sadar genggaman tangan Scarlet mengeras, membuat gelas yang dipegangnya mulai retak.

"Pertama, aku tidak akan pernah menarget anak kecil, dan kedua, aku masih mengingat janjiku denganmu!"

"Aku tahu, tapi..."

"Dan satu lagi," potong Scarlet, "vampir di kota ini bukan hanya aku!"

PRANG! gelas di genggaman tangan Scarlet pecah, membuat beberapa tamu lainnya menoleh ke arahnya.

"Apa maksudmu?" tanya Mikhail.

"Aku kenal vampir satu lagi, tepatnya, karena suatu hal, saat ini aku sedang menumpang di tempat tinggalnya. Tapi, kalau dia yang melakukan ini..."

Scarlet tidak meneruskan kalimatnya, perlahan - lahan matanya mulai berubah menjadi berwarna merah darah.

"Tenanglah Scarlet! belum ada bukti kenalanmu ini yang melakukannya!"

"Kau benar, dan aku akan memastikannya sekarang!" lanjutnya, sambil beranjak berdiri, meninggalkan bar.

Tanpa membuang waktu lagi, Scarlet langsung mengembangkan sayapnya, dan terbang menembus kegelapan malam, menuju apartemen Erica.

"Erica!" teriak Scarlet, sambil membuka pintu apartemennya dengan kasar.

"Sca...Scarlet?" Erica terlihat terkejut, "ke, kebetulan ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Aku juga!"

"Apa kau tahu soal kasus penyerangan anak kecil oleh vampir?" tanya mereka bersamaan, "aku tahu aku tidak melakukannya, apa kau yang melakukannya?"

Keduanya terdiam, mereka saling berpandangan.

"Jadi, pelakunya bukan aku ataupun kau...apa ada vampir lain lagi?" tanya Scarlet.

"Kurasa begitu, aku akan mulai menyelidikinya besok," jawab Erica.

"Bagaimana kalau aku jadi umpan? vampir itu kan hanya menarget anak kecil?" usul Scarlet.

"Kau bodoh ya? sesama vampir pastinya bisa saling mengenali!" jawab Erica, "itu sia - sia saja, dia akan langsung menjauh begitu melihatmu!"

"Maaf, tapi aku sedang tidak bisa berpikir jernih...siapapun yang menyerang anak - anak kecil...aku sangat benci yang seperti itu..." kata Scarlet. Kedua tangannya terkepal kencang sekali, sampai - sampai darah mengalir dari dalam kepalan tangannya, karena tertusuk kukunya sendiri.

"Lebih baik kau tenang dulu, besok kita cari solusi yang bagus untuk memancing dia, ok?" kata Erica.

"Kurasa kau benar...maaf, tadi aku sempat menuduhmu," kata Scarlet. Genggaman tangannya mulai mengendur.

"Tidak apa - apa, tapi makan besok ba..." Scarlet langsung menjitak Erica tanpa menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.

"Aw!! aku kan hanya bercanda!" kata Erica, sambil mengelus dahinya, "menurutmu, kita perlu memberitahu gadis itu?"

"Eva? tidak perlu. seorang vampir sebaiknya diadili oleh kaumnya sendiri."

11 July 2015
12 A.M


"Ok, jadi menurut informasi yang kupunya, vampir ini mulai beraksi mulai pukul 10 malam, targetnya adalah anak - anak berumur 5-12 tahun, yang kebetulan melewati taman atau sekitarnya, pada saat keadaan sepi," kata Erica, "mayat korban biasa ditemukan di sungai, dengan kondisi hampir kering."

"Dasar vampir pengecut," kata Scarlet, "beraninya hanya menyerang anak kecil...tidak akan kumaafkan!"

"Scarlet! sabarlah! sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana cara menangkap dia!" bentak Erica.

"Menurutku, kita jalankan dua rencana, kau mengawasi dari atas, dan aku akan mencoba menjadi umpan. entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan vampir ini..."

