“Dimana aku?” Aku tiba-tiba berada di satu tempat yang asing, semuanya berkabut seperti halnya Desa Cihalimun ketika kabut sedang turun dan menutupi seluruh Desa dengan warna putihnya. Aku melihat ke sekeliling rumah itu, dan melihat banyak sekali rumah-rumah panggung yang tertutup kabut puti...
Kabut merah masih memenuhi seluruh desa pada malam ini, aku tidak tahu kapan ini akan berakhir. Karena aku sendiri tidak tahu sudah jam berapa sekarang, bahkan aku juga tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan di tempat yang seperti ini. Kali ini, aku menemukan seorang anak, yang juga terjebak sep
Beberapa saat yang lalu. “Diaaaan!” aku berteriak memanggilnya ketika aku mendengar teriakan itu. “Aku mendengarkan teriakan di ujung sana, sepertinya ada orang lain yang seperti kita yang terjebak pada malam ini,” kataku. Namun Dian terus-menerus berlari dan seperti tidak peduli atas a...
zerodivideme ya mau gimana, itu kenyataannya terakhir ketemu waktu lebaran kemarin, selebihnya pergi lagi Upss :malus
dia meninggal ya, memang sudah waktunya semenjak itu tidak ada terror lagi kepada dirinya, tapi ya seumur hidupnya dia ga punya anak seumur hidupnya dia baik, sering bawa oleh-oleh juga kalau keluar kota ya si mang darman berusaha menyenangkan dia agar dia lupa, makanya setelah kasus itu mereka
Di dalam lemari yang sempit itu, seorang anak yang ikut terjebak ketika malam tiba, dia harus melihat sesuatu yang mengerikan di depan matanya. Matanya tak kuasa menahan kengerian yang mendalam ketika atap dari ruangan itu tiba-tiba berlubang, bersamaan dengan munculnya salah satu makhluk yang sang
Desa Cihalimun, seperti namanya yang berarti desa yang sering berkabut. Yang berarti desa ini sering tertutup kabut di waktu-waktu tertentu, kabut yang membuat pandangan kita menjadi terbatas bahkan disertai oleh hujan dari kabut yang tebal yang membuat hawa di sekitarnya semakin dingin. Suasana ka