Aku menyadari, bahwa ada sesuatu yang sedang mengawasiku, letaknya persis di dalam kamar mandi yang ada di sebelah kiriku. Dia seperti menatapku dari dalam sana, aku tahu akan hal itu, karena secara tiba-tiba, suasana ruangan ini mendadak berbeda sekarang. “Apa mungkin ruangan ini terbuka karena
Pintu lobi yang berat dan kusam itu kini terasa lebih berat ketika aku mendorongnya sendirian. Hal ini aku rasakan seperti ketika aku masuk di malam pertama ketika aku bekerja, sama-sama mencekam, sama-sama sendirian, dan sama-sama diliputi oleh rasa takut yang aku rasakan. Jujur, meskipun persi
Tulisan-tulisan yang tertulis di sana terasa familiar dengan apa yang A Ardi tulis, hal itu seketika membuat rasa penasaranku lebih besar, apalagi dengan tulisan Belanda di akhir tulisan ini. Aku tidak tahu arti dari tulisan itu, namun selain ada tulisan Belanda tersebut, ada dua nomor lagi di at
Aku hanya bisa berdiri di depan pintu yang terbuka itu, pintu itu seolah-olah mempersilahkanku untuk masuk. Tapi entah mengapa, tubuhku seperti menolaknya. Ada udara yang mengalir pelan dari dalam celah pintu yang terbuka tersebut, udaranya sangat dingin, dan aku sedikit bergidik ketika merasak
Sebenarnya, bukan kopi dan gelas plastik ini yang aku takutkan, tapi perkataan dari Toni ketika dia pulang dari dalam rumah sakit ini. Aku tahu, aku harus bertanggung jawab akan hal ini, Pak Tisna yang tak sadarkan diri kemarin malam membuatku mengabaikan sebuah tanggung jawab yang harus aku lakuk
Setelah Pak Tisna itu pergi bersama Dayat, aku hanya bisa kembali diam di depan pos jaga ini sendirian. Aku jadi tidak bisa kuliah karena hal ini, ya mau bagaimanapun, ini adalah kesalahanku ketika aku pertama kali bekerja di tempat ini, sehingga aku mau tidak mau harus bertanggung jawab akan hal
Suasana benar-benar hening ketika sosok itu menghilang. Namun, keheningan yang ditinggalkan terasa jauh lebih menakutkan, apalagi ketika melihat Pak Tisna tak sadarkan diri seperti ini sekarang. Aku hanya bisa berdiri kaku di salah satu anak tangga itu, senter yang aku pegang bergetar dengan pela
"CEPAT!" Teriakan dari Pak Tisna seketika memecah keheningan di lorong lantai tiga itu, dia benar-benar panik sehingga wajahnya pucat. Tidak seperti biasanya, baru kali ini dia berubah mendadak seperti itu. Aku tidak punya waktu untuk berfikir jernih sekarang, aku hanya mengangguk dan
Aku pun menaiki tangga itu bersama dengan Pak Tisna, dan setelah sampai di lantai dua, rupanya itu adalah area perawatan, disana juga ada beberapa pos perawat yang mejanya dipenuhi dengan berkas-berkas yang lapuk dan tidak terawat. Pak Tisna mengajakku ke ruangan INSTALASI BEDAH. terlihat disana l
Kini, malam sudah mulai turun sepenuhnya, kegelapan mulai mengambil alih langit, dan pada malam ini, tidak ada cahaya bulan yang menerangi jendela yang ada di dalam rumah sakit ini. Semuanya gelap, bahkan ketika kami kembali dari pemakaman. Koridor penghubung gedung A dan B pun kini terasa berbeda
senin dan kamis gan, kalau mau baca lengkap bisa kesini tanpa menunggu hari senin dan kamis https://karyakarsa.com/Mshidiq
SANG PENUNGGU MALAM FINAL BAB- BAGIAN 1 sudah di upload Bagi yang baca di akun ini, di tunggu hari senin dan kamis ya Silahkan di baca ya, terima kasih https://karyakarsa.com/Mshidiq/final-bab-bagian-1
Sinar matahari sore yang awalnya redup, kini sudah mulai tergantikan secara perlahan dengan kegelapan di atas sana. Udara dingin yang menusuk mulai terasa, bahkan ketika aku masuk ke dalam lobi yang mulai gelap ini. Udara pengap dan bau debu langsung terhirup olehku, dan kulihat Pak Tisna dengan
update senin dan kamis ya, kalau penasaran dan ga mau nunggu, bisa klik link yang di sematkan di setiap bab