"Apanya yang aneh?"

"Aku belum bisa menjawabnya, tapi kalau kulihat dari masa laluku, aku merasa ada yang tidak cocok," kata Scarlet, sambil mengerutkan dahinya, "karena itulah, aku ingin mencoba rencanaku."

"Baiklah, terserah kau saja," jawab Erica.

11 July 2015
10.30 P.M


"Ayo, cepatlah ke luar...biar aku bisa melihat mukamu...!" gumam Scarlet.

Tiba - tiba saja, seseorang membekap mulut dan hidung Scarlet dari belakang. Scarlet memberikan sedikit perlawanan, namun beberapa saat kemudian dia sudah tidak bergerak lagi. Orang itu kemudian mengangkat Scarlet ke pundaknya, dan membawanya pergi.

Tak berapa lama kemudian, orang itu sampai di sebuah rumah yang kecil dan jauh dari rumah orang lain. Di sana, dia menurunkan Scarlet, kemudian dia sendiri mengambil semacam suntik yang memiliki 2 jarum.

"Dengan darah anak ini, maka aku akan semakin mencapai keabadian..." gumam orang itu, di sela - sela nafasnya yang terdengar berat.

"Jadi, ini wujud asli vampir itu?"

Orang itu terkejut, dia berbalik badan, dan melihat Scarlet sedang berdiri di hadapannya, terlihat sangat segar.

"Obat bius? jarum suntik? vampir asli tidak butuh semua itu," lanjut Scarlet, sambil melangkah perlahan.

"Si...siapa kau sebenarnya? kenapa kau tidak terpengaruh obat biusku?" tanya orang itu panik.

"Sayang sekali, aku adalah vampir yang asli. aku hanya berpura - pura pingsan saja, agar kau membawaku ke tempat sepi, di mana aku bisa bebas menyiksamu dan membunuhmu..." jawab Scarlet, "keabadian? omong kosong macam apa itu? dan hanya dengan alasan itu...kau membunuh anak - anak..." mata Scarlet berubah menjadi warna merah darah, tapi kali ini berbeda, matanya semakin berubah, menjadi seperti mata hewan yang sudah siap memakan buruannya. Kekejaman, kemarahan, dan rasa lapar terlihat di matanya.

"Ja...jangan mendekat!" orang itu mengeluarkan sebuah pisau, dan mengarahkannya pada Scarlet.

Dalam satu kedipan mata, Scarlet sudah berpindah ke depan orang itu, dan pisau di tangannya sudah menghilang entah ke mana, bersama salah satu jari tangannya.

"Kau...akan merasakan rasa sakit semua anak - anak itu...ya, akan kubuat kau merasa lebih baik mati..." kata Scarlet, sambil mengiris tangan orang itu dengan kukunya.

"Scarlet, berjanjilah, kau tidak akan membunuh menuruti emosimu lagi," kata Mikhail.

"Ya, aku berjanji...sudah terlalu banyak korban akibat aku menuruti emosiku..."


Scarlet teringat janjinya dengan Mikhail, tepat saat dia akan memotong jari ketiga di tangan kanan orang itu.

"Tapi...dia membunuh anak - anak tak berdosa," gumam Scarlet.

"Tenang Mik, kami para vampir, tidak akan pernah ingkar janji."

"Ahhh!!!! sialll!!!!!" teriak Scarlet, sambil mengayunkan tangannya.

Jeritan yang menyayat hati terdengar merobek keheningan malam.

12 July 2015
8 A.M


Kantor polisi dikejutkan, dengan adanya seorang pria yang berdarah - darah di seluruh tubuhnya, kehilangan 2 jari tangan kanan, dalam keadaan telanjang, dan terikat di sebuah pohon besar. di dekatnya, ada sebuah tulisan yang berbunyi:

"Ini adalah pelaku penyerangan vampir, kami para vampir asli sama sekali tidak terlibat, dan orang ini sudah kami hukum menurut cara kami, silakan lanjutkan menurut cara manusia

"Dengan begini cukup kan, Mikhail? aku tidak melanggar janjiku," gumam Scarlet, sambil mengamati dari kejauhan, "aku harus memberitahukan ini pada Erica~"

Scarlet pun berlalu pergi dari tempat itu.

