Aku pun kembali berjalan, lorong itu semakin menyempit, dan tepat di ujung sana, aku mendadak berhenti, karena lorong itu kini bercabang, dan aku harus memilih salah satu lorong ini karena bentuknya persis sama. “Kemana sekarang,” gumamku dengan nada yang pelan. Tidak ada petunjuk kemana aku ...
Gelap, dingin, dan basah. Tiga hal itu adalah apa yang aku rasakan ketika pintu itu tertutup sepenuhnya. Punggungku terasa nyeri akibat menghantam permukaan air itu dengan keras, kepalaku sedikit pusing dan senter di tanganku adalah satu-satunya penerang yang masih menyala sekarang, setidaknya unt
yang mau baca langsung sampai tamat, bisa di cek di akhir setiap bab ya, sebagai bentuk support juga ke ane biar semangat updatenya, hehe
Aku hanya terdiam ketika mendengar cerita Toni, aku kembali mengingat-ingat atas apa yang dia bicarakan. Aku rasa, aku pernah melewati dan masuk ke ruangan yang berisi lemari-lemari itu, namun aku tidak menemukan bahwa ada pintu lain di dalam sana. Setidaknya, apa yang dikatakan oleh Toni bisa me
Teriakan dariku itu membuat Pak Tisna langsung tersadar. Dia langsung refleks menjatuhkan dirinya ke lantai beton yang dingin dan penuh debu dibawahnya, dan tak lama kemudian, Pipa besi itu melesat tepat di atasnya, dan menghantam sesuatu di belakang kami berdua dengan suaranya yang keras. BRUAK!
Maaf untuk hari ini saya pending dulu updatenya ya, soalnya sudah dua hari ini Bandung dilanda hujan gede, dan rumah saya kebanjiran :berduka Bagi yang penasaran kelanjutannya, kalian bisa baca disini aja ya sebagai bentuk support, terima kasih
di RS juga ada sih, itu ruangan agar semua peralatan RS steril, biasanya agak tersembunyi sih tempatnya kalau boiler
Beberapa hari berlalu. Dan hari ini, aku mendapatkan info bahwa Dayat tidak akan ke rumah sakit sekarang, Bu Rina malah menyuruh aku untuk membiarkan rumah sakit itu tanpa penjagaan dan pulang sendiri dengan kendaraan umum, katanya Dayat akan datang siang dan aku tidak bisa menunggu karena aku har
Entah mengapa, kepalaku benar-benar pusing ketika aku memarkirkan motor pinjaman dari Dayat di depan kontrakan. Semenjak Pak Dudi meninggalkan rumah sakit itu dan tidak kembali lagi, tidak ada lagi yang menemaniku ketika malam, paling hanya Dayat kini yang menggantikanku ketika siang sehingga aku
Aku benar-benar tidak percaya, baru kali ini aku melihat lobi seperti ini. Sebenarnya, apa yang dilakukan Pak Dudi hingga lobi bagian depan rumah sakit ini berantakan dan berhamburan seperti ini? Di sana, aku melihat Pak Dudi masih tersungkur di bawah pintu lobi yang tertutup rapat, wajahnya merin
sebenarnya ane mau nyoba lynk juga, tau kalau via langsung juga gpp gan, di dm aja di akun ini, nanti saya PDF in sampe tamat dalam 1 file