----------------------you know what this lines means, to be continued------------

Lurk at the city part 1

10 July 2015
23:01 P.M.


krik" krik" krik"..................................
grunkk grunkk grunkk..............................


ukh..................................... (sambil mengusap matanya)
raira mulai tersadar.
ini di mana? aku siapa? kenapa aku bisa ada di sini?
ucapku secara spontan.
tak lama kemudian raira mulai mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.

raira yang baru bangun dan melihat jam dan kalender di sekitar tempat itu
terkejut karena ia pingsan hampir 2 hari. Dengan perut yang keroncongan
raira segera bergegas menuju bar yang ada di depannya (sigh kejam cw pingsan g ada yang gotong emoticon-Big Grin).

ketika aku melangkahkan kaki ke dalam bar tersebut, suasananya lumayan sepi mengingat waktu sudah menunjukan pukul 23:00 lebih.
kemudian aku segera mencari bangku kosong dan memesan sebotol bir, dan meminumnya seperti orang kehausan. Tidak lama setelah itu karena tempat itu sedang sepi aku segera pergi ke kasir membayar bir dan keluar dari bar itu
untuk mencari info tentang kota ini.


Beberapa saat kemudian, raira yang mencari info tentang kota misterius ini
mendengar kabar" aneh bahwa di kota ini terdapat vampire, pria mesum fetish robot, pembasmi hantu dan lain". akan tetapi raira terlihat gembira mendengar semua hal itu ia berpikir bahwa ia bukan lah satu"nya orang aneh yang berada di kota ini.

tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu, aku yang mulai kelelahan dan mendadak lemas kembali pingsan di depan gerbang suatu sekolah karena mataku sudah tidak fokus aku tidak tahu lagi apa nama sekolah itu, dan hilang kesadaran begitu saja

to be continue


July 10 2015, Sunday, 4 P.M.

Frey was sitting silently in his room, along with a girl, who was also sitting silently. Not a word has been spoken by either of them since they were there, as both of them felt confused and was covered with a feeling of unsettling awkwardness. The girl's blue eyes moved around, as she was examining the room, and her long black hair wavered at her slightest movement.


The Observer, Part 1

'Huaaaghh.."

Pagi yang tidak menyenangkan. Aku bangun dengan tubuh sakit-sakitan dan kondisi masih setengah bangun. Seharusnya aku menginap di hotel bintang 5, yah untuk mencari informasi lebih cocok tinggal di hotel bintang 3 yang berada di tengah kota meskipun kotor dan tidak nyaman. Segelas susu dingin dan roti bekas tadi malam sebagai sarapan pagi ini, aku keluar sambil menyapa resepsionis dan beberapa penghuni di sana.

"Haaah"

Udara yang dipenuhi dengan polusi dan bau busuk dari manusia-manusia yang penuh kebohongan.Kemanapun aku pergi selalu sama dan di sini pun tidak jauh berbeda. Pandanganku tertuju pada suatu bar, well bar biasa-biasa saja tapi mempunyai aura yang memikat... orang-orang aneh. Aku sudah sering menemui bar seperti ini, bar yang dipenuhi mafia-mafia, penjahat kelas teri sampai pejabat koruptor.

Yah buang-buang waktu saja ke sana, biasanya berujung dengan aku meruntuhkan komplotan mafia atau membongkar kebusukan para pejabat,lagi.Aku melihat sekitar dan baru tersadar.

"Hah, aku sudah didalam?"

Jeez, tampaknya aku memang orang aneh.

Martyr bar adalah tulisan yang tertera di papan nama bar ini.
Halaman 7 dari 14


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di